Balikpapan – Palangkaraya – Banjarmasin

10 05 2016

Long weekend enaknya kemana ya? Tanya ayah yang baru pulang, kira-kira ada job gak yah minggu-minggu ini? Seperti biasa ayah jawab, gak tahu..namanya juga panggilan, ya gak tahu ada job gaknya. Baiklah…siap-siap menghabiskan long weekend bertiga sama krucil di rumah kalau ayah ada job.

Beberapa rencana kemudian disusun, main di pantai sama teman dugemak (dunia gemerlap emak-emak) atau nonton Captain America yang konon gantengnya mengalahkan mas Nunu (Keanu Reeves). Tapi kemudian tokoh superhero realnya muncul beneran dengan membawa kabar gembira sepulang kerja…”yuk markimon, kita berpetualang”… yippie…

Dan brat bret brot…eh brak brik bruklah siapin ini itu. Jejalkan semua…berangkaaattt…

20160511-083540.jpg

# Menuju Tanjung (Kalimantan Selatan), 4 Mei 2016 #

==> Day 1
Sekitar jam 18.00 berangkat dari rumah, sempat berhenti di salah satu bakery untuk mengisi perbekalan di jalan. Di pelabuhan Kariangau ternyata tidak panjang antriannya, tiket penyeberangan Rp 264.000,-

Naik ferry, gak berapa lama ferry berangkat dan satu jam kemudian sudah sampai di pelabuhan Penajam…cuma antrian kapal untuk berlabuh lumayan memakan waktu lama juga. Kami harus menunggu satu jam lagi sebelum akhirnya ferry bisa merapat di dermaga….arggghhh. Baru sekitar jam 21.00-an mobil akhirnya bisa melaju di Penajam.

Selama perjalanan kami tidak berhenti. Di mobil sempat terjadi diskusi, mau makan lagi gak? Semua masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan nasi Padang…ok kita tidak berhenti kalau gitu. Di simpang Kuaro sempat diskusi lagi, nginap di Paser gak? Saya sih pengennya nginap di Paser tapi ayah dan krucil pengen terus aja jadi deh kalah suara, mobil pun meneruskan perjalanan kembali.

Sekitar jam 12-an malam, kami sampai di Batu Kajang. Kami memutuskan menginap semalam untuk meluruskan badan di sini. Kami menginap di Penginapan Awa, seharga Rp 250.000,- permalam. Istirahat dulu biar fit sebelum bertemu jalan rusak…HmmZzzzz…

==> Day 2

Subuh sekitar sholat subuh, kami semua terbangun..siap melanjutkan perjalanan kembali. Sayangnya tidak ada orang penginapan sama sekali di lobby, padahal KTP ayah disimpan pihak penginapan…dicari-cari, gak ketemu. Untunglah ada sesama tamu penginapan yang membantu mencari pemilik penginapan…ternyata pemilik penginapan sedang tidur dirumahnya yang letaknya dibelakang penginapan. Rugi waktu setengah jam-an mencari-cari pemilik penginapan, baru sekitar jam 05.30-an kami melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah Batu Kajang ini jalan mulai rusak parah. Daerah terparah kondisinya daerah perbatasan, ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan sehingga jalur tambah sempit. Dua kali kami berjumpa dengan truk yang susah mendaki dan ngadat ditanjakan. Untungnya ketika ketemu jalan rusak parah ini kondisi kami sudah prima setelah beristirahat semalam. Kami sempat berhenti membeli nasi kuning di sebuah warung di tepi jalan. Sekitar jam 09.00-an akhirnya sampai di Tanjung.

Di Tanjung sempat beristirahat 1 jam dirumah kakek saya dan makan di pasar (nyari sate itik ternyata tidak ada karena bukan hari pasar). Ketika kami sedang makan ikan bakar di pasar, pemilik warung bertanya sedang liburan ya? kok liburan kesini sih ? Baiklah…ini pertanyaan tersusah untuk dijawab…haha. Kami kembali mengisi penuh bensin di Tanjung sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

# Menuju Palangkaraya (Kalimantan Tengah), 5 Mei 2016 #

Beberapa teman sempat kami tanya tentang jalan menuju Kalteng, umumnya mereka menjawab jalan Buntok lebih hemat waktu daripada muter melalui Banjarmasin. Kota Buntok ini merupakan salah satu kota di Kabupaten Barito Selatan (Kalteng) yang berbatasan dengan Tanjung (Kalsel). Nah, melalui jalan inilah yang kami pilih menuju Kalteng. Kami sempat berhenti di Museum Lewu Hante di Pasar Panas, Barito Timur sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

20160510-112920.jpg

Kami berangkat dari Tanjung sekitar jam 10.00-an. Perjalanan Tanjung – Palangkaraya via Buntok ini mulus, lurus dan sepi. Kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan dekat Buntok, makan ikan bakar plus sayur dari rotan…rasanya mantap banget, saya suka banget sayur rotan tersebut.

Setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kota terakhir yang dijumpai adalah Buntok selanjutnya sepanjang jalan yang terlihat hanya rawa gambut dan awan berarak, jarang bertemu pemukiman. Sehingga kendaraan bisa di pacu dengan kecepatan tinggi…cuma masalahnya jalan lurus, mulus dan sepi adalah bikin ngantuk. Sepanjang perjalanan dua krucil tidur dengan pulas, saya berusaha menahan ngantuk menemani ayah yang nyetir dan tidak mau dibantu gantian nyetir…akhirnya saya ketiduran, gantian bungsu yang nemenin ayahnya nyetir.

Sekitar 16.30 sampai juga di Palangkaraya…nemu peradaban lagi tuh sesuatu banget…hehe. Kami berhenti sejenak di Taman Wisata Kum-Kum, cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Di Palangkaraya kami mengisi bahan bakar lagi sembari buru-buru buka agoda untuk mencari hotel.

Kami memutuskan menginap di Hotel Luwansa dengan tarif Rp 509.000,- permalam setelah krucil pake please-please-an segala meminta agar nginap disitu. Istirahat sebentar di kamar, mandi…malamnya jalan-jalan melihat-lihat kota sembari cari makan. This is it…petualangan hari kedua pun diakhiri dengan tidur nyenyak di kamar hotel…grroookzzZ…

==> Day 3

Tidur nyenyak di hotel yang nyaman itu sesuatu. Setelah semua mandi, krucil dan ayah sarapan di hotel, sedang saya packing barang kembali dan sarapan di kamar. Selesai krucil sarapan, barang-barang kembali dimasukkan mobil. Rencananya kami mau jalan-jalan dulu di Palangkaraya sampai siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Kami memutuskan check out pagi itu juga daripada muter kembali ke hotel lagi nanti malah repot.

Di Palangkaraya kami jalan-jalan ke Museum Balanga, Arboretum Nyaru Menteng, Danau Tahai, Bunderan Besar, Tugu Soekarno, Jembatan Kahayan. Cerita lebih lengkapnya lihat di postingan sebelumnya.

20160510-113108.jpg

# Menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan), 6 Mei 2016 #

Di perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Palangkaraya terjadilah diskusi dalam mobil. Saya ingin kami melalui jalan Buntok lagi untuk perjalanan pulang supaya gak capek. Tapi ayah dan krucil pengen petualangan masih berlanjut, gak seru kalau cepat-cepat pulang kan masih ada dua hari libur lagi, alasan mereka. Jadi mereka pengen perjalanan pulang melalui Batulicin yang artinya harus lewat Banjarmasin dan muter arah ratusan kilometer.

Ayah dan krucil pengen makan nasi kuning di Batulicin lagi, yang kata mereka nasi kuning terenak yang pernah mereka makan…hadeuh. Akhirnya saya setuju kami pulang melalui Banjarmasin tapi via Tanjung bukan Batulicin. Kita liat aja kondisi nanti, kata ayah. Lalu mulailah perjalanan menuju ke Banjarmasin sekitar jam 13.00-an melalui jalan Trans Kalimantan setelah sebelumnya ayah dan sulung sholat Jumat di jalan dulu.

Jalan menuju Banjarmasin ini sih kondisinya bagus cuma bergelombang. Ada jalan yang berupa jalan layang panjang banget disini, dibuat bukan karena jalannya padat tapi karena dibawahnya rawa…seru banget. Jalan menuju Banjarmasin ini tidak sesepi jalan via Buntok, kami sering berpapasan dengan kendaraan lain dan juga berjumpa pemukiman penduduk. Ditengah perjalanan kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan. Lalu berhenti lagi di Jembatan Barito, ikut-ikutan foto narsis karena kami lihat jembatan ini jadi objek wisata…banyak mobil dan motor berhenti dan penumpangnya foto-foto di jembatan ini. Biar kekinian, kami ikut-ikutan foto juga dong, gak mau kalah hehe…

