Mengisi Baterai di Desa Budaya Pampang

16 12 2012


Sudah lama…lama dan …lamaaaaa sekali kami berniat ke desa budaya yang satu ini untuk melihat tarian adat khas dayak. Walaupun kami sudah beberapa kali ke desa ini, namun selalu salah waktu. Kalau gak datangnya terlalu pagi, atau datangnya salah hari, atau kesorean sehingga tidak kesampaian melihat tarian dayak dan orang-orang dayak berkumpul di satu tempat (balai desa yang berbentuk rumah panjang) yang bernama lamin.

Hari ini kesampaian juga akhirnya melihat tarian khas dayak langsung di desa yang dihuni oleh suku dayak kenyah yaitu desa budaya pampang…yippie. Duo krucil langsung antusias mendengar bahwa kami akan melihat tarian khas, mereka langsung gak sabar pengen buru-buru masuk lamin. Untuk melihat acara ini kami membayar 30rb, dengan rincian perorang dewasa 15rb sedangkan anak-anak digratiskan. Beruntungnya, walau krucil katanya tidak usah membayar tapi mereka tetap dikasih tiket oleh penjaga gerbang. Kemudian setelah parkir, kami masuk lamin besar yang sudah penuh dengan turis-turis lokal dan mancanegara serta disebelah kiri terlihat para tetua dayak duduk memanjang ditempat duduk yang tersedia. Lamin ini adalah balai desa yang berbentuk rumah panjang tanpa sekat, didalamnya penuh dengan ukiran-ukiran khas dayak serta kursi-kursi panjang. Nama lamin ini Bloq Pemung Tawal.

Nah, ketika masuk lamin kami diberi 3 buah gelang manik-manik bertuliskan PAMPANG oleh panitia sesuai jumlah karcis yang sebelumnya diberi oleh penjaga karcis di gerbang depan. Kami diberi gelang berwarna kuning, orange dan hijau dengan kombinasi tulisan berwarna hitam. Sekali lagi duo krucil kami langsung heboh, rebutan gelang manik…hadeuh.. Menurut jadwal acara sih tarian dayak ini diadakan tiap hari minggu dimulai jam 14.00, namun agak lama juga kami menunggu, mungkin karena sudah terlanjur penasaran jadi berasa lama hehe..

Sebelum acara dimulai, pembawa acara memberi informasi bahwa sesi foto bersama penari, pemusik atau tetua dilakukan setelah acara tari-tarian selesai. Sekali sesi foto dikenakan tarif 25rb / 3x foto. Si ayah langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan, menghilang untuk membeli tiket untuk 2 sesi foto, artinya kami dapat jatah 6 kali berfoto. Lumayan bisa berfoto langsung dengan tokoh-tokoh yang selama ini hanya kami lihat di kartu pos.

Kemudian acara yang dinanti pun mulai, ada beberapa jenis tarian. Tarian selamat datang oleh anak-anak perempuan kecil, tarian perang oleh anak laki-laki, tarian topeng oleh ibu-ibu, dsb yang nama-nama tariannya susah untuk diingat. Yang jelas begitu melihat tari-tarian ini, melihat langsung tarian adat di rumah adat lamin memulihkan segala semangat saya. Ibarat mengisi baterai yang sudah hampir lowbat…benar-benar menyegarkan dan menyenangkan. Di dua tarian terakhir, penonton boleh ikut menari bersama yang semakin menghidupkan suasana.

Ayah gak mau ketinggalan ikutan menari loncat-loncat diantara 3 pasang kayu yang digerak-gerakan oleh penari melebar dan menyempit mengikuti irama lagu, yang membuat duo krucil tertawa lebar sekaligus ngeri melihat hentakan kayu semakin lama semakin cepat …hahaha… Setelah acara tarian selesai, beberapa anak kecil penari mendatangi saya menawarkan diri untuk dipotret. Tapi karena kami pengen berfoto dengan tetua, kami pun menolak tawaran mereka..duh, takut banget nih kalo 6 kali jepret terbuang percuma.

Akhirnya dibantu oleh pembawa acara, kami berhasil mengajak para tetua berfoto bersama. Alhamdulillah dapat giliran pertama, jadi bisa puas-puasin deh 6x berfoto dengan tetua yang nampaknya tidak bisa berbahasa indonesia. Setelah itu baru terlihat oleh kami, ternyata ada seorang tetua perempuan yang berkuping panjang…OMG, dengan menyesal saya pun menatap tetua tersebut…ini dia yang pengen saya foto, tapi jatah kami 6x jepret sudah habis walau hasilnya kurang memuaskan karena difotoin oleh orang lain..hiks-hiks. Akhirnya dengan nekat, kami bertanya pada panitia yang memberi kami gelang manik-manik, nih pak liat (sambil nunjukin hasil foto sebelumnya), rupanya kami belum berfoto dengan yang bertelinga panjang…tapi karcis kami sudah dikasihkan semua tadi, boleh gak foto lagi? *pasang tampang memelas*

Alhamdulillah wasyukurillah saudara-saudara, kami dibolehkan berfoto-foto lagi. Gak cuma 1x foto, malah 3x foto lagi. Sayangnya kali ini tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk mengambil foto, jadi yang berfoto hanya saya dan si sulung (bungsu takut) saja yang berfoto, jepret sama ibu bertelinga panjang asli. Saat akan berfoto lagi, tetua disebelah saya memegang-megang kepala saya…saya kira mau diapain kepala saya, ternyata malah dipasangin topi miliknya dikepala saya. Si ayah langsung heran, wah bunda…tetuanya senang tuh sama bunda sampe dikasih topi…hehe…

