Balikpapan – Palangkaraya – Banjarmasin

10 05 2016

Long weekend enaknya kemana ya? Tanya ayah yang baru pulang, kira-kira ada job gak yah minggu-minggu ini? Seperti biasa ayah jawab, gak tahu..namanya juga panggilan, ya gak tahu ada job gaknya. Baiklah…siap-siap menghabiskan long weekend bertiga sama krucil di rumah kalau ayah ada job.

Beberapa rencana kemudian disusun, main di pantai sama teman dugemak (dunia gemerlap emak-emak) atau nonton Captain America yang konon gantengnya mengalahkan mas Nunu (Keanu Reeves). Tapi kemudian tokoh superhero realnya muncul beneran dengan membawa kabar gembira sepulang kerja…”yuk markimon, kita berpetualang”… yippie…

Dan brat bret brot…eh brak brik bruklah siapin ini itu. Jejalkan semua…berangkaaattt…

20160511-083540.jpg

# Menuju Tanjung (Kalimantan Selatan), 4 Mei 2016 #

==> Day 1
Sekitar jam 18.00 berangkat dari rumah, sempat berhenti di salah satu bakery untuk mengisi perbekalan di jalan. Di pelabuhan Kariangau ternyata tidak panjang antriannya, tiket penyeberangan Rp 264.000,-

Naik ferry, gak berapa lama ferry berangkat dan satu jam kemudian sudah sampai di pelabuhan Penajam…cuma antrian kapal untuk berlabuh lumayan memakan waktu lama juga. Kami harus menunggu satu jam lagi sebelum akhirnya ferry bisa merapat di dermaga….arggghhh. Baru sekitar jam 21.00-an mobil akhirnya bisa melaju di Penajam.

Selama perjalanan kami tidak berhenti. Di mobil sempat terjadi diskusi, mau makan lagi gak? Semua masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan nasi Padang…ok kita tidak berhenti kalau gitu. Di simpang Kuaro sempat diskusi lagi, nginap di Paser gak? Saya sih pengennya nginap di Paser tapi ayah dan krucil pengen terus aja jadi deh kalah suara, mobil pun meneruskan perjalanan kembali.

Sekitar jam 12-an malam, kami sampai di Batu Kajang. Kami memutuskan menginap semalam untuk meluruskan badan di sini. Kami menginap di Penginapan Awa, seharga Rp 250.000,- permalam. Istirahat dulu biar fit sebelum bertemu jalan rusak…HmmZzzzz…

==> Day 2

Subuh sekitar sholat subuh, kami semua terbangun..siap melanjutkan perjalanan kembali. Sayangnya tidak ada orang penginapan sama sekali di lobby, padahal KTP ayah disimpan pihak penginapan…dicari-cari, gak ketemu. Untunglah ada sesama tamu penginapan yang membantu mencari pemilik penginapan…ternyata pemilik penginapan sedang tidur dirumahnya yang letaknya dibelakang penginapan. Rugi waktu setengah jam-an mencari-cari pemilik penginapan, baru sekitar jam 05.30-an kami melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah Batu Kajang ini jalan mulai rusak parah. Daerah terparah kondisinya daerah perbatasan, ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan sehingga jalur tambah sempit. Dua kali kami berjumpa dengan truk yang susah mendaki dan ngadat ditanjakan. Untungnya ketika ketemu jalan rusak parah ini kondisi kami sudah prima setelah beristirahat semalam. Kami sempat berhenti membeli nasi kuning di sebuah warung di tepi jalan. Sekitar jam 09.00-an akhirnya sampai di Tanjung.

Di Tanjung sempat beristirahat 1 jam dirumah kakek saya dan makan di pasar (nyari sate itik ternyata tidak ada karena bukan hari pasar). Ketika kami sedang makan ikan bakar di pasar, pemilik warung bertanya sedang liburan ya? kok liburan kesini sih ? Baiklah…ini pertanyaan tersusah untuk dijawab…haha. Kami kembali mengisi penuh bensin di Tanjung sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

# Menuju Palangkaraya (Kalimantan Tengah), 5 Mei 2016 #

Beberapa teman sempat kami tanya tentang jalan menuju Kalteng, umumnya mereka menjawab jalan Buntok lebih hemat waktu daripada muter melalui Banjarmasin. Kota Buntok ini merupakan salah satu kota di Kabupaten Barito Selatan (Kalteng) yang berbatasan dengan Tanjung (Kalsel). Nah, melalui jalan inilah yang kami pilih menuju Kalteng. Kami sempat berhenti di Museum Lewu Hante di Pasar Panas, Barito Timur sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

20160510-112920.jpg

Kami berangkat dari Tanjung sekitar jam 10.00-an. Perjalanan Tanjung – Palangkaraya via Buntok ini mulus, lurus dan sepi. Kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan dekat Buntok, makan ikan bakar plus sayur dari rotan…rasanya mantap banget, saya suka banget sayur rotan tersebut.

Setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kota terakhir yang dijumpai adalah Buntok selanjutnya sepanjang jalan yang terlihat hanya rawa gambut dan awan berarak, jarang bertemu pemukiman. Sehingga kendaraan bisa di pacu dengan kecepatan tinggi…cuma masalahnya jalan lurus, mulus dan sepi adalah bikin ngantuk. Sepanjang perjalanan dua krucil tidur dengan pulas, saya berusaha menahan ngantuk menemani ayah yang nyetir dan tidak mau dibantu gantian nyetir…akhirnya saya ketiduran, gantian bungsu yang nemenin ayahnya nyetir.

Sekitar 16.30 sampai juga di Palangkaraya…nemu peradaban lagi tuh sesuatu banget…hehe. Kami berhenti sejenak di Taman Wisata Kum-Kum, cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Di Palangkaraya kami mengisi bahan bakar lagi sembari buru-buru buka agoda untuk mencari hotel.

Kami memutuskan menginap di Hotel Luwansa dengan tarif Rp 509.000,- permalam setelah krucil pake please-please-an segala meminta agar nginap disitu. Istirahat sebentar di kamar, mandi…malamnya jalan-jalan melihat-lihat kota sembari cari makan. This is it…petualangan hari kedua pun diakhiri dengan tidur nyenyak di kamar hotel…grroookzzZ…

==> Day 3

Tidur nyenyak di hotel yang nyaman itu sesuatu. Setelah semua mandi, krucil dan ayah sarapan di hotel, sedang saya packing barang kembali dan sarapan di kamar. Selesai krucil sarapan, barang-barang kembali dimasukkan mobil. Rencananya kami mau jalan-jalan dulu di Palangkaraya sampai siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Kami memutuskan check out pagi itu juga daripada muter kembali ke hotel lagi nanti malah repot.

Di Palangkaraya kami jalan-jalan ke Museum Balanga, Arboretum Nyaru Menteng, Danau Tahai, Bunderan Besar, Tugu Soekarno, Jembatan Kahayan. Cerita lebih lengkapnya lihat di postingan sebelumnya.

20160510-113108.jpg

# Menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan), 6 Mei 2016 #

Di perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Palangkaraya terjadilah diskusi dalam mobil. Saya ingin kami melalui jalan Buntok lagi untuk perjalanan pulang supaya gak capek. Tapi ayah dan krucil pengen petualangan masih berlanjut, gak seru kalau cepat-cepat pulang kan masih ada dua hari libur lagi, alasan mereka. Jadi mereka pengen perjalanan pulang melalui Batulicin yang artinya harus lewat Banjarmasin dan muter arah ratusan kilometer.

