Kuala Lumpur – Yangon – Bagan – Singapore – Johor Bahru

22 03 2016

Seperti biasa, awal tahun kami awali dengan berpetualang dan seperti biasa pula selalu diawali dengan kepala mumet dengan berbagai hal menjelang berpetualang. Kebiasaan kami menjelang berpetualang adalah berdiskusi, mau kemana kita tahun ini ? Pertanyaan sederhana tapi bikin mumet, akhirnya pilihan jatuh ke Myanmar. Kenapa Myanmar ? Jawaban pastinya sih pengen aja, jawaban rada ilmiahnya…ya pengen aja…haha. Beberapa kenalan dan bahkan ortu saya bertanya, ada apa sih disana? Memangnya bagus? Hmmm…ada apa ya disana, laa belum tahu juga… kan belum kesana. Terus bagus gak ya, ya belum tahu juga kan belum liat…hehe. Bagi kami segala sesuatu itu relatif, selera aja. Nah kebetulan kami lebih suka memilih alternatif lain dengan perspektif yang berbeda dari kebanyakan orang 🙂

Setelah ok masalah tujuan, beli tiket, booking hotel, siapkan backpack…dan berangkat. Eits belum, seperti biasa lagi nih rutinitas menjelang berpetualang adalah krucil sakit. Sulung kami demam semingguan…bolak balik ke dokter alhamdulillah akhirnya sembuh, giliran bungsu batuk, lalu balik lagi sulung batuk lalu giliran ayah….aaahhh pusing. Ditambah lagi ayah disuruh job padahal satu hari menjelang hari H…aahhhh tambah pusing. Saat ijin ke sekolah untuk meliburkan krucil, eh baru dapat info kalau minggu depan UTS…what?! Kan kalender akademiknya aman-aman aja tanggal segitu…ahhh pusing pangkat tiga. Seakan belum cukup, giliran si bunda bisulan…eh bisulnya parah pula sampai susah jalan dan duduk…hahaha…parah banget deh kemumetan menjelang berpetualang, gak elit pula si bunda pakai acara kena bisul wkwkwkwk….

# Menuju KLIA2, Kuala Lumpur (Malaysia), 2 Maret 2016 #

20160322-113111.jpg

Alhamdulillah, semua masalah clear sehari sebelum berangkat. Semua sehat, siap berpetualang. Sip, markimon (mari kita kemon). Dari rumah naik taxi ke bandara. Taxi bandara sekarang mahal…70rb padahal jaraknya seuprit TT

Kami naik pesawat 11.50 dan tiba di Kuala Lumpur sekitar 14.30. Seperti biasa hotel kesukaan kami kalau transit di KL adalah Tune Hotel yang masih dilingkungan bandara, supaya memudahkan kami keesokan harinya. Sehari sebelum berangkat kami coba booking hotel di agoda, ternyata penuh…ah jadi pusing lagi deh. Untung pas buka website Tune, masih ada kamar kosong. Kelebihan nginap di hotel area bandara adalah setelah landing kami bisa santai-santai dulu di bandara, makan dulu. Setelah perut kenyang, hati senang, langkah pun terasa ringan.

Jalan kaki ke hotel, check in…duh tuh lobby penuh orang. Penuh dengan rombongan-rombongan, ada rombongan travel orang Indonesia yang mau ke Europe, ada juga rombongan satu pesawat dari China. Pantesan waktu booking di website kehabisan kamar. Sekarang saatnya istirahat…eh gak bisa istirahat juga, krucil bolak balik ngajak ke seven eleven untuk beli komik upin ipin dan beli cemilan.

# Menuju Yangon (Myanmar), 3 Maret 2016 #

20160322-114540.jpg

Subuh-subuh saya dan ayah bangunin krucil. Pesawat kami ke Yangon jam 06.55, boarding sekitar 06.15, belum lagi urusan imigrasi …akhirnya sekitar jam 05.00 subuh, kami keluar hotel menuju bandara…hiii masih dingin. Jam 5 subuh waktu Kuala Lumpur (KL) itu sama dengan jam 4 subuh waktu Jakarta, sebenarnya KL dan Jakarta satu waktu, cuma KL menyamakan jam dengan Sabah di Kalimantan. Jadi ketika jam menunjukan 5 subuh waktu KL sebenarnya masih jam 4 subuh.

Krucil begitu bangun cuma ganti celana dan cuci muka, untung mereka sudah terbiasa dengan jadwal petualangan yang tidak biasa…hehe. Kelar urusan imigrasi, masuk ke gate….nah baru deh disini nunggu waktu azan subuh, karena perbedaan waktu yang membingungkan itulah alasan kenapa waktu sholat subuh di KL sekitar jam 6 pagi. Kalau berpetualang ke negara Asia lain biasanya setidaknya ruang tunggu terisi minimal 30%nya dengan turis, laa ruang tunggu tujuan Yangon ini cuma segelintir aja turisnya. Kami berempat, sepasang bule sepuh, dan seorang bule…sisanya ya orang Myanmar.

Lama perjalanan sekitar 3 jam dengan perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dan Yangon sekitar 1,5 jam. Pesawat tujuan Yangon ini penuh banget, sehingga ketika kami beli tiket gak bisa milih-milih tempat duduk yang satu deret, akibatnya tempat duduk kami terpencar-pencar…krucil 7A dan 7B, saya 7D, ayah 21F. Begitu masuk pesawat, saya duduk dulu di kursi sebelah krucil, kemudian datang seorang pria Myanmar menunjuk kursinya. Saya minta tukar karena ada krucil, dia pun setuju…duh leganya.

Oh ya, saya sempat baca blog traveler yang pernah ke Yangon tentang penumpang memainkan HP di pesawat, saya kira itu cuma cerita lucu-lucuan aja…eh ternyata kami alami sendiri. Di ruang tunggu bandara tujuan Yangon saya memperhatikan hampir 80% calon penumpang memainkan HP, Hpnya kebanyakan keluaran terbaru. Nah begitu naik pesawat saya berharap penumpang yang main HP di ruang tunggu tersebut mematikan HPnya, tapi ternyata mereka masih aja asik main HP, ada yang masih telp-telpan sambil cekikikan, ada yang dengarin musik, ada yang main game, ada juga yang asik ngecek sms.

Tabahkan hati, semoga begitu mau take off tuh HP dimatikan, minimal airplane mode, disimpan dalam tas. Bujubune, itu sampai mau take off, pesawat sudah run di landasan masih asik main HP walau pramugari sudah ngingatin…arrrghhh saya jadi stress sendiri ngeliatnya. Bahkan pria baik hati yang bertukar kursi dengan saya masih main HP, akhirnya saya panggil si masnya, matiin dong HPnya…eh dia malah ketawa ngeliat tampang saya panik sendiri. Akhirnya HPnya dimasukan dalam tas …hufft bernafas lega kirain HPnya sudah dimatiin, eh ternyata sesaat kemudian masih bunyi-bunyi telp….aarrrggghhh. Itu gak cuma satu, hampir kebanyakan begitu…*pusing pala berbie*..

Begitu tiba di Yangon, kesan saya…bandaranya kecil. Kayaknya kecil, turun pesawat, jalan dikit langsung imigrasi…kemudian gak jauh imigrasi sudah pintu keluar. Penampakannya sih kecil, tapi kayaknya besar karena kalau diliat dari luar sih besar…haha, tahu deh mana yang benar. Sebelum keluar kami nukar uang dulu di Money Changernya…tuh money changer gak mau nerima Dollar kusut. Kalau nukar uang, Dollarnya diliat-liat lecek apa gak, kelipat apa gak…haha.. Ada salah satu Dollar kami yang kelipat dikiiit aja ujungnya, eh gak diterima. Untungnya ada money changer lain yang akhirnya mau nerima tapi harganya berkurang. Di pintu keluar ramai banget dengan orang-orang dan bising.

Kami tidak langsung menuju hotel, di bandara kami nyari kios bis tujuan Bagan. Nanya ke informasi, eh dia bilang bis ke Bagan tuh beli tiketnya di terminal, padahal info dari internet sih ada kiosnya di bandara. Akhirnya nyari-nyari sendirilah kami…eh nemu, nama bisnya JJ. Bis VIP tujuan Bagan dengan harga $22 / orang. Beli untuk 4 orang, eh ternyata gak bisa pesan tempat duduk berdekatan karena hampir penuh. Jadilah saya dan bungsu di deret 3, ayah dan sulung di deret 8, paling belakang. Sip, urusan ke Bagan sudah beres…sekarang tinggal ke hotel. Kemudian kami ke stand taxi bandara, tunjukin alamat hotel…dia bilang tarifnya 10.000 Kyats ke hotel kami berada. begitu hendak bayar eh dikasih tahu kalau bayarnya nanti aja langsung ke supir…lucu juga ya.

Lama perjalanan dari bandara ke downtown (letak hotel kami) itu sekitar 2 jam, macet parah. Begitu sampai hotel, supir menunjukkan hotel kami….ditengah-tengah hiruk pikuk kota, tersembul kecil dan keliatan lusuh…”hah?! Yang bener nih bunda? Gak salah pilih nih?” tanya si ayah dan krucil. Melihat penampakan luarnya terus terang saya kaget juga, tapi saya menutupi dengan suara sok riang gembira dan penuh percaya diri “tenang, dalamnya bagus kok. Jangan khawatir (padahal saya sendiri khawatir…haha)”. Masuklah kami menaiki anak tangga, masuk lobby yang sempit yang penuh dengan ransel-ransel besar dan bule-bule yang asik browsing, sebagian yang lain tidur-tiduran di sofa…waduh, tambah khawatir…reputasi si bunda dimata krucil sebagai pencari hotel terbaik dipertaruhkan. Belum lagi ketika check in ternyata belum boleh masuk kamar karena waktu check in jam 14.00 padahal ketika itu masih jam 11-an.

Setelah pendekatan dari hati ke hati dengan resepsionis, akhirnya boleh juga masuk cepat…yess. Begitu masuk kamar…lumayan banget dong. Si ayah sebelum berangkat memulai petualangan kali ini selalu mewanti-wanti krucil, di Myanmar itu gak ada AC loh, gak ada TV, hotelnya ala kadarnya, gak ada internet, dsb karena negaranya baru terbuka untuk dunia luar… membuat kami memang tidak berekspektasi neko-neko. Jadilah begitu nemu kamar bersih, rapi, ada TV, berAc, free wifi, air mineral botolan di kulkas lobby yang gratis ambil sesuka hati, dan kamar mandi berair panas tuh sesuatu banget. Hal ini semakin mengokohkan reputasi si bunda sebagai pencari hotel terbaik di mata krucil…hehe *lebay mode on*.

Setelah istirahat sebentar, kami menyempatkan ke Bogyoke Market sebelum melanjutkan perjalanan ke Bagan sore harinya. Di Bogyoke hanya sempat beli beberapa cenderamata, cerita selengkapnya baca postingan sebelumnya.

# Menuju Bagan (Myanmar), 3 Maret 2016 #

20160322-115011.jpg

Siang harinya ketika kami sedang di Bogyoke, mendadak bungsu saya demam. Badannya panas, mukanya memerah, menggigil, dan menangis karena pusing. Ayah yang dari rumah sudah berniat berburu batu di Myanmar, ketika itu sedang sibuk nyari-nyari batu yang memang banyak banget di Bogyoke. Melihat bungsu kami demam, langsung tidak jadi mencari batu dan langsung mengajak kami balik hotel. Diajak balik ke hotel, sulung saya yang giliran manyun, dia belum sempat nyari gantungan kunci dan kartu pos (sulung saya memang koleksi gantungan kunci dan kartu pos berbagai negara). Kami memutuskan memencar, ayah yang paling kuat bertugas menggendong bungsu balik ke hotel, sedang bunda menemani sulung berburu barang koleksinya.

Setelah dapat, langsung balik hotel melihat bungsu sedang tidur berselmut. Demamnya mulai turun karena sudah minum obat penurun demam. Untung dari rumah kami sudah persiapan bawa obat-obatan untuk krucil, termasuk obat demam ini. Kami berembuk apakah stay di Yangon atau tetap melanjutkan rencana sebelumnya, ke Bagan sore itu. Kami putuskan untuk melihat kondisi bungsu menjelang berangkat nanti, kalau masih demam kami tetap stay di Yangon. Alhamdulillah menjelang waktu keberangkatan, bungsu saya semakin membaik…malah mulai main loncat-loncatan lagi di kamar hotel.

Sebenarnya jadwal keberangkatan bis ke Bagan sekitar jam 19.00 malam, tapi bis ini letaknya di terminal bis Aung Mingalar yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Ketika beli tiket bis ini, kami sudah diwanti-wanti agar berangkat dari hotel di pusat kota (downtown) paling lambat jam 17.00 karena macet parah sehingga biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam. Itu sebabnya sekitar jam 17.00 kami sudah check out dari hotel, naik taxi dengan tarif 8.000 Kyats (lebih murah karena dibantu pihak hotel mencarikan taxi dan nego) ke terminal bis ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan, kebanyakan taxi di Yangon tidak menggunakan ac…eh ac sih tapi ac = angin cepoi-cepoi …hehe. Banyangin aja deh gimana serunya naik taxi selama 2 jam tanpa ac di tengah kemacetan parah sambil bentar-bentar melihat supir taxi meludahkan sirih merah-merah di pintu, belum lagi kalau sebelahan dengan bis umum, penumpang bis meludahkan sirih pula ke arah kamu…seru kan? Rasanya mantap, sesuatu banget…haha… itulah yang dinamakan art of traveling 😀

Di taxi ini bungsu saya sampai muntah-muntah, anak saya yang satu ini memang sensitif sama sesuatu yang bau-bau dan gak nyaman. Setiap berpetualang, kami memang biasanya menyimpan kantong muntah pesawat untuk jaga-jaga kalau bungsu kami muntah, diantara sekian banyak petualangan baru kali ini kepake kantong muntah itu. Eh baru tahu kalau kantong muntah itu kalau muntahnya banyak bisa bocor. Arrghhh , sambil megang kantong muntah yang hampir bocor ditengah kemacetan Yangon dan panas yang menyengat, plastik-plastik tempat makanan terlanjur ditaruh di bagasi belakang mobil. Akhirnya ubek-ubek, nemu kresek besar tempat KFC yang dibeli dekat hotel…bongkar dulu deh. Begitu lalu lintas agak lumayan, baru taxi bisa menepi sebentar, supir taxinya langsung turun beliin kantong kresek. Sedang saya ngebongkar tas dibagasi, nyari baju ganti untuk bungsu.

Ketika sampai di terminal bis…terminalnya gede banget. Dan bisnya tersebar-sebar, jadi ada terminal A, B, C, D, dsb yang letaknya lumayan juga kalau jalan kaki. Nah bis-bis ini berkantor di terminal-terminal itu, tergantung jenis bis nya. Nyari terminal bis JJ itu sampai muter-muter, bolak balik. Akhirnya nemu juga tulisan JJ, begitu taxi berhenti depan kantor JJ ini langsung muncul orang yang nanya JJ? Iya, buru-buru dia ngangkatin tas kami.. kirain porter ternyata itu bagian dari servicenya bis ini. Dimasukkan ke dalam ruang tunggu, di data pasportnya, kemudian nunggu deh. Sembari nunggu, ada perempuan berpakaian ala pramugari yang mondar-mandir nawarin kopi panas gratis. Kebanyakan calon penumpang adalah turis berbagai bangsa.

Tidak lama menunggu, bisnya nongol deh. Bis besar yang hanya berisi sekitar 20an tempat duduk, jadi luas banget tuh posisi tempat duduknya. Ini bis termewah selama petualangan kami, tempat duduknya mirip tempat duduk VIP pesawat, ada tempat kaki, ada TV tiap tempat duduk, AC super dingin, minuman, cemilan, selimut, tempatnya super lega dan bersih. Lama perjalanan 8-9 jam (lupa lagi), karena tidak ada toilet dalam bis menyebabkan bis sering berhenti rest area. Selama perjalanan krucil tidur nyenyak, hanya saat awal-awal masuk bis aja mereka bolak balik depan belakang, depan lagi belakang lagi (tempat duduk saya dan bungsu deret tiga sedang ayah dan sulung deret delapan, kedua dari paling belakang), sibuk ngutak ngatik ini itu.

Sekitar jam 4 atau 5 subuh, akhirnya bis berhenti. Saking seringnya bis berhenti di rest area, saya yang waktu itu kebangun jadi ngedumel dalam hati…kok berhenti-berhenti mulu nih, kapan sampainya kalau begini. Eh ternyata pramugari (ya semacam pramugari gitu deh), ngebangunin semua penumpang satu persatu…ditepuk-tepuk tangannya sambil bilang Bagan. Oh sudah sampai rupanya…hehe. Turun bis dalam kondisi ngantuk dan ngelindur (tidak plus iler tentunya), kami diserbu supir-supir taxi. Walau di cuekin, ada supir taxi bertato yang malah mepetin saya….argggh langsung saya tarik krucil ke kantor bis JJ.

Setelah ayah selesai ambil bagasi, barulah ayah nego-nego dengan seorang supir taxi. Dia minta 10.000 Kyats dan akan diantar ke sebuah Pagoda untuk melihat sunrise. Saya langsung tidak setuju, sedang ngantuk gini, capek pula walau sebagus-bagusnya bis tetap aja pegel, masa langsung berkelana. Ogah ah, nyari hotel dulu aja. Kemudian diantarlah kami mencari hotel, setelah sebelumnya diantar ke sebuah pos penjagaan untuk memasuki Bagan. Memasuki kota Bagan ini semua pengunjung diwajibkan membayar 25.000 Kyats / orang. Kami cukup bayar 50.000 Kyats …krucil gratis.

Hotel kami berada di daerah bernama Nyang U, dekat dengan letak Pagoda-Pagoda tersebut. Masuk subuh kena charge dengan hitungan 1,5 hari…haha…meuni kieutu pisan yah. Bayarannya dalam bentuk dollar…haha lagi aja deh. Di Bagan kami hanya sehari, tujuan ke Bagan kan cuma pengen melihat situsnya, jadi ya kami cuma ke situs pagoda tersebut. Untuk cerita tentang pengelanaan kami di Bagan, lihat postingan sebelumnya. Esok paginya kami sudah dijemput oleh pihak bis ke terminal, untuk balik ke Yangon. Sebenarnya banyak kota yang ingin kami kunjungi di Myanmar, namun mengingat kondisi krucil terutama bungsu saya yang sempat demam sehari sebelumnya, kami batalkan petualangan ke Mandalay dan Inle Lake dari plan…lain kali aja deh,kalau kondisi krucil fit.

# Menuju Yangon (Myanmar) Kembali, 5 Maret 2016 #

20160322-115410.jpg

Keesokan harinya, sekitar jam 7 atau 8 pagi kami dijemput semacam tuktuk ke hotel. Sebelumnya pihak hotel telp ke kamar kami, kami disuruh cepat-cepat ke lantai atas untuk sarapan karena sebentar lagi mau dijemput…haha baru kali ini nemu hotel yang perhatian layaknya seorang ibu. Di tuktuk sudah berisi dua orang bule, begitu naik tuktuk kami dilepas resepsionis yang lambai-lambai tangan di depan hotel. Seru kan, petualangan memang memberi kita banyak manfaat, melihat berbagai hal dan bertemu orang-orang baru. Konon katanya sih one’s destination is never a place, but a new way of seeing things…ceile…*hasil copas di group backpacker*…hehe

Tiba di terminal, bis nya belum ada. Kami naik bis Elite untuk perjalanan balik ke Yangon karena tiket bis JJ sudah habis terjual. Bis Elite nih katanya sih kedua terbaik setelah JJ, harganya lebih murah yaitu sekitar $15 / orang. Kami pesan tiket bis ini di hotel. Begitu sampai terminal urus-urus tiket dan bagasi…kemudian berkelana cari teh hangat karena saya masuk angin. Nyari teh ini susah juga, waktu ke warung depan kantor bis nanya ada tea? eh dia bingung, baiklah…melipir ke warung sebelahnya. Tanya lagi, ada teh? eh malah dikasih piring suruh ambil makanan sendiri…akhirnya peragain pantomim minum…glek glek, sambil nunjuk-nunjuk tulisan di warungnya yang jelas-jelas bertulis sedia teh (tea). Bule yang satu tuktuk sama kami akhirnya membantu mencarikan teh ini, adanya teh mix sachet. Akhirnya si pemilik warung nunjuk-nunjuk ke warung belakangnya…baiklah…melipirlah kami ke warung belakang. Nah baru disini nih ketemu teh poci, minum-minum cantiklah kami disini.

