Jembatan Kahayan, Palangkaraya

15 01 2019

Sekitar tahun 2016 lalu, kami pernah ke Palangkaraya dan jalan-jalan ke tugu Soekarno di area dekat jembatan Kahayan. Kala itu taman yang ada disitu ya taman yang berada di depan kantor DPRD Palangkaraya, yaitu taman yang berisi tugu Soekarno dan sepi ketika kami kesana saat itu. Kalau mau foto jembatan Kahayan, ya di restoran yang berada di taman tersebut.

Dua tahun berlalu, sekarang sudah ada taman kece yang berada lebih dekat dengan jembatan Kahayan. Di taman ini ada mesjid terapungnya juga, hmmm…sebenarnya gak terapung sih cuma letaknya dipinggir sungai dan mengingatkan saya pada mesjid terapungnya Makassar…serupa tapi tak sama. Taman baru ini letaknya bersebelahan dengan taman tugu Soekarno. Menurut saya nice idea nih menjadikan area sekitar jembatan untuk dijadikan taman, menjadikan atraksi menarik bagi turis / pengunjung agar bisa berfoto dengan landmark sebuah kota. Sehingga tidaklah mengherankan kalau taman ini ramai dengan pengunjung, berbeda kondisinya dengan taman tugu Soekarno yang lebih sepi.

Untuk mengunjungi tempat ini tidak susah kok, cari aja jalan yang berada di tepi sungai dekat jembatan Kahayan atau bisa menggunakan aplikasi GPS. Tidak ada pungutan untuk masuk ke taman ini, palingan ditagih biaya parkir. Di sini krucils antusias banget, mereka sibuk mengambil foto. Bukti bahwa mengajak anak tidak perlu berbiaya besar, cukup mendatangi tempat-tempat umum berbiaya hemat …anak happy, orang tua senang, dan emak pun bahagia 😀





Museum Balanga, Palangkaraya

15 01 2019

Allrait gaes, mari kita cerita tentang petualangan akhir tahun krucils bersama kai (kakek; bahasa banjar-kalsel).

Akhir tahun 2018 sebenarnya kami punya berbagai plan, pilihannya keliling Sulawesi, keliling Kalimantan minimal ke Tanjung Puting atau menyusul ayah yang sedang gawe di pulau Jawa untuk kemudian sama-sama jalan setelahnya….tapi kemudian seperti biasa, si ayah gak dapat cuti…hiks hiks…melipir ke pojokan ngupas bawang biar ada alasan ngelap mata. Tapi kan tingkat kepedean si bunda sedang diambang batas maksimal sejak sukses keliling Sumatera hanya bertiga bareng krucils, jadi kami memutuskan no problemo kalau ayah gak bisa cuti…kan kami bisa melipir bertigaan keliling Sulawesi karena krucils pengen melihat Wakotobi atau Togean.

Saat ijin kepada kedua ortu saya, kakek nenek krucils seperti biasa…langsung memberi berbagai alasan yang intinya sih sama, tidak mengijinkan kami berpetualang bertigaan aja keliling Sulawesi. Kemudian papa (kai krucils) yang langsung mengajak kami menemanin beliau menengok rumah nenek saya (datuknya krucils) yang kosong di Kalsel. Hmmm, setelah bersemedi beberapa hari akhirnya saya setuju dengan pertimbangan kasihan papa sendirian di rumah karena ibu sedang ada acara di Bogor, sekalian nemenin papa mengenang masa kecilnya di kampung halamannya yaitu rumah datuk di Kalsel. Baiklah kai, mari kita berpetualang bareng….

Sebelum ibu pergi ke Bogor, kami diceramahi uci (panggilang krucils, untuk ibu saya) tentang jangan ajak kai jalan jauh-jauh, jangan begini, jangan begitu….baiklah ci, dont worry. Jadilah tujuan awal hanya nemenin kai nengok rumah masa kecilnya di Tanjung, Kalsel, paling jauh paling ke Banjarmasin. Dan karena jalan sama kai yang sudah sepuh, harus menyesuaikan sikon. Kalau capek berhenti, berangkat juga harus pagi-pagi biar gak kemalaman. Btw, kai loh yang nyetir sepanjang perjalanan, hebat kan. Singkat cerita, kami berhasil mempengaruhi kai agar terus ke Palangkaraya…dan kami sampai juga di Palangkaraya tanggal 27 Desember 2018 sore.

