Pelabuhan Poetere

14 10 2013

20131014-044325.jpg

Transit sehari di Makassar jadi bingung mau kemana lagi. Losari sudah, Trans Studio sudah juga, Fort Rotterdam check list, Tana Toraja & Tanjung Bira kejauhan gak bakalan cukup waktunya, Samolona…hmmm nanti aja deh soalnya tujuan utama pengelanaan kali ini kan ke Bunaken (Manado) hehe. Pilihan tersisa, Benteng Somba Opu dan Pelabuhan kapal pinisi di Poetere.

Tanya resepsionis hotel (hotel kami letaknya di chinatown), katanya kalau ke benteng Somba Opu jauh, gak ada bisa dicapai dengan menggunakan becak, sedang pete-pete juga jarang lewat. Baiklah, kalau Poetere? Kalau Poetere sih dekat bu dari sini, jalan kaki juga bisa…nih dibelakang hotel tunjuknya. Percaya dengan info dari resepsionis, saya pun mengusulkan ke krucils untuk jalan kaki saja dari hotel (laa… kan dekat katanya). Sulung saya bilang, kita naik becak aja dulu bunda supaya tahu arahnya….kalau sudah tahu arah, baru pulangnya jalan kaki.

Mengikuti usul krucils, kami pun minta becak mengantar ke Poetere. Begini kurang lebih percakapan saya dengan tukang becak ;
Saya : Ke Poetere berapa pak?
Tukang becak (TB) : Poetere??? ??? ??? (jidatnya berkerut,hidungnya mengernyit, matanya menyipit, diseputar kepalanya muncul tanda tanya yang banyak hehe)
Saya : Pelabuhan Poetere?
TB : oooh pelabuhan, 15rb.
Saya : kata orang hotel dekat tuh pak, 8 rb saja ya?

Dan dia pun mengangguk setuju. Naik becak, bersenang-senang dengan krucils karena kami memang senang naik becak hehe. Tidak begitu jauh dari tempat kami naik tadi, tukang becak pun berhenti.
TB : E..ini dia pelabuhannya (sambil berhenti di pelabuhan kapal pelni biasa
Saya : Bukan yang ini pak, pelabuhan Poetere
TB : pelabuhan ya ini
Saya : pelabuhan yang ada kapal pinisinya itu loh pak, Pelabuhan P-o-e-t-e-r-e ….*mulai bingung sendiri*
TB : oooh yang ada kapal pinisi, itu poeter

Nah itu dia maksudnya, rupanya terjadi kesalahan pengejaan dan pelafalan hingga menyebabkan kesalahpahaman…entah saya yang salah atau di tukang becak yang salah…hahaha. Dan ternyata yang kata mbak resepsionis itu dekat ternyata malah jauuuhhh buangeeet dan mungkin ini salah paham lagi, kemungkinan dikira mbak resepsionis pelabuhan kapal laut biasa…hehe.

Setelah perjalanan yang terasa sangat amat lama dan sport jantung itu (sepanjang jalan banyak truk-truk kontainer yang mepet banget dekat becak, seyeeemmm), kemudian sampailah kami di jalan rusak yang aromanya langsung berbau ikan asin dan terasi. Melalui pasar yang ramai dan inilah dia Poetere yang dicari-cari itu…

Biaya masuk murah meriah cuma 2rb. Banyak kapal pinisi khas pelaut Makassar bersandar di pelabuhan ini. Sulung langsung sibuk dengan kameranya, adek langsung sibuk ngelap keringat…panasnya pol banget dah. Rupanya disini juga pelabuhan ikan, jadi banyak ikan juga. Walau penuh perjuangan untuk sampai sini, ditambah keringat yang bercucuran, yang penting krucils jadi tahu gimana sih bentuk kapal pelaut Makassar yang tersohor itu langsung di tempatnya gak cuma liat di foto atau di museum tok πŸ˜€

Advertisements




Jalan-Jalan di Makassar

11 10 2013


Alhamdulillah, kali ini kami kembali ke Makassar namun tujuan utama pengelanaan kali ini bukan di kota Makassarnya tapi kota yang terletak di utara pulau Sulawesi. Apaan hayoo? Yup, kota yang terkenal dengan taman bawah laut Bunakennya, apalagi kalau bukan Manado.

Tiket tujuan Manado ini sudah ada ditangan kami sejak awal tahun, jadi sayang banget kalau tidak digunakan. Berhubung jadwal akademik krucils yang libur Idul Adha, ditambah krucils yang gak sabaran banget pengen melihat kayak apa sih Bunaken yang kata bundanya banyak ikan dan keren banget itu (padahal si bunda juga belum pernah ke Bunaken tapi suka sok tewu…hehe).

