Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.





Alun-Alun Kota Batu

27 07 2016

20160727-112624.jpg

Menjelang maghrib kami menuju alun-alun Batu, begitu tiba…cari parkiran susah banget, penuh semua untungnya setelah muter-muter akhirnya ketemu juga parkiran yang masih kosong walau harus jalan kaki sedikit menuju alun-alunnya. Alun-alun Batu ini kecil, tapi dikelilingi oleh berbagai macam kuliner…hmm, nyamm

Ketika berjalan kaki dari parkiran menuju alun-alun, kami melihat warung yang menjual susu murni. Karena kami penggemar susu, tentu saja kami mampir untuk istirahat sekalian minum susu. Ada berbagai rasa susu, ada yogurt juga. Puas minum susu kami kemudian menuju alun-alun.

Ternyata alun-alunnya ramai banget, penuh dengan orang. Isinya sih mirip lampion garden dengan berbagai lampion berbentuk hewan dan bunga. Selain itu terdapat bianglala juga. Tiket naik bianglala ini murah meriah (kalau gak salah) 3 rb / orang, cuma antriannya mengular tangga panjangnya. Waktu krucil liat ada antrian tiket bianglala, mereka gak mau kalah pengen naik bianglala juga lalu mengantrilah ayah untuk beli tiket. Sementara nungguin ayah dapat tiket, saya dan krucil keliling alun-alun, foto-foto, belanja souvenir gantungan kunci kemudian kembali mendatangi ayah, ayahnya masih mengantri belum dapat tiket…bukannya berkurang, antriannya malah tambah panjang…haha yo weslah, kalau begini caranya gak usah ajalah naik bianglalanya.

Tidak jadi naik bianglala bukan berarti mengurangi keseruan di alun-alun, krucil happy liat lampu di bianglala yang berubah-ubah warna dan bentuk hingga malah mirip kembang api tahun baru. Mereka cukup senang melihat lampion-lampion, melihat segala aktifitas di alun-alun (ada yang berdandan ala pocong juga loh…hiii), dan yang paling penting bisa belanja souvenir gantungan kunci 🙂





Museum Angkut, Batu

26 07 2016

20160726-051202.jpg

Hampir semua wisata di Batu sudah pernah krucil kunjungi kecuali agrowisata dan Museum Angkut ini karena ketika kami ke Batu 2013 lalu, museum ini belum ada. Jadi begitu ada kesempatan ke Batu, krucil harus diajak ke museum ini…biar kekinian…hehe.

Setelah dari Museum Brawijaya, kami langsung ke Batu. Pemilihan waktu kurang tepat, weekend jalan menuju Batu itu macet. Akhirnya kami istirahat makan dulu di pertengahan jalan sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Batu, akibatnya kami agak kesiangan untuk bermain di beberapa tempat wisata incaran, hanya sempat ke Museum Angkut dan alun-alun Batu.

Tiket masuk museum ini lumayan juga, tiket terusan 90rb / orang ditambah kamera 30rb/kamera. Setelah itu tiket berupa gelang pun dipakaikan petugas di pintu masuk. Awalnya yang terlihat ya museum biasa yang berisi berbagai moda transportasi berupa mobil, sepeda, motor, becak, dsb. Menarik sih, tapi kesannya biasa aja…mungkin pengaruh pengunjung yang berjubel (maklum masih suasana liburan) sehingga susah untuk menikmati isi museum.

Baru setelah dari museum, ada zona-zona yang lebih menarik. Saya lupa lagi urutan-urutannya, kalau gak salah zona Gangster Town, zona Eropa, dsb…terakhir museum topeng di D’Topeng. Sebelum pintu keluar ada Floating Market, tempat penjual makanan dan souvenir. Kami keluar Museum Angkut ini sudah menjelang maghrib, yang penting krucil happy, ayah bundanya pun ikutan happy walau badan rasanya remuk redam setelah menemani krucil bermain seharian. Kata ayah, lebih capek nemenin krucil main daripada mendaki gunung…hmmm, baru tahu dia… hehe





Museum Brawijaya, Malang

26 07 2016

20160726-110529.jpg

Tahun 2013 lalu, saya dan krucil berkelana bertiga ke beberapa kota di pulau Jawa salah satunya ya Malang. Ketika itu kami memilih untuk mengeksplore dan menginap di kota Batu, jadi Malangnya sendiri hanya numpang lewat. Ketika turun dari kereta, saya memutuskan menggunakan angkot sebagai transportasi menuju Batu. Kebetulan rute angkot tersebut melalui Museum Brawijaya, krucil saya yang penggemar museum ketika itu meminta agar saya mengajak mereka ke museum tersebut cuma karena ketika itu tujuan kami langsung ke Batu dan pulangnya juga dari Batu langsung ke Surabaya, jadi saya tidak sempat mengajak mereka ke museum ini.

Tahun ini ayah memutuskan mengajak kami ke Bromo, menginap di Malang…yeaaayyy. Kesempatan untuk mengajak krucil mampir ke Museum Brawijaya, semua indah pada waktunya *halah…lebay mode on*

Hari ketiga di Malang kami menyempatkan ke Museum Brawijaya ini. Tiket masuknya Rp 2.500 atau Rp 2.000,- antara segitu deh, murah meriah tapi bermanfaat karena di sini krucil bisa belajar sejarah. Isinya kebanyakan peralatan perang/tempur, seperti basoka, meriam, tank, dan ada foto-foto tentang penumpasan PKI di Malang…tapi ngeriii liat fotonya. Ada juga gerbong maut, kenapa disebut gerbong maut karena menurut sejarah di dalam gerbong kecil inilah Belanda mengangkut orang-orang Indonesia yang ketika sampai di tujuan ternyata kebanyakan orang Indonesia dalam gerbong tersebut tewas karena kekurangan udara.

Paling seru ternyata di museum ini juga ada koleksi komputer-komputer IBM jadul. Ternyata komputer jadul yang fungsinya untuk perkalian penambahan dan pengurangan saja bentuknya segede gaban. Tapi walau bentuknya segede mesin cuci, itulah barang tercanggih pada jamannya. Dan seperti biasa, krucil saya terutama yang sulung betah banget di museum, nanya ini, nanya itu…narik tangan ayahnya ke sana ke mari…bolak balik karena penasaran sama ini itu. Bukti bahwa bagi anak, liburan itu gak harus mahal dan wah…ajak ke museum aja sudah cukup menyenangkan bagi mereka 🙂





Alun-Alun Malang

26 07 2016

20160726-095410.jpg

Pagi hari ketiga kami di Malang, kami gunakan dengan mengajak krucil berjalan-jalan seputaran hotel, olahraga sekalian cari makan. Hotel kami yang berada di Pasar Besar letaknya tidak jauh dari alun-alun kota Malang. Berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel, kami sudah berada di alun-alun.

