Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe 🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…

Advertisements




Taman Pintar, Jogjakarta

27 07 2016

20160728-045002.jpg

Di Jogja enaknya kemana ya? Ada banyak wisata menarik di Jogja yang belum krucil kunjungi, namun karena pertimbangan jauh dan waktu kami yang terbatas di Jogja, pada akhirnya kami memutuskan mengunjungi yang tidak terlalu jauh dari hotel kami di Malioboro. Apaan tuh yang dekat dan asik buat anak tapi juga penuh manfaat edukasi? Salah satunya ya Taman Pintar.

Sejak turun kereta dari Malang, krucil saya minta ke Taman Pintar. Baru hari kedua kami di Jogja, kami mengajak krucil ke Taman Pintar lagi (ya.. ini kunjungan kedua krucil ke Taman Pintar). Taman Pintar ini letaknya di samping Fort Vredenburg, bisa jalan kaki dari hotel kami. Tiket masuknya tidak menguras kantong yaitu 18rb/dewasa, 10rb/anak. Ditambah karena krucil pengen membatik dan melukis kaos, membatik 13rb/anak, lukis kaos 35rb/anak dan 5rb/sekali main perahu di wahana bahari.

Seperti biasa, krucil saya antusias banget disini…membatik, melukis kaos yang hasilnya dibawa pulang dan langsung minta dipakai sesampai di hotel. Sedang di gedung oval dan kotak sendiri, mereka antusias memperhatikan dan mempelajari science yang ada disediakan berbagai alat peraganya. Krucil juga sempat bermain peran sebagai pembaca berita Tepi TV , dengan membayar 15rb, kami mendapat CD rekaman krucil ketika membaca berita. Kami seharian disini, dari pagi sampai sore…waktu gak kerasa berlalu karena menemani krucil bermain sambil belajar dengan cara yang menyenangkan.





Jogjakarta – Solo – Semarang – Malang – Surabaya

3 07 2013

20130708-100059.jpg

Keliling Jawa? Siapa takut, malahan itu salah satu dari sekian banyak impian kami…menjelajahi setiap pelosok nusantara yang bagi kami lebih indah dibanding tempat-tempat sejenis di negara lain. Kadang kala, saya dan ayah berandai-andai kalau kami pindah tempat tinggal dulu, selama setahun menetap di tiap pulau untuk menjelajahi pelosok pulau tersebut baru kembali menghuni little house on the praire kami, pasti seru dan pasti krucils punya banyak pengalaman yang luar biasa.

Walaupun tidak bisa disebut keliling Jawa (kata sulung saya, bukan keliling Jawa dong bunda, kan enggak ke Jakarta, Bandung dan lain-lainnya…hmmm, benar juga ya bang…hehe), kami berkelana dari satu kota ke kota lain di pulau Jawa. Di petualangan kali ini lagi-lagi kami hanya bertiga yaitu saya (bunda) dan dua krucils saya, minus kepala suku (ayah) yang belakangan ini memang sibuk berat sehingga menitahkan kami untuk pergi berlibur sendiri eh bertigaan deng… Dan inilah kisah petualangan kami berkelana di beberapa kota di pulau Jawa.

# Menuju Jogjakarta, 16 Juni 2013 #

Rencana awal adalah liburan bareng tetangga dengan formasi sama seperti ketika kami liburan ke Makassar, namun beberapa jam sebelum keberangkatan pesawat, tetangga baru SMS…mereka gak jadi ke Jogja tapi mau ke Malang! OMG…yo wes lah, the show must go on… apapun yang terjadi, petualangan tetap harus terlaksana. Walau saya sudah mempersiapkan mental jikalau tetangga batal berangkat tetap aja jadi agak grogi. Sudah lama sekali saya tidak berpetualang seorang diri (terakhir kali berpetualang seorang diri saat masih berstatus mahasiswa, belum punya pacar apalagi anak! hehe), terlebih belum pernah hanya bertigaan dengan anak dan naik pesawat malam pula.

Dari Jakarta, ayah yang sedang bertugas di sana kirim semangat. Hayoo…kalian pasti bisa. Ya bisa dan harus bisa! Jadilah kami memulai petualangan kami dengan mengucap “Bismillahirohmanirrahim”. Dari rumah telp taxi minta jemput di rumah untuk diantar ke bandara. Selama perjalanan udara, tanda kenakan sabuk pengaman jarang padam, kalaupun padam sesaat kemudian menyala lagi. Menurut info dari ruang kemudi, kami menghadapi cuaca buruk dan jarak pandang hanya 7 meter…hmmm. Sesampainya di Adi Sutjipto (Jogjakarta) disambut rintik hujan, kami pun langsung menuju counter taxi bandara, tunjukin voucher hotel yang dituju dan duduk manis dalam taxi.

Sambil memandang rintik hujan yang mengenai kaca jendela taxi, kami memandang kota Jogja. Lebih dari 30 menit kami dalam taxi, yang seharusnya sudah membuat saya curiga karena berdasarkan hasil Map Direction, harusnya jarak tempuh bandara ke hotel kami di Kalasan kurang lebih 7 menit saja. Begitu sampai hotel, supir taxi bertanya apakah saya masih membutuhkan taxi lagi? Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab tidak, terima kasih.

Masuk hotel, dengan pedenya bilang sudah reservasi melalui sebuah situs pemesanan hotel online. Resepsionis pun langsung menyebut sebuah nama yang bukan nama saya, waduh…bukan mas. Tunjukin voucher hotel, begitu dia lihat baru dia tahu letak masalahnya.
Resepsionis : ” maaf bu, ini memang hotel xxxx, tapi yang ibu pesan adalah hotel xxxx yang di Kalasan sedang ini yang di Kenari”.
Saya : “memangnya beda ya ?” (pertanyaan culun yang tidak perlu jawaban)
Resepsionis : “beda tempat dan beda manajemen”
Saya : “jadi gimana dong mas?” (sebuah pernyataan konyol lainnya dari petualang yang belum apa-apa sudah kesasar), “tolong panggilin taxi kalau gitu”…hiks nasib nahas petualang untuk memulai sebuah pengelanaan, sudah malam gini…supir taxi yang salah ngantar juga sudah disuruh pergi tanpa meminta no telp…