Dengan harapan, weekend plus libur kejepit ayah bisa ambil ijin…eh ternyata baru pulang, si ayah disuruh ke laut lagi yang otomatis tiket si ayah terbuang lagi dan kami kembali berkelana bertigaan aja. Begitu mendengar kami hanya bertigaan dan mampir ke Makassar sehari, seorang tetangga yang baik hati langsung menawarkan suaminya (yang kebetulan bekerja di Makassar) menjemput kami di bandara Sultan Hasannudin, Makassar. Waduh, jadi gak enak hati…tapi enak di dompet jadi irit…hehe, eh serius…beneran gak enak hati ngerepotin orang lain. Btw, terima kasih banyak mbak Yattie dan suami πŸ˜€

Jadilah begitu sampai di Sultan Hassanudin, sudah dijemput tetangga dan diantar ke hotel. Check in, istirahat sebentar…seperti biasa krucils mulai gak betah ngedon di kamar, mulai merengek-rengek jalan-jalan. Baiklah sekalian nyari makan siang, markimon (mari kita kemon)…

Karena sama sekali buta wilayah, walau dipeta katanya hotel kami ini dekat dengan Fort Rotterdam, saya memutuskan menggunakan becak dulu untuk mempelajari wilayah. Naik becak 10rb dengan tujuan Losari (satu-satunya wilayah di Makassar yang sudah saya kenal), begitu jalan…oalah rupanya hotel kami letaknya di Chinatown dan memang tidak terlalu jauh dari Fort Rotterdam, bisa jalan kaki. Dari Fort Rotterdam menuju Losari sebenarnya tinggal lurus saja tapi karena Jalan Penghibur satu arah, becak biasanya melalui Jalan Somba Opu (tempat oleh-oleh Makassar), namun karena macet banget becak akhirnya muter agak jauh.

Di Losari rupanya sedang ada panggung hiburan dengan tamu Noah. Kami sih lebih tertarik nyari tempat makan, lapar…hehe. Setelah makan, jalan seputaran Losari dan mesjid terapung di siang yang terik, kami memutuskan balik ke hotel. Sulung saya sih pengen banget foto-foto sebuah patung di bundaran dekat Fort Rotterdam tapi kemudian dia setuju untuk balik ke hotel dulu baru sore menjelajah lagi.

Dihotel, istirahat sebentar…krucils minta mandi. Hmmm, tumben biasanya nih bocah-bocah paling susah disuruh mandi. Mencurigakan, pasti pengen ngutak ngatik kamar mandi hotel dan main air…dan kecurigaan bunda terbukti, begitu masuk kamar mandi langsung heboh ngutak ngatik dan main air…hahaha, dasar anak-anak. Setelah mandi, bolak balik ngelirik jam, maklum perjanjian dengan bunda, sore baru jalan lagi. Begitu jam 5 sore, jalan kaki menuju patung yang diincar sulung sejak pertama. Sulung saya memang lagi hobi fotographi, ngutak-ngatik, jeprat-jepret dan hunting tempat menarik untuk difoto menggunakan kamera barunya πŸ˜€

Tidak jauh dari Fort Rotterdam, nongkrong dulu sambil minum es kelapa dan makan batagor (haiyah…jauh-jauh ke Makassar makannya batagor…ya siapa tahu batagornya beda…hehe). Kemudian mood sulung saya langsung hilang, giginya goyang dan sakit katanya, langsung ngajak balik hotel padahal biasanya paling demen berkelana. Sip, kita istirahat dulu anak-anak…besok pengelanaan masih berlanjut.





Losari Beach Hotel

3 05 2013

20130505-055808.jpg

Beberapa hari sebelum berangkat berpetualang, biasanya saya sudah membeli voucher hotel via internet. Alasan utama sih, biasanya harganya lebih murah dibanding beli di tempat. Kedua, karena daerah yang akan dikunjungi biasanya adalah daerah yang masih baru bagi kami, agak menyulitkan juga kalau masih harus muter-muter dulu nyari hotel setibanya di kota tujuan, laa nama jalan aja kadang kagak ngartos hehe, belum lagi kendala bahasa (kalau keluar negeri). Jadi paling aman adalah beli di internet, di pengelola hotel-hotel yang sudah terpercaya seperti Agoda.com, Hostelworld.com, Booking.com, dsb. Kelebihan beli di internet adalah, kita bisa membandingkan harga antara yang satu dengan yang lain dan fasilitas tambahan apa yang diberikan.

Petualangan kami kali ini serba dadakan, jadilah agak dadakan juga nyari hotelnya. Sehari sebelum berangkat akhirnya saya memutuskan membeli voucher Losari Beach Hotel, pertimbangan utama adalah lokasinya yang “city center” alias di pusat kota, dekat kemana-mananya. Menurut review pengunjung, hotel ini dekat kemana-mana, apalagi setelah dilihat dipetanya mbah google…hotel ini berada tepat menghadap pantai Losari yang menjadi trade marknya Makassar. Masalah yang lain-lain sih liat gimana ntar aja..

Di agoda sih harga kamar standard ditawarkan 400rb-an/malam, tapi setelah dibayar jatuhnya kok malah 480rb permalam..mungkin pajak dllnya…yah sudah terlanjur bayar, apa boleh buat. Ternyata harga tersebut masih lebih murah dibanding beli langsung disana, yang setelah diintip-intip harga paling murah 500rb-an/malam. Kamar saya dan duo krucils sih standard, besarnya juga sedang saja dan bersih. Sayangnya iklannya yang view menghadap pantai hanya untuk kamar-kamar deluxe, sedang jendela kamar kami menghadap tembok sehingga ditutupi gorden. Ditambah akses internet yang susah di kamar-kamar tertentu.