Alun-alun kota ini berada tepat di seberang mesjid raya dan dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat joging, santai ataupun bermain bola. Di alun-alun ini ada pojok baca juga loh…hmm, ide bagus bahwa tempat publik harusnya memang disediakan buku-buku untuk warga yang ingin meluangkan waktunya dengan membaca. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai alun-alun ini, yang pasti krucil kami senang berada di sini karena banyak burung merpati yang sengaja dipelihara dan dibiarkan berkeliaran bebas di taman.





Bromo, Jawa Timur

25 07 2016

20160725-112042.jpg

Waktu masih muda dan masih kuliah, si ayah pendaki gunung. Bersama sahabat-sahabatnya beberapa gunung telah ditaklukkannya. Saya walau pecinta alam tapi gak pernah kepikiran untuk mendaki gunung, saya tipekal yang lebih suka menjelajah lembah daripada menghabiskan waktu berhari-hari mendaki gunung…pikiran standard emak-emak. Itulah sebabnya kalau suami saya merencanakan mengajak krucil ke gunung, saya pura-pura gak dengar…hahaha.

Sudah dari dulu suami saya berniat mengajak krucil ke gunung, mulai dari yang gampang dulu Bromo. Waktu kami bertualang hanya bertiga 2013 dulu (ke Jogja, Solo, Semarang dan Malang), si ayah hampir tiap saat telp menyuruh saya mengajak krucil ke Bromo tapi ya gitu deh… ngebayangin harus bangun malam untuk jalan ke gunung aja sudah malas belum lagi ngebayangin betapa ribetnya bawa dua anak masih kecil-kecil, kalau sudah gitu saya tidak menemukan dimana letak asiknya. Jadi ya saya bilang ke ayah…”kalau ke Bromo sama ayah aja”.

Baiklah intronya sudah, saya mulai masuk cerita petualangan ke Bromo kami tahun ini. Suatu saat, ketika saya dan krucil sedang asik berkumpul di ruang tengah…ayah yang baru pulang kerja ikutan ngumpul, lalu tiba-tiba ayah bilang “ayah sudah ambil cuti loh tanggal 14 ini (bulan Juli maksudnya), mau kemana kita?” Dan bumi gonjang ganjing, agak kaget karena cuti ayah sudah diambil awal tahun. Iya, ayah dapat jatah tambahan cuti…baiklah kalau begitu. Lalu, “mau kemana kita? cari-carilah tiket”, tambah ayah lagi. Kemudian saya lupa…beberapa hari kemudian, ayah nanya lagi ke saya “sudah cari tiketnya bund?” laa saya lupa , kemudian cari-carilah tiket secara dadakan…ternyata libur lebaran + libur sekolah bikin harga tiket melambung. Beberapa destinasi liburan hendak dipilih tapi tiket ke beberapa destinasi incaran mahal, jadilah destinasi disesuaikan dengan harga tiket…cari tiket termurah, destinasi disesuaikan belakangan…hehe maklum backpacker

Singkat cerita, dapatlah tiket ke Surabaya. Setelah tiket dibeli, ayah lalu bilang “ayah mau mengajak kalian ke Bromo” dan urusan selanjutnya saya serahkan ke ayah. Hari H tanggal 14 Juli, berangkatlah kami menuju Surabaya. Sesampai Surabaya istirahat sebentar makan di bandara, lalu lanjut ke Malang. Di Malang istirahat sebentar 1-2 jam di hotel, ayah sibuk telp sana sini lalu berkata, habis maghrib kita nginap dirumah teman ayah di Tumpang biar gampang ke Bromo.

Habis maghrib jalan lagilah kami menggunakan taxi menuju Tumpang. Di Tumpang saya tepar banget. Seharian di jalan untuk emak-emak yang cukup berumur itu menguras energy, di rumah teman ayah di Tumpang saya langsung tidur..ngrok ngrok. Eh belum puas tidur, sekitar jam 01.00 dibangunin, mobil jeep nya sudah datang menjemput. Ngantuk dan capek bercampur jadi satu…arrghh liburan macam apa ini?! *jambak-jambak rambut, jedotin kepala* hehe…

Naik jeep tengah malam melalui jalan antah berantah itulah petualangan bermula. Jalan yang dilalui itu sempit, berkelok-kelok, kanan kiri jurang…kalau gak ingat supir jeep warga setempat yang sudah mengenal medan, pengen rasanya mutar arah kembali ke hotel, tidur nyenyak aja. Jalan yang cukup mengerikan membuat mata saya yang awalnya 1 watt langsung naik level jadi 100 watt, waspada. Si ayah dan sulung yang duduk di belakang, tidak memperhatikan jalan malah asik meneruskan tidur. Tiket masuk totalnya 85 ribu, rincian 25rb /orang dan krucil dihitung satu orang saja + kendaraan 10rb, gak mahal sih tapi membuat saya was-was lalu bertanya pada petugasnya : “aman pak?”, petugas :”aman bu”…singkat padat jelas.

Orang tua saya sebelum kami berangkat sudah mewanti-wanti agar kami jangan ke Bromo, bahaya..sedang erupsi. Awalnya saya juga ragu, tapi belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya apa yang media sebarkan itu kadang tidak sesuai kenyataan. Di petualangan kali ini pun terbukti bahwa jangan percaya media 100% dan jangan takut terhadap apapun sebelum melihat dan mengalaminya sendiri…buktinya Bromo aman-aman aja, walau erupsi tapi aman kok untuk wisatawan. Lalu perjalanan dilanjutkan lagi melalui padang savana, pasir dan kabut yang tebal. Suhu dingin mulai menyergap…brrr.

Sekitar jam 03.30 subuh kami lalu sampai di Pananjakan…yippie. Belum keliatan sih apa istimewanya tempat ini, karena yang terlihat di malam hari hanyalah warung-warung dan jeep-jeep saja. Istirahatlah kami di sebuah warung, nyari yang hangat-hangat karena begitu keluar jeep kami menggigil kedinginan….bbbrrrr. Pemilik warung menyarankan agar kami santai aja dulu, jangan buru-buru ke atas karena di atas suhunya jauh lebih dingin. Awalnya saya gak ngeh, ke atas apaan? Rupanya dari tempat parkir jeep itu masih harus mendaki sedikit lagi untuk menuju puncak. Ayah cerita ke krucil, ayah kapok waktu dulu masih muda, ayah ke Bromo cuma pakai celana pendek sama kaos oblong..haha, salah sendiri ke gunung cuma pakai celana pendek.