Keesokan paginya, setelah sarapan di hotel yang kenyang banget karena makanannya walau sederhana lumayan enak, kami singgah dulu di Museum yang letaknya tidak jauh dari hotel. Begitu tiba di Museum sekitar jam 8-an pagi, kami ke loket tiket masuk. Sekitar 2 tahun lalu kami pernah juga ke museum ini, namun sayangnya sedang tutup sehingga hanya berfoto-foto diluar. Beruntungnya kali ini museum buka walau masih sepi karena masih pagi, bahkan petugas museum belum datang semua. Saya lupa lagi harga tiketnya, kalau tidak salah hanya 2500/orang, sayangnya tiket masuknya sedang habis jadi tidak dapat tiket awalnya, namun karena krucils hobi ngumpulin tiket masuk saya memaksa meminta tiket masuk untuk kategori pelajar SMA aja untuk diberikan kepada krucils sebagai kenang-kenangan…haha.

Bangunan museumnya sih penampakannya lumayan besar tapi ternyata kecil saya. Ada 2 ruang, yaitu ruang Ethnographi dan Tjilik Riwut. Di ruang Ethnographi lantai dasar ini umumnya memajang belanga , yaitu guci-guci antik…lantai duanya berisi rumah adat, dan perlengkapan yang biasa digunakan masyarakat seperti topeng, jala, dsb. Sedang di ruang Tjilik Riwut memuat tentang Tjilik Riwut, salah satu pahlawan nasional dari Palangkaraya. Seru, krucils antusias seperti biasa, dan kami bertemu pengunjung lain yang berasal satu kota dengan kami sehingga saling bertukar informasi mengenai jalan karena mereka datang dari arah Banjarmasin dan kami datang dari arah Buntok.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mengunjungi museum, sayangnya generasi sekarang sedikit sekali yang berminat mengunjungi museum, demikian salah satu keluhan dari petugas museum. Jika hendak mempelajari sebuah kota, kenalilah budaya dan masyarakatnya, dan itu bisa dilihat di museum. Jadi gaess…mari cintai museum, ramaikan museum, dan tumbuhkanlah cinta budaya sendiri.





Balikpapan – Palangkaraya – Banjarmasin

10 05 2016

Long weekend enaknya kemana ya? Tanya ayah yang baru pulang, kira-kira ada job gak yah minggu-minggu ini? Seperti biasa ayah jawab, gak tahu..namanya juga panggilan, ya gak tahu ada job gaknya. Baiklah…siap-siap menghabiskan long weekend bertiga sama krucil di rumah kalau ayah ada job.

Beberapa rencana kemudian disusun, main di pantai sama teman dugemak (dunia gemerlap emak-emak) atau nonton Captain America yang konon gantengnya mengalahkan mas Nunu (Keanu Reeves). Tapi kemudian tokoh superhero realnya muncul beneran dengan membawa kabar gembira sepulang kerja…”yuk markimon, kita berpetualang”… yippie…

Dan brat bret brot…eh brak brik bruklah siapin ini itu. Jejalkan semua…berangkaaattt…

20160511-083540.jpg

# Menuju Tanjung (Kalimantan Selatan), 4 Mei 2016 #

==> Day 1
Sekitar jam 18.00 berangkat dari rumah, sempat berhenti di salah satu bakery untuk mengisi perbekalan di jalan. Di pelabuhan Kariangau ternyata tidak panjang antriannya, tiket penyeberangan Rp 264.000,-

Naik ferry, gak berapa lama ferry berangkat dan satu jam kemudian sudah sampai di pelabuhan Penajam…cuma antrian kapal untuk berlabuh lumayan memakan waktu lama juga. Kami harus menunggu satu jam lagi sebelum akhirnya ferry bisa merapat di dermaga….arggghhh. Baru sekitar jam 21.00-an mobil akhirnya bisa melaju di Penajam.