Akhirnya kami pun menunggu taxi baru di lobby hotel. Begitu taxi yang baru datang, supirnya seorang bapak-bapak yang cukup berumur…dan parahnya dia pun tidak tahu dimana hotel kami berada sehingga harus nanya-nanya dulu sebelum menemukan hotel dimaksud…hahaha. Ketika ayah telp untuk ketiga kalinya malam itu, dia pun heran…kok dari tadi anak istrinya tiap ditanya, sudah di hotel? belum, masih di taxi…sudah 1-2 jam di taxi mulu, ngapain sih? Begitu diceritakan dia pun ketawa ngakak, makanya liat-liat dong. Saya yang jago ngeles langsung menjawab, “wah mana kami tahu kalau di Jogja sini hotel bernama itu ada dua”…wkwkwk…

Sampai di hotel langsung dapat sambutan hangat, rupanya ada anak salah seorang tamu hotel yang berasal dari Malaysia sedang berulang tahun. Begitu melihat krucils memasuki lobby, kami langsung diajak join b’day party tersebut. Eits, nanti dulu dong…lepas lelah dulu di kamar sebelum join. Ketika kami kemudian join merayakan ulang tahun bersama, dapat kue-kue dan minuman gratis plus tips wisata di Jogja.

Beginilah tips dari salah satu pengelola hotel yang dibaginya untuk saya :
1) Bergayalah biasa saja, jangan seperti orang baru atau turis. Biasanya begitu dikenali sebagai turis, harga-harga melonjak tinggi dari biasanya.
2) Tawarlah segala sesuatu setengah bahkan 70% dari harga yang di tawarkan, kalau tidak dilepas…tinggalkan saja.
3) Tanyalah dulu harga makan dan minum sebelum memakannya, karena harga makan minum sering tidak masuk akal jika ketahuan anda turis.
Baiklah…dimengerti, kami akan amalkan pak…tararengkyu tipsnya.

Kami menghabiskan waktu 5 hari di Jogja sebelum melanjutkan pengelanaan ke kota selanjutnya. Tempat-tempat yang kami kunjungi adalah Prambanan, Ratu Boko, Taman Pintar, Keraton, Museum Kereta, Fort Vredeburg, dan sebagainya. Tempat-tempat tersebut bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Menuju Solo, 21 Juni 2013 #
IMG_4173
Hari keenam, kami santai-santai dikamar hotel. Menurut jelajah dunia maya serta bantuan teman-teman di Backpacker Indonesia sih, kereta dari Jogjakarta ke Solo hanya ada dua, yaitu Sriwedari dan Pramex, dua-duanya kereta ekonomi. Saya pikir Sriwedari cocok untuk krucils karena walau ekonomi namun sudah memakai AC, liat jadwal di website PT.KAI, Sriwedari ada siang jam 13.00, baiklah…masih ada waktu, istirahat dulu.

Tapiiii…bukan krucils saya namanya kalau kehabisan energy. Sejak melek mereka sudah gak sabaran ke stasiun kereta, disuruh istirahat dulu malah heboh main kejar-kejaran…hadeuh. Akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 11, saya pun mengajak krucils ke stasiun menggunakan becak, yang langsung diprotes sulung saya “kok naik becak bunda? kan bisa jalan aja?” (yang sulung ini memang sudah keliatan bakat backpackernya nih…hehe). “Gpp bang, kita naik becak aja…bunda capek” (kalau yang ini sih niatnya aja yang gede pengen backpackeran, tapi karena sudah berumur kalah sama stamina…hehe).

Sampai stasiun Tugu Jogja, liat jadwal…tuuuh kan benar kata bunda. Jam segitu sih nanggung ke stasiun, mau naik Pramex sudah berangkat, mau naik Sriwedari baru ada jam 13.00. Terpaksalah nunggu dulu, loket baru buka jam 12.00. Begitu loket buka, krucils langsung berlari menuju loket untuk ambil antrian dulu. Saat tiba giliran kami, di loket diberitahu…hari ini tidak ada Sriwedari…semua Pramex…hadeuh, capcay deh. Daripada nunggu-nunggu kereta yang jelas-jelas gak bakalan nongol hari itu, saya ambil keputusan…pakai yang ada.

Harga tiket kereta tergolong murah, Sriwedari 20rb sedang Pramex 10rb. Dan karena hanya ada Pramex, saya cukup membayar 30rb untuk kami bertiga. Setelah punya tiket baru diperbolehkan mennggu didalam stasiun, agak lama juga kami menunggu hingga akhirnya kereta berwarna ungu masuk stasiun. Walau awalnya sulung saya pasang muka jutek karena pengen naik kereta AC, namun begitu melihat rangkaian gerbong kereta memasuki stasiun langsung lupa sama ngambeknya.

Kereta lumayan panas, gerah karena cuaca menjelang hujan terbawa hingga dalam kereta yang lumayan padat walau tidak ada yang sampai harus berdiri. Ketika saya bilang ke krucils, “panas ya”…sulung saya langsung menjawab jutek, “salah sendiri bunda beli kereta ekonomi”…hehe. Sedang bungsu saya yang biasanya lebih manja dalam hal fasilitas malah santai membalas abangnya, “gpp bang…yang penting naik kereta”…hehe (kasian deh jadi orang Kalimantan, jarang-jarang nemu kereta ^_^).

Lama perjalanan adalah 1 jam (kalau gak salah, lupa lagi), selama perjalanan kami jatuh tertidur. Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, liat ada polisi tanya “Pak, jalan Slamet Riyadi jauh enggak? Naik apa dari sini?”. Langsung dijawab polisi tersebut, “oooh dekat kok…naik becak paling 10rb, atau naik taxi warna hitam. Bisa juga naik mobit (langsung saya sela, apa tuh pak? angkutan umum jawabnya) dari seberang stasiun ini”. Baiklah…ayo anak-anak, kita cari transportasi yang dapat mengantar kita ke hotel di jalan Slamet Riyadi.