20160510-113336.jpg

Kami sampai di Banjarmasin sekitar jam 17.00 dan sempat beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga lokal tentang sebuah alamat om saya. Kami berkunjung ke rumah om saya sampai jam 20,00 sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan sulung saya memaksa ayahnya agar memilih jalur melalui Batulicin, tapi karena saya sudah capek banget saya minta pilih jalur Martapura aja. Lalu ke Martapuralah kami…disini saya sudah capek banget, akhirnya kami memutuskan mencari hotel. Gak nemu ada hotel, buka agoda…gak dikenal juga Martapura di agoda. Akhirnya kami senemunya aja dijalan setelah muter-muter nyari hotel pada penuh semua (ingat coy, ini long weekend …hotel jadi penuh).

# Menuju Little House on the Prairie, 7 Mei 2016 #

Dengan pertimbangan setelah Martapura sudah desa-desa kecil yang tidak mungkin ada hotel, akhirnya kami muter balik ke arah perempatan Batulicin. Nemu hotel Roditha,seharga sekitar Rp 675.000, permalam….arrghhh diluar anggaran, overbudget. Budget saya untuk hotel maksimal 500rb (kecuali diluar negeri beda lagi hitungannya). Prinsip saya, kalau ada murah ngapain nyari mahal …saya gak perlu gengsi. Tapi kata ayah gpp tidur dihotel mahal sesekali.

Malam itu kami tidur nyenyak dan pulas. Esoknya, gak mau rugi sudah bayar mahal…sarapan harus maksimal dong, makan sampai kenyang…haha. Sarapan di hotel mahal itu ternyata menunya juga maksimal, banyak banget jenisnya, gak mau rugi cicipin semua…haha kamseupay mode on. Setelah sarapan, check out dan memulai perjalanan kembali. Kali ini ayah dan krucil kompak satu suara, pengen lewat Batulicin…saya akhirnya kalah suara, terpaksalah ikut suara terbanyak.

==> Day 4

Start dari hotel sekitar jam 09.00 -an lebih, kesiangan sih untuk memulai perjalanan panjang. Kondisi jalan Banjarmasin – Batulicin padat, beberapa titik rusak tapi so far so good lah…masih bisa ditolerir. Sekitar daerah Asem-Asem istirahat makan siang dan di daerah Tanah Laut isi bahan bakar lagi.

Tiba daerah Pagatan sekitar jam 15.00-an disambut hujan dan pemandangan laut dari jalan raya. Kami sempat berhenti sebentar di pantai Pagatan untuk memberi kesempatan krucil bermain pasir sembari meluruskan badan.

20160510-113539.jpg

Kurang lebih satu jam kemudian tibalah kami di Batulicin, sempatkan isi bahan bakar lagi lanjut check in di Hotel Harmony seharga Rp 350.000,-permalam. Istirahat sebentar, mandi-mandi…lanjut massage di spa yang berada tepat di samping hotel. Ini juga salah satu alasan krucil maksa-maksa lewat Batulicin, karena pengen dipijat ramai-ramai berempat di sini seperti yang kami lakukan pada January lalu..hadeuh. Selama pijat lagi-lagi kami ditanya pertanyaan yang sama ke beberapa kalinya…sedang liburan ya? kok liburan pilih kesini, disini kan gak ada apa-apa. Lagi-lagi ini pertanyaan tersusah untuk dijawab. Intinya selera kami agak berbeda dari kebanyakan orang. Mungkin bagi kebanyakan orang kami kurang kerjaan suka ngelayap ngabisin waktu berhari-hari di jalan untuk menuju kota-kota kecil, karena refreshing ala kami bukanlah melihat keramaian di mall atau sebuah kota. Refreshing bagi kami adalah melihat dan merasakan hal-hal baru. Selesai pijat, cari makan…setelah itu tidur, perjalanan masih jauh…good night …HmmmZzzz

==> Day 5

Seperti biasa, subuh kami sudah mulai kasak-kusuk lagi. Sekitar jam 05.00 check out hotel dan berangkat. Tapi di daerah pasar, berhenti dulu nungguin warung nasi kuning yang sudah diincar ayah dan krucil. Lumayan lama juga nungguin warung ini buka…niat banget kan muter ratusan kilometer dan nungguin warung buka sejak subuh hanya demi nasi kuning…hahaha…sesuatu banget :p

