Balada Histeria Midnite Sale

15 05 2012

Wahahaha… tawa saya pun pecah ditengah malam begini. Seorang diri dengan mata sepet akibat tak terbiasa begadang sampe jam segini (kecuali ada si ayah, itu sih beda ceritanya).

Belakangan ini euforia sale memasuki waktu yg agak unbelievable menurut saya, midnight! OMG, kalo dipikir-pikir siapa juga yg bisa (sanggup) mengganjal mata sampe waktu pergantian hari, kecuali penderita insomnia tentunya. Kalo saya sih, agak-agak susah menahan mata untuk bisa tetap melek sampe jam segini terutama sejak memasuki usia emak beranak dua. Yah kecuali kalo sedang penasaran banget dengan ending sebuah buku (tapi biasanya tetap aja pada akhirnya saya ngorok duluan dibanding tahu ending cerita buku yg sdg dibaca dan penasaranpun terkalahkan oleh ngantuk yg mendera).

Dan untungnya saya hidup dikota yg nyaris tidak pernah mengadakan sale apalagi midnite sale. ups, salah deng…pernah saya membaca baliho sebuah pusat furniture langganan kami yg mengadakan midnite sale 70% tapi dimulainya jam 19.00Wita alias bukan tengah malam (yg membuat saya bertanya-tanya sendiri, kenapa juga dinamakan midnite sale kalo gitu? hadeuh…). Dan malam ini saya begadang akibat iklan besar-besaran yg disebar di fb, twitter, ataupun email tentang free seat sebuah maskapai penerbangan yg dimulai tepat tengah malam teng.

Dan jeng jeng…yak benar, seperti bisa ditebak…namanya juga sale, siapa cepat dia dapat. Dan akibatnya bisa ditebak, nyaris setiap orang berpikiran sama dengan saya, dan memulai perburuan tengah malam begini sehingga endingnya pada tahu dong…websitenya overload, kepenuhan oleh pengunjung. Walau dalam hal ini saya tdk memasuki websitenya, tapi menggunakan aplikasi khusus untuk gadget tertentu yg konon katanya lebih stabil dan anti antri…tetap aja, tidak bisa dibuka! Ampun deh…sudah bela-belain dikeheningan malam begini mengganjal mata sepet berair dengan batang korek api, hasilnya sia-sia…dan tawa saya pun pecah…wkwkwk…rupanya beginilah nasib rakyat jelata. Bahkan mau liburan pun harus penuh dengan perjuangan. Duh coba saya konglomerat, saya gak perlu begadang begini kali, cukup ongkang-ongkang kaki, mencet no telepon sambil makan anggur (kenapa juga anggur identik dg orang kaya ya? kenapa gak pisang, atau nenas, atau bahkan singkong? hadeuh pengaruh pencitraan soap opera nih..) dan nyuruh orang siapin jet pribadi karena besok saya mau safari ke afrika, atau monster hunt ke lochness, atau camping di amazone…

Dan case closed, sekian terimakasih…masa bodoh deh…mau free seat kek…mau hot seat kek…sekarang waktunya tidur. Ngrok..ngrok ZZzZzzz





Anak, Orang Tua dan Buku

22 04 2012

20120422-092352.jpg

Sudah lama yah gak nulis-nulis, maklum sibuk atau lebih tepatnya sok sibuk hehe. Kali ini saya tidak menulis tentang jalan-jalan kami, tapi lebih kepada budaya baca di masyarakat tanpa bertujuan apapun dan ditujukan pada siapapun. Hanya menangkap fenomena yang sering saya lihat dimasyarakat saja.

Saya belakangan ini berjualan buku anak. Ya sejak sukses mengikuti beberapa bazar, saya jadi serius menekuni bidang ini. Saya percaya bahwa budaya baca itu harus ditanamkan sedari dini, kecintaan pada buku harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu dari orang tua. Jika anak sering melihat orang tuanya membaca, dan terlebih selalu tersedia berbagai buku di rumah, anak niscaya akan turut mencintai buku.

Kenapa kita sebagai orang tua seharusnya menanamkan cinta buku dan budaya baca? Bagi saya pribadi, buku adalah sumber ilmu, sumber inspirasi, dan sebagai benteng diri dari hal negatif. Jika anak terbiasa membaca buku, saya percaya generasi mendatang tidak hanya menjadi generasi peniru, tapi juga pionir, generasi yang lebih berilmu. Dan tahukah anda? anak itu ibarat sponge,dia akan menyerap hal yang dilihat dan dipelajarinya lebih cepat dibanding orang dewasa. Jadi jika sedari dini anak sudah terbiasa membaca, maka ilmu yang diserapnya lebih banyak, dan ini juga menstimulasi kemampuan berbahasa dan merangsang saraf-saraf diotaknya untuk terus berkembang karena otak itu tidak statis seperti komputer loh bun yang kapasitasnya ya segitu tok, tapi dinamis (karena organik). Otak bisa berkembang ataupun mengempis sesuai dengan kapasitas yang sering digunakannya. Jika semakin banyak yang kapasitas yang dipakai, maka kemampuannya pun akan semakin besar. Otak lebih canggih dari intel processor 🙂

