Sepi…Goooo…(Dataran Ayer Keroh, Melaka)

17 02 2012


Kalau anda punya anak yang suka menonton serial kartun terkenal asal negeri jiran, Ipin Upin, kemungkinan anda pernah melihat ada seorang anak kecil berkulit hitam yang suka menaiki gerobak sapi. Nama anak itu kalau gak salah Bandu (kata anak saya sih). Nah, si Bandu ini suka sekali menyuruh sapinya jalan dengan ngomong seperti ini : “sepiii…gooo”…haha, saya suka sekali adegan yang ini.

Ceritanya karena hari sudah terlalu petang, tak mungkin lagi ke Melaka Zoo, atau Butterfly Park, dan lain-lainnya, Wan mengajak kami naik gerobak sapi di Dataran Ayer Keroh. Sebenarnya di dekat-dekat sinilah Melaka Zoo berada..tapi ya karena sudah jam 5.30 sore padahal kami masih mau ke Seremben (Negri Sembilan), jadi ya sempetin ber”sepi..go”, naik gerobak sapi ini buat nyenangin duo krucil aja sih.

Gerobak sapi ini ya mirip dengan becak di Melaka…sama-sama penuh hiasan berbunga-bunga…hehe. Ya mungkin itulah daya tariknya, supaya anak-anak tertarik menaiki gerobak sapi ini. Kalau tanpa hiasan…siapa juga yang mau…hehe. Untuk menaiki gerobak sapi ini harus membayar RM 10 untuk satu gerobak berapapun jumlah penumpangnya. Jadi semakin banyak penumpangnya, semakin hemat…hehe. Sekarang saatnya mempraktekkan kata-kata yang selalu membekas pada duo krucil…sepiii…gooo…

Advertisements




Dataran Pahlawan, Melaka

17 02 2012

Letaknya sih tidak jauh dari Menara Taming Sari, serta diseberang Pahlawan Walk Market. Bentuknya sih, hmm…agak susah juga saya menggambarkan. Bentuknya mirip lapangan bola yang disekelilingnya dipagari oleh toko-toko. Kata si ayah (yang melihat dari ketinggian Menara Taming Sari) dan Wan sih emang itu lapangan bola. Di pinggirnya ada menara pendek, bentuknya kayak menara Taming Sari versi mininya. Dan berkubah juga. Ya dari luar sih bentuknya perpaduan mall dengan mesjid serta lapangan bola, bingung kan? bayangin sendiri deh…hehe.

Dari cerita Wan sih, dulu katanya disitulah…hmmm (aduh lupa lagi siapa namanya) memproklamasikan kemerdekaan Malaysia. Karena saya tidak tahu sejarah Malaysia, jadi saat diceritakan tentang hal ini, yang terbayang dibenak saya justru masa-masa Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia…wkwkwkwk…soalnya kekunoan tempat ini tetap dijaga dan dipelihara, jadi semakin menyuburkan khayalan saya terhadap detik-detik proklamasi Indonesia eh Malaysia.





Lihat Becakku Penuh Dengan Bunga

17 02 2012

Biasanya kendaraan suatu daerah terkadang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Seperti di Philipina, ada tuk-tuk. Atau Sado di Padang, atau bemo di Jakarta, dan sebagainya. Nah, di Melaka ini yang langsung menarik perhatian saya adalah becaknya.

Becaknya ya seperti becak pada umumnya yang dikenal di Indonesia, tapi yang berbeda adalah becak di Melaka pengemudinya di depan serta berwarna warni. Rupanya tidak hanya kebun saja yang penuh dengan bunga, tapi becak juga bisa penuh dengan bunga, dihias dengan berbagai macam bunga. Dan seperti lagu anak-anak, bunganya ada yang putih dan ada yang merah…namun setiap hari tampaknya tidak perlu disiram…hehe 😀 Hiasan bunga ini tampaknya sesuai kreativitas si pemilik becak, bentuk serta warnanya beraneka macam, bahkan ada pula yang saya lihat dihias dengan patung kalajengking di atapnya.

Pastinya ini bertujuan untuk menarik minat wisatawan agar menaiki becak. Banyaknya becak ini saya lihat ya di sekitar Bandar Melaka, Melaka Town Square, Stadthuys, Maritime Museum, dan daerah-daerah turis lainnya. Katanya sih untuk keliling Bandar Melaka dikenakan tarif RM 15. Umumnya yang menaiki becak ini adalah turis-turis berkulit putih. Saya sendiri belum menaikinya…tapi pastinya rasanya ya sama saja dengan menaiki becak biasa, cuma mungkin hasil fotonya berbeda karena becak terlihat lebih semarak dan meriah..hehe..