Krucil saya sudah gak sabaran tuh istirahat di warung, mulai merengek-rengek agar kami segera ke atas. Di bilang di atas lebih dingin gak percaya, gak apa-apa abang tahan kok , kan sudah pakai jaket double katanya pede. Keluar warung, ketemu supir jeep yang langsung mewanti-wanti agar nanti aja jam 5-an saja ke atasnya karena di atas lebih dingin lagi, kalau naik sekarang kelamaan nunggunya karena sunrise sekitar 05.15 .

Bukan krucil namanya kalau gak penasaran, dikasih tahu gitu tambah penasaran…jadilah jam 04.00 kami mulai naik ke atas. Sesampai diatas cari spot untuk ngetem, ternyata sudah penuh…wuiiihhh. Begitu dapat tempat, angin dingin mulai terasa membekukan badan. Baru nunggu setengah jam, bungsu saya langsung minta gendong ayahnya untuk turun kembali. Sebenarnya sulung saya mengajak turun juga…”ayo bunda, abang kedinginan”, kata sulung saya. Saya lalu bilang ke sulung saya ” bang, perjuangan kita kesini tuh panjang banget, belum lagi biaya yang keluar. Bunda juga kedinginan tapi kita jangan menyerah, kalau kita nyerah sekarang…sia-sia perjuangan kita. Ayo semangat, kita pasti bisa”. Sulung saya akhirnya masih bisa bertahan sampai sunrise, tapi saat hendak foto-foto tangan saya dan sulung mati rasa karena kedinginan… kami pun tertawa berdua untuk menyemangati diri sendiri.

Begitu matahari mulai nyembul di ufuk, tuh wisatawan yang awalnya tertib jadi beringas…sikut sana sini. Wisatawannya banyak banget, domestik maupun mancanegara, bejubel layaknya pasar malam. Saya berdua sulung yang dapat spot paling depan, eh ditutupin sama wisatawan lain yang nyelinap keluar pagar. Jadilah kami ikut-ikutan manjat pagar supaya bisa ngeliat sunrise. Setelah foto sebentar, kami memutuskan untuk turun menyusul ayah dan bungsu yang sudah duluan turun. Sampai di warung, menghangatkan diri sambil minum dan makan yang panas-panas. Kemudian ketika wisatawan lainnya mulai turun, kami memutuskan naik lagi…rugi amat sudah jauh-jauh belum dapat foto keren.

Matahari sudah bersinar kala kami naik lagi, jadi krucil tidak begitu kedinginan seperti kala subuh. Foto-foto, lalu turun lagi ke jeep yang parkir. Pak supir Jeep kemudian membawa kami menuju spot-spot lainnya, ada banyak sih spot lainnya tapi karena kami semua tepar akhirnya kami hanya ke pasir berbisik dan bukit teletubbies saja, lalu balik ke Tumpang. Sampai di Tumpang sekitar jam 11.00 siang, bikin kaget teman ayah. Loh kalian gak ambil semua paketnya ya? tanyanya, kalau ambil semuanya biasanya sampai jam 4-5 sore katanya. OMG, kalau harus sampai 4 sore, saya dengan senang hati mengibarkan bendera putih deh…nyerah. Kalau semua tujuan di datangi, ada kawah, bukit cinta, danau Ranu Pani, ada air terjun juga. Tapi kasihan krucil kecapekan..itu sebabnya kami meminta supir segera balik setelah dari bukit teletubbies.

Dan this is it…petualangan kami ke Bromo, akhirnya cita-cita ayah mengajak krucil ke Bromo kesampaian juga. Kata ayah, someday ayah akan mengajak kalian mendaki Semeru…*segera lambaikan tangan ke kamera* hehe. Dan yang paling penting, walau capek kami semua senang…bahkan bungsu saya bilang ke ayahnya, dia senang diajak ke Bromo. Bromo itu indah banget nget nget kebangetan. Saya sampai terharu ketika melihat Bromo, wow…amazing. Susah saya menggambarkan perasaan saya ketika itu, takjub, kagum, bangga karena Bromo itu ada di Indonesia dan segera teringat surah Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan”.





Paiton (Java Power)

2 12 2009

Ini adalah foto kenangan ketika kami melakukan tour Surabaya – Bali beberapa waktu yang lalu, yang karena kesibukan, Big M (Malas), jaringan internet yang jelek, dan sebagainya, hingga baru pada saat inilah sempat saya up load.

Sebenarnya Paiton alias Java power alias pembangkit listrik Jawa-Bali ini lebih enak dipandang saat malam hari, karena efek dari ratusan bahkan ribuan lampu yang meneranginya sehingga menghasilkan efek yang lebih keren. Namun karena saat kami jalan malam hari saya sudah kelelahan, menyebabkan saya malas mengambil foto-foto Paiton. Dan baru saat kami melaluinya lagi dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan diri mengambil beberapa foto dari dalam mobil, dan inilah hasilnya….

Diambil dari atas mobil yang sedang berjalan….hasilnya….fotonya juga berjalan hehehe

Paiton…yang hidupnya bergantung pada batu bara…

Dilihat saat pagi hari…biasa aja yah, seperti pabrik-pabrik pada umumnya. Tapi bila dilihat malam hari? kereeeennnn…sepuluh jempol…wkwkwk

Paiton…Java Power, disinilah Listrik Jawa – Bali dikelola

Java Power





TOUR SURABAYA – BALI

19 10 2009

Kira-kira sebulan yang lalu, anak saya libur sekolah jelang idul fitri yang panjang banget. Liburnya sekitar 3 minggu..wow, sebenarnya saat yg tepat untuk jalan-jalan. Namun sayangnya, suami saya tidak bisa ambil libur atau off sama sekali, karena tidak ada orang yg bisa stand by di kantor. Jadinya libur panjang hanya di habiskan di rumah kakek nenek di samarinda, sesekali ke mall…hiks..hiks. Setelah libur panjang berakhir, time to back home…my little house on the praire, ke rumah kecil kami di Balikpapan.