Tidak perlu jauh-jauh mencari kendaraan yang dapat mengantar kami ke hotel, tepat di pintu keluar stasiun…beberapa orang tukang becak berseragam biru menawarkan jasanya. Saat di tanya ongkosnya, dimulailah lelang dadakan, ada yang minta 25rb, ada yang 20rb…akhirnya ada seorang tukang becak yang berhasil memenangkan lelang yaitu 15rb…langsung saja saya menyerahkan urusan antar mengantar kami ke dia. Dan inilah rekor jalan-jalan termurah seumur hidup saya, 45rb untuk bertiga sudah diantar sampai hotel tujuan dengan rincian : kereta (30rb) + becak (15rb). Kata bungsu saya, “kita nih benar-benar backpacker bunda”…hehe 🙂

Kami menghabiskan waktu 2 hari (3 malam) di Solo. Sebenarnya saya lumayan betah juga di kota ini, tapi berhubung hotel-hotel di kota persinggahan selanjutnya sudah terlanjur dibeli dan bakalan repot lagi urusannya kalau harus mengubah hari, jadilah kami hanya singgah dua hari di kota ini.

# Menuju Semarang, 23 Juni 2013 #
IMG_4336
Hari kedelapan pengelanaan, krucils dan saya bangun subuh seperti biasa. Krucils langsung heboh bermain di hotel “bagus” yang dibelikan ayahnya khusus untuk krucils. Saat jam menunjukkan pukul 9 pagi, sulung langsung mengajak saya untuk ke Keraton…hadeuh bang, mepet waktunya. Hasil perhitungan bunda, paling tidak akan memakan waktu 10 menit dari hotel ke Keraton, itu kalau langsung dapat kendaraan (favorite kami adalah bis Trans Batik Solo)…kalau enggak, artinya waktunya bertambah. Belum lagi dihitung balik ke hotelnya, dan selama di Keraton yang kita tidak tahu situasinya apakah antri atau tidaknya.

Rencana awal, hari itu kami melanjutkan pengelanaan ke kota selanjutnya menggunakan bis. Buka blognya om Lomar (Indahnesia), konon katanya bisnya agak-agak susah nyarinya, dapat yang gak AC aja sudah syukur. Belum lagi info hasil jelajah dunia maya, yang konon terminalnya rawan. Telp travel satu-satunya yang melayani Jogja-Solo-Semarang. Dari info si mbak penerima telp, travel berangkat tiap jam. Yang jam 11 siang tersisa 3 seat lagi (yak, pas banget deh) namun hanya ada seat di paling belakang…yang depan penuh. “hmmm, bentar ya mbak…saya pikir-pikir dulu”.

Tanya krucils, mereka langsung menolak mentah-mentah ide naik travel terlebih tempat duduk di belakang. Pengalaman mereka, naik travel bikin mabuk. Mereka merengek-rengek naik bis AC. Akhirnya telp ayah, ayah cariin info ke chanel-channelnya tentang transportasi umum dari Solo tujuan Semarang, dapat info sebuah bis yang katanya sih AC dan mau menjemput ke hotel. Telp, ternyata hanya melayani tujuan Jakarta…halah dalah…

Keputusan harus diambil, akhirnya bunda ambil keputusan kami akan naik travel. Harga tiket travel 40rb/orang dan harus ngumpul di pangkalannya di Slamet Riyadi, yang walau masih satu jalan dengan hotel kami tapi letaknya ujung keujung. Setelah check out, di depan hotel tawar menawar dengan tukang becak yang mangkal dan deal di harga 20rb. Baiklah, berangkat mang…

Di pangkalan travel, rupanya belum ada yang datang…cuma kami bertiga yang baru keliatan batang hidungnya (walaupun batang hidung saya juga memang gak keliatan alias pesek hehe…). Titip barang, cari makan. Beli makan di sebuah resto fast food yang walaupun jualannya sama dengan fastfood lainnya cuma punya nilai plus dimata saya, selain menunya lebih variatif juga satu-satunya fast food yang saya temui menjual guava juice alias jus jambu, favorite kami.

Kembali ke travel dan menemukan beberapa retseliting ransel yang saya sandang dalam keadaan terbuka padahal perasaan enggak ada orang yang berjalan dibelakang saya. Sambil nunggu, krucils sibuk mencomot french fries yang di beli ketika akhirnya kami dipersilahkan masuk mobil minivan dan duduk dibelakang. Waduuuh, kayaknya bakalan ada yang mabuk nih kalau kayak gini, gak bisa liat jalan didepan…ketutup sama kursi-kursi yang ada di depan…hiks…

Sebelum jalan, kami diberi tiga buah kotak yang berisi sebuah roti susu dan sebuah air mineral…lumayanlah untuk menyibukkan mulut selama perjalanan. Begitu akhirnya mobil jalan, saya baru ngeh…idih, ternyata penumpangnya hanya bertujuh dengan komposisi satu orang bapak didepan sebelah supir, satu orang bapak dikursi deretan kedua, seorang ibu dengan seorang anaknya yang masih kecil di kursi deretan ketiga, dan kami bertiga di kursi deretan keempat alias paling belakang. Jadi isinya gak penuh-penuh amat…tahu gitu kami ikutan nyempil di kursi deretan kedua aja…hiks..hiks TT

Akhirnya sepanjang jalan saya dan sulung tidur nyenyak sementara bungsu disuruh tidur gak mau, baru pertengahan jalan akhirnya ikutan tidur juga. Memasuki Semarang krucils terbangun dalam kondisi sedikit mabuk, lama perjalanan 3 jam hingga hotel. Sebenarnya travel tidak mengantar sampai tujuan namun hanya sampai pangkalan travel di Jalan Pemuda, Semarang. Namun ketika saya minta tolong diantar sampai hotel kami di Jalan Pandanaran, supir mau mengantar dengan extra charge 20rb. Selama perjalanan menuju hotel kami ngobrol dengan supir travel tersebut, ketika dia tahu kami berasal dari Kalimantan langsung heran oleh 3 hal ; 1) kok sudah libur, padahal di Jogja belum libur sekolah 2) kok cuma bertigaan? 3) kok tahu tentang travel tersebut, memangnya infonya sampai Kalimantan sana ya?, tanyanya heran….hehe. Yang saya jawab hanya dengan manggut-manggut, gak enak juga kalau jawab…hadeuh pak, hari gini jaman internet segala info bisa cepat menyebar dalam hitungan detik.

