Kuala Lumpur – Yangon – Bagan – Singapore – Johor Bahru

22 03 2016

Seperti biasa, awal tahun kami awali dengan berpetualang dan seperti biasa pula selalu diawali dengan kepala mumet dengan berbagai hal menjelang berpetualang. Kebiasaan kami menjelang berpetualang adalah berdiskusi, mau kemana kita tahun ini ? Pertanyaan sederhana tapi bikin mumet, akhirnya pilihan jatuh ke Myanmar. Kenapa Myanmar ? Jawaban pastinya sih pengen aja, jawaban rada ilmiahnya…ya pengen aja…haha. Beberapa kenalan dan bahkan ortu saya bertanya, ada apa sih disana? Memangnya bagus? Hmmm…ada apa ya disana, laa belum tahu juga… kan belum kesana. Terus bagus gak ya, ya belum tahu juga kan belum liat…hehe. Bagi kami segala sesuatu itu relatif, selera aja. Nah kebetulan kami lebih suka memilih alternatif lain dengan perspektif yang berbeda dari kebanyakan orang πŸ™‚

Setelah ok masalah tujuan, beli tiket, booking hotel, siapkan backpack…dan berangkat. Eits belum, seperti biasa lagi nih rutinitas menjelang berpetualang adalah krucil sakit. Sulung kami demam semingguan…bolak balik ke dokter alhamdulillah akhirnya sembuh, giliran bungsu batuk, lalu balik lagi sulung batuk lalu giliran ayah….aaahhh pusing. Ditambah lagi ayah disuruh job padahal satu hari menjelang hari H…aahhhh tambah pusing. Saat ijin ke sekolah untuk meliburkan krucil, eh baru dapat info kalau minggu depan UTS…what?! Kan kalender akademiknya aman-aman aja tanggal segitu…ahhh pusing pangkat tiga. Seakan belum cukup, giliran si bunda bisulan…eh bisulnya parah pula sampai susah jalan dan duduk…hahaha…parah banget deh kemumetan menjelang berpetualang, gak elit pula si bunda pakai acara kena bisul wkwkwkwk….

# Menuju KLIA2, Kuala Lumpur (Malaysia), 2 Maret 2016 #

20160322-113111.jpg

Alhamdulillah, semua masalah clear sehari sebelum berangkat. Semua sehat, siap berpetualang. Sip, markimon (mari kita kemon). Dari rumah naik taxi ke bandara. Taxi bandara sekarang mahal…70rb padahal jaraknya seuprit TT

Kami naik pesawat 11.50 dan tiba di Kuala Lumpur sekitar 14.30. Seperti biasa hotel kesukaan kami kalau transit di KL adalah Tune Hotel yang masih dilingkungan bandara, supaya memudahkan kami keesokan harinya. Sehari sebelum berangkat kami coba booking hotel di agoda, ternyata penuh…ah jadi pusing lagi deh. Untung pas buka website Tune, masih ada kamar kosong. Kelebihan nginap di hotel area bandara adalah setelah landing kami bisa santai-santai dulu di bandara, makan dulu. Setelah perut kenyang, hati senang, langkah pun terasa ringan.

Jalan kaki ke hotel, check in…duh tuh lobby penuh orang. Penuh dengan rombongan-rombongan, ada rombongan travel orang Indonesia yang mau ke Europe, ada juga rombongan satu pesawat dari China. Pantesan waktu booking di website kehabisan kamar. Sekarang saatnya istirahat…eh gak bisa istirahat juga, krucil bolak balik ngajak ke seven eleven untuk beli komik upin ipin dan beli cemilan.

# Menuju Yangon (Myanmar), 3 Maret 2016 #

20160322-114540.jpg

Subuh-subuh saya dan ayah bangunin krucil. Pesawat kami ke Yangon jam 06.55, boarding sekitar 06.15, belum lagi urusan imigrasi …akhirnya sekitar jam 05.00 subuh, kami keluar hotel menuju bandara…hiii masih dingin. Jam 5 subuh waktu Kuala Lumpur (KL) itu sama dengan jam 4 subuh waktu Jakarta, sebenarnya KL dan Jakarta satu waktu, cuma KL menyamakan jam dengan Sabah di Kalimantan. Jadi ketika jam menunjukan 5 subuh waktu KL sebenarnya masih jam 4 subuh.

Krucil begitu bangun cuma ganti celana dan cuci muka, untung mereka sudah terbiasa dengan jadwal petualangan yang tidak biasa…hehe. Kelar urusan imigrasi, masuk ke gate….nah baru deh disini nunggu waktu azan subuh, karena perbedaan waktu yang membingungkan itulah alasan kenapa waktu sholat subuh di KL sekitar jam 6 pagi. Kalau berpetualang ke negara Asia lain biasanya setidaknya ruang tunggu terisi minimal 30%nya dengan turis, laa ruang tunggu tujuan Yangon ini cuma segelintir aja turisnya. Kami berempat, sepasang bule sepuh, dan seorang bule…sisanya ya orang Myanmar.

Lama perjalanan sekitar 3 jam dengan perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dan Yangon sekitar 1,5 jam. Pesawat tujuan Yangon ini penuh banget, sehingga ketika kami beli tiket gak bisa milih-milih tempat duduk yang satu deret, akibatnya tempat duduk kami terpencar-pencar…krucil 7A dan 7B, saya 7D, ayah 21F. Begitu masuk pesawat, saya duduk dulu di kursi sebelah krucil, kemudian datang seorang pria Myanmar menunjuk kursinya. Saya minta tukar karena ada krucil, dia pun setuju…duh leganya.

Oh ya, saya sempat baca blog traveler yang pernah ke Yangon tentang penumpang memainkan HP di pesawat, saya kira itu cuma cerita lucu-lucuan aja…eh ternyata kami alami sendiri. Di ruang tunggu bandara tujuan Yangon saya memperhatikan hampir 80% calon penumpang memainkan HP, Hpnya kebanyakan keluaran terbaru. Nah begitu naik pesawat saya berharap penumpang yang main HP di ruang tunggu tersebut mematikan HPnya, tapi ternyata mereka masih aja asik main HP, ada yang masih telp-telpan sambil cekikikan, ada yang dengarin musik, ada yang main game, ada juga yang asik ngecek sms.

Tabahkan hati, semoga begitu mau take off tuh HP dimatikan, minimal airplane mode, disimpan dalam tas. Bujubune, itu sampai mau take off, pesawat sudah run di landasan masih asik main HP walau pramugari sudah ngingatin…arrrghhh saya jadi stress sendiri ngeliatnya. Bahkan pria baik hati yang bertukar kursi dengan saya masih main HP, akhirnya saya panggil si masnya, matiin dong HPnya…eh dia malah ketawa ngeliat tampang saya panik sendiri. Akhirnya HPnya dimasukan dalam tas …hufft bernafas lega kirain HPnya sudah dimatiin, eh ternyata sesaat kemudian masih bunyi-bunyi telp….aarrrggghhh. Itu gak cuma satu, hampir kebanyakan begitu…*pusing pala berbie*..