Ayah dan krucil pengen makan nasi kuning di Batulicin lagi, yang kata mereka nasi kuning terenak yang pernah mereka makan…hadeuh. Akhirnya saya setuju kami pulang melalui Banjarmasin tapi via Tanjung bukan Batulicin. Kita liat aja kondisi nanti, kata ayah. Lalu mulailah perjalanan menuju ke Banjarmasin sekitar jam 13.00-an melalui jalan Trans Kalimantan setelah sebelumnya ayah dan sulung sholat Jumat di jalan dulu.

Jalan menuju Banjarmasin ini sih kondisinya bagus cuma bergelombang. Ada jalan yang berupa jalan layang panjang banget disini, dibuat bukan karena jalannya padat tapi karena dibawahnya rawa…seru banget. Jalan menuju Banjarmasin ini tidak sesepi jalan via Buntok, kami sering berpapasan dengan kendaraan lain dan juga berjumpa pemukiman penduduk. Ditengah perjalanan kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan. Lalu berhenti lagi di Jembatan Barito, ikut-ikutan foto narsis karena kami lihat jembatan ini jadi objek wisata…banyak mobil dan motor berhenti dan penumpangnya foto-foto di jembatan ini. Biar kekinian, kami ikut-ikutan foto juga dong, gak mau kalah hehe…

20160510-113336.jpg

Kami sampai di Banjarmasin sekitar jam 17.00 dan sempat beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga lokal tentang sebuah alamat om saya. Kami berkunjung ke rumah om saya sampai jam 20,00 sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan sulung saya memaksa ayahnya agar memilih jalur melalui Batulicin, tapi karena saya sudah capek banget saya minta pilih jalur Martapura aja. Lalu ke Martapuralah kami…disini saya sudah capek banget, akhirnya kami memutuskan mencari hotel. Gak nemu ada hotel, buka agoda…gak dikenal juga Martapura di agoda. Akhirnya kami senemunya aja dijalan setelah muter-muter nyari hotel pada penuh semua (ingat coy, ini long weekend …hotel jadi penuh).

# Menuju Little House on the Prairie, 7 Mei 2016 #

Dengan pertimbangan setelah Martapura sudah desa-desa kecil yang tidak mungkin ada hotel, akhirnya kami muter balik ke arah perempatan Batulicin. Nemu hotel Roditha,seharga sekitar Rp 675.000, permalam….arrghhh diluar anggaran, overbudget. Budget saya untuk hotel maksimal 500rb (kecuali diluar negeri beda lagi hitungannya). Prinsip saya, kalau ada murah ngapain nyari mahal …saya gak perlu gengsi. Tapi kata ayah gpp tidur dihotel mahal sesekali.

Malam itu kami tidur nyenyak dan pulas. Esoknya, gak mau rugi sudah bayar mahal…sarapan harus maksimal dong, makan sampai kenyang…haha. Sarapan di hotel mahal itu ternyata menunya juga maksimal, banyak banget jenisnya, gak mau rugi cicipin semua…haha kamseupay mode on. Setelah sarapan, check out dan memulai perjalanan kembali. Kali ini ayah dan krucil kompak satu suara, pengen lewat Batulicin…saya akhirnya kalah suara, terpaksalah ikut suara terbanyak.

==> Day 4

Start dari hotel sekitar jam 09.00 -an lebih, kesiangan sih untuk memulai perjalanan panjang. Kondisi jalan Banjarmasin – Batulicin padat, beberapa titik rusak tapi so far so good lah…masih bisa ditolerir. Sekitar daerah Asem-Asem istirahat makan siang dan di daerah Tanah Laut isi bahan bakar lagi.

Tiba daerah Pagatan sekitar jam 15.00-an disambut hujan dan pemandangan laut dari jalan raya. Kami sempat berhenti sebentar di pantai Pagatan untuk memberi kesempatan krucil bermain pasir sembari meluruskan badan.

20160510-113539.jpg

Kurang lebih satu jam kemudian tibalah kami di Batulicin, sempatkan isi bahan bakar lagi lanjut check in di Hotel Harmony seharga Rp 350.000,-permalam. Istirahat sebentar, mandi-mandi…lanjut massage di spa yang berada tepat di samping hotel. Ini juga salah satu alasan krucil maksa-maksa lewat Batulicin, karena pengen dipijat ramai-ramai berempat di sini seperti yang kami lakukan pada January lalu..hadeuh. Selama pijat lagi-lagi kami ditanya pertanyaan yang sama ke beberapa kalinya…sedang liburan ya? kok liburan pilih kesini, disini kan gak ada apa-apa. Lagi-lagi ini pertanyaan tersusah untuk dijawab. Intinya selera kami agak berbeda dari kebanyakan orang. Mungkin bagi kebanyakan orang kami kurang kerjaan suka ngelayap ngabisin waktu berhari-hari di jalan untuk menuju kota-kota kecil, karena refreshing ala kami bukanlah melihat keramaian di mall atau sebuah kota. Refreshing bagi kami adalah melihat dan merasakan hal-hal baru. Selesai pijat, cari makan…setelah itu tidur, perjalanan masih jauh…good night …HmmmZzzz

==> Day 5

Seperti biasa, subuh kami sudah mulai kasak-kusuk lagi. Sekitar jam 05.00 check out hotel dan berangkat. Tapi di daerah pasar, berhenti dulu nungguin warung nasi kuning yang sudah diincar ayah dan krucil. Lumayan lama juga nungguin warung ini buka…niat banget kan muter ratusan kilometer dan nungguin warung buka sejak subuh hanya demi nasi kuning…hahaha…sesuatu banget :p

Setelah dapat nasi kuning yang diincar, sekitar jam 06.00 memulai perjalanan pulang. Sempat berhenti di pegunungan karst request krucil karena minta di foto di gua…sambil krucil bermain mencari kerang di pegunungan tersebut. Mencari kerang di gunung? Ngelindur kali? Beneran loh, di pegunungan karst ini banyak kerang-kerang kecil yang kemungkinan berdasarkan analisa sotoy kami dulunya jaman dinosaurus dulu wilayah ini lautan. Tapi jangan percaya deh, namanya juga analisa sotoy…hehe…

20160510-113646.jpg

Perjalanan lalu lanjut lagi sampai akhirnya sampai juga di Paser sekitar jam 11.00 siang. Di Paser kami mampir ke Museum Sandurangas, lalu belanja oleh-oleh di pasar dan membeli cemilan di minimarket plus isi bahan bakar lagi.

Perjalanan kemudian berlanjut lagi sampai Panajam, mampir makan bakso dulu. Sekitar jam 15.00 sampai di ferry. Tiket penyeberangan dari Penajam Rp 269.500.. cuss istirahat di ferry. Tepat jam 16.00 touchdown di hometown…yippie. Lumayan lelah untuk ayah bunda yang faktor usia tidak bisa dibohongin sementara krucil masih full of energy, masih bisa lari-larian sana sini…bener juga kata pepatah, mumpung masih muda banyakin liat dunia. Kalau sudah tua, ada uang tapi tubuh sudah tidak support….haha.