Setelah dapat nasi kuning yang diincar, sekitar jam 06.00 memulai perjalanan pulang. Sempat berhenti di pegunungan karst request krucil karena minta di foto di gua…sambil krucil bermain mencari kerang di pegunungan tersebut. Mencari kerang di gunung? Ngelindur kali? Beneran loh, di pegunungan karst ini banyak kerang-kerang kecil yang kemungkinan berdasarkan analisa sotoy kami dulunya jaman dinosaurus dulu wilayah ini lautan. Tapi jangan percaya deh, namanya juga analisa sotoy…hehe…

20160510-113646.jpg

Perjalanan lalu lanjut lagi sampai akhirnya sampai juga di Paser sekitar jam 11.00 siang. Di Paser kami mampir ke Museum Sandurangas, lalu belanja oleh-oleh di pasar dan membeli cemilan di minimarket plus isi bahan bakar lagi.

Perjalanan kemudian berlanjut lagi sampai Panajam, mampir makan bakso dulu. Sekitar jam 15.00 sampai di ferry. Tiket penyeberangan dari Penajam Rp 269.500.. cuss istirahat di ferry. Tepat jam 16.00 touchdown di hometown…yippie. Lumayan lelah untuk ayah bunda yang faktor usia tidak bisa dibohongin sementara krucil masih full of energy, masih bisa lari-larian sana sini…bener juga kata pepatah, mumpung masih muda banyakin liat dunia. Kalau sudah tua, ada uang tapi tubuh sudah tidak support….haha.

Perjalanan yang ditempuh Balikpapan-Palangkaraya (via Buntok) = 645 km + Palangkaraya-Balikpapan (via Batulicin) = 931 km.
Total yang kami tempuh selama petualangan kali ini ==> 1576 km.
Biaya Hotel selama perjalanan ==> 250 + 509 + 675 + 350 = Rp 1.784.000,-
Biaya BBM selama perjalanan : 125 + 180 + 80 + 125 + 80 ==> Rp 590.000,- (kondisi full dari rumah)
Biaya tiket penyebarangan ferry : 264 + 269 ==> Rp 533.000,-
Biaya lain-lain (makan, minum, nyemil, tiket masuk wisata, dsb) ==> Rp 3.593.000,-
Total Biaya selama perjalanan ==> Rp 6.500.000,-

Dan this is it….petualangan seru kami menjelajah sebagian wilayah Kalimantan. Begitu sampai rumah, yang dilakukan ayah adalah browsing untuk penjelajahan berikutnya… target berikutnya ==> Pontianak, kata ayah…hahaha. Ok deh kaka😀





Museum Sandurangas

9 05 2016

20160509-091016.jpg

Museum ini letaknya di Kabupaten Paser (Kaltim). Sudah dari dulu pengen mengajak krucil ke museum ini tapi selalu ada halangannya, kadang ke Paser cuma untuk nginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan, atau pernah juga memang sengaja berkunjung ke Paser untuk ke museum ini…eh malah nyasar gak nemu museumnya, nanya-nanya di hotel eh orang hotelnya juga bingung… jadilah pulang dengan tangan hampa…hahaha.

Sekarang beda lagi kasusnya, kami sudah dapat informasi yang akurat tentang keberadaan museum ini, jadi kali ini harus nemu museumnya hehe. Sesampainya kami di Paser, sebelum jembatan bertanyalah kami pada warga lokal…katanya dekat aja tuh belok kanan. Ternyata kalau dari Makam Raja Paser tuh jaraknya memang dekat ke museum ini. Letak museum ini di tepian sungai Kandilo. Baiklah…yuk krucil, kita lihat-lihat sejarah kerajaan Paser dulu di museum ini.

Tiket masuk museum ini murah meriah, Rp 2500,- per orang. Isinya koleksi-koleksi kerajaan, seperti guci-guci, berbagai perkakas, uang-uang, tempat duduk raja, tempat tidur raja dan puteri, dsb. Seperti biasa, krucil penasaran dengan berbagai hal di museum…nanya ini apa, itu apa,dsb. Setelah puas melihat seluruh koleksi museum, kami beranjak kesebelah museum yang berupa bangunan mesjid tua.





Kebun Raya Balikpapan

12 10 2015

20151012-085325.jpg

Sudah lama kami tidak menginjakkan kaki ke dalam hutan, sudah lama juga krucils gak diajak berpetualang. Mumpung hari minggu kali ini si ayah gak kerja, yuk mari kita jalan…tujuannya Kebun Raya Balikpapan.