Begitu tiba di Yangon, kesan saya…bandaranya kecil. Kayaknya kecil, turun pesawat, jalan dikit langsung imigrasi…kemudian gak jauh imigrasi sudah pintu keluar. Penampakannya sih kecil, tapi kayaknya besar karena kalau diliat dari luar sih besar…haha, tahu deh mana yang benar. Sebelum keluar kami nukar uang dulu di Money Changernya…tuh money changer gak mau nerima Dollar kusut. Kalau nukar uang, Dollarnya diliat-liat lecek apa gak, kelipat apa gak…haha.. Ada salah satu Dollar kami yang kelipat dikiiit aja ujungnya, eh gak diterima. Untungnya ada money changer lain yang akhirnya mau nerima tapi harganya berkurang. Di pintu keluar ramai banget dengan orang-orang dan bising.

Kami tidak langsung menuju hotel, di bandara kami nyari kios bis tujuan Bagan. Nanya ke informasi, eh dia bilang bis ke Bagan tuh beli tiketnya di terminal, padahal info dari internet sih ada kiosnya di bandara. Akhirnya nyari-nyari sendirilah kami…eh nemu, nama bisnya JJ. Bis VIP tujuan Bagan dengan harga $22 / orang. Beli untuk 4 orang, eh ternyata gak bisa pesan tempat duduk berdekatan karena hampir penuh. Jadilah saya dan bungsu di deret 3, ayah dan sulung di deret 8, paling belakang. Sip, urusan ke Bagan sudah beres…sekarang tinggal ke hotel. Kemudian kami ke stand taxi bandara, tunjukin alamat hotel…dia bilang tarifnya 10.000 Kyats ke hotel kami berada. begitu hendak bayar eh dikasih tahu kalau bayarnya nanti aja langsung ke supir…lucu juga ya.

Lama perjalanan dari bandara ke downtown (letak hotel kami) itu sekitar 2 jam, macet parah. Begitu sampai hotel, supir menunjukkan hotel kami….ditengah-tengah hiruk pikuk kota, tersembul kecil dan keliatan lusuh…”hah?! Yang bener nih bunda? Gak salah pilih nih?” tanya si ayah dan krucil. Melihat penampakan luarnya terus terang saya kaget juga, tapi saya menutupi dengan suara sok riang gembira dan penuh percaya diri “tenang, dalamnya bagus kok. Jangan khawatir (padahal saya sendiri khawatir…haha)”. Masuklah kami menaiki anak tangga, masuk lobby yang sempit yang penuh dengan ransel-ransel besar dan bule-bule yang asik browsing, sebagian yang lain tidur-tiduran di sofa…waduh, tambah khawatir…reputasi si bunda dimata krucil sebagai pencari hotel terbaik dipertaruhkan. Belum lagi ketika check in ternyata belum boleh masuk kamar karena waktu check in jam 14.00 padahal ketika itu masih jam 11-an.

Setelah pendekatan dari hati ke hati dengan resepsionis, akhirnya boleh juga masuk cepat…yess. Begitu masuk kamar…lumayan banget dong. Si ayah sebelum berangkat memulai petualangan kali ini selalu mewanti-wanti krucil, di Myanmar itu gak ada AC loh, gak ada TV, hotelnya ala kadarnya, gak ada internet, dsb karena negaranya baru terbuka untuk dunia luar… membuat kami memang tidak berekspektasi neko-neko. Jadilah begitu nemu kamar bersih, rapi, ada TV, berAc, free wifi, air mineral botolan di kulkas lobby yang gratis ambil sesuka hati, dan kamar mandi berair panas tuh sesuatu banget. Hal ini semakin mengokohkan reputasi si bunda sebagai pencari hotel terbaik di mata krucil…hehe *lebay mode on*.

Setelah istirahat sebentar, kami menyempatkan ke Bogyoke Market sebelum melanjutkan perjalanan ke Bagan sore harinya. Di Bogyoke hanya sempat beli beberapa cenderamata, cerita selengkapnya baca postingan sebelumnya.

# Menuju Bagan (Myanmar), 3 Maret 2016 #

20160322-115011.jpg

Siang harinya ketika kami sedang di Bogyoke, mendadak bungsu saya demam. Badannya panas, mukanya memerah, menggigil, dan menangis karena pusing. Ayah yang dari rumah sudah berniat berburu batu di Myanmar, ketika itu sedang sibuk nyari-nyari batu yang memang banyak banget di Bogyoke. Melihat bungsu kami demam, langsung tidak jadi mencari batu dan langsung mengajak kami balik hotel. Diajak balik ke hotel, sulung saya yang giliran manyun, dia belum sempat nyari gantungan kunci dan kartu pos (sulung saya memang koleksi gantungan kunci dan kartu pos berbagai negara). Kami memutuskan memencar, ayah yang paling kuat bertugas menggendong bungsu balik ke hotel, sedang bunda menemani sulung berburu barang koleksinya.

Setelah dapat, langsung balik hotel melihat bungsu sedang tidur berselmut. Demamnya mulai turun karena sudah minum obat penurun demam. Untung dari rumah kami sudah persiapan bawa obat-obatan untuk krucil, termasuk obat demam ini. Kami berembuk apakah stay di Yangon atau tetap melanjutkan rencana sebelumnya, ke Bagan sore itu. Kami putuskan untuk melihat kondisi bungsu menjelang berangkat nanti, kalau masih demam kami tetap stay di Yangon. Alhamdulillah menjelang waktu keberangkatan, bungsu saya semakin membaik…malah mulai main loncat-loncatan lagi di kamar hotel.

Sebenarnya jadwal keberangkatan bis ke Bagan sekitar jam 19.00 malam, tapi bis ini letaknya di terminal bis Aung Mingalar yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Ketika beli tiket bis ini, kami sudah diwanti-wanti agar berangkat dari hotel di pusat kota (downtown) paling lambat jam 17.00 karena macet parah sehingga biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam. Itu sebabnya sekitar jam 17.00 kami sudah check out dari hotel, naik taxi dengan tarif 8.000 Kyats (lebih murah karena dibantu pihak hotel mencarikan taxi dan nego) ke terminal bis ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan, kebanyakan taxi di Yangon tidak menggunakan ac…eh ac sih tapi ac = angin cepoi-cepoi …hehe. Banyangin aja deh gimana serunya naik taxi selama 2 jam tanpa ac di tengah kemacetan parah sambil bentar-bentar melihat supir taxi meludahkan sirih merah-merah di pintu, belum lagi kalau sebelahan dengan bis umum, penumpang bis meludahkan sirih pula ke arah kamu…seru kan? Rasanya mantap, sesuatu banget…haha… itulah yang dinamakan art of traveling πŸ˜€

Di taxi ini bungsu saya sampai muntah-muntah, anak saya yang satu ini memang sensitif sama sesuatu yang bau-bau dan gak nyaman. Setiap berpetualang, kami memang biasanya menyimpan kantong muntah pesawat untuk jaga-jaga kalau bungsu kami muntah, diantara sekian banyak petualangan baru kali ini kepake kantong muntah itu. Eh baru tahu kalau kantong muntah itu kalau muntahnya banyak bisa bocor. Arrghhh , sambil megang kantong muntah yang hampir bocor ditengah kemacetan Yangon dan panas yang menyengat, plastik-plastik tempat makanan terlanjur ditaruh di bagasi belakang mobil. Akhirnya ubek-ubek, nemu kresek besar tempat KFC yang dibeli dekat hotel…bongkar dulu deh. Begitu lalu lintas agak lumayan, baru taxi bisa menepi sebentar, supir taxinya langsung turun beliin kantong kresek. Sedang saya ngebongkar tas dibagasi, nyari baju ganti untuk bungsu.