Dan sedihnya, saya sering menjumpai orang tua yang lebih suka membelanjakan uangnya untuk barang konsumtif (baju, HP edisi terbaru, mainan, boneka,dsb) dibanding buku! Saat bazar saya sering miris menjumpai anak-anak yang bolak-balik didepan saya, minta belikan buku ke orang tua, tapi orang tuanya justru menolak (Catatan : jika tidak mampu sih lain hal, tapi umumnya orang tua anak-anak ini super mampu loh). Alasannya, halah…anak saya masih kecil, belum bisa baca. Atau anak saya boro-boro bahasa inggris, bahasa indonesia aja belum lancar. Atau waduh..kok mahal bener ya? (Padahal emaknya aksi banget dengan emas bling-bling seantero tubuh, memegang HP smart keluaran terbaru, keluar dari mobil produk teranyar. Mbok ya dijual satu tuh emas bu…bisa dapet banyak buku yang lebih bermanfaat untuk masa depan anak hehe). Atau ntar bukunya dirobek-robek aja mbak, gak dibacanya.

Dan menurut saya, semua alasan diatas adalah alasan dibuat-buat..nonsense, semua itu bukan alasan untuk tidak membelikan anak buku…apalagi jika anaknya sendiri yang memiliki kesadaran untuk (meminta) membeli buku. Kalo anak anda masih kecil, emangnya tidak boleh punya buku? Kalo anak anda belum bisa baca, apakah dengan dibelikan buku apa lantas anak anda akan jadi bodoh? Justru dia akan terpacu untuk bisa mengerti isi buku tersebut kan,ya tambah rajin belajar membacanya! Kalo anak anda belum bisa bahasa inggris, so what gituh? Kalo buku mahal, terus kalo beli PSP atau HP berjuta-juta agar jadi gaul tidak ketinggalan gaya bisa membuat anak anda lebih baik? Kalo beli buku dirobek-robek kenapa gituh? Anda lebih menyanyangi anak anda atau barang sih?

Saya pribadi sejak kecil menyukai buku, itu karena kebiasaan orang tua saya yang selalu memberikan hadiah buku tiap ada moment spesial (seperti ultah atau kenaikan kelas) dibanding memberi yang lain. Justru sampe sekarang kenangan itu yang saya ingat betapa serunya saya dan adek saya tiap liburan berembuk memilih harus membeli buku yang mana (karena dijatah 1 orang hanya boleh beli 1 buku) agar selama liburan tidak kehabisan stok bacaan. Akibatnya kami selalu memilih buku tertebal yang bisa dipilih (jaman dulu toko buku hanya satu, itupun stok bukunya terbatas). Terkadang malah kami tuker-tukeran buku dengan tetangga sebelah yang hobinya beli komik sementara kami lebih memilih novel dengan pertimbangan komik terlalu tipis, paling lama 1 jam sudah habis dibaca…hehe.

Dan saya ingin anak saya juga seperti saya, mencintai buku. Bagi saya, belanja buku lebih penting daripada belanja baju atau HP edisi terbaru. Duh buat saya pake baju itu-itu mulu sampe bulukan juga gak masalah asal anak saya punya buku terbaik yang sanggup saya belikan. Sejak bayi, baru lahir…saya sudah bacakan buku-buku untuk mereka. Siapa bilang mereka gak ngerti? Jangan sepelekan bayi anda, mereka ngerti apapun yang anda lakukan atau katakan, mereka bisa merasakan bahwa bundanya sedang membacakan sebuah buku. Dan kalaupun anda masih menganggap mereka belum ngerti, anggaplah mereka mengerti…dan pasti akan mengerti jika anda sering membacakan. Ingat bunda, otak balita ibarat sponge…inilah masa keemasan (the golden age), saat yang tepat untuk menstimulasi neuron-neuron mereka baik melalui kata-kata yang kita bacakan, maupun dari visual buku. Tiap bulan saya usahakan untuk membeli buku baik untuk saya, si ayah maupun untuk anak-anak…setelah bertahun-tahun kami pun mempunyai mini library, perpustakaan kecil dirumah. Hasilnya? kedua krucil saya alhamdulillah suka buku, si sulung bahkan mempelancar belajar bacanya menggunakan komik smurf (yang menurut saya bahasanya susahnya ampun-ampunan..hehe).