Waktu jalan kembali ke kantor bis, eh bisnya sudah datang bahkan pramugara bis sambil bawa-bawa daftar penumpang dan topi koboi jerami si ayah yang di tinggal di kantor bis nyari-nyari kami yang menghilang…hehe bikin kehebohan aja. Bisnya lumayan bagus sih cuma tempat duduknya standard aja, seperti tempat duduk di bis-bis biasanya bedanya ditiap tempat duduk ada TV juga. Penumpang sedikit, banyak tempat duduk yang kosong dan bis tetap jalan. Wah keren juga nih gak nunggu penuh pikir kami, eh ternyata beberapa kali berhenti di jalan untuk menaikan penumpang. Berbeda dengan JJ, Elite ini banyak berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan, sedang JJ banyak berhenti untuk istirahat di rest area. Selain itu JJ tidak pernah menaikkan atau menurunkan penumpang, jadi kalau dari segi kenyamanan JJ masih juara. Servicenya sih kurang lebih, sama-sama ber ac, ada TV tiap tempat duduk, ada cemilan dan minuman gratis yang dibagikan pramugara, malahan ditawarin obat mabuk segala di Elite… hahaha… Kirain nawarin apaan, ternyata obat mabuk.

Berangkat pagi sekitar jam 8, sampai di Yangon sore sekitar jam 4. Selama perjalanan pemandangannya hutan-hutan kering (kata pengemudi andong yang kami naiki di Bagan sih sekarang musim panas, hujannya nanti sekitar Juli). Berangkat pagi kelebihannya bisa melihat pemandangan di jalan, tuh jalan muluuuusss bener…dan panjaaaanggg bener, salut deh…kalah Kalimantan. Tiba di terminal Yangon naik taxi ke hotel yang sudah di booking.

Di Yangon kami jalan-jalan seputaran hotel, ke Bogyoke Market, Night Market, National Museum, Maha Bandoola Park, Sule Pagoda, Swedagon Pagoda dan People’s Square and Park. Pengalaman ke tempat-tempat tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Singapore, 8 Maret 2016 #

20160322-115655.jpg

Tanggal 8 Maret subuh sekitar jam 04.00 waktu setempat, kami sudah bangunin krucil. Check out, naik taxi ke bandara. Hari itu kami berencana ke Singapore menggunakan pesawat jam 08.00 pagi, boarding 07.50, dengan perhitungan lama perjalanan dua jam dari hotel ke bandara. Tapi kami salah perhitungan, ternyata kalau subuh jalan lancar jaya sehingga hanya ditempuh sekitar 45 menit…kecepatan deh …huaaa…ngantukkk…

Akhirnya kami nyari pojokan, eh nemu deh pojokan sepi tempat bule-bule tidur beralaskan backpack. Gak mau kalah, ikutan tidur juga beralaskan bacpack tapi gak bisa tidur karena nyamuknya banyak, hanya bisa tidur-tiduran. Makin lama, bandara makin ramai dan petugas bandara mulai berdatangan…yaks saatnya masuk ke dalam bandara. Check in, imigrasi…masuk ruang tunggu dengan masih terkantuk-kantuk. Eh menjelang jam boarding belum ada tanda-tanda nih, gak berapa lama muncullah pengumuman kalau delay…waduh tumben-tumbenan delay biasanya ontime.

Pesawat kami ke Singapore ini transit di Don Mueang (Bangkok), ternyata ada pesawat maskapai lain yang langsung ke Singapore tanpa harus transit di Bangkok…ya sudahlah, salah sendiri gak ngecek maskapai lain waktu nyari tiket…hehe. Untungnya waktu sampai Don Mueang masih ada jarak dengan pesawat ke Singapore, jadi gak terlalu harus kejar-kejaran. Pesawat Don Mueang (Bangkok) ke Singapore dijadwalkan berangkat jam 14.00-an (lupa lagi tepatnya), kami sampai di Don Mueang sekitar jam 13.00-an, jadi nunggu satu jam di Bangkok yang diisi dengan makan dan browsing-browsing sebentar menggunakan free wifi bandara.

Lama perjalanan Yangon – Bangkok = 1 jam, Bangkok – Singapore = 2,5 jam (kurang lebih). Sampai di Singapore sekitar jam 16.00-an, naik MRT ke daerah Bugis kurang lebih 1 jam-an….kesorean sampai di Singapore. Rencana mau jalan-jalan dulu jadi gak bisa. Istirahat sebentar di hotel, baru selepas maghrib jalan lagi menggunakan taxi dengan tarif S$19 ke Merlion Park. Di Singapore kami hanya jalan ke Merlion Park, Bugis Junction dan Bugis Street. Kebanyakan habis waktu untuk tidur aja karena tiba sudah kesorean ditambah ayah ketemuan sama temannya sehingga sudah lupa kalau mau ke tempat-tempat lainnya. Keburu ngacir segera ke negara tetangga yang lebih ramah di kantong…haha…

# Menuju Johor Bahru (Malaysia), 9 Maret 2016 #

20160322-120234.jpg
Kami baru tiba kembali di hotel sekitar jam 22.00 malam setelah dari Merlion, bukan karena betah ngeliat patung singanya sih…cuma karena nyetop taxi gak ada yang stop-stop. Baru sadar kalau ada tempat khusus menunggu taxi setelah satu jam berusaha menyetop taxi tanpa hasil…haha (dasar kamseupay).

Pulang larut belum lagi krucil masih sempat bermain dulu sebelum tidur menyebabkan kami bangun agak siang keesokan harinya. Bangun kesiangan ini menyebabkan kami tdak melihat gerhana matahari…arrrggghh. Eh sudah gitu krucil seperti biasa main dulu sebelum bisa dipaksa mandi, belum lagi ayah janjian ketemuan sama temannya. Selesai krucil mandi, ayah belum balik ke hotel juga padahal hari itu saya berencana mengajak krucil jalan-jalan melihat Singapore dulu, baru sekitar jam 10-an lewat ayah balik hotel. Jam segitu sih gak bisa kemana-mana lagi, nyari yang dekat-dekat hotel aja deh…yaitu ke Bugis Street untuk cari koleksi krucil, gantungan kunci 😉 Kenapa buru-buru? Karena waktu check out hotel kan jam 12.00 siang (walau biasanya gak pernah yang sampai diusir ya preventif aja…eh tapi waktu disini kami sempat ditelp ke kamar loh, diusir secara halus… hahaha, nasib), kan gak mungkin banget kami geret-geret tas sambil jalan-jalan. Sayangnya lagi, kami lupa kalau dekat hotel itu ada terminal MRT dan diterminal tersebut ada loker sewaan (tempat menitip tas berbayar).

Setelah berburu cenderamata, cepat-cepat balik hotel…pas baru rapi-rapiin tas ditelp diingatkan kalau sudah jam 12, iye iye…ini juga sudah mau cabut. Check out dan jalan kaki mencari terminal bis Johor, ternyata letaknya gak begitu jauh dari hotel. Sesampainya di terminal sudah ada bis yang siap berangkat, harganya cuma S$ 3.30 / dewasa dan S$1.50 / anak. Nunggu penuh sebentar saja sudah penuh dan berangkat. Lama perjalanan kurang dari satu jam…itu sudah dihitung sama ngantri di imigrasinya, dekat banget tuh Singapore – Johor.

Urusan imigrasi keluar Singapore, lancar jaya…langsung di tok dan gak pake antri panjang. Naik bis lagi, gak berapa lama sudah masuk imigrasi Malaysia. Imigrasi Johor antriannya lumayan panjang. Begitu giliran kami, eh tuh petugas imigrasi pakai nanyain berapa hari di Johor, terus mau kemana, sudah ada tiket pulang belum bahkan sampai minta tiket pulang ke Indonesia segala…hiks hiks dia curiga kali soalnya perputaran di pasport cepat banget, dari Myanmar-Singapore (cuma sehari) – (eh sudah masuk) Malaysia lagi.

Gara-gara kecurigaan petugas imigrasi Johor inilah kami jadi lambat dan tertinggal dari deretan penumpang bis yang lain. Akibatnya kami jadi bingung harus keluar pintu mana, eh salah ambil jalan keluar malah ke JBCC bukan balik ke bis. Tanya security, katanya harusnya tadi kami jalan lurus lalu turun bukannya ikutan keluar melalui pintu samping. Ya sudah deh tanya aja sekalian kalau jalan Lumba Kuda (letak hotel kami) dimana, security jawab…oh kalau lumba Kuda dekat JBCC. Baiklah, berarti kami gak perlu kembali arah…

Di JBCC ini pusatnya semua transportasi di Johor deh, mau naik taxi ada pangkalannya, dibawah ada terminal bis dalam kotanya, bahkan ada stasiun kereta pula. Jalan dikit melalui skybridge sudah sampai di mallnya, sebelahnya ada Mall Komtar pula. Benar-benar terpadu, salut deh. Di sini kami makan-makan dulu melepas lelah, baru nyari informasi…katanya sih hotel kami itu dekat saja cuma kalau jalan kaki lumayan, naik taxi sajalah di bawah. Baiklah, naik taxilah kami dengan biaya sekitar RM 20, eh ternyata tuh hotel letaknya seberang JBCC aja cuma karena jalan satu arah kalau naik taxi jadi muter dulu makanya mahal…hahaha.

Di Johor favorite kami jalan ke JBCC, banyak makanan enak. Kemudian kami jalan ke Legoland, Zoo Johor, melihat-lihat night market dan mesjid Jamek Sultan Abu Bakar. Untuk lebih jelas mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi tersebut, lihat postingan sebelumnya. Kami tiga hari di Johor sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Kuala Lumpur.

# Menuju Kuala Lumpur (Malaysia), 12 Maret 2016 #

Sebenarnya begitu tiba di Johor, melihat ada loket kereta api kami buru-buru beli tiket sleeper train ke Kuala Lumpur. Sayangnya semua sudah sold out, dari tanggal 10-13 Maret, ada tiket biasa (tiket duduk) tapi adanya tanggal 14, gak mungkin banget karena pesawat pulang ke Indonesia tanggal 13, jadi batal naik kereta padahal sleeper train itu transportasi favorite krucil kalau berpetualang.

Jadilah kami berburu tiket bis ke terminal Larkin, dapat bis Konsortium seharga RM 34,30 / orang. Naik bis inilah kami Sabtu pagi tanggal 12 Maret tersebut. Bisnya ya begitu deh, standard aja. Lama perjalanan kurang lebih 4 jam, sempat macet parah karena ada kecelakaan dan sedang musim libur sekolah di Malaysia. Bis ini tujuannya adalah Bandar Tasik Selatan (BTS), baru kali ini kami kesini…biasanya kan Puduraya. Di BTS ini kami makan dulu melepas lelah, setelah itu menggunakan KLIA Ekspres ke KLIA 2, letak hotel andalan kalau transit. KLIA Ekspres ini termasuk mahal juga untuk transportasi dalam kota, totalnya sekitar RM 115 untuk berempat…lumayan banget kan kalau dikurskan…hiks hiks. Kelebihannya sih cepat…gak pake lama sudah sampai deh di KLIA 2.

# Menuju Little House on the Prairie (Indonesia), 13 Maret 2016 #

Seperti biasa, di KLIA 2 nginap di hotel andalan. Pesawat pulang kami ke Indonesia pagi jam 08.15, sehingga seperti biasa subuh-subuh krucil sudah dibangunin. Jalan kaki ke bandara, beres urusan imigrasi…nunggu di ruang tunggu. Di bandara saya sempat mules-mules dan mual sehingga bolak balik ke toilet, beberapa hari belakangan saya memang terkena batuk parah.

Jam 11.15 sudah mendarat di home town, alhamdulillah. Di bandara makan dulu karena kelaparan, baru jam 12-an sampai rumah. Walau setibanya di rumah kami kaget karena satu hal, tapi kami bersyukur bahwa di balik semua peristiwa ada hikmah yang bisa di petik. Bagaimanapun home sweet home. Ok krucil…kemana lagi kita berpetualang liburan berikutnya? hehe 😀

Advertisements




Zoo Johor

19 03 2016

20160319-094904.jpg

Hari ketiga di Johor, kami isi dengan acara santai dan bebas. Santai karena tidak ada tujuan utama lagi, bebas terserah mau kemana dan ngapain….toh tidak ada tujuan utama lagi. Bungsu mengajak ke Hello Kitty Town, sebagai laki-laki manly ayah dan sulung langsung menolak tegas…”ih memangnya akika apaan” hehe 😀 Browsing-browsing, nemulah zoo ini…lets go..

Jalan dulu ke JB Central, makan dulu di rooftopnya. Kemudian jalan-jalan di JB Central, nemu pusat informasi turisnya sedang buka (tumben-tumbenan, padahal selama dua hari sebelumnya selalu tutup)…nanya dimana arah zoo, dikasih tahulah naik bis jurusan Skudai, minta turun didekat zoo…baiklah. Naik bis, turun di tepian pantai dekat zoo…jalan kaki sedikit sampailah di zoo yang dimaksud tapi saat itupula terdengar khotbah Jumat dari mesjid Istana Sultan Abu Bakar, yang letaknya diseberang zoo. Buru-burulah ayah dan sulung pergi ke mesjid karena mengira sudah terlambat. Saya dan bungsu menunggu di dekat loket masuk zoo. Kami menunggu lama ayah dan sulung selesai sholat, ternyata khotbahnya sampai 3x…pantesan lama.

Tiket masuk zoo ini murah meriah loh, RM 2 / dewasa dan RM 1 / anak. Totalnya RM 6 (sekitar 21rb Rupiah kalau dikurskan) untuk berempat. Begitu masuk zoo, disuruh foto dulu sama penjaga pintu masuk. Nah hasil foto ini nantinya bisa ditebus, harganya tergantung souvenir yang dipilih : ada yang berbentuk magnet, ada gantungan kunci, baju, foto biasa, dll. Kami pilih magnet 4 buah seharga RM 60.

Di zoo ini krucil kami antusias seperti biasa. Awalnya ayah menawari sulung memakai kamera, sulung dengan santai bilang “abang gak mau foto-foto disini, kan kebun binatang tuh sama aja isinya dimana-mana”. Gayanya aja pura-pura cuek…eh baru liat burung aja langsung minta keluarin kamera, malahan paling lama nemenin dia motret-motret…haha 😛 Krucil kami juga sangat semangat ketika memberi makan unta, tampang mereka antara takut, senang, semangat dan penasaran jadi satu…hehe…itulah dunia anak-anak, selalu ada hal yang menyenangkan dalam berbagai kondisi.

Sebelum pulang mereka meminta melihat ikan di tengah kolam dengan menaiki perahu. Sewa perahu ini seharga RM 10, betah banget berlama-lama mengayuh perahu membiarkan bundanya antara ngantuk, lapar dan kepanasan dipinggiran kolam. Untungnya baru saja selesai diajak pulang bundanya, di kolam ada ikan besar berkelebat menampakkan kumisnya yang besar membuat bungsu saya ketakutan hingga mau diajak pulang. Yuk ah krucil, bunda haus dan lapar…markimon (mari kita kemon), cari yang segar-segar…





Legoland, Johor Bahru

19 03 2016

20160319-062841.jpg

Krucil bangun pagi dengan penuh semangat menyongsong hari yang cerah (halah…) karena tahu hari itu jatahnya main seharian di Legoland. Dari hotel kami jalan kaki ke JB Central, kemudian naik bis jurusan Legoland dan berangkat. Lama perjalanan dari pusat kota (JB Central) sekitar 1 jam…lumayan lama juga sampai-sampai ayah dan krucil ketiduran di bis. Legoland ini tujuan akhir dari bis Legoland, jadi begitu supirnya bilang Legoland, turunlah kami dengan wajah agak bingung…mana Legolandnya? Tanya security, dia bilang terus aja masuk sampai ujung…oalah, Legolandnya tersembunyi hehe…

Ternyata kami kepagian! Legoland baru buka jam 09.00 (kalau gak salah) sedangkan ketika itu masih jam 08.00 …nunggu deh, tapi puas foto-foto di depan logonya karena cuma ada kami saat itu hahaha…sesuatu banget ya. Beli tiket RM 185 / dewasa dan RM 145 / anak. Si ayah malah yang semangat mau beli tiket terusan dua hari, untung aja si bunda yang agak pelita menahannya, cukup satu hari aja yah mainnya 😉

Begitu Legoland buka, belum semua wahana permainan sudah buka. Jadilah setelah main wahana driving school dan boating school, kami makan dulu….makan di dalam arena permainan tuh lumayan menguras kantong juga tapi serunya dalam restonya pun disediakan meja berisi lego, sambil makan bisa main lego. Walau seru, krucil gak betah lama-lama makan, buru-buru mengajak kami ke wahana-wahana permainan lagi. Heran deh, panas-panasan di bawah terik matahari yang menyengat betah banget narik-narik ayah bundanya kesana kemari. Ujung-ujungnya ayah bundanya tepar, duduk-duduk saja mengawasi krucil bermain. Di setiap wahana, krucil meminta stamp (cap) dari petugas dan untuk melengkapi stamp artinya krucil harus ikut permainan semua wahana…gempor to the max TT

Di permainan lego academy krucil lama banget bermain, ngapain sih mereka di dalam? Begitu diintip rupanya sedang bikin program robot lego…disini kami memutuskan menunggu di resto lagi, saking lamanya krucil bermain disini kemudian turunlah hujan. Hujan lebat inilah yang pada akhirnya menuntaskan misi krucil melengkapi stamp. Dengan berat hati krucil diseret paksa keluar dari Legoland, diiringi dengan permintaan krucil “besok kesini lagi ya”…heemmm. Kami masuk ketika Legoland baru buka dan pulang ketika hampir tutup yaitu jam 17.00 (tutup jam 18.00). Di hotel, krucil selalu meminta agar keesokan harinya kami mengajak mereka ke Legoland lagi…”iya nanti ya, kalian nabung dulu dan kalau hasil ujian kenaikan kelas nanti bagus, baru boleh main ke Legoland lagi” …strategi jitu meredam rengekan krucil…hehe 😀





Kuala Lumpur – Chiang Mai – Chiang Rai – Luang Prabang – Vientiane – Bangkok

16 03 2015


Beberapa bulan sebelum keberangkatan kami masih bingung dengan tujuan petualangan kami tahun ini. Setiap kali bertanya, kemana liburan kita kali ini yah? Si ayah menjawab terserah, tapi kalau diajak ke India jawabnya nanti aja kalau anak-anak sudah agak besar. Terserah tapi diajak ke India kagak mau, piye toh? Rupanya si ayah mempertimbangkan faktor keamanan dan kebersihan, itu sebabnya walau beberapa kali dibujuk dia tetap pada pendiriannya…India nanti kalau anak-anak sudah agak besar, sudah bisa jaga diri, sudah bisa cium berbagai bau rempah yang tajam…hmmm, baiklah.