Perjalanan yang ditempuh Balikpapan-Palangkaraya (via Buntok) = 645 km + Palangkaraya-Balikpapan (via Batulicin) = 931 km.
Total yang kami tempuh selama petualangan kali ini ==> 1576 km.
Biaya Hotel selama perjalanan ==> 250 + 509 + 675 + 350 = Rp 1.784.000,-
Biaya BBM selama perjalanan : 125 + 180 + 80 + 125 + 80 ==> Rp 590.000,- (kondisi full dari rumah)
Biaya tiket penyebarangan ferry : 264 + 269 ==> Rp 533.000,-
Biaya lain-lain (makan, minum, nyemil, tiket masuk wisata, dsb) ==> Rp 3.593.000,-
Total Biaya selama perjalanan ==> Rp 6.500.000,-

Dan this is it….petualangan seru kami menjelajah sebagian wilayah Kalimantan. Begitu sampai rumah, yang dilakukan ayah adalah browsing untuk penjelajahan berikutnya… target berikutnya ==> Pontianak, kata ayah…hahaha. Ok deh kaka 😀





Batulicin, Kalsel

26 01 2016

20160126-082110.jpg

Day 1

Krucil kalau kelamaan di rumah gatal ngajak jalan, tapi kerjaan ayah yang tidak berjadwal menyebabkan kami susah mengatur jadwal jalan. Kemudian datanglah waktu yang ditunggu-tunggu…waktunya berpetualang lagi, yippie. Jumat sore sepulang kerja, ayah memberi kabar gembira…yuk kita berkelana. Bisa ditebak dong siapa yang senang? Krucil tentu saja 🙂

Semua serba dadakan, persiapannya ya dadakan juga sampai-sampai pakaian dalam si adek dan sabun mandi ketinggalan …yo wes lah, beli dijalan aja kalo ada hehe. Lebih aneh lagi, tujuan pun belum ada, yang penting ngejar fery dulu biar gak kemalaman nyebrang. Setelah persiapan yang terburu-buru, berangkat dari rumah sekitar jam 18.00, langsung masuk fery dan fery berangkat 5 menit kemudian. Kapal ferynya sih cepat, dalam waktu sejam sudah terlihat pelabuhan Penajam namun nunggu giliran merapatnya sejam-an juga, akhirnya baru sekitar jam 20.00 kapal merapat di pelabuhan.

Di Penajam kami beberapa kali berhenti untuk beli buah dan minuman di jalan serta nyari pakaian dalam untuk si adek, tapi ternyata toko pakaian anak yang ketemu di jalan malah tidak menjual pakaian dalam anak. Untungnya setelah ngubek-ngubek mobil, liat ada ransel yang memang selalu disediakan di mobil -berisi pakaian cadangan untuk petualangan dadakan seperti saat ini- ketemu juga pakaian dalam untuk si adek, petualangan bisa dilanjut deh.

Jalan Penajam mulus, hanya beberapa bagian rusak. Sekitar jam 23.00 kami sampai di Simpang Kuaro, disini kami berembuk dengan krucil, ke Tanah Grogot atau ke Tanjung. Saya dan bungsu pengen ke Grogot aja yang tidak begitu jauh, hanya kurang lebih 1 jam saja dari Simpang Kuaro tersebut. Sulung saya pengen ke kanan, arah Tanjung tapi tidak mau ke Tanjung pengennya ke Batulicin. Ayah netral. Ayah malah sempat mengarahkan mobil ke kanan sejauh beberapa kilometer sebelum kami berembuk lagi. Setelah dibujuk hari sudah tengah malam, ayah sudah ngantuk…akhirnya sulung saya setuju ke Grogot dengan syarat besok subuh lanjut ke Batulicin. Sip, setelah semua deal…mobil mutar arah lagi ke Simpang Kuaro menuju Tanah Grogot.

Di perjalanan menuju Tanah Grogot, kami berhenti sebentar di telaga ungu untuk menikmati pemandangan telaga yang besar dan dipenuhi lampu serta ada jam besar ala Big Ben. Krucil sempat main-main juga disini. Sampai di Grogot sekitar jam 24.00, seperti biasa kami nginap di hotel langganan kami kalau ke Grogot, yaitu Hotel Bumi Paser. Saatnya tidur…hmZzzzzz…

Day 2

Sulung saya sebelum dipaksa tidur sudah wanti-wanti, kita tidak usah lama-lama tidurnya, jam 4 subuh pergi lagi ya yah. Gayanya aja mau bangun subuh, dibangunin jam 4.30 aja susah, baru jam 5 subuh akhirnya krucil bisa dibangunin, sholat, krucil tanpa mandi langsung masuk mobil dan cusss…berangkaaat…

Berbekal peta dadakan yang dibuatkan oleh pihak hotel kami berangkat, agak bingung juga sih baca petanya, akhirnya google map pun diaktifkan plus nanya-nanya sama penduduk setempat. Jalan keluar dari Grogot rusak parah sepanjang beberapa kilometer, selebihnya jalan mulus…hanya beberapa bagian yang rusak sedikit. Jalan menuju Batulicin ini sepi, mulus dan spektakuler….hahaha *lebay deh*. Iya beneran spektakuler bagi kami, pemandangannya indah banget nget nget…mengingatkan kami sama petualangan kami saat menuju Phuket, sepanjang jalan terlihat karst-karst yang wow banget. Malah pemandangannya lebih indah daripada ke Phuket !

Sepanjang jalan kami jarang bertemu kendaraan lain, hanya truk-truk dan segelintir mobil lapangan dari perusahaan batu bara. Karena kami suka foto-foto, kalau liat pemandangan wow bawaannya pengen berhenti untuk foto-foto, masalahnya banyak banget pemandangan wownya…jadi kami memutuskan ntar aja foto-foto lagi, kapan sampainya ini kalau foto-foto mulu…hehe. Nah hebatnya atau lucunya lagi, kalau ngeliat kami berhenti di jalan, mobil-mobil operasional tambang suka melambat di dekat kami untuk memastikan “are you ok?”, atau minimal klakson dan melambaikan tangan. Senang rasanya bertemu orang-orang baik selama perjalanan.

Kami sempat berhenti sarapan nasi kuning di perkampungan, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Sekitar Jam 12.00 kami akhirnya sampai di Batulicin. Kalau orang nanya ada apa sih di Batulicin? Hmmm, bingung juga kami jawabnya, kami kesini tidak untuk mengharapkan apa-apa, hanya pengen jalan aja, melihat daerah dan suasana baru yang berbeda aja, menikmati culture yang berbeda, logat berbeda, dan kuliner yang berbeda. Inti setiap petualangan kami bukan pada tujuan akhir tapi lebih ke proses mencapai tujuannya itu, lebih ke perjalanannya dan petualangannya saja.

Setiba di Batulicin, nyari hotel…setelah debat sana sini sama krucil akhirnya mereka memilih hotel Harmony. Saya sakit kepala parah, akhirnya saya memutuskan untuk tidur sepanjang hari di hotel sementara krucil dan ayahnya berkelana melihat-lihat kota dan mencari makan. Sepulang berkelana, krucil heboh membangunkan bundanya dengan cerita “ada air terjun bunda, tapi harus naik kapal ESDP lamanya 1 jam…kata ayah kesorean jadi kapalnya sudah pergi…bla bla bla… Makanya bunda cepat sembuh dong, gak seru kalau gak ada bunda”. Hadeuh, tidak tahu bundanya sakit kepala parah nih krucil, berisik banget hehe 😉

Ayah yang kasihan melihat istrinya terkapar ngasih solusi “disebelah ada tempat reflexy dan massage, ke sebelah aja bunda biar enakan”. Biasanya saya gak pernah pijat-pijat, tapi karena sakit kepalanya gak hilang-hilang padahal sudah minum obat ditambah kasihan juga ngeliat krucil tidak bisa berpetualang karena bundanya, akhirnya setuju untuk pijat. Sore itu sekitar jam 17.00, kami pun ramai-ramai ke sebelah hotel…kebetulan banget nih ada massages dan spa. Ini petualangan paling menyenangkan bagi krucil, setelah berkelana dipijat bareng-bareng…haha. Sampai-sampai mereka mulai berbisik-bisik berdua mengatur rencana, “dek,mulai sekarang kita harus nyari hotel disebelah tempat pijat”..halah *tepok jidat*

