Hutan Mangrove BSD, Bontang

4 02 2019

Suatu ketika kai mengajak krucil ke Bontang, tentu saja begitu mendengar kata berpetualang krucils semangat 45 terlebih karena mereka lengket sama kai. Sayangnya tiap wiken krucils ke Samarinda dengan harapan bisa ke Bontang, selalu gagal …kadang kai ada acara, kadang uci gak enak badan, kadang kata uci kesiangan (uci gak mau pergi siang-siang), dsb. Kebetulan minggu ini ada hari kejepit, sebenarnya krucils sudah dibujuk bundanya untuk bolos aja senin, nanggung…Sabtu, Minggu dan Selasa libur masa Senin gak sekalian libur (apah? Dasar mamak-mamak tidak bertanggung jawab …plak, timpuk pake pisang goreng…wkwkwk). Untungnya anaknya gak mau bolos, great job, didikan bunda memang bagus (eh kok malah muji si bunda pada akhirnya)

Tahu kalau krucils kecewa karena batal terus, akhirnya kai uci memberi persetujuan agar kalian pergi aja sama ayah bunda. Yeap, akhirnya jadi juga ke Bontang…yippie. Ke Bontang itu sesyuatu bagi ayah bunda. Ada berjuta kenangan di kota ini, kembali ke kota ini seperti flash back kenangan lama. Awal-awal menempuh hidup berkeluarga ya kami lakukan di Bontang ini sebelum berpindah ke kota lain. Hamil dan masa bayi sulung sampai dia berusia 1 tahun, ya di Bontang ini. Dulu Bontang tidak ada mall, tempat makan juga hanya warung-warung…tidak banyak hiburan, tenang banget untuk kehidupan berkeluarga. Itu sebabnya saya sempat menangis ketika meninggalkan kota ini.

Kembali ke cerita, sebenarnya ayah ada jadwal ngejob makanya awalnya maju mundur, ke Bontang atau gak ya. Baiklah, setelah mikir-mikir akhirnya yuk ah…kita jalan aja dulu, kalau nanti ada panggilan tinggal balik arah. Baru jam 8-an berangkat dari rumah karena kelamaan mikir selain ngantuk juga. Sampai di Samarinda sekitar jam 11-an, istirahat di rumah kai sebentar. Jam 12-an lanjut jalan lagi…sempat ngisi BBM di dekat Badak, eh saat di SPBU baru liat kalau ban belakang robek…akhirnya berhenti dulu sholat sekalian ganti ban. Ternyata tukang tambal ban sedang laris manis, jadi ngantri. Lumayan lama juga nih ganti ban sebelum meluncur kembali. Dan ternyata jalan menuju Bontang tuh rusak sodara-sodara…banyak lubang sana sini belum lagi banyak truk. Singkat cerita kami sampai sekitar jam 17.00 di Bontang, kok lama? Iya karena mampir dulu di tugu katulistiwa sama makan di salah satu tempat makan kenangan di perkebunan karet.

Sebelum nyari hotel, kami mampir dulu ke rumah kami di Bontang, bertemu tetangga-tetangga dan pak RT kemudian jalan kaki ke pujasera tepi laut yang berada dekat banget dengan rumah. Selama jalan saya cerita ke sulung tentang masa kecilnya disini, ini nih bang tiap pagi dan sore kita jalan kaki kesini…diujung sana ada pujasera tepi laut dengan pemandangan pabrik. Eh pas sampai si bunda bingung sendiri, kok jadi banyak pohon gini jadi pemandangan pabrik PKTnya ketutup. Eh tapi diujung pujasera nampak banyak orang keluar masuk, karena kepo saya datangi…eh tulisannya pemancingan. Krucils saya ajak masuk gak mau, yo wes lah…balik arah lagi.

Malamnya ketika ketemuan sama teman-teman ayah, kami dapat info bahwa ternyata di BSD itu ada wisata mangrove, ya masuknya lewat pemancingan itu…cuma jauh masuknya cerita teman ayah. Jiwa mamak-mamak petualang langsung tertantang, wah kudu dijajal nih. Jam berapa bukanya? Sekitar jam 8-an jawab teman-teman ayah. Baiklah, squat jump persiapan otot betis memutari mangrove yang konon treknya jauh banget itu. Esok pagi, krucils santai banget, mereka pikir bisa seharian muter-muter Bontang…hadeuh nak, rumah kita itu 6-7 jam dari Bontang loh, kalian gak ngitung perjalanannya Sekitar jam 9-an baru start dari hotel, akhirnya karena banyak yang dituju…bagi tugas. Si bunda ngajak krucils ke mangrove, ayah ke tempat pak RT lagi sekalian mengunjungi teman-teman kerja ayah dulu yang rumahnya di dekat-dekat situ juga.

Sulung ragu dengan kemampuan bundanya, dia mau ikutan ayah aja …wkwkwk. Sulung ngotot, bunda kita salah arah, bukan disini mangrovenya. Hadeuh, masalah cari tempat petualangan tuh bunda sudah khatam, tenang aja kalian. Dan jeng jeng, dengan gagah berani ala komandan pleton, si bunda jalan di depan menyusuri pemancingan. Saat nemu loket pemancingan nanya biar gak sesat dijalan,”pak, benarkah disini tempat wisata mangrove?”…dan jawabannya melegakan si bunda yang sok kepedean, “benar bu…lurus aja terus sampai nemu penunjuk arah”. Baiklah, si bunda menjawab dengan tenang dan elegan padahal dalam hati joget-joget lega, yess gak nyasar…

Melewati pematang pemancingan yang dari tanah lalu mata kami bersirombok dengan tulisan penunjuk arah menuju mangrove, Yeaaayyy…foto-foto dulu di gerbangnya. Tiket masuknya 7500/orang, cuma karena saya gak punya 500-an dan penjaga loket juga gak punya, jadi dapat diskon 500 rupiah. Alhamdulillah. Saat kami masuk masih sepi, selain kami hanya ada satu keluarga juga. Jadi kami masih bisa foto-foto cantik. Muter-muter sampai ujung eh ada tempat makan di pinggir laut yang menghadap pabrik, kali ini pemandangan tidak terhalang pohon. Pesan cemilan sembari krucils beristirahat, eh tetiba ayah telp, minta jemput. Ayah, kami masih di dalam loh, sudah pesan makanan pula dan sudah dibayar pula tapi makanan belum datang. Akhirnya ayah bilang, yo wes…ayah jalan kaki. Baiklah ferguso…

Eh saat makanan baru datang, ayah telp lagi. Ayah sudah di depan nih, dompet ayah kebawa abang…ayah gak pegang uang sama sekali untuk bayar tiket…wkwkwk, ada-ada aja si ferguso. Sulung bilang nanti abang ke depan, eh kemudian bundanya mikir…waduh ntar nyasar gimana, gak usahlah. Cepat aja makannya, kita pulang aja…krucils protes, gak mau. Mereka maksa supaya masih disitu dulu, cuma jemput ayah aja baru masuk lagi. What? Akhirnya makan ngebut, jalan cepat menuju pintu keluar sampai sendal bungsu putus eh dari kejauhan ngeliat ayah diantara rombongan yang baru masuk. Loh ayah kok bisa masuk? Minjam uang sama orang ya? Atau ada receh-receh di celana? Ayah geleng-geleng. Ternyata ayah masuknya ngutang dulu sama loket….wkwkwkwk, anda luar biasa ferguso.

