Nongkrong di Boulevard

19 10 2013


Setelah istirahat sejenak di kamar hotel, kami memutuskan mengajak ayah melihat-lihat Manado dengan krucil sebagai pemandunya hehe. Dari hotel jalan kaki terus hingga zero point, lanjut ke jalan Sam Ratulangi, mampir sejenak melihat-lihat ukiran di toko souvenir (dan tidak membeli apapun hehe) dan akhirnya menyerahkan keputusan kepada ayah…mau wisata kuliner di Tinutuan Wakeke atau mau nongkrong di Boulevard? Ayah bunda sih sebenarnya pengen ke Tinutuan Wakeke, masa setiap ke daerah lain gak pernah nyobain makanan khasnya, selalu aja makannya fast food lagi…fast food lagi kesukaan krucils…hiks TT

Seperti biasa kali ini pun ayah bundanya harus mengalah lagi karena krucils merengek-rengek pengen nongkrong di Boulevard aja (walau ikutan ngomong nongkrong, kemudian si bungsu bertanya…”nongkrong itu apaan sih bunda?” hehe) dengan alasan tadi kan sudah makan di hotel…masa makan lagi? Jadilah kami akhirnya ke McD Boulevard aja, minum-minum sambil duduk-duduk menikmati suasana Manado di sore hari sambil memandang laut.

Walau tampak sederhana karena tidak melakukan aktivitas apapun, hanya minum dan duduk tapi rasanya menyenangkan banget kalau kumpul dengan formasi lengkap seperti ini. Setelah krucils menghabiskan minumannya gelas kedua, kami pun memutuskan kembali ke hotel. Matahari mulai condong menandakan sudah sore hari, jam pun menunjukkan sudah mendekati waktunya kami ke bandara. Pulang dari Boulevard kami naik angkot dengan meminta supir angkot langsung mengantar ke hotel dan pengelanaan kami di Manado pun berakhir…seru, menyenangkan, dan penuh kejutan πŸ˜€

Advertisements




Bunaken, Kami Kembali !

19 10 2013


Setelah sholat Ied, kami kembali ke hotel. Sarapan dulu sekalian memperpanjang hotel setengah hari karena malam itu kami akan ke Makassar. Selesai sarapan kembali ke kamar, istirahat sejenak sambil berunding akan kemana kami hari itu bersama ayah.

Ayo yah, kita mau kemana nih? (mumpung ada bos besarnya nih hehe). Terserah kalian mau ngajak ayah kemana, ayah kan baru datang…kalian dong yang ngasih tahu ayah. Krucils kemudian heboh ngajak ayah ke Bunaken, “ke Bunaken aja ya yah”…hadeuh gak puas-puasnya kemaren seharian main air di Bunaken. Tapi karena bos besar mengangguk setuju, anak-anak pun langsung lompat-lompat kegirangan, yang bikin ayah tambah penasaran sebagus apa sih Bunaken itu sampe krucils minta kembali.

Saya menyarankan untuk menelpon Daeng dulu tapi ayah bilang kita cari langsung di pelabuhan aja, kalau mahal gak usah. Begitu sampai pelabuhan, beberapa orang langsung mendekat menawarkan kapal. Harga yang ditawarkan umumnya 950rb, bahkan ada yang 1,2jt…wuidih, mahal beneur. Ayah pun menyuruh saya telp Daeng tapi entah kenapa gak bisa tersambung. Sewaktu saya mengangkat muka dari layar HP, eh terlihat Daengnya sedang asik nelp tidak jauh dari situ. Langsung hebohlah saya teriak-teriak manggil Daeng…hehe…lucu juga jadinya, namun karena posisi saya masih agak jauh dia tidak mendengar. Beberapa orang yang awalnya berada di dekat kami perlahan menyusut hingga tertinggal satu orang. Nah, orang yang tersisa ini mungkin karena tahu kami hendak mendekati Daeng, dia kemudian gak mau kalah…dia menawarkan harga super miring tapi join dengan orang lain.

Si bapak : ” Gini deh mas (ngomong ke ayah), sebentar lagi jam 9 nanti saya ada tamu mau ke Bunaken juga. Dia hanya berdua, mas ikut kapal dia aja, kapalnya besar kok tapi nunggu mereka datang dulu sebentaaarrr aja. Mas cukup bayar 400rb, gimana?”
Ayah : Mereka dimana sekarang?
Si bapak : Sedang perjalanan kesini dari hotel.
Saya : Boleh, tapi 300rb (tetap emak-emak kudu nawar hehe)
Si bapak : Oke. Kalau mereka nanya, bilang aja mas saudara saya ya.
Hadeuh, atur-atur ajalah pak…kan situ yang nawarin.