Kami di tempatkan dalam satu ruangan besar yang disekat hanya dengan gorden, gordennya kami buka biar bisa ngeliat krucil…dan pijat ramai-ramai. Di pijat plus reflexy selama 1,5 jam, bikin badan segar dan ngantuk. Selesai pijat, kepala saya agak plong…jadi ketika krucil ngajak malam ini kita jalan liat kota ya bunda, bunda pun bisa ikutan lagi…horee…

Setelah pijat, kembali ke hotel, mandi, makan, sholat…dan jalan-jalan melihat kota. Malam itu kami ke Lampion Garden, ke pasar nyari jajanan, nyari cemilan untuk perjalanan pulang esok hari. Ayah awalnya mau ngajakin kami meneruskan petualangan sore itu ke Banjarmasin, tapi melihat istrinya tepar jadi ditunda dulu untuk next trip, terlebih setelah di pijat kami semua jadi ngantuk, bawaanya pengen ngeringkel di kamar hotel. Di hotel ayah bilang, berhubung kita tidak jadi ke Banjarmasin jadi kita bisa santai-santai aja sepanjang hari. Besok juga berangkat agak siangan tidak masalah, Batulicin-Grogot = 5-6 jam, Grogot-Penajam = 4 jam, fery = 1-2jam…sore atau malam kita sudah sampai di rumah lagi. Baiklah, sekarang saatnya ngorok….grok groookkkk…

Day 3

Jam 03.00 saya terbangun, liat jam ternyata masih malam. Mau tidur lagi tidak bisa, akhirnya rapi-rapiin barang, nyemil sambil nonton TV sampai subuh. Habis subuh malah ngantuk, tidur lagi. Gantian ayah yang bangun, sibuk-sibuk ngabisin buah-buah aneh yang dibelinya, kata ayah sih buah marimar, kata krucil buah mariana, kalau saya yakin itu buah ramania…haha. Jam 06.00 setelah sibuk bolak balik keluar, si ayah bangunin kami…sarapan sudah siap tuh dibawah, cepat bangun… siap-siap kita pulang. Krucil langsung protes, katanya boleh santai-santai aja. Ayah : iya, santai tapi jangan kesiangan, kalau siang panas…pak supir ngantuk nanti.

Melalui proses yang lumayan lama, akhirnya krucil melek juga dan selesai bersiap-siap kembali (tanpa mandi lagi…hihi) setengah jam kemudian. Makan nasi goreng, nyemil roti sambil nyomot kue yang disediakan hotel…cabut. Sekitar Jam 07.30 kami sudah berada di mobil lagi. Berhenti sebentar di Education Park, dan berhenti pula di warung nasi kuning untuk perbekalan di jalan…berangkaat.

Perjalanan pulang memang benar-benar dibawa santai, setiap saat berhenti untuk foto-foto dan menikmati pemandangan. Sulung dan ayah bahkan sempat memanjat salah satu karst (gak sampai puncak sih…cuma sampai bawahnya disemacam gua kecil), mereka kembali ke mobil membawa kerang-kerang mungil…loh dapat dari mana? Dapat di gua karst kata sulung…loh kok bisa? Walah jangan-jangan dulunya daerah ini lautan …wow keren. Kalau memang dulunya ini lautan, kerangnya nempel di dinding berarti abang ngerusak alam. Sulung saya : gak di dinding bunda, dilantainya. Kalau di dinding namanya fosil dong, gak boleh dicongkel-congkel. Huft…syukurlah krucil sudah ngerti menjaga alam.

Krucil kemudian memaksa, bunda nanti upload ya fotonya biar banyak orang bisa liat karst disini, bisa kayak Thailand dan Vietnam, banyak turis. Bunda langsung cerita tentang anjuran untuk tidak ngeshare tempat indah di group backpacker yang bunda ikutin, kenapa? Karena tidak semua orang punya kesadaran menjaga lingkungan, kadang banyak yang jahil dan tidak bertanggung jawab sehingga malah merusak alam yang ada. Mereka langsung bilang, kalau gitu jangan bunda share ya…jangan di upload…biar rahasia kita aja supaya tidak rusak dan tetap indah. Bungsu saya malah berbisik pelan pada dirinya sendiri, semoga tetap ada gunung-gunungnya…aamiin.

Akibat terlalu santainya kami selama perjalanan pulang, ayah keburu ngantuk…pak supir yang satu itu memang bawaannya ngantuk kalau nyetir siang, mana panas pula matahari bersinar cerah. Pertengahan jalan saya menawarkan ke ayah, biar ayah tidur dulu, bunda yang nyetir. Yakin nih? tanya ayah. Yakin dong, bunda kan memang supir spesialis jalan sepi hahaha. Dan kami pun tukar posisi, ayah tidur di belakang, bunda nyetir. Kalau jalan sepi gini sih gampil banget…*lempar bakiak, belagu loe* tapi ya maklumin aja kalau jalannya njut-njutan…hehehe 😛

Berhubung semua penumpang tidur, saya sendiri yang nyetir di jalan sepi begini jadi enak banget memang, kemudian mata saya melihat tulisan madu tawon dan tidak jauh dari rumah tersebut ada pohon besar yang banyak bergelantungan sarang tawon, dan bak aktor laga film Fast and Furious, si bunda si supir cadangan pun ngerem mendadak sampai ayah kejeduk dan terbangun kaget. Kenapa? saya pun ngasih isyarat…tuh madu. Madunya ternyata belum musim, oalah madu ada musimnya juga toh. Selang beberapa rumah, ada lagi yang jual madu asli…hmmm, patut dicoba nih, kalau dihutan gini harusnya asli beneran bukan abal-abal. Beli seharga 90rb/botol kecil, sambil berdoa semoga beneran asli habis warnanya cerah banget malah mirip minyak goreng. Lanjut…

Ayah yang terbangun langsung khawatir melihat cara istrinya menyetir, sudah sini ayah yang nyetir. Dengan sok-sokan bunda menjawab, gak usah ayah tidur aja…don’t worry. Akhirnya ayah yang sudah tidak bisa tidur lagi sepanjang jalan ngasih perintah, ganti gigi… turunkan gigi… naikkan, kecepataanya jangan segini , kalau ketemu truk jangan terlalu mepet kiri, santai aja dan bla bla yang malah membuat stress supir cadangan. Sudahlah, daripada sama-sama stress, ayah aja yang nyetir kalau gitu…hahaha

Sekitar jam 12.00 kami sampai di Grogot. Sempat berembuk mau makan di Grogot atau di Simpang Kuaro, krucil memilih makan ikan dan ayam bakar di Simpang Kuaro aja. Kami tiba di Simpang Kuaro sekitar jam 13.00, makan ikan dan ayam bakar, sholat, nyari minuman dingin…lanjut. Sekitar jam 17.00 sampai di Penajam, langsung naik fery dan sekitar 1 – 1,5 jam kemudian touchdown di kota kami lagi. Home sweet home





Kerbau Rawa Danau Panggang, Amuntai

11 05 2015

20150511-093938.jpg

Jika anda penggemar tontonan atau bacaan yang berbau jalan-jalan dan berpetualang, mungkin sudah tidak asing lagi dengan kerbau rawa yang terkenal dari Hulu Sungai Utara, Kalsel. Kami sebenarnya dari dulu pengen banget ngeliat kerbau rawa ini tapi karena waktu yang belum ada ditambah tidak tahu letak persisnya, jadi ya baru kali ini kesampaian melihat langsung di TKP (halah..).