Kami agak lama disini walau musiknya kencang banget dari berbagai arah. Krucils hepi, mereka manjat rumah pohon, hunting foto, dsb. Tujuan ke Bontang memang untuk menyenangkan mereka. Sayangnya beberapa tempat yang sudah direncanakan akan dikunjungi batal didatangi karena waktu yang mepet. Sebelum pulang sempatkan mampir di rumah uni saya, kemudian langsung pulang. Intinya, mangrove BSD di Bontang ini bagus, mirip dengan Kum-Kum di Palangkaraya, hutan yang diubah menjadi tempat wisata keluarga dan tempat makan. Sayangnya musiknya terlalu keras menurut saya, yang justru menghilangkan esensi menikmati alam.

NB : Jika ada yang masih penasaran bagaimana nasib hutang tiket masuknya si ayah, tenang saja…begitu kami keluar, sudah kami bayar dengan uang 10rb dan karena penjaga loket masih tetap tidak punya uang 500an, jadi kami ikhlaskan 500nya…yang kalau dihitung-hitung pada akhirnya saya gak jadi dapat diskon 500 perak





Air Panas Long Kali, Kaltim

22 10 2017

Sudah lama absen berpetualang karena sulung selama setahun ini sibuk ini itu, ya Ujian Nasional (UN), ya masuk SMP, belum lagi tugas sekolah yang bejibun. Jadi setelah terima raport tengah semester, ayah mengajak kami ngacir sebentar, cuma punya waktu 1,5 hari…yuk markimon. Sabtu siang langsung dadakan siapkan ini itu, tujuan mah belakangan. Jejalkan dan berangkaaattt. Setelah dijalan baru deh diskusi. Dengan pertimbangan paling lambat minggu siang sudah sampai di rumah karena sulung harus ngerjain PR, tujuan menyusut jadi yang terdekat…Tanah Grogot.

Sebelum ke Grogot, kami sempat melipir sebentar ke air terjun Gunung Rambutan dulu. Malamnya ketika sedang mencari makanan di sepanjang tepian Kandillo, mata krucil tertumbuk pada buku-buku yang terlihat berserakan di trotoar tepian Kandillo, karena krucil penggemar buku sejati tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membeli buku yang awalnya dikira sebagai bursa buku bekas. Namun ketika berhenti dan ngobrol sama penjaga stand yang terdiri dari anak- anak muda, rupanya mereka bukan jualan buku bekas tapi komunitas yang menerima donasi buku bekas untuk kemudian mereka berkeliling pelosok membawa buku-buku tersebut untuk dibaca gratis oleh masyarakat setempat. Dari awalnya ngobrol tentang buku eh ujungnya jadi ngobrolin tentang tempat wisata karena mereka pecinta alam juga.

Dari hasil ngobrol tersebut muncullah dua destinasi yaitu air terjun Doyam Seriam dan air panas Long Kali. Sayangnya karena akses jalan yang susah untuk menuju air terjun Doyam tersebut sedang salah seorang teman mereka yang awalnya hendak jadi guide berhalangan, jadi pilihan tinggal air panas yang aksesnya lebih mudah dijangkau. Dan bisa ditebak, krucil memaksa untuk melihat ke air panas ini setelah sepanjang jalan berisik. Jadilah minggu pagi setelah check out hotel, kami memutuskan untuk mampir sejenak …sekalian arah jalan pulang.

Petunjuk yang kami dapat dari hasil ngobrol sebelumnya samar, cuma air panas tersebut letaknya di Long Kali, sebelah kanan jalan kalau dari arah Grogot dan letaknya sebelum jalan terbagi dua. Nah loh…jadilah sepanjang jalan mengamati petunjuk awal, setelah nemu jalan yang dicurigai mulai deh bergerilya nanya sama warga setempat. Dari jalan raya masuk sekitar 3km melalui perkebunan sawit dengan jalan sempit dan lumayan hancur. Panas terik mentari tidak menyurutkan langkah kami, biaya parkir mobil 10rb dan tiket masuk 2500 per orang.

Dari arah parkir harus jalan kaki melewati jalan setapak ditengah hutan sebelum sampai di gerbang masuk. Nah setelah gerbang masuk ada jembatan melalui hutan lagi, satu ke kolam air panas yang airnya berwarna kehijauan dengan permukaan tertutup belerang berbau menyengat. Air panasnya cukup panas sih, tapi tidak bikin telor mateng kemudian satu jembatan lagi agak masuk lebih dalam melalui hutan-hutan adalah kolam air biasa. Tempatnya cukup keren menurut saya…berhutan dan berbatu. Bentuk hutannya mengingatkan kami pada Angkor Watt, pohon-pohon besar yang menjulur dan akarnya keluar diselalu bebatuan. Menarik sih cuma ya kurang perawatan saja, kalau dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu destinasi wisata Kaltim.





Balikpapan – Berau – Bulungan

24 12 2016

Ayah belakangan ini bolak-balik nanya, kapan krucil libur. Ternyata ada rencana tersembunyi untuk mengajak kami berpetualang lagi. Dia masih penasaran mengelilingi pulau Kalimantan by land, terutama daerah yang masih belum diinjaknya yaitu bagian barat pulau. Namun setelah ditimbang jaraknya yang konon 1800km sedang cuti terbatas hanya 4 hari + libur Sabtu-Minggu..akhirnya pilihan yang masuk akal adalah mengajak krucil melihat nemo di Derawan.

Malam sebelum berpetualang, ayah mengajak krucil ke salah satu swalayan untuk mengisi perbekalan dijalan sementara si bunda sedang asik dengan drama korea (eeaa…hehe). Perbekalan penuh tinggal urusan si bunda nih ngurus packing-packing keesokan harinya lalu menitahkan krucil untuk memasukkan semua kebutuhan dalam mobil…siap berangkat. Eits tapi gak bisa berangkat dulu sebelum ambil raport krucil.