Pagi-pagi siapkan bekal krucils untuk dijalan, beli nasi kuning juga sebagai tambahan bekal, dan berangkat. Di jalan mulai bermunculan ide-ide dari krucils sebagai alternatif tema petualangan kali ini. Sulung ngajak mancing aja, bungsu pengen ke Kebun Raya, ayah ngajak ke Batu Dinding yang sedang ngehit di kalangan backpacker Kaltim. Pada akhirnya semua keinginan terakomodasi dengan baik, semua terpenuhi…yippie.

Sesampainya di gerbang Kebun Raya Balikpapan, sulung kami sudah minta berhenti dulu untuk mengabadikan burung Enggang yang sedang terbang di atas pepohonan di kejauhan dan lebah kecil yang sedang mengisap sari bunga di kameranya. Lanjut masuk gerbang disuruh security untuk mengisi buku tamu dulu plus sumbangan sukarela katanya, hmmm…baiklah. Kemudian masuk terus sampai bertemu waduk, sulung langsung menyiapkan alat pancing yang memang selalu stand by di dalam mobil. Mancing beberapa saat sambil mendengarkan suara burung gagak di pucuk pohon dan suara tongeret dari dalam hutan sembari bungsu ngabisin bekalnya.

Berhubung nampaknya tidak ada ikan di waduk, kami pun menyudahi acara memancing dengan melanjutkan perjalanan dengan melihat kebun bunga dan tanaman obat masih di areal Kebun Raya. Puas foto-foto, lanjut kembali ke areal parkir…rencananya sih mau treking masuk hutan. Eh begitu parkir langsung ngeliat ada orang sedang berdiri diam dengan muka menghadap kamera berlensa tele yang panjang banget mengarah ke sebuah pohon, penasaran apa sih yang di potret orang tersebut kami pun ikut mendekat. Rupanya ada seekor burung pelatuk yang sedang bikin sarang dengan mematuk-matuk pohon.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan treking menembus hutan…eh krucils melihat semut yang berukuran jumbo, lebih besar daripada ukuran semut biasa, jerit-jeritlah mereka dan langsung tidak mood meneruskan perjalanan dan ngajak balik ke mobil. Cerita petualangan di Kebun Raya Balikpapan pun diakhiri dengan masuk mobil …hahahaha😀





Mancing Mania

2 11 2014


Belakangan ini krucils kami punya hobi baru yaitu memancing keributan…eh…maksudnya mancing ikan. Nah karena masih pemula dan mereka juga kecewa kalau gak dapat, jadi kami baru pada tahap ngajak ke pemancingan saja (yang bisa dipastikan minimal dapat satulah…hehe) walau menurut saya sih mancing yang asik itu ya di alam.

Gini-gini si bunda lumayan profesionallah urusan mancing memancing, apalagi memancing hati si ayah …gubrak..hehe😉 Maklum, dulu waktu kecil sering nemenin papa mancing kemana-mana (hutan, sungai, sawah sudah dijabanin) jadi sudah biasa kalau seharian mancing tapi gak dapat apa-apa bahkan sudah beberapa kali bukannya dapat ikan malah dapat ular. Sudah biasa nyari umpan ulat di pohon pisang atau cacing tanah.

Nah, sudah lama bingits nih si bunda gak mancing, jadi begitu krucils ternyata suka juga mancing, kesempatan mengasah kembali kemampuan lama. Sayangnya ulat dan cacing susah banget nyarinya sekarang sehingga diganti pakai umpan pelet (tentunya tanpa dukun loh ya) yang ternyata hasilnya tidak semaksimal jika memancing pakai umpan asli dari alam. Yah…namanya juga hanya untuk senang-senang jadi kami pakai yang ada aja, kadang malah kami kasih nugget dan strike…kesimpulannya ikan jaman sekarang mengikuti tren kuliner, demen fast food..lucu juga ya.. hehe…

Baru-baru ini kami ketemu pemancingan yang tempatnya lumayan asik…banyak pohon besar yang rindang dan juga nyediain villa. Buat ayah bunda yang nemenin krucils mancing jadi lebih menyenangkan, bisa sambil tidur-tiduran di kamar (yang walau standard banget tapi lumayanlah untuk istirahat). Kalau dapat ikan, ikannya juga bisa minta dimasakin dan dikirim ke kamar. Asik sih walau berat di dompet lebih-lebih tiap minggu kalau gak kemana-mana mereka ngajakin ke sini…hadeuh…lain kali kalau mancing kita di sungai aja yak yang gratisan hehe😉





Sesak-Sesakan di Pawai Budaya

24 02 2014

Bungsu saya belakangan ini punya lagu favorite yang selalu dinyanyikannya kalau ayah sedang kerja di hari minggu, lagu tersebut adalah “pada hari minggu ayah pergi bekerja, ayah duduk samping pak supir yang sedang bekerja…dst” hehe. Untungnya weekend ini ayah ngejobnya dari hari Sabtu sehingga Minggu siang sudah pulang ke rumah.