Ketika sampai di terminal bis…terminalnya gede banget. Dan bisnya tersebar-sebar, jadi ada terminal A, B, C, D, dsb yang letaknya lumayan juga kalau jalan kaki. Nah bis-bis ini berkantor di terminal-terminal itu, tergantung jenis bis nya. Nyari terminal bis JJ itu sampai muter-muter, bolak balik. Akhirnya nemu juga tulisan JJ, begitu taxi berhenti depan kantor JJ ini langsung muncul orang yang nanya JJ? Iya, buru-buru dia ngangkatin tas kami.. kirain porter ternyata itu bagian dari servicenya bis ini. Dimasukkan ke dalam ruang tunggu, di data pasportnya, kemudian nunggu deh. Sembari nunggu, ada perempuan berpakaian ala pramugari yang mondar-mandir nawarin kopi panas gratis. Kebanyakan calon penumpang adalah turis berbagai bangsa.

Tidak lama menunggu, bisnya nongol deh. Bis besar yang hanya berisi sekitar 20an tempat duduk, jadi luas banget tuh posisi tempat duduknya. Ini bis termewah selama petualangan kami, tempat duduknya mirip tempat duduk VIP pesawat, ada tempat kaki, ada TV tiap tempat duduk, AC super dingin, minuman, cemilan, selimut, tempatnya super lega dan bersih. Lama perjalanan 8-9 jam (lupa lagi), karena tidak ada toilet dalam bis menyebabkan bis sering berhenti rest area. Selama perjalanan krucil tidur nyenyak, hanya saat awal-awal masuk bis aja mereka bolak balik depan belakang, depan lagi belakang lagi (tempat duduk saya dan bungsu deret tiga sedang ayah dan sulung deret delapan, kedua dari paling belakang), sibuk ngutak ngatik ini itu.

Sekitar jam 4 atau 5 subuh, akhirnya bis berhenti. Saking seringnya bis berhenti di rest area, saya yang waktu itu kebangun jadi ngedumel dalam hati…kok berhenti-berhenti mulu nih, kapan sampainya kalau begini. Eh ternyata pramugari (ya semacam pramugari gitu deh), ngebangunin semua penumpang satu persatu…ditepuk-tepuk tangannya sambil bilang Bagan. Oh sudah sampai rupanya…hehe. Turun bis dalam kondisi ngantuk dan ngelindur (tidak plus iler tentunya), kami diserbu supir-supir taxi. Walau di cuekin, ada supir taxi bertato yang malah mepetin saya….argggh langsung saya tarik krucil ke kantor bis JJ.

Setelah ayah selesai ambil bagasi, barulah ayah nego-nego dengan seorang supir taxi. Dia minta 10.000 Kyats dan akan diantar ke sebuah Pagoda untuk melihat sunrise. Saya langsung tidak setuju, sedang ngantuk gini, capek pula walau sebagus-bagusnya bis tetap aja pegel, masa langsung berkelana. Ogah ah, nyari hotel dulu aja. Kemudian diantarlah kami mencari hotel, setelah sebelumnya diantar ke sebuah pos penjagaan untuk memasuki Bagan. Memasuki kota Bagan ini semua pengunjung diwajibkan membayar 25.000 Kyats / orang. Kami cukup bayar 50.000 Kyats …krucil gratis.

Hotel kami berada di daerah bernama Nyang U, dekat dengan letak Pagoda-Pagoda tersebut. Masuk subuh kena charge dengan hitungan 1,5 hari…haha…meuni kieutu pisan yah. Bayarannya dalam bentuk dollar…haha lagi aja deh. Di Bagan kami hanya sehari, tujuan ke Bagan kan cuma pengen melihat situsnya, jadi ya kami cuma ke situs pagoda tersebut. Untuk cerita tentang pengelanaan kami di Bagan, lihat postingan sebelumnya. Esok paginya kami sudah dijemput oleh pihak bis ke terminal, untuk balik ke Yangon. Sebenarnya banyak kota yang ingin kami kunjungi di Myanmar, namun mengingat kondisi krucil terutama bungsu saya yang sempat demam sehari sebelumnya, kami batalkan petualangan ke Mandalay dan Inle Lake dari plan…lain kali aja deh,kalau kondisi krucil fit.

# Menuju Yangon (Myanmar) Kembali, 5 Maret 2016 #

20160322-115410.jpg

Keesokan harinya, sekitar jam 7 atau 8 pagi kami dijemput semacam tuktuk ke hotel. Sebelumnya pihak hotel telp ke kamar kami, kami disuruh cepat-cepat ke lantai atas untuk sarapan karena sebentar lagi mau dijemput…haha baru kali ini nemu hotel yang perhatian layaknya seorang ibu. Di tuktuk sudah berisi dua orang bule, begitu naik tuktuk kami dilepas resepsionis yang lambai-lambai tangan di depan hotel. Seru kan, petualangan memang memberi kita banyak manfaat, melihat berbagai hal dan bertemu orang-orang baru. Konon katanya sih one’s destination is never a place, but a new way of seeing things…ceile…*hasil copas di group backpacker*…hehe

Tiba di terminal, bis nya belum ada. Kami naik bis Elite untuk perjalanan balik ke Yangon karena tiket bis JJ sudah habis terjual. Bis Elite nih katanya sih kedua terbaik setelah JJ, harganya lebih murah yaitu sekitar $15 / orang. Kami pesan tiket bis ini di hotel. Begitu sampai terminal urus-urus tiket dan bagasi…kemudian berkelana cari teh hangat karena saya masuk angin. Nyari teh ini susah juga, waktu ke warung depan kantor bis nanya ada tea? eh dia bingung, baiklah…melipir ke warung sebelahnya. Tanya lagi, ada teh? eh malah dikasih piring suruh ambil makanan sendiri…akhirnya peragain pantomim minum…glek glek, sambil nunjuk-nunjuk tulisan di warungnya yang jelas-jelas bertulis sedia teh (tea). Bule yang satu tuktuk sama kami akhirnya membantu mencarikan teh ini, adanya teh mix sachet. Akhirnya si pemilik warung nunjuk-nunjuk ke warung belakangnya…baiklah…melipirlah kami ke warung belakang. Nah baru disini nih ketemu teh poci, minum-minum cantiklah kami disini.

