Borobudur, Magelang

27 07 2016

20160728-035844.jpg

Ini kali kedua krucil ke Borobudur. Waktu pertama kali ke Borobudur, bungsu saya yang takut ketinggian, takut naik Borobudur. Ketika itu bungsu saya menangis-nangis tidak mau naik karena takut jatuh, sedang sulung penasaran banget pengen ke atas…namun karena adeknya ketakutan terpaksa mengalah. Jadilah kunjungan pertama ke Borobudur masih nanggung karena krucil saya hanya melihat Borobudur dari bawah saja.

Nah, kali ini sengaja ayah dan bundanya mengajak mereka kesini lagi agar bungsu saya tahu bahwa tidak apa-apa naik sampai atas (Borobudur). Kami tiba di Borobudur sekitar jam 15.00, sudah terlalu sore. Datang sore ternyata ada nilai lebihnya, matahari sudah tidak terlalu menyengat lagi dan pengunjung sudah mulai berkurang sehingga krucil lebih bisa menikmati daripada ketika kunjungan pertama.

Tiket masuk saya lupa lagi, dan ternyata ada beberapa perubahan yang baik di Borobudur. Pertama, dari tempat tiket pengunjung jalan tidak terlalu jauh. Kedua, ketika menaiki anak tangga naik ke Borobudur sudah dibedakan antara jalur naik dan jalur turun. Dulu jalur naik dan turun jadi satu sehingga tangga penuh sesak dengan pengunjung, hal ini pula menjadi salah satu penyebab bungsu saya dulu ketakutan untuk naik. Sekarang karena tangga naik sudah tidak sepenuh dulu oleh pengunjung, ditambah ada ayah yang menemani dan memeluk erat dirinya…walau masih tampak takut, bungsu saya akhirnya berhasil sampai di paling atas Borobudur…yeaayy…adek berhasil!

Kami bertemu turis Thailand yang ketika melihat kami ribet dengan kamera menawarkan diri untuk membantu kami berfoto ria…kapunkap. Oh ya, sekarang juga ada aturan tidak boleh memanjat stupa dan memegang patung budha yang berada didalamnya loh…aturan bagus agar menjaga Borobudur tidak cepat rusak. Agak lama juga kami disini, melepas lelah karena seharian berkelana kesono kemari. Baru sekitar jam 17.00 (waktu tutup Borobudur), kami memutuskan turun.

Mencari pintu keluar ke arah parkiran mobil kembali itu melelahkan dan menyebalkan. Pintu exit menuju parkiran dibuat melalui pasar souvenir yang diputar-putar jalurnya agar pengunjung melalui setiap blok pasar…arrgghhh. Padahal harusnya lurus saja bisa tapi sengaja dibikin berbelok-belok dan mutar-mutar yang selain ngesalin juga bikin capek krucil. Ketika akhirnya melihat parkiran kembali itu rasanya sesuatu…hahaha. Kecapekan setelah diputar-putar itu bikin perut keroncongan, sekarang saatnya kuliner…nyamm…





Candi di Desa Mendut

27 06 2013

20130627-114328.jpg

Setelah krucils puas melihat Museum Samudera di Borobudur kami pun mengarahkan kendaraan kembali ke Jogja. Dalam perjalanan pulang menuju Jogja, kami melalui sebuah candi yang berada persis dipinggir jalan. Dulu ketika masih berstatus mahasiswa, dalam perjalanan petualangan ke Borobudur saya ingat bagaimana pernah ngiler banget mampir ke candi ini juga namun karena naik kendaraan umum, agak-agak ribet juga kalau harus berhenti-henti dulu…jadi sekarang saatnya balas dendam…harus mampir hehe 🙂

Mampir di candi yang cenderung sepi bin kosong melompong dari turis ini (kecuali ada beberapa gelintir turis berbahasa asing seperti jepang dan perancis) menyenangkan, bisa mengeksplore candi dengan leluasa dan seksama (halah…) tanpa harus berdesak-desakkan dengan banyak orang. Sayangnya karena matahari sudah bersinar terik plus perut yang mulai berdendang dangdut, ditambah si adek yang masih takut naik-naik candi dibumbui si abang yang masih bete gagal naik ke atas Borobudur menyebabkan kami hanya sebentar saja disini.