Di antar suami tercinta, di mobil selama perjalanan…tiba-tiba suami saya berkata (ceile…berkata..hehehe) : “ bun, coba liat di tas ayah. Ada tiket tuh ke Surabaya, sdh ayah beli untuk tgl 9 oct”. Bunda ( alias saya ) : “ kemana yah Surabaya? “ . Ayah : “ jalan-jalan aja, ntar dari sana kan bisa lanjut ke mana kek, mau ke bromo (bromomania) juga dekat, atau ke bandung naik kereta,kan abang (anak pertama saya) belum pernah naik kereta”. Bunda : “ cihuy….jalan-jalan lagi. Berpetualang lagi…thengkyu honey bunny yellow polka…”

Dan tgl 9 oct pun tiba….setelah persiapan perlengkapan anak2 satu koper besar penuh, botol dot-dot dan susu di tas lain, dan satu ransel khusus pakaian ganti & diapers buat ganti dijalan, dan setelah telp satpam komplek untuk titip rumah, dan taxi pun datang menjemput….cihuuuuyyyyy…bismilahirohmanirrohim…..ya Allah lindungilah kami diperjalanan. Inilah perjalanan pertama kami bersama anak2 yg sdh komplit, setelah long-long time sudah tidak keluar pulau lagi.

abang di pesawatSebenarnya petualangan kami kali ini lebih didedikasikan untuk anak-anak kami. Sebelum naik pesawat…hayuuu foto-foto dulu dgn pesawat anak-anak…jepret…jepret…hehehehe. Dan singkat cerita…sampailah kami di Surabaya. Oh ya, kami naik pesawat sore, lebih tepatnya menjelang magrib, jam 17.30…jadi sampe di Surabaya sdh malam. Gak ada yg bisa diliat, kecuali lampu-lampu, keramean orang di bandara. Untunglah teman suami saya menjemput…jadi gak perlu ribet or repot lagi celangak celinguk nyari taxi.

Sesuai petunjuk dari Lonely Planet, dan mengikuti referensi dari seorang teman sesama blogger yg sama-sama doyan petualangan dan jalan-jalan juga, tujuan utama kami begitu tiba di Surabaya adalah sebuah hotel. Yang katanya sih di pusat kota, dekat ke zoo (kebun binatang, yang merupakan request si abang sejak beberapa bulan lalu sejak nonton sebuah acara di TV), dekat dgn mana-mana deh.

Setelah muter-muter,oalah…kok hotelnya memprihatinkan gitu ya? Penampakan dari luar…memprihatinkan. Sdhlah, cari hotel yg lebih layak aja kata temen suami saya. Are you sure about this? Tanya suami saya? Menurut petunjuk buku primbon para petualang, yg saya kutip “ some rooms surprisingly good”…nah loh. Masa iya, buku sekelas Lonely Planet nipu? saya beli buku ini aja seharga tiket pesawat. En masa iya sih, teman saya sesama blogger boong? Dan saya pun dengan gaya yakin mengangguk…yes I’m sure…

Hotel tersebut ternyata benar-benar terletak ditengah kota, pusat segalanya. Mo ke Tunjungan Plaza dekat, mo ke zoo dekat, mo kemana-mana emang dekat, terletak di jalan urip sumiharjo ato lebih dikenal dgn jalan darmo.

Hotelnya kayaknya sih, bangunannya peninggalan jaman belanda kali ya…sdh tua, perabotnya juga tua, antik…tapi ya cukuplah. Kalo saya sih, gak masalah, no problem at all menurut saya sih. Tarif kamar terbagi 3, standard, exclusive dan VIP kalo gak salah. Dan harganya terjangkau banget, yg standard cumin kipas angin saya gak tahu tarifnya. Yang exclusive pake Ac 150 rb, yg VIP 175rb…murah kan? Sebenarnya saya meminta kamar VIP, tapi ternyata VIP penuh semua dan penghuninya katanya sih long stay..kali bule2 yg sering saya liat nongkrong di cafenya itu.

Kamar exclusive letaknya di lantai dua, dengan pemandangan langdung ke jalan darmo yg padat dan rame. Dan seperti saya bilang sebelumnya, perabotnya sdh tua, ac nya bahkan entah ac jaman kapan…hidupinnya gak pake remote men…dan gede banget…hehehe. Tapi karena dasarnya kami petualang backpacker, jadi hotelnya hotel budget juga gak masalah…lah wong hotel cuman buat naroh tas en tidur dikala malam doang.

Malam, kami lgsg tepar dgn sukses…tidur dgn lelap. Keesokan paginya, eng ing eng…jam 5 kami kelayapan di pasar dekat hotel, dapat sate dipinggir jalan yang murmer…cuma 5 rb. Oalah, dimana sih di Balikpapan ada sate 5 rb???? Setelah itu, karena anak-anak kami belum pernah naik becak…yuks mareee naik becak ke zoo. Dari hotel ke zoo naik becak, awalnya di kasih harga 20 rb, tapi mungkin keliatan kami turisnya…sampe di zoo malah dia minta 30rb. Yo wes, gpp…tp foto-foto dulu diatas becak…yuk.. Hehehe

SURABAYA ZOO

surabaya zoo

Sampe di zoo masih jam 6.30 pagi, karena terlalu exciting…kami jalan2nya kepagian..hehehe. setelah nunggu setengah jam, jam 7 loket pun di buka. Harganya cukup murmer…10 rb/org. jadi total cuma 20 rb, karena anak2 dibawah 5 tahun tdk dihitung. Petugas-petugas di zoo masih nyapu-nyapu, kami orang pertama yg masuk. Kebayang gak seh? Muter-muter zoo lumayan gempor juga, belom lagi, masing-masing menggendong anak…capek deh.tapi ya terbayarlah semua, anak-anak hepi…karena mereka pada dasarnya emang suka binatang. Setelah request si abang untuk muter satu kali lagi, baru kami bisa melangkah keluar zoo dgn tenang tanpa perlu dengar rengekan lagi…hehehe.

Nah, setelah itu kemana nih? Arah ke hotel mana nih? Tanya polisi dulu ahhhh…dan setetlah dapat petunjuk polisi, naik angkot ke arah yg benar, sekarang istirahat dulu anak-anak. Di KFC dekat hotel, saya dan suami berembuk…akhirnya diputuskan, hari itu juga kami ke Bali…la wong tujuan ke Surabaya, liat zoo sdh terpenuhi. Yuk, cepat berkemas-kemas kembali ke hotel. Setelah rental mobil dgn harga pren karena emg punya pren…sore itu juga sekitar jam 4, kami berangkat dari Surabaya menuju bali dgn mobil rental. Bali…wait for us…

Menurut teman suami saya, ke bali sekitar 12 jam. Menurut GPS, 7 porong-sidoarjojam…menurut perkiraan kami 14 jam. En here we go…dari Surabaya-sidoarjo…ampun deh, maceeettt banget terutama di porong, di daerah lumpur lapindo itu. Ruparanya lumpur lapindo sekarang disulap jadi tempat wisata, banyak yg ingin melihat lumpur. Yang saya liat sih dari dalam mobil, beberapa toko di sepanjang jalan porong jadi hancur, ditinggalkan begitu saja, mengingatkan saya pada kota2 hantu ala film-film cowboy…sementara lumpurnya sih tdk bisa keliatan dari jalan, karena terhalang oleh tanggul yang sangat tinggi.