Waktu jalan kembali ke kantor bis, eh bisnya sudah datang bahkan pramugara bis sambil bawa-bawa daftar penumpang dan topi koboi jerami si ayah yang di tinggal di kantor bis nyari-nyari kami yang menghilang…hehe bikin kehebohan aja. Bisnya lumayan bagus sih cuma tempat duduknya standard aja, seperti tempat duduk di bis-bis biasanya bedanya ditiap tempat duduk ada TV juga. Penumpang sedikit, banyak tempat duduk yang kosong dan bis tetap jalan. Wah keren juga nih gak nunggu penuh pikir kami, eh ternyata beberapa kali berhenti di jalan untuk menaikan penumpang. Berbeda dengan JJ, Elite ini banyak berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan, sedang JJ banyak berhenti untuk istirahat di rest area. Selain itu JJ tidak pernah menaikkan atau menurunkan penumpang, jadi kalau dari segi kenyamanan JJ masih juara. Servicenya sih kurang lebih, sama-sama ber ac, ada TV tiap tempat duduk, ada cemilan dan minuman gratis yang dibagikan pramugara, malahan ditawarin obat mabuk segala di Elite… hahaha… Kirain nawarin apaan, ternyata obat mabuk.

Berangkat pagi sekitar jam 8, sampai di Yangon sore sekitar jam 4. Selama perjalanan pemandangannya hutan-hutan kering (kata pengemudi andong yang kami naiki di Bagan sih sekarang musim panas, hujannya nanti sekitar Juli). Berangkat pagi kelebihannya bisa melihat pemandangan di jalan, tuh jalan muluuuusss bener…dan panjaaaanggg bener, salut deh…kalah Kalimantan. Tiba di terminal Yangon naik taxi ke hotel yang sudah di booking.

Di Yangon kami jalan-jalan seputaran hotel, ke Bogyoke Market, Night Market, National Museum, Maha Bandoola Park, Sule Pagoda, Swedagon Pagoda dan People’s Square and Park. Pengalaman ke tempat-tempat tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Singapore, 8 Maret 2016 #

20160322-115655.jpg

Tanggal 8 Maret subuh sekitar jam 04.00 waktu setempat, kami sudah bangunin krucil. Check out, naik taxi ke bandara. Hari itu kami berencana ke Singapore menggunakan pesawat jam 08.00 pagi, boarding 07.50, dengan perhitungan lama perjalanan dua jam dari hotel ke bandara. Tapi kami salah perhitungan, ternyata kalau subuh jalan lancar jaya sehingga hanya ditempuh sekitar 45 menit…kecepatan deh …huaaa…ngantukkk…

Akhirnya kami nyari pojokan, eh nemu deh pojokan sepi tempat bule-bule tidur beralaskan backpack. Gak mau kalah, ikutan tidur juga beralaskan bacpack tapi gak bisa tidur karena nyamuknya banyak, hanya bisa tidur-tiduran. Makin lama, bandara makin ramai dan petugas bandara mulai berdatangan…yaks saatnya masuk ke dalam bandara. Check in, imigrasi…masuk ruang tunggu dengan masih terkantuk-kantuk. Eh menjelang jam boarding belum ada tanda-tanda nih, gak berapa lama muncullah pengumuman kalau delay…waduh tumben-tumbenan delay biasanya ontime.

Pesawat kami ke Singapore ini transit di Don Mueang (Bangkok), ternyata ada pesawat maskapai lain yang langsung ke Singapore tanpa harus transit di Bangkok…ya sudahlah, salah sendiri gak ngecek maskapai lain waktu nyari tiket…hehe. Untungnya waktu sampai Don Mueang masih ada jarak dengan pesawat ke Singapore, jadi gak terlalu harus kejar-kejaran. Pesawat Don Mueang (Bangkok) ke Singapore dijadwalkan berangkat jam 14.00-an (lupa lagi tepatnya), kami sampai di Don Mueang sekitar jam 13.00-an, jadi nunggu satu jam di Bangkok yang diisi dengan makan dan browsing-browsing sebentar menggunakan free wifi bandara.

Lama perjalanan Yangon – Bangkok = 1 jam, Bangkok – Singapore = 2,5 jam (kurang lebih). Sampai di Singapore sekitar jam 16.00-an, naik MRT ke daerah Bugis kurang lebih 1 jam-an….kesorean sampai di Singapore. Rencana mau jalan-jalan dulu jadi gak bisa. Istirahat sebentar di hotel, baru selepas maghrib jalan lagi menggunakan taxi dengan tarif S$19 ke Merlion Park. Di Singapore kami hanya jalan ke Merlion Park, Bugis Junction dan Bugis Street. Kebanyakan habis waktu untuk tidur aja karena tiba sudah kesorean ditambah ayah ketemuan sama temannya sehingga sudah lupa kalau mau ke tempat-tempat lainnya. Keburu ngacir segera ke negara tetangga yang lebih ramah di kantong…haha…

# Menuju Johor Bahru (Malaysia), 9 Maret 2016 #

20160322-120234.jpg
Kami baru tiba kembali di hotel sekitar jam 22.00 malam setelah dari Merlion, bukan karena betah ngeliat patung singanya sih…cuma karena nyetop taxi gak ada yang stop-stop. Baru sadar kalau ada tempat khusus menunggu taxi setelah satu jam berusaha menyetop taxi tanpa hasil…haha (dasar kamseupay).

Pulang larut belum lagi krucil masih sempat bermain dulu sebelum tidur menyebabkan kami bangun agak siang keesokan harinya. Bangun kesiangan ini menyebabkan kami tdak melihat gerhana matahari…arrrggghh. Eh sudah gitu krucil seperti biasa main dulu sebelum bisa dipaksa mandi, belum lagi ayah janjian ketemuan sama temannya. Selesai krucil mandi, ayah belum balik ke hotel juga padahal hari itu saya berencana mengajak krucil jalan-jalan melihat Singapore dulu, baru sekitar jam 10-an lewat ayah balik hotel. Jam segitu sih gak bisa kemana-mana lagi, nyari yang dekat-dekat hotel aja deh…yaitu ke Bugis Street untuk cari koleksi krucil, gantungan kunci πŸ˜‰ Kenapa buru-buru? Karena waktu check out hotel kan jam 12.00 siang (walau biasanya gak pernah yang sampai diusir ya preventif aja…eh tapi waktu disini kami sempat ditelp ke kamar loh, diusir secara halus… hahaha, nasib), kan gak mungkin banget kami geret-geret tas sambil jalan-jalan. Sayangnya lagi, kami lupa kalau dekat hotel itu ada terminal MRT dan diterminal tersebut ada loker sewaan (tempat menitip tas berbayar).