Selama perjalanan kami tidak berhenti. Di mobil sempat terjadi diskusi, mau makan lagi gak? Semua masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan nasi Padang…ok kita tidak berhenti kalau gitu. Di simpang Kuaro sempat diskusi lagi, nginap di Paser gak? Saya sih pengennya nginap di Paser tapi ayah dan krucil pengen terus aja jadi deh kalah suara, mobil pun meneruskan perjalanan kembali.

Sekitar jam 12-an malam, kami sampai di Batu Kajang. Kami memutuskan menginap semalam untuk meluruskan badan di sini. Kami menginap di Penginapan Awa, seharga Rp 250.000,- permalam. Istirahat dulu biar fit sebelum bertemu jalan rusak…HmmZzzzz…

==> Day 2

Subuh sekitar sholat subuh, kami semua terbangun..siap melanjutkan perjalanan kembali. Sayangnya tidak ada orang penginapan sama sekali di lobby, padahal KTP ayah disimpan pihak penginapan…dicari-cari, gak ketemu. Untunglah ada sesama tamu penginapan yang membantu mencari pemilik penginapan…ternyata pemilik penginapan sedang tidur dirumahnya yang letaknya dibelakang penginapan. Rugi waktu setengah jam-an mencari-cari pemilik penginapan, baru sekitar jam 05.30-an kami melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah Batu Kajang ini jalan mulai rusak parah. Daerah terparah kondisinya daerah perbatasan, ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan sehingga jalur tambah sempit. Dua kali kami berjumpa dengan truk yang susah mendaki dan ngadat ditanjakan. Untungnya ketika ketemu jalan rusak parah ini kondisi kami sudah prima setelah beristirahat semalam. Kami sempat berhenti membeli nasi kuning di sebuah warung di tepi jalan. Sekitar jam 09.00-an akhirnya sampai di Tanjung.

Di Tanjung sempat beristirahat 1 jam dirumah kakek saya dan makan di pasar (nyari sate itik ternyata tidak ada karena bukan hari pasar). Ketika kami sedang makan ikan bakar di pasar, pemilik warung bertanya sedang liburan ya? kok liburan kesini sih ? Baiklah…ini pertanyaan tersusah untuk dijawab…haha. Kami kembali mengisi penuh bensin di Tanjung sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

# Menuju Palangkaraya (Kalimantan Tengah), 5 Mei 2016 #

Beberapa teman sempat kami tanya tentang jalan menuju Kalteng, umumnya mereka menjawab jalan Buntok lebih hemat waktu daripada muter melalui Banjarmasin. Kota Buntok ini merupakan salah satu kota di Kabupaten Barito Selatan (Kalteng) yang berbatasan dengan Tanjung (Kalsel). Nah, melalui jalan inilah yang kami pilih menuju Kalteng. Kami sempat berhenti di Museum Lewu Hante di Pasar Panas, Barito Timur sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

20160510-112920.jpg

Kami berangkat dari Tanjung sekitar jam 10.00-an. Perjalanan Tanjung – Palangkaraya via Buntok ini mulus, lurus dan sepi. Kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan dekat Buntok, makan ikan bakar plus sayur dari rotan…rasanya mantap banget, saya suka banget sayur rotan tersebut.

Setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kota terakhir yang dijumpai adalah Buntok selanjutnya sepanjang jalan yang terlihat hanya rawa gambut dan awan berarak, jarang bertemu pemukiman. Sehingga kendaraan bisa di pacu dengan kecepatan tinggi…cuma masalahnya jalan lurus, mulus dan sepi adalah bikin ngantuk. Sepanjang perjalanan dua krucil tidur dengan pulas, saya berusaha menahan ngantuk menemani ayah yang nyetir dan tidak mau dibantu gantian nyetir…akhirnya saya ketiduran, gantian bungsu yang nemenin ayahnya nyetir.