Sabtu saat ayah ngejob banyak hal yang terjadi dan semuanya berurusan dengan si sulung. Sabtu pagi dia ikut Olimpiade Sains mewakili sekolahnya (sebagai emak, bangga juga punya anak yang super cuek urusan belajar eh ternyata diam-diam…), eh sorenya pas mau ke mesjid …jatuh dari sepeda, pulang-pulang diantar tetangga dengan muka berlumuran darah ternyata jidatnya bocor… alamakjang…Alhasil mukanya benjut sana sini disertai hiasan 5 jahitan dijidat yang berhasil ditorehkan dengan manisnya oleh dokter.

Begitu sampai rumah yang pertama dicari ayah ya si sulung ini. Walau muka benjat benjut, rupanya jiwa petualangnya dan rasa ingin tahunya masih aja berkobar. Disuruh tidur siang malah ngerayu ayahnya yang baru pulang agar mau mengantarnya melihat pawai budaya dalam rangka HUT Balikpapan. Ini karena saat pulang dari Rumah Sakit, dia tanpa sengaja melihat ada sebuah mobil yang sedang dihias. Rupanya rasa sakit tak bisa mengalahkan rasa penasarannya …hehe. Mungkin karena merasa bersalah, saat sulung dijahit ayah tidak bisa menemaninya di Rumah Sakit, keinginan sulung pun dikabulkan ayah walau ayah sendiri juga lelah karena baru sampai rumah.

Jadilah hasilnya bisa ditebak, kami desak-desakan, sesak-sesakan dan panas-panasan nongkrong dipinggir jalan dihiasi dengan tampang ngantuk ayah dan muka benjut abang. Siang bolong, nongkrong dipinggir jalan nungguin pawai sejam lebih tapi belum lewat-lewat juga tapi krucils masih sabar menanti, jadinya lucu juga..hehe. Ini mengingatkan pada masa kecil saya saat nunggu pawai lewat. Dulu sih cuma itu hiburan satu-satunya dikala mall belum ada, saluran TV juga cuma satu-satunya yaitu TVRI. Laaa sekarang jadi terasa lucu karena saat banyak hiburan yang bisa didapat eh krucils masih ngikutin jejak emaknya jaman dahulu kala….nongkrongin pawai ditengah terik mentari dengan semangat membara. Krucils saya memang beda😀 Banyak hal sederhana yang mungkin bagi sebagian orang sudah gak penting atau gak menarik tapi bagi mereka sangat amat menarik. Di saat teman-teman sebayanya asyik main gadget atau sejuk-sejukan main di mall, krucils saya malah suka banget ke museum atau ke pasar malam, atau ya seperti ini…nongkrongin pawai walau sinar mentari sedang terik-teriknya dan walau harus sesak-sesakan dikerumununan banyak orang.

Pawainya sendiri tidak terkordinasi dengan baik. Banyak kendaraan yang bukan peserta pawai yang masih bisa menerobos jalur pawai menyebabkan kami yang nonton jadi merasa terganggu. Malah rombongan pawai jadi terputus-putus disela oleh kendaraan-kendaraan lain. Tapi walau apapun itu….krucils happy banget, sampai pawai habis pun masih belum mau beranjak dari situ, takut masih ada yang tertinggal dan malah meminta ayah menyusul pawai…wahaha…

Jangan takut….tahun depan kita nongkrongin pawai lagi….hehe…





Berburu Bekantan di Teluk Balikpapan

3 02 2014


Setahun yang lalu tanpa sengaja nemu blog tentang pengalaman traveller yang mengikuti tour menyusuri Teluk Balikpapan yang konon merasakan “the real borneo” itu. Dengan semangat membara nyari info sana-sini tentang tour yang diikuti traveller tersebut akhirnya nemu blog ini http://landing-balikpapanbay.blogspot.com/2012/08/paket-wisata-pendidikan-dan-kunjungan.html

Dan iler saya pun langsung ngeces….mau banget yang paket seharian. Tapi kalau cuma berempat rasanya sayang, kan perahunya muat 9-10 orang. Kayaknya perlu nyari teman jalan nih, selain bisa rame-rame juga yang penting ongkosnya jadi bisa dibagi-bagi (nah itu dia inti utamanya, nyari yang lebih hemat hehe). Setelah menawarkan ke beberapa orang tapi tidak mendapat tanggapan positif, selain itu tahun lalu juga sudah kebanyakan berkelana jadi urusan Teluk Balikpapan inipun terlupakan.