Jadi kemana dong? Si ayah memang didaulat sebagai Menteri Luar Negeri sama krucils, jadi kalau liburan ke negara lain ya harus sama sang ayah…mereka gak percaya sama kemampuan bundanya. Kalau bunda urusan dalam negeri aja deh, yang dekat-dekat aja. Selain itu si ayah juga tidak membolehkan kami jalan sendiri kalau ke negara lain, walau penampilan cuek gitu ternyata gitu-gitu dia mengkhawatirkan anak istrinya kalau jalan sendirian ke negara lain…co cweet kan? hehe *kedip kedip si ayah*

Setelah berembuk tujuh hari tujuh malam ditambah gelar wayang kulit tujuh hari tujuh malam plus mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur, kami putuskan kami mulai yang gak begitu jauh saja, keliling ASEAN dulu. Selain dekat, ongkosnya gak mahal, juga gratis visa (nah ini penting banget karena visa kan mahal bingit, belum lagi ngurusnya harus ke Jakarta/Surabaya yang artinya tambahan biaya lagi). Maklum backpacker, budget terbatas dan pas-pasan.

Buka peta, langsung tertarik pada Luang Prabang (Laos) dan Hanoi (Vietnam). Cari-cari tiket murah, nemunya yang paling murah dari Kuala Lumpur (KL) adalah Chiang Mai (kota besar terdekat dari Luang Prabang). Googling-googling, baca-baca pengalaman traveler lain, nemu transportasi darat dari Chiang Mai ke Luang Prabang. Tanya ayah, sip ayah ngangguk setuju. Beli tiket ke Chiang Mai dan inilah rencana awal rute petualangan kami tahun ini : Chiang Mai – Chiang Rai – Tachiliek – Luang Prabang – Vientiane – Hanoi, tapi ternyata waktunya tidak cukup akhirnya diperjalanan kami rombak lagi hingga akhirnya jadi : Chiang Mai – Chiang Rai – Luang Prabang – Vientiane – Bangkok. Dan inilah cerita petualangan kami tahun ini…semoga bermanfaat untuk kalian-kalian yang mempunyai rencana yang sama 🙂

# Menuju KLIA 2, Kuala Lumpur (Malaysia), 4 Maret 2015 #

20150316-070006.jpg

Beberapa hari sebelum berangkat si ayah ada job, tanya kira-kira berapa hari jobnya. Si ayah bilang ini sih biasanya cuma sehari selesai, paling ntar sore sudah pulang. Ok deh, selamat bekerja ayah. Sore belum ada kabar, malam baru kasih kabar…belum mulai, ombak besar..mungkin besok baru mulai kerja. Begitu terus sampai empat hari padahal waktu keberangkatan tinggal dua hari lagi. Akhirnya setelah deg-degan selama beberapa hari, malam hari sebelum cuti dimulai bisa pulang juga.

Selain job dadakan, yang juga bikin khawatir adalah kondisi kesehatan krucils. Bolak-balik demam, flu dan batuk. Satu sudah sembuh, satu lagi kena. Yang kena sembuh eh satu lagi kena lagi…hadeuh, bikin ketar ketir bundanya padahal kata krucils mereka sudah gak sabar pengen berpetualang tapi bolak balik demam. Alhamdulillah walau sempat ketar ketir, semua rencana tetap bisa dijalankan.

Rabu pagi, setelah sarapan kami pun telp Taxi ke bandara. Sesampainya di bandara bayar airport tax yang sungguh tidak berperikedompetan, kami nunggu di ruang tunggu keberangkatan. Sekitar jam 14.30 kami pun sudah mendarat di KLIA 2. Bandara baru ini bikin bingung awalnya, lebih megah dari sebelumnya, pokoknya semua berbeda dari tahun lalu (laa iyalah, tahun lalu masih di LCCT sekarang sudah KLIA 2). Kami sempat bingung nih, ke arah mana nih hotel kami. Tanya bagian informasi, dijawab dekat saja kok, lurus aja terus sampai dekat pintu keluar belok kiri naik lift ke lantai P4, keluar…pas diseberang, itulah hotel kami.

Kami sempat duduk-duduk santai makan dulu disalah satu resto bandara sebelum ke hotel, nyari nasi lemak sudah habis..hiks. Ternyata hotel kami ya memang dekat banget, dan lagi-lagi hotelnya juga berubah dari tahun lalu. Lebih bagus, lebih besar dan lebih nyaman. Saya suke…saya suke *suara ala upin ipin mode on*. Istirahat sebentar, malamnya kami balik lagi ke bandara (KLIA2) untuk nyari makan, mempelajari situasi mencari terminal keberangkatan untuk besok dan sekalian jalan-jalan…Loh kok jalan-jalan di bandara sih? Iya soalnya bandaranya berbentuk mall sih, banyak toko-toko jual ini itu, banyak resto-resto juga. Kemudian kembali ke hotel, saatnya istirahat sebelum petualangan sebenarnya dimulai.

# Menuju Chiang Mai (Thailand), 5 Maret 2015 #

20150316-070233.jpg

Subuh si ayah dan saya sudah bangun, kami segera berkemas-kemas karena kami menggunakan pesawat jam 06.55 ke Chiang Mai, artinya kami sudah harus ada dibandara minimal sejam sebelumnya untuk urusan imigrasi dan boarding yang biasanya lebih cepat sebelum waktu keberangkatan, belum lagi mempertimbangkan kami belum begitu mengenal bandara baru ini, dimana letak imigrasi, Depature Terminal, gate, dsb. Walau letak hotel kami dekat banget dengan bandara (jalan kaki 2-3 menit juga sudah sampai), kami tetap membangunkan krucils dan mulai ke bandara jam 5 subuh.

Untung saja kami mulai berangkat subuh karena letak gate keberangkatannya lumayan jauh masuk ke dalam. Tiba di ruang tunggu keberangkatan masih sepi banget hanya ada kami, seorang bule perempuan yang sedang tidur di lantai, di paling belakang ada bule cowok sedang bergelung dalam selimut juga sedang tidur di lantai yang memang berkarpet tebal. Akhirnya saya pun memilih masuk ke mushola untuk sholat subuh, di mushola saya bertemu seorang perempuan muda yang sedang asik dengan laptopnya. Selesai sholat, dia pun bertanya dengan bahasa melayu “nak kemana?”. Saya jawab ke Chiang Mai, sedang dia katanya mau ke Solo. Rupanya dia orang Thailand yang sedang kuliah di Solo…wow..dan hebatnya bahasa Indonesianya keren banget tanpa terdengar logat lainnya. Setelah ngobrol gitu baru saya tahu, bahwa saya kecepatan sholat subuhnya, belum waktunya. Harusnya jam 6-an waktu Kuala Lumpur sholat subuhnya…yah sudah terlanjur, pantesan sepi banget.

Sekitar jam 08.40 pagi waktu Chiang Mai (Chiang Mai dan Kuala Lumpur berbeda satu jam), kami akhirnya sampai di Chiang Mai. Bandaranya kecil tapi ramai. Diluar terlihat beberapa orang menunggu dengan membawa kertas bertuliskan Mr.anu atau Mrs.inu…kayaknya sih yang jemput orang-orang hotel. Wah lupa minta jemputan hotel juga ke bandara, hmm…gpp deh bisa cari sendiri. Kami menggunakan taxi bandara dengan tarif 75 Baht kalau tidak salah. Taxi ini mobilnya keren, kalau bukan Fortuner atau Pajero (maklum buta merk mobil). Nah supir taxi ini bernama Mr. Arun, dia ini yang menawari kami untuk carter mobilnya kalau mau keliling Chiang Mai seharga 1200Baht. Mahal memang, itu sebabnya kami tidak langsung mengiyakan.

Setelah istirahat sejenak di hotel, kami berkelana nyari makanan dan minuman di seputaran hotel. Saat sedang jalan-jalan itulah kami sampai di daerah night bazaar tidak jauh dari hotel, di daerah ini sementara krucils beli ini itu di seven eleven, si ayah beli sim card juga disitu, saya jalan-jalan sendiri. Di deretan situ banyak biro travel, melihat banyak bule mendekat ke sebuah pamflet, saya jadi ikut penasaran pamflet apaan itu. Rupanya itu pamflet tarif-tarif travel kesono kemari, misalnya saja driving elephant+long neck karren tarifnya 950Baht/person. Melihat itu, saya pun menunjukkan ke si ayah pamflet tersebut, aje gile yah…kalau ikut tour gitu bayarannya gak kira-kira sudah gitu hitungannya perorang lagi. Kayaknya lebih hemat kalau kita ambil tawaran Mr. Arun aja deh, 1200Baht untuk berempat sudah gitu terserah lagi mau kemana aja. Malam itu kami pun telp Mr. Arun untuk besok pagi menjemput kami.

Esoknya kami pun berkunjung ke Baan Tong Luang, Tiger Kingdom, dan sempat juga diantar ke Chiang Mai Zoo karena kami berempat ketiduran setelah dari Tiger Kingdom. Sebelumnya sempat nanya dimana museum lukisan 3 Dimensi, kata Mr. Arun sih di Chiang Mai Zoo. Lalu ayah dan saya diskusi…waduh kalau ke Zoo, krucils pasti minta paket sekalian masuk ke kebun binatangnya gak mungkin cuma masuk museumnya. Sedang biaya masuk kebun binatang ini 1000-an Baht juga perorang kalau gak salah, belum lagi tiket museumnya…sudahlah gak usah aja. Chiang Mai merupakan kota pertama dalam petualangan kami, kalau uangnya dihabiskan disini duluan, gimana nasib kami di kota-kota selanjutnya.

Akhirnya si ayah bilang gak jadi deh ke museum lukisan 3 D, kembali ke hotel saja…setelah itu saya ketiduran. Begitu bangun, liat krucils eh pada tidur juga. Liat jalan, macet parah. Liat ke depan, eh si ayah sedang tidur juga. Ya sudah saya pun menikmati pemandangan yang ada aja sambil dalam hati mikir (eh mikir kok dalam hati, mestinya dalam otak ya? hehe) kok jalannya beda dengan jalan saat berangkat ya. Eh tahu-tahu di depan saya sudah tertulis Chiang Mai Zoo. OMG, mungkin Mr. Arun gak dengar perkataan si ayah dan parahnya si ayah tidur juga, jadi aja miss communication…hahaha.

Di Chiang Mai kami dua hari, kami hanya berkelana ke Baan Tong Luang melihat suku Karen berleher panjang, bermain bersama Harimau di Tiger Kingdom, bermain bersama burung merpati di Tha Phae Gate dan jalan-jalan di night market. Petualangan kami di Chiang Mai bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Chiang Rai (Thailand), 7 Maret 2015 #

20150316-070415.jpg

Saat sedang jalan-jalan sore dan agak nyasar, kami melihat sebuah travel kecil yang letaknya nyempil tidak jauh dari night bazaar. Si ayah bilang disitu ada jual tiket bis ke Luang Prabang. Lalu masuklah kami ke dalam travel ini, dia menawarkan slow boat tapi kami pengen bis karena lebih cepat daripada slow boat. Dia menjelaskan bahwa dari Chiang Mai kami nanti akan naik minivan sampai ke perbatasan, minivan akan berhenti istirahat sebentar di White Temple (Chiang Rai) sebelum mengantar ke perbatasan, baru setelah masuk Laos disana akan ada bis tidur yang akan menunggu kami. Yah karena info tentang bis ke Laos ini minim banget di internet, jadi kami ok saja.

Info yang saya dapat dari internet hanya harga bis ini 1400Baht perorang, sedang travel ini menawarkan 1500 Baht. Tawar-tawaran akhirnya dapat harga 1450Baht/orang…yah anggap saja 50Baht tersebut adalah harga kenaikan tarif dari harga sebelumnya. Belakangan kami baru tahu bahwa harga tiket bis ini tidaklah semahal itu jika belinya langsung di biro travel depan stasiun kereta, kalau gak salah selisihnya sampai setengahnya. Satu pelajaran bisa dipetik, lain kali beli langsung dari tangan pertama lebih murah.

Jumat pagi, jam 9.30-an kami sudah nunggu minivan ini di lobby hotel karena menurut perjanjian kami akan dijemput jam 10-an di hotel. Ternyata yang jemput tuktuk berisi lima bule-bule. Tuktuk ini ngebut-ngebut gajebo (gak jelas banget bo’), kadang ngerem…ya ampyun gajebo banget deh sampai-sampai kami yang berada di dalam terpelanting sana-sini. Lebih gak jelas lagi kami dibawa ke stasin kereta, nah di stasiun ini semua bule disuruh turun untuk masuk ke dalam minivan yang sudah menunggu sedang kami disuruh tetap ikut tuktuk itu. Awalnya tuktuk ini jalan ke suatu arah, eh gak berapa lama muter balik ke arah stasiun kereta yang tadi…kami kira mungkin ada yang ketinggalan. Sesampainya di stasiun, eh muter lagi keluar stasiun…benar-benar gajebo. Nah di perempatan luar stasiun kami disuruh keluar dari tuktuk ini untuk naik ke sebuah minivan, saat hendak naik malah disuruh pindah ke tuktuk lain sementara tuktuk yang menjemput ke hotel sudah ngacir entah kemana padahal tiket yang berisi tulisan kami sudah bayar lunas ke Luang Prabang ini di supir tuktuk yang pertama.

Antara gondok dan was-was…kami akhirnya naik tuktuk kedua ini, plus tambahan sepasang bule yang diturunkan dari minivan yang nunggu diperempatan depan stasiun ini. Saat ngobrol dengan bule ini, kami sedikit lega karena tujuannya sama juga, Luang Prabang. Naik tuktuk kedua ini hanya satu menit, kemudian berhenti di sebuah biro travel yang letaknya persis di depan stasiun kereta. Disini kami semua disuruh turun untuk masukin nomor passport katanya. Turun, masuk…si mbak resepsionis minta tiket kami. Busyet, tiket kami kan dibawa sama supir tuktuk pertama…ketika kami sibuk menjelaskan gitu, terlihat oleh saya supir tuktuk pertama sedang duduk-duduk santai depan meja. Langsung saja saya samperin, where is my ticket.

Supir tuktuk ini menyerahkan tiket kami ke si mbak resepsionis ini, kemudian si mbak ini nanya apakah kami bayar tiket untuk 2 seat VIP Bus. Ya enggaklah, kami kan berempat ya tiketnya untuk berempatlah. Lalu sibuklah mereka diskusi antar mereka pakai bahasa mereka. Akhirnya kami dikasih empat buah tiket dan dikasih kertas untuk arrival di border nanti. Karena saya pikir santai, ya saya mau ngisi dong disitu mumpung ada pulpen…eh si mbaknya judes, diisinya nanti aja sekarang cepat masuk minivan…aje gile juga nih orang travel kok judes banget.

Laa karena kami gak tahu mana minivan yang dimaksudnya, kami nanya sama orang yang sedang berdiri di pintu depan sebuah minivan, kirain supir minivannya karena tampangnya Thailand banget, apakah ini minivan ke Luang Prabang…eh dia bingung, yang jawab justru bule setengah baya yang bertampang ramah, yep ini ke Luang Prabang. Fiuuuh…akhirnya setelah di ping pong sana sini, kami bisa bernapas sedikit lega. Setelah muatan lengkap, yang terdiri sepasang bule paruh baya berwajah ramah entah warga negara apa, sepasang bule charming yang pendiam berambut hitam yang berasal dari New Zealand, sepasang bule muda yang logatnya berat mungkin Inggris, seorang berwajah Asia yang awalnya kami kira supir minivan, serta kami berempat paling belakang.

Kami sempat dua kali beristirahat, pertama disebuah cafe yang punya kolam renang kecil untuk makan siang. Disini kami hanya pesan minuman dingin seharga 70 Baht, sedang makan siang kami bawa dari Chiang Mai hasil beli di daerah muslim, yaitu berupa beberapa potong ayam goreng, french fries dan rotee fruit (seperti roti chanai). Kali kedua minivan berhenti di White Temple, Chiang Rai untuk istirahat selama 20 menit. Di Chiang Rai ini kami melihat-lihat White Temple dan beli minuman dingin lagi.

# Menuju Luang Prabang (Laos), 7 Maret 2015 #

20150316-071040.jpg

Sekitar jam 4-an sore (kalau gak salah,lupa lagi), kami akhirnya sampai juga di perbatasan Chiang Kong. Minivan berhenti di sebuah bungalow asri dipinggiran sungai, kemudian supir minivan menyuruh turun orang-orang yang pakai slow boat. Ternyata hampir seluruhnya pakai slow boat karena hanya kami dan sepasang bule charming berambut hitam saja yang tidak turun. Setelah itu kami kembali di data di sini, kami meneruskan dengan VIP Bus, sedang sepasang bule tersebut hanya sampai perbatasan dan mereka akan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Selesai didata, kami disuruh naik minivan lagi dan minivan menuju jembatan persahabatan (Friendship Bridge), nah disini kami diturunkan. Urus imigrasi keluar Thailand, dapat cap. Tidak jauh dari situ disuruh membayar 40 Baht /orang entah untuk apa, saya lupa lagi. Di pintu keluar disuruh beli tiket bis lagi untuk mengantar ke perbatasan Laos..nah loh, kami pun sempat bingung sambil menunjukkan stiker di baju kami yang di beri orang travel sebagai penanda pada orang di Laos bahwa kami ikut bis mereka. Ternyata bis diperbatasan ini adalah bis yang berbeda, bis ini khusus untuk melewati jembatan persahabatan. Biayanya saya lupa lagi, kalau tidak salah 30 Baht/orang.

Masuk imigrasi Laos, super duper sepi. Hanya beberapa orang traveler saja di sini. Baru kali ini kami menemukan imigrasi perbatasan negara yang sesepi perbatasan di Laos ini. Setelah dapat cap ijin masuk Laos, kami pun bertanya pada supir tuktuk sambil menunjukkan stiker yang terpasang di baju kami…mereka sih hanya menjawab dengan menunjuk kursi, menyuruh kami duduk-duduk disitu. Sementara bule teman seperjalanan kami sudah pergi bersama tuktuk menuju kota terdekat, hanya tersisa kami berempat disitu…mana hampir maghrib. Untungnya gak berapa lama muncul sepasang turis muda China yang sama-sama pakai stiker. Ngobrol-ngobrol, kami nunggu bareng eh ternyata yang menjemput minivan lagi. Kami menunggu hingga kurang lebih jam 18.00 waktu setempat di perbatasan ini karena masih harus menunggu seorang turis cewek muda China, dan dua orang bule Spanyol kayaknya dari bahasanya.

Setelah lengkap, kami bertujuh diantar ke terminal bis. Di terminal bis inilah baru keliatan ada turis-turis lainnya berbagai bangsa, juga beberapa warga lokal. Bis ini penampakannya gak meyakinkan sebagai sleeper bus, agak-agak jelek gitu. Sewaktu akan masuk bis, kami dikasih plastik dan disuruh lepas alas kaki, alas kaki tersebut kemudian dimasukkam dalam plastik tersebut dan di bawa ke dalam bis. Nah tempat duduk kami paling depan, bentuknya kayak kursi yang dibaringkan gitu. Cuma posisi kepalanya menjungkit keatas sedikit, jadinya malah nanggung untuk dipakai tiduran…leher dan kepala saya jadi sakit banget selama perjalanan ini. Di setiap kursi ditaruh selimut, selimut ini saya jadikan bantalan untuk mengganjal posisi kepala yang gak nyaman banget. Oh iya, posisi tempat duduknya atas dan bawah, kami di atas paling depan.

Posisi kepala yang tidak nyaman, membuat saya mensugestikan diri untuk tidur saja sepanjang perjalanan…akhirnya ya beneran tidur, gak sadar situasi sekitar, hanya sesekali terbangun karena sakit kepala yang menyerang. Saya tahu bungsu saya mabuk karena sepanjang perjalanan jalananannya meliuk-liuk melingkari sebuah bukit atau gunung, tapi hebatnya dia tidak sedikit pun rewel atau bahkan membangunkan saya. Kalaupun dia terbangun, dia bermain sendiri bersama boneka bebeknya (yang walau sudah dekil dan butut tapi sudah ikut berpetualang kemana-mana juga nemenin si bungsu) sambil menggenggam erat minyak kayu putih atau hand sanitizer wangi bunga yang kami belikan khusus untuknya (yang memang gak tahan mencium yang bau-bau) selama perjalanan…salut banget deh sama si kecil, muah muah *kiss dulu*. Sedang sulung tidur nyenyak sepanjang perjalanan demikian pula si ayah.