Menara Taming Sari, Melaka

17 02 2012


Tiap kota biasanya memiliki ciri khasnya sendiri dan memiliki bangunan yang jadi icon kota tersebut.Biasanya bangunan yang menjadi icon adalah bangunan yang unik, atau bangunan tertinggi di kota tersebut. Nah, Stadthuys mungkin bisa dikatakan icon kota ini,tapi jika Kuala Lumpur memiliki Twin Towers, maka Melaka memiliki Menara Taming Sari.

Sebenarnya Menara Taming Sari ini lebih memiliki banyak kemiripan bentuk dengan KL Tower, yaitu satu menara tunggal yang diatasnya berbentuk lingkaran yang bisa berputar 360 derajat. Bedanya adalah lingkaran Menara Taming Sari ini selain bisa berputar, juga bisa naik turun. Nah, karena saat kami berkunjung ke KL Tower, krucil sedang nyenyak tidur…maka saya memberi kesempatan buat krucil supaya bisa menaiki yang berputar-putar seperti beginian sebagai pengganti karena gagal menaiki KL Tower.

Setelah makan dan berfoto-foto, daripada krucil bengong nungguin kakek dan nenek berbelanja souvenir, maka menyeberanglah mereka menuju Menara Taming Sari ini. Harga tiketnya RM 20, baik untuk dewasa maupun anak-anak diatas 5 tahun. Karena yang naik menara ini cuma tiga serangkai, si ayah dan dua krucil, maka totalnya hanya membayar RM 40. Memang beruntung si adek, jarang harus membayar baik memasuki suatu tempat wisata maupun menaiki sarana transportasi…seringnya gratis alias free karena anak usia 3 tahun kebawah gratis.

Harga tiket lumayan mahal sih karena hanya dinikmati untuk berputar-putar diatas selama 5 menitan saja. Tapi lumayanlah, setidaknya mereka senang dan punya pengalaman baru. Katanya sih mereka bisa melihat hampir ke seluruh penjuru Bandar Melaka, bahkan sampai ke laut sehingga begitu turun dari menara, krucil langsung dengan heboh bercerita tentang kapal pesiar besar di laut. Melihat ekspresi senang yang terpancar dari wajah duo krucil, saya langsung berkesimpulan…anak-anak pasti suka naik menara ini. Jadi jika anda berkunjung ke Melaka, sempatkan mengunjungi Menara Taming Sari.





Maritime Museum (Muzium Samudera), Melaka

17 02 2012


Saat orang tua saya beserta kenalannya Wan pergi ke Pahlawan Walk Market, untuk mencari oleh-oleh. Si ayah dan dua krucil saya suruh pergi mencoba Menara Taming Sari, sedang saya? Saya berniat ngider di bandar Melaka ini, melihat semua objek wisatanya, dan kalo sempat sih…pengen banget ke Stadthuys (bangunan tua berwarna merah).

Kemudian berjalan kakilah saya, “lumayan” jauh (uhh untung waktu mahasiswa sering mendaki bukit, sudah biasa jalan kaki jauh). Jepret sana, jepret sini ala turis. Dan sampailah saya di Maritime Museum, atau dikenal sebagai Muzium Samudera. Bentuknya unik, yaitu kapal kayu berwarna coklat kehitaman. Harga tiket masuknya sih murah, cuma RM 1 perorang. Tapi melihat antrian yang mengular di depannya, saya jadi malas masuk. Pengen sih masuk, pengen tahu ada apa gerangan di dalamnya…tapi mengingat saya sedang terpencar sendiri, dan HP saya yang walau sejak di Indonesia sudah diaktifkan roaming Internationalnya, terkadang kehilangan sinyal…ngeri juga kalau sampai ketinggalan sendiri di negri orang tanpa passport, tanpa HP, hanya ada sedikit uang di dompet…hehe…

Jadilah saya hanya foto-foto dari luar. Konon katanya ini merupakan kapal Portugis bernama Flora de la Mar yang di restorasi dan dijadikan museum. Sangat menarik. Sekalian saja saya foto Medan Merdeka (bah…ada medan pula disini..hehe. ini adalah kumpulan toko kecil) di seberang Museum yang juga ramai oleh turis dan bis-bis pariwisata. Sebenarnya dari sini pengen banget penjelajahan berlanjut hingga Stadthuys (uuhh, tergila-gila banget deh eike). Tapi kembali teringat, saya sedang berkelana sendiri nih…tanpa seorang pun tahu saya sedang kemana, ditambah HP yang nyeleneh (kadang ada sinyal kadang gak, kadang providernya berubah jadi Execom kadang Maxis) tertinggal sendirian di Melaka, macam mana? Apa nak buat? hehe..