Setelah itu Pasuruan, Probolinggo (lagi-lagi disini kami makan KFC), Situbondo, Banyuwangi dan eng ing eng…pelabuhan Ketapang. Awalnya saya bilang ke suami saya, kalo ngantuk + capek, kita berenti dipertengahan aja dan cari hotel, kira-kira kalo menurut teman suami saya sekitar daerah yg namanya pasir putih situbondo, yg memang banyak penginapan-penginapan tepi pantai. Tapi ternyata suami saya punya pertimbangan lain, menurutnya dia gak ngantuk, capek sih capek, tapi kalo berenti dulu untuk nginap berarti capeknya dua kali…jadi lanjut langsung, biar begitu tiba di hotel di bali bisa langsung tidur pulas. Oke deh kalo gitu pertimbangannya, kita lanjut.

Kondisi Jalan dari Surabaya – Bali kondisinya bagus, hanya ganjalan dikit adalah jalan sedikit keriting. Tapi gak ada masalah sih, not bad…malah good untuk ukuran sebuah jalan. Yang mengerikan adalah truk-truk besar dan bis-bis besar yang melaju tanpa peduli dgn yang lain…jalan Cuma pas-pasan buat dua kendaraan, ngebut….hiiiyyy atut…kalo mobil sendiri sih gak masalah, lah ini pake mobil teman, kalo kenapa-kenapa kan kami yang disalahkan.

Kami juga sempat melewati pesawat ruang angkasa…hehehe, karena terang banget oleh lampu-lampu yg sangat amat banyak. Apakah itu ? Itu bukan pesawat ruang angkasa, cuma mirip…itu sebenarnya adalah Paiton, alias Java Power, alias pembangkit listrik Jawa – Bali, yang keren banget diliat dikala malam. kalo siang? hmmm….mirip seperti pabrik pada umumnya aja, maka supaya mendapat efek dramatis dan membuat khayalan anda terbang tinggi, lebih baik pilih jalan malam hari melewati Paiton…hehehe.

Kami sampe di ketapang sekitar jam 3 malam, dan tdk seperti di Balikpapan yg kapal ferrynya cuman satu sehingga harus antri. Di ketapang, kapal ferrynya berderet2…banyak, ada 3 atau 4 sekali berangkat, jadi gak ada antrian mobil, setiap ada mobil datang…lgsg bisa berangkat. TOP ! Harga tiket kapal ferry dari ketapang – gilimanuk cukup murah, sekitar 95 rb. Karena malam, lagi-lagi gak ada apa2 yang bisa diliat dijalan dan dikapal, dan karena anak2 sdg tidur, kami cuman dalam mobil.

Awalnya sih biasa aja, seperti kapal ferry yg biasa kami naikin, tapi kok makin lama makin goyang yah…liat tuh truk didepan, geol kiri kanan ngikutin gerakan kapal yg oleng kiri kanan kena gempuran ombak. Ya Allah, nyali saya lgsg jiper…ampun deh, masa iya terbalik ditengah jalan, belom juga liat Bali. Mana saya gak bisa berenang, sdh tengah malam gini lagi, kalo ada apa2 pertolongan bisa telat sampe. Pokoknya semua bayangan buruk lgsg berkelebat di benak saya…dan saya lgsg berdoa, mulut komat kamit merapal doa. Dan…saya pun mabuk. Memalukan! Baru kali ini saya mabuk, setelah hidup sebagai petualang sekian puluh tahun.

Dan setelah menghitung menit2 jam yg terasa berabad-abad (yg katanya sih 30 menit aja dari ketapang-gilimanuk), akhirnya…finally, merapat juga ferry di Gilimanuk…welcome to bali kids…cihuyyyyy…akhirnya saya bisa liat Bali juga…hehehe. Bali adalah salah satu obsesi saya sejak SMP….hehehehe…

sawahDan inilah saya, di Bali !!! finally, bisa juga terwujud melihat Bali. Lagi-lagi, karena kami sampe hari masih gelap…tidak ada yg bisa diliat. Dari Gilimanuk ke denpasar menurut penduduk setempat 3 jam. Sepanjang jalan terlihat sawah-sawah, rumah-rumah bali. Dan akhirnya sampe juga di denpasar (beberapa penduduk menyebutnya bali). Karena bingung mo nginap dimana, akhirnya saya mengandalkan info teman saya lagi sesama blogger. Ke legian aja katanya…oke deh. Setelah membaca peta Loney Planet, dan GPS Google….dan tetap bingung dan nyasar, akhirnya kami berpuluh-puluh kali berhenti untuk bertanya kepada penduduk setempat. Sampe akhirnya saya bertemu dgn seorang bapak, yg ngasih petunjuk sederhana tapi mumpuni. Katanya lampu merah ke empat, yg ada pompa bensin sebelah kanan belok kanan…setelah itu terus aja. Dan….thanx GOD, inilah dia legian….jalan kecil yg sepanjang jalan penuh dgn butik-butik dan hotel-hotel, dan bule dimana-mana.

KUTA – BALI

kuta bali

Hotel referensi teman saya yg katanya Cuma 100 rb, ternyata sdh jadi 350 rb….bagus sih bagus, tapi kalo kami seminggu, hitungannya jadi berapa tuh??? Setelah nanya-nanya hotel sekitarnya, dan akhirnya bertemulah kami pada sebuah hotel yg pas di kantong…Hotel Orange, 250 rb pake ac. Oke deh check in, taruh barang….saatnya kita jalan-jalan.

Hari pertama sampe di hotel, kami hanya jalan-jalan disekitar hotel, ke kuta mengejar sunset tapi gagal karena kelamaan dijalan yg macet karena ternyata semua orang mengejar sunset juga ke kuta. Sorenya sempat juga wisata kuliner di denpasar, niatnya sih Cuma cari makanan sebentar setelah itu berenang dipantai. Eh ternyata oh ternyata….jalan di bali rumit, membingungkan…selalu nyasar walopun GPS selalu diaktifkan, peta dibentang lebar, bertanya sana sini sama penduduk setempat.

Terdamparlah kami di jalan entah apaan, yg jelas ada lapangan besar yg tampaknya seperti Gasibu kalo dibandung, di depan kantor walikota. Dan sedang ada acara expo, jadi banyak makanan murmer…yg pertama saya coba, sate lilit dari ikan. Tidak seperti sate umumnya yg pake lidi, sate ini ditusuk pake bamboo, dan tidak disiram bumbu kacang, hanya di kasih ulekan cabe sedikit diujung. Tapi setelah masuk mulut??? Mantap? Enak bangeeeet, sampe saya nambah satu porsi lagi. Harganya juga murah, kalo gak salah 5 rb.

