Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe 🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…





Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.





Museum Brawijaya, Malang

26 07 2016

20160726-110529.jpg

Tahun 2013 lalu, saya dan krucil berkelana bertiga ke beberapa kota di pulau Jawa salah satunya ya Malang. Ketika itu kami memilih untuk mengeksplore dan menginap di kota Batu, jadi Malangnya sendiri hanya numpang lewat. Ketika turun dari kereta, saya memutuskan menggunakan angkot sebagai transportasi menuju Batu. Kebetulan rute angkot tersebut melalui Museum Brawijaya, krucil saya yang penggemar museum ketika itu meminta agar saya mengajak mereka ke museum tersebut cuma karena ketika itu tujuan kami langsung ke Batu dan pulangnya juga dari Batu langsung ke Surabaya, jadi saya tidak sempat mengajak mereka ke museum ini.

Tahun ini ayah memutuskan mengajak kami ke Bromo, menginap di Malang…yeaaayyy. Kesempatan untuk mengajak krucil mampir ke Museum Brawijaya, semua indah pada waktunya *halah…lebay mode on*

Hari ketiga di Malang kami menyempatkan ke Museum Brawijaya ini. Tiket masuknya Rp 2.500 atau Rp 2.000,- antara segitu deh, murah meriah tapi bermanfaat karena di sini krucil bisa belajar sejarah. Isinya kebanyakan peralatan perang/tempur, seperti basoka, meriam, tank, dan ada foto-foto tentang penumpasan PKI di Malang…tapi ngeriii liat fotonya. Ada juga gerbong maut, kenapa disebut gerbong maut karena menurut sejarah di dalam gerbong kecil inilah Belanda mengangkut orang-orang Indonesia yang ketika sampai di tujuan ternyata kebanyakan orang Indonesia dalam gerbong tersebut tewas karena kekurangan udara.

Paling seru ternyata di museum ini juga ada koleksi komputer-komputer IBM jadul. Ternyata komputer jadul yang fungsinya untuk perkalian penambahan dan pengurangan saja bentuknya segede gaban. Tapi walau bentuknya segede mesin cuci, itulah barang tercanggih pada jamannya. Dan seperti biasa, krucil saya terutama yang sulung betah banget di museum, nanya ini, nanya itu…narik tangan ayahnya ke sana ke mari…bolak balik karena penasaran sama ini itu. Bukti bahwa bagi anak, liburan itu gak harus mahal dan wah…ajak ke museum aja sudah cukup menyenangkan bagi mereka 🙂





Alun-Alun Malang

26 07 2016

20160726-095410.jpg

Pagi hari ketiga kami di Malang, kami gunakan dengan mengajak krucil berjalan-jalan seputaran hotel, olahraga sekalian cari makan. Hotel kami yang berada di Pasar Besar letaknya tidak jauh dari alun-alun kota Malang. Berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel, kami sudah berada di alun-alun.

Alun-alun kota ini berada tepat di seberang mesjid raya dan dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat joging, santai ataupun bermain bola. Di alun-alun ini ada pojok baca juga loh…hmm, ide bagus bahwa tempat publik harusnya memang disediakan buku-buku untuk warga yang ingin meluangkan waktunya dengan membaca. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai alun-alun ini, yang pasti krucil kami senang berada di sini karena banyak burung merpati yang sengaja dipelihara dan dibiarkan berkeliaran bebas di taman.





Museum Satwa

30 06 2013


Setelah mengembalikan e-bike dengan berat hati karena saya tahu akan ada tujuan berikutnya yang gak kalah bikin capeknya didekat pintu keluar, yang masih berada dalam lingkungan Jatim Park 2 juga, kami pun berjalan menuju tujuan selanjutnya tersebut.