# Menuju Berau, 16 Desember 2016 #

==> Day 1

Jumat sore, sepulang ayah kerja dan setelah pembagian raport, kami langsung ngacir. Tujuan adalah Samarinda, pitt stop sekaligus memberitahu orang tua saya bahwa kami hendak ke Derawan. Lama perjalanan 2-3 jam dengan jarak 126 km. Tapi begitu sampai kami berkeliling mall dulu, berburu snorkeling dan kacamata renang. Alat snorkeling kami tidak ketemu, sebenarnya di Derawan ada penyewaan snorkeling sih cuma membayangkan ganti-gantian alat snorkeling rasanya gimana gitu…mending beli baru deh. Setelah dapat alat snorkeling, istirahat dulu sebelum petualangan dimulai…hmZZzzzZz

==> Day 2

20161224-014635.jpg

Keesokannya, setelah sholat subuh dan mandi…jalan lagi. Kali ini perjalanan cukup jauh dan tanpa bayangan apakah jalannya masih rusak seperti dulu atau sudah baik. Kami berangkat sekitar jam 5 subuh, belum sempat sarapan…untung stok cemilan cukup banyak.

Samarinda-Bontang sekitar 180 km ditempuh dengan waktu 3 jam. Bahan bakar sedang susah di Samarinda dan Bontang…hampir semua SPBU tutup atau antrian mengular panjangnya. Dengan pertimbangan mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kami memutuskan tidak ikutan mengantri dengan harapan di Sangatta kondisinya lebih baik. Di Bontang kami mampir sebentar untuk sarapan sebelum melanjutkan menuju Sangatta.

Bontang-Sangatta kurang lebih ditempuh 1 jam lebih, banyak jalan berlubang. Sepanjang perjalanan hujan gerimis, suhu cukup dingin dan bikin cepat lapar lagi. Di Sangatta ternyata kondisinya sama dengan kota-kota lainnya, terpaksalah mengisi BBM di eceran pinggir jalan 200rb. Di sini kami mengisi perbekalan makanan di mobil, beli wing bucket dan perkedel KFC, jaga-jaga kalau tidak nemu tempat makan selama perjalanan, tapi belum apa-apa sudah habis duluan..haha..

Sangatta-Muara Wahau ditempuh kurang lebih 4 jam. Keluar Sangatta jalan banyak rusak, namun setelah simpang Bengalon jalan mulus. Kami tiba siang di Muara Wahau, mampir makan siang dulu karena sudah pada kelaparan sekalian ayah meluruskan badan dulu. Setelah sholat, perjalanan berlanjut menuju Tanjung Redeb.

Muara Wahau-Tanjung Redeb kurang lebih 5 jam. Kami banyak berhenti untuk istirahat dan bermain di semacam air terjun tempat truk-truk berhenti beristirahat. Jalan lumayan mulus, sayangnya sepanjang perjalanan yang kami jumpai lebih banyak kebun sawitnya daripada hutan. Hutan beralih fungsi jadi kebun sawit…hiks sedih jadi gak bisa nunjukin ke krucil hutan Kalimantan yang indah itu deh.

Berdasarkan pengamatan saya, kondisi jalan sudah 80% mulus namun sayangnya kondisi hutan berbanding terbalik dengan kondisi jalan. Baru memasuki daerah Kelay hutan masih keliatan asri. Di daerah Kelay inipula kami melihat desa wisata Merasa (Merasa Village) …mau tahu tempat ini googling sendiri ya karena kami belum masuk juga.

Akhirnya sekitar jam 19.30 sampai juga di tanjung Redeb. Untungnya SPBU Tanjung Redeb tidak mengantri…langsung isi penuh sekitar 200rb. Kami menginap di Hotel Sederhana yang letaknya dekat tepian sungai Segah, rate yang standard room Rp 363.000. Cari makan di sepanjang sungai banyak penjual makanan, lalu balik hotel dan grookkk…waktunya mimpi indah.

==> Day 3

Setelah tidur nyenyak, badan kembali segar. Jam 5 subuh sudah packing-packing lagi, mandi, jalan-jalan di tepian sungai dulu…lalu sarapan di hotel. Check out sekitar jam 07.00, lanjutkan perjalan menuju Tanjung Batu. Di perempatan ayah dan krucil maksa belok kiri, katanya ada jalan tembus…padahal saat nanya orang hotel dikasih tahu kembali ke tempat kami datang dulu, baru disitu liat petunjuk arah. Akibatnya bisa ditebak, kami nyasar dengan sukses, muter-muter selama satu jam di Berau…haha daebak. Tapi gpp deh, jadi bisa ambil uang dulu persiapan di pulau nanti. Note untuk wisatawan, ATM di pulau Derawan saya lihat cuma ATM bersama BRI…berhubung saya pelit kalau pakai ATM bersama ada potongan ini itu, jadi saya pilih narik ATM punya bank tabungan saya aja biar gak kena potongan…haha…

Pelabuhan menuju Derawan ada di Tanjung Batu ini, jalannya 1/3nya rusak. Lama perjalanan sekitar 2 jam lebih dengan jarak 132km. Dulu hutan di Tanjung Batu ini super duper keren, sekarang rusak parah…jadi gagal deh nunjukin hutan disini ke krucil. Dalam 10 tahun banyak yang berubah, apalagi 10 tahun kedepan, jaman krucil siap berkelana sendiri…mungkin hutan sudah tinggal kenangan.

Kami tiba di pelabuhan Tanjung Batu ini sekitar jam 10-an. Parkir, waktu parkir kebetulan ada bapak-bapak lewat, nanyalah sama dia…disini ya tempat parkirnya pak? Sekarang pelabuhan Tanjung Batu ada dermaganya, dulu sih letaknya dibelakang pasar. Ternyata bapak itu supir speedboat, dia ngasih tahu disitu parkirnya atau kalau mau masuk dermaga disitu bisa juga cuma nanti kena charge 15rb/orang. Ya sudah parkir situ deh, lalu bapak (pak Tion) itu nawarin speedboat, dia minta 600rb pp. Bukan emak-emak dong kalau gak nawar…tawar 500rb pp. Dia setuju…deal..siapkan barang-barang yang mau dibawa, snorkel, koper baju, stok cemilan yang masih banyak, dan air mineral galon kecil.

