Muzium Negri Pulau Pinang (Penang State Museum)

23 01 2013


Krucils saya alhamdulillah menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Dimana lagi kita bisa melihat sejarah sebuah kota, negara atau sesuatu kalau bukan di dalam sebuah museum? Itu sebabnya dimanapun kami berkelana, kalau mereka melihat atau mengetahui ada museum di daerah tersebut pasti yang dicari duluan ya museum.

Sewaktu kami berkelana ke Penang Hill menggunakan bis Rapid Penang, kebetulan rute yang dilalui bis ini adalah museum. Jadi begitu melihat ada museum dirute yang dilalui bis ini sulung saya langsung mencatat dalam otaknya…ntar pulang ke museum itu! hehe.. Tapi berhubung ingatan bundanya sudah tererosi oleh faktor usia, agak susah juga si bunda mengingat-ingat letak museum ini. Jadilah setelah dari Fort Cornwallis kami mencari museum ini (yang seingat si bunda sih tidak jauh dari City Hall) dengan berjalan kaki, ribet soalnya kalau nyari pake bis.

Walau kakinya lecet karena gesekan kulit dengan sandal serta terik matahari yang menyengat tidak membuat sulung saya patah semangat…maju terus pantang mundur demi ke museum. Bungsu saya tak mau kalah dengan abangnya, pokoknya ke museum baru boleh pulang (pulang ke hotel maksudnya..). Hadeuh…benar-benar bocah petualang deh krucils kecil ayah bunda…

Biaya masuk hanya RM 1 untuk dewasa dan free untuk anak-anak (yippie…gratis lagi..hehe). Di depan bangunan dua tingkat ini terlihat beberapa kendaraan (mobil) kuno dipajang yang langsung membetot perhatian sulung saya. Di dalam museum sendiri dibagi perkamar yang memajang segala pernak-pernik, sejarah tentang tiga etnis besar yang mendiami pulau Pinang, yaitu Melayu, India dan China. Di lantai atas memajang segala sesuatu tentang sejarah kota, peta-peta kuno, meriam, alat-alat dan sebagainya.

Krucils kami langsung heboh di museum, pengen liat ini, liat itu. Nanya ini, nanya itu. Bahkan si bungsu minta di foto di sana-sini, pasang pose princess dengan mahkota besarnya (yang mengutip perkataan sulung saya “adek jauh-jauh keluar negeri yang dibelinya mahkota princess..” hehe). Kalau gak dipaksa kembali ke hotel, mereka betah banget nih di museum. Duuuhh…gak sia-sia banget ya kita keluyuran diterik mentari mencari museum kalau kalian happy begini.

Advertisements




Fort Cornwallis

23 01 2013


Fort Cornwallis adalah benteng pertahanan yang dibangun ketika kapten Francis Light mendarat di Penang. Letaknya di Lebuh Light, berdekatan dengan Queen Victoria Memorial Clock Tower, City Hall, dan Esplanade. Tempatnya persis di pinggir laut. Kalau jalan kaki dari hotel kami kurang lebih sih (kurang lebih loh ya, tidak presisi karena saya bukan jago taksir jarak hehe…) 700-800m.

Malam ketika hari pertama tiba, kami sempat menjelajah kesini tapi ternyata sudah tutup. Jam buka Fort Cornwallis adalah dari jam 09.00- 19.00 setiap harinya. Biaya masuknya sih murah meriah, saya lupa lagi kalau gak salah RM 2 untuk dewasa dan RM 1 untuk anak-anak.

Didalamnya ya berisi patung,bungker dan meriam-meriam. Ada mercuasuar juga tapi saya sendiri kurang tahu apakah mercusuar tersebut masih didalam benteng atau diluarnya karena kami tidak mengeksplore sampai keujungnya…panas terik euy..Yang jelas sih sulung saya betah banget nih disini, dia memang suka sama peninggalan-peninggalan bersejarah seperti ini. Hayu krucils, kita cabut…kan katanya mau ke Museum Negri Pulau Pinang..





The Owl Museum

23 01 2013


Museum burung hantu ini terletak di Penang Hill. Biaya masuk RM 10 untuk dewasa, dan free untuk anak-anak. Tapi dengan biaya segitu, menurut saya agak rugi juga masuk museum ini karena yang dipajang bukan burung hantu beneran tapi hanya patung-patung, lukisan-lukisan dan kerajinan berbentuk burung hantu saja.

