Mekkah Al Mukarramah

3 02 2018

Masjidil Haram


Cerita pengalaman selama di Madinah sudah, sekarang tentang pengalaman spritual di Mekkah. Lama perjalanan dari Madinah ke Mekkah melalui jalur darat itu kurang lebih sekitar 6 jam (termasuk ishoma, istirahat sholat plus makan cemilan). Kebetulan kami melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekkah ini di hari Jumat setelah sholat Jumat. Setelah sholat dan makan siang, lalu naik bis bersama rombongan menuju Mesjid Bir Ali untuk Miqat. Pasti bingung kan apaan sih miqat itu? Samaan dong dengan saya waktu ustadz pembimbing menyebut-nyebut miqat pada malam sebelumnya. Miqat itu ternyata artinya batas dimulainya ibadah haji atau umroh, nah dibatas itulah kita mulai berniat dan memakai pakaian ihram. Kalau ihramnya laki-laki adalah mengenakan pakaian yang tidak ada jahitannya, sedang untuk perempuan pakaiannya lebih flexible.

Dan yang paling penting diingat adalah sejak miqat itu, dimulailah semua larangan-larangan ihram. Apa aja larangannya? Larangannya antara lain mencukur, memotong , menutup muka, membunuh dan berburu hewan, memakai wewangian, berkata kotor, memaki, mencaci, dsb…bisa di cari di gugel sisanya. Sebagai pengalaman pertama, saya lumayan takut tuh kalau gak sengaja melanggar larangannya, makanya saya gak berani mandi (takut pake sabun, kan sabun wangi), gak berani sisiran, bahkan gak berani garuk-garuk kepala karena takut rambut saya rontok. Ealah keluar mesjid malah kelupaan pakai masker…untung diingatkan si ayah.

Miqat di Mesjid Bir Ali ini adalah sholat sunah 2 rakaat sambil niat umrah. Setelah itu di dalam bis dilafadzkan kembali niatnya, kemudian membaca talbiyah, salawat dan doa. Ketika membaca talbiyah ini dalam bis yang sedang berjalan menuju Mekkah tuh haru banget. Susah bagi saya untuk menahan air mata. “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika lak” yang artinya “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.

Semua seolah di rewind lagi, kelakuan saya yang kadang keras kepala, mucil, dsb…masa lu sudah dikasih nikmat masih gak bersyukur sih, kurang apalagi coba? Cuma kurang bersyukur aja…hiks hiks. Ya Allah maafkan segala kekhilafan dan kelalaian hambamu ini, saat itu juga semua rasa syukur langsung membuncah memenuhi relung hati…terima kasih ya Allah telah Engkau undang kami kesini, terima kasih banyak, semoga Engkau masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan dijalan yang lurus, aamiin.

Di tengah perjalanan, kami berhenti disebuah perhentian untuk melaksanakan sholat Maghrib jama’ Isya. Di perhentian ini anak bungsu saya menangis karena merasa mual, bungsu saya ini memang gampang mabuk perjalanan. Akhirnya kami belikan mie instant buatan Indonesia yang paling ngetop (hayooo…pada tahu kan merknya…malas ah saya sebut merk entar dikira iklan lagi hehe). Harganya ? 5 riyal…ya sekitar 15 ribuan hampir 20 ribu lah…mahal kan? Di Indonesia tuh mie paling mahal paling 5 ribu…ok lah, mahal karena impor. Nah ternyata tuh gak dikasih air panas, padahal sebelum beli kami sudah tanya ke si penjual ada air panasnya gak? Oh ada, nanti… jawab si penjual. Giliran sudah dibayar dan ditanya mana air panasnya? Eh dia nunjuk restoran sebelah. Di resto sebelah air panasnya bayar 1 riyal…salah kami sendiri nanyanya kurang spesifik, harusnya nanyanya air panas gratis ya…hahaha.