Seperti biasa, petualangan kami kali ini lagi-lagi dadakan seperti yang sudah-sudah. Si ayah kalau kelamaan kerja di lokasi, pulang ke rumah kalau gak tidur seharian sambil main game atau gak ya ngajakin anak istrinya berkelana…satu kata andalannya selalu, “lets get lost yuk”. Dan tentu saja, sebagai seorang petualang sejati, tawaran menggiurkan tersebut tidak mungkin kami tolak, jawaban andalan kami setiap saat “hayu”…hehe 😉

Nah, begitu pula kali ini. Sepulang dari kerja, si ayah bilang…jalan-jalan yuk. Sore itu pula sibuklah si bunda siapin ini itu, brek jejalkan dan berangkat. Baru di jalan bertanya, kemana yah? Jalan-jalan aja, sesampainya aja nanti. Hmmm…tipekal si ayah…baiklah, kami sih sudah biasa sama gaya jalan dadakan si ayah, cuma orang tua yang kadang suka bingung kalau nanya mau kemana sih kalian? Dan seringnya jawaban kami, belum tahu…hehe…

Semua yang serba dadakan membuat kami belum mempunyai tujuan, kata si ayah sih ke Kalsel tapi tujuan pastinya juga belum ada. Berangkat malam, subuh kami sudah di Tanjung. Disini saya baru tahu rupanya si ayah pengen ke Amuntai, katanya sih liat-liat aja sekalian nyari yang beda. Rasanya sih belum sah banget kalau ke Amuntai tidak melihat kerbau rawanya di Danau Panggang. Ketika ayah ngorok dengan sukses di kamar hotel, saya pun browsing tentang Danau Panggang ini. Info yang didapat dari internet sih katanya ada dermaga di Danau Panggang, tempat perahu (atau disebut ketinting) yang dapat mengantarkan pengunjung menuju tempat kerbau rawa ini berada.

Di resepsionis hotel kami mendapat info bahwa jalan menuju Danau Panggang ini ke arah pertigaan Alabio, disitu tanya saja sama penduduk sekitar kata resepsionis, ok deh. Setelah dari Candi Agung Amuntai, kami pun mengarah ke simpang Alabio, kurang lebih sih 8km dari hotel. Nah di simpang Alabio kami bertanya pada penduduk setempat, katanya sih belok kanan lurus aja terus sampai mentok kurang lebih 10km. Kami pun jalan lagi, setelah setengah jam gak nemu-nemu, kami nanya lagi sama penduduk…eh di jawab terus aja sekitar 11 km…pada akhirnya totalnya 25 km baru nemu ujungnya.

Dermaga Danau Panggang ini letaknya dekat pasar, paling ujung. Begitu kami melangkah menuju dermaga, beberapa orang langsung menghampiri kami bertanya hendak kemana. Ketika kami jawab bahwa kami hendak melihat kerbau rawa, mereka menawarkan perahu dengan harga 300rb pulang pergi. Si ayah yang kebingungan dengan bahasanya langsung menyerahkan urusan ini pada saya, sip…ini sih bahasanya mudah babanaran julak ai 😀

Nawar harga 250rb (konon sih tarifnya berkisar 250-350 tergantung nego)…eh ditolak mentah-mentah. Kemudian saya minta liat perahunya dulu…kami pun diajak kederetan perahu yang berjajar disitu, ketika ditujukkan perahu berwarna hijau…liat-liat, wah bagus nih dan lumayan besar, sip deh kalau gitu. Kami minta dipasang atap dulu karena kami sampai disitu ketika matahari sedang terik-teriknya (sekitar jam 12.30), jadi kami diajak mampir ke rumah pemilik perahu yang berada di bantaran danau. Perahu ditambatkan di semacam dermaga kecil rumahnya, kami disuruh naik kerumahnya dulu. Ketika pemilik perahu turun dari perahu, perahunya langsung goyang kanan kiri apalagi saat itu ada perahu lain melintas sehingga ombak dari perahu yang melintas tersebut menambah goyangan perahu kami…langsung jerit-jeritanlah krucils dan si bunda yang masih dalam perahu…(jadi malu ketahuan penakutnya..) ..hehe…

Sembari menunggu pemilik perahu memasang atap perahu, kami duduk-duduk cantik di teras belakang rumah pemilik perahu menatap perahu lain yang lalu lalang serta aktivitas lainnya disekitar situ…benar-benar suasana yang menenangkan walaupun dalam hati saya sedikit was-was naik perahu, maklum saya dan krucils tidak bisa berenang. Si ayah yang melihat nyali istrinya ciut langsung menenangkan, katanya petualang…kok takut? (laa ini sih menenangkan atau mengejek ya? hehe).

Setelah atap perahu terpasang, pemilik perahu memasukkan BBM cadangan ke perahu…yuk berangkat. Aktivitas di danau ini lumayan ramai…saya jadi bertanya-tanya sebenarnya ini danau atau sungai sih. Selain perahu ketinting ada juga speed boat dan perahu penumpang yang sedikit lebih besar dari ketinting yang memuat banyak barang salah satunya malah mengangkut dua motor dan satu sepeda…hebat. Ada banyak perahu yang jadi semacam toko atau warung berjalan, ada beberapa rumah di tengah danau dan lebih amazing lagi ada jejeran tiang listrik ditengah danau ! Sayang kami lupa ngecharge baterai kamera, jadi selama disini kami hanya mengandalkan kamera HP dan kamera tablet saja.

Danau ini benar-benar luas banget nget nget kebangetan. Sebagian besar tertutup sama enceng gondok, teratai dan tanaman air lainnya. Ikan-ikan berlompatan, burung-burung berterbangan, langit biru cerah, awan putih…indah banget. Walau panas terik kami benar-benar menikmati pemandangan yang terhampar di depan mata, bungsu kami yang awalnya takut malah jadi antusias sepanjang perjalanan. Kemudian perahu mengarah ke dalam sela-sela Ilalang tinggi hanya ada tersisa jalan untuk sebuah perahu, wuiih saya langsung merasa sedang berpetualang di Kenya, berburu kuda nil (efek kebanyakan nonton National Geographic)..mirip bener, suer. Mana pemilik perahunya manjat-manjat perahu lagi untuk mencari jejak keberadaan kerbau rawa.

Kemudian perahu jalan lagi menembus ilalang yang lebih tinggi…seruuuu. Kata pemilik perahu kalau siang gini kerbaunya biasanya mencar-mencar berendam karena panas, kalau mau liat yang banyak sore hari ketika kerbaunya sudah mau dimasukkan dalam kandang yang berada ditengah-tengah danau. Mendengar keterangan pemilik perahu, saya sedikit kecewa jadinya…hiks masa sudah sejauh ini berkelana tidak bertemu kerbaunya. Namun akhirnya kami bertemu juga dengan kerbaunya…banyak lagi, mereka sedang berendam dalam air. Kemudian kami diajak mampir ke kandang kerbaunya…banyak nyamuk dan lintah, ganas-ganas lagi nyamuknya. Pemilik perahu menawarkan untuk menunggu sampai kerbaunya masuk kandang sekitar jam 5 sore nanti (padahal masih jam 2-an ketika itu)..langsung saja kami tolak, kasian krucils kalau kelamaan.