Sekitar jam 2-an tengah malam akhirnya bis berhenti istirahat di warung sederhana, karena memang sepanjang perjalanan ini hanya hutan melulu, jarang ada rumah mungkin inilah satu-satunya tempat makan yang ada selama di perjalanan tersebut. Laa wong kalau mau pipis aja bisnya berhenti di hutan, penumpang disuruh pipis di tengah hutan-hutan gitu di udara yang dingin, kebayang gak? Nah disini saya gak tahan lagi, pokoknya saya harus turun dan cari minuman atau makanan hangat. Saya minta uang Kip ke ayah, untung ayah sempat nukar Kip sedikit di Chiang Mai. Makanan yang di jual cuma keripik-keripik sama chicken sandwich gitu (Baidewei, sandwich model roti Prancis ternyata makanan sehari-hari warga Laos loh…hampir semua tempat bahkan pasar menjual sandwich model begini. Mungkin pengaruh penjajahan Prancis ya) cuma walau katanya ayam tapi saya gak berani ambil resiko. Begitu melihat ada mie dalam kemasan, saya nyari bahasa inggrisnya…gak ono, pakai bahasa Laos semua yang hurufnya bukan latin lagi. Di saat hampir putus asa nyari makan, nemu mie kemasan yang bergambar udang dan tulisannya Tom Yam…nah ini bolehlah. Dikasih air panas sama penjualnya, harganya kalau gak salah 15rb Kip. Setelah makan ini saya agak segaran, gak mual lagi walau tetap masih sakit kepala gara-gara salah posisi tidur.

Subuh tanggal 8 Maret sekitar jam 5-an subuh, saat masih gelap, kami akhirnya tiba di terminal bis Luang Prabang. Dari terminal ini kami naik tutuk seharga 20rb Kip/orang untuk diantar ke hotel masing-masing. Baru setelah sampai di hotel si ayah cerita bahwa malam itu di dalam bis, di sepanjang perjalanan banyak yang muntah…pantesan perasaan saya bis sering banget berhenti…untung saja saya tidur pulas, kalau enggak lihat orang muntah… saya bisa ikut-ikutan muntah juga 😀 Oh iya satu lagi, di bis ini tersedia beberapa lusin botol air mineral yang saya yakin itu harusnya untuk penumpang tapi gak dibagiin, sampai suatu ketika ada orang Prancis yang kayaknya kehausan banget dan tidak bawa minum nanya, itu gratis gak? Baru deh tuh air minum dikasih ke penumpang, itupun dikasihnya ke yang minta aja. Untungnya karena posisi kami paling depan jadi keliatan, ya kami minta…yang kasian yang bagian belakang yang gak tahu.

Ketika sampai hotel, kami berniat check in (hotel sudah kami beli di internet) subuh-subuh, eh resepsionisnya yang baru terbangun dari tidur menyuruh kami menaruh barang saja di resepsionis. Katanya sih waktu check in kami jam 2 siang nanti, sungguh terlalu. Padahal ketika sampai pagi juga di Chiang Mai, pihak hotel membolehkan saja kami check in pagi-pagi…beda aturan…hiks.

Di Luang Prabang kami hanya sehari keliling kota, menikmati arsitektur tua peninggalan Prancis, melihat Morning Alms Giving Ceremony, ke Luang Prabang National Museum dan ke night market. Petualangan ini bisa dilihat di postingan sebelumnya. Malamnya kami melanjutkan pengelanaan kami ke kota selanjutnya.

# Menuju Vientiane (Laos), 8 Maret 2015 #

20150316-071700.jpg

Selama menunggu waktu check in hotel, kami berkelana kesono kemari saja dengan berjalan kaki di Luang Prabang. Bahkan sempat nyasar entah kemana, melewati jembatan tua gitu. Akhirnya cari makanan halal di salah satu resto vegetarian masakan india. Nah saat bolak balik makan di resto india ini, si pemilik mendekati kami sedikit ragu…dia bertanya apakah kami orang Prancis? Huapah katamu? Coba ulangi sekali lagi! Kami pernah di sangka orang Vietnam, orang Cambodia, orang Malaysia, bahkan orang China (tapi anehnya gak ada yang pernah nebak Indonesia), tapi baru kali ini disangka bule Prancis. Apa gak salah, tampang sedang dekil akibat perjalanan jauh Chiang Mai-Luang Prabang, belum mandi, item kumal…eh disangka bule Prancis.

Katanya sih dia dengar kami ngomong “dua” waktu sedang rembukan mesan makanan…nah menurut dia, bahasa Prancis untuk two adalah dua…itu sebabnya dia mengambil kesimpulan semena-mena gitu. “No, we are from Indonesia”, kata kami. Eh dia malah gak tahu dimana itu Indonesia…huahaha…*ketawa miris sambil ngucurin airmata*. Tapi asik juga makan disini, pertama makanannya enak, kedua ada free wifi…lumajen internetan sambil ngabisin waktu nungguin waktu check in hotel.

Nah setelah makan, kami ke post office. Krucils kami, terutama si sulung kami memproklamirkan diri bahwa mulai saat itu dia akan mengoleksi kartu pos plus stamp dari semua negara yang dikunjunginya. Saat melalui kantor pos inilah kami melihat travel besar yang menuliskan bahwa mereka menjual tiket bis tujuan Vientiane. Kami pesan VIP Bus lagi judulnya, sleeper bus lagi. Dia bilang tempat tidurnya benar-benar seperti tempat tidur, harganya 190.000 Kip / orang. Kami minta tempat duduk satu deret diatas, paling depan. Dia telp entah kemana, terus katanya ok tersedia seat yang kami minta. Tapi kami lupa tukar uang, sementara uang Kip yang kami dapat di Chiang Mai cuma seadanya, gak cukup untuk bayar tiket bis tersebut. Akhirnya kami tanya, bayar pakai dollar bisa? Dia terima, totalnya sekitar 76 USD dikembaliinnya dalam bentuk Kip sekitar 40rb Kip kalau gak salah.

Sulung saya menangis setelah tahu bahwa malam itu kami akan ke Vientiane. Dia meminta agar kami tetap di Luang Prabang, dia suka sekali Luang Prabang. Ketika kami tanya kenapa abang suka disini? Dia bilang enak, kan kotanya kecil seperti kata bunda. Kata bunda kota kecil itu bagus, jadi abang suka ditambah banyak bangunan bersejarah…abang kan belum lihat semuanya, jawabnya sambil bercucuran airmata. Duh duh sayang, waktu libur kita kan gak banyak, nanti kalau abang dan adek sudah besar, kalian backpackeranlah berdua keliling dunia. Kalau kalian suka disini, kalian kembalilah kesini nanti.

Siang itu ketika kami akhirnya bisa check in hotel, kami cerita sama resepsionis hotel malam itu kami akan check out untuk ke Vientiane. Dia kaget dan shock (serta saya yakin, dia merasa bersalah telah membiarkan kami terlunta-lunta sepanjang pagi di jalan), hah?! haha…baru juga check in jam 2 siang, jam 18.30an sudah mau check out. Dia nanya berapa kami beli tiket bis ke Vientiane, kami bilang 190rb Kip, dia bilang disini (di hotel tersebut) cuma 170rb Kip saja, kami kemahalan belinya katanya. Apa?! (giliran kami yang kaget dan shock..)

Malamnya kami dijemput tuktuk di hotel bersama beberapa bule, diantar ke terminal bis Bannaluang, yang ternyata letaknya gak jauh-jauh banget dari hotel. Setibanya di terminal bis, kami disuruh tukar tiket kami dengan tiket sebenarnya di counter tiket…eh disini baru ketahuan bahwa ternyata harga tiket sebenarnya di terminal ini hanya 150rb Kip…hahaha *nangis darah deh*. Sekali lagi sebuah pelajaran dipetik lagi untuk kedua kalinya, ingat-ingat beli tuh jangan dari tangan kedua tapi langsung tangan pertama, jauh lebih murah mas bro!

Kami nunggu sekitar sejam di terminal ini. Penampakan bisnya sih memperihatinkan juga, cuma kali ini dalamnya dong…keren. Ini bis double decker alias bis dua tingkat, berbeda dengan VIP Bus ke Luang Prabang yang sebenarnya bis biasa hanya dikasih tempat duduk dua tingkat, kalau bis VIP ke Vientiane ini benar-benar bis besar dua tingkat. Nah tempat duduknya berupa tempat tidur. Iya, benar-benar tempat tidur sepert di kamar, ada kasur, ada bantal, ada seprai, ada selimut dan ada sebotol air mineral. Dan senangnya lagi kali ini dalam bisnya ada toilet yang walaupun sempit tapi lumayan banget daripada disuruh buang air di hutan hehe. Lagi-lagi sebelum masuk bis kami dikasih kantong plastik untuk tempat menaruh alas kaki.

Yang lebih menyenangkan lagi karena kami minta tempat duduk atas dan paling depan…tempat tidurnya paling luas sendiri sama luasnya dengan yang paling belakang. Untuk kami yang berkeluarga sih asik banget, krucils langsung senang banget disini, heboh main-main, guling-gulingan. Ditambah kaca depan yang super besar mengelilingi kami, ketika lampu bis dimatikan suasananya malah jadi mirip sedang nonton bioskop 3 Dimensi dengan layar super besar, sedang nonton film petualangan di hutan Laos…hehe…seru. Saya sarankan sih naik bis ini tidak sendiri, lebih baik bersama keluarga atau teman. Untuk yang sedang berkelana sendiri nih yang jadi masalah, karena satu tempat tidur diisi oleh dua orang, jadi gak tahu deh teman tidurnya nanti sama siapa…iya kalau dapat teman yang asik, kalau yang gak asik …bakalan menderita kali hehe.

Di bis ke Vientiane ini kami benar-benar senang hati, tidur benar-benar nyaman serasa di kamar hotel, walau ac nya dingin banget waktu malam. Menjelang tengah malam bis istirahat makan di sebuah warung kecil, makan ini termasuk dalam service bis, gratis. Tapi ketika saya turun, tertarik liat ada makanan berkuah-kuah yang keliatannya nikmat banget disantap setelah kedinginan dalam bis, tapi ternyata ada daging-dagingnya gitu. Gak berani ah mencobanya, saya dan bungsu langsung balik ke bis saja ambil posisi meneruskan tidur lagi. Sementara ayah dan sulung lama banget dibawah, eh mereka makan. Kata ayah sih selain soup itu ada makanan lain yaitu nasi sama bebek rebus, nah mereka makan nasi dan bebek rebus ini…saya langsung menyesal, kok gak liat ya waktu turun…untung si ayah sempat bungkusin untuk kami.

Kami tiba di terminal bis Vientiane tanggal 9 Maret, sekitar jam 6 atau 7 pagi. Dari terminal ini kami naik tuktuk seharga 20rb Kip /orang ke hotel kami di city center. Kami sama sekali belum beli hotel, kami hanya berpedoman dari hotel termurah yang sempat saya cari sekilas di internet. Begitu tiba hotel untungnya ada kamar kosong seharga harga 30 USD…hmm, ambil aja deh males nyari lagi, kamarnya juga besar.

Istirahat, keluarin pakaian kotor masukin laundry di hotel 25rb Kip untuk semua pakaian kotor, cari makan. Ngomong-ngomong tentang laundry, kami menyesal banget masukin laundry di sini, pakaian hanya dicuciin begitu saja, gak disetrika, lipatnya juga asal, gak wangi lagi…aneh kan untuk ukuran laundry di hotel. Kami hanya sehari di Vientiane. Disini kami jalan-jalan ke Patuxai, That Dam Stupa, Presidential Palace, Lao National Museum serta tidak ketinggalan ke Night Market. Petualangan di Vientiane bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Bangkok (Thailand), 10 Maret 2015 #

20150316-072148.jpg

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kali ini kami bertekad untuk membeli sendiri langsung dari loket resmi bis dan kereta menuju Bangkok. Pihak hotel sih menawarkan tiket bis ke Nongkhai (perbatasan Laos-Thailand yang ada stasiun kereta ke Bangkok) 200rb Kip/orang padahal di terminal bis harganya 15rb Kip/orang saja, jauh banget kan bedanya. Belum lagi kereta Nongkhai ke Bangkok harganya juga diatas harga resmi tapi dia tidak berani menjamin tempat duduk satu deret seperti kami minta. Akhirnya kami beli langsung di loket kereta di Nongkhai seharga 750 Baht/orang. Malahan orang loketnya menyarankan kami beli tiket kelas duduk aja, katanya enak tempat duduknya bisa tiduran hanya seharga 550Baht (kalau gak salah, lupa lagi). Laa kami nyarinya tiket first class malah disaranin tiket kelas duduk…tahu aja si bapak kami backpacker haha..

Jam 11-an siang kami check out dari hotel, sewa tuktuk 50rb Kip untuk mengantar ke terminal bis karena kami mengejar bis ke Nongkhai yang jam 12an. Bis ke Nongkhai ini ada yang jam 8 pagi, jam 10 dan jam 12. Kami pilih yang jam 12-an karena dari Vientiane ke Nongkhai tuh dekat saja, hanya satu jam kurang lebih. Di terminal saya sempat belanja cepat, karena letak terminal yang dekat morning market sedang saya belum beli oleh-oleh, akhirnya buru-buru pergi ke pasar terdekat di terminal sementara si ayah dan krucils menunggu di terminal. Kami naik bis yang ada tulisannya International Bus…wuiih keren kan ada bis mirip kopaja tapi tulisannya bis internasional..hehe. Kebanyakan penumpangnya warga lokal, atau orang Thailand yang tinggal bekerja di Vientiane atau sebaliknya, jadi mereka gak pakai passport hanya kertas fotokopian sementara gitu, judulnya temporary residence. Warga asingnya hanya ada dua bule serta kami.

Begitu sampai di perbatasan keluar Laos, kami turun hanya membawa passport sedang semua barang ditinggal di bis. Di sini kami liat semua orang antri membeli sesuatu di loket, kami gak ngeh jadi langsung ke imigrasi untuk dapat cap keluar. Begitu keluar imigrasi ini ada pintu-pintu otomatis, nah untuk keluar dari pintu itu kami lihat semua orang memasukkan semacam kartu eletronik gitu. Kami bingung dong, gimana mau keluar…petugas yang jaga pintu juga bingung menjelaskannya. Akhirnya ada petugas yang datang menjelaskan dalam bahasa inggris bahwa kami harus beli kartu tersebut tadi di depan, ya itu mungkin antrian yang kami lihat membeli sesuatu. Takut ketinggalan bis sementara barang kami dalam bis tersebut, kami lari-larian beli kartu ini. Lama dan ribet pula lagi prosesnya, harus ngasihin passport dulu..masukin nama. Tapi lucunya kami dikasih kartu gratis, gak bayar…haha..rejeki memang gak kemana.

Baru kali ini kami nemuin imigrasi yang pakai kartu-kartuan segala. Setelah akhirnya bisa keluar imigrasi ini, kami masuk bis lagi. Setelah semua masuk bis, bis jalan lagi sebentar kemudian berhenti di perbatasan masuk Thailand. Di sini kami disuruh turun dengan membawa seluruh barang bersama kami. Di imigrasi masuk Thailand ini banyak banget bule numpang ngadem karena ruangannya pakai ac dan kipas angin besar gitu. Mereka yang sudah kelar urusan imigrasi bukannya keluar malah duduk-duduk, berdiri ngobrol di depan kipas angin sampai petugas imigrasinya marah, hey.. get out katanya sambil ngusir bule-bule yang langsung ngacir keluar setelah diusir haha, lagian siapa suruh numpang ngadem di imigrasi. Setelah dapat cap masuk, kami naik tuktuk seharga 100Baht ke stasiun kereta yang ternyata dekat banget dari imigrasi ini, jalan juga bisa sebenarnya cuma puanasnya poll nampol deh.

Kami sampai di Stasiun kereta Nongkhai sekitar jam 14.00, kami berniat beli tiket first class ke Bangkok ternyata habis katanya. Adanya second class, itupun hanya ada yang atas, harganya kalau gak salah 750Baht/orang. Kami minta satu deret…si petugas mengangguk setuju, ternyata hanya dua yang satu deret, sedang dua lagi beda tempat. Awalnya saya ragu beli empat karena ini kereta tidur, ngeri membayangkan bungsu saya tidur sendiri di atas, bahkan petugas loket pun heran kami membeli tiket empat buah. Kata si ayah berdasarkan pengalamannya waktu kami naik sleeper train Penang-Kuala Lumpur, tempat tidur diatas tuh lebih sempit daripada dibawah jadi ya harus beli empat. Waktu Penang-Kuala Lumpur saya dan bungsu dapat yang bawah, ya bagi saya cukup-cukup aja sedang ayah dan sulung dapat yang atas katanya sih sempit untuk berdua. Waktu Penang-Kuala Lumpur sih boleh saja satu tempat tidur diisi berdua dengan anak, cuma untuk anak bayarnya setengah harga tiket. Tapi ayah tetap pengen beli empat, yo wes.

Cukup lama juga kami menunggu di stasiun ini, padahal keberangkatan kereta sekitar jam 18.30. Awalnya hanya ada kami, kemudian mulai berdatangan turis-turis lain. Ruang tunggu stasiun ini asik banget, bersih dan rapi, ada tempat ngecharge HP juga. Berhubung kami sudah kehabisan stok Baht, yang tersisa malah Kip sedang kami sudah berada di wilayah Thailand lagi, si ayah sempat nyari money changer keluar stasiun. Lama banget perginya, rupanya dia kembali ke imigrasi jalan kaki karena disana ada money changer dan ada seven eleven tempat beli makanan dan minuman banyak untuk persedian krucils di kereta *kecup si ayah, muah*.

Kereta tidur ini keren, enak banget tidur didalamnya cuma ac nya super duper dingin. Awalnya tempat duduknya masih berupa tempat duduk biasa, baru sekitar jam 8 atau 9 malam ada petugas yang berkeliling dalam gerbong untuk mengubah tempat duduk tersebut menjadi tempat tidur. Begitu tempat tidur diubah, saya langsung tidur dengan pulas bergelung dalam selimut, ngantuk berat. Sementara krucils masih bermain heboh saya dengar ditemani ayah. Sekitar jam 3 subuh saya terbangun, intip tempat tidur krucils eh ternyata si ayah sedang tidur bareng bungsu, sulung sendiri. Baru sekitar jam 5 subuh, si bungsu sadar kalau ternyata dia tidur bareng ayahnya langsung marah-marah nyuruh ayahnya kembali ke tempat tidurnya sendiri. Bungsu kami ini memang pengen banget disebut anak besar yang bisa tidur sendiri, dia bete banget setelah sadar kalau ternyata orang tuanya masih mengkhawatirkan dia…hehe.

Setelah terbangun jam 3 subuh dan memastikan krucils baik-baik saja, saya tidur lagi. Sekitar jam 5 subuh ada petugas yang ngebangunin, berkeliling dari satu gerbong ke gerbong lain sambil menyapa good morning…good morning. Laa saya yang kaget kirain sudah sampai..ngintip lewat gorden yang menutupi tempat tidur ternyata petugasnya ngebangunin aja. Sebagian tempat tidur diujung gerbong sudah diubah jadi tempat duduk kembali. Saya teruskan saja baring-baring kembali, soalnya dapat tempat tidur diatas susah untuk duduk-duduk. Setelah petugas mau mengubah tempat tidur menjadi tempat duduk kembali karena sudah mendekati Bangkok baru ayah dan saya turun untuk ngebangunin krucils.