Secara keseluruhan kami suka, bagi saya pribadi indikator hotel dapat dikatakan bagus sederhana saja… yang penting duo krucils saya suka…hehe. Nah, kalau mereka suka gak usah komplain-komplain lagi soal yang lain hihi. Nilai plusnya ya itu tadi, letaknya yang city center (di jl.Penghibur)…mau ke Anjungan Losari dan kawasan kuliner dekat, ke Fort Rotterdam atau penyeberangan ke pulau Samalona dan pasar cuma 5 menit, ke pusat souvenir Somba Opu tinggal jalan kaki, ATM dan mini market ada, restaurant, tempat makan, dsb banyak.

Buat emak-emak seperti saya yang bawa dua buntut, letak hotel ini menolong banget deh…jadi gak terlalu ribet. Kehabisan uang..ada ATM, beli minum dan cemilan krucil ada mini market yang terletak tidak jauh dari hotel, lapar…ada banyak tempat makan, mau kemana-mana dekat. Menikmati sunrise atau sunset pantai Losari, ataupun pengen pisang epe tinggal nyeberang jalan…apalagi di hari Sabtu pagi jalan ini jadi tempat berolahraga warga sehingga ada larangan berkendara dijam-jam tertentu. Tidaklah heran jika krucil dan the geng pun serasa dirumah sendiri…mainnya heboh dan rusuh banget…hehe πŸ˜€





Berburu Buah Tangan di Somba Opu

3 05 2013

20130503-090922.jpg

Biasanya kalau sedang travelling, jalan-jalan atau berpetualang, saya paling malas beli oleh-oleh, souvenir dan semacamnya. Alasan utama adalah berat, sedang bawaan sebagai backpacker hanya ransel-ransel kecil…kalau harus bawa tambahan lagi lalu mau ditaruh dimana barang-barang tambahan tersebut. Laa bawa baju aja dipas-pasin kalau perlu dikurangi biar gak berat sehingga seharian cukup pakai satu lembar baju gak ganti-ganti, apalagi petualangan kali ini hanya bertigaan tanpa ayah yang biasanya bisa diandalkan ngegendong ransel ataupun krucil hehe. Ditambah duo krucils saya yang ganti-gantian demam, sebelum berangkat yang bungsu..menjelang pulang giliran yang sulung, jadilah semakin berkali lipat malasnya beli-beli..

Sulung saya kalau berpetualang paling suka nyari gantungan kunci, nah…kalau gantungan kunci sih gak masalah, benda kecil mini imut gitu sih gak kerasa bawanya hehe. Ingat bahwa sulung saya koleksi gantungan kunci dan magnet kulkas, awalnya saya hanya beli dua buah benda itu di jalan Somba Opu (pusat penjual souvenir dan oleh-oleh khas Makassar) yang letaknya tepat dibelakang hotel…dan urusan souvenir-souveniran pun selesai bagi saya.

Eh ternyata malam hari sebelum pulang, si ayah telp dengan sederet pesan …beliin ini, beliin itu…halah, jadinya mau gak mau harus berburu dong. Rasanya malas banget nih ngeteng-ngeteng tambahan, tapi demi suami tersayang…baiklah…hayoo anak-anak, kita cari oleh-oleh untuk ayah. Jadilah hari keempat, hari terakhir kami di Makassar sebelum berangkat ke bandara…subuh-subuh krucil yang sudah bangun langsung mandi, ganti baju, turun ke bawah sarapan bertigaan. Teman-teman krucil masih belum bangun, jadilah sarapannya bertigaan mulu hehe..

Selesai sarapan, matahari terlihat sudah cerah ceria…liat jam masih jam 7 pagi…kami pun melangkahkan kaki ke belakang hotel diiringi senyum dan sapa ramah resepsionis dan security (bener-bener mirip lagunya Louis Armstrong deh, “What a wonderful world”). Begitu memasuki jalan Somba Opu, agak deg-degan juga nih, kok kayaknya toko-toko masih pada bergembok sih…walah jangan-jangan belum ada yang buka. Beruntungnya ada sebuah toko yang sudah buka, jadilah berburu oleh-oleh ditoko satu-satunya yang sudah buka tersebut. Sisanya dicari di bandara yang harganya 2x lipat daripada di Somba Opu…tapi gpp lah, yang penting ayah senang hehe…

Jam 8.30 pagi berangkatlah kami naik taxi ke bandara. Jam 11 masuk pesawat, jam 12an sudah sampai di little house on the praire lagi dan selesailah petualangan kami di akhir bulan April ini. Heboh, rusuh, banyak kejadian tak terduga, lelah juga tapi seruuu. Petualangan berikutnya pasti lebih seru lagi, ayo anak-anak kita tidur…ah lelah…





Panas Dingin di Bantimurung, Maros

1 05 2013


Hari ketiga di Makassar (Minggu) kami rencanakan ke Bantimurung. Dari dulu pengen banget ngeliat dari dekat air terjun bertingkat-tingkat yang tersohor itu, jadi begitu ada kesempatan main di Makassar…harus, wajib, gak boleh tidak, pokoknya ke Bantimurung. Krucils juga bisa berenang disini atau bisa melihat kupu-kupu Bantimurung yang terkenal itu.