Sudah ketebak dong siapa yang paling happy…krucils kami tentunya. Senang banget melihat antusias mereka, yang walau orang lain mungkin menganggapnya aneh.. ngapain coba ngeliat kerbau kurang kerjaan banget, bagi kami yang penting krucils senang, kami pun senang. Sekarang saatnya wisata kuliner…sate itik, itik panggang, gangan paliat..slurpp…





Candi Agung Amuntai, Kalsel

9 05 2015

20150511-062102.jpg

Terus terang kami sama sekali tidak tahu kalau di Kalimantan ada candi-candian juga seperti yang umum ditemui di pulau Jawa. Saya baru tahu subuh hari kalau tujuan pengelanaan kami kali ini adalah Amuntai, sebuah kota kecil sekitar 1-2 jam dari Tanjung. Saat ayah istirahat sekalian sholat subuh sejenak di sebuah mesjid di kota Tanjung (Kalsel), saya langsung browsing-browsing tentang ada apa sih di Amuntai itu. Dari hasil browsing itulah saya baru tahu kalau selain kerbau rawanya yang terkenal, di Amuntai (Hulu Sungai Utara) itu ada candinya. Nama candi tersebut adalah Candi Agung Amuntai. Tampaknya menarik nih ada candi di Kalimantan, harus dikunjungi nih…apalagi katanya ada museumnya juga.

Setelah istirahat sejenak di hotel, mandi, makan…tanya-tanya resepsionis…yuk mari. Letak candi ini sih tidak jauh-jauh amat dari hotel kami, tapi masuk gang sedikit jadi agak ribet juga nyarinya. Tiket masuk 4rb/dewasa dan 2rb/anak. Totalnya 12rb untuk kami berempat.

Tidak jauh dari pintu masuk terlihat bangunan tua tradisional yang bertuliskan Museum. Nah, tahu sendiri kan krucils, walau dalam mobil bilangnya untuk apa sih ke candi, langsung aja ke danau liat kerbau…tapi begitu masuk museum, siapa lagi yang paling heboh dan antusias kalau tidak mereka berdua. Isi museum ini sih tidak banyak, yaitu terdiri dari beberapa tembikar yang ditemukan saat penggalian, sebagian besar rusak dan pecah. Sebuah silsilah kerajaan, foto-foto saat penggalian pertama, sebuah alat musik tradisional Kalsel, dan sebuah tempat tidur khas Banjar. Walau isinya sedikit banget untuk ukuran sebuah museum, krucils bolak balik narik tangan ayah bundanya, nanyain ini apa, itu apa, disana belum diliat…disitu belum dilewati…hadeuh…

Baru setelah puas melihat isi museum mereka mau melihat candinya. Candinya sendiri tidak besar, mirip dengan pondasi rumah yang terbuat dari batu bata merah berukuran besar dan ditutupi dengan semacam aula atau joglo besar. Disini krucils malah tidak tertarik dan lebih tertarik pada penjual suling yang berjualan di taman depan candi ini berada. Pengelanaan kami di candi pun berakhir dengan suling yang tergenggam erat di tangan krucils 🙂





Menghabiskan Weekend ber Bamboo Rafting di Tanuhi

13 10 2014


Setelah hampir dua bulan dinas diluar kota, Jumat siang setelah krucils pulang sekolah tiba-tiba ayah menyuruh kami bersiap-siap. “Kita mau berpetualang sore ini, mau gak kalian?”, tanyanya. Whaaattt??? Sebuah tawaran yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lalu sibuklah si bunda siapkan ini itu, breek… jejalkan semua dalam mobil dan berangkaaat. Semua dadakan, tanpa rencana bahkan tujuan pun belum dipastikan hendak kemana. Gaya jalan-jalan ayah ya seperti itu, dadakan…tanpa rencana.

Setelah diperjalanan baru diputuskan, kami akan berbamboo rafting (balanting paring) di Loksado, kaki pegunungan Meratus, Hulu Sungai Selatan (Kalimantan Selatan). Lima tahun lalu saat krucils masih balita dan bamboo rafting masih belum begitu dikenal seperti sekarang, kami pernah mencoba bamboo rafting ini. Masih kebayang alam Loksado yang masih asri dan nyaris belum tersentuh…kami berniat mengulang petualangan di Loksado lagi sekaligus membuka memori krucils yang ketika pertama kesini masih pinyik bingit..hehe…

Lalu mengarahlah kami ke pelabuhan ferry di Kariangau sambil sedikit deg-degan…jangan-jangan antri nih seperti biasanya. Namun begitu sampai ferry, kosong melompong euy…mobil bisa langsung naik, yippie. Perjalanan ferry sekitar satu jam, begitu touchdown…matahari sudah hampir terbenam. Baru maghrib kami memutuskan istirahat makan sekaligus sholat. Lalu jalan lagi sambil beberapa kali berhenti tidur di jalan. Total perjalanan kurang lebih 12 jam, hari Sabtu sekitar jam 6 pagi kami pun akhirnya sampai di Loksado.

Begitu parkir, liat ke arah sungai amandit tempat bamboo rafting dilakukan…kecewa berat. Airnya surut banget pakai bingits…kalau seperti itu sih bakalan gagal nih misi berbamboo rafting. Rupanya kemarau panjang di Kalimantan berpengaruh juga pada debit air sungai amandit. Pengen nginap di tempat dulu kami nginap, kok kondisi seperti itu sekarang…banyak yang berubah di Loksado sekarang. Hutan-hutan yang dulu lebat dan perawan sekarang banyak yang gundul, entah terbakar atau dibakar…kata joki bamboo rafting kami sih dibakar untuk membuka lahan. Belum lagi udara segar dan dingin khas alam pegunungan diganti dengan kabut asap.

Menambah keyakinan kami bahwa tidak bisa berbamboo rafting hari itu, tidak seorangpun yang mendatangi kami untuk menawarkan bamboo rafting (dulu sih, begitu parkir mobil) ada aja yang datang menawarkan bamboo rafting. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki saja mengitari Loksado, meluruskan kaki yang tertekuk selama perjalanan panjang kami menuju tempat ini. Kemudian nyemplung ke sungai, main-main air. Krucils betah banget main disungai, ketika diajak nyari tempat lain aja (yang masih seputaran KalSel) langsung protes. Bahkan sulung saya ngomel-ngomel, ngapain sih kita jauh-jauh kesini, 12 jam dijalan kalau gak bamboo rafting…hehe 😀

Duile, ayah bunda sama kecewa juga kok bang…beneran deh. Untuk apa juga sih ayah bunda ngajak kalian jauh-jauh kalau gak untuk berbamboo rafting tapi kalau liat kondisi gini sih kayaknya gak bisa. Si sulung masih ngotot, ya tanya dong sama orang..hehe, bete banget dia gak jadi bamboo rafting walau sudah puas hampir satu jam main air dan nyari batu apung di sungai.

Akhirnya bertanyalah ayah pada penduduk setempat dan benarlah dugaan ayah bunda, gak bisa bamboo rafting. Kalaupun tetap pengen, hanya bisa sampai ke jembatan (laaa jembatannya sudah kami lalui tadi saat berjalan kaki). Nanggung amat kalau cuma sampai jembatan..tapi sulung memaksa, gak apa-apa yah, katanya dengan tatapan penuh harap. Melihat krucils yang ngebet banget, akhirnya penduduk tersebut menyarankan kami ke Tanuhi (kurang lebih 7km dari Loksado), disana air agak lebih banyak dari disini, mungkin masih bisa. Atau kalau mau ke air terjun haratai aja, 8km dari situ tapi harus naik ojek (motor) karena roda empat tidak bisa lewat. Hmmm…karena tujuan utama adalah bamboo rafting akhirnya kami memutuskan ke Tanuhi saja.