Suami saya memesan sate kukul, apaan tuh sate kukul? Ternyata sate yg dibuat dari siput…hiiiyyyy. Setelah saya coba, rasanya kaya ampela hati ayam, kenyal-kenyal gak ada rasa. Nah sate ini disiram pake kuah kacang seperti sate ayam biasa. Rasanya juga enak. Namun sebaiknya muslim hati-hati memilih sate, lebih aman bertanya, karena ada juga yg jual sate babi. Selain itu saya juga mencoba makanan yg paling banyak dijual di lapangan itu, katanya sih namanya lumpiyang. Isinya? Lumpia yg dipotong-potong dan tahu goring, kemudian disiram kuah bumbu. Rasanya mirip-mirip tahu gejrot di samarinda gitu deh. Malamnya suami saya akhirnya memutuskan rental sepeda motor 50rb/hari.

Malamnya kami jalan-jalan pake skoter, nyari baju anak-anak, tp ternyata semua mati lampu…oalah ternyata sama aja yah, mati lampu juga. Karena sepanjang jalan legian mati lampu, kami memutuskan makan di kuta. Saya mencoba makan ayam betutu…rasanya??? Kok ya mirip-mirip opor ayam aja yah?

KINTAMANI – BALI

kintamani

Pagi-pagi sekali, kami berusaha membangunkan anak-anak mengejar sunrise…tp ternyata kesiangan juga bangunnya. Jadilah kami bermain-main pasir aja di kuta,foto-foto di monument bom bali, yg kayaknya sdg ada peringatan korban bom bali, cari baju anak…dan langdung check out. Tujuan selanjutnya…kintamani. Kirain kintamani jauh banget, jadi rencananya nginap di kintamanai aja hari itu, eh gak tahunya dekat…sekitar 2 jam, 3-4 jam kalo ditambah muter-muter nyasarnya…hehehe.

Untuk sampe ke kintamani, kami harus ke Gianyar dulu, baru ke Bangli…dan lanjut ke puncak…nanjak terus. Saya paling suka desa Bangli, desa di ketinggian yg sejuk dan adem udaranya, juga adem di hati…ceile. Entah kenapa saya langsung jatuh cinta sama Bangli, suasana pedesaannya begitu terasa, pura-pura tersebar dimana-mana, dan karena kami kesana menjelang Galungan dan kuningan, semua penduduk sedang membuat semacam umbul-umbul dari janur. Dimana-mana sepanjang jalan berdiri janur, bukan karena banyak yg nikah…hehehe. Selain itu, desanya rapi dan bersih banget.

Setelah menanjak terus, sampailah di Kintamani. Bayar tiket masuk murah banget, kalo gak salah sih 2 rb. Kintamani? Wuiiihhh keren, sejuk karena berada di ketinggian. Bentuk wisatanya sih mirip-mirip puncak atau berastagi gitu deh, cuman memandang dari atas ketinggian dgn hawa sejuk dan dingin berangin. Yang diliat yang gunung dan danau batur. Banyak penjual buah-buahan juga.

Bagus sih bagus, tapi gak kuku deh ama pedagang asongan. Mau foto-foto dikerubungi pedagang, dipaksa beli ini itu. Kalo nawarin aja sih biasa, ini sdh ditolak dgn halus…masih ngeyel, ditolak kasar…tetap ngeyel…akhirnya kami mengalah, kami lgsg cabut…turun menuju danau batur. Turunannya terjal…hiyyy, empot-empotan deh dada…takyuuttt. Suami saya bertanya ditengah turunan terjal, mau foto-foto disini bunda? Saya lgsg menjawab tanpa pikir panjang…noooooo…

Sampe di danau, pemandangan top markotop, dingin, anginnya kencang DANAU BATURbanget. Dan Cuma ada kami dan sepasang turis yg sepuh. Dan…ini dia, pedagang asongannya lebih ganas dari yg diatas. Sedikit sih, tapi lebih ngeyel, sampe suami saya marah-marah…masa gak mau beli dipaksa beli ?? Rupanya pedagang disini bergiliran, dan karena itu membuat mereka jadi memaksa begitu…ampun deeehhh. Sebenarnya dari sini ada penyebrangan ke pulau yg katanya banyak mayat yg tdk dikubur tapi tdk bau. Kesana? Ngajak anak-anak…gak minat deh….maybe next time kalo mereka sdh pada gede…hehehehe.

Sebenarnya dari kintamani ke pura besakih dekat pisan, dan masih cukup waktu untuk muter lagi. Tapi karena saya sdh tepar oleh flu, saya langsung mengajak suami en anak-anak pulang, cari hotel dulu terutama. Dari kintamani sekitar jam 4 sore, turun terus menuju by pass Gianyar (dan lagi-lagi nyasar dulu), sempat mampir di Bali zoo n marine park, tp sayangnya sdh tutup. Lanjut masuk denpasar, tapi lagi-lagi nyasar entah dimana, sama sekali tdk familiar dgn jalan yg biasa kami lalui, setelah bertanya pada polisi hotel terdekat, dan tetap nyasar.

Dan karena suami saya tidak mau di daerah legian lagi, juga karena setelah muter-muter tidak nemu hotel di denpasar (padahal kalo kami sdg nyasar dan tidak berniat cari hotel, hotel banyak kami ketemukan. Persis seperti barang, kalo dicari susahnya minta ampun, gak dicari malah nongol-nongol), saya pun menyarankan ke seminyak. Karena ketika kami nyasar pernah ke seminyak, saya liat di seminyak hotel berderet. Dan menuju seminyak, lagi-lagi nyasar, dan sialnya begitu sampe…ternyata hotelnya TOP range semua, alias mahal-mahal. Yang termurah 200 dollar…oh noooo…akhirnya kkami minta arah pulang ke denpasar lagi sama security hotel setempat. Setelah dapat petunjuk, lagi-lagi kami nyasar, badan sdh tumbang karena flu, capek , pegel…hotel belum nemu, bahkan arah pun kehilangan…hiks sedihnya.

Akhirnya tanpa sengaja, kami menemukan papan arah kecil yg menunjukkan sebuah hotel. Begitu tiba…wuiiihhh, patung depan hotel seram banget, dua pesumo gede. Seremlah dengan pencahayaan yg ada. Tapi ternyata hotelnya??? Not bad, malah bagus menurut saya. Ada bath tub air panas dingin, ac, bahkan kolam renang. Harganya juga murah 250 rb. Nama hotelnya, hotel sakura.

