People’s Square and Park

17 03 2016

20160317-104012.jpg

Setelah istirahat di hotel, sore harinya kami berniat ke People’s Park ini yang letaknya menurut trip advisor sih gak jauh dari Swedagon Pagoda. Supaya gampang, kami bilang ke supir taxi sih Swedagon Pagoda. Begitu diantar ke Swedagon Pagoda, agak bingung juga kami…ini mana pagodanya…maklum kami diantar lewat pintu belakang jadi agak bingung hihihi. Krucil saya terutama yang sulung langsung protes, “kok ke Pagoda terus sih? Katanya mau ke taman? Abang gak mau masuk”, katanya dengan manyun-manyun. Bunda pun dengan sok bijak bilang, “bang, kita nih memang mau ke taman. Tamannya katanya sih dekat sini, mari kita cari”. “Kenapa gak naik taxi tadi aja sih?”, protesnya lagi. Duh anaknya ini keseringan dimanjain ayahnya petualangan ceritanya tapi kemana-mana naik taxi, jadi aja jiwa petualangnya berkurang drastis. Kalau sama bunda tuh disuruh jalan kaki aja kemana-mana… hiks hiks TT

Akhirnya begitu turun taxi, kami malah melipir mencari jalan ke People’s Park ini. Jalan kaki di sore yang terik dan tidak tahu arah, ditambah manyun krucil tuh bikin suasana jadi gak enak. Akhirnya setelah berjalan lumanyun jauh, kami berhenti di suatu lapangan parkir yang dari hasil terawangan kayaknya jalannya mentok. Kami pun bertanya pada orang setempat, di mana tuh People’s Park…eh dia malah manggil temannya yang bisa bahasa inggris, jadilah kami ngobrol sama temannya ini. Sambil membaca peta yang kami bawa dari hotel, dia bilang sih letaknya lumayan jauh sekitar 2km dari situ karena harus melewati 4 gate…bayangin 2 km, dan 4 gate !! Ujung-ujungnya dia nawarin naik taxi 3000 Kyats, karena sudah mengalami gejala 3L (lemah lesu letih) kami pun menerima tawarannya. Begitu naik taxi…eh tuh taman ternyata dekat aja dari tempat kami berhenti bertanya, cuma jalan dikit kemudian nyeberang sampai deh…haha…kali ini ayah bunda yang jadi manyun dan dongkol, tertipu deh.

Sesampainya di People’s Park, beli tiket masuk 300 Kyats / orang dan di kasih stiker kecil untuk ditempel di baju. Setelah punya stiker, kami memutuskan istirahat dulu di Mallnya…iya depan taman ini ada Mall kecil. Kami makan gado-gado sama terong penyet di resto bertema Indonesia tapi rasanya kurang nendang. Kemudian beli-beli souvenir, ketika matahari terlihat lebih bersahabat baru deh kami masuk tamannya. Let’s go…

Baca peta taman…oalah bingung, sudahlah kita jelajahi saja semuanya. Awalnya taman ini terlihat seperti taman pada umumnya saja, ada bunga-bunga, tanaman yang ditata lalu beberapa patung-patung…hmmm ada sedikit rasa kecewa. Semakin ke dalam, ada beberapa jenis permainan anak seperti carousel, bom-bom cars, kereta-keretaan, dan beberapa permainan lainnya. Setiap permainan bayar 1000 Kyats / orang, lumayan murah meriah. Krucils suka banget nih ikut permainan naik perahu kemudian perahunya terjun dari ketinggian ke dalam kolam berisi air, mereka bolak balik ikut permainan ini sampai si bungsu kepala kejeduk perahu baru deh berhenti main.

Tapi diantara semuanya mereka paling berkesan pada Musical Fountain, itu tuh pertunjukan air mancur yang mengikuti irama musik. Mulainya dari jam 19.00- 21.00, nungguin mulai tuh berasa lama bingit. Musiknya dari disko, J-Lo, sampai musik tradisional Mayanmar. Begitu terpukaunya mereka melihat air mancur berwarna-warni bisa menari mengikuti irama musik hingga betah banget padahal nyamuknya banyak dan hari beranjak malam. Sampai-sampai ketika kami ajak balik hotel, bungsu saya menangis tapi berhenti lagi setelah saya beritahu nanti di Singapura juga ada yang beginian, “beneran loh ya bunda…janji ya nanti kita nonton lagi di Singapura”, tagihnya (padahal saya asal ngomong aja TT). “Bunda gak janji, tapi yang pasti besok kan kita harus bangun subuh, besok kita mau ke Singapura pesawat pagi jadi gak bisa lama-lama nonton ini nanti kalian susah bangunnya”. Dan People’s Square and Park pun meninggalkan kenangan manis untuk krucil kami, semanis senyuman di wajah mereka setiap melihat rekaman musical fountain 😀