Yang pasti sih, untuk sebuah museum, saya suka bentuknya. Penampakan dari luar sih menarik, saya yakin duo krucil saya juga akan suka kalo melihat ini, tiket masuk juga murah. Jadi jika anda berkesempatan ke Melaka, mampirlah di Maritime Museum.





Bandar Melaka

17 02 2012

Saat sampai di Melaka, kami melihat banyak bangunan tua yang dilestarikan, dirawat dan dijadikan objek wisata. Contohnya adalah Stadthuys, bangunan tua berwarna merah yang merupakan bangunan peninggalan Belanda, atau bangunan Baba-Nyonya (yang merupakan perpaduan melayu dan china) yang juga dilestarikan, serta dijadikan meseum, dan masih banyak lagi lainnya.

Secara kasat mata, kota ini cukup tenang dan cukup kuno yang sangat menarik perhatian saya dan si ayah. Sayangnya kami sampai di Melaka sudah menjelang sore, sekitar pukul 4 sore. Terlalu mepet untuk mengunjungi semua objek wisatanya, belum lagi kami berniat mengunjungi Seremben pula. Jadilah, setibanya di Melaka kami hanya melintas saja didepan semua museum (hiks TT), langsung ke bandar melaka untuk makan karena perut sudah mulai merengek minta diisi.

Bandar Melaka ini merupakan pusat Melaka, karena disitu ada tempat makan, Pahlawan Walk, Dataran Merdeka, Menara Taming Sari dan sebagainya. Uhh, ngacai deh pengen mendatangi semuanya tapi apadaya waktu mepet. Jadi setelah makan, sementara orang tua saya dan wan (kenalan orang tua) saya berburu souvenir di Pahlawan Walk Market, si ayah dan duo krucil menaiki Menara Taming Sari, saya keliling sekitar ambil foto spot-spot menarik, seperti Dataran Merdeka, Maritime Museum (Muzium Samudera), Medan Samudera, serta becak-becak hias yang memenuhi daerah tersebut. Pengen banget sebenarnya ke Stadthuys, tapi keingat bahwa kami sedang mencar-mencar nanti susah ketemuannya, apalagi dinegri orang.

Saya sangat merekomendasikan Melaka untuk dikunjungi,ini baru tempat yang pas untuk pecinta budaya, sejarah dan alam. Saya dan si ayah langsung jatuh cinta pada kota ini..ini baru kota yang kami cari sebagai tempat jalan-jalan dan berpetualang ala advanture blog. Jadi, next time, next trip, kami berencana kembali ke kota ini untuk menjelajah, mengexplore, dan mengenal lebih dekat tentang kota ini. Nantikan saja petualangan kami selanjutnya, InsyaAllah we’ll be right back.. amin.





Pahlawan Walk Market, Melaka

17 02 2012

Nama yang tertera di depannya Pahlawan Walk Market. Bentuknya ya mirip-mirip Citraniaga kalau di Samarinda, atau kebun sayur kalau di Balikpapan. Tempat ini berisi kumpulan toko-toko souvenir atau cenderamata khas Malaysia, terutama sih khas Melaka. Karena kami bukan orang yang terlalu suka belanja (kecuali makanan), jadi tempat ini tidak terlalu menarik perhatian saya. Saya mampir hanya untuk nemenin orang tua saya berbelanja, dan kebetulan melihat sebuah tempelan kulkas khas Melaka sehingga saya hanya beli satu…kenang-kenangan untuk krucil bahwa mereka pernah ke Melaka.

Saya tidak lama disini, setelah membeli tempelan kulkas dan memberi tahu orang tua saya bahwa si ayah dan duo krucil sedang naik Menara Taming Sari, saya pun langsung cabut. Misi saya sih, kalau sempat, saya mau ngider sendiri ke Stadthuys (yang sejak melihat fotonya di sebuah buku parawisata Melaka, langsung jatuh cinta pada bangunan ini) yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pahlawan Walk ini.

Jika anda kebetulan mengunjungi Melaka serta mencari oleh-oleh khas Melaka, ya Pahlawan Walk Market inilah tempatnya.