Melihat Aneka Rupa Batik di House of Danar Hadi

28 06 2013

20130628-061742.jpg

Setelah puas di benteng Vastenburg, kami pun kembali ke hotel…waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, waktunya check out dan pindah hotel. Si adek yang paling susah diajak nginap di hotel ala kadarnya ala bunda kemudian mengadu ke ayahnya…”hotel yang dibeli bunda jelek-jelek yah, adek gak suka”. Dan ayah pun langsung membelikan hotel berbintang untuk krucils..hadeuh, kan rencananya si bunda mau ngajarin krucils backpackeran tapi si ayah selalu ngasih fasilitas lebih nih untuk krucils, gagal deh misi bunda hehe…

Siang itu sambil nyeret-nyeret tas, kami pindah hotel menggunakan metromini bobrok (karena bis Trans Batik Solonya ditunggu-tunggu gak nongol-nongol)…yang membuat heran penumpang lain, ini turis kucel-kucel naik metromini lagi kok ke hotel bagus hehe. Setelah check in di hotel kedua kami di Solo, istirahat sejenak…lapar. Liat menu hotel, halah dalah…makanannya ada harga ada rupa, yang walau si ayah wanti-wanti beli makan di hotel aja tapi berhubung si bunda agak pelita…kayaknya kita kelayapan diluar aja deh cari makannya sekalian jalan-jalan sore. Lumayan banyak tuh selisihnya dibanding makan di hotel (backpacker dong, harus hemat…hehe)..

Jadilah sore itu kami kelayapan seputaran hotel. Nah satu lagi minusnya nginap di hotel bagus adalah krucils jadi malas diajak jalan-jalan, pengennya di hotel aja telisik sakelar dan tombol-tombol hotel…hadeuh. Tidak jauh-jauh dari hotel karena krucils sudah buru-buru pengen balik ke hotel, kami pun makan di depan Museum Radya Pustaka yang saat kami datang masih buka tapi sudah tutup begitu kami selesai makan.

Berhubung Museum Radya Pustaka tutup, kami ke bagian belakangnya tempat Tourism Information Center. Disini kami nanya segala info tentang tempat wisata di Solo sama mbak petugas yang informatif dan ramah serta benar-benar menguasai bidang ini sehingga saya merasa puas. Rencananya malam itu kami hendak menonton “layang orang ya bunda”, kata adek. Yang dimaksudnya adalah pertunjukan wayang orang yang diadakan tiap malam di Taman Sriwedari, namun dari petugas Tourism Information Center kami diberitahu bahwa wayang orangnya libur sementara waktu setelah bertanding di luar negeri.

Museum Radya dan Keraton jam segini sudah tutup, karena kebanyakan tempat wisata di Solo tutup sekitar jam 1-2 siang. Yang masih buka jam segini adalah House of Danar Hadi yang berada tepat di depan hotel kami, yang tadi kami lalui namun karena saya kira itu toko batik ya dilewati deh. Dia kemudian menyarankan agar kami besok ke keraton yang buka jam 9 pagi…walah, mepet euy…besok siang pengelanaan akan berlanjut lagi. Skip dulu deh walau dengan terpaksa karena sebenarnya saya dan sulung pengen banget ke Keraton.

Akhirnya sembari berjalan pulang menuju hotel kami mampir di House of Danar Hadi. Masuk, liat-liat…ih kayaknya kok toko sih hehe. Liat bagian kasir ada seorang ibu-ibu, tanya “ini museum bu?”…dilirik dikit, kemudian jawab sambil lalu “iya”. Terus dicuekin, ditanya-tanya yang jawab malah seorang pemuda pembeli disana…hadeuh, dikacangin deh eike sama ibu-ibu ini. Mungkin karena gaya saya yang kayak turis kere jadi gak dianggap…mungkin dipikirnya isi dompet saya gak bakalan cukup untuk beli batik disitu…hehe… beda banget deh dengan kebanyakan orang Solo yang ramah-ramah dan informatif yang kami temui selama pengelanaan di kota ini.

Akhirnya muncul seorang mbak-mbak muda yang ramah, dia bertanya “mau ke museum ya mbak?”…iya, kami mau liat museum. “Kalau sekarang proses pembatikannya sudah tutup, tapi yang lain-lainnya masih buka. Apakah masih tertarik?”. Oke, gpp…kami mau liat museum batik aja kok. Kemudian kami diminta membayar 55rb dengan rincian 25rb/dewasa, 15rb/anak, kami pun diantar kebagian belakang toko tersebut.