Dan kami pun disuruh duduk ditangga tidak jauh dari belakang hotel kami, kesian deh kayak anak terlantar hehe. Nunggu beberapa lama, kok belum muncul juga? Eh si bapak yang nawarin ikutan ngilang, jangan-jangan gak jadi nih. Melihat kami duduk-duduk disitu, beberapa orang mulai mendekati lagi…menawarkan kapal lagi. Seorang bahkan akhirnya malah ikutan duduk dan ngobrol ngolor ngidul tentang Bunaken dan Manado dengan ayah , agaknya dia sudah lupa dengan tujuan awalnya menawarkan kapal…hehehe…

Tepat ketika kami memutuskan, sudahlah gak jadi aja lama bener (yang katanya jam 9, eh sudah 9.30 belum ada tanda-tanda juga. Kami kan malam ini harus ke bandara lagi) si bapak mendatangi kami lagi. Ayo mas, kita ke kapal katanya seraya mengajak kami ke pelabuhan. Nunggu di dalam kapal beberapa saat muncul rombongan 8 orang ibu-ibu dan seorang bapak yang dipanggil pak lurah oleh ibu-ibu tadi. Walah, katanya tamunya cuma dua orang kok jadi 9 sih hehehe…

Walau kapalnya cukup besar, kapasitas 15 orang, tetap aja jadinya sesak. Kami memutuskan duduk di atap aja sambil dibantu pemilik kapal, seru juga memandang laut dan Manado Tua dari atas atap kapal yang menggol kiri kanan jika terkena ombak, lebih seru lagi karena kali ini ditemani ayah. Mendekati Bunaken, lagi-lagi terlihat sampah …bahkan pemilik kapal menunjukkan banyaknya sampah yang mengapung disitu, ya kantong kresek, bungkus makanan, gelas air kemasan, dsb. Sebagian akhirnya terlihat tenggelam seperti kantong kresek dan menutupi terumbu karang…sayang banget.

Sebelum kami mengajak ayah ke Bunaken, saya tidak menceritakan kondisi Bunaken ke ayah karena saya ingin ayah melihat sendiri dan menilai sendiri secara objektif tidak berdasarkan hasil pengamatan saya. Begitu kami turun, banyak sekali starfish di pantai…krucils langsung senang, heboh minta berfoto sama starfish tapi ayah yang pegang …piye itu? Pengen dan penasaran tapi takut tuh artinya…hehe. Akhirnya sulung berani setelah dikasih tahu rasanya seperti pegang batu, sementara bungsu masih aja takut-takut.

Ayah ganti celana, sewa snorkle untuk dirinya dan sulung kami (200rb)…kami pun diantar menuju spot snorkling terbaik katanya. Mereka awalnya memaksa kami menggunakan pemandu tapi ayah gak mau…laaa ayah kan sudah pernah snorkling di Derawan, aneh banget kalau dipaksa pake pemandu, di Derawan aja bebas-bebas aja. Awalnya saya gak mau ikut, pengen nunggu di darat aja deh sambil nyeruput kelapa muda lagi. Tapi ayah nyuruh ikut aja, nunggu di kapal aja sama adek biar adek juga bisa liat ikannya dari kapal, kata ayah. Baiklaaah, berangkaaat…

Di spot snorkling tersebut ayah dan abang nyemplung. Sulung saya walau sudah di leskan renang sejak playgroup tapi ogah-ogahan itu hingga sekarang gak bisa berenang dan agak takut nyemplung air. Walau sudah pakai pelampung dan di pegangin ayah tetap aja jerit-jerit heboh, ayah…kembali ke kapal. Atau, ayah….pegangi abang (padahal memang dipegangi terus sama si ayah) hehe. Atau, airnya masuk hidung yah…atau leher abang kram…lain waktu teriak masker abang jatuh yah, sampai tukang kapal sebelah (yang juga sedang ngantar tamu snorkling) yang nyelam ngambilin masker yang jatuh….wkwkwk…ada aja yang dijeritkan si abang, sampai ngakak ayah dan bunda ngeliatnya. Padahal waktu di Phi-Phi dia berani loh snorkling bersama ayah, malah lautnya lebih dalam dari yang di Bunaken, kenapa ini malah heboh sendiri jerit-jeritan…hehehe…

Menunggu dikapal resikonya adalah ikut terombang ambing kapal mengikuti gelombang air. Hal ini membuat bungsu saya yang memang ogah snorkling dan hanya menunggu dikapal mabuk. Ini yang saya prediksi sejak awal, pengalaman waktu menunggu ayah dan abang snorkling di Phi-Phi kan begitu juga. Akhirnya setelah beberapa saat snorkling, kami memutuskan kembali ke darat dulu. Makan minum, ganti baju dulu. Tapi abang (sulung saya) masih mau main air di pantai dulu katanya, ayah beli baju Bunaken di tempat jual souvenir, bunda pesan pisang goreng pesanan adek, adek duduk-duduk dekat bunda karena moodnya sudah hilang untuk main air akibat jatuh karena takut liat doggie yang banyak berkeliaran di Bunaken ini.