Kami hanya 1 hari (2 malam) menikmati kota Semarang sebelum melanjutkan pengelanaan kami ke kota selanjutnya. Sebenarnya banyak sekali tujuan yang sudah masuk dalam list tujuan kami di Semarang seperti Museum Kereta di Ambarawa, Candi Gedong Songo, Karimun Jawa, dsb. Namun ketika kami bertanya-tanya di Tourism Information Center Semarang, kok petugasnya seperti tidak menguasai bidang ini. Tiap saya tanya ada wisata apa saja di Semarang, malah disodorin info tentang Borobudur…walah piye sih. Lain lagi ketika saya bertanya naik apa ke Candi Gedong Songo, laaa dia pun kebingungan menjawabnya apalagi saya? Atau ketika saya tanya tentang Museum Kereta di Ambarawa, eh dia malah melongo seperti baru dengar hal tersebut dari saya. Beda banget dengan petugas Tourism Information Center Solo yang selalu bisa menjawab semua pertanyaan saya. Daripada saya tambah bingung bertanya pada petugas yang seharusnya tahu tentang segala tempat wisata di wilayah ini, saya pun memutuskan…next time aja saya kesini lagi sama ayah untuk berkeliling semua tempat yang saya sebutkan tersebut. Saya hanya mengajak krucils wisata ke tempat terdekat dari hotel, Lawang Sewu, dan menjadikan Semarang sebagai kota peristirahatan saja…tempat kami lebih banyak berleha-leha di hotel mengumpulkan energy untuk petualangan selanjutnya.

# Menuju Malang, 24 Juni 2013 #
IMG_4323
Malam kedua di Semarang kami mulai kasak-kusuk. Si bunda kasak-kusuk packing-packing lagi, sedang krucils kasak-kusuk bermain hide and seek dilemari kamar hotel…ckckck…ada aja bahan permainan krucils…hehe..

Menjelang maghrib akhirnya kami keluar mencari makan. Tidak jauh hotel ada minimarket yang langsung saja kami jadikan tempat berburu cemilan untuk di kereta nanti. Kemudian lanjut makan steak yang ternyata harganya bersahabat banget dengan kantong backpacker, yaitu 7-15rb saja…wow…keyeeennn…

Jam 21.00 malam turun ke lobby untuk check out dan pesan taxi, nunggu taxi ini lumayan lama juga sekitar 30 menit. Diantar taxi ke stasiun Semarang Tawang hanya bermodalkan 15rb. Masuk stasiun, tunggu kereta Majapahit jam 22.20. Kereta Majapahit ini adalah kereta satu-satunya dari Semarang yang langsung menuju Malang. Umumnya kereta dari Semarang tujuannya Surabaya, yang selain harganya lebih mahal (karena kereta Argo) juga artinya kami harus muter ke Surabaya dulu. Jadi begitu saya dapat informasi ada kereta yang langsung tujuan Malang Kota Baru, langsung saja diambil walau kereta ini adalah kereta ekonomi namun sudah menggunakan AC, harganya 215rb/orang.

Begitu masuk kereta, ternyata tempat duduk kami di tempati orang, yang setelah di protes barulah dia kembali ke tempat duduknya. Dikiranya saya tidak membelikan tiket untuk krucils, sehingga tempat duduk yang berbentuk dua tempat duduk saling berhadapan bisa dimanfaatkannya untuk tidur. Padahal saya selalu membelikan krucils tempat duduk, membayar penuh harga tiket apapun itu demi kenyamanan krucils. Setelah penumpang yang berusaha memanfaatkan situasi tersebut kembali ke tempat duduknya, baru saya agak lega…krucils bisa tidur dengan lumayan nyaman.

Walau tempat duduknya tidak bisa diatur-atur seperti di kereta Argo, namun seat lebih yang ada memungkinkan krucils tidur sambil melonjorkan kaki. Sementara krucils tidur nyenyak, saya justru hanya bisa tidur-tidur ayam, sebentar-bentar terbangun. Selain karena mengecek keadaan krucils, mengecek barang bawaan (maklum naik kereta ekonomi yang berhenti di tiap stasiun yang dilalui), juga suara kereta yang lumayan berisik (berbeda dengan kereta Argo, entah karena perasaan saya saja atau memang demikianlah keadaannya) membuat saya kesulitan untuk tidur nyenyak sehingga agak susah bagi saya menikmati perjalanan ini.

Baru keesokan paginya, ketika krucils sudah mulai melek dan sinar mentari mulai menyinari alam, saya mulai menikmati perjalanan karena banyak hal yang bisa dilihat melalui jendela kereta. Persawahan, pemukiman padat dipinggir rel kereta, kendaraan yang berhenti di jalur kereta, orang-orang yang mulai beraktivitas dan sebagainya yang bagi saya benar-benar terasa indah untuk memulai sebuah hari.

Kami sampai di stasiun Kota Baru Malang sekitar jam 9 pagi, telat 1 jam dari jadwal yang harusnya tiba jam 8 pagi. Namun karena memang tidak sedang buru-buru, keterlambatan dari jadwal bukanlah suatu masalah besar bagi kami.

Kemudian dari stasiun Kota Baru Malang, kami naik angkot AL ke terminal Landungsari untuk kemudian naik angkot tujuan Batu. Hati kecil saya sih nyuruh naik taxi saja karena lebih cepat dan nyaman. Namun karena temanya backpackeran, dan juga supaya lambat sampai hotel (saya booking hotel tgl 25 Juni, tahu sendiri kan…biasanya jam check in adalah 12 siang sedang ketika jam baru menunjukkan pukul 9 pagi). Jadilah saya mengajak krucils berangkot ria dengan harapan begitu sampai hotel sudah pas waktu check in…hehe…

Namun ternyata, walau sudah berangkot ria yang jalannya kayak siput ditambah nunggu penumpang (ngetem) yang lumayan lama diterminal tetap saja kepagian sampai hotel yaitu jam 10 pagi. Belum waktunya check in yang konon katanya di hotel tersebut aturannya jam 2 (namun dibuat perkecualian khusus untuk kami, yaitu kalau ada kamar kosong boleh langsung check in) sehingga belum ada kamar yang kosong..halah dalah…

