Presidential Palace, Vientiane

13 03 2015

20150314-065148.jpg

Seperti halnya anak-anak lainnya, cita-cita sulung saya sering berubah tergantung pada minatnya saat itu. Saat tertarik dengan planet dan antariksa, dia pengen jadi astronaut. Lain waktu tertarik sama pesawat, berubah lagi lah cita-citanya pengen jadi pilot, atau saat diceritakan tentang Habibie…eh jadi pengen menciptakan pesawat yang multifungsi, bisa jadi mobil, bisa jadi kapal. Belakangan ini dia tertarik jadi Presiden, langsung saja bundanya wanti-wanti…boleh jadi Presiden tapi harus kaya raya dulu, bukan jadi Presiden supaya kaya raya tapi jadilah Presiden yang bisa membuat rakyatnya kaya dan sejahtera.

Oleh karena itu, dia tertarik banget dengan hal-hal yang berhubungan dengan kepresidenan. Suatu ketika saat dia jalan-jalan berdua saja sama ayahnya di Vientiane, sedang bunda dan adeknya tidur-tiduran di hotel, ketika balik ke hotel yang pertama diceritakannya dengan antusias adalah tadi abang ketemu Presiden Laos di jalan, dia lambai-lambai tangan bunda. “Dia liat abang gak?” tanya si bunda. “Liat abang”, jawabnya lagi. “Kalau gitu kenapa abang gak kasih tahu, pak suatu hari nanti kita bertemu lagi dalam acara kepresidenan, sayalah Presiden Indonesia saat itu”….dan sulung pun senyum-senyum senang…hehe, bunda doain ya bang semoga apapun cita-cita dan impian abang bisa terwujud, aamiin.

Pagi hari kedua di Vientiane, kami jalan-jalan sambil mencari sarapan. Ternyata Vientiane tuh walau kotanya seperti kota lainnya tapi kehidupannya berkisar jam 8 pagi sampai 8 malam saja, kecuali di pusat turis masih lumayan ramai…diluar itu sepi banget. Jam 7 pagi saja ketika kami berkelana saja masih sepi banget, hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang, nyaris tak ada orang di jalan. Toko-toko masih tutup, bahkan pasar pun jam 7.30 pagi masih tutup…wow banget ya. Kalau di Indonesia subuh pun pasar sudah ramai.

Ketika sedang jalan dijalanan yang lengang inilah kami melihat Presidential Palacenya. Sulung saya langsung berfoto disini, kalau biasanya susah banget disuruh berfoto…disini mau aja disuruh pasang pose. Karena masih sepi banget, jadi kami leluasa foto-foto didepannya. Suatu hari nanti semoga abang bisa kesini lagi sebagai tamu negara ya bang, sebagai Presiden dari Indonesia yang sedang dalam kunjungan kenegaraan…aamiin.

Advertisements




Lao National Museum, Vientiane

12 03 2015


Kami termasuk orang-orang yang sok tewu banget. Biasanya kalau sedang berkelana, semua rebutan pengen baca peta… merasa sok tewu dan mengerti peta dengan baik dibanding yang lain. Jadi bisa dipastikan satu peta tapi arahnya berdasarkan empat isi kepala, satu sok yakin arahnya kesana, satu ke sono, satu ke sini, satu lagi sok iyes ke sunu. Alhasil bisa ditebak, pada bingung arah sebenarnya…hehe…

Sudah sering banget kami salah baca peta, salah satunya saat mencari Lao National Museum ini. Bersepeda di siang bolong, bolak-balik baca peta kok belum nemu juga. Ternyata museum ini letaknya di dekat hotel kami dan sudah beberapa kali kami lalui dari samping, tapi karena dari samping jadi gak kebaca kalau itulah tempat yang kami cari…konyol banget. Begitu akhirnya kami ngeh, kami pun ketawa ngakak bersama-sama…haha.. setelah keringat membanjiri badan baru ketemu.

Di Lao National Museum ini tiket masuknya 10rb Kip /orang dewasa, krucils gratis, dan 10rb Kip lagi untuk kamera. Sebenarnya kamera ini tidak ditagih sih oleh penjual tiket, cuma setelah saya baca bahwa kamera bayar 10rb Kip, daripada ambil resiko nanti di dalam tidak boleh foto, jadi ya saya bayar saja…tapi ternyata gak dikasih tiket apapun untuk kamera ini, kayaknya sih bebas-bebas aja bawa kamera.