Maha Bandoola Park, Yangon

17 03 2016

20160316-090557.jpg

Hari kedua kami di Yangon, kami isi dengan berkelana berjalan kaki seputaran hotel. Ke Sule Pagoda yang letaknya ditengah-tengah persimpangan jalan yang tidak jauh dari hotel, kemudian ke Maha Bandoola Park. Kenapa kami ke taman ini? Ya kami suka taman, apalagi taman publik kan biasanya gratis dan terbuka untuk umum…sesuatu yang gratis itu tidak boleh dilewatkan hehe…

Taman ini berisi monumen tugu kemerdekaan Myanmar dan terdapat banyak burung, terutama sih burung gagak. Di taman ini krucil kami betah banget, mereka bermain mengejar-ngejar burung, mencoba memotret burung-burung tersebut dalam berbagai pose, serta bermain di air mancur. Taman ini dilengkapi juga dengan sarana permainan anak, sayangnya krucil tidak tertarik bermain di arena permainannya.Mereka malah tertarik untuk memberi makan burung, meminta kami untuk membelikan makanan burung…piye toh, burung-burung disini sudah ada petugas yang memberi makannya tidak seperti di Thailand yang makanan burung banyak dijual oleh pedagang kaki lima. Walau agak kecewa karena tidak bisa memberi makan burung tapi bukan krucil namanya kalau tidak bisa happy dengan hal-hal kecil, cukup hunting foto burung saja mereka bergembira malah susah diajak balik ke hotel 🙂





Yangon National Museum

15 03 2016

20160315-100542.jpg

Tiba di Yangon kembali, kami mengajak krucil ke museum. Krucil kami memang suka museum, begitu kami beritahu ada museum di Yangon mereka antusias sekali kesana. Dari hotel kami menggunakan taxi dengan biaya 2000 Kyats. Taxi di Yangon tidak ada yang memakai argo, sistemnya adalah tawar menawar dengan supir dan hampir 80%nya tidak menggunakan ac jadi siap-siap kepanasan jika terjebak macet plus siapkan mental juga jika bertemu supir yang sedang menyirih (memakan sirih), sebentar-sebentar meludahkan sirihnya di pintu…ehem…

Oh iya, hari Senin biasanya market dan museum tutup, Sabtu dan Minggu malah buka…entah kenapa alasannya. Sesampainya di museum ternyata kami kepagian masih jam 08.30 sedangkan museum baru buka jam 09.30. Museum masih sepi dan kosong, belum ada petugas sama sekali. Untungnya di hotel sebelum berangkat kami sempat membaca sekilas bahwa letak National Museum ini persis di samping KBRI, jadilah menggunakan google maps kami melipir mencari KBRI.

Bertemu sesuatu yang berbau Indonesia di negeri orang itu sesuatu banget, apalagi melihat lambang Garuda…ailopyu pul deh. Akibatnya bisa ditebak, kami dengan norak-norak bergembira narsis-narsis di depan KBRI yang tutup di bawah tatapan heran penduduk setempat dari dalam bis (letak KBRI di perempatan)…hahaha…:D

Puas berfoto-foto, kami kembali ke museum dan membeli tiket seharga 5000 Kyats / orang. Petugas museum bilang dilarang foto-foto di dalam, jadilah kamera dititip dalam loker. Museum ini lumayan besar, terdiri dari beberapa tingkat. Sayangnya mungkin karena sudah kecapekan setelah bermain di kamar hotel sebelumnya, plus diajak jalan kaki ke KBRI, ditambah larangan memotret di dalam museum (padahal kebiasaan krucil masuk museum adalah memotret semua item yang ada, menghabiskan memori card kamera), di dalam museum krucil agak rewel mengajak kami kembali ke hotel. Akhirnya hanya sampai tingkat dua museum yang kami jelajahi sebelum kembali ke lantai bawah. Eh di lantai bawah kami bertemu dengan serombongan pelajar yang sedang asik foto-foto di dekat petugas museum…sungguh terlalu. Meskipun begitu kami dapat pelajaran berharga bahwa walau Myanmar negara yang baru saja terbuka, namun mereka mampu menjaga benda-benda bersejarahnya dengan baik.





Yangon, Myanmar

14 03 2016

20160314-033800.jpg

Hmmm…mau mulai cerita dari mana ya? Sebenarnya agak malas nulis cerita-cerita tentang petualangan kami tahun ini, banyak kejadian yang kami alami dari yang seru, sedih, menyebalkan, menyenangkan sampai mengharu biru. Tapi demi kenang-kenangan untuk krucil, SEMANGAT! Saya harus nulis petualangan kami kali ini supaya saat krucil dewasa kelak bisa mengingat-ingat memori-memori indah tentang petualangan-petualangan bersama ayah bundanya.

Tiap tahun, minimal setahun sekali kami usahakan mengajak krucil jalan-jalan. Harus satu paket, ayah bunda dan krucil. Tujuannya sih satu, merekatkan hubungan kami yang karena kesibukan ayah lebih sering berada di lokasi dibanding bersama anak istrinya. Dengan berpetualang jauh dari rumah, mau gak mau, suka gak suka, kami harus kompak melalui semua rintangan yang kadang kami temui selama di jalan selain juga untuk me-refresh (halah bahasanya.. apalah) semua kejemuan yang kadang dijumpai dalam melakukan rutinitas sehari-hari.