Senangnya bawa krucil adalah hampir semua penjual suka sama krucil, kadang mereka ngusel-ngusel kepala krucil, dan seringnya malah dikasih bonus. Bonus yang paling sering adalah permen dan coklat…sambil ngasih ke krucil sambil bilang halal, alhamdulillah. Tapi sejak itu krucil kalau ngasih sesuatu jadi ikutan bilang halal…halal. Setelah makan mie, bungsu saya kembali merasa enakan. Setelah itu diperjalanan kami tertidur, sampai akhirnya sudah mendekati kota Mekkah kami dibangunkan oleh pembimbing. Disuruh mengucapkan doa memasuki kota Mekkah. Lalu sampai hotel langsung makan malam, setelah itu masuk kamar sebentar…eh sudah diketok-ketok pintu kamar sama ustadz pembimbing. Sudah saatnya menyempurnakan ibadah umroh dengan Tawaf dan Sai. Apa itu tawaf? Tawaf itu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x sambil berdoa, sedang Sai adalah berjalan dari bukit Safa dan bukit Marwa juga sebanyak 7x.

Rombongan kami mulai melakukan ibadah ini sekitar jam 1 dinihari. Sambil berjalan dari hotel menuju Masjidil Haram kami bertalbiyah kembali, sampai halaman Masjidil Haram belum keliatan Ka’bahnya…jadi belum ngeh sama situasi. Begitu masuk, turun melalui tangga lalu melalui sebuah jalan, mulailah terlihat Ka’bahnya. Bungsu saya langsung bisik-bisik ke saya “bunda, alhamdulillah bisa liat langsung Ka’bah. Adek senang”, ucapnya sambil senyum girang. Iya dek, alhamdulillah. Begitu memulai dari tempat start dan mulai berdoa, terlebih sambil tangan dilambaikan ke arah Ka’bah dan mengecupnya sambil mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”….haru banget, mau nangis rasanya. Allahuakbar, Allah Maha Besar.

Ustadz kami mengambil putaran terluar agar rombongan kami tidak begitu berdesak-desakkan dan laki-laki diposisikan mengelilingi perempuan agar para jemaah perempuan terlindungi. Karena di Masjidil Haram sedang ada perbaikan sumur zamzam, area Tawaf agak menyempit. Kemungkinan perbaikan ini selesai saat Ramadhan nanti. Setelah Tawaf lalu menuju area untuk Sai, nah disini krucil saya terutama si bungsu mulai keliatan kecapekan. Tapi karena sudah dari Indonesia kami wanti-wanti bahwa selama beribadah tidak boleh mengeluh, tidak boleh sedikitpun mengucapkan keluhan…alhamdulillah mereka taat. Jadi walau capek dan mengantuk mereka tetap melakukannya, walau kaki mereka mulai keliatan diseret-seret. Selesai Sai, lalu memotong rambut, kemudian bermaaf-maafan dengan seluruh rombongan. Alhamdulillah, semoga ibadah umroh kita mabrur ya teman-teman, aamiin.

Setiba di hotel saya cerita ke ayah, “kaki bunda sakit yah”. Bungsu saya langsung bilang, “gak boleh mengeluh bunda, kan bunda sendiri bilang kalau gak boleh mengeluh”…hehe masih ingat aja pesan bundanya. Kami menyelesaikan ibadah umroh ini sekitar jam 3 subuh, jadi punya waktu sedikit saja sebelum sholat subuh. Kenapa ustadz pembimbing kami memilih waktu malam? Saya baru ngeh saat sholat subuh dan dzuhur di Masjidil Haram, ternyata pilihan waktunya pas karena setelah itu ramai sekali orang Tawaf.

Kami dua kali melakukan umrah, yang satu Miqat di mesjid Bir Ali (Madinah) sedang satunya lagi Miqat di mesjid Ji’ronah (Mekkah). Kalau umroh pertama dilakukan tengah malam, umroh kedua dilakukan siang hari jadi lumayan keringatan juga. Sebenarnya mau umroh berkali-kali pun tidak masalah selama mampu (terutama mampu dalam hal fisik), bisa menyewa taxi untuk menuju tempat miqat terdekat. Untuk yang sudah berusia lanjut dan dikhawatirkan tidak mampu untuk melakukan Tawaf dan Sai, banyak jasa pendorong kursi roda di depan Masjidil Haram, tarifnya sekitar 300 riyal kalau tidak salah.