Tidak jauh dari pintu keluar Secret Zoo terdapat Museum Satwa, yang bentuk bangunannya dari depan keren abis. Berbentuk bangunan bergaya Eropa yang diapit oleh dua buah patung gajah besar, tapi si bunda sedang malas banget ambil-ambil foto, sedang capek cuy…jadi silahkan cari sendiri di mbah google kalau penasaran sama bentuk bangunan museum ini…hehe…

Masuk museum tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman, tapi kalau dimasukin tas sih boleh-boleh aja, buktinya krucils yang sedang nenteng-nenteng susu ditangan disuruh masukin minumannya dulu dalam ransel bunda hehe. Masuk museum ini gratis loh, gak perlu bayar-bayar lagi…entah karena memang dari sononya gratis atau karena gelang tiket terusan yang kami kenakan.

Isi museum ini keren banget menurut saya, khususnya bagi krucils. Di depan pintu masuk langsung disambut sama kerangka tulang beberapa jenis dinosaurus yang gede banget nget nget, serasa langsung memasuki peradaban purba. Rangka-rangka hewan purba di Museum Satwa ini mirip dengan yang ada di Museum Geologi Bandung. Sayangnya pencahayaan yang diatur temaram di dalam museum ini menyebabkan saya agak susah ngambil gambar yang jelas menggunakan pepet tablet andalan saya, mau pakai si niknik (kamera hadiah dari ayah) malas ngeluarinnya dari ransel. Yah, yang penting krucils setidaknya punya dokumentasi walau hasilnya agak-agak buram …eh ralat, buram beneran…hehe

Intinya, walau sedang lelah…saya suka museum ini. Krucils saya yang memang penggemar museum dan segala hal yang berhubungan dengan hewan antusias banget melihat segala hal dalam museum ini. Tiap mereka menemukan rangka hewan jaman purba, mereka langsung bertanya…ini beneran bunda? waduh, asli atau gaknya sih bunda gak tahu…tapi kira-kira beginilah bentuk hewan purba yang berhasil di rekonstruksi (yang langsung disela, “rekonstruksi itu apa bunda?” rekonstruksi itu dibangun ulang, direka ulang) para ahli dari tulang-tulang yang ditemukan, mari kita nikmati saja anak-anak. Karena penjelasan bunda yang enggak jelas dan ngambang, maka begitu mereka melihat patung sapi yang kulitnya bercorak love serta berwarna pink, mereka langsung menggoda “jaman dulu ada sapi cinta ya bunda?”…hehe…

Keluar dari museum semua puas dan senang, krucils puas seharian keliling taman hiburan (bayangin dari baru buka jam 10 pagi hingga hampir tutup jam 5 sore), sedang bunda senang melihat krucils senang. Sekarang mari balik hotel, gak sabar rasanya mengistirahatkan punggung di kasur yang empuk…





Santai Berkeliling Batu Secret Zoo (Jatim Park 2)

29 06 2013


Di pintu masuk Batu Secret Zoo yang padat dan ramai, kami beristirahat sejenak. Baru kali ini bunda tepar kelelahan seperti ini, pengen rasanya mutar badan kembali ke hotel dan tidur seharian. Tapi ingat krucils pasti akan kecewa berat seberat-beratnya kalau hal tersebut dilakukan bundanya. Jadilah di pintu masuk si bunda beristirahat sejenak, atur napas, ngumpulin energy, meringankan beban pundak yang makin hari kok makin terasa berat padahal isi ranselnya tetap sama dari awal petualangan sampai saat itu yaitu perlengkapan krucils dari jaket, boneka, topi, obat-obatan, cemilan, susu kotak, dan air mineral.

Ketika akhirnya melangkahkan kaki ke arah penjaga pintu masuk dengan memaksakan diri, terlihat oleh saya beberapa e-bike yang dikendarai oleh petugas e-bike. E-bike ini sebenarnya ada juga didekat pintu masuk Eco Green Park, cuma waktu itu saya belum terpikir akan membutuhkannya. Maka begitu melihat ada e-bike di Secret Zoo, langsung saja saya menghampiri petugas tersebut yang kebetulan membawa 4 buah e-bike sekaligus.