Kami hanya 1 hari (2 malam) di Batu Malang. Rencananya setelah dari Batu, baru kami turun ke Malang. Di Malang berleha-leha bertemu teman sekolah di Bandung dan cari oleh-oleh, lalu melanjutkan pengelanaan ke Surabaya. Namun beberapa alasan berikut membuat saya membatalkan semua rencana semula saya :
1) Suami dan orang tua saya meminta saya pulang cepat karena kasian krucils kelamaan berkelana, padahal yang tepar tuh si bunda bukan krucils. Malahan krucils saya minta perpanjangan waktu 1×24 jam lagi, kalau perlu 2×24 jam karena sulung saya masih punya misi ke Museum “Perang” (yang dimaksudnya adalah Museum Brawijaya, dinamakannya museum perang karena didepan museum dilihatnya ada tank) yang kebetulan dilihatnya dalam perjalanan ke Batu menggunakan angkot…hehe..
2) Saya yang KO jadi malas berkelana lagi, kangen ayah, kangen rumah …my little house on the praire. Pengen istirahat dirumah sambil nonton National Geographic Channel seharian sembari nyiram benih cabe yang disemai dihalaman belakang…hehe..
3) Saat di Semarang sempat liat-liat tiket untuk pulang yang belum saya beli karena jadwal pengelanaan yang belum saya pastikan. Ketika itu saya melihat status tiket pesawat yang masih ada seat adalah tanggal 27-29, selain tanggal tersebut tertulis dengan huruf besar FULL. Oh My God!

# Menuju Surabaya, 27 Juni 2013 #

Pagi hari tepat di hari ke dua belas petualangan kami, saya langsung mengambil keputusan cepat yang bahkan saya sendiri tidak sadar kalau sedang mengambil keputusan saking cepatnya saya mengambil keputusan tersebut…*opo toh maksudnya, gak jelas*.. hehe.

Saya putuskan sudah saatnya kami pulang. Hari itu juga kami akan melanjutkan pengelanaan ke kota selanjutnya sekaligus pulang. Setelah sarapan, saya langsung telp ayah mengabarkan kami akan pulang entah hari itu juga atau keesokan harinya, karena saya belum punya tiket ditangan…liat sikon di bandara nanti. Kemudian menanyakan ke resepsionis, apakah ada travel dari sana (Batu) langsung tujuan Surabaya tanpa saya harus repot lagi turun ke Malang dulu.

Resepsionis hotel yang baik itu pun langsung berupaya mencarikan kami travel langsung dari Batu tujuan Juanda (Surabaya). Umumnya travel yang ditelp berlokasi di Malang, salah satu travel yang mau menjemput ke Batu sudah penuh hari itu dari pagi hingga malam. Mas dan mbak resepsionis kemudian mencarikan alternatif lain, yaitu supir-supir yang dikenalnya yang mungkin bisa mengantar kami ke tujuan. Harga yang ditawarkan mahal, yaitu 400-500rb.

Alternatif lain, saya minta pesankan taxi saja yang dapat mengantar kami ke stasiun Kota Baru Malang, baru dari sana naik kereta tujuan stasiun Gubeng Surabaya, lalu lanjut naik taxi ke Juanda…kalau memang terpaksa. Kasian melihat krucils, mas resepsionis pun menelpon ulang supir untuk nego, ketika akhirnya harga diturunkan, saya langsung mengangguk setuju..deal di angka 350rb. Lumayanlah walau cuma 50rb turunnya, namanya juga backpacker…gak afdol banget kalau gak nawar… hehe…

Lucunya, ketika taxi yang akan mengantar kami langsung dari Batu (Malang) ke Juanda (Surabaya) datang menjemput, saat akan menaikkan barang…eh si bapak supir ngomong gini ke saya “sebenarnya 350rb itu harga lama mbak, sebelum BBM naik. Nanti kalau sudah sampai, tambah-tambahin dikit ya biar saya ikhlas”… * dan kemudian hening, daun-daun berguguran*…wahahaha. Baru kali ini nemu ada supir taxi yang gak ikhlas tapi tetap menjemput hehe. Tapi ya sudahlah…karena di daerah gempol macet ditambah si bapak supir yang sudah berumur dan tidak neko-neko plus perhatian terhadap kenyamanan duo krucils saya, sesampainya di bandara Juanda saya tambahin 20rb…biar ikhlas dan sama-sama ridho.

# Menuju Little House On The Prairie, 27 Juni 2013 #
IMG_4578
Sebenarnya ayah sudah bookingkan pesawat malam di sebuah maskapai penerbangan, saya hanya disuruh tinggal nunjukin kode booking dan melakukan pembayaran. Namun karena saya terus terang agak-agak panik kalau harus naik pesawat malam, setibanya di bandara Juanda saya langsung menuju counter Citilink yang setahu saya sih melakukan 3-4x penerbangan ke kota kami, jadi kemungkinan besar ada pesawat siang.

Begitu tanya, “ada pesawat jam 2-an untuk hari ini?”. “Ada bu yang jam 14.15”, jawabnya. “Oke, saya ambil itu untuk 3 orang”…eh begitu bayar malah dapat harga yang jauh lebih murah daripada pesawat yang dibookingkan ayah…lumayan hemat babe, selisihnya bisa kita pakai beli oleh-oleh dan makan minum dulu nih anak-anak…hehe. Kami tiba di bandara sekitar jam 13.00, jadi kami hanya perlu menunggu kurang lebih 1 jam-an saja.