Kota Mekkah lebih besar dari Madinah, selain itu suhu Mekkah yang kalau pagi dan malam sama dinginnya dengan Madinah namun siang suhunya kadang terasa panas. Kemudian hari terakhir di Mekkah, kami melakukan Tawaf Wada, atau Tawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir untuk Masjidil Haram. Kami melakukannya sendiri, terpisah dari rombongan yang melakukannya setelah sholat subuh. Kami melakukannya sebelum sholat subuh. Kami melakukan Tawaf Wada di lantai tiga, kebayang kan jauhnya. Ketika sudah putaran ke 4 tuh rasanya jaraknya makin jauh aja, melihat ke lantai satu, wah enak tuh putarannya gak sejauh di lantai tiga. Akhirnya saya mulai mucil lagi, ah ke lantai bawah aja ah….walau sama si ayah sudah dikasih tahu kalau bunda turun ke lantai bawah bisa jadi sudah selesai putaran kita di lantai tiga ini. Tapi godaan begitu besar, jadi saya memilih turun ke lantai satu. Lantai satu sebenarnya dikhususkan untuk yang berpakaian ihram, alias untuk yang melakukan Tawaf Umroh. Kalau perempuan karena susah dibedakan pakaian ihramnya, jadi gak masalah masuk di lantai satu, sedang untuk laki-laki harus berpakaian ihram kalau hendak tawaf di lantai tersebut. Sebenarnya banyak aja sih yang menyamar berpakaian ihram untuk melakukan Tawaf Wada di lantai satu ini, tapi ayah tidak mau begitu…itu sebabnya kami memilih di lantai tiga yang lebih sedikit orangnya dibanding di lantai dua.

Nah, begitu saya turun mengajak bungsu saya, kami susah mencari pintu masuk untuk tawaf di lantai satu ini. Kalau untuk sholat sih bisa dari pintu mana saja, sedang untuk tawaf ada pintu khususnya. Tiap masuk lewat sebuah jalan eh terhalang sama pagar pembatas, sampai akhirnya mulai sholat subuh. Setelah sholat subuh saya bertemu teman-teman rombongan yang mengajak keluar dulu untuk ikut rombongan melakukan Tawaf Wada, tapi berhubung saya sudah melakukan 4 putaran hanya tersisa 3 putaran lagi, saya memilih menyelesaikan sendiri. Eh masih susah tuh menembus pagar pembatas. Bisa sih kalau mau keluar dulu lalu melalui gate khusus, cuma saya malas keluar dulu. Setelah saya pikir-pikir, duh ini pasti akibat saya keras kepala lagi nih sama si ayah…hiks. Baiklah kalau begitu, saya ajak bungsu ke lantai tiga kembali menyelesaikan putaran tawaf sekalian bertemu ayah dan sulung. Tiba dilantai tiga, ayah dan sulung tidak keliatan, wah pasti mereka sudah menyelesaikan tawaf mereka nih dek…maafin bunda ya gara-gara bunda keras kepala adek jadi bolak-baliknya makin jauh. Akhirnya setelah menyelesaikan tiga putaran itu kami turun keluar, terlihatlah ayah dan sulung sedang menunggu kami sambil senyum-senyum…hehe. Iya bunda salah, maafin ya yah…

Begitulah pengalaman spritual saya, tiap mulai muncul keras kepalanya, langsung deh ditegur. Kata ayah, “tuh kan makanya jangan mucil lagi” …haha. Iya ya…bunda sudah insyaf kok untuk saat ini…besok-besok gak janji.. haha. Pulang dari Tawaf Wada makan-makan dulu deh di foodcourt sebuah mall, kebetulan ada makanan Malaysia kesukaan krucil, seperti nasi lemak, roti canai dan teh tarik. Selama di Arab Saudi kami tidak banyak berbelanja, uang lebih banyak dipakai untuk belanja makanan walau sebenarnya dapat jatah makan dari travel. Berbeda dari teman rombongan lain yang banyak belanja ini itu, terutama baju yang katanya sih harganya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Gamis-gamis hanya 70-100ribu, bagus-bagus lagi. Kami malah kalau mau belanja selalu mikirnya ah entar aja. Waktu di Madinah mikirnya entar aja di Mekkah, begitu di Mekkah mikirnya entar aja di Jeddah, eh di Jeddah mikirnya entar di bandara. Eh di bandara ternyata gak ada mallnya, jadi aja gak jadi belanja. Sudah kepedean bawa koper 5 buah (tumben-tumbenan padahal biasanya kemana-mana cuma bawa satu koper), cita-cita dari rumah mau belanja banyak ternyata gak jadi haha. Baru setelah tiba di Jakarta kepikiran, kok kita gak belanja apa-apa ya untuk oleh-oleh buat saudara dan teman, akhirnya di bandara Soekarno-Hatta belanja oleh-oleh roti unyil 3 kotak…eh baru setengah hari sudah dihabisin krucil 2 kotak, tinggal satu kotak bawain untuk teman-teman. Biasanya orang pulang dari Arab oleh-olehnya kurma, kismis, kacang eh kami malah roti made in Indonesia…hahaha, maafkanlah kami. Kalau boleh saya sarankan sih belanjalah sebanyak-banyak yang mampu anda bawa daripada menyesal kemudian…haha.