Pulangnya kami semua puas, ayah senang karena bisa menari bersama dan impiannya tercapai melihat langsung suku dayak yang masih bertelinga panjang, krucil senang karena koleksi tiketnya bertambah dengan adanya tiket masuk lamin dan dapat gelang manik asli dari desa pampang. Saya bersyukur banget punya anak yang benar-benar pecinta alam & budaya, biasanya anak-anak seumuran ini mana mau diajak nonton-nonton tarian adat, tapi duo krucil kami malah antusias banget. Saking senangnya mereka ngajak nonton tarian lagi, yang dikasih gelang-gelang lagi ya bunda…hahaha. Ok anak-anak, nanti ayah bunda bikin planning lagi ya, kita liat tari-tarian khas daerah lain lagi, okeh? See you on our next adventure 🙂

Advertisements




Tepian Mahakam

26 01 2010

Anak saya yang kedua (Alessandra 1,5th) sedang flu berat. Dia tidak mau makan selama beberapa hari, padahal adek (demikian kami memanggilnya) termasuk omnivora, pemakan segala jenis, biasanya tidak ada makanan yang ditolaknya. Untuk itu tugas kami sebagai orang tua adalah merayunya agar mau makan, ya walau secuil juga gak apa yang penting ada yang masuk. Berbagai cara di coba, dari menyiapkan segala jenis makanan, mengajak main, tetap gak mempan. Akhirnya kami pun mengajaknya jalan-jalan….jalan-jalan adalah salah satu kegiatan yang amat sangat disenangi adek. Mungkin seperti halnya abangnya, sejak bayi kami sudah mengajaknya berpetualang, jadi berpengaruh pula pada hobinya. Sehingga jangan pernah memakaikan pakaian jalan ke adek dulu, bila belum berniat jalan, atau jangan pernah mengatakan jalan-jalan ke dia bila memang belum akan jalan…karena dia akan merengek-rengek terus sampai jalan-jalan benaran…hehehe

Walau badannya masih hangat, kami pun mengajaknya jalan-jalan keliling kota Samarinda, karena ketika itu kami sedang berada di Samarinda. Dan ketika melalui Tepian Mahakam (masyarakat kota menyebut tepi sungai Mahakam sebagai Tepian), saya pun langsung beraksi…tunggu bentar yah, kita berhenti sebentar…dan biarkanlah istrimu fotographer dan blogger amatiran ini turun sebentar, mau ambil foto Tepian dulu…hihihi. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya disebuah postingan, saya memang berniat menjadikan blog saya ini sebagai pusat informasi wisata Kalimantan Timur terlengkap. Terinspirasi blog seorang teman yang khusus mengangkat wisata di propinsinya, saya pun yang cukup kesulitan menemukan informasi serta foto-foto wisata di Kalimantan Timur tergerak untuk bertindak…halah sok iye…hehehehe 🙂 Jadi walau pada awalnya saya hanya mengangkat kisah tentang tempat-tempat wisata di kaltim yang jauh dari pusat kota, mulai berpikir ulang…walah, mulai sekarang segala hal yang berbau Kalimantan Timur  dan pelosok-pelosoknya, harus masuk blog saya. Dan untuk itu, saya pun mulai rajin hunting foto-foto seputaran Kalimantan Timur. Dan untuk itupun kamera tidak boleh jauh dari mobil saya.

Kembali ke cerita, masih dengan mengenakan pakaian tidur dan bersandal jepit dengan warna yang tidak macthing…saya pun langsung sok sibuk ala fotographer handal, jepret sana…jepret sini. Naik sana, turun sini demi mendapatkan foto Tepian Mahakam yang bagus. Tepian Mahakam sekarang ditata dengan bagus, sehingga banyak taman-taman disepanjang Tepian. Dulunya jaman saya kecil, Tepian ini adalah pemukiman padat penduduk, namun secara perlahan tapi pasti disulap jadi taman-taman yang mempercantik wajah kota. Beberapa pedagang kaki lima biasanya memenuhi jalan-jalan dan taman-taman di sepanjang Tepian. Namun belakangan ini satpol PP sedang gencar menertibkan pedagang-pedagang tersebut, mengembalikan fungsinya sebagai taman wisata keluarga.

Dan inilah foto-foto hasil hunting saya tersebut, Tepian Mahakam, yang merupakan salah satu icon Samarinda. Belumlah lengkap ke Samarinda bila belum ke Tepian Mahakam. Menikmati sungai yang membelah Samarinda menjadi dua, Samarinda kota dan Samarinda seberang, sambil memperhatikan segala aktivitas yang terjadi di dalamnya, seperti hilir mudiknya tongkang bermuatan batu bara, beberapa masyarakat yang sedang memancing. Dan konon, air sungai Mahakam adalah pelet yang paling manjur, menurut kepercayaan bila seseorang pendatang telah meminum sungai Mahakam, suatu saat pasti akan kembali lagi ke Samarinda. Entahlah…anda bisa mencoba membuktikannya sendiri 🙂

Patung Pesut, sejenis lumba-lumba dari air tawar yang merupakan mascot Samarinda

Samarinda Islamic Centre dari Tepian Mahakam

Taman di Tepian

Deretan kapal

Kantor Gubernur yang berada menghadap Sungai Mahakam

Tree…