Biaya masuk candi ini sih murah, saya lupa lagi…antara 3rb atau 5rb…yaa sekitar itulah. Konon candi ini ditemukan tantara Jepang di desa Mendut sehingga dinamakan Candi Mendut. Dan ternyata setelah di rekonstruksi, bagian atap candi ini tidak ditemukan sehingga sampai sekarang candi ini dibiarkan tanpa atap…wow, sebuah cerita yang menarik ya. Sekarang ayo kita kemon…petualangan masih berlanjut nih…





Langkah Pertama Menggapai Impian

23 06 2013


Bungsu saya sejak tahun lalu sejak diberi buku 7 Keajaiban Dunia langsung punya impian, “adek mau ke 7 Keajaiban Dunia”…aamiin, ayah bunda doain ya dek. Untuk anak yang baru berusia 4 tahun punya impian besar seperti itu bagi saya hebat banget. Harus didukung semampunya nih…dimulai dari yang paling dekat dulu dong, Borobudur.

Sejak diberitahu bahwa yang terdekat adalah Borobudur, sejak itu pula si bungsu selalu bercerita “nanti kita ke Borobudur kan nda?”. InsyaAllah dek, kita kan jadwalnya tergantung ayah off..hehe. Maka begitu berkunjung ke Jogja, tujuan utama yang langsung terpikir adalah Borobudur! Yang lain-lain mah bonus aja hehe.

Sebelum berangkat ke Jogja, tanpa sepengetahuan saya, si ayah memesankan rental mobil melalui seorang sahabat agar kami tidak kebingungan dan repot selama jalan-jalan sehingga ketika saya di telp orang dari Jogja yang menanyakan kami naik pesawat jam berapa dan hendak dijemput jam berapa, saya bingung dan kaget…halah dalah….wong rencananya mau backpackeran selama petualangan masa rental mobil beserta supir? Saya memang butuh mobil rental tapi hanya untuk satu hari tok, yaitu saat akan ke Borobudur di Magelang, bukan untuk ngantar kesana kemari selama petualangan…bisa-bisa jebol dompet akibat biaya bengkak nih.

Akhirnya saya janjian bahwa saya akan menghubungi lagi setelah saya di Jogja dan sudah tahu kapan saya butuh mobil. Maka pagi hari kedua, sehari sebelum rencana ke Borobudur, saya sms bahwa saya butuh mobil untuk keesokan harinya. Sampai sore ditunggu, belum dijawab…yang agak mengkhawatirkan saya. Tanya hotel, biaya rental mobilnya ujubune deh. Kalau mau lebih murah naik travel tapi harus pesan sehari sebelumnya dulu baru bisa. Bingung juga, mau pesan travel takutnya ternyata sudah disiapkan mobil…ah tunggu balasan dulu deh sampai malam, kalau belum ada balasan baru pesan travel. Untunglah sore menjelang malam sms berbalas.

Jadilah pagi-pagi hari ketiga kami sudah sarapan. Selesai sarapan supir sedang menunggu, kami pun buru-buru masuk kamar untuk mengambil barang-barang dibawa serta karena hari itu jadwal kami check out dari hotel tersebut, takut keasikan jalan-jalan eh malah melebihi batas check out bisa-bisa kena charge tambahan. Biar aman, check out aja dari sekarang…barang-barang diangkut serta aja dan taruh mobil selama kami jalan-jalan, beres.

Dan berangkaaat…Jogja-Borobudur kurang lebih ditempuh 1 jam, kami berangkat dari hotel jam 8-an sehingga sampai di Borobudur jam 9 pagi. Selama perjalanan krucil tidur, saya yang kebangun subuh pun sebenarnya sepet banget mata tapi berhubung supir cerita tentang letusan merapi mau gak mau jadi gak ketiduran. Supir bercerita tentang batu yang tiba-tiba muncul ditengah jalan menghambat arus lalu lintas Jogja-Magelang namun tidak bisa dipindah dan baru bisa dipindah setelah dikorbankan 2 buah kepala kambing.