Gunung Tsur

Pada tahu kan cerita tentang gunung Tsur ini? Waktu Nabi Muhammad hendak dibunuh oleh kaum kafir yang membenci nabi, Nabi Muhammad bersembunyi di gunung Tsur ini, letak guanya jauh diatas gunung tidak terlihat dari bawah. Dengan pertolongan Allah SWT, Nabi Muhammad selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Rombongan kami diajak melihat Gunung Tsur ini walau dari bawah, jadi gak keliatan nih guanya.

Selain gunung ini, ada beberapa tempat sih yang dikunjungi, termasuk melalui Gua Hira. Tahukan Gua Hira ini? Tempat nabi menerima wahyu pertama, tapi karena letaknya jauh tinggi jadi bis hanya melaluinya saja.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah ini letaknya di Padang Arafah. Konon di Jabal Rahmah inilah tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa yang terpisah setelah diturunkan dari surga oleh Allah SWT. Jabal Rahmah sendiri diartikan sebagai gunung kasih sayang, dan dipercaya untuk kelancaran jodoh. Itulah sebabnya supir bis rombongan kami secara bercanda berpesan kepada ibu-ibu kalau suami berdoa disini jangan langsung diaminkan …hehe.

Di Jabal Rahmah ini kami tidak naik ke atas bukitnya. Umumnya yang naik yang masih muda-muda. Jadi cukup berfoto-foto di bawah.

Advertisements




Madinah Al Munawwarah

24 01 2018

Ayah dan saya lumayan lama mendiskusikan tentang ibadah umroh ini. Ayah pengennya kami langsung berhaji saja karena menurutnya yang wajib itu haji bukan umroh, sedang menurut saya selama menunggu antrian haji yang sudah mencapai belasan tahun lebih baik kami umroh dulu. Umur rahasia Allah, tidak ada jaminan kami masih berumur panjang untuk menunggu antrian haji. Setelah sekian lama mendiskusikan masalah ini, akhirnya ayah setuju tapi syarat dari ayah adalah tidak boleh update status atau pajang foto di medsos selama pelaksanaan ibadah…tahu aja istrinya tukang update status

Tujuan syarat ayah ini adalah untuk meluruskan niat, agar tidak riya dan ujub. Jadi tujuan saya sekarang menuliskan pengalaman spritual kami ini adalah sebagai pengingat, sebagai kenangan untuk kami sendiri, untuk krucil kami dan juga untuk sharing pengalaman saja. Kalau memang untuk pribadi, lalu kenapa dimasukkan dalam blog? Karena blog ini sudah saya anggap diary kami, catatan-catatan kami sebagai pengingat apa saja yang telah kami lalui bersama. Kalau pada akhirnya jadi bermakna dan dimaknai dengan cara lain oleh pembaca, saya pribadi memohon untuk dimaafkan.