Makan minum dulu di Juanda, beli oleh-oleh…masuk. Check in, nunggu sebentar sudah disuruh boarding. Sesampainya si kota kami, kami kembali disambut hujan seperti halnya kala kami memulai petualangan ini di kota Jogjakarta. Makan dulu lagi di bandara kota kami sebelum pulang ke little house on the praire kami. Saat pergi, tarif taxi bandara masih 45rb, ketika pulang sudah naik 55rb. Di rumah, rumpun bayam dan cabe hasil semaian benih yang dibeli di salah satu retail toko hardware terkemuka yang saat kami pergi tumbuh rimbun hijau di taman belakang, namun ketika pulang kami dapati dalam kondisi kering kerontang meranggas…lama tidak terkena air…hiks…

Mengutip kata sulung saya…”banyak yang berubah selama kami menghilang di Jawa”. Seperti halnya perubahan pada diri bungsu saya yang biasanya dikit-dikit minta gendong, namun dalam petualangan kami kali ini kata sulung saya “sudah resmi jadi anggota team” hehe, sudah bisa diajak jalan jauh dengan fasilitas seadanya. Bagaimanapun, petualangan kali ini membuat duo krucils saya terlihat lebih mandiri. Begitu ayah pulang, pertanyaan pertama yang langsung ayah tanyakan ke krucils saya adalah “mau kemana lagi petualangan kalian selanjutnya?”…hadeuh, sedang capek yah, malas mikirnya….tunggu aja petualangan krucils berikutnya, dadakan lebih seru…hehehe 😀





Belajar Astronomi di Planetarium Taman Pintar

27 06 2013

20130628-064212.jpg

Hari keempat di Jogja sebenarnya sebuah kesalahan akibat salah liat kalendar. Harusnya hari keempat kami sudah ngacir ke kota selanjutnya nih tapi karena terlanjur beli hotel untuk hari keempat, jadi ya sudah…tetap di Jogja dulu aja hitung-hitung istirahat.

Berhubung semua tujuan sudah di absen, rencana saya hari itu santai-santai di hotel atau gak jalan-jalan santai aja. Eh ternyata bukan krucils namanya kalau betah ngedon dikamar tok…akhirnya setelah berembuk dengan krucils, kami memutuskan ke Planetarium yang gagal diabsen saat ke Taman Pintar karena jam bukanya yang siang. Sembari nunggu Planetarium buka jam 13.30 nanti, kami pun rencananya jalan-jalan santai aja cariin ayah baju kaos. Ngider-ngider, beli baju kaos…liat dress batik lucu untuk si adek, sekalian beli juga, kebetulan stok baju bersih krucils menipis nih. Abang mau dibeliin baju nolak, katanya abang gak mau baju…beliin bros aja. Nah, disinilah masalah mulai timbul…

Bolak-balik Malioboro nyari bros warna-warni seperti yang dibelinya di Prambanan…susaaah. Tanya penjual souvenir dan pernak-pernik, katanya sekarang sudah jarang tuh yang jualan bros yang terbuat dari tali warna-warni seperti itu. Walah, gimana dong? Kenapa gak sekalian beli banyak aja sih waktu di Prambanan, harganya juga seribu perak…disuruh beli banyak malah beli cuma dua biji…sekarang sudah jauh, malah minta beliin..hadeuh sampai sakit pinggang si bunda bolak balik sepanjang jalan Malioboro sampai pasar Beringharjo pun dijabani.

Akhirnya bunda yang mulai sakit kaki, pinggang dan pundak mulai gak sabar… “sekarang kita ke kantor pos dulu kirim baju-baju kaos ini…capek bunda ngangkut kaos-kaos dalam ransel. Setelah kita paketin, baru kita cari lagi”. Eeehhh, saat jalan didepan benteng Vredeburg nemu pedagang kaki lima yang jual bros ini…halah dalah, sudah keliling ternyata nemu disini. Harga di Malioboro lumayan juga dibanding di Prambanan..2-3x lipatnya. Ada yang jual 10rb/4, ada juga 10rb/3…nah loh kan, sudah bikin capek bunda…harganya juga lebih mahal…yo weslah daripada nanti ada yang kemimpi-mimpi…hehe..

Setelah beres urusan bros dan paket-paketan, waktunya istirahat…benar-benar lelah nih ngider Malioboro demi bros. Seakan belum cukup lelah, sulung yang dipercayakan di depan sebagai penunjuk jalan rupanya masih belum senang dapat bros dikit…eh salah jalan lagi…terus lempeng jalan sampai stasiun tugu. Bunda yang memang gak perhatiin jalan tapi perhatiin sulung yang jalan didepan baru ngeh setelah melihat stasiun…”bentar bang, kita gak salah jalankah?”. Abang :”enggak bunda, jalan Dagen tuh di dep…(baru dia liat stasiun didepan)…eh kok sudah di stasiun ya?”. Bunda :”ya, iyalah sudah stasiun, hotel kita kelewat..”. Adek : “kenapa sih bunda? kenapa bang?”…

Yaaa karena si bunda sibuk perhatiin abang yang didepan, adek sibuk dengan susu coklat ditangan bunda (yang tadi dibeli sambil nongkrong sejenak di Dunkin karena kelelahan bolak balik Malioboro), dan abang sibuk dengan pikirannya yang masih pengen nyari-nyari bros…akhirnya ya begini ini…kelewat sampai ujung yang lumayan nambah pegel juga..haha. Akhirnya putar arah, balik badan grak. Untung tidak jauh dari situ nemu KFC…makan dulu yuks sekarang, sekalian bunda lemesin otot kaki nih..

Setelah makan, balik hotel, sementara bunda istirahat…krucils main heboh-hebohan seperti biasa dalam kamar, kejar-kejaran, lari-larian…hadeuh, kalian ini kok gak ada capeknya. Menjelang jam 14.00 krucils mendesak…hayo bunda sudah saatnya ke Planetarium. Kami pintas jalan, masuk melalui benteng Vredeburg lagi…bayar tiket masuk lagi, yang mungkin karena hapal sama krucils yang memang agak berbeda dengan anak lain (yang hasil nguping pembicaraan beberapa orang dalam bahasa jawa katanya anaknya mirip “wong londo”)…dapat diskon…lumayan hehe..

Tiket masuk Planetarium 15rb/orang. Ketika kami beli tiket kata petugas tiket yang jam 13.30 sudah tutup…tunggu yang 14.30 ya. Yah ternyata harus nunggu lagi, yo weslah sembari nunggu kita makan-makan lagi di foodcourtnya anak-anak..yang langsung diprotes krucils, kok makan lagi, tadi kan sudah. Ya harus banyak makan biar kita gak sakit. Makan, minum, beli ice cream…ngider-ngider lagi di Taman Pintar yang ternyata sedang ada pameran hari itu. Disalah satu stand, adek minta difoto sama kuda pajangan yang terbuat dari semacam rotan. Selesai difoto, sama mbak-mbak penjaga stand yang gemes liat krucils, krucils dikasih pulpen…duh senangnya.