Kalau anak anda belum bisa baca, ya anda bacakan duong ah..plis deh. Atau kalau anda sibuk, belikan saja buku-buku yang menarik…sehingga walaupun mereka belum bisa baca, tapi dengan melihat gambar saja setidaknya akan menambah daya tarik buku bagi mereka. Contohnya si bungsu saya yang walau masih cadel dan belum bisa baca, tapi tiap ada kesempatan pasti mengambil sebuah buku dari perpustakaan mininya untuk diletakkan dipangkuan (kadang-kadang malah dibawa kemana-mana, sampe ke mobil, dalam tas sekolah atau tempat tidur segala yg akibatnya bisa ditebak, buku jd kucek atau robek sana-sini) seolah-olah bisa membaca (terkadang malah menceritakan sendiri isi buku versi dia hanya dengan melihat gambar).

Anak anda belum bisa bahasa inggris tapi dibelikan buku import? so what gituh? Kita lahir dan besar di Indonesia dengan bahasa ibu adalah bahasa indonesia, dan memang belum terlatih dengan bahasa inggris karena kita bukan bule! So what? Justru karena itu belikan buku berbahasa inggris, minimal bilingual, setidaknya mengenalkan ejaan-ejaan berbahasa inggris sehingga mereka familiar dengan kata-kata tersebut.

Buku mahal? hmm…iya sih, tapi herannya orang tua kadang malah lebih mampu beli yang lain yang lebih mahal (PSP contohnya) dibanding buku. Rekor buku termahal yang pernah kami beli adalah lonely planet edisi negara Indonesia seharga 500rb, yang walaupun mahal (bagi kemampuan dompet kami) bela-belain kami beli. Kenapa? Ya untuk dibaca, untuk mencari informasi, untuk anak-anak kami agar mengenal Indonesia (yang ironisnya info ttg negara Indonesia malah diperoleh dibuku terbitan luar). Kami bahkan pernah membeli sebuah buku seharga 250rb berbahasa inggris untuk kemudian dirobek-robek anak kami, beberapa kali bolak-balik direparasi tetap robek sana sini, yang justru malah pada akhirnya menjadikan buku tersebut jadi buku favorite mereka (yang walau belum ngerti bahasa inggris tapi sering minta bacain dan terjemahin ke ayahnya). Terus kalo mahal kenapa gitu? apa itu bisa dijadikan alasan? Lebih mahal mana, buku atau ilmu? Kalo buku mahal, tapi hasil didapat lebih..itu namanya bukan mahal babe.

Buku sering dirobek-robek? namanya juga anak-anak, mereka masih mengeksplorasi lingkungan mereka. Karena itu belikan buku sesuai usia, jika masih suka merobek, belikan boardbook (buku berbahan kertas tebal, yang tidak gampang robek, kecuali tenaganya seperti hulk) atau softbook (buku-buku berbahan lembut seperti terbuat dari kain, dan tidak gampang robek). Buku anak-anak saya sudah berapa korban dirobek-robek atau malah dicoret-coret. Kalo kata si ayah, biarkan saja robek, mereka belum ngerti, yang penting mereka mengenal dulu apa itu buku. Karena itu kalo mereka yang merusak buku sih saya oke-oke saja, tapi kalo orang lain yang merusak buku…saya baru tidak oke. Sono beli sendiri dong buku yang mau dirusak jangan punya anak saya…hehe..

Semua kembali lagi pada anda sebagai orang tua. Sudahkah anda membudayakan baca, mencintai buku, lebih mengutamakan membelikan buku daripada yang lain. Dan pada akhirnya semua kembali lagi pada anda, apa yang anda inginkan atau harapkan untuk anak anda? Kalo saya sih mengharapkan anak saya jadi generasi penerus yang lebih hebat dari ayah bundanya, generasi mendatang yang lebih mencintai buku daripada game atau yang lain. Generasi pioner yang bukan peniru. Generasi yang pandai dalam segala-galanya, dan itu semua insyaAllah bisa didapat dari buku sebagai jendela dunia.





Les Derniers Jours D’anastasia Kemsky

19 12 2011

20120113-102400.jpg

Ting ting ting ting ting ting ting…
Hayooo apaan coba? Bukan es mambo sedang jualan, bukan pula bel rumah yang sedang berbunyi, apalagi ayu ting-ting hehe…Belakangan ini saya suka banget dengarin ini, dentingan pianonya Richard Clayderman, judulnya ya seperti diatas ” les derniers jours d’anastasia kemsky”.

Mungkin karena keseringan ngeliat bundanya bengong depan you tube, sambil terpana menatap Richard memainkan jarinya di atas piano, si sulung berniat jadi gitaris…halah apa coba kagak nyambung hehe. Maksudnya dia berniat jadi pemusik juga, biar bundanya bisa terpana dan terbengong juga seperti saat mendengarkan les derniers ini.