Sekarang saya berniat menuliskan tentang Madinah. Madinah sendiri kota kecil yang menarik. Suasananya tenang, cuaca cerah, matahari bersinar terang walau suhu sangat dingin. Mungkin inilah sebabnya dinamakan Al Munawarrah, yang artinya kota yang bercahaya. Buah-buahan dan sayurnya segar dan enak. Pokoknya kami merasa semua serba enak dan nyaman selama kami di Madinah. Inilah beberapa tempat yang kami kunjungi selama di Madinah

Mesjid Nabawi

Kami tiba malam di kota Madinah ini, saya lupa lagi jam berapanya…yang saya ingat hanya rasa kantuk yang mendera. Jadi waktu dikasih tahu ustadz pembimbing bahwa Mesjid Nabawi letaknya tidak jauh dari hotel, tinggal jalan kaki dikit, lurus saja dari hotel… saya hanya manggut-manggut. Sampai kamar langsung tidur pulas…bablas sampai subuh. Ketika menjelang subuh mendengar seruan adzan, langsung teringat kata pembimbing bahwa disini adzan itu dua kali, yang pertama itu untuk memanggil…adzan kedua baru sholat. Jarak adzan pertama dan kedua lumayan lama. Baiklah kalau begitu, bersiap-siap dulu untuk ke mesjid .

Suhu di Madinah 22°C kala itu, teorinya sih seharusnya gak sedingin di Turki yang mencapai 7°C. Tapi begitu melangkah ke luar hotel….bbrrrr, dingiiin bingit …dinginnya ngalah-ngalahin di Turki. Entah karena sayanya yang kondisinya sedang drop atau memang begitu keadaannya…dinginnya nembus tulang. Berduaan sama ayah berangkat ke mesjid dan menggigil kedinginan bikin saya gak konsen dengan keadaan sekitar tapi suasananya adem banget…damai. Enak banget.

Pulang dari mesjid, saya drop. Saya gak berani memaksakan diri ikut rombongan ke Raudah (makam Rasulullah) pagi itu walau pengen banget. Ayah dan krucil tetap berangkat ke Raudah dan karena perempuan dan laki-laki dipisah, sedang saya tidak bisa menemanin bungsu saya, saya sudah bilang ke si adek agar di kamar hotel saja bersama saya. Tapi bungsu saya bertekad untuk pergi ke Raudah sendiri ikut rombongan ibu-ibu. Terpaksalah bungsu dititipkan ke ibu-ibu rombongan…hebat adek, proud of you (terima kasih tak terhingga kami ucapkan untuk ibu-ibu yang telah menjaga si adek selama di Raudah). Sementara rombongan ke Raudah, saya minum obat, vitamin dan tidur pulas sampai ayah dan krucil kembali ke hotel lagi. Baru siang, ketika kondisi sudah berangsur pulih, saya sholat dzuhur ke Mesjid Nabawi. Dan baru saat itulah saya lebih memperhatikan Mesjid Nabawi ini…Subhanallah, luar biasa indah rasanya. Haru banget rasanya…

Balik ke hotel dan mendengar cerita krucil dan ayah tentang Raudah, yang kata ayah sekalinya nangis sesugukan seumur hidup tuh ya kali itu di makam Rasulullah. Padahal belum berdoa, baru masuk aja, tangis tak tertahankan. Mendengar cerita-cerita tersebut saya mulai gelisah. Kok saya sudah sejauh ini melangkah malah tersendat mengunjungi makam Rasulullah dan mulai bertanya tanya dimana sih letak Raudah. Karena terpisah pintu masuk laki dan perempuan, ayah susah menjelaskan letaknya kalau untuk perempuan, nanya ke bungsu dia juga bingung menjelaskannya. Kemudian nanya di wa group rombongan, ada gak yang mau ke Raudah lagi? gak ada yang jawab sampai sholat Isya…hiks.

Saat sholat Isya, saya dan ayah terlalu mepet berangkat ke mesjid karena mengurus krucil dulu. Sudah adzan kedua baru jalan dari hotel, jadi sholat sudah hampir mulai. Saya pun bergegas nyaris lari ke mesjid. Selesai sholat sunat, saat sedang berdoa…tiba-tiba saya melihat tiga orang teman rombongan saya sedang sholat persis di depan saya. Di mesjid sebesar itu dengan orang sebanyak itu, jarang banget bisa ketemu anggota rombongan kecuali sengaja janjian…kebetulan banget. Eh tanpa di duga, kebetulan lagi mereka sedang membahas tentang ke Raudah pas ketika hati saya gelisah mengenai Raudah. Karena paginya mereka sudah ke Raudah bersama rombongan kami, jadi mereka sudah tahu dimana letaknya…dan saya nanya, boleh ikutan gak? Oh boleh dong, tuh hati saya rasanya plong banget. Ternyata saya masih diijinkan Allah untuk ke makam Rasulullah.