Setelah tanya sana-sini, kemudian kami disuruh ke depan kantor Kepala Desa Tanuhi. Biasanya bamboo rafting berawal dari Loksado dan berakhir di Tanuhi. Laa karena ini mulainya dari Tanuhi, berakhirnya di daerah bernama entah Lampihang atau Lumpiyang (lupa lagi saya) 8 km ke arah Batu Licin (3 jam perjalanan melalui sungai). Biaya yang dikenakan 300rb dan karena mobil parkir di Tanuhi, jadi sewa ojek lagi 30rb untuk kembali ke Tanuhi.

Awalnya rakit bambu yang dibuat langsing banget, begitu kami disuruh coba naik. Krucils naik aman, saya naik…rakit sedikit terendam air tapi kondisi masih stabil, ayah naik… rakit oleng dan terendam banyak air, joki naik.. rakit oleng kanan kiri…jerit-jeritlah saya dan krucils…hahaha. Akhirnya di tambah 3 batang bambu lagi di kiri kanan, baru deh jalannya stabil…nah ini baru mantap…berangkaaattt…

Seperti dulu, kami pun menikmati rafting menggunakan rakit bambu ini. Menurut kami, terutama ayah dan saya, pemandangan saat berbamboo rafting Tanuhi-Batu Licin ini lebih top dibanding Loksado-Tanuhi. Hutan-hutannya lebih lebat, berkesan mistis, ditambah kabut dan sepi serta hening. Disini benar-benar hutan, berbeda dengan Loksado-Tanuhi yang kadang-kadang masih bertemu aktivitas manusia di sungai, seperti mandi, mencuci dan mencari ikan. Seruuuu…pakai bingit. Sayangnya kami sudah agak kesiangan memulai petualangan ini (sekitar jam 10 pagi) karena nunggu rakit dibuat dulu, sehingga pertengahan jalan sudah kepanasan, matahari sudah bersinar cerah yang walau tertutup asap tetap aja panas.

Siapa yang paling heboh? Sudah ketebak dong, tentu saja krucils paling heboh dan happy. Walau joki bamboo rafting nyuruh kami duduk tapi krucils grasak grusuk berdiri ngambil foto, bantuin joki dayung rakit pakai bambu yang dikasih joki, sibuk ngoceh, sibuk nyelup-nyelupin kaki ke air…pokoke hepi banget deh. Sementara itu si ayah ngorok dengan tenangnya dibelakang…haha kasian pak supir ngantuk. Sulung saya tiap ngeliat jeram, langsung maju kedepan ngambil foto…katanya siap-siap air beriak…hehe. Beda lagi dengan sulung, bungsu malah sibuk jerit-jerit tiap ada anggang-anggang yang naik ke rakit…takut ada laba-laba katanya (efek keseringan nonton National Geographic Channel tentang hewan beracun dan berbisa)…hehe.

Dan semua senang, walau handphone si bunda jadi error kecelup air (sebuah pelajaran baru dapat dipetik, lain kali kalau mau main air gadget taruh di tempat aman, kalau perlu tinggal dirumah…hehe). Selesai bamboo rafting, ganti baju dalam mobil, makan minum dulu (untung sudah beli banyak makanan dijalan) kemudian kendaraan pun mengarah ke Kandangan, saatnya nyari dodol dan sate itik…huraayyy. Kami memutuskan tidak jadi nginap di Loksado, kami akan menginap di Tanjung (kurang lebih 2 jam dari Loksado). Setelah hampir 24 jam belum nemu kasur, begitu ketemu kasur empuk rasanya sesuatu banget, nikmat banget… langsung bablas tidur. Bangun sebentar untuk makan malam di hotel, lanjut tidur lagi sampai pagi.

Jam 6.30 sarapan di hotel dengan menu nasi goreng plus ayam goreng, sementara sulung kwetiaw dan bungsu roti bakar dengan selai coklat plus ayam goreng (krucils memang hobi memadukan makanan manis dengan asin, pernah makan ice cream dicampur sosis…pokoknya suka-suka merekalah mencampur jenis makanan hehe). Selesai sarapan, mampir ke rumah datuk sebentar lalu lanjut ke pasar nyari kuliner aneh dan enak yang biasanya banyak bertebaran namun ternyata bukan hari pasar, langsung pulang deh jadinya.

Berhubung saat berangkat kami jalan malam, tidak kelihatan situasi jalan dan pastinya lebih sepi jarang bertemu kendaraan lain, jalan siang semua tampak jelas dan lalu lintas lebih ramai daripada saat malam sehingga tidak bisa melaju kencang. Kondisi jalan di KalSel mulus bener berbanding terbalik dengan kondisi jalan di KalTim, yang lebih banyak rusaknya daripada mulusnya. Paling parah di perbatasan sampai ke Muara Komam, sedikit mulus lalu rusak lagi sampai Batu Kajang, kemudian mulus lagi sampai Penajam. Lama perjalanan kurang lebih 6 jam dari Tanjung. Istirahat di Tanjung memang menghemat tenaga dan waktu.

Jam 3.30 masuk ferry, jam 4.30 touchdown di hometown. Petualangan akhir pekan pun ditutup dengan cucian segunung, yang walaupun sedang capek dipaksain nyuci karena hari Senin konon katanya PDAM akan menghentikan aktivitasnya karena krisis air …hiks..hiks…nyuci sambil mata sepet nahan ngantuk 😥





Hunting Foto Bersama Duo Krucil di Martapura, Kalsel

7 07 2012


Kalau punya banyak waktu sih, kayaknya gak afdol banget kalau ke Kalsel tapi gak ke Martapura. Martapura terkenal sebagai penghasil intan dan berbagai perhiasan dari batu serta sentra souvenir khas Kalsel sehingga banyak wisatawan yang mampir ke kota ini, apalagi letaknya juga tidak begitu jauh dari bandara. Tapi sebenarnya bukan itu saja yang terkenal di Martapura, dikalangan petualang yang paling dinanti sih pasar terapung Lok Baintannya. Sayangnya pasar terapung ini hanya ada subuh, jadi untuk wisatawan yang hanya punya sehari atau cuma mampir, ya gak bisa menikmati wisata yang satu ini. Tapi suatu saat, kami pasti akan ke Lok Baintan…Lok Baintan, wait for us…hehehe..

Nah, berhubung untuk memasuki Kalsel melalui Tanjung demikian pula pulang ke arah Kaltim pasti melalui Martapura, serta kami juga gak buru-buru banget seperti yang sudah-sudah, jadi kali ini kami bisa mampir di Martapura. Ketika uci & kai mencari apapun yang mau dicari dipasar dekat sentra souvenir, saya dan duo krucil saya bermain sekaligus hunting foto di Lapangan Cahaya Bumi Selamat serta mencari perhiasan di sentra souvenir dan kerajinan permata untuk si bungsu saya yang entah nurun dari siapa, suka sekali koleksi perhiasan…hadeuh…

Kenapa lapangan ini di sebut “Cahaya Bumi Selamat”? mungkin (hanya mungkin loh, karena saya juga tidak sempat bertanya) karena lapangan ini berisi tugu-tugu yang bertuliskan Asmaul Husna. Lapangan ini sendiri masih dalam lingkungan sentra souvenir dan kerajinan batu permata serta terletak tepat diseberang kantor bupati. Lapangan sendiri bersih dan tersedia beberapa permainan anak. Sedang di sentra souvenir sendiri, banyak tersedia berbagai jenis perhiasan dari batu, maupun intan, juga berbagai pernak-pernik khas Kalsel seperti ukiran-ukiran, baju-baju bertuliskan Kalsel, atau Banjarmasin dsb. Ya kalau di Samarinda mirip Citraniaga, atau Kebun Sayur kalau di Balikpapan. Kalau saya sih hanya membeli perhiasan dari batu untuk si bungsu, dari segi harga sih menurut saya cukup murah (PS : saya belum membandingkan dengan perhiasan serupa di kota lain karena saya bukan penggemar perhiasan).