Menjelang jam 14.30 kami merapat ke Planetarium…masih sepi, cuma ada kami dan seorang ibu dengan ketiga anaknya. Saat dipersilahkan masuk, krucils heran…kok mirip bioskop tapi tempat duduknya diatur melingkar keliling sesuatu yang tampak mirip roket ditengah ruangan. Dan layarnya ada diatas mengelilingi atap yang berbentuk kubah, kursinya pun diatur posisinya agar mendongak ke atas.

Saya sedikit mengkhawatirkan bungsu saya, biasanya dia gak mau tuh diajak masuk bioskop karena gelap dan suaranya berisik. Nah ini mirip-mirip bioskop juga sih, gelap dan akan ada suaranya sehingga saya membisikkan, enggak apa-apa kan dek, gak serem kok ada abang sama bunda disini. “iya gak serem kok bunda, seru”, bisik si bungsu. Fuiih…bisa bernafas lega, soalnya kalau bungsu ketakutan didalam sini, dunia bisa gonjang ganjing…abangnya bisa marah jika gagal melihat pertunjukan astronomi.

Untunglah sampai selesai bungsu saya tidak takut malah senang, “bagus banget bunda…cuma adek agak-agak pusing gitu, planetnya berputar-putar”…hehe. Sementara walau juga tampak senang, sulung saya terlihat agak kurang puas..”abang kira neropong-neropong bintang gitu bunda”. Oohhh kalau abang mau teropong bintang, itu adanya di Bandung tepatnya di Lembang bang, namanya Bosscha…cuma harus ijin dulu kalau mau kesana, nanti kita kesana ya, bunda harus minta ijin dulu sebelum kita kesana.

Planetarium ini sendiri mirip dengan yang ada di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang jarang beroperasi. Disini krucils belajar tentang terjadinya siang dan malam, perputaran planet, rasi-rasi bintang, meteor & meteorit, tumbukan antar benda angkasa sebagai asal muasal terbentuknya planet dan sebagainya. Seru, bagus, bermanfaat…recommend banget deh untuk anak-anak yang satu ini.

PS : foto diatas adalah foto Nebula Kepiting (Crab Nebula) yang diambil dari Wikipedia sebagai ilustrasi, soalnya karena gelap dan dilarang juga foto-foto jadi kami tidak punya foto dokumentasi selama di Planetarium.





Bergembira di Gembira Loka Zoo

27 06 2013


Setelah makan siang yang serba jamur-jamuran, perut kenyang, langkah ringan, jalan jauh pun hayo aja nih. Di perjalanan menuju Jogja, saya baru ngeh…astagfirullah, hari itu baru tanggal 19! OMG…saat sudah lelah gini baru nyadar tanggalan, inilah akibatnya kalau gak suka periksa-periksa kalendar seperti saya. Kenapa saya panik hanya karena tanggalan? Karena rencananya setelah check out dari hotel pertama kami di Malioboro, siang itu (setelah jalan-jalan ke Borobudur dan Zoo) saya berencana check in di hotel kedua yang masih dikawasan Malioboro juga yang malam sebelumnya sudah saya beli via internet seperti biasa.

Dan saya baru ngeh, saya beli untuk tanggal 20, sedangkan hari itu baru tanggal 19…lalu setelah pulang jalan-jalan, kami mau nginap dimana dong kalau gitu? Salah pesan hari… hiks…TT..Panik, saya telp si ayah. Untung ada ayah…tolong beliin ya yah, bunda sedang dijalan, gak bisa beli-beli nih kalau go show keburu capek..kasian krucils. Dan tadaaa…gak berapa lama sudah dapat jawaban ok dan dapat email konfimasi hotel, yippie…tengkyu ayah…

Sekarang bisa bernafas lega deh. Begitu mobil parkir di Gembira Loka, saya pun jadi bisa menikmati…pikiran gak kepecah lagi sama urusan penginapan…hehe. Tarif masuk Gembira Loka 15rb/orang, isinya penuh banget dengan manusia. Wuih, kayaknya semua tempat wisata diserbu orang deh musim liburan sekolah seperti sekarang…inipun konon katanya anak sekolah di Jogja belum libur, gimana kalau sudah liburan ya? Pasti ramai banget tuh sudah mirip sarden, kejepit kanan kiri depan belakang hehe…

Lagi-lagi, stamina saya kalah dengan duo krucils saya, si petualang cilik. Sehingga begitu tidak jauh dari pintu masuk saya melihat kereta mini lagi, saya pun dengan pedenya memesan kereta ini. Giliran mau bayar, ditagih 60rb dengan rincian perorang 20rb. Alamak jang, kok mahal banget…kirain 7500an aja perorang seperti di Borobudur atau Prambanan. Bedanya disini gak perlu nunggu-nunggu orang, kereta langsung berangkat. Di tiap halte kita bisa berhenti dulu untuk naik kereta selanjutnya menuju halte selanjutnya. Kalau mau lebih murah sih 5rb, tapi hanya berlaku sekali perjalanan. Nah kalau kami memilih yang sepuasnya, mau naik turun kereta sampai kebun binatangnya tutup juga gak masalah plus dapat tiket naik kapal (kapal yang mengelilingi danau buatan yang terdapat dalam zoo) gratis.

Dan saya benar-benar bersyukur dengan keputusan saya untuk membeli tiket kereta mini ini, kalau jalan mungkin saya KO duluan. Laa ngider-ngider seputaran halte pertama saja pinggang dan pundak rasanya mau copot, lokasinya yang berbukit-bukit menyebabkan mau gak mau kita harus naik turun belum ditambah krucils yang bolak balik ngajak bundanya ngeliat ini itu…”kita liat kangguru yuk bunda”, terus “liat kuda nil”…”disebelah sana ada kura-kura bunda, abang mau liat”, sambil nyeret-nyeret bundanya yang nyeret kaki aja sudah mulai lemah…hehe..