Dan tahukah anda? Jam berapa kami akhirnya bisa berbaring di ranjang hotel? Jam 22.30…hahaha. bayangin aja, dari kintamani jam 4 sore, berapa jam tuh nyasarnya. Top markotop untuk membuat badan saya meriang…hehehe. Alhamdulillah, anak-anak saya hepi selalu…tidak rewel, Cuma si bunda yg tepar dgn sukses.

BALI SAFARI AND MARINE PARK – GIANYAR

BARONG LOBBY BALI SAFARI

Karena hari sebelumnya kami telat sampe di Bali zoo, sdh jam 5 sore, bertepatan dgn tutupnya Bali zoo, yang membuat anak pertama kami menangis-nangis. Maka tujuan utama kami hari ini adalah Bali zoo n marine park di by pass Gianyar yg kebetulan kami liat hari sebelumnya. Setelah bertanya dgn resepsionis hotel, setelah mempelajari peta lonely planet, peta Bali yg didapat dari tourism, dan mengaktifkan lagi-lagi GPS, dan juga mendapat peta buatan resepsionis…berangkat…

Loh…loh, yah…ini kemana? Kok dari tadi muter-muter disini sini aja. Oalah, ternyata nyasar lagi hihihi…rupanya petualangan kami kali ini full of nyasar. Sebenarnya jika anda tahu jalan, dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain gak jauh-jauh amat. Kalo berdasarkan hitung-hitungan jam sih Cuma 1,5 -3 jam. Semua tempat juga bisa didatangin dalam satu hari kalo menurut saya sih…tapi lamanya itu karena nyasar-nyasar itu yg gak kuku. Capeknya, capek nyasar aja…hehehe…tp gpp, jadinya malah tahu…nemu tempat oke secara gak sengaja.

Setelah muter-muter, akhirnya bertemu juga jalan yg sirotol mustakim…jalan yg lurus dan benar…cihuuuyyy. Kami kira Bali zoo kayak taman safari gitu, masuk pake mobil. Ternyata eh ternyata, mobil harus diparkir diluar. Oh mungkin kelilingnya pake mobil dari bali zoo yg semua dari kaca…pikir kami kemudian. Begitu masuk lobby Bali zoo, isinya buleee melulu. Cuma kami satu-satunya turis local…serasa jadi turis mancanegara juga jadinya hihihi. Di lobby kita kudu check in di resepsionis…membayar yang harus di bayar….hehehe. Untuk bisa masuk, kita harus membayar 85 rb/ orang. Dan karena anak diatas satu tahun sdh bayar penuh, jadi total yg dibayar ya 85 x 3 orang = 255 rb. Coba bandingkan dgn Surabaya zoo yg Cuma bayar 10 rb/orang. Cukup mahal sih untuk sebuah zoo, tapi kalo mengutip istilah orang malaisya….berbaloi lah, panteslah bayar mahal.

Tidak seperti zoo lain yg bau, kotor dan panas. Di Bali zoo kita gak akan mencium bau, tempatnya bersih dan rapi juga adem karena dimana-mana disemprot dengan air, sehingga terasa sejuk. Pertama-tama setelah bayar, kami dikasih tiket yg berupa gelang. Begitu masuk, gelang di cap kayak di mall kalo mau bayar barang gitu, pake sinar laser…barcodenya. Begitu pula barcode gelangnya. Setelah itu, antri lagi…ada beberapa jalur antrian. Kali ini antri naik mobil yg full of glasses, alias kaca semua, kiri kanan, depan belakang dan atas. Nah, mobil inilah yg kami kira mengantar kami keliling zoo, tapi ternyata mobil ini hanya mengantar kami ke Terminal Bali. Sebuah aula luas, seperti di terminal-terminal bandara.

Untuk sampe di Bali terminal, kita melewati hutan alami…dimana para bule langsung dgn khusyuk foto-foto. Apaan coba yg di foto? Hutan yg isinya pohon en semak-semak gitu aja…hehehe. Ternyata benar, jika kita mau mengelola dgn baik, bahkan hutan biasa pun menarik perhatian turis. Dan sampailah kami di Bali terminal, gak sampe 2 menit juga…bentar banget emang. Di bali terminal, kami kemudian menuju Barong Lobby, yg disambut dgn gamelan Bali, kemudian disebelah kanannya banyak akuarium berisi ikan. Kemudian ada tempat panther yg sdg tidur, buaya, dan binatang-binatang lainnya. Ohya, dari Bali terminal kita berjalan kaki berkeliling. Ada mengendarai camel, kalo gak salah bayar 30 rb/ orang, namun request anak kami mengendarai gajah. Ternyata mengendarai gajah dipatok harga 200rb/ orang…mantap..tap..tap!!

kakatua bali safariAda berfoto dgn binatang dan sebagainya. Yg unik adalah pertunjukan-pertunjukan yg diadakan oleh Bali zoo, seperti pertunjukan orang hutan dan burung-burung dgn audience. seorang bule yang tinggi besar berniat baik menawarkan pundaknya untuk menggendong si adek, setelah melihat si ayah sudah menggendong si abang dipundak untuk menonton sebuah pertunjukan burung dan monyet.Kemudian jam 12 tepat ada pertunjukan gajah di kampong gajah, keren.

Semuanya menurut saya Cool…sebenarnya ini hanya kebun binatang yg dikelola dgn baik, sehingga membuat nyaman pengunjung, dgn memperhatikan segi artistic, sehingga keren, bersih, rapi dan nyaman. Disini anda bebas mau sampe kapan pun, bahkan jika anda bertahan sampe tutup pun gak masalah, karena setiap saat selalu tersedia kendaraan dari Bali terminal yg membawa anda kembali ke lobby. Selain itu juga banyak café-café buat anda, dan water park buat anak-anak, juga toko-toko souvenir.

Setelah puas dgn pertunjukan gajah, serta si ayah dapat kalung dari teresa si gajah, dan membeli souvenir, mau naik gajah…tapi setelah dipikir-pikir, sayang uangnya hihihi dasar pelit, maka kami pulang deh. Tujuan selanjutnya masih banyak, kali ini…pengen tahu gimana sih sanur. Yuks anak-anak, kita ke pantai…

SANUR – BALI

sanur bali

Pantai sanur merupakan salah satu yg familiar saya dengar. Membuat saya ingin tahu, gimana sih sanur itu. Kata reseposionis hotel sih, sanur lebih friendly buat anak-anak disbanding kuta. Bisa berenang-renang, karena lebih dangkal dan ombaknya kecil. Oke deh…tujuan selanjutnya Sanur.