Museum ini tidak besar dan tidak ada satu pun cerita, sejarah ataupun keterangan apapun tentang burung hantu sehingga tidak banyak pelajaran yang bisa diambil oleh anak-anak. Di pintu masuk masing-masing anak hanya diberi selembar kertas bergambar burung hantu untuk diwarnai di ruang yang disediakan di Museum…that’s it…itu saja. Untungnya krucils saya tetap fun disini walau mereka sempat sedikit kecewa karena ternyata harapan mereka untuk bisa melihat burung hantu asli gatot (gagal total). Kapan-kapan kita liat burung hantu di kebun binatang aja ya anak-anak 😉





Penang Hill, Bukit Bendera

23 01 2013


Sebenarnya kami tidak merencanakan menghabiskan waktu sampai dua hari di Penang karena hari terakhir kami rencanakan ke Langkawi. Berhubung krucils tidurnya nyenyak banget sampai siang, gak tega juga ngebanguninnya jadilah Langkawi dilewatkan dulu. Hal ini bisa kami lakukan karena belum memesan hotel di Langkawi sehingga bisa santai-santai di Penang jika waktu memang tidak memungkinkan ke Langkawi.

Gagalnya kami ke Langkawi membuat kami harus memikirkan alternative lain untuk mengisi hari kedua di Penang. Jika hari pertama sudah kami isi dengan ngider-ngider diseputaran George Town sampai ke Batu Feringgi, melihat pantai-pantai sekitar Batu Feringgi dan masjid terapungnya, maka hari kedua kami memutuskan ke Penang Hill, lagi-lagi demi tujuan mulia dan luhur…menyenangkan anak…hehe. Menurut resepsionis hotel, biasanya Penang Hill ramai dikunjungi orang saat weekend terutama mulai tgl 24-akhir bulan karena ada acara Thaipusam (upacara hindu) disana (dipuncak Penang Hill memang ada kuil Hindu).

Dengan membayar RM 6, menggunakan bis Rapid Penang 204 kami pun sampai di Penang Hill kala matahari bersinar teriknya…puanasnya pol deh. Lumayan juga antri di loket karcisnya, kami dikenakan paket keluarga (2 dewasa + 2 anak) yang totalnya RM 70, ini lebih hemat dibanding beli satuan seharga dewasa RM 30 dan anak-anak RM 15.

Setelah itu kami naik kereta kecil yang mendaki bukit terjal tersebut, yang kemudian membuat sulung saya bertanya-tanya…”terus kalau sudah sampai diatas kita ngapain? memangnya ada apa diatas?” …hadeuh, gak tahu ayah bundanya pengen nyenangin dia makanya bela-belain kesini, eh dianya malah penuh pertanyaan skeptis gitu *tepok jidat*…wkwkwk.

Sesampai diatas udara dingin langsung menyergap (walau kepala tetap aja kepanasan sih karena matahari masih tidak berkompromi), pemandangan Penang terhampar didepan mata. Kami bisa memandang jembatan pulau Pinang dibawah sana…tapi krucils masih belum puas. Baeklah ayo kita eksplore saja bukit ini, siapa tahu ada yang aneh yang menyenangkan hati krucils kami.

Kemudian kami berjalan terus hingga akhirnya mata saya bersirombok (halah bahasanya) dengan tulisan Owl Museum. Begitu tahu ada museum diatas bukit ini, krucils langsung antusias…semangatnya bangkit 1000% hehe…urusan museum aja langsung semangat. Memanfaatkan momentum ini, kami langsung membuat perjanjian lisan dengan mereka…oke kita masuk museum, tapi harus mau difoto loh ya…(wahahaha…maklum krucils kami paling males deh kalau disuruh foto-foto, padahal untuk dokumentasi mereka sendiri). Demi museum, mereka rela dan ikhlas disuruh ambil pose untuk difoto..hehe..

Setelah masuk Owl Museum, kami melihat-lihat sebentar kuil Hindu dipuncak bukit. Dan petualangan di Penang Hill pun diakhiri dengan minum-minum sebentar di restaurant yang terletak diatas Owl Museum. Minumannya enak-enak loh, ketika itu krucils pesan es milo, ayah pesan juice mangga dan saya tertarik pada es kacangnya. Es kacangnya paling mantap, isinya semua jenis kacang (kacang merah, kacang tanah, dan ada jagungnya juga) di campur dengan serutan-serutan mirip cincau terus dikasih ice cream diatasnya…wuih nyam nyam…es kacang ini pada akhirnya malah yang menghabiskan krucils. Tujuan utama pun tercapai…krucils kami happy…yippie…





Kapitan Kling Mosque

22 01 2013


Dalam trip advisor dan peta pulau Pinang, salah satu tempat yang ditandai sebagai tempat menarik adalah Kapitan Kling Mosque ini yang terletak di Lebuh Pitt, dekat banget dari hotel kami. Mesjid ini adalah mesjid tertua di pulau Pinang yang dibangun oleh warga india abad ke 18 yang diketuai oleh Coudeer Mohudeen atau yang dikenal sebagai Kapitan Kling. Bangunan yang ada sekarang dibangun tahun 1918 menggantikan bangunan lama.