Hingga suatu hari saya bertemu tanpa sengaja dengan teman sesama blogger yang sama-sama punya dua krucils dan sama-sama suka jalan. Proposal pun ditawarkan, dia setuju…yippie akhirnya dapat juga teman jalan😀 Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya dipastikan hari Minggu awal February kami akan berpetualang bareng. Sayangnya saat itu hanya tersedia paket sore hari, yang khusus melihat bekantan tok. Paket-paket yang lain konon katanya full booked hingga 3 minggu kedepan.

Baiklah kita coba paket yang ada aja, menyusuri teluk melihat bekantan. Setelah beberapa hari Whatsapp-an dan SMS-an…hari Minggu pun tiba. Lucunya karena sudah lama banget enggak berkelana, krucils saya sudah gak sabaran pengen berkelana….subuh-subuh sudah pada melek padahal menyusuri teluknya baru sore nanti hehe. Biasanya kalau ayah ke laut pada bete, hari itu seharian malah lupa sama ayah….tiap saat cuma ngomong, kok lama banget sih jalannya bunda…hehehe…

20140203-030557.jpg

Sorenya dijemput mbak Diah (tengkyu mbak, maklum saya supir spesialis jalan datar hehe). Menggunakan kendaraan mbak Diah kami pun mengarah ke Kariangau, di depan komplek Graha Indah dijemput kordinator Balikpapan Bay (mbak Ana) yang mengarahkan kendaraan. Di Mangrove Center mobil parkir…baru ngeh ternyata komplek ini letaknya ditepi hutan mangrove dan ada Mangrove Center yang merupakan program swadaya masyarakat setempat. Hmmm…keren juga…memberdayakan masyarakat setempat untuk menjaga alam yang otomatis juga memberi manfaat bagi masyarakat itu sendiri.

Isi buku tamu, ternyata katanya tamu-tamunya banyak turis mancanegara…rupanya wisata ini lebih ngetop diluar negeri kayaknya dibanding didalam negeri sendiri. Dan kata mbak Ana, kami kecepatan datangnya…harusnya lebih sore lagi, bekantannya lebih banyak lagi yang keluar. Sebelum naik, semua penumpang dipakaikan life vest. Setelah semua pakai, naik perahu dan….berangkat…yippie…

Kemudian perahu menyusuri teluk….keren banget, suasananya mengingatkan saya pada film Anaconda dan film-film dokumenter hutan Amazone. Keren banget nget nget nget deh….atau sayanya aja yang norak, tapi bagi saya keren banget titik gak pake koma hahaha. Seruuuu…krucils-krucils yang awalnya anteng karena belum saling mengenal langsung bereaksi, pada berdiri semua asik jepret sana, jepret sini, saling tepuk pundak untuk saling memberitahukan jika melihat objek yang menarik…hehe. Dan yang lebih seru dan bikin was-was plus deg-deg seer adalah ternyata didaerah tersebut masih ada buayanya dan lumayan ganas…

Karena kami memulai petualangan ini terlalu cepat, jadi bekantannya masih sedikit yang baru keluar. Katanya sih bekantan makin banyak keluar mencari makan menjelang malam, maghrib-maghrib gitu deh yang banyak. Walau begitu kami tetap senang bisa melihat berbagai satwa yang hidup damai diteluk ini, ada kepiting bakau, ada burung, ada biawak yang kata saya mirip buaya tapi kata krucils saya mirip anaconda, dan tentunya ada bekantan yang bela-belain susuri teluk demi melihatnya. Sayangnya karena bekantan-bekantan ini diatas pohon yang tinggi dan kamera saya lensa standar, jadi gak bisa nangkap sosoknya.