Pagi-pagi kami mulai menelepon supir mobil yang kami rental dari seorang kenalan untuk memastikan agar kami dijemput jam 8 pagi, supaya tidak kesiangan sampai sananya karena setahu saya perjalanan kesana antara 2-3 jam kalau naik pete-pete, sedang kendaraan pribadi 1 jam-an lebih. Kami memutuskan rental mobil kenalan pertimbangan utamanya adalah waktunya lebih banyak dibanding kalau rental di hotel, yang hitungannya hanya 12 jam sehari (pergi jam 8 pagi, kembali lagi jam 8 malam). Dan ternyata lagi kami baru sadar harganya lebih murah dibanding rental tempat lain. Kalau rental di hotel atau tempat-tempat lain standardnya 500rb/hari (12 jam) belum termasuk uang tol, sedang sama kenalan harganya hanya 350rb/ hari (lebih 12 jam) tapi bensin dan tol belum termasuk, yang awalnya kami perkirakan ya paling-paling jatuh harganya sama juga 500rb-an. Tapi ternyata tol hanya 20 rb (itu sudah pp), sedang bensin cuma 50 rb (pp), jadi hitungannya lebih hemat 80-100 rb…lumayan kan selisihnya bisa untuk makan atau beli oleh-oleh..hehe.

Mungkin kelelahan karena terlalu heboh bermain seharian di Trans Studio hari sebelumnya, belum lagi malamnya masih juga main di hotel sama teman-temannya, pagi itu sulung saya demam. Badannya panas, antara jadi atau gak nih ikutan ke Bantimurung. Tapi dia ngotot pengen tetap ke Bantimurung, untungnya karena sebelum berangkat ke Makassar si bungsu yang sakit, saya sudah persiapan bawa obat penurun panas dari rumah sehingga gak begitu panik. Biasanya sulung saya ini kalau demam, sehari dua hari sudah sembuh…jadi ya sudah biasa…cuma tetap kerepotan juga karena sendirian nih ngurus duo krucil di negeri orang, yang satu panas…yang satu lagi cemburuan kalau bundanya dekat sama abangnya…hadeuh…*pijat-pijat pelipis pusing* hehe.

Dari hotel sudah dipersiapkan bawa jaket…eh ternyata tetap aja ketinggalan. Tapi kayaknya cuaca panas menyengat, gak bakalan kedinginan deh saya pikir. Tapi begitu mulai memasuki daerah Bantimurung, pemandangan yang terhampar mulai indah…karst-karst besar dengan hijaunya pepohonan berpadu dengan persawahan turut mengademkan cuaca yang kala itu terasa menyengat. Mendekati daerah air terjun mulai terasa dingin, lebih-lebih begitu memasuki areal air terjun Bantimurungnya…wuih dingiiinn…kontras dengan suhu di Losari.

Tiket masuk Bantimurung 15rb/orang, dewasa dan anak-anak sama saja harganya kecuali turis mancanegara baru beda tarifnya. Bantimurung ini keren banget menurut saya, sayangnya ketika kami datang airnya sedang deras-derasnya sehingga undakan-undakan batunya tidak terlihat karena tertutup aliran air yang sangat deras itu sehingga keindahan air terjunnya sedikit berkurang.

Satu hal yang tidak begitu saya sukai adalah pedagang makanan yang selalu mengelilingi kami (kalau istilah orang Banjar, ngerebuti kami), sudah ditolak…tetap ngeyel. Akhirnya karena bete sedang ngurus anak sedang demam tetap mepet-mepet maksa beli, kesabaran pun habis…hadeuh bu, plis deh, saya kan sudah bilang gak…ya artinya enggak. Eh tetap gak ngerti juga masih mepet juga…arrrghhhh… yo wes lah…terserahlah kalau memang sebegitu ngefansnya dengan saya…hehehe. Dan satu lagi, banyak tukang foto keliling, yang awalnya sih infomatif ngasih tahu ini itu tapi ujung-ujungnya nawarin foto…untung gaya saya lebih preman dari mereka dan ngeteng kamera segede gaban kemana-mana, agak sungkan juga mereka maksa-maksa saya, sesama tukang foto dilarang menyalip…hehe..

Nah, diareal sini sebenarnya ada beberapa gua, salah satunya gua mimpi yang walau demam membuat sulung saya penasaran dengan namanya “kayak gimana gua mimpi itu, bunda? kita kesana ya nanti”. Hadeuh bang, kita kan sama-sama baru pertama kali kesini, jadi bunda juga gak tahu seperti apa gua mimpi itu. Nanti lagi aja ya kita menjelajah yang lebih detail, kita ajak ayah kesini..