Tanggal 11 Maret, sekitar jam 6 pagi, kami pun sampai di stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Di stasiun ini kami duduk-duduk sebentar nungguin ayah ngecek di Hpnya katanya sih mau nyari hotel (kami memang jadi malas beli hotel di internet lagi sejak tidak diperbolehkan check in pagi di Luang Prabang). Laa krucils sih mana mau disuruh nunggu diam gitu, mereka merengek-rengek ngajak jalan. Kemudian saya bilang kenapa harus repot sih yah? Kenapa gak ke Khaosan Road lagi aja, ke hotel tahun lalu…kalau gak ada kamar, ya cari aja seputaran situ karena daerah situ penuh dengan hotel dan guesthouse.

Kami naik taxi meter dari stasiun kereta ke Khaosan Road dengan biaya sekitar 75 Baht saja. Awalnya kami mencoba hotel lain yang tampaknya sih keren, ada sih kamar tapi melihat kami sekeluarga si resepsionis malah bilang ke kami, kamar-kamar di hotel tersebut berisik banget oleh musik kalau malam, mungkin kalian akan kesulitan untuk tidur katanya (memang sih depan hotel tersebut ada bar yang ramai banget kalau malam). Baik banget kan dia ngingatin begitu, bukannya malah menyembunyikan informasi beginian.

Akhirnya kami ke hotel kami tahun lalu, tanya kamar ternyata full katanya. Si ayah dan saya pengen nyari tempat lain saja namun sulung kami minta, di Khaosan aja enak, disini kita bisa belanja-belanja gak jauh dari mana-mana. Duile ternyata sulung kami terkesan banget sama Khaosan, ya sudah kami tanya saja di hotel tidak jauh dari hotel kami tahun lalu. Ada kamar, harganya kalau gak salah 750 Baht. Kamarnya lumayan sih cuma free wifinya yang nyebelin, masa tiap jam harus login ulang. Biasanya hotel kan free wifinya berlaku selama tamu berada di hotel tersebut, bukan tiap jam ngilang hingga harus login ulang. Selain itu sih tidak ada komplain dari kami.

Kami di Bangkok hanya satu hari, rencananya istirahat saja di Bangkok ini. Tapi punya krucils berjiwa petualang mana bisa disuruh diam istirahat di hotel, malah ngajak jalan berkelana lagi. Malah mereka komplain, kok petualangan kita sebentar banget sih…kenapa gak sebulan aja sih? Huapah? Pengen sebulan? Kalau gak kena marah kepala sekolah kalian…hehe.

Di Bangkok kami hanya satu hari, kami ke Madam Tussauds dan berkelana dengan Chao Phraya Express Boat ke China Town, malamnya ayah ngajak jalan-jalan tapi saya lebih memilih istirahat di hotel karena sakit kepala. Hanya ayah dan krucils yang jalan seputaran Khaosan sambil mencari kebahagiaan untuk si bungsu , istilah ciptaannya untuk ice cream…hehe, lucu kan krucils. Walau katanya mau begadang ternyata mereka cepat balik hotel, si ayah dan sulung sakit kepala mendengar musik-musik keras yang dilantunkan bar-bar di sepanjang Khaosan, tuh kan salah sendiri disuruh istirahat malah sok-sokan keliling Khaosan hehe. Pada akhirnya kami cepat tidur, selain pada gak enak badan juga besok kami harus ke bandara subuh-subuh.

# Menuju Kuala Lumpur (Malaysia), 12 Maret 2015 #

20150316-072503.jpg

Seperti sebelumnya yang telah kami ceritakan, ke Bangkok ini adalah rencana dadakan karena setelah hitung-hitungan waktu untuk ke Hanoi tidak cukup. Niat awal sih ke Bangkok, lanjut ke Hatyai dengan kereta, lanjut lagi ke Kuala Lumpur dengan kereta pula tapi gak cukup juga waktunya. Jadi kami memutuskan istirahat di Bangkok untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang menggunakan pesawat ke Kuala Lumpur.

Beli tiket pesawat Bangkok – KL ini dadakan juga, malam ketika kami berada di Bangkok. Selain beli tiket pesawat juga sekalian beli hotel di KL. Begitu masuk e-mail konfirmasi dari maskapai bersangkutan dan booking hotel bersangkutan, langsung tidur deh. Sama sekali belum kepikiran besok naik apa ke bandara. Baru subuh ayah dan saya kasak kusuk packing-packing bawaan yang jadi segambreng. Eits, jangan salah, penuhnya bukan dengan barang berkelas…penuhnya malah sama gantungan kunci berbentuk boneka gajah, magnet kulkas, dan tetek bengek souvenir murahan lainnya. Untung bawa ransel tambahan, ransel keren ini kalau tidak dipakai bisa dilipat kecil dan tipis banget cocok banget untuk backpacker seperti kami. Sementara saya packing-packing, ayah turun ke bawah ke resepsionis nanyain transportasi ke bandara. Tahun lalu kami pesan di hotel untuk transportasi ke bandara ini, harganya 600Baht. Tapi karena kami belum booking malam sebelumnya, resepsionis tidak bisa membantu.

Kami pun membangunkan krucils subuh-subuh, hayo kita ke bandara sayang, kita belum cari taxi. Sambil menenteng barang dan menggandeng krucils keluar hotel, jam 5.30 subuh ternyata Khaosan Road masih penuh dengan turis, ya ampyun nih kawasan gak pernah tidur apa. Beberapa turis mabuk terlihat tidur dijalan, beberapa turis lainnya sedang pijat di tepi jalan yang berubah jadi tempat pijat dadakan, sebagian masih di bar menonton pertandingan bola. Baru kali ini kami keluar subuh di kawasan ini, jadi baru ngeh ada pemandangan seperti ini.

Di luar Khaosan kami mencegat taxi meter, kami minta diantar ke Don Mueang. Awalnya dia minta 300Baht tapi si ayah minta dia menghidupkan argonya, supir taxi setuju. Di dekat bandara macet banget, ketika sampai argo hanya menunjukkan 275 Baht tapi ayah kasih 300Baht. Wuiih lagi-lagi membuktikan langsung dari tangan pertama lebih murah, bandingkan dengan tarif di hotel yang 600Baht ke Don Mueang.

Walau waktu keberangkatan pesawat kami jam 09.25 sebenarnya, tapi kami belum check in. Biasanya kalau di rumah kami self check in di internet, kemudian print sendiri check in nya. Laa karena sedang di perjalanan kami susah juga mau self check in. Cari di bandara, ada sih mesin self check in nya cuma kata petugasnya yang internasional sedang gak connect jadi harus check in di counternya di dalam. Masuk ke dalam, antriannya panjang banget, kaget juga kami padahal tahun lalu rasanya tidak seramai ini pesawat pagi. Apa sekarang semua pesawat jadi pagi, atau sedang ada libur nasional atau apa, kok banyak banget penumpang di bandara.

Setelah check in, masuk ke imigrasi lebih panjang lagi antriannya. Mana Banyak turis China yang nyerobot-nyerobot lagi tepat di depan saya. Kalau cuma satu orang yang nyerobot sih mending, laa ini satu rombongan nyerobot, gak lucu banget kan. Anehnya lagi sudah salah, ditegur sama petugas bukannya minta maaf eh malah nyolot, petugasnya di dorong-dorong dan jadi cek-cok mulut sama petugas bandara… hadeuh. Padahal banyak juga penumpang lain yang pesawatnya sudah hampir boarding masih tertib antri. Kalau sedang dalam antrian biasakan sabar deh, sabar itu subur…hehe.

Untung saja kami preventif sejak pagi sudah ke bandara. Jam 08.20 boarding, tiba di KLIA 2 sekitar jam 14.40 waktu setempat. Selesai urusan imigrasi, langsung ngacir nyari makan. Nemu Resto yang jual rendang yang rasanya malah kaya kari atau gulai, saatnya berkalap ria karena sepanjang jalan susah nemu makanan halal. Masuk hotel…istirahat. Malamnya seperti biasa berkelana lagi di bandara sekalian nyari makan.

# Menuju Little House on the Prairie (Indonesia), 13 Maret 2015 #

Kami kembali berkemas di subuh hari, rapiin ini itu, bangunin krucils. Jalan ke bandara, masuk imigrasi, beli minuman. Kemudian ayah dan krucils sholat di mushola, lanjut jalan ke gate keberangkatan. Nunggu keberangkatan sambil makan nasi lemak yang malam sebelumnya sudah dibeli dan main game. Jam 08.20 pesawat take off, jam 11-an pesawat landing di bandara kota kami. Setelah roda menyentuh landasan, baru keliatan kalau kota kami sedang hujan gerimis. Alhamdulillah, senang banget sampai di rumah kembali walau agak nyesak juga karena Imuto anak kucing peliharaan yang kami taruh di depan rumah hilang. Kembali ke rutinitas….krucils, siapkan buku sekolah untuk besok…haha 😀





Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Phnom Penh – Siem Reap – Bangkok

28 04 2014

20140428-022926.jpg

Alhamdulillah, kami bisa ngajak krucils jalan-jalan lagi melihat dunia luar, berpetualang lagi, berkelana lagi, menjelajah lagi. Kali ini kami berencana mengunjungi 3 negara, atau 4 negara kalau dihitung dengan negara transit pengelanaan. Apa aja sih negaranya? Mau tahu aja atau mau tahu banget? hehe. Negara tersebut adalah Malaysia (transit), Vietnam, Cambodia, dan Thailand…seru kan? Pastinya seru dong…

Petualangan ini sudah sejak setahun yang lalu kami rencanakan, awalnya kami tertarik untuk menyambangi 5 negara di Asia sekaligus yaitu Thailand nyeberang dikit ke Myanmar, lalu keatas dikit Laos, lanjut ke Vietnam, kemudian turun ke Cambodia. Tapi kemudian kami menyadari bahwa susah untuk mengatur waktu mengunjungi 5 negara sekaligus dengan waktu libur hanya 10 harian, yang ada habis waktu dijalan aja. Akhirnya kami memutuskan mengunjungi 3 negara saja dulu, dimulai dari Ho Chi Minh City (Vietnam) lalu ke Phnom Penh dan Siem Reap (Cambodia) ==> tujuan utama memenuhi impian si bungsu mengunjungi 7 keajaiban dunia, ya salah satunya Angkor Wat, kemudian berleha-leha di Bangkok (Thailand).

Seperti yang sudah-sudah, krucils yang paling heboh. Sok ikutan bantu packing-packing, ikutan hunting tempat yang ingin mereka kunjungi, ikutan nyari-nyari hotel….wah seru deh. Senang banget ngeliat antusiasme mereka setiap saat. Inilah cerita suka duka penjelajahan kami melintasi negara-negara tersebut ala backpacker.

# Menuju LCCT, Kuala Lumpur (Malaysia), 16 April 2014 #
Menjelang berangkat memulai petualangan ini, saya dan sulung saya malah terserang flu akibat ketularan si bungsu yang seminggu sebelumnya juga terserang flu. Sakit kepala, flu dan datang bulan membuat saya malas untuk browsing, googling dan surfing…untung ada si ayah, jadi beres. Bagi-bagi tugas dengan si ayah akhirnya saya kebagian ngurus packing dan beli hotel di internet sisanya urusan ayah hehe.

Jadwal pesawat kami ke Kuala Lumpur jam 12.00 siang, tapi karena krucils sudah tidak sabar akhirnya jam 9-an pagi kami sudah kebandara…hahaha. Di bandara malah bertemu sama tetangga satu blok yang sama-sama mau ke KL tapi dia hendak meneruskan ke Alor Setar sore itu sedangkan kami transit semalam dulu sebelum meneruskan ke Ho Chi Minh.

Tiba di LCCT jam 14.35, selesai urusan imigrasi langsung ngacir ke Taste of Asia, makan dulu walau dipesawat juga sebenarnya sudah makan tapi rasanya gak afdol banget kalau gak ngabsen disini. Setelah makan nasi lemak dan minum teh tarik panas, sakit kepala yang menyerang saya jadi agak berkurang…baiklah, saatnya ke hotel. Kami menggunakan taxi bandara dengan tarif RM 50 (kalau gak salah, lupa euy) untuk mengantar kami ke hotel yang telah kami beli di internet yang letaknya di daerah Sepang. Di hotel sempat berburu nasi lemak lagi kemudian istirahat…petualangan panjang telah menanti.

# Menuju Ho Chi Minh City (Vietnam), 17 April 2014 #
IMG20140417003 Esok subuhnya menggunakan taxi dengan tarif RM 55, kami ke LCCT kembali. Jadwal pesawat kami ke Ho Chi Minh City jam 07.05 pagi dan tiba jam 08.05 waktu setempat. Lama perjalanan sebenarnya sekitar 2 jam tapi karena perbedaan waktu satu jam antara Kuala Lumpur dan Ho Chi Minh, jadi terlihat waktu tempuhnya seperti hanya 1 jam-an saja.

Kami sempat kena tegur petugas imigrasi karena si ayah berniat ngambil foto padahal belum sempat motret sudah kena tegur duluan. Entah kenapa petugas-petugasnya kurang ramah sama pengunjung, selain dilarang foto, turis-turis yang ngantri juga sering ditegur karena ngantrinya kepanjangan disatu tempat (gak liat kalau loket imigrasinya ternyata lumayan banyak jadi pada ngantri di loket-loket terdekat saja).

Setelah selesai urusan imigrasi, kami pun langsung mencari money changer…belum punya Dong (mata uang Vietnam) nih. Salahnya kami, kami gak punya uang Dollar pecahan kecil, uang yang kami bawa pecahan 100 sehingga ketika kami bilang hanya nukar 50$ saja (niatnya untuk ongkos bis atau transportasi dari bandara ke kota saja), money changernya gak mau. Mereka hanya mau menukar 100$…ya sudahlah daripada gak punya uang akhirnya kami tukar saja 100$ yang setara dengan 2,1 juta Dong. Dan dikasihnya pecahan besar juga lagi, 11 lembar pecahan 100rb Dong plus 2 lembar pecahan 500rb Dong. Pada akhirnya tetap aja kami kebingungan bayar tiket bis yang hanya seharga 5000 Dong/orang hahaha.

Dari bandara kami naik bis umum yang bentuknya mirip metromini nomor 152 ke Pham Ngu Lao, letak hotel kami. Setelah bertanya sama penumpang seorang ibu yang duduk dibelakang saya, akhirnya kami berhenti di dekat Ben Thanh, kemudian jalan kaki ke hotel kami yang letaknya persis seperti yang digambarkannya, ditengah-tengah Pham Ngu Lao (backpacker area). Di Ho Chi Minh kami berkelana ke War Remnant Museum, Reunification Palace, Ben Thanh Market, Tao Dan Park dan menjelajah sepanjang Pham Ngu Lao…seruuu melihat di Ho Chi Minh banyak taman dan bersih. Dan lebih seru lagi melihat motor-motor yang berseliweran, penuh banget dan njelimet kalau sudah jam pulang kerja dengan helm-helm bulat lucu. Untuk petualangan kami di Ho Chi Minh City, lihat postingan sebelumnya.

# Menuju Phnom Penh (Cambodia), 18 April 2014 #
IMG20140418009 Pertama-tama yang kami lakukan di Ho Chi Minh adalah membeli tiket bis ke Phnom Penh untuk keesokan harinya. Hasil baca dari buku katanya sih bis yang paling direkomendasikan adalah Mekong Express yang agennya ada di Pham Ngu Lao, dekat hotel kami berada. Kata si ayah sih, yang dia baca bis hanya ada satu kali setiap hari yaitu jam 8 pagi sedang kami sudah kesiangan waktu ke agen bis ini. Ternyata bis pagi penuh, ada yang jam 12 siang esok hari itupun hanya tersisa 3 seat paling belakang dekat toilet! Harga tiket bis ini 23$ / orang tapi karena kami hanya kebagian 3 seat, jadi dihitungnya ya cuma untuk 3 orang.

Kebayang pengalaman buruk waktu naik bis “first class” dari Phuket ke Hatyai yang kondisinya…yaaa…gitu deh dan toiletnya wangi semerbak bikin mual, awalnya agak ragu juga kami mengambilnya. Tapi hotel di kota-kota selanjutnya sudah terlanjur dibeli, jadi akhirnya nekat kami ambil saja seat yang tersisa sembari menyiapkan masker hidung untuk jaga-jaga..hehe.

Ternyata bisnya lumayan bagus, bersih, pakai Ac, toiletnya juga sama sekali tanpa bau dan hebatnya pakai pramugari (eh pramugari untuk pesawat, kalau bis apaan yah?). Selama perjalanan, pramugari ini yang memberitahukan pada penumpang sudah sampai dimana atau apa yang harus dilakukan ketika memasuki daerah perbatasan kedua negara selain itu juga membagikan minuman, cemilan roti (yang sama sekali tidak berani kami sentuh karena rotinya isi daging yang malas juga nanya daging apaan), tisu basah dan ngurusin pasport kami selama di imigrasi. Lama perjalanan 6 jam ditambah berhenti istirahat makan dan urusan imigrasi, jatuhnya sekitar 7-8 jam-an di jalan.

Selama perjalanan sih saya tidur sehingga tidak banyak yang bisa saya ceritakan kecuali ketika sampai suatu tempat sudah berada di wilayah Cambodia, jalan bis agak tersendat. Ketika kami lihat keluar ternyata jalan macet oleh kendaraan-kendaraan berbentuk pick up dan truk terbuka yang isinya berjejalan buruh-buruh pabrik yang sudah kayak sapi aja dimasukkan berjejalan gitu…kasian juga liatnya. Selain itu juga yang paling mengesankan selama perjalanan ini adalah ketika bis naik ferry kecil menyeberangi sungai Mekong. Dari antri masuk ferry, ferry jalan hingga akhirnya bis turun dari ferry memakan waktu hanya sekitar 5 menit saja, cepat prosesnya tidak seperti di Balikpapan yang antrinya bisa berjam-jam belum lagi nunggu berlabuhnya. Padahal ferry di Cambodia ini sederhana banget dan jalan menuju pelabuhan ferry ini pun masih jalan tanah tapi proses yang cepat membuat kami salut.

Akhirnya sekitar jam 8 malam kami pun sampai di Phom Penh. Dari tempat bis Mekong Express ini kami naik tuktuk seharga 4$ ke hotel kami di Sisowath Quay yang letaknya menghadap sungai yang kalau malam asyik banget tempatnya. Di Phnom Penh kami ke night market, jalan-jalan ke Wat Phnom, Central Market, National Museum of Cambodia dan Royal Palace…lebih lengkapnya liat postingan sebelumnya.

# Menuju Siam Reap (Cambodia), 19 April 2014 #
IMG20140419014 Kami kembali menggunakan bis Mekong Express ke Siam Reap. Tiket bis ke Siam Reap ini (23$/orang) sudah sekalian kami beli waktu di Ho Chi Minh, awalnya kami memilih tempat duduk paling depan tapi dengan alasan keamanan karena kami bawa krucils, mereka tidak mau memberikan tempat duduk paling depan. Kami akhirnya dapat seat nomor lima dan kali ini bisa lebih leluasa selama perjalanan karena kami dapat 4 seat.

Dari hotel kami dijemput minivan yang disediakan oleh bis untuk berkumpul di tempat bis Mekong Express yang ruang tunggunya ber Ac dan free wifi…hihi, penting banget nih. Bis berangkat sekitar jam 12.30 siang namun kali ini bukan mbak pramugari lagi yang mengurusi kami di bis tapi mas pramugara, yang tugasnya sih sama memberitahukan penumpang sudah berada dimana, mau ngapain (berhenti istirahat makan), membagikan makan dan minum, dsb. Lama perjalanan kurang lebih sama dengan ke Phnom Penh, memakan waktu 6-7 jam ditambah dengan istirahat makan. Bedanya selama perjalanan bis tidak bisa jalan cepat karena banyak jalan rusak dan jalannya berdebu banget, mirip banget dengan jalan di kabupaten-kabupaten di Indonesia. Sepanjang jalan juga banyak perbaikan jalan, pemandangannya sawah yang baru dipanen, rumah penduduk yang berbentuk panggung, sapi-sapi kurus dan temple-temple.