Belum selesai pesanan pisang goreng dimasak, eh pemilik kapal mendatangi kami. Katanya rombongan ibu-ibu tadi sudah mau pulang ke Manado…waduh, tunggu dulu, saya sedang beli pisang goreng nih (sudah terlanjur bayar lagi). Akhirnya kami ditunggui. Pisang goreng di Bunaken ini kesukaan bungsu saya, dia sengaja ngajak kami ke Bunaken ya demi beli pisang goreng ini karena sehari sebelumnya saat kami ke Bunaken bertigaan aja, dia makan banyak pisang ini yang katanya enak banget itu. Sampai malamnya ketika kami di Manado, dia minta beliin pisang goreng Bunaken lagi, jadi ya saat kembali ke Bunaken lagi bersama ayah salah satu tujuannya ya untuk beli pisang goreng lagi hehe…

Setelah pisang goreng selesai dimasak, kami segera menuju kapal yang telah menunggu eh ternyata rombongan ibu-ibu tadi malah belum siap hehe. Di kapal sembari menunggu beberapa ibu ke kamar kecil kami ngobrol dengan ibu-ibu yang di kapal. Mereka bertanya asal kami, apakah kami muslim, berapa tiket ke kota kami, bahkan seorang ibu bercerita tentang keponakannya yang berada di kota kami…hehe. Ibu-ibu ini adalah rombongan ibu-ibu PKK dari Manado yang sedang liburan bareng.

Kemudian kapal jalan sebentar lalu berhenti di dekat kapal yang lebih besar sedikit. Mentransfer rombongan ibu-ibu tersebut ke kapal kaca, kami diajak bergabung oleh pemilik kapal dengan “hanya” membayar 100rb/orang…namun kami menolak, kan tadi sudah snorkling sudah liat “isi” lautnya hehe. Menunggu sekitar 15 menitan, ibu-ibu tersebut kembali ke kapal dan kapal pun melaju menuju Manado.

Sekitar jam 14.30, kami pun sudah istirahat di hotel. Semua mandi, istirahat, makan, guling-guling di tempat tidur sambil melihat hasil foto di kamera dan cerita sama ayah. Ayah lalu mengemukakan pandangannya bahwa sayang banget Bunaken kotor oleh sampah, serba mahal, dikit-dikit harus bayar ini itu, padahal ikan yang mau diliat hampir tidak ada. Sebenarnya agak rugi sudah bayar mahal untuk ini itu tapi gak ada yang bisa dilihat. Kalau bayar mahal tapi ikannya banyak sih masih setimpal, laa ini cuma liat terumbu karang hehe.. Atau seperti di Phi-Phi, yang memang bawah lautnya kalah keren tapi servicenya memuaskan dengan harga yang jauh lebih murah. Itu sebabnya wisata kita kalah pamor dari negara-negara tetangga yang padahal sih Indonesia jauh lebih indah dari negara tersebut. Ya memang sangat disayangkan sih, padahal menurut kami sampah-sampah yang mengambang itu bisa dibersihkan kok kalau memang ada niat dan ada perhatian dari pihak-pihak yang terkait…





Idul Adha di Manado

18 10 2013


Selama ini kalau lebaran kami selalu di rumah orang tua saya, sesekali di rumah mertua. Tidak pernah sekalipun kami lebaran di tempat lain, kecuali lebaran Idul Adha tahun ini, kami berada di negeri orang eh sebenarnya masih di negeri sendiri sih, maksudnya adalah di daerah orang…hehe.

Ya Idul Adha kali ini tanpa kami rencanakan, kami berada di Manado! Memang saya sudah beli tiket ke Manado ini sejak awal tahun untuk memanfaatkan libur nasional, bukan tepat saat Idul Adhanya tapi beberapa hari setelahnya. Namun sebulan sebelum jadwal keberangkatan tiba-tiba kami dapat e-mail dari maskapai bersangkutan bahwa jadwal keberangkatan kami diundur dan kami diperbolehkan mengganti hari sesuai yang kami inginkan. Setelah mencocokkan jadwal akademik krucils, ya sudahlah…dimajuin seminggu dari jadwal semula aja dan diperpanjang dari awalnya hanya sehari di Manado jadi empat hari, mumpung ada libur lebaran.