Sekitar 16.30 sampai juga di Palangkaraya…nemu peradaban lagi tuh sesuatu banget…hehe. Kami berhenti sejenak di Taman Wisata Kum-Kum, cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Di Palangkaraya kami mengisi bahan bakar lagi sembari buru-buru buka agoda untuk mencari hotel.

Kami memutuskan menginap di Hotel Luwansa dengan tarif Rp 509.000,- permalam setelah krucil pake please-please-an segala meminta agar nginap disitu. Istirahat sebentar di kamar, mandi…malamnya jalan-jalan melihat-lihat kota sembari cari makan. This is it…petualangan hari kedua pun diakhiri dengan tidur nyenyak di kamar hotel…grroookzzZ…

==> Day 3

Tidur nyenyak di hotel yang nyaman itu sesuatu. Setelah semua mandi, krucil dan ayah sarapan di hotel, sedang saya packing barang kembali dan sarapan di kamar. Selesai krucil sarapan, barang-barang kembali dimasukkan mobil. Rencananya kami mau jalan-jalan dulu di Palangkaraya sampai siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Kami memutuskan check out pagi itu juga daripada muter kembali ke hotel lagi nanti malah repot.

Di Palangkaraya kami jalan-jalan ke Museum Balanga, Arboretum Nyaru Menteng, Danau Tahai, Bunderan Besar, Tugu Soekarno, Jembatan Kahayan. Cerita lebih lengkapnya lihat di postingan sebelumnya.

20160510-113108.jpg

# Menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan), 6 Mei 2016 #

Di perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Palangkaraya terjadilah diskusi dalam mobil. Saya ingin kami melalui jalan Buntok lagi untuk perjalanan pulang supaya gak capek. Tapi ayah dan krucil pengen petualangan masih berlanjut, gak seru kalau cepat-cepat pulang kan masih ada dua hari libur lagi, alasan mereka. Jadi mereka pengen perjalanan pulang melalui Batulicin yang artinya harus lewat Banjarmasin dan muter arah ratusan kilometer.

Ayah dan krucil pengen makan nasi kuning di Batulicin lagi, yang kata mereka nasi kuning terenak yang pernah mereka makan…hadeuh. Akhirnya saya setuju kami pulang melalui Banjarmasin tapi via Tanjung bukan Batulicin. Kita liat aja kondisi nanti, kata ayah. Lalu mulailah perjalanan menuju ke Banjarmasin sekitar jam 13.00-an melalui jalan Trans Kalimantan setelah sebelumnya ayah dan sulung sholat Jumat di jalan dulu.

Jalan menuju Banjarmasin ini sih kondisinya bagus cuma bergelombang. Ada jalan yang berupa jalan layang panjang banget disini, dibuat bukan karena jalannya padat tapi karena dibawahnya rawa…seru banget. Jalan menuju Banjarmasin ini tidak sesepi jalan via Buntok, kami sering berpapasan dengan kendaraan lain dan juga berjumpa pemukiman penduduk. Ditengah perjalanan kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan. Lalu berhenti lagi di Jembatan Barito, ikut-ikutan foto narsis karena kami lihat jembatan ini jadi objek wisata…banyak mobil dan motor berhenti dan penumpangnya foto-foto di jembatan ini. Biar kekinian, kami ikut-ikutan foto juga dong, gak mau kalah hehe…

20160510-113336.jpg

Kami sampai di Banjarmasin sekitar jam 17.00 dan sempat beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga lokal tentang sebuah alamat om saya. Kami berkunjung ke rumah om saya sampai jam 20,00 sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan sulung saya memaksa ayahnya agar memilih jalur melalui Batulicin, tapi karena saya sudah capek banget saya minta pilih jalur Martapura aja. Lalu ke Martapuralah kami…disini saya sudah capek banget, akhirnya kami memutuskan mencari hotel. Gak nemu ada hotel, buka agoda…gak dikenal juga Martapura di agoda. Akhirnya kami senemunya aja dijalan setelah muter-muter nyari hotel pada penuh semua (ingat coy, ini long weekend …hotel jadi penuh).