Awalnya saya suka karena bunyinya, entah kenapa kok ya enak didengar gitu, hati juga jadi adem (es kalee adem) dengarinnya. Eh karena penasaran, saya cari tahulah arti judulnya itu. Ternyata artinya the last day of anastasia kemsky. Siapa itu anastasia kemsky? kenapa juga judulnya last day? what happen aya naon atuh sama anastasia. Ternyata, setelah dikulik-kulik, mungkin ini cerita tentang Anastasia Nikolaevna, atau di kenal sebagai Anastasia Romanov, putri Tsar Nicholas II, tsar terakhir dari russia yang dikabarkan menghilang saat terjadi pembantaian keluarganya saat revolusi bolshevik. Mungkin Richard Clyderman menciptakan lagu tersebut untuk sang putri. Atau mungkin juga ini malah bercerita tentang anastasia yang lain? Entahlah…

Yang penting, saat ini saya lagi suka banget dengarin lagu ini…ting ting ting ting ting ting ting ting….





Jatuh

11 12 2011

Katanya sih, bukan anak cowok kalo tidak ada bekas luka. Dan katanya juga sih, cowok yang punya bekas luka lebih “menarik” dibanding yang mulus-mulus aja. Adalah hukum alam, jatuh itu ke bawah bukan ke atas 😉

Mungkin karena keseringan nonton national geographic, yang menayangkan petualang-petualang alam liar yang tak pernah mengenal rasa takut. Si sulung terinspirasi ngebut menuruni bukit, dan entah bagaimana ceritanya -mungkin hanya Allah dan dia saja yang tahu, tak pernah dia ceritakan-, tadi pagi dia terjun bebas dari sepeda. Akibatnya? Dagu bocor, jidat benjol, tangan luka. Dan saatnya mengatakan…sempurna! Hehe..

Alhasil, seperti bisa dilihat di foto, bekas luka akan memberi tanda padanya: “emang anak cowok”. Dan entah karena lukanya, atau efek cahaya matahari, menurut saya..ini baru cowok keren, anak sulung saya terlihat lebih ganteng.

Dan ketika suatu saat nanti, jika dewasa kelak, abang membaca ini..ingatlah : “jangan pernah untuk takut jatuh sebab itu akan memberi abang pelajaran, jatuh itu biasa..yang paling penting adalah upaya untuk bangkit, dan lebih berhati-hati kedepannya”. Jadi..mari besok kita lomba sepedaan lagi menuruni bukit, tapi tanpa jatuh 😀 chayoooo…





Sakit

7 12 2011

Si sulung minggu depan UUB (ulangan umum bersama), sehingga hari minggu lalu dia sibuk membuat pengumuman kemana-mana. Mengirim email ke om nya, kakeknya…heboh seperti persiapan melawan LA Galaxy aja 😉

Dan tiba-tiba, sore ini demam sepulang outbond. Ya gak tiba-tiba juga sih, sudah sejak minggu badannya hangat. Katanya sih tadi disekolah minum jus mangga, dingin! Walah, sudah tahu ada larangan keras dari si bunda, dilarang minum minuman dingin…jadi beginilah.

Entah kenapa, si adek juga mendadak ingusan. Piye toh? Kompak bener sakitnya. Selalu saja begitu kejadiannya, si abang demam kemudian beberapa saat mulai pulih, adeknya tertular sakit. Bagaimanapun dicegah supaya si adek tidak tertular, akhirnya tertular juga. Parahnya, biasanya pake acara muntah dimana-mana, yang menyebabkan seprai bolak balik diganti plus ngepel sana-sini.

Kok sakit? Makan sudah 5x sehari, sarapan dirumah wajib. Disekolah pasti sarapan lagi, makan siang disekolah, sampe rumah makan lagi. Menjelang magrib, makan lagi. Belum termasuk nyemilnya. Olahraga? Hmmm, taekwondo 2x seminggu, sepedaan 2x seminggu. Yah, namanya juga anak-anak. Mungkin tertular dari teman-temannya, mungkin juga karena cuaca yg kadang panas, kadang hujan turut berperan.

Sedihnya kalau situasinya seperti ini : si ayah sedang berada di lokasi, dilaut atau di hutan entah dimana yang akses kemana-mananya susah. Bertiga sama krucil yang sakit, yang biasanya rewel & sering muntah. Rumusnya jadi : ayah kerja + duo krucil sakit = bunda begadang. Anehnya, begitulah yang sering terjadi. Sakit saat ayah di lokasi..hiks.

Bagaimanapun, semangat! Chayo! Semoga cepat sembuh duo bolangku, nanti kita sepedaan lagi sambil mampir di mie pangsit atau nasi kuning kesukaan kalian…ailopyupul..





Completely

14 11 2011


Hari ini duo krucil akur banget. Saat ngantuk tak tertahankan, si bunda pun ketiduran. Sehingga saat adek bangun tidur minta susu, si bunda yg masih dialam mimpi tidak membuatkan susu. Tapi, teng..teng..untung ada si abang yg baru pulang sekolah dan sudah berganti pakaian sendiri.