Hingga akhirnya disinilah kami, Idul Adha di daerah orang. Menjelang malam Idul Adha sudah mulai terdengar takbir di masjid pasar yang letaknya tidak jauh dari hotel dan pelabuhan. Hanya bertigaan bareng krucils sedih juga rasanya tapi malam itu ayah telp, ayah akan menyusul ke Manado menggunakan pesawat malam…yippie…akhirnya si ayah bisa libur juga.

Subuh-subuh hari keempat di Manado sudah terang benderang, agak kaget kami terbangun melihatnya dari balkon hotel. Idih, jangan-jangan terlambat nih untuk sholat Idul Adhanya. Buru-buru mandi, siap-siap, dan berangkaaat! Di resepsionis minta koran bekas karena kami tidak membawa sajadah, tapi tidak ada…OMG. Yo weslah, nanti minta di mesjid ajalah pikir kami. Agak bingung juga kami mencari masjid di Manado ini, celingak celinguk nyari arah mesjid di dekat pelabuhan malah dikira mau ke Bunaken…hehe.

Ketika akhirnya kami menemukan sumber asal suara takbir dari balik Pasar Bersehati dan Calaca, rupanya sholat Idul Adha diadakan di lapangan terbuka di tengah Pasar Bersehati sehingga aktivitas pasar masih terlihat disekitar tempat sholat. Dan lapangannya masih sepi banget, hanya terlihat dua orang bapak yang sedang takbir menggunakan pengeras suara dan seorang ibu di deretan belakang. Ketika kami memasuki area sholat, kami malah ditegur bapak tersebut yang kira-kira mengatakan bahwa ini untuk tempat sholat, dilarang jalan-jalan di daerah tersebut. Seketika ayah dan saya pun saling berpandangan, duh memangnya segitu banget ya keliatan turisnya sampai dikira kami turis iseng yang cuma jalan-jalan aja disekitar situ…hahaha.

Ternyata kami kepagian. Cukup lama juga kami menunggu, sholat dimulai jam 7 pagi tepat…padahal kami sudah berada di situ sejak jam 5.30 pagi karena melihat matahari sudah terang benderang seperti sudah jam 7 atau 8 pagi…gak liat-liat jam lagi hahaha. Akibat kelamaan nunggu, perut jadi keroncongan, jadi gak konsen …hehe. Sesaat sebelum sholai Ied dimulai, warga pun berdatangan walau tidak sebanyak jika sholat di kota lain akibatnya lapangan tersebut lebih banyak ruang kosongnya dibanding terisi oleh jamaah, yang dari logatnya diperkirakan berasal dari Makassar atau Gorontalo. Inilah rasanya sholat di kota yang mayoritas penduduknya beragama lain. Dan seperti slogan salah satu kampanye yang terpampang disebuah baliho besar dilapangan tersebut, mari torang rame-rame…mari joo…hehe..Alhamdulillah Idul Adha ini kami bisa kumpul dan liburan bareng sama si ayah yang super duper sibuk.

Selamat Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin semuanya πŸ˜€





Bunaken, Kami Datang !

18 10 2013


Waktu saya kecil, ada permainan yang saya lupa lagi namanya. Cuma yang saya ingat adalah di permainan tersebut ada sebuah peta Indonesia tentang tempat-tempat wisata terkenal seperti danau Toba, Bunaken, dsb. Dulu waktu kecil sih rasanya jauh banget Bunaken itu, hanya bisa memandangi gambar ikan yang ada di peta permainan tersebut πŸ˜€

Beberapa puluh tahun kemudian akhirnya saya bisa menginjakkan kaki ke Manado. Itu sebabnya gak sah banget rasanya kalau tidak melihat Bunaken yang tersohor tersebut. Manado ya identik dengan Bunaken, penting banget nih ngabsen disini walau saya dan krucil saya tidak bisa berenang apalagi diving (padahal penting banget kemampuan berenang dan diving jika mengunjungi taman laut-taman laut seperti ini), yang penting bisa liat dari dekat seperti apa sih Bunaken itu…hehehe..

Letak pelabuhan menuju Bunaken tepat persis di belakang hotel kedua kami di Manado. Sepanjang hari dari balkon kamar saya sering memperhatikan aktivitas pelabuhan tersebut dan mengetahui ada jadwal kapal umum untuk warga yang harganya hanya 12rb/orang, namun hanya berangkat satu kali setiap harinya yaitu siang sekitar jam 14.00 atau 15.00 dan akan kembali ke Manado keesokan harinya jam 09.00. Jika kami mengikuti kapal ini berarti kami harus bermalam di Bunaken. Saya sih oke-oke saja tapi karena bawa krucil, banyak hal yang saya pertimbangkan seperti resort di Bunaken bernuansa alam, tanpa ac, tanpa tv. Kebayang krucils tidur tanpa ac, banyak nyamuk, kalau malam bingung ngapain karena tidak ada tv….hehehe, jadi saya lebih memilih nginap di Manado aja deh. Menginap di Manado sama artinya mau gak mau harus sewa kapal agar bisa bolak balik Bunaken-Manado semau kami.