# Menuju Little House on the Prairie, 7 Mei 2016 #

Dengan pertimbangan setelah Martapura sudah desa-desa kecil yang tidak mungkin ada hotel, akhirnya kami muter balik ke arah perempatan Batulicin. Nemu hotel Roditha,seharga sekitar Rp 675.000, permalam….arrghhh diluar anggaran, overbudget. Budget saya untuk hotel maksimal 500rb (kecuali diluar negeri beda lagi hitungannya). Prinsip saya, kalau ada murah ngapain nyari mahal …saya gak perlu gengsi. Tapi kata ayah gpp tidur dihotel mahal sesekali.

Malam itu kami tidur nyenyak dan pulas. Esoknya, gak mau rugi sudah bayar mahal…sarapan harus maksimal dong, makan sampai kenyang…haha. Sarapan di hotel mahal itu ternyata menunya juga maksimal, banyak banget jenisnya, gak mau rugi cicipin semua…haha kamseupay mode on. Setelah sarapan, check out dan memulai perjalanan kembali. Kali ini ayah dan krucil kompak satu suara, pengen lewat Batulicin…saya akhirnya kalah suara, terpaksalah ikut suara terbanyak.

==> Day 4

Start dari hotel sekitar jam 09.00 -an lebih, kesiangan sih untuk memulai perjalanan panjang. Kondisi jalan Banjarmasin – Batulicin padat, beberapa titik rusak tapi so far so good lah…masih bisa ditolerir. Sekitar daerah Asem-Asem istirahat makan siang dan di daerah Tanah Laut isi bahan bakar lagi.

Tiba daerah Pagatan sekitar jam 15.00-an disambut hujan dan pemandangan laut dari jalan raya. Kami sempat berhenti sebentar di pantai Pagatan untuk memberi kesempatan krucil bermain pasir sembari meluruskan badan.

20160510-113539.jpg

Kurang lebih satu jam kemudian tibalah kami di Batulicin, sempatkan isi bahan bakar lagi lanjut check in di Hotel Harmony seharga Rp 350.000,-permalam. Istirahat sebentar, mandi-mandi…lanjut massage di spa yang berada tepat di samping hotel. Ini juga salah satu alasan krucil maksa-maksa lewat Batulicin, karena pengen dipijat ramai-ramai berempat di sini seperti yang kami lakukan pada January lalu..hadeuh. Selama pijat lagi-lagi kami ditanya pertanyaan yang sama ke beberapa kalinya…sedang liburan ya? kok liburan pilih kesini, disini kan gak ada apa-apa. Lagi-lagi ini pertanyaan tersusah untuk dijawab. Intinya selera kami agak berbeda dari kebanyakan orang. Mungkin bagi kebanyakan orang kami kurang kerjaan suka ngelayap ngabisin waktu berhari-hari di jalan untuk menuju kota-kota kecil, karena refreshing ala kami bukanlah melihat keramaian di mall atau sebuah kota. Refreshing bagi kami adalah melihat dan merasakan hal-hal baru. Selesai pijat, cari makan…setelah itu tidur, perjalanan masih jauh…good night …HmmmZzzz

==> Day 5

Seperti biasa, subuh kami sudah mulai kasak-kusuk lagi. Sekitar jam 05.00 check out hotel dan berangkat. Tapi di daerah pasar, berhenti dulu nungguin warung nasi kuning yang sudah diincar ayah dan krucil. Lumayan lama juga nungguin warung ini buka…niat banget kan muter ratusan kilometer dan nungguin warung buka sejak subuh hanya demi nasi kuning…hahaha…sesuatu banget :p

Setelah dapat nasi kuning yang diincar, sekitar jam 06.00 memulai perjalanan pulang. Sempat berhenti di pegunungan karst request krucil karena minta di foto di gua…sambil krucil bermain mencari kerang di pegunungan tersebut. Mencari kerang di gunung? Ngelindur kali? Beneran loh, di pegunungan karst ini banyak kerang-kerang kecil yang kemungkinan berdasarkan analisa sotoy kami dulunya jaman dinosaurus dulu wilayah ini lautan. Tapi jangan percaya deh, namanya juga analisa sotoy…hehe…

20160510-113646.jpg

Perjalanan lalu lanjut lagi sampai akhirnya sampai juga di Paser sekitar jam 11.00 siang. Di Paser kami mampir ke Museum Sandurangas, lalu belanja oleh-oleh di pasar dan membeli cemilan di minimarket plus isi bahan bakar lagi.