Saya : “Mas, aku mau dong pesan e-bike nya 2”.
Petugas e-bike : “sedang kosong bu, gak ada lagi. Yang ini pesanan orang”
Saya : “Masa gak ada satupun?”
Petugas : “benar-benar penuh bu. nanti jam 2an baru ada lagi”
Saya : “ya sudah mas, aku pesan”
Petugas : “ibu telp aja ke no xxxx untuk reservasi, kalau sudah ada nanti kami hubungi”
Saya : “oki doki”

Akhirnya walaupun sudah terlanjur masuk dalam Secret Zoo, saya keluar lagi…mendingan makan dulu sembari nunggu e-bike pesanan. Ketika itu jam baru menunjukan pukul 13.00, artinya masih 1 jam-an lagi nunggu. Bisa santai-santai dong, makan-makan dulu sambil minum…tapi belum apa-apa krucils sudah bete. “Ayoo bunda, lama banget sih istirahatnya”…hadeuh padahal sebelumnya ngerayu-rayu “Kita ke Jatim Park 2 sama Museum Satwa ya bunda, kalau bunda capek…bunda boleh istirahat kok”, sambil cium-cium bundanya…benar-benar rayuan maut…hehe.

Untunglah menjelang jam 2 siang saya di telp, e-bike ready…yippie. Langsung aja kami lari-larian ke pintu masuk, loh mana…mana iki kok gak keliatan ada e-bike disini? Telp-telpan lagi sama petugas e-bike, janjian di Owa Jawa…tanya petugas pintu masuk, dimana sih Owa Jawa? Di dalam bu, kurang lebih 100m, deket kok…pesan e-bike ya?,tuduh si mbak penjaga pintu masuk…idih nuduh-nuduh, kok tahu sih?…hehe…

Ternyata jalan menuju Owa Jawa ini bikin lelah dan lumayan jauh juga untuk si bunda yang sudah KO. Sesampainya di Owa Jawa, eh tak tampak satupun e-bike disana…telp-telpan lagi. Oke bu, dikirim sekarang, ditunggu ya…oalah, piye sih…sudah lari-larian dari tempat makan, ternyata belum disiapin. Petugas yang ngantar e-bike ya mas-mas tempat saya memesan pertama kali tadi sehingga begitu dia liat saya dari jauh langsung hapal tapi sayangnya dia hanya membawa satu e-bike padahal pesannya dua. Jadilah nunggu lagi…

Setelah dua-duanya tersedia, saya baru ngeh…tadi lupa bertanya berapa sih tarifnya, main pesan-pesan aja. Dan gawatnya ternyata harganya “lumajen” juga untuk kantong backpacker seperti kami, yaitu 100rb/3jam/e-bike. Dibayar dimuka plus SIM yang ditahan sementara, artinya saya harus ngeluarin 200rb walau ternyata kami memakainya tidak sampai 3jam. Berhubung otak sudah tumpul karena kelelahan…males mikir-mikir lagi, bayar aja deh yang penting gak capek…hehe…

Setelah diajarin cara makainya yang simple banget, tinggal pencet tombol kanan untuk maju, tombol kiri untuk mundur dan lepas semua tombol untuk pengereman otomatis…siapa yang paling happy? Krucils tentu saja, menemukan mainan baru. Malah awalnya sibuk dengan e-bike aja dibanding ngeliat koleksi binatang di kebun binatang ini…walah, salah strategi dong si bunda…

Pertama si adek bareng abang naik e-bike yang satu, sedang bunda pakai e-bike sendiri. Tapi karena kata adek, abang nyetirnya ugal-ugalan bikin adek takut akhirnya adek pindah ke bunda, abang sendiri. Demi pengamalan sila ke 5, keadilan sosial…maka adek pun dibolehin nyetir sendiri juga seperti abangnya, bunda santai aja dibelakang adek. Kali ini hayoo aja, kalian mau ngajak bunda kemana dan bolak-balik juga bunda jabanin… hehe…benar-benar bisa santai dan tidak lelah sama sekali. Ada objek menarik, krucils suruh turun pasang pose…bunda cukup duduk manis di e-bike ambil foto.