Memasuki bagian museum kami tidak diperkenankan memegang apapun dan tidak diperbolehkan mengambil gambar apapun. Dipandu oleh seorang bapak-bapak yang ramah, kami kemudian dijelaskan tentang segala jenis batik disana, asal muasalnya, proses pembatikan yang sayangnya ketika itu pabriknya katanya sudah tutup, sejarah berbagai jenis batik, dsb. Disini kami yang sudah mengikuti proses batik di Taman Pintar sempat bertanya tentang perbedaan jenis lilin dan canting yang dipajang, yang rupanya perbedaannya terletak pada fungsi.

Awalnya saya pikir tentu tempat ini sangat membosankan untuk anak-anak seusia krucils saya. Eh ternyata sepulang dari museum mereka malah heboh cerita ke ayahnya tadi mereka ke Museum Batik. Ditanya ayah, senang? “senang dong”. Memangnya ada apa disana? “macam-macam batik yah, ada batik keraton, batik petani, macam-macam pokoknya”.

Cukup mengejutkan juga bagi saya kalau ternyata krucils antusias ke Museum Batik ini, terus terang awalnya saya cukup kebosanan didalam museum ini…la wong saya bukan penggemar batik, apalagi ngerti soal batik tetapi melihat berbagai koleksi batik disini lama-kelamaan menyenangkan juga melihat bahwa ternyata batik gak menoton motif parang tok seperti yang terlihat selama ini. Malah motif-motif buatan etnis china di pesisir cukup menawan dan menarik bagi saya karena motifnya lebih banyak dan kaya warna.

Yah, yang penting bagi saya adalah krucils jadi tahu bahwa batik itu buatan asli Indonesia dan punya banyak motif dan warna sebenarnya. Dan penutup cerita ini adalah seperti yang tertera dalam iklan-iklan di media massa “cintailah produk Indonesia” 😀





Benteng Vastenburg

28 06 2013

20130628-125853.jpg

Setelah ngobrol dengan bapak dishub, bis Trans Batik Solo pun datang. Sebelum masuk, tumben-tumbenan kali ini kami distop dulu di pintu sama mbak kondekturnya, ditanya mau kemana? Benteng mbak…oh iya, kalo benteng lewat katanya. Oalah, rupanya kami keliatan banget turisnya ya (padahal gaya selengean ; celana pendek, bersandal gunung plus gendong ransel gede, ditambah krucils yang tampang kota…sehingga disetiap kota yang kami singgahi selalu dituduh dari Jakarta ya) sampai harus ditanya dulu takut kami nyasar atau salah jurusan…hehe..

Setelah benteng Vastenburg terlihat, kamipun berniat turun di halte yang tepat berada di depan benteng ini. Namun lagi-lagi kami ditanya sama mbak kondektur, loh…mau kemana toh? Benteng mbak…kalau benteng turunnya didepan, gak usah disini kejauhan. Karena saya jenis orang yang percayaan sama orang ditambah orang tersebut petugas yang pastinya lebih mengenal wilayah, ya saya manut aja…saya pikir mungkin memang jalan masuknya dari samping sana ditempat yang ditunjukkannya.

Banyak ibu-ibu yang turut membantu kami berhenti di depan, wah makin percaya nih. Begitu turun, ditunjukkan sama mbak kondektur…masuk lewat samping sana ya bu. Oki doki…maka dengan pedenya sayapun menuntun krucils kesamping benteng, nyari jalan masuk kok ketutup sama penjual makanan semua yang malah bertemu tulisan GALABO, wah ini sih pusat kuliner terkenalnya Solo…tapi bukan ini yang sedang dicari…hadeuh…

Akhirnya saya bertanya sama salah seorang penjual makanan, pintu masuk benteng vastenburg dimana sih? Dia pun menatap saya seakan melihat alien yang mencari planetnya yang hilang, benteng itu sudah lama tutup mbak…gak pernah dibuka, gak ada jalan masuknya. Nah loh? Setelah saya memandang pusat perbelanjaan diseberang Galabo, saya baru ngeh…oalah…nama pusat perbelanjaan itu BETENG!

Mungkin ketika saya mengatakan kami hendak ke benteng yang terdengar adalah beteng, piye sih…tampang kami kan bukan anak mall…hehe. Yo wes lah, berarti benar saja tadi harusnya turun di halte yang tepat berada didepan benteng bukan mengikuti saran mbak kondektur atau para ibu yang semangat banget membantu “turis kucel” seperti kami..hehe. Terpaksalah jalan kaki ke halte awal yang bikin sulung saya ngomel, “tuh bunda gak percaya sih sama abang…kata abang kan turunnya disitu bunda”..iya, maaf ya anak-anak 😉

Sesampainya di halte depan benteng, kami menyeberangi halaman luas berumput tinggi seperti lapangan bola yang terlantar. Mendekati benteng semakin terlihat suram, benteng bocel sana sini tidak terawat…didepannya terlihat beberapa orang tidur-tiduran. Saya langsung disambut dengan rentetan bahasa jawa yang entah apa artinya, yang kalau saya terjemahin suka-suka saya mungkin artinya kurang lebih gini, bentengnya sudah tutup sejak lama mbak. Didalam gak ada apa-apa, cuma jadi tempat kambing merumput…ya semacam itulah.