Ketika jam menunjukkan angka 7 malam kami pun akhirnya sampai di Siem Reap. Bis berhenti di terminal bis yang letaknya sekitar 6km dari pusat kota sedang hotel kami terletak di pusat kota. Turun dari bis kami pun memesan tuktuk untuk mengantar kami ke hotel dengan tarif 3$. Sebelum mengantar kami ke hotel, ayah meminta supir tuktuk untuk berhenti sebentar di Nattakan Express dulu untuk membeli tiket bis ke Bangkok seharga 28$/orang. Sebenarnya banyak bis-bis lainnya dari Siam Reap ke Bangkok, tapi umumnya bis lain hanya mengantar sampai perbatasan Cambodia dan akan berganti dengan minivan saat memasuki wilayah Thailand. Kenapa demikian? Hal ini dikarena sistem setir mobil yang berbeda, jika di Cambodia setir jalur sebelah kanan, nah di Thailand setirnya sama dengan di Indonesia dijalur kiri. Karena kami malas kalau harus ribet berganti-ganti kendaraan seperti itu, untungnya katanya ada bis baru yang bisa langsung Siem Reap-Bangkok tanpa harus berganti kendaraan yang walau sedikit lebih mahal kami lebih memilih menggunakan bis ini.

Setelah tiket bis sudah ditangan dan sempat beli KFC (KFC dieu…KFC dieu…yang paling aman soalnya hehe), kami pun istirahat di hotel kami di Siem Reap. Esoknya kami keliling komplek percandian Angkor Wat yang luas banget (seperti sebuah kota kecil saja) sampai gempor dan malamnya keliling Siem Reap melihat-lihat kehidupan malam serta night marketnya sekaligus cari makan menggunakan sepeda dan bertemu dengan pemukiman muslim serta penjual makanan halal. Kami 2 malam di Siem Reap, cerita lengkapnya lihat postingan sebelumnya.

# Menuju Bangkok (Thailand), 21 April 2014 #
DSC_0024 Pagi hari kedua di Siem Reap kami dijemput tuktuk di hotel untuk diantar ke tempat bis Nattakan yang letaknya sih sebenarnya tidak jauh dari hotel tapi karena ada fasilitas penjemputan ke hotel ya kami manfaatkan saja. Di ruang tunggu bis sembari check in, passport kami juga dimasukkan dalam data mereka.

Bis Nattakan hanya punya dua jadwal keberangkatan dipagi hari, yaitu jam 8 dan jam 9 pagi. Hal ini dikarenakan waktu tempuh Siam Reap – Bangkok yang memakan waktu 10-12 jam perjalanan, ditambah border (perbatasan) imigrasi Thailand yang tidak buka 24 jam, hanya buka pagi hingga jam 7 malam. Dan beruntungnya lagi, bis sebesar itu isinya hanya sekitar sepuluh orang saja, kami berempat dan bule-bule…jadi si pramugara (iya pakai pramugara juga seperti Mekong Express) membolehkan kami duduk dimana saja yang kami inginkan.

Di perbatasan keluar Cambodia (Poipet) kami hanya disuruh turun membawa passport saja. Dari imigrasi Cambodia kami harus jalan kaki yang lumayan jauh juga memasuki wilayah Thailand (Aranyaprathet). Begitu masuk wilayah Thailand, si pramugara sudah menunggu kami sembari menyerahkan barang bawaan kami karena katanya barang harus melewati X-ray. Nah di imigrasi Thailand ini, bujubune…antrinya puanjangnya poll deh. Ruangnya sempit, antriannya panjang eh petugas imigrasinya hanya 3 orang untuk mengurusi ratusan orang yang berniat masuk Thailand melalui Cambodia ini. Kebayangkan antriannya gimana, walau ruangannya ber Ac tapi karena sempit ditambah antriannya panjang melingkar-lingkar gitu jadi gak terasa juga Ac nya…panas…

Setelah antri sekitar 1,5-2 jam akhirnya dapat cap masuk Thailand juga. Kalau kata bule yang satu bis sama kami, we did it…we survive…wahaha…kayak apa aja tapi rasanya memang seperti itu. Saya dan ayah terpisah loket, sulung dan si ayah diloket sebelah kanan, saya dan bungsu di loket sebelah kiri…dan setelah urusan passport saya selesai, giliran passport si bungsu. Petugas imigrasi bilang foto, ya saya pasang pose dong dikameranya…eh dia malah menyorongkan passport ke arah saya sambil ngangkat keatas dan bilang up up…saya kebingungan dong, masa iya disuruh foto narsis sambil megang passport dekat kepala, emangnya anak alay hehe. Eh melihat saya yang terbengong-bengong dia bilang lagi kiden kiden up up…laaah saya tambah bingung, sambil mikir apaan yah maksudnya kiden itu? Rupanya maksudnya saya disuruh gendong si bungsu untuk di foto wahahaha….biasanya krucils gak repot urusannya diimigrasi, eh disini disuruh foto juga rupanya…maaf pak, saya gak ngerti…hehe.

Nah selesai diimigrasi dan dapat cap ijin masuk Thailand di passport, berjalanlah kami ke arah bis kami menunggu. Kami sudah ditungguin si pramugara, katanya kami the last one, yang lain sudah pada nungguin hehehe. Kemudian bis pun jalan lagi dan sempat berhenti istirahat untuk memberi kesempatan penumpang untuk ke toilet atau membeli makan minum di dekat pom bensin yang ada gerai seven elevennya. Ketika akhirnya bis sudah memasuki Bangkok, langsung disambut dengan kemacetan jalan…bener-bener macet padahal melalui jalan tol, serasa ada di Jakarta aja. Terjebak kemacetan ini memakan waktu 2 jam sendiri…arrrggghhh. Kata saya ke krucils, kotanya mirip Jakarta ya. Sulung saya langsung menjawab, bedalah bunda…disini lebih bersih. Memang lebih bersih sih tapi tetap aja macet.

Setibanya di terminal bis Bangkok, kami bertanya ke ayah, “dari sini kita naik apa yah?” Ayah dengan entengnya menjawab, ayah juga gak tahu…dia belum mempelajari Bangkok sama sekali, kacau deh dunia persilatan. Tanya sama petugas yang lalu lalang eh malah dioper-oper, ditunjuk kesana tapi pas kesana orangnya malah balik nunjuk kesini…mana gak bisa bahasa inggris lagi. Akhirnya ketemu ruang informasi, pas kami nanya gimana caranya ke Khaosan Road…dia hanya menjawab tuktuk. Kemudian muncullah supir tuktuk yang lumayan bisa bahasa inggris, dia nawarin 300 Baht ke Khaosan. Feeling saya sih harga tersebut kemahalan, ditawar 100 Baht dia gak mau…akhirnya saya bilang ke ayah, mending kita pakai taxi argo deh, yang kalau disini tulisannya Taxi Meter. Mahal tapi jelas…apalagi bule-bule teman seperjalanan kami juga banyak antri naik Taxi ini.

Akhirnya antrilah kami nunggu Taxi Meter ini, ya antri beneran…begitu Taxi muncul, antrian yang paling depan yang berhak masuk duluan demikian seterusnya hingga tiba giliran kami. Naik Taxi Meter ini hanya kena tarif sekitar 75 Baht saja, enak lagi pakai Ac dan wangi. Tapi supir Taxinya gak tahu letak hotel kami, kami disuruh cari sendiri di Khaosan Road. Untungnya banyak Polisi disekitar situ karena ada kantor polisi pas dijalan masuk Khaosan, saat kami tanya hotel kami mereka langsung calling-callingan menggunakan Walkie Talkie menanyakan ketemannya siapa yang tahu nama hotel kami dan letaknya dimana. Akhirnya polisi tersebut nunjuk kedalam Khaosan, dia bilang terus aja nanti belok kanan. Sampai ujung jalan gak nemu juga tuh hotel padahal katanya ditepi jalan. Akhirnya nanya sama penjual-penjual dikawasan tersebut…eh dia nunjuk kearah luar lagi tempat Taxi kami berhenti sebelumnya…jalan lagi keluar, masih tetap gak nemu.

Kemudian karena sudah capek akibat perjalanan jauh Siem Reap – Bangkok ditambah ngantuk juga karena sudah malam (jam 9 atau 10 malam, kalau gak salah), kami pun masuk kantor polisi. Minta tolong telpkan hotel, dikasih petunjuk masuk di Khaosan Road dekat Bangkok Inn…lalu masuk lagilah kami ke Khaosan Road, gak nemu Bangkok Inn sampai diujung jalan, bulak-balik tetap gak liat. Alhamdulillah banget kami bertemu dengan segerombolan pelajar, ketika nanya mereka…mereka dengan antusias tinggi membantu kami mencari hotel kami, bahkan bolak balik menelpkan hotel, mencarikan di google map,dsb. Akhirnya pihak hotel pun menjemput kami, finally setelah satu jam bolak balik nyari hotel. Pelajar-pelajar tersebut benar-benar baik hati dan tanpa pamrih sama sekali, thank you so much kata kami dan mereka langsung menjawab welcome welcome…tertolong deh berkat mereka.

Ternyata letak hotelnya tidak ditepi jalan, tapi masuk kedalam gang sedikit…pantesan gak ada yang tahu dan pantesan lagi bolak balik menyusuri jalan gak nemu-nemu…hahaha. Walau saya sudah tahu kalau hotel kami di Bangkok ini hotel kelas backpacker tapi gak nyangka juga kalau letaknya nyempil dalam gang. Memang sih deskripsinya benar, letaknya strategis banget ditengah jalan Khaosan, dekat kemana-mana tapi kok gak pasang petunjuk depan gang kek kalau letaknya disitu. Krucils dan si ayah langsung deh ada kesempatan nyela-nyela bundanya, pinggir jalan apaan…pinggir jalan gang kaleee…hahaha.

Maklum saya beli hotel ini sehari sebelum ke Bangkok yaitu ketika kami di Siem Reap, malam setelah kecapekan berkelana di Angkor Wat…jadi liat review pengunjung bagus, murah, letak strategis…langsung beli deh, gak sempat liat-liat petanya lagi deh. Ini karena ayah juga nih yang melarang saya beli hotel di Bangkok waktu kami masih berada di Indonesia, padahal hotel-hotel di negara lain semua sudah saya beli saat di Indonesia yang waktu untuk menimbang-nimbang lebih banyak, internet cepat, tidak dalam kondisi kelelahan juga.

Tapi krucils dan ayah ngeledeknya sebentar saja, karena sejak dari Siem Reap saya sudah wanti-wanti…hotel kita di Bangkok ala backpacker loh walau fasilitas sama komplitnya (AC, TV, Wifi) cuma lebih sempit saja. Gak terima komplain ya…hahaha. Pada akhirnya krucils malah senang karena ya itu tadi, letaknya yang strategis dekat kemana-mana, dekat pusat keramaian, dekat nyari makan dan oleh-oleh, dan tidak jauh juga dari tempat wisata.

Kami menghabiskan 3 malam di Bangkok, mencoba floating market yang tertipu 2x lipat harga sebenarnya, ke National Museum, The Grand Palace, dll. Cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Hari ketiga kami pun bersiap-siap kembali ke Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Indonesia.

# Kembali ke Kuala Lumpur (Malaysia), 24 April 2014 #
IMG_5872[1]
Di hotel kami di Bangkok, kami memesan jemputan yang bisa mengantar kami ke bandara Don Mueang. Katanya sih bandara ini berbeda arah dari bandara Suvarnabhumi dan ongkos ke Don Mueang sedikit lebih mahal dibanding ke Suvarnabhumi. Karena pesawat kami letaknya di Don Mueang, ya apa boleh buat…dengan membayar 600Baht esok paginya sekitar jam 6.30 pagi kami dijemput oleh minivan. Isi minivan tersebut hanya kami dan dua orang bule Prancis.

Jadwal keberangkatan pesawat sih jam 10 pagi tapi jadwal boardingnya jam 8.30 pagi, itu sebabnya kami minta diantar pagi sekali ke bandara …takut jalan macet. Sembari nunggu, krucils bermain ditempat bermain khusus anak-anak yang ada di bandara, sedang saya dan ayah sibuk mencoba login wifi gratis bandara. Rupanya ribet banget untuk bisa masuk wifi gratis ini, harus ngisi aplikasi dulu lengkap dengan nomor passport, baru dikirim password ke email, baru deh bisa login.

Kemudian boarding, masuk pesawat dan berangkat. Sekitar jam 13.00 siang alhamdulillah kami pun mendarat di LCCT Kuala Lumpur. Kelar urusan imigrasi, seperti biasa ngabsen dulu di Taste of Asia, krucils beli ice cream di McDonald…setelah kenyang beli perbekalan dulu untuk dihotel karena hotel kami letaknya di areal bandara yang jauh dari mana-mana. Setelah yakin bekal cukup, kami pun jalan kaki ke hotel…jaraknya 800m dari LCCT.

Masuk hotel, ternyata kamarnya sempit…malah jauh lebih sempit dari hotel backpacker kami di Bangkok. Belum lagi Ac dan Wifi harus bayar tambahan dari biaya kamar, harganya 2x lipat dari hotel-hotel kami selama petualangan, jauh dari mana-mana ditambah fasilitasnya gak begitu bagus…yah apa boleh buat, hotel ini ayah yang beli waktu di Bangkok…katanya sih biar kami gak kejar-kejaran waktu esok harinya, bisa agak santai di hotel.

Mungkin karena gak ada yang bisa dilakukan di hotel inilah yang menyebabkan krucils mengajak kami ke kota (Bukit Bintang). Baiklah…hayuu kita jalan-jalan aja kalau gitu sekalian wisata kuliner di Bukit Bintang. Kami pun jalan-jalan ke Bukit Bintang dan pulang ke hotel sekitar jam 10-an malam, ngantuk banget euy…yuk anak-anak kita tidur, besok kita pulang menggunakan pesawat pagi.

# Menuju Little House on The Prairie (Indonesia), 25 April 2014 #
Kami check out hotel sekitar jam 07.10 pagi, agak telat juga karena keasikan tidur padahal jadwal keberangkatan pesawat kami 8.30, boarding 7.30. Jadinya dari hotel langsung jalan cepat ke LCCT, untung sampai tepat waktu dan untungnya lagi antrian imigrasi tidak panjang. Krucils sempat minta belikan Dunkin dulu, turun ke Gate eh sudah boarding…kami satu pesawat dengan rombongan umroh asal Samarinda, senang rasanya.

Begitu hendak masuk pesawat, kami sempat melihat ada beberapa teknisi yang sedang ngecek baling-baling pesawat sebelah kiri. Saya yang kebanyakan nonton National Geographic pun agak cemas…waduh ada apa ini, tumben-tumbenan ada teknisi. Lampu pesawat dan Ac hidup, pilot mulai ngasih kata pengantar…katanya sedang proses loading barang. Kemudian lampu dan Ac sempat mati sebentar, kemudian hidup lagi. Masih belum jalan juga…seorang teknisi senior bolak balik masuk ruang pilot sambil membawa suatu alat, saya pun mulai khawatir…waduh yah, pesawatnya kenapa? Kita turun aja yuk, kita tunggu pesawat berikutnya aja…

Setengah jam belum jalan juga dan teknisi bolak balik masuk pesawat, kru-kru mulai pakai bahasa isyarat dan mulai melirik-lirik ke arah pesawat yang sedang parkir disebelah pesawat kami. Tepat disaat saya mulai hendak mengajak krucils turun dari pesawat, kemudian pilot pun akhirnya mengumumkan bahwa katanya toilet pesawat tidak bisa digunakan. Walau pesawat tetap bisa jalan tapi demi kenyamanan penumpang, kami akan berganti pesawat. Saya dan ayah sih gak yakin dengan penjelasan pilot tersebut, kami yakin bukan karena toiletnya…menurut perkiraan saya ada masalah di sistem elektriknya sedang kata si ayah sih kayaknya ada masalah di baling sebelah kiri.

Sementara pilot dan kru berpindah ke pesawat yang parkir disebelah, kami diminta tetap menunggu di pesawat yang ada karena Ac nya tetap dihidupkan. Setelah proses bongkar muat barang selesai dan katanya Ac pesawat sebelah sudah dingin, kami pun disuruh berpindah pesawat. Alhamdulillah walau tertunda sejam dari jadwal keberangkatan semula, yang paling penting bagi kami bisa sampai selamat di tanah air…alhamdulillah wasyukurlillah…

Dari bandara naik Taxi ke little house on the praire dan pulang-pulang ditanyain tetangga, tukang sayur dan yakult langganan serta rekan kerja ayah…kemana aja nih kok menghilang semingguan ini, ke Jakarta ya? tuduh mereka… hehehe…kami pun pasang tampang cengengesan aja…ada deh 😉





Hunting Sandal di Bukit Bintang, Kuala Lumpur

27 04 2014


Hayooo bingung kan liat judulnya? Hunting sandal? Iya beneran kami hunting sandal…sandal jepit lagi hehe. Setelah pesawat kami mendarat di Kuala Lumpur, kami makan minum dulu di bandara kemudian kami berjalan kaki ke hotel kami yang letaknya dilingkungan bandara. Besok kami sudah harus boarding jam 7.30 an pagi untuk pulang ke Indonesia jadi kami pikir ya supaya kami bisa enakan istirahatnya ya ambil hotel di daerah bandara saja toh di Kuala Lumpur hanya transit semalam.

Tapi begitu sampai hotel, krucils langsung ngajak berkelana terutama sih sulung saya, katanya dia pengen beli sandal lagi. Kami memang keluarga penggemar sandal jepit, nah sandal jepit krucils memang kami belikan saat kami ke Kuala Lumpur (KL) beberapa tahun lalu…sejak itu sulung saya suka banget sama sandal jepitnya.

Nah sayangnya sandal jepit yang kami belikan hilang sebelah, kemudian sandal jepit yang dibelikan kakek neneknya dilempar teman mainnya ke atap dan tidak turun-turun, itu sebabnya waktu kami transit di KL dia langsung ngajak kami ke Bukit Bintang untuk beli sandal jepit lagi hahaha…jauh-jauh nak-nak hunting sandal jepitnya. Berhubung kami tiba siang hari di KL, sempat istirahat di hotel dulu…masih ada waktu untuk berkelana sebentar di KL, baiklah…yuk mariii…

Sore itu setelah mandi, kami pun kembali ke bandara. Eh ngapain ke bandara? ya nungguin bis ke KL Sentral dibandara, biasanya bis tujuan KL Sentral ini nongkrongnya ya di bandara. Naik Aero Bus dengan tiket RM 8 /orang untuk dewasa dan RM 4 / orang untuk budak (anak kecil) kami pun duduk paling depan. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam dan sepanjang perjalanan kami lebih banyak tidurnya, ngantuk euy. Setibanya di KL Sentral, perjalanan dilanjutkan dengan naik monorail dengan tiket RM 2,40 /orang tapi bungsu gratis karena masih 5 tahun.