Tapi secara keseluruhan kami puas, terutama krucils saya yang begitu sampai rumah langsung telp ayahnya sambil cerita tentang pengalaman mereka hari itu diakhiri dengan kata-kata, kurang lama petualangannya….haha. Tenang aja, kita akan rencanakan petualangan-petualangan lain yang pastinya lebih seru lagi…bukan begitu mbak Diah? hehe😀





Berjemur di Pulau Pribadi

3 02 2014


Haiyah….judulnya belagu banget ya…kayak orang kaya raya dengan harta yang melipir-lipir sampai bisa punya pulau pribadi….hahaha, eh tapi tolong diaminin ya siapa tahu suatu saat bisa punya pulau pribadi beneran, aamiin…*mulai ngimpi* hehehe. Maksud judul diatas bukan pulau pribadi beneran tapi berasa begitu tuh petualangan kami kali ini, serasa punya pulau pribadi padahal mah….😀

Sudah lama banget gak jalan, jadi gatal juga nih. Begitu liat hari Jumat ada tanggal merah…aha…kami harus jalan pokoknya, entah kemanapun itu….yang penting jalan. Dari Kamis mulai melancarkan rayuan ke ayah supaya kita bisa melipir-lipir kemana gitu (yang diincar sih Prevab Mentoko atau Loksado). Si ayah cuma bilang kita liat nanti, soalnya ini sudah nyiapin barang (tanda-tanda akan ngejob). Dan benar saja, kamis sore sudah ada pemberitahuan…dilarang keras keluar kota, akhir minggu ini mau ada job…hiks hiks…batal lagi deh jalannya.

Akhirnya diputuskan Jumat itu kami berkelana ke Tanjung Harapan (Tanah Merah)-Samboja aja deh. Jadilah pagi-pagi mulai berangkat dari rumah berbekal beberapa botol minuman dan sekotak nugget yang belakangan ini jadi makanan favorite krucil. Sampai di Tanjung Harapan, krucil langsung ngajak ketengah, yang berupa gundukan pasir putih yang membentuk pulau kecil. Berhubung dipulau tersebut hanya ada beberapa pohon yang mengering, jadi kami bermain dan beraktivitas dibawah pohon tersebut yang nyaris tidak melindungi kami dari terik mentari. Benar-benar gosong….sudah mirip ikan asin…hehe…

Walau semakin siang pantai semakin ramai oleh pengunjung, namun tidak ada satupun pengunjung yang rela dan ikhlas kulitnya dibakar matahari seperti kami, jadi satu-satunya yang ada di “pulau” itu ya hanya kami berempat. Berasa di pulau pribadi …walau sebenarnya mirip orang yang terdampar dipulau….hahaha…seruuu. Krucils nyari kelomang, bikin istana pasir, menggali-gali, ngelukis diatas pasir sementara ayah sudah ngorok dengan tenangnya di bawah pohon.

Tengah hari bekal-bekal mulai habis dan krucils mulai minta makan, nah loh….tumben-tumbenan nih bocah-bocah merasa lapar (salah satu keuntungan diajak bejemur seharian meningkatkan nafsu makan hehe), akhirnya kami keluar dulu cari makanan. Selesai makan ikan bakar, kembali lagi masuk pantai dan kembali ke “pulau”. Sayangnya karena sudah sempat kami tinggalkan, pulau ini mulai ramai oleh pengunjung yang mulai ke tengah karena matahari yang mulai bersahabat.

Namun lama kelamaan air aut mulai naik dan orang-orang mulai kembali kepinggir hingga hanya kami yang kembali tersisa di “pulau” tersebut. Sekarang pulau tersebut mulai terlihat sebagai pulau benaran karena mulai dikelilingi oleh air laut yang meninggi. Lama juga kami di pulau ini, mulai dari main asinan, main kucing tikus, main perang-perangan dan kemudian baru ngeh….ya ampun, air mulai meninggi saatnya kembali ke daratan dipinggir. Mulailah secara bertahap keluar pulau, pertama abang jalan sambil dirangkul ayah. Kemudian adek digendong dipundak ayah. Terakhir si bunda yang awalnya jalan sendiri, tapi ditengah jalan kok kayak ada yang merambat-rambat dikaki…langsung jerit-jerit minta gendong….dan akhirnya digendong ayah ketepian sambil disaksikan beberapa ibu dipinggir yang ketawa-ketawa yang mungkin mikir “idih badan segede itu digendong, kalah sama anak” wkwkwkwk….

Walau sudah meninggalkan “pulau” dan badan mulai basah tapi krucils rupanya masih betah di pantai. Akhirnya malah bener-bener nyelup di air karena baju sudah terlanjur basah, mereka langsung guling-guling di air dan pasir. Ketika matahari akhirnya condong, kami pun mengajak krucils pulang walau mereka masih betah disitu. Hasil berjemur seharian, semua gosong dan bau keringat hahaha