Sayang sebenarnya, selama saya berkelana di Solo saya tertarik dengan kebersihan kotanya, tempat wisata yang rapi, sistem transport yang bagus, bersih dan murah…sayangnya bentengnya malah terlihat terlantar. Padahal jika Benteng Vastenburg ini dirawat bukan tidak mungkin bisa dijadikan objek wisata seperti benteng-benteng di kota-kota lain. Krucils saya, terutama sulung yang penasaran meminta kami memutari benteng ini untuk mencari jalan masuk. Akhirnya saat dikasih tahu bentengnya tutup, dia pun mengintip isinya melalui sela-sela pintu depan…yang kelihatannya sih memang hanya berisi semak-semak tinggi dan mungkin memang jadi tempat yang tepat untuk ngangon kambing..hehe..





Ngelayap di Satwataru Jurug, Solo

28 06 2013


Pagi-pagi bener di hari keenam kami sudah bersiap-siap, sarapan dulu dong di hotel sebagai sumber tenaga sebelum petualangan edisi Solo dimulai. Selama sarapan saya pun buka-buka mbah google, dari hasil jelajah mbah google akhirnya kami tahu kalau di Solo ada kereta wisata bernama Sepur Kluthuk yang relnya terlihat nyembul tengah jalan raya ditengah kota depan hotel kami. Oalah, kirain itu rel sisa-sisa kereta jaman penjajahan ternyata rel kereta tua yang dijadikan kereta wisata. Konon kabarnya karcis kereta ini 100rb/orang yang bisa didapat di Dishub..baiklah krucils, buruan makan…misi kita selanjutnya hunting tiket di Dishub.

Sebelum jalan tanya dulu dong sama resepsionis, dimana tuh dishub untuk mendapatkan tiket sepur kluthuk tersebut? Jawaban yang kami terima agak mengecewakan, katanya sih dulu ada memang sepur kluthuk ini namun karena harga tiketnya yang ehmmm…you knowlah, mahal dan tidak terjangkau…jadi sepur ini sudah sangat jarang beroperasi. Kayaknya merugi deh…

Baiklah gpp gagal naik sepur, sekarang tanya-tanya tentang keraton, taman sriwedari, benteng vastenburg dan tempat-tempat wisata lainnya yang diliat dipeta agoda sih letaknya gak jauh dari hotel. Ternyata letaknya jauh…bisa naik becak atau taxi dari sini bu, saran mereka. Namun bukan backpacker dong namanya kalau kemana-mana naik taxi…mahal, berat diongkos…hehehe 🙂

Jadilah begitu kami melihat halte bis dan menemukan bis bertuliskan Trans Batik Solo, kami pun naik. Biasanya sih rute Bis Trans gak rumit, ongkosnya murah (rp 3500 dewasa, 2rb anak-anak) dan yang penting bagi krucils pakai ac lagi hehe. Jadilah kami ber Trans Solo ke Satwataru Jurug, turunnya bilang aja ke kondektur “Jurug”, dijamin ngerti deh dan berhenti tepat di pintu Satwataru Jurug ini.

Harga tiket masuk 8rb/orang. Di dalam ternyata masih sepi, penjual-penjual makanan aja baru bersiap-siap membuka warungnya. Jalan di dalam agak membingungkan juga, kok kayaknya koleksi binatangnya sedikit. Setelah ditelusuri ternyata letak kandang-kandang binatangnya jauh masuk ke dalam…harus memutari sebuah danau dulu baru deh keliatan koleksi satwanya. Keburu capek duluan, akhirnya si bunda ngajak krucils kembali aja deh…capek muternya hehe…

Dan petualangan di Satwataru Jurug diakhiri dengan duduk-duduk di halte bis Trans Solo sambil ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak Dishub. Ternyata informasi yang kami dapat dari bapak-bapak tersebut, Sepur Kluthuk sekarang hanya beroperasi untuk disewakan alias dirental seharga 5juta dengan kapasitas tempat duduk 40. Wuihh…kalau harus rental seharga 5 juta…kayaknya mendingan kita beli tiket pesawat pp kemana gitu…hehe..

Kemudian bapak-bapak tersebut menyarankan kami naik bis tingkat aja yang namanya susah banget disebut itu (Werkudara) katanya sih kalau hari-hari biasa disewakan juga tapi untuk sabtu-minggu bisa untuk umum dengan harga tiket 20rb, rutenya keliling semua tempat wisata di Solo. Pengen sih, sayangnya minggu jadwal kami berkelana lagi..terpaksa di skip dulu deh. Yang penting hari ini krucils sudah ngabsen di Satwataru Jurug…hehe..