Naik monorail tujuan Bukit Bintang dan sampailah kami di Bukit Bintang. Sebagian jalan tertutup oleh pengerjaan jalan. Pertama-tama yang kami lakukan adalah mendatangi pak cik langganan tempat kami sering makan dulu…kangen sama roti chanainya…paling yahud deh. Makan roti chanai sepuasnya ditambah bungkus 5 buah, kami pun melangkahkan kaki lagi. Kali ini krucils ngajak ke KLCC, Twin Towers Petronas…katanya sih pengen main di Petrosains lagi dan main ditaman KLCC yang memang ada taman bermain gratis khusus anak-anak. Tapi karena sampai sini sudah maghrib menjelang malam akhirnya kami hanya foto-foto dan bermain di tepi kolam saja. Kami mengejar monorail, seingat kami sih dulu monorail hanya beroperasi sampai jam 6-an sore. Kalau naik taxi kan mahal makanya ngejar monorail..walau begitu krucils sempat bermain cukup lama di depan Aquaria KLCC yang lantainya ada permainan dari kamera, yang kalau krucils lari disitu airnya (bukan air beneran hanya dari kamera) seperti bergelombang.

Begitu sampai monorail, rupanya monorailnya beroperasi sampai jam 11 setengah katanya…entah maksudnya setengah sebelas atau artinya setengah dua belas. Di loket kami sempat diskusi masih terus jalan-jalan dulu atau balik ke hotel, tapi bungsu kami kelihatan mulai mengantuk…ya sudah kita kembali ke hotel aja. Krucils langsung protes, nanti kita kembali ke KL ya main di taman…duh kalian ini gak ada capeknya, gak puas yah sudah berpetualang sebanyak itu…hehehe…

Naik monorail ke KL Sentral, nah di KL Sentral nyari makan lagi (masih lapar juga ternyata) sembari nyari sandal yang diinginkan si sulung. Nemu…jauh-jauh ke Bukit Bintang ternyata di KL Sentral ada. Senang banget nih sulung kami bisa beli sandal jepit baru, sampai-sampai sandal jepit barunya digantung-gantung di celananya hahaha…senang banget ngeliat kelakuan krucils, masih polos banget dan gak pernah gengsian tidak seperti kebanyakan teman-temannya. Dan this is it…petualangan kami pun diakhiri dengan sandal jepit yang tergantung pasrah dicelana si sulung hahaha 😀





Kuala Lumpur – Phuket – Hatyai – Penang

13 02 2013

20130215-080720.jpg

Sudah baca cerita tempat-tempat yang kami kunjungi selama petualangan awal tahun kami kan? Nah kali ini saya akan bercerita tentang petualangan seru selama perjalanan kami menuju tempat-tempat tersebut, menulis cerita ini agak lama dan beberapa kali tersendat karena agak-agak malas nulis panjang-panjang hehe. Tapi karena lebih dimaksudkan sebagai dokumentasi pribadi, supaya kalau dewasa kelak krucils kami bisa mengingat betapa serunya petualangan-petualangan ala ransel mereka bersama ayah bundanya, dipaksain juga nulis sehingga baru selesai sekarang 🙂

# Menuju LCCT, Kuala Lumpur (Malaysia), 13 Jan 2013 #

Kami berangkat dari little house on the praire kami, yang kecil mungil banget, untuk berpetualang. Pesawat yang kami tumpangi diundur waktu keberangkatannya dari siang menjadi sore, yang kalau ontime dijadwalkan mendarat jam 20.00 waktu setempat. Hal inilah yang membuat saya sedikit was-was memikirkan jika terjadi delay pesawat, apa yang akan kami lakukan sesampainya di KL? Tiket bis yang menjelang tengah malam (23.30) menuju Hatyai otomatis tidak terkejar dan hangus. Voucher hotel di Phuket yang sudah dibeli otomatis hangus juga…ooh noo..

Alhamdulillah segala kekhawatiran saya tidak terjadi… walau delay, pesawat hanya mengalami penundaan kurang lebih 30 menit. Jadi semua rencana awal bisa dilaksanakan. Entah perasaan saya aja, atau memang pesawatnya ngebut…eh tiba di LCCT Kuala Lumpur sekitar jam 8-an juga seperti perkiraan semula. Setelah beres urusan imigrasi, kami pun ngacir mencari Taxi. Eh kenapa Taxi sih? padahal naik bis juga bisa sampai tepat waktu di terminal Puduraya. Ya pertimbangannya sih supaya gak ribet-ribet lagi, langsung diantar ke Puduraya tanpa harus naik turun bis di KL Sentral dulu lalu melanjutkan ke Puduraya. Kami pintas saja, pakai Taxi langsung ke Puduraya agar masih punya waktu untuk makan-makan dulu dan melepas sedikit jetlag sebelum memulai petualangan yang sebenarnya..apalagi setelah ditanya di counter Taxi bandara, kami hanya dikenakan tarif RM 74. Mahal sih kalau dirupiahkan, tapi hitung-hitungan kalau dibagi 4 dan hemat waktunya…jadi termasuk murah.

# Menuju Hatyai & Phuket (Thailand), 13-14 Jan 2013 #
CIMG5467 Baiklah…berangkaaat! Mungkin karena masih jetlag, bungsu saya mabuk..muntah-muntah. Untunglah setelah itu bungsu saya tidak mabuk lagi. Begitu sampai di Puduraya, kami pun langsung menyeberang..ada KFC, kesukaan krucils..kami pun makan dulu. Banyaknya calon penumpang yang juga seperti kami, kelaparan tengah malam menyebabkan KFC ini penuh banget. Sementara ayah ngantri, krucils istirahat dulu di sofa empuknya..baring-baring, minum susu dot (hehe walau petualang cilik masih ngedot loh..bikin ribet ayah bundanya kalau berpetualang mau gak mau bawa dot kemana-mana), ke kamar kecil, main-main dulu ngilangin jetlag.

Begitu pesanan tersedia, kami pun makan dan minum dulu. Di minimarket sebelah resto, beli-beli minuman dan cemilan juga. Perut kenyang, bekal penuh…jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 23.00…ayolah kita masuk terminalnya. Puduraya ini lebih mirip mall kecil menurut saya, rapi dan bersih. Dan ternyata banyak juga penjual minuman dan cemilan disini… Yang agak membingungkan adalah…dimana loketnya? Kok dari tadi kami hanya menemukan ruang-ruang kecil dikelilingi kaca bertuliskan nomor-nomor, dan dikelilingi tempat duduk calon penumpang.

Tanya orang yang kayaknya petugas (pakaiannya sih mirip petugas hehe), ditunjukkan keatas…begitu naik, malah nemu tulisan hotel..loh kok? Turun lagi, jalan lagi…nah kemudian banyak nih yang manggil-manggil menyebut berbagai tempat tujuan, penang, butterworth, dsb dst dll. Pada orang-orang inilah kami bertanya lagi, mereka menyuruh kami keatas. Begitu naik tangga (tangga yang berbeda dari tangga yang pertama), dilantai atas ditunggu beberapa orang…kemudian kami tunjukkan tiket yang kami beli diinternet, lalu dibawa orang ini ke atas lagi (kali ini naik eskalator), kelantai tiga yang lebih mirip ruang tunggu bioskop…berAC dan berkarpet yang dinding-dindingnya dipenuhi loket-loket penjual…nah ini dia yang dicari. Agen bis kami diloketnya sama sekali tidak memajang nama bisnya…hanya memajang tujuan-tujuannya..penang, butterworth, hatyai, dsb. Lalu apa bedanya dengan agen sebelah, yang memajang tujuan yang sama? Celingak-celinguk, baru keliatan deh didalam ruangannya ada dipasang satu foto bertuliskan Alisan..bener nih.

Setelah giliran kami, si agen memberi kami sebuah kartu nama yang katanya kalau beli gak usah diwebsite itu lagi, lebih mahal. Langsung ke dia aja dan tiket kami ditukar dengan tiket sebenarnya yang didepannya diberinya password wifi, ini adalah bis free wifi katanya…iih sumpeh loe? beneran nih? cihuyyy…bisa terus eksis dong eike…wkwkwk…Kami kemudian disuruh nunggu dibawah, di tempat berkaca yang dikelilingi tempat duduk itu yang bertuliskan no 15 (kalau gak salah).

Cukup lama juga nunggu bisnya, nah begitu bis ini muncul dibawah..kami masuk keruang berkaca tersebut yang ternyata adalah tangga turun menuju perhentian bis dibawah. Ukuran bisnya sebesar bis double decker (bis dua tingkat), baik tingginya maupun panjangnya. Namun bedanya bis ini hanya memuat sedikit tempat duduk, hanya berkisar 28 seat (kalau gak salah) dengan posisi 2 tempat duduk dikanan serta 1 di kiri. Tempat duduknya empuk seperti kereta argo, yang kakinya bisa dilonjorkan kursinya bisa diatur-atur. Penumpangnya hanya belasan orang, tidak semua tempat duduk terisi. Sebelum berangkat supir memberi tahu letak selimut, sehingga untuk yang butuh selimut disilahkan ambil selimut sendiri. Tempat duduk sudah diatur senyaman mungkin, krucils dengan sweater dan dilapisi selimut memegang boneka dan susu masing-masing posisi siap tidur, lampu bis telah dimatikan…siap, berangkaaat!

Bisnya berjalan tidak terlalu lambat namun juga tidak terlalu ngebut, sedang sehingga nyaman. Sulung saya langsung antusias melihat jalan, melihat tebing-tebing yang dihiasi lampu sorot sedang bungsu sudah terlelap. Ketika perjalanan baru berlangsung 2 jam, bis berhenti di toilet umum di perhentian seperti yang ada dijalan-jalan tol. Disini banyak bis dan kendaraan pribadi juga berhenti. Sementara krucils tidur, saya ganti-gantian sama ayah turun ke toilet sambil meregangkan kaki. Sekitar jam 04. 30 pagi, bis berhenti lagi di semacam pujasera di daerah bernama Changloon (disini ada yang jual makanan, snack, dan toilet. Toilet disini bayar loh..hehe). Beberapa penumpang memanfaatkannya untuk sikat gigi dan cuci muka, sedang kami memanfaatkannya untuk ke kamar kecil dan makan kwetiaw serta minum Milo kesukaan krucils selama petualangan.

Supir langsung meminta pasport semua penumpang disini…sudah sampai perbatasan? ternyata belum…disini passport kami hanya dikasih semacam kertas didalamnya. Gak berapa lama, kami naik lagi. Jalan tidak jauh tiba-tiba jalan macet. Eh ternyata bis antri disini, sehingga jalannya agak lama…kami sudah memasuki Bukit Kayu Hitam nih, perbatasan Malaysia. Begitu loket imigrasi keliatan, kami disuruh turun tanpa membawa barang…cukup passport tok. Antrinya lumayan juga disini, walau subuh ternyata banyak juga yang mau menyeberang ke Thailand. Setelah semua penumpang lewat imigrasi dan kembali ke dalam bis, bis pun jalan lagi. Paling sekitar 300-500 meter, eh antri lagi…perbatasan Thailand cuy. Nah baru disini kami disuruh turun dengan membawa seluruh barang kami turun, disini barang diperiksa…walau cuma lewat mesin Xray aja. Setelah dapat cap masuk Thailand, kami naik lagi ke bis. Kami orang terakhir naik bis, karena sempet-sempetnya si bunda ngambil foto-foto krucils dulu diperbatasan…yang membuat sulung saya bete, tuh kan bunda..bunda sih foto-foto terus…hehehe..gpp bang, kan pasti ditungguin juga sama bisnya (si bunda membela diri wkwkwk).

Nah memasuki Thailand, pemandangan berubah…dari awalnya hanya perkebunan sawit jadi perkebunan karet. Banyak hutan, dan begitu melewati beberapa kota…tulisan-tulisan mulai susah dibaca. Perubahan pemandangan ini menyenangkan bagi kami, inilah negara yang kata banyak orang mirip dengan Indonesia. Ketika jam menunjukkan jam 08.00 pagi…bis pun berhenti di depan agen bisnya di Hatyai. Wow..inilah Hatyai, Thailand.. anak-anak…nanti kita akan mampir disini dalam perjalanan pulang tapi sekarang kita nyari bis ke Phuket dulu.

Umumnya yang ditawarkan ke Phuket adalah minivan, tapi saya gak mau naik minivan…kecil, susah melonjorkan kaki sementara perjalanan masih 8 jam lagi dari situ. Cari bis aja deh, tapi ya ampyun…gimana mau nyari terminal bis…tulisannya gak dimengerti semua gini. Akhirnya daripada repot lagi, kami memutuskan masuk kedalam agen bis Alisan aja, tanya bis ke Phuket. Ada yang berangkat jam 9, beli seharga 1260 Bath…kami pun makan-makan dulu di resto seberang agen bis, namanya Rocky Muslim Restaurant. Awalnya saya agak ragu karena tempatnya kecil, tapi ramai sementara resto lain yang lebih besar tdk ramai. Ternyata makanannya enak-enak, tom yam nya yang paling enak yang pernah saya coba selama perjalanan kami kali ini, lembut, asem manis segar tanpa amis…

Sementara krucils kami suka banget roti canainya, saking sukanya mereka minta dibungkus 4 buah lagi, saat sedang dibikinkan baru 2..eh orang dari agen bis kami menyeberang memanggil kami, bis sudah ready. Buru-burulah kami membayar makanan, gak jadi nambah deh…untung 2 sdh jadi tinggal bawa. Begitu nyeberang, kami kebingungan nyari bisnya…mana dia? Eh malah disuruh naik tuk-tuk yang sudah ngetem depan agen bis, katanya kami akan diantar ke bisnya menggunakan tuk-tuk ini, free…gak usah bayar-bayar lagi wanti-wanti agen bis.

Di dalam tuk-tuk yang kecil mungil itu ternyata sudah ada dua turis (entah korea, atau jepang..). Jadilah kami desak-desakkan mengatur posisi dengan bawaan ransel masing-masing..aduk maknyak..sempit. Tuk tuk ini lumayan ngebut dan ternyata tempat bisnya jauh banget, kalau disuruh ngingat jalannya..pasti lupa lagi, belok sana-sini soalnya. Eh ditengah jalan, tiba-tiba tuk tuk ini berhenti menaikkan dua penumpang lagi…ampun deh..

Rupanya tuk-tuk ini memang khusus penumpang bis. Kami dibawa ke sebuah tempat lagi, yang merupakan agen bis lagi. Nah, didepan agen bis kedua ini banyak bis-bis kecil seperti metromini parkir. Walau bis ini jauh lebih kecil dari bis pertama tapi tempat duduknya juga cuma sedikit sehingga lega juga untuk krucils bermain selama perjalanan. Komposisi tempat duduknya 3-1, 3 dikanan, 1 dikiri dan lagi-lagi tidak semua tempat duduk terisi yang lumayan menguntungkan juga sehingga membuat krucils bisa menggunakan tempat duduk tersisa sebagai arena bermain dan tidur.

Lama perjalanan 8 jam, bis beberapa kali berhenti di toilet umum dan di sebuah resto pinggir jalan yang kami pergunakan untuk makan lagi serta menambah perbekalan untuk krucils. Kemudian ditengah perjalanan naiklah dua orang biksu yang duduk dibelakang kami yang menarik perhatian krucils kami. Semakin lama pemandangannya semakin indah, karst-karst yang terselebungi oleh hijaunya tanaman terlihat menyembul di sana-sini..wah ini dia nih yang jauh-jauh kami cari…

Singkat cerita, sampailah bis di terminal bis Phuket. Nah disini kami bingung lagi nih, mau naik apa dan dimana sih letak hotel kami. Tanya informasi, dia menyarankan kami menggunakan (Taxi namun yang ditunjuknya sih tuk-tuk), it’s that ok? tanyanya pada kami…no..no we want like that..tunjuk kami pada Taxi ya seperti Taxi yang kita kenali selama ini. Disebelah bagian informasi ada daftar harga Taxi yang dirilis resmi, gilee aja kalau bayar 450 Bath pake tuk-tuk demikian pikir kami. Baru setelah di dalam Taxi yang bersih & wangi (namun supirnya gak bisa berbahasa inggris) kami kepikiran, ooh mungkin dia nawarin tuk-tuk harganya lebih murah dibanding naik Taxi..taela..tak kirain naik Taxi yang dimaksudnya tuk-tuk, kalau disuruh naik tuk-tuk dengan harga Taxi sih males banget, tapi kalo harganya murah sih bisa dipertimbangkan wkwkwk…Tapi gak apalah, sudah pengen cepat-cepat mandi di hotel nih, kalau pake tuk-tuk lagi untuk perjalanan selama 30 menit bisa-bisa berat makin nambah nih, nambah dengan berat jelaga dan daki yang makin nempel hahaha…

Perjalanan lumayan lancar awalnya, kemudian begitu mulai mendaki bukit (bukit atau gunung tuh yah? anggaplah bukit) yang bertuliskan Patong City jalanan jadi sedikit padat. Dan sampailah kami di hotel..yippie. Begitu sampai, check in…sementara ayah sekalian mesan tour di resepsionis (supaya besok bisa langsung ber sun bathing ala mas Leo), kami pun masuk kamar. Begitu masuk kamar, krucils langsung happy…telisik sana, telisik sini…Punya bocah yang gampang dibikin happy memang nyenangin, perjalanan jauh hampir seharian dijalan pun tidak membuat mereka bete…yang ada happy terus, main mulu…ada aja hal yang bikin mereka bergembira bahkan melihat babi gendut pun bisa membuat mereka ketawa ngakak…haha..

Setelah ayah selesai pesan tour, semua kembali wangi seusai mandi…berangkaat! Cari makan dong sekalian liat-liat kayak gimana sih kota ini kalau malam, kebetulan kami dipinjamin motor milik Mrs. Ploy nih…asyeekk..Kami memutuskan ke Jungceylon karena krucils memaksa mencari museum kerang, tapi karena gak nemu letaknya dan kelaparan juga, lelah juga akhirnya kami nyari makan seputaran mall aja, gak makan di dalam mallnya sih yang setelah ditelisik kok jenisnya sama dengan makanan yang sering dijumpai di mall di kota kami, karena kami jenis orang yang suka makanan kaki lima (plak, lempar sandals…padahal alasan sebenarnya sih supaya hemat wkwkwk) maka kami memutuskan nyari makan di kaki lima yang banyak bertebaran di depan Banzaan Fresh Market yang terletak di seberang Jungceylon.

Awalnya agak bingung juga nih memilih makanan, banyak pilihannya…dan nyari yang halal itu agak rempong. Akhirnya nemu juga ada penjual yang berjilbab yang kebetulan lagi bisa bahasa melayu dan jenis makanan yang dijualnya adalah makanan kesukaan krucils, kwetiaw yang di Thailand disebut Phad Thai. Malam pertama di Patong pun ditutup dengan Phad Thai, Nasi Goreng serta 2 Juice Coconut, 2 Juice Manggo dan 1 Juice Stawberry (borong semua…lafaaar) serta beberapa cemilan, baik yang dibeli di mini market maupun yang di kasih Mrs.Ploy untuk duo krucil kami.

Kami menghabiskan waktu 3 malam 2 hari di Patong, Phuket sebelum melanjutkan petualangan kembali. Selama di Patong kami mencoba Island Hopping di Phi Phi Island, menjelajah Phuket Town, berkelana dari satu pantai ke pantai lain, mengunjungi Shell World Museum serta Phuket Aquarium (cerita detail tentang tujuan ini bisa dilihat di postingan sebelumnya).

# Kembali Menuju Hatyai (Thailand), 17 Jan 2013 #
IMG_2345
Kemudian hari ketiga, pagi-pagi sekali kami sudah ngendon di lobby hotel menunggu Taxi yang malam sebelumnya dipesan menjemput kami. Setibanya di terminal Phuket, celangak- celinguk di berbagai counter bis…nyari-nyari bis tujuan Hatyai, tidak satupun tulisan yang kami mengerti…untungnya disebuah counter kami menemukan tulisan yang langsung bisa dikenali bertuliskan Hatyai. Penjaga loket tidak bisa berbahasa inggris, jadilah kami menggunakan bahasa isyarat…kami mencari bis yang nyaman dan paling pagi agar bisa mengeksplore Hatyai dulu sebelum melanjutkan petualangan.

