Madinah Al Munawwarah

24 01 2018

Ayah dan saya lumayan lama mendiskusikan tentang ibadah umroh ini. Ayah pengennya kami langsung berhaji saja karena menurutnya yang wajib itu haji bukan umroh, sedang menurut saya selama menunggu antrian haji yang sudah mencapai belasan tahun lebih baik kami umroh dulu. Umur rahasia Allah, tidak ada jaminan kami masih berumur panjang untuk menunggu antrian haji. Setelah sekian lama mendiskusikan masalah ini, akhirnya ayah setuju tapi syarat dari ayah adalah tidak boleh update status atau pajang foto di medsos selama pelaksanaan ibadah…tahu aja istrinya tukang update status

Tujuan syarat ayah ini adalah untuk meluruskan niat, agar tidak riya dan ujub. Jadi tujuan saya sekarang menuliskan pengalaman spritual kami ini adalah sebagai pengingat, sebagai kenangan untuk kami sendiri, untuk krucil kami dan juga untuk sharing pengalaman saja. Kalau memang untuk pribadi, lalu kenapa dimasukkan dalam blog? Karena blog ini sudah saya anggap diary kami, catatan-catatan kami sebagai pengingat apa saja yang telah kami lalui bersama. Kalau pada akhirnya jadi bermakna dan dimaknai dengan cara lain oleh pembaca, saya pribadi memohon untuk dimaafkan.

Sekarang saya berniat menuliskan tentang Madinah. Madinah sendiri kota kecil yang menarik. Suasananya tenang, cuaca cerah, matahari bersinar terang walau suhu sangat dingin. Mungkin inilah sebabnya dinamakan Al Munawarrah, yang artinya kota yang bercahaya. Buah-buahan dan sayurnya segar dan enak. Pokoknya kami merasa semua serba enak dan nyaman selama kami di Madinah. Inilah beberapa tempat yang kami kunjungi selama di Madinah

Mesjid Nabawi

Kami tiba malam di kota Madinah ini, saya lupa lagi jam berapanya…yang saya ingat hanya rasa kantuk yang mendera. Jadi waktu dikasih tahu ustadz pembimbing bahwa Mesjid Nabawi letaknya tidak jauh dari hotel, tinggal jalan kaki dikit, lurus saja dari hotel… saya hanya manggut-manggut. Sampai kamar langsung tidur pulas…bablas sampai subuh. Ketika menjelang subuh mendengar seruan adzan, langsung teringat kata pembimbing bahwa disini adzan itu dua kali, yang pertama itu untuk memanggil…adzan kedua baru sholat. Jarak adzan pertama dan kedua lumayan lama. Baiklah kalau begitu, bersiap-siap dulu untuk ke mesjid .

Suhu di Madinah 22°C kala itu, teorinya sih seharusnya gak sedingin di Turki yang mencapai 7°C. Tapi begitu melangkah ke luar hotel….bbrrrr, dingiiin bingit …dinginnya ngalah-ngalahin di Turki. Entah karena sayanya yang kondisinya sedang drop atau memang begitu keadaannya…dinginnya nembus tulang. Berduaan sama ayah berangkat ke mesjid dan menggigil kedinginan bikin saya gak konsen dengan keadaan sekitar tapi suasananya adem banget…damai. Enak banget.

Pulang dari mesjid, saya drop. Saya gak berani memaksakan diri ikut rombongan ke Raudah (makam Rasulullah) pagi itu walau pengen banget. Ayah dan krucil tetap berangkat ke Raudah dan karena perempuan dan laki-laki dipisah, sedang saya tidak bisa menemanin bungsu saya, saya sudah bilang ke si adek agar di kamar hotel saja bersama saya. Tapi bungsu saya bertekad untuk pergi ke Raudah sendiri ikut rombongan ibu-ibu. Terpaksalah bungsu dititipkan ke ibu-ibu rombongan…hebat adek, proud of you (terima kasih tak terhingga kami ucapkan untuk ibu-ibu yang telah menjaga si adek selama di Raudah). Sementara rombongan ke Raudah, saya minum obat, vitamin dan tidur pulas sampai ayah dan krucil kembali ke hotel lagi. Baru siang, ketika kondisi sudah berangsur pulih, saya sholat dzuhur ke Mesjid Nabawi. Dan baru saat itulah saya lebih memperhatikan Mesjid Nabawi ini…Subhanallah, luar biasa indah rasanya. Haru banget rasanya…

Balik ke hotel dan mendengar cerita krucil dan ayah tentang Raudah, yang kata ayah sekalinya nangis sesugukan seumur hidup tuh ya kali itu di makam Rasulullah. Padahal belum berdoa, baru masuk aja, tangis tak tertahankan. Mendengar cerita-cerita tersebut saya mulai gelisah. Kok saya sudah sejauh ini melangkah malah tersendat mengunjungi makam Rasulullah dan mulai bertanya tanya dimana sih letak Raudah. Karena terpisah pintu masuk laki dan perempuan, ayah susah menjelaskan letaknya kalau untuk perempuan, nanya ke bungsu dia juga bingung menjelaskannya. Kemudian nanya di wa group rombongan, ada gak yang mau ke Raudah lagi? gak ada yang jawab sampai sholat Isya…hiks.