Setelah berburu cenderamata, cepat-cepat balik hotel…pas baru rapi-rapiin tas ditelp diingatkan kalau sudah jam 12, iye iye…ini juga sudah mau cabut. Check out dan jalan kaki mencari terminal bis Johor, ternyata letaknya gak begitu jauh dari hotel. Sesampainya di terminal sudah ada bis yang siap berangkat, harganya cuma S$ 3.30 / dewasa dan S$1.50 / anak. Nunggu penuh sebentar saja sudah penuh dan berangkat. Lama perjalanan kurang dari satu jam…itu sudah dihitung sama ngantri di imigrasinya, dekat banget tuh Singapore – Johor.

Urusan imigrasi keluar Singapore, lancar jaya…langsung di tok dan gak pake antri panjang. Naik bis lagi, gak berapa lama sudah masuk imigrasi Malaysia. Imigrasi Johor antriannya lumayan panjang. Begitu giliran kami, eh tuh petugas imigrasi pakai nanyain berapa hari di Johor, terus mau kemana, sudah ada tiket pulang belum bahkan sampai minta tiket pulang ke Indonesia segala…hiks hiks dia curiga kali soalnya perputaran di pasport cepat banget, dari Myanmar-Singapore (cuma sehari) – (eh sudah masuk) Malaysia lagi.

Gara-gara kecurigaan petugas imigrasi Johor inilah kami jadi lambat dan tertinggal dari deretan penumpang bis yang lain. Akibatnya kami jadi bingung harus keluar pintu mana, eh salah ambil jalan keluar malah ke JBCC bukan balik ke bis. Tanya security, katanya harusnya tadi kami jalan lurus lalu turun bukannya ikutan keluar melalui pintu samping. Ya sudah deh tanya aja sekalian kalau jalan Lumba Kuda (letak hotel kami) dimana, security jawab…oh kalau lumba Kuda dekat JBCC. Baiklah, berarti kami gak perlu kembali arah…

Di JBCC ini pusatnya semua transportasi di Johor deh, mau naik taxi ada pangkalannya, dibawah ada terminal bis dalam kotanya, bahkan ada stasiun kereta pula. Jalan dikit melalui skybridge sudah sampai di mallnya, sebelahnya ada Mall Komtar pula. Benar-benar terpadu, salut deh. Di sini kami makan-makan dulu melepas lelah, baru nyari informasi…katanya sih hotel kami itu dekat saja cuma kalau jalan kaki lumayan, naik taxi sajalah di bawah. Baiklah, naik taxilah kami dengan biaya sekitar RM 20, eh ternyata tuh hotel letaknya seberang JBCC aja cuma karena jalan satu arah kalau naik taxi jadi muter dulu makanya mahal…hahaha.

Di Johor favorite kami jalan ke JBCC, banyak makanan enak. Kemudian kami jalan ke Legoland, Zoo Johor, melihat-lihat night market dan mesjid Jamek Sultan Abu Bakar. Untuk lebih jelas mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi tersebut, lihat postingan sebelumnya. Kami tiga hari di Johor sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Kuala Lumpur.

# Menuju Kuala Lumpur (Malaysia), 12 Maret 2016 #

Sebenarnya begitu tiba di Johor, melihat ada loket kereta api kami buru-buru beli tiket sleeper train ke Kuala Lumpur. Sayangnya semua sudah sold out, dari tanggal 10-13 Maret, ada tiket biasa (tiket duduk) tapi adanya tanggal 14, gak mungkin banget karena pesawat pulang ke Indonesia tanggal 13, jadi batal naik kereta padahal sleeper train itu transportasi favorite krucil kalau berpetualang.

Jadilah kami berburu tiket bis ke terminal Larkin, dapat bis Konsortium seharga RM 34,30 / orang. Naik bis inilah kami Sabtu pagi tanggal 12 Maret tersebut. Bisnya ya begitu deh, standard aja. Lama perjalanan kurang lebih 4 jam, sempat macet parah karena ada kecelakaan dan sedang musim libur sekolah di Malaysia. Bis ini tujuannya adalah Bandar Tasik Selatan (BTS), baru kali ini kami kesini…biasanya kan Puduraya. Di BTS ini kami makan dulu melepas lelah, setelah itu menggunakan KLIA Ekspres ke KLIA 2, letak hotel andalan kalau transit. KLIA Ekspres ini termasuk mahal juga untuk transportasi dalam kota, totalnya sekitar RM 115 untuk berempat…lumayan banget kan kalau dikurskan…hiks hiks. Kelebihannya sih cepat…gak pake lama sudah sampai deh di KLIA 2.

# Menuju Little House on the Prairie (Indonesia), 13 Maret 2016 #

Seperti biasa, di KLIA 2 nginap di hotel andalan. Pesawat pulang kami ke Indonesia pagi jam 08.15, sehingga seperti biasa subuh-subuh krucil sudah dibangunin. Jalan kaki ke bandara, beres urusan imigrasi…nunggu di ruang tunggu. Di bandara saya sempat mules-mules dan mual sehingga bolak balik ke toilet, beberapa hari belakangan saya memang terkena batuk parah.

Jam 11.15 sudah mendarat di home town, alhamdulillah. Di bandara makan dulu karena kelaparan, baru jam 12-an sampai rumah. Walau setibanya di rumah kami kaget karena satu hal, tapi kami bersyukur bahwa di balik semua peristiwa ada hikmah yang bisa di petik. Bagaimanapun home sweet home. Ok krucil…kemana lagi kita berpetualang liburan berikutnya? hehe πŸ˜€

Advertisements




People’s Square and Park

17 03 2016

20160317-104012.jpg

Setelah istirahat di hotel, sore harinya kami berniat ke People’s Park ini yang letaknya menurut trip advisor sih gak jauh dari Swedagon Pagoda. Supaya gampang, kami bilang ke supir taxi sih Swedagon Pagoda. Begitu diantar ke Swedagon Pagoda, agak bingung juga kami…ini mana pagodanya…maklum kami diantar lewat pintu belakang jadi agak bingung hihihi. Krucil saya terutama yang sulung langsung protes, “kok ke Pagoda terus sih? Katanya mau ke taman? Abang gak mau masuk”, katanya dengan manyun-manyun. Bunda pun dengan sok bijak bilang, “bang, kita nih memang mau ke taman. Tamannya katanya sih dekat sini, mari kita cari”. “Kenapa gak naik taxi tadi aja sih?”, protesnya lagi. Duh anaknya ini keseringan dimanjain ayahnya petualangan ceritanya tapi kemana-mana naik taxi, jadi aja jiwa petualangnya berkurang drastis. Kalau sama bunda tuh disuruh jalan kaki aja kemana-mana… hiks hiks TT

Akhirnya begitu turun taxi, kami malah melipir mencari jalan ke People’s Park ini. Jalan kaki di sore yang terik dan tidak tahu arah, ditambah manyun krucil tuh bikin suasana jadi gak enak. Akhirnya setelah berjalan lumanyun jauh, kami berhenti di suatu lapangan parkir yang dari hasil terawangan kayaknya jalannya mentok. Kami pun bertanya pada orang setempat, di mana tuh People’s Park…eh dia malah manggil temannya yang bisa bahasa inggris, jadilah kami ngobrol sama temannya ini. Sambil membaca peta yang kami bawa dari hotel, dia bilang sih letaknya lumayan jauh sekitar 2km dari situ karena harus melewati 4 gate…bayangin 2 km, dan 4 gate !! Ujung-ujungnya dia nawarin naik taxi 3000 Kyats, karena sudah mengalami gejala 3L (lemah lesu letih) kami pun menerima tawarannya. Begitu naik taxi…eh tuh taman ternyata dekat aja dari tempat kami berhenti bertanya, cuma jalan dikit kemudian nyeberang sampai deh…haha…kali ini ayah bunda yang jadi manyun dan dongkol, tertipu deh.

