Mekkah Al Mukarramah

3 02 2018

Masjidil Haram


Cerita pengalaman selama di Madinah sudah, sekarang tentang pengalaman spritual di Mekkah. Lama perjalanan dari Madinah ke Mekkah melalui jalur darat itu kurang lebih sekitar 6 jam (termasuk ishoma, istirahat sholat plus makan cemilan). Kebetulan kami melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekkah ini di hari Jumat setelah sholat Jumat. Setelah sholat dan makan siang, lalu naik bis bersama rombongan menuju Mesjid Bir Ali untuk Miqat. Pasti bingung kan apaan sih miqat itu? Samaan dong dengan saya waktu ustadz pembimbing menyebut-nyebut miqat pada malam sebelumnya. Miqat itu ternyata artinya batas dimulainya ibadah haji atau umroh, nah dibatas itulah kita mulai berniat dan memakai pakaian ihram. Kalau ihramnya laki-laki adalah mengenakan pakaian yang tidak ada jahitannya, sedang untuk perempuan pakaiannya lebih flexible.

Dan yang paling penting diingat adalah sejak miqat itu, dimulailah semua larangan-larangan ihram. Apa aja larangannya? Larangannya antara lain mencukur, memotong , menutup muka, membunuh dan berburu hewan, memakai wewangian, berkata kotor, memaki, mencaci, dsb…bisa di cari di gugel sisanya. Sebagai pengalaman pertama, saya lumayan takut tuh kalau gak sengaja melanggar larangannya, makanya saya gak berani mandi (takut pake sabun, kan sabun wangi), gak berani sisiran, bahkan gak berani garuk-garuk kepala karena takut rambut saya rontok. Ealah keluar mesjid malah kelupaan pakai masker…untung diingatkan si ayah.

Miqat di Mesjid Bir Ali ini adalah sholat sunah 2 rakaat sambil niat umrah. Setelah itu di dalam bis dilafadzkan kembali niatnya, kemudian membaca talbiyah, salawat dan doa. Ketika membaca talbiyah ini dalam bis yang sedang berjalan menuju Mekkah tuh haru banget. Susah bagi saya untuk menahan air mata. “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika lak” yang artinya “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.

Semua seolah di rewind lagi, kelakuan saya yang kadang keras kepala, mucil, dsb…masa lu sudah dikasih nikmat masih gak bersyukur sih, kurang apalagi coba? Cuma kurang bersyukur aja…hiks hiks. Ya Allah maafkan segala kekhilafan dan kelalaian hambamu ini, saat itu juga semua rasa syukur langsung membuncah memenuhi relung hati…terima kasih ya Allah telah Engkau undang kami kesini, terima kasih banyak, semoga Engkau masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan dijalan yang lurus, aamiin.

Di tengah perjalanan, kami berhenti disebuah perhentian untuk melaksanakan sholat Maghrib jama’ Isya. Di perhentian ini anak bungsu saya menangis karena merasa mual, bungsu saya ini memang gampang mabuk perjalanan. Akhirnya kami belikan mie instant buatan Indonesia yang paling ngetop (hayooo…pada tahu kan merknya…malas ah saya sebut merk entar dikira iklan lagi hehe). Harganya ? 5 riyal…ya sekitar 15 ribuan hampir 20 ribu lah…mahal kan? Di Indonesia tuh mie paling mahal paling 5 ribu…ok lah, mahal karena impor. Nah ternyata tuh gak dikasih air panas, padahal sebelum beli kami sudah tanya ke si penjual ada air panasnya gak? Oh ada, nanti… jawab si penjual. Giliran sudah dibayar dan ditanya mana air panasnya? Eh dia nunjuk restoran sebelah. Di resto sebelah air panasnya bayar 1 riyal…salah kami sendiri nanyanya kurang spesifik, harusnya nanyanya air panas gratis ya…hahaha.

Senangnya bawa krucil adalah hampir semua penjual suka sama krucil, kadang mereka ngusel-ngusel kepala krucil, dan seringnya malah dikasih bonus. Bonus yang paling sering adalah permen dan coklat…sambil ngasih ke krucil sambil bilang halal, alhamdulillah. Tapi sejak itu krucil kalau ngasih sesuatu jadi ikutan bilang halal…halal. Setelah makan mie, bungsu saya kembali merasa enakan. Setelah itu diperjalanan kami tertidur, sampai akhirnya sudah mendekati kota Mekkah kami dibangunkan oleh pembimbing. Disuruh mengucapkan doa memasuki kota Mekkah. Lalu sampai hotel langsung makan malam, setelah itu masuk kamar sebentar…eh sudah diketok-ketok pintu kamar sama ustadz pembimbing. Sudah saatnya menyempurnakan ibadah umroh dengan Tawaf dan Sai. Apa itu tawaf? Tawaf itu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x sambil berdoa, sedang Sai adalah berjalan dari bukit Safa dan bukit Marwa juga sebanyak 7x.

