Jembatan Kahayan, Palangkaraya

15 01 2019

Sekitar tahun 2016 lalu, kami pernah ke Palangkaraya dan jalan-jalan ke tugu Soekarno di area dekat jembatan Kahayan. Kala itu taman yang ada disitu ya taman yang berada di depan kantor DPRD Palangkaraya, yaitu taman yang berisi tugu Soekarno dan sepi ketika kami kesana saat itu. Kalau mau foto jembatan Kahayan, ya di restoran yang berada di taman tersebut.

Dua tahun berlalu, sekarang sudah ada taman kece yang berada lebih dekat dengan jembatan Kahayan. Di taman ini ada mesjid terapungnya juga, hmmm…sebenarnya gak terapung sih cuma letaknya dipinggir sungai dan mengingatkan saya pada mesjid terapungnya Makassar…serupa tapi tak sama. Taman baru ini letaknya bersebelahan dengan taman tugu Soekarno. Menurut saya nice idea nih menjadikan area sekitar jembatan untuk dijadikan taman, menjadikan atraksi menarik bagi turis / pengunjung agar bisa berfoto dengan landmark sebuah kota. Sehingga tidaklah mengherankan kalau taman ini ramai dengan pengunjung, berbeda kondisinya dengan taman tugu Soekarno yang lebih sepi.

Untuk mengunjungi tempat ini tidak susah kok, cari aja jalan yang berada di tepi sungai dekat jembatan Kahayan atau bisa menggunakan aplikasi GPS. Tidak ada pungutan untuk masuk ke taman ini, palingan ditagih biaya parkir. Di sini krucils antusias banget, mereka sibuk mengambil foto. Bukti bahwa mengajak anak tidak perlu berbiaya besar, cukup mendatangi tempat-tempat umum berbiaya hemat …anak happy, orang tua senang, dan emak pun bahagia 😀





Museum Balanga, Palangkaraya

15 01 2019

Allrait gaes, mari kita cerita tentang petualangan akhir tahun krucils bersama kai (kakek; bahasa banjar-kalsel).

Akhir tahun 2018 sebenarnya kami punya berbagai plan, pilihannya keliling Sulawesi, keliling Kalimantan minimal ke Tanjung Puting atau menyusul ayah yang sedang gawe di pulau Jawa untuk kemudian sama-sama jalan setelahnya….tapi kemudian seperti biasa, si ayah gak dapat cuti…hiks hiks…melipir ke pojokan ngupas bawang biar ada alasan ngelap mata. Tapi kan tingkat kepedean si bunda sedang diambang batas maksimal sejak sukses keliling Sumatera hanya bertiga bareng krucils, jadi kami memutuskan no problemo kalau ayah gak bisa cuti…kan kami bisa melipir bertigaan keliling Sulawesi karena krucils pengen melihat Wakotobi atau Togean.

Saat ijin kepada kedua ortu saya, kakek nenek krucils seperti biasa…langsung memberi berbagai alasan yang intinya sih sama, tidak mengijinkan kami berpetualang bertigaan aja keliling Sulawesi. Kemudian papa (kai krucils) yang langsung mengajak kami menemanin beliau menengok rumah nenek saya (datuknya krucils) yang kosong di Kalsel. Hmmm, setelah bersemedi beberapa hari akhirnya saya setuju dengan pertimbangan kasihan papa sendirian di rumah karena ibu sedang ada acara di Bogor, sekalian nemenin papa mengenang masa kecilnya di kampung halamannya yaitu rumah datuk di Kalsel. Baiklah kai, mari kita berpetualang bareng….

Sebelum ibu pergi ke Bogor, kami diceramahi uci (panggilang krucils, untuk ibu saya) tentang jangan ajak kai jalan jauh-jauh, jangan begini, jangan begitu….baiklah ci, dont worry. Jadilah tujuan awal hanya nemenin kai nengok rumah masa kecilnya di Tanjung, Kalsel, paling jauh paling ke Banjarmasin. Dan karena jalan sama kai yang sudah sepuh, harus menyesuaikan sikon. Kalau capek berhenti, berangkat juga harus pagi-pagi biar gak kemalaman. Btw, kai loh yang nyetir sepanjang perjalanan, hebat kan. Singkat cerita, kami berhasil mempengaruhi kai agar terus ke Palangkaraya…dan kami sampai juga di Palangkaraya tanggal 27 Desember 2018 sore.