Sesampainya di People’s Park, beli tiket masuk 300 Kyats / orang dan di kasih stiker kecil untuk ditempel di baju. Setelah punya stiker, kami memutuskan istirahat dulu di Mallnya…iya depan taman ini ada Mall kecil. Kami makan gado-gado sama terong penyet di resto bertema Indonesia tapi rasanya kurang nendang. Kemudian beli-beli souvenir, ketika matahari terlihat lebih bersahabat baru deh kami masuk tamannya. Let’s go…

Baca peta taman…oalah bingung, sudahlah kita jelajahi saja semuanya. Awalnya taman ini terlihat seperti taman pada umumnya saja, ada bunga-bunga, tanaman yang ditata lalu beberapa patung-patung…hmmm ada sedikit rasa kecewa. Semakin ke dalam, ada beberapa jenis permainan anak seperti carousel, bom-bom cars, kereta-keretaan, dan beberapa permainan lainnya. Setiap permainan bayar 1000 Kyats / orang, lumayan murah meriah. Krucils suka banget nih ikut permainan naik perahu kemudian perahunya terjun dari ketinggian ke dalam kolam berisi air, mereka bolak balik ikut permainan ini sampai si bungsu kepala kejeduk perahu baru deh berhenti main.

Tapi diantara semuanya mereka paling berkesan pada Musical Fountain, itu tuh pertunjukan air mancur yang mengikuti irama musik. Mulainya dari jam 19.00- 21.00, nungguin mulai tuh berasa lama bingit. Musiknya dari disko, J-Lo, sampai musik tradisional Mayanmar. Begitu terpukaunya mereka melihat air mancur berwarna-warni bisa menari mengikuti irama musik hingga betah banget padahal nyamuknya banyak dan hari beranjak malam. Sampai-sampai ketika kami ajak balik hotel, bungsu saya menangis tapi berhenti lagi setelah saya beritahu nanti di Singapura juga ada yang beginian, “beneran loh ya bunda…janji ya nanti kita nonton lagi di Singapura”, tagihnya (padahal saya asal ngomong aja TT). “Bunda gak janji, tapi yang pasti besok kan kita harus bangun subuh, besok kita mau ke Singapura pesawat pagi jadi gak bisa lama-lama nonton ini nanti kalian susah bangunnya”. Dan People’s Square and Park pun meninggalkan kenangan manis untuk krucil kami, semanis senyuman di wajah mereka setiap melihat rekaman musical fountain πŸ˜€





Maha Bandoola Park, Yangon

17 03 2016

20160316-090557.jpg

Hari kedua kami di Yangon, kami isi dengan berkelana berjalan kaki seputaran hotel. Ke Sule Pagoda yang letaknya ditengah-tengah persimpangan jalan yang tidak jauh dari hotel, kemudian ke Maha Bandoola Park. Kenapa kami ke taman ini? Ya kami suka taman, apalagi taman publik kan biasanya gratis dan terbuka untuk umum…sesuatu yang gratis itu tidak boleh dilewatkan hehe…

Taman ini berisi monumen tugu kemerdekaan Myanmar dan terdapat banyak burung, terutama sih burung gagak. Di taman ini krucil kami betah banget, mereka bermain mengejar-ngejar burung, mencoba memotret burung-burung tersebut dalam berbagai pose, serta bermain di air mancur. Taman ini dilengkapi juga dengan sarana permainan anak, sayangnya krucil tidak tertarik bermain di arena permainannya.Mereka malah tertarik untuk memberi makan burung, meminta kami untuk membelikan makanan burung…piye toh, burung-burung disini sudah ada petugas yang memberi makannya tidak seperti di Thailand yang makanan burung banyak dijual oleh pedagang kaki lima. Walau agak kecewa karena tidak bisa memberi makan burung tapi bukan krucil namanya kalau tidak bisa happy dengan hal-hal kecil, cukup hunting foto burung saja mereka bergembira malah susah diajak balik ke hotel πŸ™‚





Yangon National Museum

15 03 2016

20160315-100542.jpg

Tiba di Yangon kembali, kami mengajak krucil ke museum. Krucil kami memang suka museum, begitu kami beritahu ada museum di Yangon mereka antusias sekali kesana. Dari hotel kami menggunakan taxi dengan biaya 2000 Kyats. Taxi di Yangon tidak ada yang memakai argo, sistemnya adalah tawar menawar dengan supir dan hampir 80%nya tidak menggunakan ac jadi siap-siap kepanasan jika terjebak macet plus siapkan mental juga jika bertemu supir yang sedang menyirih (memakan sirih), sebentar-sebentar meludahkan sirihnya di pintu…ehem…

Oh iya, hari Senin biasanya market dan museum tutup, Sabtu dan Minggu malah buka…entah kenapa alasannya. Sesampainya di museum ternyata kami kepagian masih jam 08.30 sedangkan museum baru buka jam 09.30. Museum masih sepi dan kosong, belum ada petugas sama sekali. Untungnya di hotel sebelum berangkat kami sempat membaca sekilas bahwa letak National Museum ini persis di samping KBRI, jadilah menggunakan google maps kami melipir mencari KBRI.

Bertemu sesuatu yang berbau Indonesia di negeri orang itu sesuatu banget, apalagi melihat lambang Garuda…ailopyu pul deh. Akibatnya bisa ditebak, kami dengan norak-norak bergembira narsis-narsis di depan KBRI yang tutup di bawah tatapan heran penduduk setempat dari dalam bis (letak KBRI di perempatan)…hahaha…:D

Puas berfoto-foto, kami kembali ke museum dan membeli tiket seharga 5000 Kyats / orang. Petugas museum bilang dilarang foto-foto di dalam, jadilah kamera dititip dalam loker. Museum ini lumayan besar, terdiri dari beberapa tingkat. Sayangnya mungkin karena sudah kecapekan setelah bermain di kamar hotel sebelumnya, plus diajak jalan kaki ke KBRI, ditambah larangan memotret di dalam museum (padahal kebiasaan krucil masuk museum adalah memotret semua item yang ada, menghabiskan memori card kamera), di dalam museum krucil agak rewel mengajak kami kembali ke hotel. Akhirnya hanya sampai tingkat dua museum yang kami jelajahi sebelum kembali ke lantai bawah. Eh di lantai bawah kami bertemu dengan serombongan pelajar yang sedang asik foto-foto di dekat petugas museum…sungguh terlalu. Meskipun begitu kami dapat pelajaran berharga bahwa walau Myanmar negara yang baru saja terbuka, namun mereka mampu menjaga benda-benda bersejarahnya dengan baik.