Perjalanan kemudian berlanjut lagi sampai Panajam, mampir makan bakso dulu. Sekitar jam 15.00 sampai di ferry. Tiket penyeberangan dari Penajam Rp 269.500.. cuss istirahat di ferry. Tepat jam 16.00 touchdown di hometown…yippie. Lumayan lelah untuk ayah bunda yang faktor usia tidak bisa dibohongin sementara krucil masih full of energy, masih bisa lari-larian sana sini…bener juga kata pepatah, mumpung masih muda banyakin liat dunia. Kalau sudah tua, ada uang tapi tubuh sudah tidak support….haha.

Perjalanan yang ditempuh Balikpapan-Palangkaraya (via Buntok) = 645 km + Palangkaraya-Balikpapan (via Batulicin) = 931 km.
Total yang kami tempuh selama petualangan kali ini ==> 1576 km.
Biaya Hotel selama perjalanan ==> 250 + 509 + 675 + 350 = Rp 1.784.000,-
Biaya BBM selama perjalanan : 125 + 180 + 80 + 125 + 80 ==> Rp 590.000,- (kondisi full dari rumah)
Biaya tiket penyebarangan ferry : 264 + 269 ==> Rp 533.000,-
Biaya lain-lain (makan, minum, nyemil, tiket masuk wisata, dsb) ==> Rp 3.593.000,-
Total Biaya selama perjalanan ==> Rp 6.500.000,-

Dan this is it….petualangan seru kami menjelajah sebagian wilayah Kalimantan. Begitu sampai rumah, yang dilakukan ayah adalah browsing untuk penjelajahan berikutnya… target berikutnya ==> Pontianak, kata ayah…hahaha. Ok deh kaka 😀





Tugu Soekarno

9 05 2016

20160509-042638.jpg

Tugu ini bernama Tugu Kota Palangkaraya atau lebih dikenal sebagai Tugu Soekarno karena disinilah dilakukan pemancangan tiang pertama kota Palangkaraya oleh Presiden Soekarno, 17 Juli 1957. Di taman ini terdapat patung Soekarno dan beberapa diorama.

Berhubung sulung saya suka sekali sama Soekarno, dia langsung minta di foto bersama patung Soekarno. Tuh anak paling susah di foto, tapi kalau sesuatu yang disuka gak perlu disuruh…malah minta di foto dalam berbagai pose…hehe. Nah, kami di sini lamanya ya bikin foto paling oke untuk sulung kami haha. Di area ini juga terdapat Tugu Cafe yang posisinya tepat menghadap Jembatan Kahayan. Sayangnya ketika kami disana cafe nya sedang tutup, namun kami bisa numpang foto-foto saja…haha *narsis to the max* :p





Danau Tahai

9 05 2016

20160509-013026.jpg

Danau Tahai ini masih berada di kawasan yang sama dengan Arboretum, yaitu di Jl.Tjilik Riwut Km 28. Tidak ada pungutan apa-apa untuk masuk ke Danau Tahai ini kecuali di gerbang yang sebelumnya saya ceritakan. Danau ini berisi dengan pondok-pondok yang rupanya dijadikan tempat piknik keluarga, umumnya pengunjung membawa serta keluarga besarnya dan perbekalan (makanan dan minuman) sendiri dari rumah.