Bagi saya pribadi mesjid ini mirip mesjid-mesjid pada umumnya, bangunannya tidak seunik bangunan salah satu mesjid kecil di daerah little india di George Town yang bernama Nagore Dargra Sherief. Mungkin karena usianya lebih tua dibanding mesjid lainnya sehingga mesjid Kapitan Kling ini dimasukkan dalam daftar wisata di George Town sehingga tidak heran jika mesjid ini ramai dikunjungi oleh turis-turis yang hanya melihat-lihat maupun yang berfoto-foto di depan mesjid. Oia, kami sempat mendapat rekomendasi nasi kandar enak dari supir bis Rapid Penang, yang katanya sih berada disamping mesjid Kapitan Kling ini kalau malam. Tempat makannya kecil dan ramai, rasanya lumayan…hehe..

Saran saya jika anda hendak melihat-lihat mesjid ini sebaiknya dilakukan malam hari, selain tidak terkena panas terik matahari, lampu-lampu mesjid juga menambah indah suasana, dan bisa makan nasi kandar yang buka malam hari disamping mesjid ini.





Mengencangkan Otot Betis di George Town

22 01 2013


George Town adalah ibukota Penang di pulau Pinang Malaysia dimana banyak sekali terdapat bangunan tua. Banyaknya bangunan tua di George Town menjadikan kota ini sebagai UNESCO World Herritage Site City, situs warisan dunia..wow. Kesadaran masyarakat dan pemerintahnya untuk menjaga bangunan tua terlihat dari terawatnya bangunan-bangunan yang ada, dan banyaknya tulisan-tulisan bertuliskan jejak warisan Penang di site-site bersejarahnya.

Hotel kami selama di Penang berada di lebuh Ah Que yang terletak persis dilorong yang menghubungkan dengan lebuh Chulia, tempat turis-turis berseliweran dimana-mana di George Town, tidak jauh dari little india. Saya suka disini, mau kemana-mana dekat tinggal jalan kaki. Hotel kami cuma berjarak 300m dari Kapitan Kling Mosque. Ke Fort Cornwallis, Jubilee Clock Tower, Sri Mahariaman Temple, Pelabuhan ferry dan tempat-tempat lainnya juga dekat tinggal jalan kaki. Bahkan ketika pulang kami cuma berjalan kaki menuju ferry penyeberangan ke Butterworth.

Makanan juga banyak dan murah walau yang bertebaran dekat hotel sih makanan india karena ya dekat little india. Krucils saya, terutama si sulung senang banget nih kalau diajak jalan kaki mencari-cari museum sambil mempelajari peta pulau Pinang yang didapatnya dari hotel…sudah mirip turis banget deh, jalan kaki, bawa peta kemana-mana, celana pendek, pake topi, foto ini itu (malahan foto yang diambilnya lebih artistik daripada foto yang diambil ayahnya)…ckckck…mulai terlihat calon penerus ransel nih…hehehe. Cuma si bungsu yang masih keliatan bayinya (bayi besar ayah bunda), terkadang tiba-tiba bilang kaki adek sakit bunda, ditanya kenapa jawabannya gak tahu..tiba-tiba aja, atau sakit perut, dan alasan-alasan lainnya untuk minta gendong ama ayahnya hehe..*cape deh sambil ngelap keringat*…tapi belakangan si bungsu gak pernah minta gendong lagi, jalan kaki sendiri kemana-mana gak mau kalah dari abangnya…hebat deh anak-anak bunda.

George Town sendiri bagi kami sangat menarik karena bangunan-bangunan tua bernuansa Inggris dan Belanda banyak bertebaran dan tampak terpelihara. Kami senang mengeksplore kota saat malam ketika udara tidak terasa panas lagi seperti dikala siang. Kalau sudah jalan-jalan santai melihat-lihat, mengeksplore kota, krucils jadi heboh banget bergaya ala reporter yang sedang menerangkan tentang sudut-sudut kota di depan kamera ayah…hehe…senang banget punya krucils yang bisa diajak backpackeran, malah terkadang ayah bundanya sudah loyo mereka masih semangat untuk jalan..*hadeuh pengen deh punya baterai seperti krucils, energynya full terus gak pernah lowbat* 🙂