Ngomong-ngomong tentang air mineral, sebulan lalu saya mengajak ayah berbelanja di salah satu pusat grosir, kebetulan waktu itu ayah melihat air mineral galon ukuran kecil…lucu juga nih saya pikir. Dibelilah air galon tersebut…harapan saya ya kalau saya harus mengganti galon sendiri di rumah saat ayah sedang di lokasi…kan ribet amat ngangkat galon besar, kalau galon kecil sih masih sangguplah. Sementara si ayah berpikir lain rupanya, galon kecil itu stok untuk dimobil kalau mendadak pengen berpetualang dan kami butuh minuman atau air untuk cuci muka. Ini salah satu bukti men from mars, women from venus …beda pemikiran …hahaha

Untung bawa air galon kecil ini, lumayan menghemat karena ayah dan krucil minumnya banyak tiap habis berenang sedang air mineral lumayan juga harganya di Derawan. Kembali ke cerita perjalanan, entah karena naik speedboat siang atau memang ombaknya lumayan besar saat menuju Derawan, speedboatnya terhentak-hentak yang membuat saya tegang sementara krucil happy banget melihat burung-burung bertengger di kayu yang terombang-ambing dilautan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu ke Derawan 20-25 menit.

Begitu sampai jam menunjukkan pukul 11.00, supir speedboat menunjukkan salah satu cottage. Si ayah pengen di resort, sedang saya milih di cottage aja, wong seharian bakal banyak dilautnya daripada di kamar, lumayan hemat lagi…nah ini entah bukti men from mars, women from venus atau si bundanya aja yang pelit ..hahaha. Akhirnya kami pilih Sunrise Cottage Rp 300.000 / malam.

Setelah masukin barang ke kamar…krucil langsung ngajak nyemplung. Sebelum berenang harus ngisi tenaga dulu dong, karena pengen buru-buru sampai Derawan kami tidak makan dulu di Tanjung Batu, nyari makannya di Derawan aja. Selesai makan, ayah dan krucil langsung berenang. Kerjaan selama Derawan ya berenang seharian, snorkeling, ngasih makan ikan…berenang lagi, snorkeling lagi, ngasih makan ikan lagi. Malam pertama hanya ada kami di cottage tersebut, jadi seru banget…nongrong depan kamar memandang lautan dan bintang yang tampak lebih banyak dan bersinar terang disertai suara deburan ombak. Kami 3 hari 2 malam di Derawan, cerita tentang Derawan bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bulungan, 20 Desember 2016 #

==> Day 5

20161224-015757.jpg

Selasa pagi telp pak Tion minta jemput jam 8 pagi. Sembari nunggu kami jalan-jalan dulu cari souvenir…nyari magnet kulkas gak ada sebagai gantinya krucil beli gantungan kunci dan ayah beli baju. Setelah itu nongkrong depan kamar, menunggu speedboat datang sembari memberi makan ikan. Saat menunggu itu saya melihat awan hitam bergelayut di langit…wah gawat nih kalau hujan saat kami ditengah lautan. Akhirnya telp lagi pak Tion, dipercepat dong datangnya…setengah jam kemudian datanglah yang ditunggu ternyata pas datang jam 8-an juga…hehe.

Laut tenang banget saat kami pulang…kalau begini bisa menikmati perjalanan deh, bisa berfoto-foto juga (teuteup ya narsis…hehe). Saya pernah cerita bahwa dulu ketika ayah bunda ke Derawan 10 tahun lalu, sering ngeliat ikan terbang saat naik speedboat dan beruntungnya dalam perjalanan pulang naik speedboat ini krucil melihat juga ikan yang terbang-terbang membuat mereka antusias. Kata bungsu saya, I Love Derawan…haha…sudah diajak kemana-mana, baru kali ini bilang love artinya suka banget tuh si bungsu sama Derawan. Setelah perjalanan selama 20 menit, sampai di Tanjung Batu. Saat masukin barang dalam bagasi…ditagih uang parkir 100rb, rupanya tarif parkir di dermaga 50rb/malam.

Di parkiran sinilah kami berdiskusi dengan krucil, lanjut ke Tanjung Selor (Bulungan, Kaltara) atau ke Tanjung Redeb (Berau)? hasilnya kami memutuskan ke Tanjung Selor mumpung sudah di Utara Kalimantan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu kurang lebih 4 jam. Kondisi jalan ke Bulungan bagus dan yang paling menyenangkan hutannya keren. Kata ayah, ini baru namanya hutan Kalimantan (si ayah kecewa selama merantau ke Kalimantan jarang ngeliat hutan yang masih benar-benar hutan).

Kami sampai sekitar jam 13.00 siang, kelaparan berat. Di Tanjung Selor makan siang, nyari cemilan di pasar induk, jalan-jalan di tepian Sungai Kayan, main sebentar di Tugu Pedamaian lalu balik arah ke Berau. Awalnya kalau ada waktu pengen sekalian nyeberang ke Tarakan, sayang waktu mepet karena libur ayah cuma sebentar. Kami hanya beberapa jam saja di Tanjung Selor, untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang propinsi termuda di Kalimantan ini. Tentang petualangan kami di Kaltara, bisa dilihat di posting sebelumnya.

# Menuju Berau kembali, 20 Desember 2016 #

20161224-020926.jpg

Kami tidak bisa lama-lama main di Bulungan karena ayah mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kondisi jalan kan belum hapal betul dan berkelok-kelok tajam. Jam 16.00 kami melakukan perjalanan kembali. Sekitar jam 18.00 mulai masuk Berau lagi. Di mobil mulai diskusi alot masalah hotel yang akan dipilih. Ayah dan krucil maksa harus cari hotel berbintang, karena capek selama petualangan pengen menikmati tidur di hotel bagus. Bunda ngotot hotel biasa aja, toh hotelnya cukup bagus juga dan cuma tidur semalam doang. Saat vote si bunda kalah, untung bunda cerdik bilang…hayoo siapa yang dukung bunda selisih uang hotel mahal dengan hotel standard bunda kasih ke kalian daripada uangnya di kasih ke orang hotel, mending untuk kalian. Dan hasil akhir, bunda memenangkan vote…haha. Apesnya kamar standardnya penuh, sisa deluxe dengan rate Rp 495.000. Tapi tetap masih lebih murah dari hotel mahal…hahaha *ketawa pelit*. Di Berau ini, ayah isi BBM lagi 130rb. Kemudian cari makan, langsung tidur…ZzzzzZz

# Menuju Samarinda, 21 Desember 2016 #

==> Day 6

Mulih mulih, saatnya pulang. Walau krucil protes protes, petualangannya kurang lama…tenang aja, masih akan ada petualangan-petualangan lain yang menanti. Perjalanan pulang kami agak santai, di hotel krucil tidur sampai jam 06.00, lalu mandi, sarapan. Baru jam 7 lewat check out hotel. Di Berau pun bersantai-santai membuktikan teori bunda bahwa ada jembatan menuju istana Berau yang letaknya dipulau tengah sungai Segah…ternyata salah, sambil ledek-ledekan deh, si bunda urusan baca peta emang suka ngaco haha.