Seperti biasa, krucils penggemar museum kami antusias banget disini…bolak-balik nanya ini apa, itu apa, jepret sana, jepret sini…lama banget dalam museum sementara bundanya sudah keringatan kepanasan. Museum ini berada di bangunan tua yang sudah agak bobrok menurut saya. Isinya sih macam-macam tentang Laos termasuk perjuangannya melawan penjajahan Prancis. Hanya tanpa pendingin, ruangan terasa panas menyengat bikin saya gak betah. Setelah krucil puas, kami pun balik ke hotel.





That Dam Stupa, Vientiane

11 03 2015

20150312-041014.jpg

Setelah dari Patuxai, kami berniat mencari makanan halal seperti yang disarankan di google. Saat itulah kami ketemu That Dam Stupa atau dikenal juga sebagai Black Stupa ini disebuah lingkungan sepi penduduk. Stupa ini termasuk dalam salah satu tempat yang menjadi atraksi turis sih kalau menurut Trip Advisor walau pada kenyataannya sepi dan stupanya terlihat berlumut dan ditumbuhi beberapa ilalang sehingga terkesan terlantar.

Nah, mumpung krucils istirahat minum disini, kami pun sempat foto-foto krucils disini. Yang penting sudah check list ya anak-anak…yuk kita lanjutkan lagi gowes-gowes keliling Vientianenya…





Patuxai, Vientiane

11 03 2015


Belajar dari pengalaman di Luang Prabang, di Vientiane kami tidak membeli hotel dulu via internet. Kami go show saja, hanya mencari sekilas nama hotel dan alamatnya di internet kemudian langsung datang. Kami sampai subuh di Vientiane menggunakan sleeper bus dari Luang Prabang, bis ini termasuk unik dan keren bagi kami si anak kampung ini tapi itu nanti diceritainnya.

Setelah sewa tuktuk untuk mengantar kami ke hotel, dapat kamar (yippie, gak luntang lantung lagi seperti di Luang Prabang), masuk…beberes dikit, beberapa pakaian kotor masukin laundry, mandi, istirahat dan sewa sepeda di hotel. Ternyata walaupun pihak hotel sudah setuju untuk menyewakan tiga sepeda pada kami, namun ketika kami turun setelah mandi eh sepeda yang tersedia hanya dua karena satu lagi dipakai tamu hotel dan baru balik sore nanti.

Sambil sedikit gondok, kami pun jalan kaki keliling kota. Saya sih gak masalah, cuma krucils yang bete karena ayah bundanya sudah terlanjur bilang bahwa kami akan keliling kota pakai sepeda. Akhirnya ditengah jalan kami menemukan rental sepeda, lebih mahal di banding hotel tapi ya gpp deh daripada ada yang manyun. Sewa sepeda disini 50rb Kip untuk tiga buah sepeda plus deposit 200USD+100rb Kip…huuu depositnya itu yang bikin ayah bunda gantian manyun, soalnya kalau sepeda hilang depositnya jadi gak bisa diambil 😦

Dari penyewaan sepeda ini sebenarnya sudah jelas terlihat sih Patuxai ini, tapi karena krucils minta naik sepeda yo wes kami pun akhirnya naik sepeda ke Patuxai. Patuxai ini letaknya ditengah-tengah jalan, keren dan mirip banget dengan Arc de Triomphe Paris (sok tahu deh eike, ke Paris aja belum pernah)…mungkin karena Laos ini bekas jajahan Prancis kali ya, makanya ada kembarannya. Perbedaannya yang jelas terlihat ada dibagian atasnya, Patuxai ini bagian atasnya terdapat ukiran-ukiran khas.

Bagian plafon penuh lukisan-lukisan. Di bagian dalam, terdapat toko minuman dan toko penjual souvenir dan tangga naik juga untuk melihat dari atas tapi karena kami kepanasan setelah bersepeda dibawah terik mentari, kami lebih tertarik duduk-duduk ngadem sambil makan ice cream yang maknyus saja. Di Patuxai ini ada banyak turis Prancis, mungkin mereka tertarik sama kembarannya Arc de Triomphe kali ya dan banyak tukang foto keliling juga seperti halnya di tempat-tempat wisata di Indonesia. Setelah ngadem sejenak, kami pun meneruskan pengelanaan lagi…yuk anak-anak, markimon…mari kita kemon….