Sesampainya di Borobudur…ya ampuuun, ramai banget nget nget. Orang tampak berjejalan di depan pintu masuk walau hanya bediri-bediri aja yang membuat saya bingung…hihi…untunglah, jadi kami bisa masuk leluasa tanpa harus khawatir krucil terimpit-impit. Biaya masuk 30rb/orang. Di dalam kompleks Borobudur tampak orang sudah penuh berjalan sepanjang jalan..ckckck, masih pagi aja sudah padat pengunjung apalagi kalau agak siangan.

Berhubung saya malas desak-desakan dan masih kecapekan jalan kaki setelah 2 hari petualangan yang sarat jalan kaki, saya ambil jalan pintas…naik kereta…hihi. Harga naik kereta sama dengan di Prambanan rp7500 dan nunggu minimal 10 juga baru jalan. Kalau melihat pengunjung sepadat itu sih, saya yakin dalam tempo singkat kereta sudah terisi. Benar saja, sebentar saja kursi sudah penuh terisi. Naik kereta diberi minuman mineral serta menghemat tenaga dan bisa keliling Borobudur sehingga krucils bisa melihat kandang gajah dan melihat ternyata ada museum juga yang langsung ditagih, nanti pulangnya ke museum ya bunda.

Setelah mendekati Borobudur, kami pun dipersilahkan turun. Turun dari kereta, check kondisi krucils dulu terutama si bungsu yang kalau jalan jauh biasanya digendong ayah…la ini siapa yang mau gendong? “ini jalannya agak jauh, adek kuat gak?”. Yang langsung dijawab dengan menunjukkan otot-ototnya ala binaraga tanda kuat dan siap…hehe…sip kalau gitu.

Foto-foto krucils dulu dong sebelum naik, tanda satu langkah menggapai impian adek sudah terwujud. Naik tangga penuh sesak pengunjung, adek masih biasa…terlihat masih senyum saat di foto. Kemudian mulai naik tangga Borobudur, masih ok..belum sadar ketinggian yang menanti didepan sana. Semakin naik, semakin sempit tangga dan semakin sesak juga pengunjung. Lantai pertama, kedua, ketiga terlalui. Saat hendak naik ke lantai empat, adek mulai panik..menolak untuk naik. Ditanya kenapa, dia bilang takut jatuh. Enggak akan jatuh dek, kan abang jalan didepan adek, dibelakang ada bunda yang memegangi tangan adek dari samping sekaligus melidungi adek samping dan belakang. Selain itu pengunjung yang penuh sesak tidak memungkinkan kita bisa terjatuh…tangga padat banget baik depan dan belakang.

Walau dijelaskan bunda demikian dan dibujuk abang bahwa dekat lagi sudah sampai atas, adek keukeuh gak mau naik malah mulai nangis-nangis. Sulung mulai tak sabar, adek ngapain ngajak kesini kalau gak mau ke atas…diatas kan bagus dek. Adek tetap nangis gak mau naik, akhirnya bunda ngajak krucils turun aja deh…nanti lagi kita kesini sama ayah. Abang yang mulai kesel ngancam adeknya, biarin aja dia bunda…nanti kalo kesini lagi kita tinggal dihotel sama ayah…haha…sebenarnya ini misi siapa sih bang, kan adek yang pengen ke 7 keajaiban dunia..hehe..

Setelah turun, wajah adek mulai sumringah lagi…lega banget kayaknya dia gak harus naik tangga lagi. Sudah sejauh ini melangkah, sampai harus rental mobil segala malah gak sampai atas…haha. Ayahpun telp membujuk adek, adek tetap gak mau. Yo wes, yang penting misi pertama sudah terwujud ya dek…sudah mengunjungi Borobudur..hehe. Dibawah krucils minta ke museum samudera masih dilingkungan Borobudur. Hayoo deh…lumayan mengobati kekecewaan si sulung yang katanya pengen melihat stupa diatas Borobudur.