Singkat cerita, kami tertipu…bukan bis first class seperti yang diharapkan, kami malah diajak muter-muter keliling Thailand ! Ya ke Krabi dulu, lanjut ke Pha Nga, lanjut ke mana-mana lagi deh..tiap kota yang dilalui, bis masuk ke dalam terminal dulu, masuk ke dalam kotanya dulu menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan ataupun terminal…ampuun daah…kapan nyampainya kalau gini? Kalau turun dijalan terus lanjut pakai apaan? Arrghhh…mau gak mau tetap pakai bis itu deh sampai tujuan. Akibatnya bisa ditebak, walau sudah ancer-ancer dari pagi…tetap aja sampai di Hatyai sekitar jam 4 an sore. Ya walau agak bete, tapi kami dapat hikmah juga…jadi tahu kota-kota lain seputaran Phuket yang ternyata tidak kalah indahnya…aahh jadi langsung punya gambaran deh untuk petualangan selanjutnya *catat* hehe..

Begitu sampai di terminal bis Hatyai, beberapa orang menghampiri kami menawarkan Bis tujuan lain ataupun Tuk-tuk. Hanya seorang bapak yang agak kalem, jadilah kami menanyakan padanya harga tuk-tuk yang ditawarkannya untuk mengantar kami ke hotel. Dia awalnya meminta 150 Bath, kemudian turun 120 Bath..karena kami orang Indonesia yang gak afdol banget kalau gak nawar, akhirnya setelah tawar menawar yang cukup alot berlangsung selama … 1 menit..hehe.. kami pun sepakat untuk mengeluarkan 100 Bath untuk sampai ke hotel…dimana pun itu letaknya…

Ternyata tuk-tuk tidak langsung berangkat, masih nunggu penumpang lainnya..ampun dah. Untungnya cuma ada kami ketika itu, gak ada turis lain…jadilah tuk-tuk yang starternya agak-agak mengkhawatirkan itu berangkat. Begitu sampai…ow..ow…uang di dompet saya hanya tinggal 2 lembar uang 1000 Bath, sedang supir tuk-tuk gak punya kembalian. Korek sana sini, terkumpullah uang kecil 20-an Bath 4 lembar dan karena supir tuk-tuk tidak mau di diskon lagi, kami pun menukarkan uang ke resepsionis hotel yang pastinya bingung berat, ini ujug-ujug kok ada orang nyamperin minta tukar duit, loe kira disini penukaran duit…hehe..

Akhirnya sampai juga di hotel…yippie! Seperti biasa krucils langsung sibuk telisik sana-sini dan “menandai” daerah dulu dengan meresmikan toiletnya…hehe. Setelah semua bersih dan wangi, petualangan pun berlanjut. Sstt…ada yang gak sabar pengen wisata kuliner, buru-buru ngajak keluar hotel. Di lobby hotel kami mengambil selembar peta kota, dan karena seperti biasa krucils gak mau kalah…maka terpaksalah diambil 3 buah lagi, masing-masing megang satu peta di tangan..baru puas. Setelah mempelajarinya, kami pun memutuskan jalan kaki karena tujuan utama yaitu stasiun kereta ternyata letaknya hanya dua blok dari hotel.

Di stasiun ternyata loket tujuan luar kota sudah tutup, setelah bertanya pada petugas kereta dia menyarankan besok pagi kami kesini lagi, loket ke Penang dibuka jam 6 dan kereta berangkat jam 6.30 pagi…oke deh…sekarang sudah bisa santai. Keliling-keliling, nemu makanan aneh-aneh dan murah..beli. Waah gak rugi deh mampir disini dulu, bisa kuliner sepuasnya. Maghrib masuk hotel dulu, setelah itu malam petualangan makanan masih berlanjut. Sebelum tidur, si ayah sempat cukur rambut dulu yang konon cerita ayah, tukang cukurnya berijazah diploma sehingga cukurannya memang gak sembarangan…hmmm… iya, beneran yah? tapi hasilnya cukurnya kayaknya sama aja tuh yah, sama-sama botaks hehe…

# Menuju George Town, Penang (Malaysia), 18 Jan 2013 #
IMG_0205
Setelah tidurnya yang nyenyak banget, keesokan subuhnya kami pun mulai grasak-grusuk bersiap-siap. Petualangan masih berlanjut, kami berniat mencoba kereta yang dengar-dengar (eh baca-baca lebih tepatnya) sih konon kabarnya kereta ini adalah sleeper train dari Bangkok. Jadi penasaran kayak gimana sih sleeper train itu…apakah seperti di film-film made in Holywood? Daripada penasaran lebih baik di coba, walau jadinya waktu yang dihabiskan dijalan lebih lama dibanding naik bis.

Kami jalan kaki dari hotel ke stasiun kereta yang hanya dua blok saja dari hotel, karena masih subuh, hampir semua masih tutup…hanya toko roti depan stasiun yang sudah buka. Walau bekal masih banyak di dalam tas, tapi kami tetap beli roti, beberapa potong paha ayam, plus Milo (kesukaan krucils nih, selama perjalanan minumnya Milo mulu, baik dalam kemasan kardus maupun yang dibuat oleh mesin-mesin minuman dalam mini market) dan si ayah mencoba mie yang dikasih air panas yang dijual di mini market stasiun kereta.

Di stasiun kami diberi tahu bahwa kereta kami di gerbong 2..ingat gerbong 2 ya…jangan gerbong yang lain yang walaupun keretanya membawa gerbong yang cukup banyak, ternyata saya baru ngeh di perbatasan gerbong kereta berkurang hingga tersisa 2 atau 3 gerbong saja. Naik kereta di Hatyai ternyata tidak senyaman yang saya bayangkan karena ini adalah sleeper train dari Bangkok, jadilah begitu naik agak bingung juga kami…gak ada tempat duduk…semua berupa tempat tidur dan masih tertutup gorden, sebagian malah masih berisi orang-orang yang masih tidur atau baru kebangun dengar suara-suara penumpang yang baru naik.

Tiket yang tidak mencantumkan nomor tempat duduk membuat kami harus berdiri sementara menunggu beberapa tempat tidur dirapikan dan diubah menjadi tempat duduk kembali. Untunglah suara krucils yang lumayan berisik terdengar oleh seorang ibu asal Jakarta yang sementara memberi tempat tidurnya untuk diduduki krucils. Setelah agak lama juga mencari-cari tempat kosong, nebeng sana-sini sama turis Prancis, akhirnya seorang petugas memberitahukan kami bahwa tepat disebelah tempat duduk ibu asal Jakarta tersebut ada kursi kosong..hufft…akhirnya…

Kursi kosong tersebut awalnya adalah milik orang bule, yang entah kenapa tiba-tiba menghilang. Namun setelah selesai di imigrasi dan gerbong dikurangi, bule tersebut muncul lagi yang membuat saya jadi gak enak hati. Akhirnya bule tersebut berbagi tempat duduk dengan teman-teman bulenya yang lain, nah…kalau sudah gitu baru akhirnya perjalanan bisa dinikmati.

Selama perjalanan kami mendengar cerita dari ibu asal Jakarta tersebut tentang pengalamannya traveling selama ini (yang ketika itu sedang travelling sendiri dari Bangkok ke Kuala Lumpur) dan teman baru kami asal Pakistan yang menurut ceritanya selalu mengalami kendala di perbatasan, diperiksa lebih lama dibanding yang lain (mungkin karena negaranya kerap diidentikkan dengan teroris). Di imigrasi perbatasan, semua penumpang diharuskan turun membawa semua barang untuk diperiksa namun petugasnya cukup ramah pada kami. Kami hanya ditanya, bawa sesuatu tambahan dari Thailand? Ya bawa snack untuk cemilan krucils dijalan..dan that’s it, diperiksa pun hanya ala kadarnya. Kemudian kereta jalan lagi, pemandangannya? ya kurang lebih dengan di Indonesia sih menurut saya, cuma yang membedakan sawah-sawahnya di garap menggunakan traktor tidak tenaga manusia lagi.

Ketika akhirnya sampai di Butterworth, kami pun seperti biasa..sok tahunya timbul..hehe. Dengan pede nya kami mengikuti bule-bule di depan kami, ya pastilah tujuannya sama seperti kami jadi ikutin aja deh..haha. Ternyata salah jalan, seorang warga menunjukkan terminal bis jalan sana katanya menunjukkan jalan satu lagi. Jadi deh karena ayah kepedean pengen naik bis, kami ambil jalan muter yang agak lumayan ke terminal bis. Tapi semua agen yang memanggil-manggil kami tiap nanya mau kemana, jawab Penang…malah nunjuk jalan menuju tangga ke atas. Agak bingung juga awalnya…sudahlah yah, kita keatas aja..itu pasti ke ferrynya..mending naik ferry deh, tinggal nyeberang tok.

Kami pun memutuskan keatas dan benar saja itu jalan ke ferry. Sebenarnya dari stasiun kereta nih banyak jalan keatas menuju ferry ini, gak usah muter-muter ke terminal bis dulu…cuma namanya turis, agak-agak bingung juga *asik-asik cari alasan aja hehe*. Begitu sampai diatas, ada loket…nah loket ini bukan loket karcis looh…tapi loket penukaran uang ..jadilah kami nukar uang kecil karena untuk bisa masuk ke ruang tunggu harus masukin uang RM 1.20 per orang dewasa, krucils sih gratis…ada pintu khusus krucils.

Ferrynya banyak, gak mesti nunggu berjam-jam karena tiap 30 menit ada ferry berangkat. Tapi berbeda kalau malam, ferrynya sedikit jadi agak-agak lama nunggunya. Kendaraan yang naik ferry hanya sekitar max 10 kendaraan kalau penuh tapi ketika itu banyak kosongnya. Waktu tempuh sekitar 30 atau 45 menit (maklum gak pake jam, pake feeling doang hehe). Begitu touchdown (pletak, lempar sandal lagi…bahasanya itu loh hehe) di Pulau Pinang, keluar…ikutin jalurnya…dan…sampailah kami diterminal bis (lagi)? Haha…seru juga sih, jadi ceritanya sih dari terminal / stasiun ke terminal lagi, gak perlu jauh-jauh nyari kendaraan, terpadu banget pelabuhan ferry gabung dengan terminal bis dan stasiun kereta.

Nah sampai sini sudah siang, lupa lagi…kayaknya jam 1.30-an gitu deh. Kami pun makan senemunya aja, ada warung kecil…disitulah kami makan. Ketika makan, ada seorang ibu-ibu muda yang berpakaian petugas terminal juga makan disamping kami. Dia menanyakan nak kemana? George Town, Chulia Street…jauh tak? Taklah jauh sangat, katanya. Kalo naik bis, bis nomor berapa? Semua bis boleh…katanya, tapi kalau nak ke Chulia 201,202,203 gitu katanya. Kalau naik Taxi, mahal..tambahnya lagi (yang semakin memperkuat argumen saya pada si ayah, yang katanya pengen backpackeran tapi pengennya naik Taxi mulu…hadeuh..hehe).

Baiklah, perut kenyang langkahpun ringan..naik bis pun hayo. Bisnya Rapid Penang, yang setelah kami tunjukin voucher hotelnya ke petugas-petugas terminal pada gak tahu…cuma seorang yang menyuruh naik 203. Di bis, kami hanya membayar sekitar RM 2,50 /orang dewasa, kalau gak salah (lupa lagi euy). Kening supir bis pun agak-agak berkerut melihat alamat hotel kami…gak tahu juga dia dimana letaknya…hadeuh…Kemudian ketika bis jalan hanya sekitar 2-3 blok, kami pun dipanggil supirnya…katanya coba turun sini…kayaknya daerah-daerah sini deh, cari-cari aja sekitar sini katanya. Dan gak jauh dari tempat kami turun, tepat dibelakang resto india yang ramai…disitulah plang nama besar bertuliskan nama hotel kami, ya ampyuun DJ…dekat banget sebenarnya dari pelabuhan ferry tadi, jalan kaki juga nyampe…hahaha….

Begitu sampai kamar, tempat tidurnya ada dua, satu ukuran single, satu lagi ukuran double…tapi ya kamar mandinya share sama kamar sebelah…haha..gpplah, namanya juga hotel budget. Krucils mandi, baring-baring sebentar…dan berkelana lagi. Karena hotel kami letaknya ditengah-tengah keramaian, jadi ya berkelananya jalan kaki kemana-mana…sok-sok turis (laah memang turis). Sorenya kami memutuskan keliling pakai bis…tujuannya? entahlah, pokoknya ngikut kemana bis membawa aja. Akhirnya malah lucu, kurang lebih begini percakapannya

Supir bis Rapid Penang : ” nak kemana?”
Kami : “ehmmm…mmm…mana ya enaknya *saling berpandangan*..keujung aja deh (yang sempat nyontek di peta jalur bis,ada daerah yang bernama Bukit Bunga) ehmm..Bukit Bunga…”
Supir : mungkin melihat wajah bingung kami menambahkan kebingungan kami “Yakin nih?”
Kami : ” Yaaa…ya..yaa..kiin deh…eh Batu Feringgi aja deh…(halah gak yakin dong namanya kalau mengubah tujuan)
Supir : “Sebenarnya mau kemana sih?” (mulai gak sabaran karena dibelakang yg ngantri makin bertambah banyak)
Kami : ” jalan-jalan aja pak, suer deh..” pasang tampang memelas & nelongso…laa wong turis yang baru kali itu kesitu, kami juga gak tahu mau kemana..hehe..
Supir : “Kalau sampai habis, itu harganya RM 6/orang”…
Saya bisik-bisik ke ayah sambil nepuk-nepuk dompet…pssstt…psstt…pssttt (terjemahannya : cepatan bayar gih…)

Setelah tiket ditangan dan disuruh duduk manis…perjalanan pun berlanjut mengikuti tour ala rute bis Rapid Penang 201 hahaha….lumayan jauh juga ternyata rutenya, kami sempat melihat pantai-pantai di Batu Feringgi, melihat mesjid terapung, ada ngeliat Taman Rama-Rama, dan nemu tulisan Museum (yang langsung ditagih krucils untuk berhenti tapi karena malas pake alasan sudah kesorean besok lagi aja…) dan lain-lain. Pulangnya menggunakan bis bernomor sama namun bis berbeda dan supir yang berbeda yang lebih informatif terhadap turis, kami pun berhenti di Kapitan Kling (yang lagi-lagi karena gak ngerti tujuan, kami beli tiketnya untuk tujuan Jetty padahal berhentinya di dekat Chulia…hehe) yang berdasarkan rekomendasi supir Rapid Penang yang baik ini ada nasi kandar enak di depan mesjid.

Kami menghabiskan waktu 2 hari + 1 malam di Penang, awalnya berniat ke Langkawi hari kedua tapi ternyata krucils tidurnya nyenyak banget, gak tega juga ngebanguninnya akhirnya diputuskan ke Langkawi next trip aja deh. Peraturan hotel diseluruh dunia yang mewajibkan tamu check out jam 12-an siang membuat kami memperpanjang jam keluar hotel dengan biaya tambahan RM 50, karena kami berniat baru keluar hotel jam 8 atau 9 malam. Kereta kami menuju Kuala Lumpur yang sehari sebelumnya telah kami beli, dijadwalkan berangkat jam 23.00 namun penjual tiket menjelaskan bahwa kami setidaknya naik ferry yang jam 21.00 karena ferry lama kalau malam katanya…baiklah.

# Menuju KL Sentral, Kuala Lumpur (Malaysia), 20 Jan 2013 #
IMG_2522
Agak malas-malasan juga kami berangkat, kok kayaknya kecepatan banget sih kalau naik ferry jam 21.00 padahal kereta masih lama…tapi karena yang ngasih saran itu petugas kereta, ya ikutin aja deh. Jam 20.30 kami pun berjalan kaki menuju ferry. Ternyata kalau malam ferry lebih sedikit, jadi agak lama menunggu ferrynya. Begitu ferry tiba di Butterworth (gratis loh kalau dari Penang ke Butterworth) lagi, kami pun jadi agak lama juga ngetem di ruang tunggu Butterworth…untung ada Ac dan bersih, jadi bisa sambil tidur-tiduran dulu sedang krucils makan (lagi..maklum dingin, bawaanya lapar..hehe) dan main heboh-hebohan seperti biasa.

Ketika akhirnya kami dipersilahkan masuk kereta…wow..siapa yang paling happy? Jawabannya tentu saja dua krucils saya, langsung heboh…baring-baring di tempat tidur bawah…langsung meloncat keatas, kebawah lagi, manjat keatas lagi…liat jendela, tutup gorden…coba ini itu. Indahnya masa kecil ya, semua tampak seru, spontan…semua dibikin mainan, semua bisa bikin heboh dan menimbulkan keingintahuan yang tidak malu-malu ditunjukkan pada dunia..coba kalau sudah dewasa, duh malu-maluin banget kan kalau neliti ini itu, heboh ngeliat ini itu…haha..

Makin malam krucils kok semakin mentereng aja matanya, kalau gak dipaksa tidur, ya bisa-bisa gak tidur-tidur asik main aja nih menemukan mainan baru, kereta bertempat tidur (sleeper train) hehe. Share tempat tidur bareng krucils ternyata agak-agak sempit juga, kalau saya sih gak masalah…yang masalah cuma si bungsu kakinya kemana-mana, termasuk menendang tempat menaruh minuman yang berada disamping tempat tidur, yang menumpahkan sebagian besar minuman-minuman berakibat tempat tidur sedikit basah.

Secara keseluruhan kami suka sleeper train, hitung-hitung sama dengan menginap di hotel yang bisa berjalan ke tempat tujuan. Dua hal didapat sekaligus, mencapai kota tujuan dan istirahat yang lumayan nyaman. Yang agak gak nyaman mungkin toilet yang sempit aja. Dan subuh jam 6.30-an pagi kami pun sampai ditujuan kami, KL Sentral. Krucils yang masih nyenyak tidur masih sedikit linglung ketika turun kereta…

Di KL Sentral istirahat sebentar, ke toilet dan duduk sejenak melepas ngantuk dan goyangan…maklum goyangan kereta masih kebawa-bawa…hehe. Lalu turun ke bawah, dan naik Sky Bus tujuan LCCT. Untungnya kami penumpang pertama, jadi bisa duduk paling depan dan untungnya lagi, hanya kami yang dikenakan biaya tiket, sedang krucils gratis…bawa anak-anak berpetualang memang banyak untungnya, sering dapat gratisan hehe..

Singkat cerita sampailah kami di LCCT. Tablet sudah mati sejak di kereta karena belum dicharge semalaman, Ponsel pintar, yang sudah tidak pintar lagi karena uzur ketinggalan dari generasi-generasi barunya yang lebih pintar, pun ngeblank…klop. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 13.30an…sedang kami tiba di LCCT sekitar jam 8.30 pagi..masih lama banget. Sarapan dulu dong, kenyang dengan sarapan nasi lemak, kwetiaw dan laksa plus ice cream kami memutuskan masuk imigrasi dulu. Setelah itu mendekam diatas, baring-baring, mengamati berbagai orang yang lalu lalang (yang ternyata seru juga, ada yg lari-lari, ada yang santai, ada yang cuek, dsb), beli-beli permen menghabiskan uang-uang ringgit yang tersisa pas-pasan. Baru setengah jam sebelum keberangkatan kami turun ke ruang tunggu dibawah, dan baru ngeh ada tempat ngecharge apapun yang hendak dicharge di ruang tunggu bawah..yah nanggung, sudahlah…

# Menuju Little House on the Prairie, Indonesia, 21 Jan 2013 #

Dan petualangan seru di awal tahun pun diakhiri dengan makan bakso di bandara kota kami…uhh *belepotan kuah bakso*.. bagaimanapun, bakso plus teh hangat paling maknyus kala masuk angin melanda…(yaaa petualang masuk angin kelamaan dijalan…) hahaha… 😀