Selain ada gua, ada museum kupu-kupu dan penangkaran kupu-kupu. Tiket masuk museum 5rb/orang. Museumnya kecil, berisi dengan kupu-kupu yang telah diawetkan dalam tempat kaca…ya mirip dengan yang banyak dijual sebagai souvenir di depan pintu masuk Bantimurung ini, bedanya di museum dilengkapi dengan nama jenis kupu-kupu tersebut. Seperti biasa sulung saya tertarik memperhatikan semua yang dipajang dalam museum, walau demam tapi kalau berhubungan dengan museum sih lupa sedang demam…hehe. Sedang penangkaran kupu-kupu mirip rumah kaca, bedanya disini bukan dikelilingi kaca tapi dikelilingi pagar kawat kecil-kecil (kawat nyamuk gitu deh). Tempatnya kecil aja, didalamnya ada beberapa tanaman yang menjadi tempat berbiak dan makanan bagi kupu-kupu ataupun kepompongnya. Disini krucil saya dan the geng sangat tertarik dengan penjelasan yang diberikan penjaga penangkaran, seperti memperhatikan telur kupu-kupu yang mirip butiran pasir, kepompong yang ternyata ada sejenis benang sutra penahannya, yang jika benang itu rusak maka kepompongnya tidak akan berubah jadi kupu-kupu, dan sebagainya. Komentar mereka begitu keluar penangkaran, seruuu…

Penjaga penangkaran memberitahu saya bahwa kupu-kupu sedikit karena bukan musimnya. Biasanya kupu-kupu akan banyak di musim kemarau katanya. Catet, lain kali kalau mau kesini musim kemarau ya anak-anak biar bisa liat banyak kupu-kupu. Dan penjaga disini juga cerita bahwa banyak isu berkembang (bahkan hingga ke negri seberang, Singapore) tentang banyak orang tenggelam di air terjun Bantimurung. Tapi semua itu hanya gosip saudara-saudara, jangan dipercaya karena selama ini tidak pernah satu orang pun tenggelam di Bantimurung. Mereka curiga gosip itu dihembuskan orang-orang yang punya kepentingan tertentu dari beredarnya isu-isu tersebut.

Mungkin karena isu ini pula tetangga saya takut membiarkan anak-anaknya berenang, padahal tidak jauh dari air terjun ada kolam renang yang sumber airnya berasal dari air terjun tersebut sehingga warnanya kecoklatan. Nah, karena dari hotel krucil-krucil ini dijanjikan berenang, begitu tidak diperbolehkan berenang mereka pun rewel, minta ke kolam renang! Ya ampun anak-anak, jauh bener sih nyari kolam renang…kalau mau berenang mah di komplek aja kali..hehe..

Baiklah, karena krucil-krucil ini mulai rewel dan karena tampaknya hanya saya dan duo krucil saya yang penyuka wisata alam diantara rombongan ini, kami pun ngalah…hayuu deh kalau memang mau nyari kolam renang. Untuk sementara disimpan dulu keinginan saya dan sulung saya melihat gua dan wisata alam lainnya seputaran daerah sini (ada gua Leang-Leang juga loh, itu tuh gua yang ada cap tangan peninggalan manusia prasejarah…pengen banget kesini, tapi tampaknya gak ada yang berminat kecuali saya dan duo krucil saya yang walau demam tetap penasaran pengen liat cap tangan manusia prasejarah. Ntar kita ajak ayah aja ya anak-anak..hehe).

Dan ketika kami melangkahkan kaki keluar menuju parkiran mobil, terlihatlah banyak toko-toko penjual souvenir berupa kupu-kupu yang telah diawetkan, baik dijadikan gantungan kunci, pajangan dinding, magnet kulkas, dan sebagainya. Semua cantik-cantik dan harganya juga masih terjangkaulah…ngeliat banyak orang beli dan tetangga juga borong, pengen ikut-ikutan beli juga. Untung sempat tarik napas yang dalam…ingat yah, kalau membeli berarti turut mendukung pemusnahan spesies kupu-kupu di Bantimurung…ingat…ingat, hela napas yang dalam…langsung buru-buru masuk mobil..hehe..

Setelah makan siang disebuah rumah makan yang ramai (lupa lagi namanya, ada Losarinya namanya hehe), saya memutuskan…sudah cukup jalan-jalan hari ini. Kami di hotel aja supaya sulung saya bisa beristirahat, kalau teman-temannya masih mau lanjut silahkan saja. Sesampainya di hotel ternyata teman-teman krucil kecapekan juga sehingga mereka memutuskan istirahat dulu juga sebelum sorenya melanjutkan jalan-jalan lagi.. sayang kan sudah rental mobil hehe. Sedang untuk saya dan duo krucil saya, sementara selesailah petualangan kami di hari itu, hari ketiga kami di Makassar..





Having Fun di Trans Studio Makassar

30 04 2013


Saat kami kembali ke hotel, eh ditawari tiket Trans Studio murah di resepsionis. Kata mereka sih harganya jauh lebih murah dibanding beli di Trans Studionya langsung, ketika itu kami di kasih harga 85rb/orang, kalau beli di Trans Studio bisa 150rb kata si resepsionis sih (Laa saya sih percaya aja, soalnya di Trans Studio Bandung kan harganya gak semurah itu hehe). Eh setelah dibayar dan kami mau berangkat…dipanggil resepsionis lagi. Maaf ada kesalahan, katanya. Dia baru sadar kalau hari itu hari Sabtu alias weekend, kalau weekend harganya beda lagi jadi 165rb…alamak jang, kok naiknya bombastis gitu, 2x lipat? Dan tetap diimingi dengan kata-kata ini lebih murah di banding disananya bu…disana harganya 200rb-an, tambahnya lagi. Baiklah kalau memang lebih murah, bayar kekurangannya…