Selesai sholat Isya, kami berjalan melawan arus menuju pintu no 25. Karena saya tanpa persiapan kalau malam itu mau ke Raudah, jadi ya gak bawa apa-apa termasuk tas untuk menaruh sandal jadilah sandal titip di tas teman. Kemudian kami masuk, liat ada antrian berdiri di pintu ujung…kami pun ikutan antri. Eh sama penjaga pintu wanita kami disuruh keluar dari antrian. Awalnya bingung, kenapa disuruh keluar antrian dan disuruh duduk diluar antrian. Ternyata antrian tersebut khusus untuk yang menggunakan kursi roda. Jadilah kami duduk-duduk menunggu dibolehkan masuk. Mata mulai ngantuk berat karena sudah malam, beberapa teman mulai membahas tentang balik ke hotel karena tidak tahan menunggu. Kemudian kami sepakat hendak balik ke hotel, teman-teman mengantuk dan saya belum sempat bilang ke ayah dan krucil kalau mau ke Raudah, takut mereka khawatir. Tepat ketika kami berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu keluar, tahu-tahu pintu-pintu yang awalnya tertutup menjadi terbuka semua dan penjaga wanita teriak-teriak dan para pengantri mulai meransek masuk…kami berempat berpandang-pandangan dan memutuskan secara naluriah ikut meransek ke arah pintu yang terbuka. Lari-lari mencari pintu ke arah Raudah…akhirnya kami terpencar, seorang teman menghilang dari kami, sedang kami yang tersisa bertiga mulai berpegangan erat agar tidak terpencar.

Waktu untuk perempuan ke makam Rasulullah hanya 3 saat yaitu setelah Subuh, setelah Dhuzur dan setelah Isya. Sedang untuk laki-laki terbuka setiap saat, itulah sebabnya antrian untuk wanita begitu panjang. Tepat ketika kami mencapai karpet merah dekat makam Rasul, tiba-tiba kami disuruh duduk lagi. Antri lagi, untuk memberi kesempatan pada orang-orang yang sudah mencapai makam untuk sholat dan berdoa. Disini mulai mengobrol sama jamaah rombongan lain, konon katanya bisa sampai jam 12 nih antrian begini. Waduh…mata sudah sepet tapi nanggung kalau balik hotel. Jadi kami sabar menunggu, disini kami ketemu lagi sama teman yang awalnya menghilang. Jamaah dari Indonesia umumnya sabar, gak grasa grusu, yang sering diteriakin penjaga tuh wanita-wanita perawakan tinggi besar entah dari negara mana. Umumnya mereka maju terus dengan alasan ini itu padahal disuruh duduk antri. Disini kami banyak-banyak berdzikir dan shalawat. Antrinya lumayan lama, sekitar 20 menit. Ketika sudah hampir giliran kami…dua menit menjelang dibolehkan masuk, waduh tuh orang jadi beringas-beringas…semua meransek masuk, menerobos antrian. Salah seorang teman menarik kami agar kembali duduk, dia mendengar penjaga bilang haram karena belum waktunya, jadi lebih baik kita duduk lagi aja daripada gak berkah dan percuma juga desak-desakan gitu di dalam, ujarnya.