Rombongan kami mulai melakukan ibadah ini sekitar jam 1 dinihari. Sambil berjalan dari hotel menuju Masjidil Haram kami bertalbiyah kembali, sampai halaman Masjidil Haram belum keliatan Ka’bahnya…jadi belum ngeh sama situasi. Begitu masuk, turun melalui tangga lalu melalui sebuah jalan, mulailah terlihat Ka’bahnya. Bungsu saya langsung bisik-bisik ke saya “bunda, alhamdulillah bisa liat langsung Ka’bah. Adek senang”, ucapnya sambil senyum girang. Iya dek, alhamdulillah. Begitu memulai dari tempat start dan mulai berdoa, terlebih sambil tangan dilambaikan ke arah Ka’bah dan mengecupnya sambil mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”….haru banget, mau nangis rasanya. Allahuakbar, Allah Maha Besar.

Ustadz kami mengambil putaran terluar agar rombongan kami tidak begitu berdesak-desakkan dan laki-laki diposisikan mengelilingi perempuan agar para jemaah perempuan terlindungi. Karena di Masjidil Haram sedang ada perbaikan sumur zamzam, area Tawaf agak menyempit. Kemungkinan perbaikan ini selesai saat Ramadhan nanti. Setelah Tawaf lalu menuju area untuk Sai, nah disini krucil saya terutama si bungsu mulai keliatan kecapekan. Tapi karena sudah dari Indonesia kami wanti-wanti bahwa selama beribadah tidak boleh mengeluh, tidak boleh sedikitpun mengucapkan keluhan…alhamdulillah mereka taat. Jadi walau capek dan mengantuk mereka tetap melakukannya, walau kaki mereka mulai keliatan diseret-seret. Selesai Sai, lalu memotong rambut, kemudian bermaaf-maafan dengan seluruh rombongan. Alhamdulillah, semoga ibadah umroh kita mabrur ya teman-teman, aamiin.

Setiba di hotel saya cerita ke ayah, “kaki bunda sakit yah”. Bungsu saya langsung bilang, “gak boleh mengeluh bunda, kan bunda sendiri bilang kalau gak boleh mengeluh”…hehe masih ingat aja pesan bundanya. Kami menyelesaikan ibadah umroh ini sekitar jam 3 subuh, jadi punya waktu sedikit saja sebelum sholat subuh. Kenapa ustadz pembimbing kami memilih waktu malam? Saya baru ngeh saat sholat subuh dan dzuhur di Masjidil Haram, ternyata pilihan waktunya pas karena setelah itu ramai sekali orang Tawaf.

Kami dua kali melakukan umrah, yang satu Miqat di mesjid Bir Ali (Madinah) sedang satunya lagi Miqat di mesjid Ji’ronah (Mekkah). Kalau umroh pertama dilakukan tengah malam, umroh kedua dilakukan siang hari jadi lumayan keringatan juga. Sebenarnya mau umroh berkali-kali pun tidak masalah selama mampu (terutama mampu dalam hal fisik), bisa menyewa taxi untuk menuju tempat miqat terdekat. Untuk yang sudah berusia lanjut dan dikhawatirkan tidak mampu untuk melakukan Tawaf dan Sai, banyak jasa pendorong kursi roda di depan Masjidil Haram, tarifnya sekitar 300 riyal kalau tidak salah.

Kota Mekkah lebih besar dari Madinah, selain itu suhu Mekkah yang kalau pagi dan malam sama dinginnya dengan Madinah namun siang suhunya kadang terasa panas. Kemudian hari terakhir di Mekkah, kami melakukan Tawaf Wada, atau Tawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir untuk Masjidil Haram. Kami melakukannya sendiri, terpisah dari rombongan yang melakukannya setelah sholat subuh. Kami melakukannya sebelum sholat subuh. Kami melakukan Tawaf Wada di lantai tiga, kebayang kan jauhnya. Ketika sudah putaran ke 4 tuh rasanya jaraknya makin jauh aja, melihat ke lantai satu, wah enak tuh putarannya gak sejauh di lantai tiga. Akhirnya saya mulai mucil lagi, ah ke lantai bawah aja ah….walau sama si ayah sudah dikasih tahu kalau bunda turun ke lantai bawah bisa jadi sudah selesai putaran kita di lantai tiga ini. Tapi godaan begitu besar, jadi saya memilih turun ke lantai satu. Lantai satu sebenarnya dikhususkan untuk yang berpakaian ihram, alias untuk yang melakukan Tawaf Umroh. Kalau perempuan karena susah dibedakan pakaian ihramnya, jadi gak masalah masuk di lantai satu, sedang untuk laki-laki harus berpakaian ihram kalau hendak tawaf di lantai tersebut. Sebenarnya banyak aja sih yang menyamar berpakaian ihram untuk melakukan Tawaf Wada di lantai satu ini, tapi ayah tidak mau begitu…itu sebabnya kami memilih di lantai tiga yang lebih sedikit orangnya dibanding di lantai dua.