Abang pun membikinkan susu untuk adeknya yg emang susu mania. Baru kali ini abang bikin susu, dan hebatnya lagi, supaya susu gak berceceran selama dia bikin, abang sudah antisipasi dengan menaruh tisu dibawah dot susu adeknya. Hebat ! Ternyata anak-anak Bunda sudah pada besar, sudah mandiri. Love you pull

Dunia anak penuh dengan segala keajaiban. Terkadang saat orang tua menganggap anaknya masih kecil, anak malah melakukan hal besar yang menunjukkan kedewasaan mereka. Di saat lain, mereka juga mampu mengoreksi kesalahan orang tuanya. Anak memang permata hati, sumber hiburan bagi orang tua. Dan hari ini contoh bahwa dibalik sikap mereka yang masih senang bermain kejar-kejaran, rebutan game, jerit-jeritan ternyata juga bisa pengertian kalo bundanya sedang tidur.

Abang dan adek, you make my world completely…saat ayah bunda lelah, melihat kalian tersenyum semua lelah terhapus. Saat ayah bunda sedih, melihat kalian kami kembali bahagia. Saat ayah bunda sepi, ditemani kalian sepi menepi diujung dunia lain. Saat ayah bunda sakit, kalianlah obat paling mujarab bagi kami.

Welopyupul…muaahhh





OMG, Anakku Nge-Blog?

10 09 2011

Beberapa bulan lalu, sebuah operator seluler menelpon saya. Katanya saya sudah termasuk pelanggan prioritas 3 karena sudah 3 tahun lebih berlangganan internet. Dengan ujung-ujungnya menawarkan pada saya agar meng-upgrade prioritas saya menjadi prioritas 1, dengan tambahan kecepatan akses, data, dsbnya yg saya gak ngerti.

Walah, baru tahu saya kalo ada prioritas-prioritasan segala dalam perinternetan hehe. Saya emang baru-baru aja berlangganan Internet, tapi sudah masuk prioritas segala. Padahal yg saya buka cuma itu-itu aja dari dulu sampe sekarang. Apalagi kalo bukan facebook, atau blog, plus belakangan twitter.

Ya alasan utama suami saya memberlangganankan (bahasa yg bener gak ya?) saya Internet ya supaya saya bisa ngeblog. Mungkin pusing dengar celotehan istrinya, jadi disuruh bikin blog aja untuk penyaluran hobinya hehehe 🙂 Sekalian juga untuk merekam jejak hidup kami bersama duo krucil. Saya internetan emang untuk nge-blog.

Jadi begitulah, saya jadi lebih suka ngeblog dibanding buka-buka yg lain, berbagi cerita pada siapapun yg membutuhkan info atau yg mau dengan sukarela membaca blog saya 🙂

Tapi tanpa dinyana (duile keren banget bahasanya), si sulung saya ternyata sejak sudah bisa membaca & menulis, plus mendapatkan hadiah yg sdh dijanjikan, belakangan jadi rajin menulis di layar pribadinya. Macam-macam yg ditulisnya, dari yg deretan angka, kemudian huruf, kemudian sebuah kata, dan kalimat. Akhirnya si ayah mengajarinya mengirim email, agar tulisan-tulisannya tidak sia-sia, setidaknya yg beruntung dapat kiriman emailnya bisa membaca tulisannya.

Karena baru kalimat-kalimat sederhana, kami pun mendorongnya agar membentuk kalimat yg lebih komplit, kalimat-kalimat panjang berisi cerita-cerita pengalamannya yg ingin diceritakannya / di share kepada yg lain. Dan saya juga cerita tentang blog, bukan blok loh seperti yg dikiranya sebagai jalanan hehe.

Termotivasi cerita si bunda yg emang jago memotivasi orang selain dirinya sendiri hehe, si sulung pun sibuk membikin sebuah cerita. “Supaya bisa punya blog sendiri seperti Bunda”. Duh tambah terharu & bangga deh eike. Kenapa ada kata “tambah”? Karena sebelum membuat blog, sulung saya menyewakan layarnya ke ayah & adeknya seharga seribu rupiah perorang. Matre? Tidak! Ternyata alasannya sungguh luhur & mulia, uangnya untuk infaq…hiks..termehek-meheklah kami, bangga campur terharu *ngusap ingus sambil meras sapu tangan*.

Abang, if you someday still found this blog and read this, remember this one : whatever you do, do your best and just be the way you are. Bunda bangga banget sama abang. Dan mungkin lagu Yovie Nuno yg paling pas untuk menggambarkannya : “Bunda manusia biasa, yg tak sempurna dan kadang salah. Namun dihatiku cuma satu, cinta untukmu…luaaarrr biasaaaa”. Soooo proud of you! Lapyupul en Happy B’day ke 6 sayang…:D

PS : silahkan berkunjung ke blog advanture junior di http://KhalfaniAlvaro.wordpress.com





Lebaran yg Mengesankan!