Disebelah sentra souvenir ini, ada deretan penjual aneka cemilan. Dari yang kami lihat sih, yang paling banyak dijual adalah kue kelepon (hampir semua penjual menjual kue ini), juga jengkol. Jadi buat penggemar jengkol, kayaknya wajib mampir ke tempat ini deh…hehe. Wrap up..hasil saya bermain bersama duo krucil di Martapura adalah beberapa foto dan kalung serta gelang dari batu untuk si bungsu..hehe..





Berkelana Bersama Duo Krucil di Kota Tanjung

6 07 2012


Berkunjung ke kota lain tapi ngedon di rumah aja? Bukan gue banget (kalo bahasa gaul anak muda sekarang). Berkunjung ke kota lain ya saatnya ngulik-ngulik dong, mengeksplore kota, berwisata kuliner, jalan-jalan dsb. Itu sebabnya, saya gak betah banget ngedon dirumah doang walau duo krucil langsung dapat teman bermain di rumah. Kalo cuma di rumah sih, mending di Balikpapan..home sweet home..hehe..

Setelah seharian tidak bisa bepergian kemana-mana karena uci tampak waspada ketika si bunda (saya) minta kunci mobil. Maklum dimata ibu saya, saya supir spesialis jalan datar dan sepi…jadi beliau selalu waspada kalau anaknya mau nyetir mobil di jalan raya terlebih bawa cucu tersayang. Mau jalan nebeng sepupu pakai motor, kalau meminjam istilah seorang pelawak merupakan hil yang mustahal, karena belum apa-apa duo krucil nangis minta ikut. Kalo ikutan, mau naruh duo krucil dimana? masa iya di stang..hehe..Jadi terpaksalah dari pagi-siang stei et hom (stay at home).

Menjelang sore cuaca bersahabat, duo krucil juga sudah mandi. Jadi ada alasan nih jalan-jalan sore bersama duo krucil, saatnya berkelana menjelajah Tanjung..yippie.. Untungnya duo krucil memang sudah kami (saya & si ayah) didik untuk menjadi generasi penerus backpacker Indonesia…halah…maksudnya sudah kami latih supaya tahan mental berpetualang bersakit-sakitan (jalan kaki jauh, naik kendaraan umum, hotel kelas teri, dan fasilitas minim lainnya, yang penting kan bisa melihat bahwa dunia itu luas dan indah serta bisa dinikmati siapapun dalam kondisi apapun). Jadilah walau ijin berkendara tidak turun, kami bisa jalan kaki…hehe…

Dan untungnya lagi, rumah masa kecil papa (kai) tidak jauh dari pusat kota, yah paling 2 km aja. Berjalan kaki pun bisa sampai asal betah jalan kaki aja…hehe..Maka dengan formasi si bunda paling ujung dekat jalan, si bungsu di tengah dan si sulung ujung dalam..kami bertiga pun jalan kaki menikmati kota Tanjung. Pertama-tama yang saya cari apalagi kalau bukan ATM, kayaknya hati tenang deh kalau ada cukup duit di dompet…mau belanja pun jadi gampang (ya iyalah…hehe).

Setelah ada suntikan dana segar yang baru diambil di ATM, kami pun menyeberang ke depan ATM yang terletak tepat di seberang Taman Kota Tanjung. Duo krucil sih langsung heboh melihat aneka permainan anak yang tersedia di taman kota ini, ada ayunan, sliding (perosotan), jungkat-jungkit, dan panjat tali. Duo krucil senang, si bunda pun hepi…alhamdulillah krucil terbiasa ikutan emak babenya backpackeran, main yang gratisan atau murahan pun tetap hepi…wkwkwk. Sepupu saya bertanya, kok saya mau membawa krucil ke tempat main murahan (alias gratisan)..prinsip saya sih, mau mahal kek atau murah kek, sama-sama permainan…jadi selama krucil hepi, gak masalah. Lah, mereka senang terhadap apapun kok, jadi kalau ada yang murah ngapain nyari yang mahal…kan lumayan irit, uangnya bisa ditabung untuk next adventure…wkwkwk..

Selama di taman kota, krucil sibuk mengeksplore berbagai permainan gratisan yang ada di taman kota. Bunda pun betah mengabadikan krucil, yang membuat si abang ngedumel “bunda nih ya…sibuk foto-foto terus” (jawab : “yaiyalah, kan kenang-kenangan untuk kalian, juga untuk ditunjukin ke ayah..kan ayah kasian gak ikut…hehe…). Setelah puas bermain di taman kota, kami pun nyeberang lagi…tepat di seberang taman ada air mancur. Foto-foto krucil lagi dong pastinya. Setelah itu baru nyeberang lagi (kok nyeberang-nyeberang terus yah ceritanya, iya soalnya bentuknya mirip lingkaran gitu deh..) ke pasar kota Tanjung.

Di pasar kota ini, ya ampyun…seumur-umur baru kali ini melihat pasar semacet dan seramai itu. Penuh banget dengan kendaraan, manusia yang berjubel, dan penuh sesak dengan pedagang. Sudah sore kok pasar malah ramai? Ternyata oh ternyata, saya baru ngeh…hari itu puasa nisfu sya’ban. Malam sebelumnya langgar depan rumah juga penuh dengan orang yang sholat sunat malam nisfu. Nah ini belum seberapa kata sepupu saya ketika saya ceritakan pengalaman kami di pasar, katanya bulan Ramadhan jauh lebih ramai lagi. Kebayang kan kalo puasa sunat nisfu aja begitu ramai dengan orang yang mencari bukaan (makanan) untuk berbuka puasa, apalagi Ramadhan?

Ini artinya apa? artinya bahwa di Kalsel terutama Tanjung, masyarakat sangat agamis sekali. Ini mengingatkan kenangan saya waktu kecil ketika nenek saya masih ada dan Tanjung masih kota sangat kecil. Ketika itu, Ramadhan di Tanjung lebih terasa khusyu karena dimana-mana terdengar suara orang mengaji, atau kentongan saat membangunkan sahur, atau berjalan kaki keliling kampung membawa obor sambil takbiran. Walau Tanjung sekarang berkembang pesat dan jadi kota besar (satu-satunya kabupaten di Indonesia yang ada hotel berbintang (Aston)), tapi kegiatan keagamaan masih kental dipegang teguh masyarakat…semoga tidak pernah luntur, amin.

Kembali ke cerita, agak susah juga memaksakan diri berjejal-jejalan masuk pasar terlebih bawa dua anak kecil. Takut kenapa-kenapa dengan duo krucil, saya memutuskan putar arah…balik grak, waktunya pulang aja deh apalagi hari juga sudah terlampau sore, pasti krucil dicari uci kai. Saya hanya sempat membeli kue khas bingka telur di dekat pintu masuk pasar saja. Sesampai di rumah, krucil memang sudah dicari uci kainya, plus teman-temannya..duh baru juga kenal sehari sudah klop aja…hehe.

Dan misi berhasil, membawa krucil berkelana melihat kota Tanjung ternyata bisa. Tidak satu pun dari mereka mengeluh walau harus jalan kaki pergi-pulang. Biasanya selama ini kalau berkelana jalan kaki jauh selalu ada ayah sehingga kalau ada yang capek minta gendong ada yang bisa gendong. Tapi kali ini krucil tidak ada yang rewel malah senang sekali. Wah kalau kayak gini sih, kapan-kapan kita bisa liburan bertiga saja kalau ayah sibuk nih…^_^