Selain pondok-pondok tersebut, terdapat juga perahu bebek-bebekan yang disewakan. Bentuk wisatanya lebih pada menikmati danau sambil makan bareng bersama keluarga. Menurut saya tempatnya bagus untuk menikmati alam, sayangnya ada banyak anjing yang berkeliaran sambil menebar kotoran sehingga kesannya kurang bersih. Selebihnya saya suka…saya suka …*ipin upin mode on*





Arboretum Nyaru Menteng

9 05 2016

20160509-104031.jpg

Sudah lama sekali saya pengen ngajak krucil ke BOS (Borneo Orangutan Survival) Samboja, tapi karena informasi tentang BOS Samboja sedikit sekali dan juga tempatnya yang konon susah dijangkau, menyebabkan sampai sekarang belum bisa mewujudkan impian tersebut. Itu sebabnya begitu dapat informasi kalau ada BOS di Nyaru Menteng yang terbuka untuk umum, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada…tanpa pikir panjang let’s go…

Nama tempat ini Arboretum Nyaru Menteng, letaknya di Jl. Tjilik Riwut Km 28, sekitar 1 jam-an dari pusat kota (tergantung kecepatan). Kami mengandalkan GPS mbah Google mencari tempat ini, yang lucunya dari bundaran besar disuruh belok kiri mulu…turn left, turn left…sampai muter-muter setengah jam masih turn left mulu…hahaha. Akhirnya bertanya sama penduduk setempat, baru top markotop.

Begitu nemu gerbang masuk bertuliskan objek wisata Nyaru Menteng, gak jauh ada gerbang lagi yang dijaga anak-anak kecil dan beberapa orang yang lebih tua. Katanya biaya masuk Rp 10.000,- tapi tanpa ada tiket sama sekali. Letak Arboretum ini tidak jauh dari gerbang kedua tersebut belok kanan, jalan kecil…nah disini ada gerbang lagi untuk memasuki kawasan Arboretumnya, eh ada anak kecil lagi yang menjaga gerbang ini ditambah seorang bapak-bapak yang duduk tersembunyi mengawasi anak kecil tersebut. Mobil kami diberhentikan, katanya biaya parkir Rp 10.000,- om. Loh, tadi sudah bayar di depan dek, kata kami. Oh itu beda lagi om, katanya lagi…baiklah bayar lagi.

Setelah parkir, masuk dalam Arboretum, terlihat dua orang petugas sedang duduk-duduk…bertanyalah saya, “berapa tiket masuknya pak?”. Petugas tersebut menjawab, “gak bayar bu…gratis kok. Disini kami tidak menarik pungutan apa-apa karena tujuannya mengedukasi orang-orang tentang pentingnya menjaga alam dan orangutan. Jadi kalau tadi ada pungutan-pungutan, itu bukan dari kami…” Oalah…begitu…

Di dalam kawasan ini memang tujuannya untuk edukasi, begitu masuk ada film tentang orangutan bernama Rimba yang ibunya dibunuh manusia dan anaknya diperjualbelikan. Krucil kami betah banget menonton film tersebut, sebelum habis tidak mau beranjak dari situ. Sepanjang jalan setelah itu mereka bercerita penuh semangat kepada kami tentang isi film tersebut. Selain itu di bagian belakang terdapat dinding kaca yang dari kaca tersebut kita bisa melihat kandang-kandang orangutan yang sedang direhabilitasi. Pengunjung sama sekali tidak boleh mendekati kandang tersebut, hanya petugas yang boleh masuk ke kandang-kandang tersebut. Oh ya, disini juga menerima donasi untuk orangutan…jadi kalau ke Arobretum ini jangan lupa donasi ya.





Museum Balanga

9 05 2016

20160509-093640.jpg

Museum Balanga ini letaknya di Jl. Tjilik Riwut Km 2,5, tidak begitu jauh dari pusat kota. Sayangnya tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena tutup. Menurut info yang di dapat di internet museum ini buka setiap hari kecuali hari minggu, buka jam 07.00-14.00 setiap harinya kecuali Jumat hanya sampai 10.30.

Berbekal informasi tersebut, kami pun menuju museum ini sekitar jam 08.15 eh tidak ada terlihat satu orang pun walau gerbang museum dalam kondisi terbuka. Cari-cari loket tiket juga tidak terlihat, akhirnya kami foto-foto diluarnya saja…yang penting sudah pernah datang…hahaha 😀