Krucils happy, bundapun senang. Muter-muter Secret Zoo yang kontur tanahnya naik turun dan luas banget ini sepuasnya, disini sulung saya sempat berfoto dengan burung lagi walau di Eco Green sudah berfoto bersama burung juga. Mereka bahkan sempat naik onta yang tarifnya 20rb/orang…ya gpp lah, teringat pesan ayah…ngasih pengalaman tuh jangan tanggung-tanggung. Biar sekalian komplit deh petualangan mereka kali ini, ngerasain naik gajah sudah, naik onta juga sudah..

Di dekat pintu keluar, ada tempat pengembalian e-bike…sekalian balikin e-bike ambil SIM bunda yang ditahan. Krucils senang banget dengan pengalaman mereka kali ini, terutama bungsu saya yang langsung telp ke ayah bercerita penuh semangat…”adek nyetir ibaik sendiri tadi, yah”, sembari melirik ke bunda “nanti kita beli seperti itu ya bunda”…bunda cuma bisa manggut-manggut sambil tepok jidat…hadeuh…hehehe 😀





Mencintai Alam di Eco Green Park

29 06 2013


Hari kedua di Batu kami rencanakan untuk eksplore Jatim Park 2 yang telah kami ketahui arahnya. Bangun tidur, krucils mandi, pintu diketok-ketok petugas hotel yang memberitahukan sarapan ready…monggo, kemudian sarapan…liat jam sudah jam 8-an pagi. Terlalu siang dari biasanya jika kami memulai petualangan.

Krucils sudah tidak sabar ke Jatim Park 2 plus Museum Satwa ya bunda, request mereka sejak bangun tidur. Buka mbah google dulu cari tahu jam buka nya, ternyata Jatim Park 2 baru buka jam 10 nanti. OMG, baru kali ini nemu tempat hiburan yang buka “sesiang” itu…hehe. Akhirnya sembari nunggu Jatim Park 2 buka, krucils bermain dulu di hotel…buat keributan dan kerusuhan seperti biasa.

Ketika akhirnya kami melangkahkan kaki ke Jatim Park 2, ternyata antriannya sudah panjang. Hmmm…lumayan juga nih, belum apa-apa sudah capek duluan, capek ngantri hehe. Kami beli paket Jatim Park 2 + Eco Green Park seharga 120rb/orang. Sebelum balik badan, petugas tiket memberi pesan bahwa sebaiknya kami memulai dari Eco Green Park dulu yang waktu tutupnya lebih cepat, baiklah…

Kami pun pergi ke arah Eco Green Park dulu yang jaraknya lumayan juga tuh ditengah terik walau masih berada satu lokasi dengan Jatim Park 2. Sesuai namanya taman hiburan yang satu ini bertema lingkungan hidup, daur ulang barang bekas dan sampah, alam, tumbuhan dan hewan tentu saja. Ada beberapa bagian yang kami lewati akibat antrian yang panjang seperti Jungle Adventure, Rumah Terbalik dan Eco Science Center (yang terakhir sih dilewati karena si bunda yang sudah benar-benar kelelahan…hehe).

Entah karena panas terik, atau jalurnya yang banyak menanjak, atau karena trek yang memang panjang, atau karena memang kondisi saya mulai melemah…saya benar-benar KO disini, nyerah deh. Tiap nemu tempat makan, saya pasti ngajak krucils berhenti baik dengan alasan makan dulu, atau haus atau lelah…yang penting istirahat dulu deh…pegel banget bunda, benar-benar merindukan ayah. Biasanya dalam setiap petualangan bersama ayah, si ayah hanya membebani saya tugas menjaga krucils sedang segala jenis bawaan dipikul olehnya.

Terlepas dari KO nya si bunda, krucils bersenang-senang di Eco Green Park ini. Sulung saya malah tertarik untuk mempelajari daur ulang sampah seperti yang dilihatnya di salah satu bagian di taman ini, sayangnya tidak ada petugas yang menjelaskan bagaimana proses pengomposan terjadi. Yang jelas mereka banyak belajar bahwa alam akan memberi lebih jika kita mau menjaganya, wuih sudah kayak petugas penyuluhan deh eike hehe…