Di daerah Kelay, si ayah penasaran dengan Merasa Village…nyobain treknya sebelum mutar arah lagi, karena jalan tanah sedang mobil yang dipakai bukan mobil offroad. Kami banyak berhenti dan jalannya santai banget, gak ngebut seperti saat pergi. Di air terjun kecil, berhenti lagi…main air dulu sekalian ngilangin ngantuk. Makan siang di Muara Wahau, baru agak ngebut karena ngejar makan malam di Bontang. Di Sangatta berhenti sholat dan isi BBM 200rb. Sampai simpang Bontang ternyata sudah 18.30, wah kalau masuk kota bakal lama lagi nih sehingga kami putuskan makan di Kenari aja (pertengahan Bontang- Samarinda). Baru jam 22.30 kami sampai di Samarinda. Ayah bunda tepar dengan sukses, badan pegel-pegel…eh krucil masih bisa perang bantal sampai jam 24.00. Usia tidak bisa dibohongi…haha..

Saya dan krucil menghabiskan sisa liburan dirumah orang tua saya, sedang ayah melanjutkan perjalanan kembali menuju little house on the prairie keesokan harinya disertai sms, total odometer menunjukkan 1889 km sampai rumah, sambil bilang “tuh sudah bisa sampai Kalbar tuh”…haha teuteup si ayah masih penasaran. Ok yah, lain kali kalau liburnya panjang kita susuri Kalimantan ujung yang belum tersentuh kita…sabar aiiii… hehe…





Derawan, Berau

22 12 2016

20161222-072334.jpg

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ayah dan saya melakukan perjalanan nekat menembus hutan menggunakan mobil jeep tua menuju Derawan. Kenapa saya bilang nekat? Karena selain sepi, ketika itu jalannya rusak parah, lebih banyak kubangan lumpurnya dan memakan waktu yang lumayan lama untuk bisa tembus ke tujuan dan kami lakukan hanya berdua yang ketika itu membuat orang-orang yang kami jumpai dijalan heran, berani juga kami melakukan itu.

Tujuan petualangan akhir tahun kami kali ini sebenarnya bukanlah Derawan, tapi kota lain di ujung pulau. Tapi setelah mempertimbangkan waktu dan jarak, akhirnya kami memutuskan untuk mengulang petualangan kami sepuluh tahun lalu dengan team yang lebih komplit bersama krucil kami. Kami ingin menujukkan tempat-tempat yang sering kami ceritakan kepada krucil, agar mereka bisa melihat dan merasakan sendiri serunya petualangan ayah bundanya dulu serta menikmati keindahan hutan yang dilalui dan menakjubkannya kepulauan Derawan.

Singkat cerita, setelah menempuh waktu 16 jam menembus hutan yang sekarang lebih banyak berubah menjadi kebun sawit serta terhentak-hentak di speedboat, kami tiba di Derawan sekitar jam 11-an siang. Begitu tiba apa yang dilakukan krucil? Melototin perairan yang berada di depan kamar kami. Kami menginap di salah satu cottage yang letaknya menjorok ke laut…jadi kalau mau melihat satwa laut ya cukup nongkrong depan kamar. Setelah melihat laut, mereka langsung ngajak ayahnya berenang. Tapi kami paksa makan dulu, baru deh boleh berenang.

Makanan di Derawan serba 25rb, entah hanya kami aja atau memang segitu harganya. Nasi goreng 25rb, nasi kuning 25rb, ikan tergantung ukuran 25-50rb, ayam goreng/bakar 20-30rb/potong tanpa nasi. Lumayan menguras kantong selama di Derawan ya urusan perut ini…4 orang x 3 waktu makan = *nangis* TT

Lupakan urusan perut, liat ke dalam air yang jernih, indah banget dah…walau tetap sih menurut ayah dan saya lebih indah sepuluh tahun lalu. Dulu penginapan yang menjorok ke laut bisa dihitung, hanya 3-4 aja…sekarang semua berlomba-lomba bikin menjorok ke laut yang walau sebagai konsumen terasa menyenangkan dari bangun tidur sampai mau tidur bisa ngeliat laut tetap aja ada efek negatif dari ini semua. Kebanyakan air kamar mandinya langsung dibuang ke bawah alias ke laut, coba bayangkan berapa banyak sabun,detergen,shampo yang mencemari laut. Efek kumulatifnya menurut saya (ini menurut saya loh sebagai orang awam), ya mencemari dan merusak kehidupan laut yang ironisnya justru menjadi andalan wisata di Derawan. Contoh paling keliatan sih, sudah mulai keliatan sampah di dasar laut, ada beberapa bungkus plastik yang saya lihat.

Tapi bagaimanapun, krucil saya happy. Mereka tidak jemu-jemu nongkrongin laut dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Mereka heboh banget ketika melihat ikan berseliweran, penyu mondar-mandir depan kamar sedang sibuk memakan rumput laut, ikan-ikan yang berdatangan ketika mereka melempar roti, bahkan melihat lionfish, starfish dan sebagainya cukup membuat suara mereka serak teriak-teriak kegirangan. Berenang seharian, istirahat mandi, makan, sholat…lanjut berenang lagi walau bagi saya sih mereka cuma main air bukan berenang beneran…hehe..

Bagi ayah dan saya yang sudah pernah kesini, rasanya pengen meneruskan penjelajahan dengan island hopping ke pulau sekitar seperti Sangalaki, Kakaban dan Maratua apalagi dapat tawaran yang lumayan menggiurkan dari supir speedboat. Sayang krucil sudah terlanjur jatuh cinta bersnokeling dan memberi makan ikan di spot favorite mereka sehingga tidak tertarik diajak ke pulau lain. Baiklah kalau begitu. Next time kita kesini lagi ya krucil, sekalian kita explore pulau dan tempat lainnya 🙂





Balikpapan – Palangkaraya – Banjarmasin

10 05 2016

Long weekend enaknya kemana ya? Tanya ayah yang baru pulang, kira-kira ada job gak yah minggu-minggu ini? Seperti biasa ayah jawab, gak tahu..namanya juga panggilan, ya gak tahu ada job gaknya. Baiklah…siap-siap menghabiskan long weekend bertiga sama krucil di rumah kalau ayah ada job.