Saat sholat Isya, saya dan ayah terlalu mepet berangkat ke mesjid karena mengurus krucil dulu. Sudah adzan kedua baru jalan dari hotel, jadi sholat sudah hampir mulai. Saya pun bergegas nyaris lari ke mesjid. Selesai sholat sunat, saat sedang berdoa…tiba-tiba saya melihat tiga orang teman rombongan saya sedang sholat persis di depan saya. Di mesjid sebesar itu dengan orang sebanyak itu, jarang banget bisa ketemu anggota rombongan kecuali sengaja janjian…kebetulan banget. Eh tanpa di duga, kebetulan lagi mereka sedang membahas tentang ke Raudah pas ketika hati saya gelisah mengenai Raudah. Karena paginya mereka sudah ke Raudah bersama rombongan kami, jadi mereka sudah tahu dimana letaknya…dan saya nanya, boleh ikutan gak? Oh boleh dong, tuh hati saya rasanya plong banget. Ternyata saya masih diijinkan Allah untuk ke makam Rasulullah.

Selesai sholat Isya, kami berjalan melawan arus menuju pintu no 25. Karena saya tanpa persiapan kalau malam itu mau ke Raudah, jadi ya gak bawa apa-apa termasuk tas untuk menaruh sandal jadilah sandal titip di tas teman. Kemudian kami masuk, liat ada antrian berdiri di pintu ujung…kami pun ikutan antri. Eh sama penjaga pintu wanita kami disuruh keluar dari antrian. Awalnya bingung, kenapa disuruh keluar antrian dan disuruh duduk diluar antrian. Ternyata antrian tersebut khusus untuk yang menggunakan kursi roda. Jadilah kami duduk-duduk menunggu dibolehkan masuk. Mata mulai ngantuk berat karena sudah malam, beberapa teman mulai membahas tentang balik ke hotel karena tidak tahan menunggu. Kemudian kami sepakat hendak balik ke hotel, teman-teman mengantuk dan saya belum sempat bilang ke ayah dan krucil kalau mau ke Raudah, takut mereka khawatir. Tepat ketika kami berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu keluar, tahu-tahu pintu-pintu yang awalnya tertutup menjadi terbuka semua dan penjaga wanita teriak-teriak dan para pengantri mulai meransek masuk…kami berempat berpandang-pandangan dan memutuskan secara naluriah ikut meransek ke arah pintu yang terbuka. Lari-lari mencari pintu ke arah Raudah…akhirnya kami terpencar, seorang teman menghilang dari kami, sedang kami yang tersisa bertiga mulai berpegangan erat agar tidak terpencar.

Waktu untuk perempuan ke makam Rasulullah hanya 3 saat yaitu setelah Subuh, setelah Dhuzur dan setelah Isya. Sedang untuk laki-laki terbuka setiap saat, itulah sebabnya antrian untuk wanita begitu panjang. Tepat ketika kami mencapai karpet merah dekat makam Rasul, tiba-tiba kami disuruh duduk lagi. Antri lagi, untuk memberi kesempatan pada orang-orang yang sudah mencapai makam untuk sholat dan berdoa. Disini mulai mengobrol sama jamaah rombongan lain, konon katanya bisa sampai jam 12 nih antrian begini. Waduh…mata sudah sepet tapi nanggung kalau balik hotel. Jadi kami sabar menunggu, disini kami ketemu lagi sama teman yang awalnya menghilang. Jamaah dari Indonesia umumnya sabar, gak grasa grusu, yang sering diteriakin penjaga tuh wanita-wanita perawakan tinggi besar entah dari negara mana. Umumnya mereka maju terus dengan alasan ini itu padahal disuruh duduk antri. Disini kami banyak-banyak berdzikir dan shalawat. Antrinya lumayan lama, sekitar 20 menit. Ketika sudah hampir giliran kami…dua menit menjelang dibolehkan masuk, waduh tuh orang jadi beringas-beringas…semua meransek masuk, menerobos antrian. Salah seorang teman menarik kami agar kembali duduk, dia mendengar penjaga bilang haram karena belum waktunya, jadi lebih baik kita duduk lagi aja daripada gak berkah dan percuma juga desak-desakan gitu di dalam, ujarnya.