Itulah sebabnya dengan semangat menggebu, begitu bangun subuh di hari ketiga di Manado yang langsung saya lakukan adalah menelpon Daeng. Siapa sih Daeng itu? Saya juga gak kenal sih, cuma dapat nomor kontaknya dari beberapa blog travelling. Daeng ini seorang pemilik kapal yang sering mengantarkan orang-orang yang akan ke Bunaken serta snorkling disana dan dengan dicantumkan nama dan kontak telpnya di blog artinya direkomendasikan oleh orang-orang yang pernah menggunakannya jasanya.

Sebenarnya untuk mencari kapal sewaan seperti ini sih gampang, anda bisa berjalan ke pelabuhan tersebut dan bisa dipastikan seketika beberapa orang akan mendekati anda menawarkan kapal. Cuma cara ngoboy seperti ini ada plus minusnya, minusnya harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dibanding jika sudah kontak dulu dengan pemilik kapal (umumnya menawarkan harga 950rb – Rp 1,2jt). Plusnya terkadang anda bertemu sesama traveller yang juga sedang mencari kapal, kalau beruntung anda bisa sharing cost (karena kapal yang ada biasanya kapasitas 10-15orang) sehingga lumayan menghemat pengeluaran.

Nekat nelp Daeng padahal isi dompet sudah menipis belum ambil uang, kemudian Daeng menawarkan harga 750rb. Weis, bukan emak-emak dong kalau gak nawar…busyet Daeng, temanku baru dari sini dia bilang 500rb. “Kali dia tahun kemaren mbak, sekarang tarifnya naik”, jelas Daeng. Dia ke Bunaken Juni tahun ini, kata saya ngotot. “Dulu memang 500rb mbak, saya masih pakai kapal kecil sekarang kapal saya yang gede untuk 10 orang”, katanya lagi gak mau kalah. “Saya gak masalah tuh pake kapal kecil tapi harganya tetap 500rb, ngotot gak mau kalah juga…hehe. “Tapi kapal saya sekarang yang besar mbak, yang kecil masuk dock… anak-anak juga bisa main di dalam kapal kalau kapal besar”, sahutnya lagi. Setelah ngotot-ngototan beberapa menit akhirnya kami sepakat 600rb, deal.

Mahal memang…tapi demi Bunaken apa boleh buat. Janjian bertemu Daeng jam 8-an dipelabuhan, saya pun segera membuka peta kota untuk mencari lokasi ATM terdekat dengan hotel. Nemu, ngajak krucil berkelana subuh-subuh nyari ATM dan ternyata saya baru tahu kalau ruko-ruko sekitar hotel yang siang digunakan berjualan berbagai macam, malam -subuh depannya berubah fungsi jadi tempat tidur gelandangan. Miris liatnya, kok bertolak belakang banget dengan aktivitas tidak jauh dari situ di pelabuhan dimana turis-turis mancanegara maupun domestik berbagai gaya berdatangan. Satu lagi pelajaran yang bisa dipetik, hidup itu bagai dua sisi mata uang, ada siang ada malam…syukurilah kehidupan yang kita punyai saat ini.

Setelah muter-muter gak tentu arah, bolak balik (maklum bingung baca peta wkwkwk), akhirnya nemu juga ATMnya..yippie. Balik hotel, sarapan dulu. Naik ke kamar untuk siapin jaket, cemilan, krucils pakein baju renang…gak berapa lama Daeng telp. Oke, kita siap berangkat dan dijemput Daeng ke hotel. Di pelabuhan lumayan padat, ada yang baru turun ada yang mau naik…dan olala di kapal kami ada bule! Protes ke Daeng, kok gabung sama orang lain? Bulenya cuma mau diving kok mbak, tenang aja…kapalnya punya mbak kok…halah.

Dan berangkat…kami lebih suka duduk di depan memandang lautan, memandang Manado Tua sambil ditiup angin. Liat krucils terlihat sumringah, rasa senang terpancar diwajah mereka…sip, gak sia-sia bunda sewa kapal hehe. Lama perjalanan 45menit – 1 jam, tergantung jenis kapal. Begitu mendekati Bunaken…hmmm…terus terang saya agak kecewa, tidak sesuai ekspektasi saya. Laut terlihat kotor oleh sampah, liat ke bawah…iya sih banyak terumbu karangnya dan ada banyak starfish (bintang laut) tapi minim ikan, ikan jarang terlihat berseleweran seperti saat saya ke Derawan yang dari pantainya saja sudah terlihat ikan bergerombol ditambah penyu hijau yang mondar-mandir cukup menghibur untuk orang-orang yang tidak bisa berenang seperti saya.