Beberapa rencana kemudian disusun, main di pantai sama teman dugemak (dunia gemerlap emak-emak) atau nonton Captain America yang konon gantengnya mengalahkan mas Nunu (Keanu Reeves). Tapi kemudian tokoh superhero realnya muncul beneran dengan membawa kabar gembira sepulang kerja…”yuk markimon, kita berpetualang”… yippie…

Dan brat bret brot…eh brak brik bruklah siapin ini itu. Jejalkan semua…berangkaaattt…

20160511-083540.jpg

# Menuju Tanjung (Kalimantan Selatan), 4 Mei 2016 #

==> Day 1
Sekitar jam 18.00 berangkat dari rumah, sempat berhenti di salah satu bakery untuk mengisi perbekalan di jalan. Di pelabuhan Kariangau ternyata tidak panjang antriannya, tiket penyeberangan Rp 264.000,-

Naik ferry, gak berapa lama ferry berangkat dan satu jam kemudian sudah sampai di pelabuhan Penajam…cuma antrian kapal untuk berlabuh lumayan memakan waktu lama juga. Kami harus menunggu satu jam lagi sebelum akhirnya ferry bisa merapat di dermaga….arggghhh. Baru sekitar jam 21.00-an mobil akhirnya bisa melaju di Penajam.

Selama perjalanan kami tidak berhenti. Di mobil sempat terjadi diskusi, mau makan lagi gak? Semua masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan nasi Padang…ok kita tidak berhenti kalau gitu. Di simpang Kuaro sempat diskusi lagi, nginap di Paser gak? Saya sih pengennya nginap di Paser tapi ayah dan krucil pengen terus aja jadi deh kalah suara, mobil pun meneruskan perjalanan kembali.

Sekitar jam 12-an malam, kami sampai di Batu Kajang. Kami memutuskan menginap semalam untuk meluruskan badan di sini. Kami menginap di Penginapan Awa, seharga Rp 250.000,- permalam. Istirahat dulu biar fit sebelum bertemu jalan rusak…HmmZzzzz…

==> Day 2

Subuh sekitar sholat subuh, kami semua terbangun..siap melanjutkan perjalanan kembali. Sayangnya tidak ada orang penginapan sama sekali di lobby, padahal KTP ayah disimpan pihak penginapan…dicari-cari, gak ketemu. Untunglah ada sesama tamu penginapan yang membantu mencari pemilik penginapan…ternyata pemilik penginapan sedang tidur dirumahnya yang letaknya dibelakang penginapan. Rugi waktu setengah jam-an mencari-cari pemilik penginapan, baru sekitar jam 05.30-an kami melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah Batu Kajang ini jalan mulai rusak parah. Daerah terparah kondisinya daerah perbatasan, ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan sehingga jalur tambah sempit. Dua kali kami berjumpa dengan truk yang susah mendaki dan ngadat ditanjakan. Untungnya ketika ketemu jalan rusak parah ini kondisi kami sudah prima setelah beristirahat semalam. Kami sempat berhenti membeli nasi kuning di sebuah warung di tepi jalan. Sekitar jam 09.00-an akhirnya sampai di Tanjung.

Di Tanjung sempat beristirahat 1 jam dirumah kakek saya dan makan di pasar (nyari sate itik ternyata tidak ada karena bukan hari pasar). Ketika kami sedang makan ikan bakar di pasar, pemilik warung bertanya sedang liburan ya? kok liburan kesini sih ? Baiklah…ini pertanyaan tersusah untuk dijawab…haha. Kami kembali mengisi penuh bensin di Tanjung sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

# Menuju Palangkaraya (Kalimantan Tengah), 5 Mei 2016 #

Beberapa teman sempat kami tanya tentang jalan menuju Kalteng, umumnya mereka menjawab jalan Buntok lebih hemat waktu daripada muter melalui Banjarmasin. Kota Buntok ini merupakan salah satu kota di Kabupaten Barito Selatan (Kalteng) yang berbatasan dengan Tanjung (Kalsel). Nah, melalui jalan inilah yang kami pilih menuju Kalteng. Kami sempat berhenti di Museum Lewu Hante di Pasar Panas, Barito Timur sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

20160510-112920.jpg

Kami berangkat dari Tanjung sekitar jam 10.00-an. Perjalanan Tanjung – Palangkaraya via Buntok ini mulus, lurus dan sepi. Kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan dekat Buntok, makan ikan bakar plus sayur dari rotan…rasanya mantap banget, saya suka banget sayur rotan tersebut.

Setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kota terakhir yang dijumpai adalah Buntok selanjutnya sepanjang jalan yang terlihat hanya rawa gambut dan awan berarak, jarang bertemu pemukiman. Sehingga kendaraan bisa di pacu dengan kecepatan tinggi…cuma masalahnya jalan lurus, mulus dan sepi adalah bikin ngantuk. Sepanjang perjalanan dua krucil tidur dengan pulas, saya berusaha menahan ngantuk menemani ayah yang nyetir dan tidak mau dibantu gantian nyetir…akhirnya saya ketiduran, gantian bungsu yang nemenin ayahnya nyetir.

Sekitar 16.30 sampai juga di Palangkaraya…nemu peradaban lagi tuh sesuatu banget…hehe. Kami berhenti sejenak di Taman Wisata Kum-Kum, cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Di Palangkaraya kami mengisi bahan bakar lagi sembari buru-buru buka agoda untuk mencari hotel.

Kami memutuskan menginap di Hotel Luwansa dengan tarif Rp 509.000,- permalam setelah krucil pake please-please-an segala meminta agar nginap disitu. Istirahat sebentar di kamar, mandi…malamnya jalan-jalan melihat-lihat kota sembari cari makan. This is it…petualangan hari kedua pun diakhiri dengan tidur nyenyak di kamar hotel…grroookzzZ…

==> Day 3

Tidur nyenyak di hotel yang nyaman itu sesuatu. Setelah semua mandi, krucil dan ayah sarapan di hotel, sedang saya packing barang kembali dan sarapan di kamar. Selesai krucil sarapan, barang-barang kembali dimasukkan mobil. Rencananya kami mau jalan-jalan dulu di Palangkaraya sampai siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Kami memutuskan check out pagi itu juga daripada muter kembali ke hotel lagi nanti malah repot.