Akhirnya kami bertiga duduk lagi, sabar menanti giliran lagi. Si teman menghilang lagi, kayaknya terbawa arus yang masuk. Nunggu antrian lagi tuh harus nahan sabar banget , ya nahan ngantuk, nahan di desak orang dari belakang. Waktu yang dinanti tiba juga, giliran kami. Tetap sih desak-desakkan, agar tidak terpencar karena terbawa arus, kami berpegangan tangan erat-erat. Ketika diajak teman keluar aja kita, gak bisa sholat nih kita penuh gitu…eh kami malah terdesak sampai ke pagar pembatas makam. Berdoa sebentar, sambil bantuin bentengin orang-orang yang sedang sholat agar gak terimpit dan terinjak. Selesai itu, entah gimana ceritanya tahu-tahu ada tempat lumayan lega untuk sholat dan saya ditarik teman saya disuruh sholat disitu karena paginya belum ke Raudah jadi dikasih kesempatan pertama…hiks terharu. Alhamdulillah selama sholat sunat 2 rakaat tidak ada gangguan didesak-desak orang lain. Akhirnya kami ganti-gantian sholat disitu, sambil yang lain berjaga membentengi agar yang sedang sholat tidak terimpit. Subhanallah rasanya tuh plong dan senang banget, tiap kami hampir berputus asa eh ada aja jalannya diberi kemudahan.

Keluar dari Raudah tuh sudah malam banget, sekitar jam 12an. Minum air zam-zam dulu sembari istirahat… kemudian baru sadar, ya ampun sandal kami kan dititip sama teman yang terpisah itu. Jadilah pulangnya selain nahan hawa dingin juga nahanin kaki yang kedinginan nyeker di ubin dingin Mesjid Nabawi. Mesjid terasa tenang banget, sepi tapi rasanya senang banget nget walau kedinginan dan kami sibuk janjian besok setelah sholat Isya kita ke Raudah lagi. Nyatanya itulah satu-satunya kesempatan saya ke Raudah karena besoknya gak ada yang ke Raudah lagi. Sesampai di kamar ngeliat krucil dan ayah tidur, jam sudah menunjukkan pukul 1 dinihari. Rupanya ayah baru pulang dari Raudah juga dan krucil hebat saling menjaga berdua dikamar hotel saat ayah bundanya sibuk. Rasa bersyukur itu banyak banget muncul selama di Madinah, hal-hal yang kalau di Indonesia jarang disyukuri, di Madinah jadi banyak bersyukur. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semua karuniaMu pada kami.

Mesjid Quba

Mesjid Quba ini adalah mesjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad ketika hijrah dari Mekkah. Ketika itu nabi disambut oleh penduduk setempat dengan meriah. Itulah sebabnya mesjid ini sangat spesial dan memiliki keutamaan, bahkan Rosulullah bersabda : ” Barangsiapa yang keluar dari rumahnya kemudian mendatangi mesjid ini, yakni Mesjid Quba kemudian salat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia menjalankan umrah”

Begitulah kurang lebih penjelasan pembimbing umroh kami. Itu sebabnya di hari ketiga kami di Madinah, kami diajak berkunjung ke mesjid ini. Disini kami sholat sunat 2 rakaat dan dhuha. Mesjid ini ramai banget, penuh dengan rombongan-rombongan jamaah umroh dari berbagai negara. Disini teman-teman rombongan pada borong baju gamis pria, katanya sih murah 50 ribu aja. Btw, selama di Madinah banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia dan belanja juga gak perlu repot menukar uang karena Rupiah berlaku juga loh.

Jabal Uhud

Nampaknya Jabal Uhud ini salah satu tujuan semua penyelenggara umroh dan haji. Jabal uhud diartikan sebagai gunung penyendiri, gunung yang terlihat sendiri tempat terjadinya peperangan antara 700 kaum muslimin melawan 3000 kaum kafir Mekkah. Disinilah tempat gugurnya 70 orang syuhada. Ketika ustadz pembimbing cerita tentang perang ini ternyata krucil sudah tahu ceritanya karena sudah mendengarnya disekolah, alhamdulillah akhirnya mereka bisa melihat langsung lokasi dari cerita yang mereka dengar di sekolah.

Di area sekitar terdapat makam para syuhada dan banyak tempat penjual kaki lima yang menurut teman-teman rombongan harganya murah-murah. Kalau di Mesjid Quba bajunya murah, disini lebih murah lagi, 50 ribu dapat dua….yang sudah terlanjur belanja banyak di Quba langsung pada menyesal deh…hehe. Selain untuk belanja, disini menjadi area berfoto-foto. Kami tidak lama disini, karena ada beberapa tempat yang akan dikunjungi lagi selain untuk mengejar sholat dzuhur berjamaah di Mesjid Nabawi.

Advertisements