Keesokan paginya, setelah sarapan di hotel yang kenyang banget karena makanannya walau sederhana lumayan enak, kami singgah dulu di Museum yang letaknya tidak jauh dari hotel. Begitu tiba di Museum sekitar jam 8-an pagi, kami ke loket tiket masuk. Sekitar 2 tahun lalu kami pernah juga ke museum ini, namun sayangnya sedang tutup sehingga hanya berfoto-foto diluar. Beruntungnya kali ini museum buka walau masih sepi karena masih pagi, bahkan petugas museum belum datang semua. Saya lupa lagi harga tiketnya, kalau tidak salah hanya 2500/orang, sayangnya tiket masuknya sedang habis jadi tidak dapat tiket awalnya, namun karena krucils hobi ngumpulin tiket masuk saya memaksa meminta tiket masuk untuk kategori pelajar SMA aja untuk diberikan kepada krucils sebagai kenang-kenangan…haha.

Bangunan museumnya sih penampakannya lumayan besar tapi ternyata kecil saya. Ada 2 ruang, yaitu ruang Ethnographi dan Tjilik Riwut. Di ruang Ethnographi lantai dasar ini umumnya memajang belanga , yaitu guci-guci antik…lantai duanya berisi rumah adat, dan perlengkapan yang biasa digunakan masyarakat seperti topeng, jala, dsb. Sedang di ruang Tjilik Riwut memuat tentang Tjilik Riwut, salah satu pahlawan nasional dari Palangkaraya. Seru, krucils antusias seperti biasa, dan kami bertemu pengunjung lain yang berasal satu kota dengan kami sehingga saling bertukar informasi mengenai jalan karena mereka datang dari arah Banjarmasin dan kami datang dari arah Buntok.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mengunjungi museum, sayangnya generasi sekarang sedikit sekali yang berminat mengunjungi museum, demikian salah satu keluhan dari petugas museum. Jika hendak mempelajari sebuah kota, kenalilah budaya dan masyarakatnya, dan itu bisa dilihat di museum. Jadi gaess…mari cintai museum, ramaikan museum, dan tumbuhkanlah cinta budaya sendiri.





Tugu Soekarno

9 05 2016

20160509-042638.jpg

Tugu ini bernama Tugu Kota Palangkaraya atau lebih dikenal sebagai Tugu Soekarno karena disinilah dilakukan pemancangan tiang pertama kota Palangkaraya oleh Presiden Soekarno, 17 Juli 1957. Di taman ini terdapat patung Soekarno dan beberapa diorama.

Berhubung sulung saya suka sekali sama Soekarno, dia langsung minta di foto bersama patung Soekarno. Tuh anak paling susah di foto, tapi kalau sesuatu yang disuka gak perlu disuruh…malah minta di foto dalam berbagai pose…hehe. Nah, kami di sini lamanya ya bikin foto paling oke untuk sulung kami haha. Di area ini juga terdapat Tugu Cafe yang posisinya tepat menghadap Jembatan Kahayan. Sayangnya ketika kami disana cafe nya sedang tutup, namun kami bisa numpang foto-foto saja…haha *narsis to the max* :p





Danau Tahai

9 05 2016

20160509-013026.jpg

Danau Tahai ini masih berada di kawasan yang sama dengan Arboretum, yaitu di Jl.Tjilik Riwut Km 28. Tidak ada pungutan apa-apa untuk masuk ke Danau Tahai ini kecuali di gerbang yang sebelumnya saya ceritakan. Danau ini berisi dengan pondok-pondok yang rupanya dijadikan tempat piknik keluarga, umumnya pengunjung membawa serta keluarga besarnya dan perbekalan (makanan dan minuman) sendiri dari rumah.

Selain pondok-pondok tersebut, terdapat juga perahu bebek-bebekan yang disewakan. Bentuk wisatanya lebih pada menikmati danau sambil makan bareng bersama keluarga. Menurut saya tempatnya bagus untuk menikmati alam, sayangnya ada banyak anjing yang berkeliaran sambil menebar kotoran sehingga kesannya kurang bersih. Selebihnya saya suka…saya suka …*ipin upin mode on*





Arboretum Nyaru Menteng

9 05 2016

20160509-104031.jpg

Sudah lama sekali saya pengen ngajak krucil ke BOS (Borneo Orangutan Survival) Samboja, tapi karena informasi tentang BOS Samboja sedikit sekali dan juga tempatnya yang konon susah dijangkau, menyebabkan sampai sekarang belum bisa mewujudkan impian tersebut. Itu sebabnya begitu dapat informasi kalau ada BOS di Nyaru Menteng yang terbuka untuk umum, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada…tanpa pikir panjang let’s go…

Nama tempat ini Arboretum Nyaru Menteng, letaknya di Jl. Tjilik Riwut Km 28, sekitar 1 jam-an dari pusat kota (tergantung kecepatan). Kami mengandalkan GPS mbah Google mencari tempat ini, yang lucunya dari bundaran besar disuruh belok kiri mulu…turn left, turn left…sampai muter-muter setengah jam masih turn left mulu…hahaha. Akhirnya bertanya sama penduduk setempat, baru top markotop.