30 08 2011

Seperti tahun sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan sebelum-sebelumnya lagi (sdh 8th), kami berlebaran di rumah orang tua saya di Samarinda. Alasannya? Ntah mengapa, harga tiket melonjak tak terkendali jelang hari kemenangan umat Islam tersebut. Ditambah lagi, jadwal kerja suami saya jg susah untuk dikendalikan, sangat padat hehe.

Tapi tahun-tahun sebelumnya, tak ada kejadian yg berarti untuk diceritakan, tak ada yg spesial. Hanya ritual biasa seperti keluarga-keluarga lainnya; kumpul keluarga, sholat ied di mesjid dekat rumah, makan-makan, kunjung mengunjungi.

Tahun ini ritualnya sih masih sama, tp ada beberapa hal yg mengesankan buat saya. Pertama, tidak seperti lebaran-lebaran tahun sebelumnya, kali ini lebaran tidak sesuai dg tanggalan merah di kalender! Prediksi kalender meleset 1 hari, wow! Agak mengacaukan rencana-rencana bagi sebagian orang.

Walau saya sdh bisa menduga beberapa hari sebelumnya melihat berita-berita yg beredar di internet bahwa Hilal belum terlihat. Tapi ibu saya selalu percaya lebaran selasa, sehingga tepat menjelang malam yg di”kira” malam takbiran, ibu saya sudah kasak kusuk masak spagethi ukuran jumbo. Dan seperti bisa di duga, setelah nobar (nonton bareng) sidang itsbath di tv, bisa dipastikan sahur, berbuka sampe lebaran menunya spagethi hehe.

Pada akhirnya di hari Selasa yg kelabu, selain sebagian orang masih dibingungkan memilih berpuasa atau berlebaran, juga dikarenakan cuaca yg mendung kelabu persis menggambarkan hari ini. Jalan-jalan sepi, toko-toko tutup, sebagian memilih berlebaran hari ini, sebagian lagi rabu. Kalo bagi kami sih…alhamdulilah diberi satu hari tambahan untuk menggenapkan puasa, kesempatan menambah amalan, kami ikut apa kata sidang itsbath aja.

Yang kedua paling mengesankan adalah..duaarrr!!! Yak, seumur-umur, baru kali ini, dimalam takbiran tahun ini yg terdengar bukan suara takbiran dari arah mesjid seperti biasanya. Melainkan…duaaarrr, suara berbagai petasan, mercon, laduman, kembang api mancur, dsb dst. Berisik dan yg pasti sih, bikin kaget.

Saya sih tidak anti kembang api kecil yg bisa dipegang dan lumayan aman untuk anak-anak, juga karena tidak mengganggu orang lain. Dulu sesekali saya belikan untuk anak-anak sebelum si sulung saya yg pemikir kritis suatu hari mengatakan sesuatu pada saya. Tapi itu cerita lain, nanti akan saya ceritakan. Nah beda ceritanya jika menyangkut petasan, mercon, sebangsa setanah airnya. Selain berbahaya juga berisik, suaranya yg menggelegar cukup mengganggu pendengaran.

Dari dulu saya sudah sebal banget sama orang-orang yg suka mainan petasan, mercon, kembang api mancur, atau sebangsanya yg selain mengeluarkan suara berisik bikin kaget juga mengeluarkan api-api besar. Dulu waktu kuliah di Bdg sendirian, banyak anak-anak main petasan depan rumah saya yg letaknya emang dipojokan. Sudah berisik, bikin kaget, eh gak bisa dikasih tahu lagi. Itu sebabnya saya jd trauma dan antipati sama petasan, mercon, dsb. Sehingga barang-barang seperti itu haram ada dirumah, dan saya cuma bilang ke duo krucil, benda-benda seperti itu berbahaya, gak usah kita mainkan.

Suatu hari, ketika saya sedang sibuk memasak dan duo krucil sibuk makan di meja makan, tiba-tiba sulung saya berkata : “bunda, jangan beli petasan/ kembang api ya. Itu sama dg bakar uang, lebih baik uangnya di infaqkan atau untuk makan”. Terus terang saya cukup kaget dg pernyataannya, walau si sulung memang cukup sering mengagetkan kami dg pernyataan-pernyataan maupun pertanyaan-pertanyaan hasil pemikirannya yg sering melebihi usianya.

Saya pun langsung mengiyakan, benar itu, petasan kan berbahaya. Kita bisa luka. Sulung pun menimpali “iya bunda, kata ustadzah (panggilan guru di sekolahnya) kalo bakar uang nanti Allah marah, kalo marah bisa dikenakanNya kita, kita bisa luka”. Oohh rupanya dia dengar ustadzahnya saat menasehati seorang temannya yg sedang main petasan.