Mungkin ikan banyak tapi di lokasi khusus snorkling dan laut yang lebih dalam untuk diving, demikian saya pikir. Yo weslah, terima nasib aja sebagai orang yang gak bisa berenang salah sendiri kalau milih wisata taman laut seperti ini wkwkwk…akhirnya begitu kapal merapat, saya lebih memilih duduk-duduk sambil nyeruput (halah nyeruput kan buat kopi…hehe) kelapa muda dan makan pisang goreng yang dikasih sambel dabu-dabu (katanya sih nama sambalnya itu, hasil nguping tetangga sebelah duduk yang juga sedang makan pisang goreng hehe). Sementara krucils langsung heboh bermain dipantainya, entah apaan yang menarik bagi mereka la wong gak ada apa-apanya kok hehehe…

Melihat saya hanya duduk-duduk Daeng langsung menghampiri saya. “Mbak, kalau mau snorkling nanti saya antar ke lokasi snorkling pake kapal, gratis kok” (ya iyalah gratis kan sudah saya sewa…piye sih ? hehe). Gak deh mas, saya gak bisa berenang …anak-anak saya juga pengen main air aja tuh. “Sayang mbak kalau kesini gak snorkling, disana gak dalam kok, tempatnya bagus. Tapi kalau kesana harus pake baju khusus (wet suit), soalnya karangnya tajam-tajam”. Nah ini dia yang saya hindari nyewa alat snorkling dan wet suit, untuk apaan coba nyewa alat snorkling bekas ganti-gantian dengan banyak orang ditambah harganya mahal 150rb/orang, wong gak bisa berenang juga. Kalau memang mau snorkling ya mending dari awal saya bawa alat punya saya sendiri dari rumah hehe…

Enggak mas, saya mau duduk-duduk di sini aja, kata saya mengakhiri percakapan. Lagian krucils pada gak mau diajak snorkling, nunggu ayah aja kata mereka…laa ayah aja baru besok ke Manado…hehe. Jadilah saya duduk-duduk manis meneruskan seruputan kelapa muda sambil memperhatikan aktivitas turisme di pulau ini. Kalau mau snorkling harus sewa alat dan baju (kecuali memang bawa sendiri, tapi rasanya jarang banget ada yang bawa-bawa begituan).

Setelah saya pikir-pikir kok ya mahal biaya ke Bunaken ini yah. Sewa kapal 950rb (kalau di pelabuhan). Sewa baju + masker+finn = 150rb /orang. Untuk yang pengen berfoto dalam air disediakan sewa kamera underwater = 350rb. Kalau mau snorkling harus ditemani pemandu yang artinya harus sewain alatnya juga plus biaya pemandu 50rb = 200rb. Kalau mau menikmati kapal yang ada kaca, 150rb/orang dari Bunaken untuk waktu 30menitan. Kok semuanya harus bayar hehe…

Walau Indonesia jauh lebih indah, tapi kalau semua serba mahal ya orang jadi malas. Saya jadi membandingkan dengan waktu saya ke Phi-Phi Island, biaya yang dikeluarkan perorang 300rb-an. Itu sudah terima beres, ya kapal, makan siang, masker dan pelampung untuk yang mau snorkling plus pemandu snorkling sudah termasuk kedalamnya, Island hopping (pindah-pindah pulau), belum lagi kebersihannya (laut dan pantainya bersih banget tanpa sampah, kapalnya bersih dan wangi) dan servicenya yang memuaskan banget…tiap saat selalu tersedia minuman dingin berbagai rasa ditambah berbagai snack dalam kapal yang lumayan mewah dibandingkan kapal ke Bunaken ini. Atau gak usah jauh-jauhlah…dengan Derawan aja kok kayaknya kalah. Derawan walau juga mahal tapi lautnya bersih banget, ikannya banyak, penyu mondar-mandir bebas di pantai (dulu sih, entah kalau sekarang…hehe).

Tapi pengalaman itu kan penting dan mahal harganya, jadi apapun ganjalannya saya tetap enjoy-enjoy aja selama krucils saya senang. Ketika saya tanya bagus mana Phi-Phi sama Bunaken, serentak mereka menjawab …Bunaken! Tuh kan mereka senang-senang aja…saya gak bisa complain dong, la wong tugas saya hanya membahagiakan mereka hehe. Mereka betah banget main air disini, sampai 3 jam main air dan kulit mulai keriput-keriput masih aja nawar 1 jam lagi ya bunda, pleaseee…hehe…