Begitu nemu gerbang masuk bertuliskan objek wisata Nyaru Menteng, gak jauh ada gerbang lagi yang dijaga anak-anak kecil dan beberapa orang yang lebih tua. Katanya biaya masuk Rp 10.000,- tapi tanpa ada tiket sama sekali. Letak Arboretum ini tidak jauh dari gerbang kedua tersebut belok kanan, jalan kecil…nah disini ada gerbang lagi untuk memasuki kawasan Arboretumnya, eh ada anak kecil lagi yang menjaga gerbang ini ditambah seorang bapak-bapak yang duduk tersembunyi mengawasi anak kecil tersebut. Mobil kami diberhentikan, katanya biaya parkir Rp 10.000,- om. Loh, tadi sudah bayar di depan dek, kata kami. Oh itu beda lagi om, katanya lagi…baiklah bayar lagi.

Setelah parkir, masuk dalam Arboretum, terlihat dua orang petugas sedang duduk-duduk…bertanyalah saya, “berapa tiket masuknya pak?”. Petugas tersebut menjawab, “gak bayar bu…gratis kok. Disini kami tidak menarik pungutan apa-apa karena tujuannya mengedukasi orang-orang tentang pentingnya menjaga alam dan orangutan. Jadi kalau tadi ada pungutan-pungutan, itu bukan dari kami…” Oalah…begitu…

Di dalam kawasan ini memang tujuannya untuk edukasi, begitu masuk ada film tentang orangutan bernama Rimba yang ibunya dibunuh manusia dan anaknya diperjualbelikan. Krucil kami betah banget menonton film tersebut, sebelum habis tidak mau beranjak dari situ. Sepanjang jalan setelah itu mereka bercerita penuh semangat kepada kami tentang isi film tersebut. Selain itu di bagian belakang terdapat dinding kaca yang dari kaca tersebut kita bisa melihat kandang-kandang orangutan yang sedang direhabilitasi. Pengunjung sama sekali tidak boleh mendekati kandang tersebut, hanya petugas yang boleh masuk ke kandang-kandang tersebut. Oh ya, disini juga menerima donasi untuk orangutan…jadi kalau ke Arobretum ini jangan lupa donasi ya.





Museum Balanga

9 05 2016

20160509-093640.jpg

Museum Balanga ini letaknya di Jl. Tjilik Riwut Km 2,5, tidak begitu jauh dari pusat kota. Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena tutup. Menurut info yang di dapat di internet museum ini buka setiap hari kecuali hari minggu, buka jam 07.00-14.00 setiap harinya kecuali Jumat hanya sampai 10.30.

Berbekal informasi tersebut, kami pun menuju museum ini sekitar jam 08.15 eh tidak ada terlihat satu orang pun walau gerbang museum dalam kondisi terbuka. Cari-cari loket tiket juga tidak terlihat, akhirnya kami foto-foto diluarnya saja…yang penting sudah pernah datang…hahaha 😀





Taman Wisata Kum-Kum

9 05 2016

20160509-082426.jpg

Taman wisata Kum-Kum ini kami temukan tidak sengaja, ketika jalan menuju kota Palangkaraya setelah melalui jalan Trans Kalimantan, terlihatlah oleh kami tulisan objek wisata Kum-Kum. Letaknya di Jl. Pahandut Seberang, tidak begitu jauh dari Jembatan Kahayan. Lalu mampirlah kami, selain penasaran juga hitung-hitung sambil istirahat. Biaya masuknya saya lupa lagi, cuma yang paling saya ingat adalah kami parkir mobil sendiri di parkiran, begitu mau masuk gerbang eh ditahan sama tukang parkir dan langsung ditagih uang Rp 5.000…sambil dengan santai bilang bayar parkir di depan…beuuuhhh, yang nambah bete lagi keluar parkir pun gak diurusin sama tukang parkirnya…sungguh terlalu.

Di Kum-kum ini tersedia pondok-pondok berupa rumah panggung yang disewakan dan bisa membeli makanan juga. Selain itu terdapat arena permainan anak, dan beberapa hewan yang dikandang seperti ; beruang madu, monyet, buaya, burung enggang, dsb. Dikarenakan letaknya yang ditepi sungai Kahayan, ketika kami datang sebagian tanahnya terendam air. Oh ya, disini juga disewakan kano-kano dan perahu untuk susur sungai. Sulung saya mengajak kami susur sungai cuma karena ayah bundanya sedang malas plus setelah dilihat-lihat tidak tersedia life vest sedangkan kami tidak bisa berenang, gak jadi deh susur sungainya.

Krucil kami senang banget melihat-lihat hewan yang ada. Malahan sulung saya lama duduk nungguin beruang madu makan di depan kandangnya…lucu beruangnya katanya…hehe. Kemudian karena tidak ada yang berminat makan disitu, kami pun beranjak dari Kum-Kum. Markihot… mari kita cari hotel.