Nah, begitu saya turun mengajak bungsu saya, kami susah mencari pintu masuk untuk tawaf di lantai satu ini. Kalau untuk sholat sih bisa dari pintu mana saja, sedang untuk tawaf ada pintu khususnya. Tiap masuk lewat sebuah jalan eh terhalang sama pagar pembatas, sampai akhirnya mulai sholat subuh. Setelah sholat subuh saya bertemu teman-teman rombongan yang mengajak keluar dulu untuk ikut rombongan melakukan Tawaf Wada, tapi berhubung saya sudah melakukan 4 putaran hanya tersisa 3 putaran lagi, saya memilih menyelesaikan sendiri. Eh masih susah tuh menembus pagar pembatas. Bisa sih kalau mau keluar dulu lalu melalui gate khusus, cuma saya malas keluar dulu. Setelah saya pikir-pikir, duh ini pasti akibat saya keras kepala lagi nih sama si ayah…hiks. Baiklah kalau begitu, saya ajak bungsu ke lantai tiga kembali menyelesaikan putaran tawaf sekalian bertemu ayah dan sulung. Tiba dilantai tiga, ayah dan sulung tidak keliatan, wah pasti mereka sudah menyelesaikan tawaf mereka nih dek…maafin bunda ya gara-gara bunda keras kepala adek jadi bolak-baliknya makin jauh. Akhirnya setelah menyelesaikan tiga putaran itu kami turun keluar, terlihatlah ayah dan sulung sedang menunggu kami sambil senyum-senyum…hehe. Iya bunda salah, maafin ya yah…

Begitulah pengalaman spritual saya, tiap mulai muncul keras kepalanya, langsung deh ditegur. Kata ayah, “tuh kan makanya jangan mucil lagi” …haha. Iya ya…bunda sudah insyaf kok untuk saat ini…besok-besok gak janji.. haha. Pulang dari Tawaf Wada makan-makan dulu deh di foodcourt sebuah mall, kebetulan ada makanan Malaysia kesukaan krucil, seperti nasi lemak, roti canai dan teh tarik. Selama di Arab Saudi kami tidak banyak berbelanja, uang lebih banyak dipakai untuk belanja makanan walau sebenarnya dapat jatah makan dari travel. Berbeda dari teman rombongan lain yang banyak belanja ini itu, terutama baju yang katanya sih harganya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Gamis-gamis hanya 70-100ribu, bagus-bagus lagi. Kami malah kalau mau belanja selalu mikirnya ah entar aja. Waktu di Madinah mikirnya entar aja di Mekkah, begitu di Mekkah mikirnya entar aja di Jeddah, eh di Jeddah mikirnya entar di bandara. Eh di bandara ternyata gak ada mallnya, jadi aja gak jadi belanja. Sudah kepedean bawa koper 5 buah (tumben-tumbenan padahal biasanya kemana-mana cuma bawa satu koper), cita-cita dari rumah mau belanja banyak ternyata gak jadi haha. Baru setelah tiba di Jakarta kepikiran, kok kita gak belanja apa-apa ya untuk oleh-oleh buat saudara dan teman, akhirnya di bandara Soekarno-Hatta belanja oleh-oleh roti unyil 3 kotak…eh baru setengah hari sudah dihabisin krucil 2 kotak, tinggal satu kotak bawain untuk teman-teman. Biasanya orang pulang dari Arab oleh-olehnya kurma, kismis, kacang eh kami malah roti made in Indonesia…hahaha, maafkanlah kami. Kalau boleh saya sarankan sih belanjalah sebanyak-banyak yang mampu anda bawa daripada menyesal kemudian…haha.

Gunung Tsur

Pada tahu kan cerita tentang gunung Tsur ini? Waktu Nabi Muhammad hendak dibunuh oleh kaum kafir yang membenci nabi, Nabi Muhammad bersembunyi di gunung Tsur ini, letak guanya jauh diatas gunung tidak terlihat dari bawah. Dengan pertolongan Allah SWT, Nabi Muhammad selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Rombongan kami diajak melihat Gunung Tsur ini walau dari bawah, jadi gak keliatan nih guanya.

Selain gunung ini, ada beberapa tempat sih yang dikunjungi, termasuk melalui Gua Hira. Tahukan Gua Hira ini? Tempat nabi menerima wahyu pertama, tapi karena letaknya jauh tinggi jadi bis hanya melaluinya saja.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah ini letaknya di Padang Arafah. Konon di Jabal Rahmah inilah tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa yang terpisah setelah diturunkan dari surga oleh Allah SWT. Jabal Rahmah sendiri diartikan sebagai gunung kasih sayang, dan dipercaya untuk kelancaran jodoh. Itulah sebabnya supir bis rombongan kami secara bercanda berpesan kepada ibu-ibu kalau suami berdoa disini jangan langsung diaminkan …hehe.

Di Jabal Rahmah ini kami tidak naik ke atas bukitnya. Umumnya yang naik yang masih muda-muda. Jadi cukup berfoto-foto di bawah.

Advertisements