Di depan hotel kami memanggil becak-becak lagi, suruh antar ke shuttle bis Trans Studio (dari hasil jelajah dunia maya, konon Trans Studio menyediakan bis gratis dari sebuah halte yang berada tidak jauh dari anjungan Losari ke Trans Studionya). Nego dengan tukang becak dapat harga 10rb/becak..baiklah, berangkaat…

Eh ternyata tukang becaknya gak tahu apa yang saya maksud, mereka kira kami minta antar nyari angkot atau bis ke Trans Studio, jadi mau diturunkan di dekat rumah sakit Stella Maris…hadeuh, ngomong dong kalau gak tahu halte bisnya. Bolak-balik sekitar situ, akhirnya saat tanya ke seorang security mereka menunjukkan arahnya, lurus aja dari situ…haha..kasian sama tukang becaknya yang bolak balik ngenjot gak tentu arah, akhirnya dikasih bonus 4rb hehe..

Halte bisnya lumayan bagus dan modern, ada iklan Trans Studio didepannya. Sayangnya terlantar, dalamnya banyak daun kering, agak kotor dan bau. Sementara krucil dan the geng mulai gak sabar, akhirnya ditanya ke tukang ojek yang mangkal gak jauh dari situ. Rupanya bis ini sudah lama tidak beroperasi, kalaupun jalan hanya kadang-kadang aja…kadang lewat, kadang gak…cobain aja tunggu sampai siang, kata tukang ojek…oalah. Akhirnya daripada nunggu gak jelas juntrungannya, kami naik pete-pete (3rb/orang). Tapi harus tanya dulu, lewat Trans Studio gak karena gak semua pete-pete lewat situ…jarang banget (gak tahu memang pete-pete jarang lewat situ atau kaminya aja lagi apes, susah nemu pete-pete yang lewat situ).

Ternyata tempatnya lumayan jauh juga, padahal bangunan mallnya sih keliatan dari hotel kami, kalau jalan kaki atau naik becak pasti gempor duluan tuh…hehe. Begitu sampai mall Trans Studio, siapa yang paling happy? Krucil dan the geng tentunya, mereka langsung lari-larian disepanjang mall (mallnya panjang banget ke belakang sedang Trans Studio letaknya paling ujung belakang). Mall ini lumayan besar, mengingatkan saya pada Tunjungan Plaza tapi sepi. Entah karena kaminya yang kepagian datang atau dikarenakan transportasi kesini susah seperti yang kami alami.

Begitu sampai di pintu masuk Trans Studio, ternyata tiket hari itu adalah 175rb…ya bener sih kata resepsionis, lebih murah beli di hotel, murah 10rb hehe. Padahal sih 10rb nya untuk biaya beli kartu isi ulang setahu saya, jadi ya sama aja jatuhnya kalau mau koleksi kartunya sih hehe. Anggota geng lainnya yang karena melihat kartu Trans Studio Bandung punya duo krucil saya (yang sengaja saya bawa, supaya gak usah beli-beli kartu lagi…lagian masih ada sisa isinya didalam…lumayan kan buat beli makan hehe) langsung minta kartu juga. Tapi karena beli tiketnya dihotel, jadi ya gak dapat kartu yang langsung terdengar protes dari teman-teman krucil, maa…beliin kartunya maa…hehe..Next time aja ya anak-anak, kalau ke Trans Studio lagi kita beli pakai kartunya.

Kami datang pagi banget, mungkin Trans Studionya juga baru buka…soalnya cuma kami yang baru tampak disitu..hehe. Entah karena masih kepagian, figure-figurenya baru ada sedikit, baru ada Sponge Bob & Patrick, dan buaya serta monyet…kayaknya disini lebih sedikit dibanding yang di Bandung. Dan hebatnya lagi (atau ngerinya ya), walau ada tinggi minimal masuk wahana ternyata pengawasannya tidak seketat di Bandung sehingga hampir semua wahana bisa diikuti atau dinaiki krucil dan the geng. Karena krucils bisa menaiki hampir semua wahana, saya dan emak-emak lainnya jadi bisa ikutan juga yang walau saya kurang suka naik permainan-permainan jenis ini, mau gak mau ikut juga sekalian jaga anak wkwkwk…

Hasilnya? seruuu dan gemetaran saat selesai menaiki wahana jelajah, yang mengharuskan anak-anak didampingi dua orang dewasa untuk berjaga di depan dan dibelakang. Jelajah itu adalah menaiki kereta yang berbentuk perahu kemudian meluncur dari ketinggian ke bawah langsung nyebur ke air…wuih mengerikan! Gak bakalan lagi deh naik wahana beginian hehe. Pusing ketika naik Rickin’Tug, kapal yang awalnya cuma melucur maju mundur, kemudian lama-lama muter dan puterannya tambah mengerikan yang membuat tetangga saya teriak minta hentikan permainan karena dia sudah pusing berat.