Di Palangkaraya kami jalan-jalan ke Museum Balanga, Arboretum Nyaru Menteng, Danau Tahai, Bunderan Besar, Tugu Soekarno, Jembatan Kahayan. Cerita lebih lengkapnya lihat di postingan sebelumnya.

20160510-113108.jpg

# Menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan), 6 Mei 2016 #

Di perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Palangkaraya terjadilah diskusi dalam mobil. Saya ingin kami melalui jalan Buntok lagi untuk perjalanan pulang supaya gak capek. Tapi ayah dan krucil pengen petualangan masih berlanjut, gak seru kalau cepat-cepat pulang kan masih ada dua hari libur lagi, alasan mereka. Jadi mereka pengen perjalanan pulang melalui Batulicin yang artinya harus lewat Banjarmasin dan muter arah ratusan kilometer.

Ayah dan krucil pengen makan nasi kuning di Batulicin lagi, yang kata mereka nasi kuning terenak yang pernah mereka makan…hadeuh. Akhirnya saya setuju kami pulang melalui Banjarmasin tapi via Tanjung bukan Batulicin. Kita liat aja kondisi nanti, kata ayah. Lalu mulailah perjalanan menuju ke Banjarmasin sekitar jam 13.00-an melalui jalan Trans Kalimantan setelah sebelumnya ayah dan sulung sholat Jumat di jalan dulu.

Jalan menuju Banjarmasin ini sih kondisinya bagus cuma bergelombang. Ada jalan yang berupa jalan layang panjang banget disini, dibuat bukan karena jalannya padat tapi karena dibawahnya rawa…seru banget. Jalan menuju Banjarmasin ini tidak sesepi jalan via Buntok, kami sering berpapasan dengan kendaraan lain dan juga berjumpa pemukiman penduduk. Ditengah perjalanan kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan. Lalu berhenti lagi di Jembatan Barito, ikut-ikutan foto narsis karena kami lihat jembatan ini jadi objek wisata…banyak mobil dan motor berhenti dan penumpangnya foto-foto di jembatan ini. Biar kekinian, kami ikut-ikutan foto juga dong, gak mau kalah hehe…

20160510-113336.jpg

Kami sampai di Banjarmasin sekitar jam 17.00 dan sempat beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga lokal tentang sebuah alamat om saya. Kami berkunjung ke rumah om saya sampai jam 20,00 sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan sulung saya memaksa ayahnya agar memilih jalur melalui Batulicin, tapi karena saya sudah capek banget saya minta pilih jalur Martapura aja. Lalu ke Martapuralah kami…disini saya sudah capek banget, akhirnya kami memutuskan mencari hotel. Gak nemu ada hotel, buka agoda…gak dikenal juga Martapura di agoda. Akhirnya kami senemunya aja dijalan setelah muter-muter nyari hotel pada penuh semua (ingat coy, ini long weekend …hotel jadi penuh).

# Menuju Little House on the Prairie, 7 Mei 2016 #

Dengan pertimbangan setelah Martapura sudah desa-desa kecil yang tidak mungkin ada hotel, akhirnya kami muter balik ke arah perempatan Batulicin. Nemu hotel Roditha,seharga sekitar Rp 675.000, permalam….arrghhh diluar anggaran, overbudget. Budget saya untuk hotel maksimal 500rb (kecuali diluar negeri beda lagi hitungannya). Prinsip saya, kalau ada murah ngapain nyari mahal …saya gak perlu gengsi. Tapi kata ayah gpp tidur dihotel mahal sesekali.

Malam itu kami tidur nyenyak dan pulas. Esoknya, gak mau rugi sudah bayar mahal…sarapan harus maksimal dong, makan sampai kenyang…haha. Sarapan di hotel mahal itu ternyata menunya juga maksimal, banyak banget jenisnya, gak mau rugi cicipin semua…haha kamseupay mode on. Setelah sarapan, check out dan memulai perjalanan kembali. Kali ini ayah dan krucil kompak satu suara, pengen lewat Batulicin…saya akhirnya kalah suara, terpaksalah ikut suara terbanyak.

==> Day 4

Start dari hotel sekitar jam 09.00 -an lebih, kesiangan sih untuk memulai perjalanan panjang. Kondisi jalan Banjarmasin – Batulicin padat, beberapa titik rusak tapi so far so good lah…masih bisa ditolerir. Sekitar daerah Asem-Asem istirahat makan siang dan di daerah Tanah Laut isi bahan bakar lagi.

Tiba daerah Pagatan sekitar jam 15.00-an disambut hujan dan pemandangan laut dari jalan raya. Kami sempat berhenti sebentar di pantai Pagatan untuk memberi kesempatan krucil bermain pasir sembari meluruskan badan.

20160510-113539.jpg

Kurang lebih satu jam kemudian tibalah kami di Batulicin, sempatkan isi bahan bakar lagi lanjut check in di Hotel Harmony seharga Rp 350.000,-permalam. Istirahat sebentar, mandi-mandi…lanjut massage di spa yang berada tepat di samping hotel. Ini juga salah satu alasan krucil maksa-maksa lewat Batulicin, karena pengen dipijat ramai-ramai berempat di sini seperti yang kami lakukan pada January lalu..hadeuh. Selama pijat lagi-lagi kami ditanya pertanyaan yang sama ke beberapa kalinya…sedang liburan ya? kok liburan pilih kesini, disini kan gak ada apa-apa. Lagi-lagi ini pertanyaan tersusah untuk dijawab. Intinya selera kami agak berbeda dari kebanyakan orang. Mungkin bagi kebanyakan orang kami kurang kerjaan suka ngelayap ngabisin waktu berhari-hari di jalan untuk menuju kota-kota kecil, karena refreshing ala kami bukanlah melihat keramaian di mall atau sebuah kota. Refreshing bagi kami adalah melihat dan merasakan hal-hal baru. Selesai pijat, cari makan…setelah itu tidur, perjalanan masih jauh…good night …HmmmZzzz

==> Day 5

Seperti biasa, subuh kami sudah mulai kasak-kusuk lagi. Sekitar jam 05.00 check out hotel dan berangkat. Tapi di daerah pasar, berhenti dulu nungguin warung nasi kuning yang sudah diincar ayah dan krucil. Lumayan lama juga nungguin warung ini buka…niat banget kan muter ratusan kilometer dan nungguin warung buka sejak subuh hanya demi nasi kuning…hahaha…sesuatu banget :p

Setelah dapat nasi kuning yang diincar, sekitar jam 06.00 memulai perjalanan pulang. Sempat berhenti di pegunungan karst request krucil karena minta di foto di gua…sambil krucil bermain mencari kerang di pegunungan tersebut. Mencari kerang di gunung? Ngelindur kali? Beneran loh, di pegunungan karst ini banyak kerang-kerang kecil yang kemungkinan berdasarkan analisa sotoy kami dulunya jaman dinosaurus dulu wilayah ini lautan. Tapi jangan percaya deh, namanya juga analisa sotoy…hehe…

20160510-113646.jpg

Perjalanan lalu lanjut lagi sampai akhirnya sampai juga di Paser sekitar jam 11.00 siang. Di Paser kami mampir ke Museum Sandurangas, lalu belanja oleh-oleh di pasar dan membeli cemilan di minimarket plus isi bahan bakar lagi.