Ketika akhirnya jam menunjukkan angka 12.30, saya menyuruh krucils berhenti bermain air. Hari makin terik, belum makan siang hanya nyemil karena yang dijual disekitar situ hanya pisang goreng. Sudah saatnya balik ke Manado. Ketika jam menunjukkan angka 13.30, kami pun sampai kembali ke pelabuhan. Sesampai dihotel krucils mandi, pesan makanan…dan saatnya istirahat…ZzzzzzzzZz





Tarsius, Monyet Terkecil di Dunia

17 10 2013

20131017-031709.jpg

Setelah melihat pemakaman kuno Waruga di Airmadidi, supir pun mengarahkan kendaraan menuju Bitung. Kata pak supir sih kalau dari Manado ke arah Tomohon bertolak belakang dengan jalan menuju Bitung. Tapi berhubung kami tadi ke Tomohon dulu, lalu lanjut Tandano, Airmadidi, dan akhirnya ke Bitung artinya kami mengelilingi danau dan gunung agar bisa terus satu jalur tidak harus kembali ke Manado dulu. “Kita ini sudah melalui 5 kota dan kabupaten loh bu”, jelasnya. Kayaknya baru kali ini dia menemukan pelanggan yang ngider-ngider mulu ke berbagai tempat wisata yang tidak umum…hahaha..

Kali ini tujuan kami adalah Tandurusa di Bitung. Memangnya ada apa sih di Tandurusa ini? Disitu ada semacam mini zoo, kebun binatang kecil-kecilan (dan memang kecil), koleksi pribadi yang berisi hewan-hewan khas daerah ini, salah satunya Tarsius. Yang pasti saya hanya ingin mengajak krucils saya melihat hewan langka khas daerah ini, yaitu Tarsius monyet terkecil di dunia.

Sebenarnya menurut saya yang bagus itu sih ke Tangkoko (hutan konservasi tempat Tarsius ini berada) tapi kalau bertigaan aja mikir-mikir dulu deh masuk hutan hanya bersama anak. Pertama, hutan gitu loh…pasti banyak serangga terutama nyamuk sih sedangkan perlengkapan perang yang saya bawa hanya standard, jaket, topi, minyak, cemilan dan minuman saja. Kami juga saltum (salah kostum) kalau harus masuk hutan dengan pakaian yang saat itu kami kenakan πŸ˜€ Kalau ada ayah pasti perlengkapan perang masuk hutan sudah dipersiapkan matang dan lebih lengkap dengan berbagai macam asesoris salah satunya yang penting untuk krucil adalah lotion anti nyamuk dsb…jadi kalau mau masuk hutan mending sama ayah deh…hehe. Kedua, pengawasan saya pada keselamatan krucils tidak akan maksimal jika hanya saya seorang diri, kecuali ada ayah yang bisa bagi-bagi tugas, satu dewasa menjaga satu anak…lebih maksimal.

Itu sebabnya saya lebih memilih ke Tandurusa dibanding ke Tangkoko, walau sebenarnya sama-sama berada di Bitung. Sesampainya di Tandurusa, supir kami menyuruh orang dari Tandurusa agar memandu kami selama disana, biaya masuk dan guide 50rb. Sulung saya yang sedang terlelap langsung bangun begitu mendengar kebun binatang hehe, sedang bungsu saya lebih memilih meneruskan tidurnya dalam mobil.

Dipandu oleh pemandu ini menguntungkan juga, selain dijelaskan (walau tidak maksimal karena pemandunya masih remaja) tentang hewan-hewan yang kami temui, kami juga diperkenankan masuk ke dalam kandang Tarsius sehingga kami bisa melihat dari dekat Tarsius ini. Melihat dari dekat Tarsius rasanya menakjubkan, antara percaya dan tidak…OMG, selama ini hanya liat di majalah atau tv, sekarang ada di depan mata.

Tarsius ini ukurannya mungil banget, hanya segenggaman orang dewasa, matanya besar seperti mata burung hantu, wajahnya terlalu mungil dibanding ukuran matanya. Lucu banget seperti boneka hehe. Setelah puas dengan Tarsius kami pun melihat koleksi hewan lain yang juga khas dari sini seperti monyet pantat merah (Macaca Nigra), Ular Kobra merah penyembur dan Kukang. Sisanya saya hanya menemanin sulung saya yang memang suka melihat berbagai hewan.