Hampir semua jenis permainan diikuti krucil dan the geng, kecuali ada satu wahana bom-bom car untuk dewasa yang krucil di stop tidak diperbolehkan masuk, sisanya semua diikuti. Kami makan siang didalam sini, kemudian jam 2 siang ada kabaret show live gitu…katanya sih sehari cuma 1x pertunjukkan sehingga semua pengunjung ngantri masuk, sedang kami yang walau juga sudah ikutan ngantri gak jadi nonton karena krucil dan the geng mulai rewel, pengen cepat-cepat ke Kidzania yang katanya sih ada juga di GTC (salah satu mall di Makassar yang letaknya tidak jauh dari Trans Studio Mall), cuma namanya jadi Kidzone.

Duo krucil saya bergembira banget di Trans Studio Makassar bisa mengikuti hampir semua jenis permainan dan terutama menikmatinya bersama teman-teman. Walau bentuknya kurang lebih sama dengan yang di Bandung, menurut saya pribadi sih lebih komplitan yang di Bandung wahananya, juga figure-figure untuk berfoto-foto bersama pengunjung, dan nilai tambahnya di Bandung ada Parade Shownya! Di sini saya tanya, katanya Parade Show hanya ada di hari Minggu, kami disuruh kembali hari Minggunya kalau mau nonton parade shownya…yee, kalau dikasih gratis sih mau, kalau disuruh bayar lagi gak deeh..Oiya, satu lagi minusnya adalah masa tempat hiburan besar begini bisa kehabisan peta! Oalah, di Bandung sih peta banyak banget dikasih untuk pengunjung..tersedia disetiap tempat informasi, laa ini bagian informasi aja gak ada orangnya…hehe..

Walau begitu, karena tujuan kesini adalah menyenangkan krucil-krucil jadi mereka senang dan puas, saya ikutan senang juga (walau capek sebenarnya). Disini kami hingga jam 3 siang, dari baru buka sampe pengunjung mulai banyak…ya ampun, berapa jam tuh? Sampai makan disini dua kali, satu di dalam Trans Studio, satu lagi di mallnya. Kalau gak karena pengen ke Kidzania juga hari itu, mereka pasti gak bakalan pulang-pulang tuh…sampe salah seorang anak naik bom bom car khusus anak 7x. Mereka juga sempat bermain peran sebagai band penyanyi (1 drum, 1 gitar, 1 penyanyi) dengan nama band Angry Birds, sedang sisanya berperan jadi director dan kameramen di Kids Studio dan direkam yang harga rekamannya 15rb /CD (kalau di Bandung 50rb)..haha seruuu…

Kemudian kami memutuskan ke GTC, yang setelah 1 jam nunggu pete-pete gak ada yang muncul, kalau ada lewat satu dua buah semua isinya penuh. Nyari ojek ( kami kira segerombolan motor yang ngetem dibawah pohon depan mall tukang ojek, ternyata bukan…haha) gak ada, nyari taxi gak ada yang lewat juga…malah diseberang banyak pete-pete dan bemor (becak motor) yang lewat. Akhirnya dengan putus asanya, ketika kami melihat pete-pete kosong diseberang jalan berlawanan arah dengan tujuan kami, serempak memanggil…bisa gak antar kami kearah berlawanan? Eh ditawari 25 rb, dia mau…yo wes…dia muter arah.

Ternyata letak mallnya gak begitu jauh sih dari mall Trans Studio, cuma jalannya sedikit rusak. Begitu masuk mall ini kesan pertama adalah…mallnya terlantar karena sepi banget. Hampir semua toko yang jual disini tutup disertai tulisan Sale. Tanya sama seorang petugas dimana Kidzone, dia menunjuk lantai atas, diatas kami muter-muter di lantai atas yang jauh lebih sepi dari lantai pertama, gak nemu petunjuk dimana Kidzone itu berada. Hingga akhirnya kami menemukan eskalator ke atas yang disepanjang sisi eskalator berisi iklan tentang permainan Kidzania, tapi saat eskalator didekati ternyata ditutup dipasangi tali untuk menghalangi orang naik keatas, disertai pengumuman tulisan tangan kecil bahwa Kidzania ditutup karena sedang renovasi…haha…bener-bener deh, pengalaman tak terlupakan…

Sudah nunggu pete-pete lama, eh sesampainya disana malah tutup. Ow..ow…anda tidak beruntung…hehe. Lelah iya, bete iya, kecewa lebih-lebih tapi kami jadi ketawa ngakak…ya ampun perjuangannya untuk kesini itu loh. Tapi gpp, kita kan sudah bergembira di Trans Studio anak-anak, sudah puas bermain seharian bahkan sudah bermain peran juga di Kids Studio…hehe, ntar kita ke Kidzania di Jakarta aja deeh…hehehe…





Belajar Mengenal Masa Lalu di Fort Rotterdam

29 04 2013


Duo krucil saya kalau sedang berpetualang, entah sengaja atau memang terbiasa atau settingan begitu, selalu bangun lebih pagi daripada kalau sedang berada di rumah. Demikian pula hari kedua kami di Makassar, subuh-subuh (jam 04.30) sudah pada melek dengan sendirinya…ya ampun, harus sering-sering diajak berpetualang kalau gini hehe . Setelah mandi, si bungsu sudah gak sabar ngebangunin temannya…jangan dong dek, kasian masih pada tidur gitu.