Memang benar kata ustadzahnya, tepat & mengena sekali nasehat beliau pada anak didiknya. Kalo kita mau hitung-hitungan diatas kertas, minimal 1 orang menghabiskan uang Rp 20.000,- untuk sekali main petasan. Jika ada 1/4 saja dari 200 juta penduduk Indonesia bermain petasan/ kembang api, coba bayangkan berapa uang yg tersia-siakan hanya untuk kesenangan sesaat membakar petasan / kembang api. Belum lagi jika dikalikan 30 hari selama bulan Ramadhan, berapa banyak uang yg sebenarnya bisa memberi makan cukup kaum dhuafa di Indonesia. Sehingga kita tak perlu lagi tiap tahun menyaksikan hal mengenaskan kala anak-anak, dan kaum jompo berdesak-desakkan, tergencet-gencet, terimpit-impit bahkan kehilangan nyawa hanya untuk berharap sedekah kaum kaya seharga sebuah petasan/ kembang api.

Seperti yg kami alami malam takbiran ini, sudah sakit telinga & kepala mendengar petasan bertubi-tubi berbalas-balasan, duo krucil juga jd ketakutan, eh ternyata pesta petasan / kembang api terselenggara berkat sponsor resmi seorang warga. Dan tahukah anda, dana yg dikeluarkan untuk se dus kembang api/ petasan? Rp 1.000.000,- (1 juta)..wow harga yg fantastis untuk dibuang/ dibakar.

Andai uang tersebut dikasih saya, saya bisa pesankan katering untuk makan-makan warga satu kelurahan hahaha. Atau bisa membelikan sarung & peci untuk sunatan massal satu kecamatan hahaha. Atau bisa juga untuk sewa 3-4 bis untuk wisata ke pantai hahaha. Atau belikan buku tulis untuk satu sekolahan untuk stok setahun hahaha. Atau bisa juga…(lain-lain, silahkan isi sendiri sesuai imajinasi anda), pokoknya hal-hal produktif lainnya daripada perang petasan/kembang api. So, bijaklah dengan uang anda guys. Memang itu uang yg anda hasilkan sendiri, suka-suka anda menggunakannya, tapi alangkah baiknya jika digunakan untuk yg bermanfaat bagi orang lain.

Yang ketiga mengesankan yaitu hujan & banjir di hari H lebaran, hari rabu. Sejak subuh, hujan mengguyur deras membasahi bumi yg beberapa bulan ini agak kering. Sejuk, adem, dan bikin ngantuk. Yang jelas sih menyebabkan sebagian umat tidak bisa sholat Ied karena kapasitas mesjid yg terbatas.

Dan yang terakhir, yg keempat paling mengesankan adalah…*drum roll on* baru kali ini kami bisa lebaran di rumah sendiri dihari kedua lebaran. Semenjak kami nikah sampe skrg (sdh 8th), kami selalu lebaran di rumah orang tua. Tidak pernah sekalipun merasakan lebaran di rumah sendiri. Biasanya sih (karena dulunya suami saya kerja diluar kota) selama krucil libur sekolah (biasanya 1mgg sebelum & 1mgg sesudah) kami selalu dirumah ortu saya. Tapi sejak awal tahun, suami saya memutuskan kerja dekat-dekat rumah aja, sehingga akhirnya bisa juga lebaran dirumah sendiri walau cuma di hari kedua dan cuma bertiga karena sulung saya masih dirumah kakek neneknya. Dan lebaran dikomplek yg mayoritasnya “imigran” alias pendatang sepi, hampir 90% penghuninya mudik ke tempat asal. Tapi tetap senang kok ngalamin something new.

Dan akhir kata, kami sekeluarga mengucapkan : “mohon maaf lahir batin atas segala khilaf, Selamat Idul Fitri”. Mohon dimaafkan jika tulisan-tulisan saya selama ini mungkin menyakiti hati lembut anda tanpa saya sengaja, walau sumpe deh tulisan saya selama ini netral tidak ditujukan pada siapapun, hanya tulisan iseng yg ada di pikiran saya saat menulis. Maafkan ya 😀





Renungan Ramadhan

4 08 2011

Beberapa hari lalu, saya dapat berita bahwa seorang teman SMA dulu telah berpulang, inalillahiwainailahirojiun…

Berita ini mengejutkan dan sekaligus kembali memberi kesadaran pada saya, umur rahasiaNya. Tidak seorangpun mampu meramalkannya apalagi menghindarinya. Cepat atau lambat, pasti akan tiba saatnya.