Kembali ke mobil ternyata bungsu saya sudah bangun, akhirnya kami berkeliling Tandurusa sekali lagi (kali ini tanpa ditemani pemandu yang sibuk dengan rombongan besar yang baru datang) dan terutama menunjukkan Tarsius pada si kecil saya yang antusias sekali melihat monyet yang lebih mirip boneka ini hehe. Juga dia pengen melihat monyet yang merebut iPad bunda (dengar dari cerita abangnya, memang saya terlalu dekat mengambil foto menggunakan tablet sehingga sempat direbut Macaca Nigra…hehe). Setelah krucils puas, kami pun memutuskan sudah cukup pengelanaan kami hari itu…saatnya istirahat di hotel…benar-benar lelah mengelilingi 5 kota dan kabupaten seperti kata pak supir hehe…





Pemakaman Kuno Waruga di Airmadidi

17 10 2013


Menyusuri danau Tandano, melalui Kampung Jawa yang merupakan keturunan-keturunan kyai Modjo, yang menurut cerita supir kami adalah panglima perang yang dibuang ke daerah ini oleh Belanda, perjalanan kami akhirnya sampai di kecamatan Airmadidi di Minahasa Utara.

Tujuan pengelanaan kali ini adalah Waruga, komplek pemakaman kuno yang merupakan peninggalan prasejarah berupa makam-makam yang terbuat dari batu. Waruga ini sendiri letaknya diantara pemukiman penduduk dan tampak terlantar dan tidak terawat.

Dulunya makam-makam batu ini ditemukan tersebar dibeberapa tempat, kata supir kami. Kemudian makam batu tersebut disatukan di satu tempat, ya di Waruga Airmadidi ini. Bentuk makamnya seperti miniatur rumah dari batu, terdiri dua lempengan batu yaitu satu batu berbentuk persegi panjang yang tengahnya sudah dilubangi untuk tempat meletakkan mayat, satu lagi batu berbentuk segitiga sebagai penutup diatasnya. Dan di batu berbentuk segitiga inilah terdapat beberapa ukiran yang saya sendiri tidak mengerti maksudnya.

Saya hanya berdua dengan sulung saya disini, ditemani pak supir yang sedikit memberi penjelasan tentang Waruga ini kepada kami. Sementara bungsu saya takut sehingga menunggu di mobil, walau juga tampak takut tapi sulung saya tidak dapat membendung keingintahuannya tentang Waruga sehingga memutuskan ikut bunda turun mengitari komplek pemakaman prasejarah yang tampak sepi dan sunyi ini. Ketika kami akhirnya selesai, sulung saya kemudian bercerita dengan semangat ke adeknya yang menanti di mobil dan ke ayahnya ketika dua hari kemudian menyusul kami ke Manado, tentang bagaimana bentuk makam ini, tentang arti ukiran-ukiran yang berbentuk cerita di dinding jalan menuju makam πŸ˜€





Menggigil di Danau Tandano

17 10 2013


Pengelanaan kami selanjutnya adalah danau Tandano, di Tandano Minahasa. Lama perjalanan dari bukit doa sekitar 1 jam, selama perjalanan saya dan krucils ngantuk berat sehingga kami jatuh tertidur. Ketika akhirnya mobil berhenti disebuah gerbang yang bertuliskan Sumaru Endo, saya pun kaget. Loh…loh… pak, kita ke danau Tandano…kok malah Sumaru Endo sih? Setahu saya sih di danau Tandano ada rumah makan diatas air, bukan rumah begini yang bahkan tidak terlihat ada danau disekitar situ dari gerbang tempat kami berhenti.

Iya, kita sudah di danau Tandano ini kata supir meyakinkan saya. Biaya masuk 24rb sudah termasuk biaya masuk mobil dan orang, rinciannya lupa lagi. Begitu mobil memasuki gerbang dan parkir, baru terlihat oleh saya danau yang luas. Turun dari mobil, udara dingin dan angin seketika menerpa kami. Perut langsung terasa keroncongan dan pandangan langsung tertuju pada restaurant…hayuu anak-anak kita nyari makan dulu.

Sembari menunggu pesanan makanan tiba, kami menggigil kedinginan walau matahari terlihat cemerlang….brrrr…diiingiiinnnn. Untung si bunda bawa ransel berisi perlengkapan perang kemana-mana, langsung saja jaket-jaket dikeluarkan dari dalam ransel, lumayan agak menolong menahan angin dingin yang menerpa kami. Sementara krucils saya langsung sibuk berlarian dan bermain di taman bermain di tempat wisata ini.

Lagi-lagi disini hanya ada kami, namun tidak lama kemudian mulai berdatangan rombongan-rombongan keluarga. Ada yang memesan kamar (rupanya ada penginapan juga disini), sebagian piknik dengan membawa makanan dari rumah. Setelah perut terisi, kami pun menjelajah tempat ini. Memandang danau yang luas tersebut, menikmati udara dinginnya yang menyegarkan serta memandang ombak yang berdebur di dekat kami. Baru tahu saya ternyata danau ada ombaknya juga, mungkin karena angin kencang yang menerpa. Ketika pengunjung semakin bertambah, kami pun memutuskan sudah saatnya kami beranjak dari tempat tersebut. Dan supir kami akhirnya mengajak kami menyusuri danau Tandano yang indah dan luas ini.