Luang Prabang National Museum

9 03 2015


Banyak pengalaman seru yang kami alami dalam pengelanaan kami selama ini, salah satunya kami belum boleh masuk kamar hotel walaupun kami sudah beli…merana pisan kan? Berada di negeri orang, datang subuh dalam kondisi ngantuk plus pegel dari perjalanan jauh eh gak boleh masuk dulu lagi. Dengan santainya pihak resepsionis cuma menyuruh kami menaruh tas di resepsionis, setelah itu loe pergi deh dari sini terserah kemana…yang penting hanya boleh masuk jam 2an siang nanti. Huaaa….hiks…hiks, kalau dia ngerti bahasa Indonesia mungkin sudah saya nyanyikan lagu Satria Bergitar …engkau sungguh T.E.R.L.A.L.U….

Si ayah mengajak kami nyari hostel atau guesthouse lain yang lebih murah selama nunggu jam check in kami. Laa piye toh yah, itu hotel mahal loh…sayang ah kalau gak dipakai, lagian kan rencananya kami di Luang Prabang hanya sampai sore. Malam sudah meneruskan lagi pengelanaan ke Vientiane. Setelah stttsss…psssttt…suit suit…eh apaan sih? Maksudnya setelah berembuk sejenak di perempatan post office, akhirnya kami putuskan…baiklah, tidak boleh masuk kamar hotel bukan masalah untuk petualang sejati. Markimon, mari kita mulai sekarang saja penjelajahan kita di kota kecil ini, biar nanti siang saat kita bisa check in tinggal tidur saja sepuasnya.

Setelah menyasarkan diri entah kemana akibat sok tewu yang besar, tidak punya peta dan nunggu jarum jam mengarah ke angka 2 yang terasa seabad, akhirnya sampailah kami di Morning Market. Morning Market ini ya pasar biasa, jual sayur mayur, lauk pauk, beberapa baju, dsb. Kami sempat mencoba kue surabi kecil-kecil yang yummy banget seharga 5rb Kip, sebuah makanan aneh yang terbuat dari sarang lebah yang dipanggang didalam daun pisang juga seharga 5rb Kip. Rasanya kenyal-kenyal aneh gitu sih tapi si ayah suka.

Keluar dari Morning Market ternyata baru jam 8.30 pagi…OMG, kemana lagi kita? akhirnya kami duduk-duduk aja sambil makan surabi depan Morning Market…eh saat duduk-duduk gitu terlihat oleh kami turis-turis berbondong-bondong kesuatu arah tidak jauh dari tempat kami duduk-duduk. Akhirnya rasa penasaran mendorong kami mendekat, tuh ternyata benar dugaan kami bahwa itu adalah Luang Prabang National Museum.

Tentu saja karena punya krucils penggemar museum nomor wahid, kami memutuskan masuk dong. Tiket masuknya 30rb Kip/orang dewasa. Krucils tidak dihitung karena anak-anak gratis, asyik ya bawa anak berpetualang tuh bisa dapat banyak gratisan…hehe. Di luar sih boleh tuh berfoto sepuasnya tapi di dalam museum kamera harus dimasukkan loker alias gak boleh foto-foto selama di dalam museum.

Museum ini kecil, berisi koleksi guci, pernak-pernik raja, tempat duduk/singgasana raja dan tamu kenegaraan, mahkota, pedang, dsb. Keluar dari museum, dibelakangnya ada garasi tua tempat naruh mobil-mobil raja tapi lagi-lagi gak boleh di foto. Disamping depan museum ada temple juga entah apa namanya. Ya hanya itu saja sih isi museumnya tapi krucils antusias serta riang gembira selama disini. Gak sadar kalau kami sedang terlunta-lunta di negeri orang…hehe, memang krucils juara deh urusan berpetualang.

Di akhir kunjungan ke museum, kami duduk-duduk di taman museum yang rindang sambil nunjukin ke krucils tuh liat bule-bule tuh masih muda-muda banget dengan ransel segede gaban berani berkelana sendirian kemana-mana, nanti kalian juga yah…lihatlah dunia seluas mungkin, jelajahi semuanya, jangan takut nyasar, atau takut gak bisa bahasanya, atau kapok berpetualang hanya karena masalah sepele seperti yang kita alami saat ini, gak punya kamar. Krucils pun manggut-manggut…entah ngerti, entah enggak, atau hanya ngantuk …hehehe 😀





Morning Alms Giving Ceremony, Luang Prabang

9 03 2015

20150309-102220.jpg

Setelah menempuh perjalanan darat yang menyenangkan sekaligus memabukkan selama hampir 22 jam, akhirnya kurang lebih 5 subuh waktu setempat kami pun sampai di Luang Prabang. Iya, di Luang Prabang…salah satu kota kecil yang super duper tenang di Laos.

Terus apa sih menariknya Luang Prabang? Menurut saya ya ketenangannya itu yang menarik minat banyak traveler dari seluruh dunia datang ke kota kecil ini, yang untuk sampai kesini butuh perjuangan yang tidak sedikit. Umumnya traveler dari Chiang Mai menuju Luang Prabang menggunakan dua cara, yaitu jalan darat 22 jam atau melalui sungai Mekong (slowboat) yang memakan waktu 2 harian sendiri. Tapi anehnya dengan perjuangan sebegitu besarnya, begitu sampai di Luang Prabang yang ditemui sepanjang jalan para traveler dari berbagai belahan dunia…penuh banget dengan turis.

Luang Prabang sendiri kotanya kecil, banyak bangunan tua peninggalan penjajahan Prancis yang dilestarikan, dijadikan hotel ataupun hostel, tempat makan, dan berbagai keperluan lainnya. Selain daya tarik arsitektural tersebut, rupanya salah satu daya tarik wisatanya adalah adanya Morning Alms Giving Ceremony. Apaan sih itu?

Morning Alms Giving Ceremony adalah setiap subuh sampai pagi menjelang, penduduk lokal duduk berjajar rapi di sepanjang jalan dengan beberapa makanan tersaji didepannya. Makanan tersebut diberikan untuk para biksu yang setiap pagi rutin berjalan beriringan mengelilingi kota untuk menerima pemberian dari para penduduk ini. Kadang-kadang beberapa turis juga ikutan memberi makanan ini.

Padahal setahu saya, hampir setiap kota di Thailand juga ada yang begini. Cuma mungkin yang di Luang Prabang ini lebih tertib dan rapi sehingga malah jadi ikon wisata di Luang Prabang. Untungnya lagi kami sampai di Luang Prabang subuh, di saat para biksu mulai berjalan dari tempat mereka menuju kota. Dan karena kami belum boleh masuk kamar hotel yang telah kami beli karena waktu check in siang, kami yang terlunta-lunta di jalan malah dapat keuntungan dengan melihat adat mereka ini. What a lucky us 🙂