Nah, setelah mengulik-ngulik semua tujuan yang menarik minat kami, akhirnya pilihan jatuh ke Myanmar. Alasannya : 1) Gak jauh-jauh amat dari Indonesia, cuma 3 jam-an dari Kuala Lumpur dibanding 5 jam ke India. 2) Antimainstream. Tahu sendiri kan kami, kami gak begitu suka tujuan yang ramai…nah Myanmar nih salah satu destinasi yang jarang dilirik orang. 3) Ya pengen aja liat Myanmar, seperti apa sih negaranya, orangnya, budayanya.

Baiklah, pilihan sudah ditetapkan. Tiket sudah di beli, hotel sudah di booking dan berangkaaaat…..

Seperti biasa urusan perhotelan diserahkan krucil pada si bunda (saya) karena dianggap lebih keren milih hotelnya dibanding si ayah. Kata mereka ayah urusannya beli bis aja, lebih jago dibanding bunda…hehe, baiklah. Saya pilih 30th Corner Boutique Hostel, eh walau namanya hostel nih penginapan keren banget deh. Lokasinya ditengah-tengah kota banget, area downtownnya Yangon. Penampakan dari luar menipu, dalamnya dong…lumayan banget.

Setibanya di Yangon, di bandara kami membeli tiket bis ke Bagan untuk sore harinya seharga $22/ orang. Selesai urusan tiket bis, langsung naik taxi bandara seharga 10.000 Kyats ke downtown, letak hotel kami. Lama perjalanan dari bandara ke downtown ini sekitar 2 jam, maceeeettt parah banget deh, nambah tua dijalan. Padahal jalannya lebar-lebar loh, tapi macetnya ampun-ampunan. Gak cukup sampai situ penderitaannya, eh setiba di hotel begitu check in…resepsionis bilang waktu check in jam 14.00 sedangkan saat itu masih jam 11-an! Akhirnya si resepsionis nunjuk ke atas, kalau mau mandi silahkan ke atas katanya. Bangun subuh belum sempat mandi eh kena macet pula dijalan bikin kami dekil sempurna. Ya sudahlah, terima aja tawaran terbaik saat itu, mandi. Sambil lesehan di lorong hotel, satu anak mandi, anak yang lain makan chicken rice pesawat kesukaannya. Satu kata menggambarkan keadaan kami saat itu, KASIHAN deh loe…eh tiga kata ya…hehe 😉

Kemudian saya punya ide cemerlang briliant dan menakjubkan, saya minta suami saya bilang ke resepsionis kalau kami tidak nginap disitu, kami hanya pengen istirahat sebelum berangkat lagi jam 17.00 nanti ke Bagan. Dan ternyata kata-kata ini secara menakjubkan berhasil meluluhlantahkan rasa iba resepsionis…mereka buru-buru menyiapkan satu kamar. Yess…we did it! Walau karena buru-buru jadinya kami dapat kamar yang lebih kecil tapi ya lumayanlah untuk meluruskan punggung.

Istirahat sebentar, krucil malah gak bisa diam…loncat sana, loncat sini. Akhirnya siang itu setelah gagal memaksa krucil tidur, kami mengajak mereka jalan ke Bogyoke Market. Bogyoke ini seperti pusat souvenir dan pasar grosir gitu deh. Letaknya gak jauh dari hotel, disini kami hanya sempat beli gantungan kunci dan gelang batu saja, sebelum si bungsu mendadak demam. Badannya panas tinggi, ayah langsung ngajak kami balik ke hotel tapi sulung saya menangis karena belum beli gantungan kunci untuk teman-temannya. Akhirnya ayah menggendong bungsu balik ke hotel, saya dan sulung jalan berdua mencari gantungan kunci untuk si sulung dan langsung balik hotel karena gak enak banget rasanya mikirin bungsu sakit tanpa bundanya (bungsu memang dekat banget dengan saya).

Sampai hotel, liat bungsu mulai turun demamnya karena sudah diminumin obat demam sama ayah. Kemudian gantian tugas lagi, kali ini ayah yang pergi mencari makanan di KFC tidak jauh dari hotel dan saya menjaga krucil di hotel. Eh setelah agak enakan badannya, bungsu mulai heboh-hebohan lagi dengan abangnya dikamar…loncat-loncat lagi *tepok jidat*.

Sore itu kami berembuk, terus ke Bagan atau tetap stay di Yangon dan tiket bis yang sudah dibeli dibiarkan hangus. Baiklah, kami putuskan liat kondisi menjelang pergi nanti…kalau bungsu masih demam kita stay, kalau sudah membaik…kita lanjutkan petualangan kita. Alhamdulillah menjelang berangkat bungsu saya membaik dan fine-fine aja. Bagan…here we come….