Bagan, Myanmar

15 03 2016

20160314-060215.jpg

Kami tiba di Bagan sekitar jam 4 subuh. Belum booking hotel sama sekali karena belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya kalau datang subuh atau pagi tidak bisa langsung masuk kamar, kami memang sengaja tidak booking hotel di website seperti biasanya. Akhirnya dari terminal bis Bagan, kami diantar taxi dengan biaya 10.000 Kyats mencari hotel. Hotel yang sebelumnya diincar di agoda ternyata penuh, setelah bolak balik, kami memutuskan menginap di Golden House Hotel. Eh ternyata karena kami datangnya subuh, kena charge setengah hari plus 1 hari, jadi kalau masuk subuh hitungannya 1,5 hari….hiks hiks sungguh terlalu.

Rupanya untuk masuk kota Bagan, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk seharga 25.000 Kyats / orang karena Bagan ini termasuk dalam situs peninggalan dunia seperti Angkor Wat, berupa kompleks besar berisi ribuan pagoda. Jadi dari terminal, kami melalui semacam pos penjaga untuk membayar tiket masuk tersebut. Sebenarnya hanya anak dibawah 7 tahun yang gratis, tapi ketika kami kasih tahu supir taxi bahwa anak kami berumur 7 & 10 tahun, eh supir taxinya bilang gak perlu ngomong seperti itu. Begitu di pos penjaga itu supir ngomong pakai bahasa mereka kayaknya sih dia bohongin petugas soal umur krucil, soalnya kami cukup membayar 50.000 Kyats saja…haha, gak tahu harus senang atau gak soal ini. Oke in ajalah…

Tiba di hotel, istirahat dulu…santai-santai dulu seharian. Setiap ayah mengajak kami melihat-lihat kota, kami menolaknya…entah kenapa bawaannya malas aja kemana-mana. Si ayah sampai berkata, petualangan kali ini gak asik…kalian sekarang payah diajak berkelana. Pada akhirnya ayah sering ngacir sendirian, gak betah dia di hotel aja…haha…

Menjelang sore, sekitar jam 15.00 baru kami semua berkelana. Kenapa saya memilih waktu sore? Pertama sih karena sudah pengalaman di Angkor Wat, kalau berkelana pagi atau siang, panasnya terik banget…yang ada kepanasan aja dibanding menikmati perjalanan. Kedua sih, karena ketika di Yangon sehari sebelumnya bungsu saya demam dan saya gak mau terulang lagi hanya karena diajak panas-panasan…jadi seharian saya biarkan krucil main-main sambil ngadem dalam kamar hotel, adaptasi dulu.

Sore itu ayah nanya, apa kami sewa sepeda (iya, ada banyak penyewaan sepeda juga seperti di Angkor Wat) atau rental sepeda listrik (itu tuh bentuknya seperti motor kecil dan jalannya kayak siput) ? Kedua pilihan saya tidak mau…entah kenapa, saya malas aja rasanya capek-capek dalam petualangan kali ini, mungkin bawaan PMS (pra menstruasi syndrom). Pengennya yang enak-enak, tapi juga gak mau taxi karena terlalu kekotaan…hehe. Setelah ayah cari-cari alternatif transportasi lain, eh nemu andong-andong. Kalau ini sih ok, saya setuju karena temanya cocok…kedesaan…hahaha πŸ™‚ Btw, andong-andong ini termasuk mahal loh dibanding transportasi lain, entah karena kami turis, entah karena kami yang gak jago nawar, atau memang karena biaya makan kuda yang mahal. Tarif naik andong memutari kompleks perpagodaan ini 20.0000 Kyats, atau setara dengan 250rb Rupiah.

Supir eh pengemudi andong eh apaan ya sebutannya, ya gitu deh…pengemudi andong ini bisa bahasa inggris walau logatnya agak susah dimengerti tapi ya bisa dimengertilah…nah kan jadi makin tidak mengerti haha. Dia berniat mengajak kami ke lima pagoda paling terkenal, begitu sih katanya dia…padahal mau terkenal kek, gak terkenal kek…tetap aja kami gak tahu…hehe. Jadi selama itu pula dia ngebut menuju lima pagoda tersebut sehingga banyak pagoda-pagoda sepanjang jalan yang terlewati tanpa kami sempat mengambil foto. Suatu ketika saya minta berhenti disebuah pagoda sepi…eh pengemudi andongnya bilang, nanti aja…nanti pulangnya kita lewat situ lagi. Eh pakde, thats ok lah berhenti disini sebentar, saya suka nih pagoda banyak bunga-bunga…akhirnya berhenti juga deh andongnya…hups, lumayan istirahatkan pantat karena naik andong tuh ternyata bikin pantat keropos juga….hehe.

Ngomong-ngomong tentang andong, andongnya ini tidak seperti di Indonesia yang ditengahnya ada tempat naruh kaki. Di Bagan, andongnya semua tertutup semacam kasur…susah kan duduknya. Kalau sendirian sih enak, tinggal baring-baring, leyeh-leyehan di kasur itu…laaa kalau berempat? Solusinya ya ada yang ngadap depan, kakinya dibelakang kuda, sisanya ngadap belakang deh kakinya juntai-juntai di belakang. Cara seperti kami ini malah jadi tontonan tersendiri bagi turis lain, beberapa kali kami dijepret kamera turis lain terlebih wajah dan kulit kami seperti orang Myanmar juga, ditambah si ayah pakai topi ala koboi dari jerami hasil berburu di local market. Kebayang kan di album foto mereka tertulis…local people Myanmar….haha.

Kembali ke kompleks pagoda….pagodanya banyak bingit, tersebar di area yang lumayan luas tapi tidak seluas Angkor Wat. Pagoda dalam berbagai ukuran, dari kecil, sedang, besar, ada yang sendiri ada juga yang bergerombol, serta berbagai warna, putih, coklat, bata, kekuningan seperti emas, dsb. Kami diajak pengemudi andong mampir ke beberapa pagoda, entah deh namanya apaan habisnya tulisannya kriwil-kriwil gitu. Ada yang katanya dalamnya ada stone budha, ada yang letaknya pinggir sungai, ada yang ini, ada yang itu…gak begitu nyimak juga sih soalnya sulung saya gak mau diajak masuk, akhirnya ya kami foto-foto dari luar aja.