Saya tidak pernah memikirkan usia, bagi saya usia hanya masalah hitung-hitungan diatas kertas, penanda resmi boleh tidaknya melakukan hal-hal yg menurut ketentuan harus berusia minimal sekian dan sekian. Walau bagi saya pribadi, saya dan teman-teman seusia dan seangkatan masih muda, tapi sekali lagi muda tua, sakit sehat, bukanlah penanda kapan kita pada akhirnya kembali pada Sang Pecipta.

Semalam saya bermimpi ala film suspense / thriller saya dikejar oleh orang tak dikenal, kemanapun saya pergi, dimanapun saya bersembunyi selalu dapat ditemukannya. Seperti itulah maut, kemanapun kita pergi, dimanapun bersembunyi kita tak dapat menghindarinya, menunda apalagi membatalkannya. Itu sebuah kepastian.

Dan berita-berita sedih dan sesak seperti ini, terlebih dibulan yg ditunggu-tunggu seluruh umat Muslim seperti sekarang, mengingatkan saya pada bekal apa yg sudah saya siapkan? Baik untuk orang-orang yg akan ditinggalkan (terlebih untuk anak), maupun bagi diri saya sendiri. Apakah bekal tersebut sudah mencukupi? Bagaimana dan apa yg mungkin saya perbuat, ucapkan, rasakan bila waktu itu sudah datang? Siapkah saya? Siapkah anda? Sudah siapkah kita semua?

Tak henti-hentinya saya berpikir dalam sholat setelah mendengar berita tersebut, apa yg dirasakan mereka di bawah sana? Apakah mereka sesak nafas seperti yg saya rasakan bila berada diruang gelap & sempit. Apakah mereka sedih? Apakah mereka kesakitan atau bahkan bahagia? Ataukah rasa itu sudah tiada lagi? Apakah mereka memohon diberi kesempatan? Sedang apa mereka? Apa yg dirasakan? Apa yg dilihat? Apa yg dialamin? Sekali lagi pertanyaan itu bergema menakutkan, siapkah saya sewaktu-waktu tanpa tahu kapan, dimana dan sedang apa, dipanggil menghadapNya?

Dan saya adalah manusia biasa, yg kadar imannya kadang turun, kadang naik. Kadang ingat, kadang lupa. Kadang sadar, kadang alpa. Kadang taat, kadang khilaf. Kadang insyaf, kadang bebal. Mungkin itulah sebabnya manusia disunahkan rajin nyekar ke kuburan, agar selalu ingat setiap manusia cepat atau lambat, pasti akan kembali padaNya. Dan berita-berita seperti inilah yg mampu mengingatkan kembali bahwa semua yg kita kejar didunia ini (harta benda, jabatan, popularitas, gengsi), kesenangan-kesenangan duniawi adalah semu, pada akhirnya harus berakhir juga.

Mohon maaf lahir batin atas segala khilaf, selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan. Semoga amal kebaikan sekecil apapun yg kita perbuat mampu menolong kita semua bila tiba waktunya bagi kita kembali padaNya. Dan bagi seluruh keluarga yg mengalami kehilangan agar diberi kekuatan, ketabahan, dan keiklasan. Amin yarobalalamin.





Hatcha…Watau…

21 07 2011

Sudah sejak dahulu kala, jaman prasejarah, jaman rikiplik saya pengen ikutan bela diri. Dulu sih alasannya sederhana, pakaiannya keren wkwkwk…kemudian alasannya naik tingkat saat mahasiswa, pelatihnya lucu (biasa pengaruh hormon ABG) hehehe…

Tapi alasan sebenarnya sih, from the bottom of my heart *pletok, lempar sendal* pengen jadi jagoan. Kayaknya seru juga kl bisa bela diri, serasa jadi jagoan dalam film-film silat & kungfu. Lu berani macem-macem sama gueh? Hatcha…watau…*sambil ngusap-ngusap hidung ala Bruce Lee*

Dan tadi malam, setelah sepekan ini muter-muter nyari dojo, tempat latihan bela diri, akhirnya nemu juga..yippie!!! Sebenarnya niatnya sih masukin duo bolang ikutan latihan (apalagi ternyata banyak anak kecil & playgroup juga yg ikutan), supaya mereka bisa membela diri serta rendah hati. Saya percaya, jagoan bela diri pasti terlatih untuk mengontrol dirinya, saat yg tepat untuk mengajari duo bolang tentang pentingnya nilai-nilai hidup.

Begitu memasuki arena latihan, aura semangat berlatih para jagoan mulai mempengaruhi saya. Waaahhh serunya, pengen ikutaaannn… Ya hitung-hitung nemenin duo bolang berlatih, juga sambil berolahraga, menggerakkan badan. Duo bolang juga terlihat bersemangat, terpacu oleh gerakan-gerakan yg diperlihatkan pelatih.

Kami kan kembali minggu ini saboem, tolong ajarin kami jurus-jurus jitu..hatcha…watau…