Tidak jauh dari halte pertama ini ada atraksi naik gajah, pengunjung diperbolehkan keliling dengan menunggang gajah. Tarifnya dong yang bikin saya kejang-kejang, murah meriah banget 10 rb/orang…coba bandingkan dengan saat kami ke Bali Safari (tahun 2009-an) yang dipatok 200rb/orang untuk menaiki gajah. Memang sih trek yang dilalui lebih pendek tapi dengan harga segitu kan lumayan banget tuh bisa ngerasain naik gajah secara live..hehe. Langsung aja gak mau rugi, tanya krucils…mau? tentu saja bukan petualang cilik namanya kalau takut…oke…kalian naik sana, bunda foto-foto dari sini ya…hehe…

Banyak yang ngira saya terlalu nge-push krucils untuk jalan kesana-kemari, andai mereka liat sendiri gimana stamina dan antusiasnya krucils selama petualangan kami, baru deh pada sadar ternyata saya yang malah sebenarnya KO dibanding krucils…belum tahu krucils saya sih, si petualang cilik..hehe. Jadilah saya bahan tertawaan si ayah…”yee si bunda, masa kalah sama anak” hehe… laaa iyalah kalah, si bunda kan sudah cukup berumur yah…hehe ;p

Akhirnya karena sudah lelah banget, begitu memasuki halte berikutnya, walau dipaksa turun sama krucils…si bunda malas turun, nanti lagi aja deh…kan keliatan juga tuh dari kereta. “Kalau dari kereta ngeliatnya cuma sepintas bunda, abang pengen liat yang jelas…kalau bunda gak mau turun, besok kita kesini lagi ya”, mulai ngerengek. Akhirnya di halte ketiga, mau gak mau turun juga…daripada tiap hari melototin binatang tok…hehe..

Tidak jauh dari halte ketiga ini ada pertunjukan satwa…ya mirip-mirip pertunjukan satwa dimana-mana sih, ada beruang madu yang joget-joget dangdut, burung-burung, dan sebagainya..sama aja sih dengan pertunjukan satwa tempat lain, cuma mungkin karena pembawa acaranya lucu jadi krucils ketawa terus disini. Setelah itu naik kereta lagi ke halte terakhir tapi karena krucils bilang, kita putar sekali lagi ya bunda…jadi kami ya muter lagi sekali…hadeuh, untung aja beli tiket kereta tadi. Sesuai namanya Gembira Loka Zoo, krucils benar-benar bergembira disini.





Melihat Tempat Mandi Putri di Tamansari

22 06 2013


Bungsu saya suka banget yang berhubungan dengan putri-putrian, princess-princessan. Bahkan saking sukanya sama princess, dia merubah cita-citanya yang awalnya dokter jadi princess…hadeuh, ide darimana lagi ada cita-cita jadi princess? hehe 😀

Jadilah begitu mendengar ada tempat pemandian putri, si adek langsung semangat pengen liat tempat mandi putri. Dari museum kereta sebenarnya bisa jalan kaki sih ke Tamansari ini melalui jalan belakang tapi karena si bunda sudah pegel banget kaki & pundak yang gendong ransel kemana-mana, ambil jalan gampang aja…panggil tukang becak. Seperti biasa…tetep…becak penuh pesan sponsor untuk mampir membeli oleh-oleh, hadeuh pak e..pak e…sudah pegel gini dan petualangan masih panjang mosok beli oleh-oleh sekarang, capcay dong saya nenteng oleh-oleh kesono kemari belum lagi harus menanggung resiko busuk dijalan.

Akhirnya saya setuju membayar 10 rb untuk mengantar kami ke Tamansari melalui jalan depan, males nyari-nyari jalan masuknya lagi diantara labirin-labirin gang kalau harus jalan belakang. Si adek gak begitu senang, dia minta naik andong…masih ingat aja sama andong..hehe. Gak ada andong dek daerah sini, nanti pulangnya aja kalau ada ya.

Biaya masuk Tamansari 4rb/orang. Begitu masuk dan melihat kolam pemandian dari dekat, adek langsung memandang bunda sambil berucap “adek rasanya mau mandi disini deh bunda”..hehe..pasti pengen ngerasain rasanya mandi di tempat mandi putri kan dek.

Sebenarnya sehari sebelumnya pemandian ini sudah kami lihat dari atas, melalui rumah seorang penduduk. Seorang pemandu menjelaskan bahwa kolam pemandian ini terbagi 3, yang paling ujung kolam mandi anak-anak raja, tengah tempat mandi putri dan selir-selir, sedang yang agak tersembunyi adalah kolam khusus raja dan ratu. Menara yang terlihat ditengah adalah tempat raja berganti pakaian ataupun melihat anak-anak atau selir-selirnya.

Nah, sekarang sudah puas liat dari dekat tempat madinya kan. Kemudian giliran abang yang penasaran dengan tempat mandi raja karena dari atas rumah penduduk, tempat mandi ini tidak terlihat. Setelah melihat dari atas menara kolam-kolam pemandian sekali lagi, saatnya kembali ke hotel…istirahat dulu yuk anak-anak.





Museum Kereta Keraton

22 06 2013


Tidak jauh dari keraton kearah kiri, tampak Museum Kereta Keraton. Kami hanya berjalan kaki saja dari keraton. Harga tiket masuk 3rb/orang plus biaya bawa kamera seribu rupiah, totalnya pas 10rb. Di depan kami ditanya, apakah mau pakai guide…lagi-lagi saya tolak.

Museum ini sih kecil saja, tapi memajang berbagai macam kereta kepunyaan keraton. Dari yang kecil yang hanya ditarik 2 ekor kuda hingga kereta yang super duper besar, entah perlu berapa ekor kuda untuk menariknya. Disini sulung saya suka banget, melihat berbagai jenis kereta, bahkan detail-detailnya pun diperhatikannya sampai ke lampu-lampu, dsb…si bunda aja gak perhatiin eh dia tahu aja perbedaan kereta yang dimata si bunda mirip aja..hehe.

Namun karena museum ini kecil sehingga sebentar saja semua sudah selesai kami jelajahi. Baiklah krucils, saatnya kita ke Tamansari…biar kita bisa cepat istirahat di hotel..