Diakir pengelanaan, kami diajak ke Shwesandaw Pagoda…tempat untuk menikmati sunset. Begitu tiba disini sekitar jam 17.00 sudah penuh dengan turis yang menempati setiap sisi pagoda untuk menunggu sunset. Saya dan bungsu hanya sampai tingkat ketiga, capek banget tuh menaiki anak tangganya selain juga bungsu saya takut ketinggian, sedang ayah dan sulung sampai tingkat dua karena tingkat satu sudah penuh. Menunggu sunset ini seru juga melihat berbagai turis mancanegara dengan berbagai tingkah polahnya, dari yang santun, ada yang gak ingat-ingat orang yang duduk dibelakang dengan menghalangi pandangan, ada juga yang suka senyum sama semua orang. Mengambil foto dengan tablet hasilnya kurang mantap selain karena mataharinya juga ternyata tertutup awan, akhirnya saya dan bungsu cuma memperhatikan turis lain sembari nunggu ayah dan sulung turun. Jam 17.30an banyak yang akhirnya bubar karena matahari terhalang awan, kamipun ikutan bubar kembali ke tempat parkiran. Lets go, kita kembali ke hotel…besok pagi kami naik bis kembali ke Yangon.





Yangon, Myanmar

14 03 2016

20160314-033800.jpg

Hmmm…mau mulai cerita dari mana ya? Sebenarnya agak malas nulis cerita-cerita tentang petualangan kami tahun ini, banyak kejadian yang kami alami dari yang seru, sedih, menyebalkan, menyenangkan sampai mengharu biru. Tapi demi kenang-kenangan untuk krucil, SEMANGAT! Saya harus nulis petualangan kami kali ini supaya saat krucil dewasa kelak bisa mengingat-ingat memori-memori indah tentang petualangan-petualangan bersama ayah bundanya.

Tiap tahun, minimal setahun sekali kami usahakan mengajak krucil jalan-jalan. Harus satu paket, ayah bunda dan krucil. Tujuannya sih satu, merekatkan hubungan kami yang karena kesibukan ayah lebih sering berada di lokasi dibanding bersama anak istrinya. Dengan berpetualang jauh dari rumah, mau gak mau, suka gak suka, kami harus kompak melalui semua rintangan yang kadang kami temui selama di jalan selain juga untuk me-refresh (halah bahasanya.. apalah) semua kejemuan yang kadang dijumpai dalam melakukan rutinitas sehari-hari.

Nah, setelah mengulik-ngulik semua tujuan yang menarik minat kami, akhirnya pilihan jatuh ke Myanmar. Alasannya : 1) Gak jauh-jauh amat dari Indonesia, cuma 3 jam-an dari Kuala Lumpur dibanding 5 jam ke India. 2) Antimainstream. Tahu sendiri kan kami, kami gak begitu suka tujuan yang ramai…nah Myanmar nih salah satu destinasi yang jarang dilirik orang. 3) Ya pengen aja liat Myanmar, seperti apa sih negaranya, orangnya, budayanya.

Baiklah, pilihan sudah ditetapkan. Tiket sudah di beli, hotel sudah di booking dan berangkaaaat…..

Seperti biasa urusan perhotelan diserahkan krucil pada si bunda (saya) karena dianggap lebih keren milih hotelnya dibanding si ayah. Kata mereka ayah urusannya beli bis aja, lebih jago dibanding bunda…hehe, baiklah. Saya pilih 30th Corner Boutique Hostel, eh walau namanya hostel nih penginapan keren banget deh. Lokasinya ditengah-tengah kota banget, area downtownnya Yangon. Penampakan dari luar menipu, dalamnya dong…lumayan banget.

Setibanya di Yangon, di bandara kami membeli tiket bis ke Bagan untuk sore harinya seharga $22/ orang. Selesai urusan tiket bis, langsung naik taxi bandara seharga 10.000 Kyats ke downtown, letak hotel kami. Lama perjalanan dari bandara ke downtown ini sekitar 2 jam, maceeeettt parah banget deh, nambah tua dijalan. Padahal jalannya lebar-lebar loh, tapi macetnya ampun-ampunan. Gak cukup sampai situ penderitaannya, eh setiba di hotel begitu check in…resepsionis bilang waktu check in jam 14.00 sedangkan saat itu masih jam 11-an! Akhirnya si resepsionis nunjuk ke atas, kalau mau mandi silahkan ke atas katanya. Bangun subuh belum sempat mandi eh kena macet pula dijalan bikin kami dekil sempurna. Ya sudahlah, terima aja tawaran terbaik saat itu, mandi. Sambil lesehan di lorong hotel, satu anak mandi, anak yang lain makan chicken rice pesawat kesukaannya. Satu kata menggambarkan keadaan kami saat itu, KASIHAN deh loe…eh tiga kata ya…hehe πŸ˜‰

Kemudian saya punya ide cemerlang briliant dan menakjubkan, saya minta suami saya bilang ke resepsionis kalau kami tidak nginap disitu, kami hanya pengen istirahat sebelum berangkat lagi jam 17.00 nanti ke Bagan. Dan ternyata kata-kata ini secara menakjubkan berhasil meluluhlantahkan rasa iba resepsionis…mereka buru-buru menyiapkan satu kamar. Yess…we did it! Walau karena buru-buru jadinya kami dapat kamar yang lebih kecil tapi ya lumayanlah untuk meluruskan punggung.

Istirahat sebentar, krucil malah gak bisa diam…loncat sana, loncat sini. Akhirnya siang itu setelah gagal memaksa krucil tidur, kami mengajak mereka jalan ke Bogyoke Market. Bogyoke ini seperti pusat souvenir dan pasar grosir gitu deh. Letaknya gak jauh dari hotel, disini kami hanya sempat beli gantungan kunci dan gelang batu saja, sebelum si bungsu mendadak demam. Badannya panas tinggi, ayah langsung ngajak kami balik ke hotel tapi sulung saya menangis karena belum beli gantungan kunci untuk teman-temannya. Akhirnya ayah menggendong bungsu balik ke hotel, saya dan sulung jalan berdua mencari gantungan kunci untuk si sulung dan langsung balik hotel karena gak enak banget rasanya mikirin bungsu sakit tanpa bundanya (bungsu memang dekat banget dengan saya).

Sampai hotel, liat bungsu mulai turun demamnya karena sudah diminumin obat demam sama ayah. Kemudian gantian tugas lagi, kali ini ayah yang pergi mencari makanan di KFC tidak jauh dari hotel dan saya menjaga krucil di hotel. Eh setelah agak enakan badannya, bungsu mulai heboh-hebohan lagi dengan abangnya dikamar…loncat-loncat lagi *tepok jidat*.

Sore itu kami berembuk, terus ke Bagan atau tetap stay di Yangon dan tiket bis yang sudah dibeli dibiarkan hangus. Baiklah, kami putuskan liat kondisi menjelang pergi nanti…kalau bungsu masih demam kita stay, kalau sudah membaik…kita lanjutkan petualangan kita. Alhamdulillah menjelang berangkat bungsu saya membaik dan fine-fine aja. Bagan…here we come….