Akhirnya kami bertiga duduk lagi, sabar menanti giliran lagi. Si teman menghilang lagi, kayaknya terbawa arus yang masuk. Nunggu antrian lagi tuh harus nahan sabar banget , ya nahan ngantuk, nahan di desak orang dari belakang. Waktu yang dinanti tiba juga, giliran kami. Tetap sih desak-desakkan, agar tidak terpencar karena terbawa arus, kami berpegangan tangan erat-erat. Ketika diajak teman keluar aja kita, gak bisa sholat nih kita penuh gitu…eh kami malah terdesak sampai ke pagar pembatas makam. Berdoa sebentar, sambil bantuin bentengin orang-orang yang sedang sholat agar gak terimpit dan terinjak. Selesai itu, entah gimana ceritanya tahu-tahu ada tempat lumayan lega untuk sholat dan saya ditarik teman saya disuruh sholat disitu karena paginya belum ke Raudah jadi dikasih kesempatan pertama…hiks terharu. Alhamdulillah selama sholat sunat 2 rakaat tidak ada gangguan didesak-desak orang lain. Akhirnya kami ganti-gantian sholat disitu, sambil yang lain berjaga membentengi agar yang sedang sholat tidak terimpit. Subhanallah rasanya tuh plong dan senang banget, tiap kami hampir berputus asa eh ada aja jalannya diberi kemudahan.

Keluar dari Raudah tuh sudah malam banget, sekitar jam 12an. Minum air zam-zam dulu sembari istirahat… kemudian baru sadar, ya ampun sandal kami kan dititip sama teman yang terpisah itu. Jadilah pulangnya selain nahan hawa dingin juga nahanin kaki yang kedinginan nyeker di ubin dingin Mesjid Nabawi. Mesjid terasa tenang banget, sepi tapi rasanya senang banget nget walau kedinginan dan kami sibuk janjian besok setelah sholat Isya kita ke Raudah lagi. Nyatanya itulah satu-satunya kesempatan saya ke Raudah karena besoknya gak ada yang ke Raudah lagi. Sesampai di kamar ngeliat krucil dan ayah tidur, jam sudah menunjukkan pukul 1 dinihari. Rupanya ayah baru pulang dari Raudah juga dan krucil hebat saling menjaga berdua dikamar hotel saat ayah bundanya sibuk. Rasa bersyukur itu banyak banget muncul selama di Madinah, hal-hal yang kalau di Indonesia jarang disyukuri, di Madinah jadi banyak bersyukur. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semua karuniaMu pada kami.

Mesjid Quba

Mesjid Quba ini adalah mesjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad ketika hijrah dari Mekkah. Ketika itu nabi disambut oleh penduduk setempat dengan meriah. Itulah sebabnya mesjid ini sangat spesial dan memiliki keutamaan, bahkan Rosulullah bersabda : ” Barangsiapa yang keluar dari rumahnya kemudian mendatangi mesjid ini, yakni Mesjid Quba kemudian salat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia menjalankan umrah”

Begitulah kurang lebih penjelasan pembimbing umroh kami. Itu sebabnya di hari ketiga kami di Madinah, kami diajak berkunjung ke mesjid ini. Disini kami sholat sunat 2 rakaat dan dhuha. Mesjid ini ramai banget, penuh dengan rombongan-rombongan jamaah umroh dari berbagai negara. Disini teman-teman rombongan pada borong baju gamis pria, katanya sih murah 50 ribu aja. Btw, selama di Madinah banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia dan belanja juga gak perlu repot menukar uang karena Rupiah berlaku juga loh.

Jabal Uhud

Nampaknya Jabal Uhud ini salah satu tujuan semua penyelenggara umroh dan haji. Jabal uhud diartikan sebagai gunung penyendiri, gunung yang terlihat sendiri tempat terjadinya peperangan antara 700 kaum muslimin melawan 3000 kaum kafir Mekkah. Disinilah tempat gugurnya 70 orang syuhada. Ketika ustadz pembimbing cerita tentang perang ini ternyata krucil sudah tahu ceritanya karena sudah mendengarnya disekolah, alhamdulillah akhirnya mereka bisa melihat langsung lokasi dari cerita yang mereka dengar di sekolah.

Di area sekitar terdapat makam para syuhada dan banyak tempat penjual kaki lima yang menurut teman-teman rombongan harganya murah-murah. Kalau di Mesjid Quba bajunya murah, disini lebih murah lagi, 50 ribu dapat dua….yang sudah terlanjur belanja banyak di Quba langsung pada menyesal deh…hehe. Selain untuk belanja, disini menjadi area berfoto-foto. Kami tidak lama disini, karena ada beberapa tempat yang akan dikunjungi lagi selain untuk mengejar sholat dzuhur berjamaah di Mesjid Nabawi.