Setelah agak lama juga mereka menunggu teman-temannya bangun dan belum bangun-bangun juga, akhirnya saya ajak mereka turun ke lobby…kita jalan-jalan aja di pantai depan hotel. Kami pun duduk-duduk di pantai depan hotel, jalan ke ATM, kemudian kami putuskan sarapan duluan. Setelah kami selesai sarapan, baru teman-temannya turun dari kamar…yah daripada lama nunggu mereka sarapan, saya pun memutuskan mengajak duo krucil saya ke Fort Rotterdam karena kayaknya hanya krucil-krucil saya yang penggemar museum (di dalam Fort Rotterdam ada museum juga) diantara anak-anak seusianya.

Kami naik becak dari hotel kami di Losari (jl.penghibur) ke Fort Rotterdam, sebenarnya saya lebih suka mengajak krucil saya jalan kaki karena jaraknya gak terlalu jauh dari hotel. Tapi dengan pertimbangan biar cepat karena hari itu kami berencana ke Trans Studio bersama-sama, pakai becak aja deh. Harga becak berkisar 7rb-10rb dari hotel, tergantung bisa gaknya nawar dan karena saya jenis orang yang gak bisa nawar…ya sudah deh, terima-terima aja…hehe…

Mendekati benteng, beberapa orang berteriak-teriak pada saya menawarkan perahu untuk menyeberang ke pulau (pulau samalona, dan sekitarnya. Nah, pulau-pulau ini sebenarnya masuk dalam list tempat yang akan saya kunjungi, cuma setelah saya ajak emak-emak lainnya kayaknya gak begitu tertarik…mau pergi ngajak krucil bertigaan aja juga susah nyari waktunya karena krucil main mulu sama teman-temannya, jadi dengan sangat menyesal tempat yang satu ini disimpan dulu. Next trip insyaAllah akan kami datangi bersama ayah). Pengen nyeberang ke pulau tapi waktu mepet, ke benteng dulu aja deh yang penting…mengenal sejarah itu lebih penting.

Masuk ke dalam benteng ini cukup mengisi buku tamu dan membayar dana seikhlasnya. Nah kalau sudah mendengar kata seikhlasnya itu saya agak bingung tuh menentukan mau ngasih berapa, jadi seikhlasnya saya ya 6rb rupiah karena cuma nemu duit kecil segitu. Bentengnya guede (ya dibanding Fort Cornwallis sih hehe)…ada bangunan-bangunannya di dalam, ada Museum La Galigo, ada mushola (entah memang sejak jaman dulunya mushola atau baru diubah peruntukannya), ada gereja, ada ruang tahanan Diponegoro, ada kanalnya, dsb.

Masuk ke museum bayar 5rb/orang (kalau gak salah, lupa euy). Museumnya ada 2 buah yang letaknya berseberangan, satu disebelah kiri pintu masuk dan satu lagi disebelah kanan pintu masuk. Yang sebelah kiri isinya senjata-senjata tajam dan tidak banyak yang bisa dilihat sehingga kami cuma sebentar banget disini, naik…liat isinya cuma berbagai jenis senjata tajam dan cuma ada kami bertiga, bungsu langsung ngajak turun.. yang membuat penjaga museum heran, sudah keliling belum? hehe.

Nah diseberang museum, ada museum lagi…kalau sudah bayar di museum yang satu, masuk yang satunya gak usah bayar lagi. Museum yang disebelah kanan isinya lebih banyak dan lebih bervariasi, berbagai adat budaya orang Makassar; ada tentang baju, alat-alat pertanian, mahkota raja, rumah adat, pelayaran, dsb. Nah yang disini krucil lumayan betah nih, terutama sulung saya…nanya ini itu, memperhatikan ini itu, sedang yang bungsu konsentrasinya pecah karena dia pengen main sama teman-temannya yang masih sarapan di hotel.

Setelah dari museum, tepat sebelah kiri pintu masuk museum, ada ruang tahanan Diponegoro…sulung saya langsung pengen tahu. Tapi ruang tahanan ini tertutup, jendela dan pintunya dalam keadaan tertutup sehingga yang bisa dilihat hanya bangunannya saja. Disamping ruang tahanan ada tangga sempit untuk naik keatas benteng, dulunya mungkin ini adalah tempat pengamatan, untuk mengamati musuh yang datang dari arah laut karena benteng ini letaknya menghadap laut. Wah sulung saya semakin semangat disini, dia yang biasanya males banget di foto langsung pasang pose minta difoto.

Saat kami sedang asik mengamati depan benteng dari sini sambil membayangkan apa yang dulu terjadi didalam benteng ini dan apa yang dulu dilihat orang-orang disini…tiba-tiba HP saya berdering. Oalah ternyata kami disusul teman-teman krucil kesini, mendengar hal tersebut bungsu saya langsung happy…hehe, dia memang lengket dengan salah seorang anak dalam gengnya. Baiklah, kalau sudah disusul ya gak bisa lama-lama di benteng pasti sudah gak sabar ke Trans Studio, tapi karena masih jam 9an dan ternyata kata tukang becak Trans Studio bukanya jam 10an…maka kami kembali ke hotel dulu…istirahat dulu yuk anak-anak…