Perjalanan kemudian berlanjut lagi sampai Panajam, mampir makan bakso dulu. Sekitar jam 15.00 sampai di ferry. Tiket penyeberangan dari Penajam Rp 269.500.. cuss istirahat di ferry. Tepat jam 16.00 touchdown di hometown…yippie. Lumayan lelah untuk ayah bunda yang faktor usia tidak bisa dibohongin sementara krucil masih full of energy, masih bisa lari-larian sana sini…bener juga kata pepatah, mumpung masih muda banyakin liat dunia. Kalau sudah tua, ada uang tapi tubuh sudah tidak support….haha.

Perjalanan yang ditempuh Balikpapan-Palangkaraya (via Buntok) = 645 km + Palangkaraya-Balikpapan (via Batulicin) = 931 km.
Total yang kami tempuh selama petualangan kali ini ==> 1576 km.
Biaya Hotel selama perjalanan ==> 250 + 509 + 675 + 350 = Rp 1.784.000,-
Biaya BBM selama perjalanan : 125 + 180 + 80 + 125 + 80 ==> Rp 590.000,- (kondisi full dari rumah)
Biaya tiket penyebarangan ferry : 264 + 269 ==> Rp 533.000,-
Biaya lain-lain (makan, minum, nyemil, tiket masuk wisata, dsb) ==> Rp 3.593.000,-
Total Biaya selama perjalanan ==> Rp 6.500.000,-

Dan this is it….petualangan seru kami menjelajah sebagian wilayah Kalimantan. Begitu sampai rumah, yang dilakukan ayah adalah browsing untuk penjelajahan berikutnya… target berikutnya ==> Pontianak, kata ayah…hahaha. Ok deh kaka 😀





Museum Sandurangas

9 05 2016

20160509-091016.jpg

Museum ini letaknya di Kabupaten Paser (Kaltim). Sudah dari dulu pengen mengajak krucil ke museum ini tapi selalu ada halangannya, kadang ke Paser cuma untuk nginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan, atau pernah juga memang sengaja berkunjung ke Paser untuk ke museum ini…eh malah nyasar gak nemu museumnya, nanya-nanya di hotel eh orang hotelnya juga bingung… jadilah pulang dengan tangan hampa…hahaha.

Sekarang beda lagi kasusnya, kami sudah dapat informasi yang akurat tentang keberadaan museum ini, jadi kali ini harus nemu museumnya hehe. Sesampainya kami di Paser, sebelum jembatan bertanyalah kami pada warga lokal…katanya dekat aja tuh belok kanan. Ternyata kalau dari Makam Raja Paser tuh jaraknya memang dekat ke museum ini. Letak museum ini di tepian sungai Kandilo. Baiklah…yuk krucil, kita lihat-lihat sejarah kerajaan Paser dulu di museum ini.

Tiket masuk museum ini murah meriah, Rp 2500,- per orang. Isinya koleksi-koleksi kerajaan, seperti guci-guci, berbagai perkakas, uang-uang, tempat duduk raja, tempat tidur raja dan puteri, dsb. Seperti biasa, krucil penasaran dengan berbagai hal di museum…nanya ini apa, itu apa,dsb. Setelah puas melihat seluruh koleksi museum, kami beranjak kesebelah museum yang berupa bangunan mesjid tua.





Kebun Raya Balikpapan

12 10 2015

20151012-085325.jpg

Sudah lama kami tidak menginjakkan kaki ke dalam hutan, sudah lama juga krucils gak diajak berpetualang. Mumpung hari minggu kali ini si ayah gak kerja, yuk mari kita jalan…tujuannya Kebun Raya Balikpapan.

Pagi-pagi siapkan bekal krucils untuk dijalan, beli nasi kuning juga sebagai tambahan bekal, dan berangkat. Di jalan mulai bermunculan ide-ide dari krucils sebagai alternatif tema petualangan kali ini. Sulung ngajak mancing aja, bungsu pengen ke Kebun Raya, ayah ngajak ke Batu Dinding yang sedang ngehit di kalangan backpacker Kaltim. Pada akhirnya semua keinginan terakomodasi dengan baik, semua terpenuhi…yippie.

Sesampainya di gerbang Kebun Raya Balikpapan, sulung kami sudah minta berhenti dulu untuk mengabadikan burung Enggang yang sedang terbang di atas pepohonan di kejauhan dan lebah kecil yang sedang mengisap sari bunga di kameranya. Lanjut masuk gerbang disuruh security untuk mengisi buku tamu dulu plus sumbangan sukarela katanya, hmmm…baiklah. Kemudian masuk terus sampai bertemu waduk, sulung langsung menyiapkan alat pancing yang memang selalu stand by di dalam mobil. Mancing beberapa saat sambil mendengarkan suara burung gagak di pucuk pohon dan suara tongeret dari dalam hutan sembari bungsu ngabisin bekalnya.

Berhubung nampaknya tidak ada ikan di waduk, kami pun menyudahi acara memancing dengan melanjutkan perjalanan dengan melihat kebun bunga dan tanaman obat masih di areal Kebun Raya. Puas foto-foto, lanjut kembali ke areal parkir…rencananya sih mau treking masuk hutan. Eh begitu parkir langsung ngeliat ada orang sedang berdiri diam dengan muka menghadap kamera berlensa tele yang panjang banget mengarah ke sebuah pohon, penasaran apa sih yang di potret orang tersebut kami pun ikut mendekat. Rupanya ada seekor burung pelatuk yang sedang bikin sarang dengan mematuk-matuk pohon.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan treking menembus hutan…eh krucils melihat semut yang berukuran jumbo, lebih besar daripada ukuran semut biasa, jerit-jeritlah mereka dan langsung tidak mood meneruskan perjalanan dan ngajak balik ke mobil. Cerita petualangan di Kebun Raya Balikpapan pun diakhiri dengan masuk mobil …hahahaha 😀