Dari by pass, menuju sanur dekat banget. Gak sampe sejengkal juga dari perempatan yg ada…untuk masuk kita cukup membayar, kalo gak salah 2 rb. Parkir mobil…dan welcome to sanur beach. Kalo menurut hasil pengamatan saya sih, sanur ya mirip-mirip dgn tanjung bara di sangatta. Pantainya ya gitu deh, dangkal…dipinggirnya di turap, atau disemen, agak kotor oleh sampah…entah apaan, mungkin tanaman laut. Kami sebentar saja di sini, selain anak-anak sedang tidur, juga banyak tujuan lain yg mau dituju. Yang penting kan, kalo ada yg nanya…sdh ke sanur? Sudah…hehehe….yg penting ngobrolnya nyambung wakakakkkk….

NUSA DUA – BALI

nusa dua bali

Seperti halnya sanur, nusa dua juga cukup terkenal. Dan karena terkenal membuat saya penasaran, mengajak suami saya ke nusa dua. Setelah perjalanan yg lumayan, tapi gak bikin capek…sampailah kami di nusa dua. Ada tulisan Nusa Dua…hamper saja dgn noraknya kami berfoto-foto. Jalannya mirip jalan bandara, keren…rapi….pokoke bagus deh. Jempol. Setelah masuk…loh…loh…rupanya itu resort yg maha luas…hihihi.

Keluar dari sana, kami bertanya pada security penjaga pintu keluar. Nusa dua, yg katanya ada parasailing, dsb dimana sih? Setelah di guide si bapak kea rah yg merupakan kawasan wisata bahari, tempat berbagai olahraga bahari berada, sampailah kami ditempat yg dituju. Ada parasailing, jet sky, banana boat, dan perahu-perahu berlantaikan kaca yg dapat membawa turis ke pulau penyu, tanjung benoa. Harga awal yg ditawarkan 600-700rb/ perahu. Kemudian turun jadi 350rb. Dan karena saya sdg gak berminat, karena selain msh banyak tempat yg msh pengen saya liat, sedangkan untuk menuju pulau penyu sekitar 1 – 2 jam pp yg menyita waktu, juga saya sdg pelit-pelitnya. Sdh puas ngeliat ikan dan penyu di derawan, males banget harus buang uang lagi untuk liat penyu lagi…hehehe. Maka kami pun meluncur lagi…kali ini, Jimbaran – Bali.

JIMBARAN – BALI

jimbaran

Dari nusa dua, ke jimbaran arahnya berlawanan. Mari anak-anak, kita melawan arah. Setelah mengisi kenyang perut di KFC yg berada di perempatan, kami menuju jimbaran. Sampai di Jimbaran, ternyata banyak rumah makan tepi pantai dgn masakan sea food…oalah nak, rugi kita makan di KFC, tahu gitu makan disini aja. Sekalian nunggu sunset.

Rumah makan yg ada di pantai jimbaran kayaknya emang diperuntukkan untuk turis-turis yg menunggu sunset. Karena ketika kami dating, mereka baru bersiap-siap menyediakan tempat-tempat duduk di tepi pantai, langsung menghadap matahari yg memang sdh agak condong walo masih terasa menyengat.

Pantainya sama dengan pantai lain. Sebelah kanan terlihat pesawat-pesawat jimbaranyg terbang dan mendarat, sebelah kiri tebing. Kata suami saya, jimbaran tempat yg romantis. Memang kalo makan disini saat sunset dan malam akan menimbulkan kesan romantis, dan mendukung hal tersebut, wisatawan-wisatawan yg ada di jimbaran umumnya berpasangan…ooohhh so sweet…keren sih nunggu sunset sambil dinner disini. Tapi saya masih punya misi lain nih, jadi dengan sangat terpaksa batal bergala dinner ama suami en anak-anak tercinta di sini. Uluwatu msh menunggu my pren…hihihi…

ULUWATU – BALI

sunset di uluwatu

Uluwatu pasti sudah pada tahu dong? Saya sih sering dengar- dengar, karenanya penting dong di datangin. Dari jimbaran bali, sebenarnya matahari sudah condong banget, tapi gak ada salahnya disempatin ke uluwatu. Lokasi Uluwatu dekat dgn Nusa dua dan Jimbaran, sebenarnya lebih dekat dgn Jimbaran. Dari Jimbaran, naik terus ke atas…dan sampailah diujung, yang namanya Uluwatu.

Beberapa orang menyarankan kami untuk mampir ke dreamland, yang katanya cool habis. Mau sih mau, kalo sempat waktunya kebetulan searah dengan Uluwatu. Tapi kami mengejar sunset di Uluwatu. Masuk ke Uluwatu saya lupa lagi berapa parkirnya, kemudian dari tempat parkir masuk ke lingkungan pura, membayar 3rb/ orang dan dipakaikan kain sarung plus ikat pinggang bali. Karena saya memakai celana pendek, saya dipakaikan sarung warna ungu dengan ikat pinggang kuning, kemudian suami saya hanya di pakaikan ikat pinggang kuning, karena celananya sdh tergolong sopan.

uluwatuMemasuki lingkungan pure, yg dominant terlihat adalah…monyet. Uuu aaaa….monyet dimana-mana, dan hati-hati dengan barang bawaan anda, karena monyetnya tergolong ganas en jail. Kamera seorang wisatawan dirampas…dan seperti bisa ditebak, susah banget mengambil kembali barang yang sdh dirampas monyet, ngejarnya aja susah…apalagi merebutnya…busyet deh.

Purenya terletak persis di ujung tebing, dengan pemandangan ke bawah empasan ombak laut ke tebing-tebing tinggi, dan menghadap matahari yg sudah semakin condong…keren banget. Dan kami ditawarin menonton pertunjukan tari barong, dengan harga 50 rb / orang. Sayangnya jam pertunjukannya not child friendly, jam 6 – 7 malam. Sebenarnya saya tertarik banget untuk menonton pertunjukan tersebut, karena saya penyuka budaya, apalagi tempat pertunjukan diadakan di atas tebing dengan pemandangan laut di bawah plus sunset backgroundnya…keren banget bo’. Sayangnya karena hari tersebut kami sudah berkeliling berbagai tempat, anak-anak saatnya untuk istirahat…hiks…terpaksalah kami cukup menikmati sunset saja.

Menunggu sunset ternyata lama juga, dan karena semua turis tampaknya juga mengejar sunset, alhasil Uluwatu penuh banget…full of turis. Hampir setiap jengkal berisi turis yang mencari-cari tempat berfoto yang paling oke. Jadinya wajar aja kalo satu tempat favorite harus antri dulu untuk berfoto-foto. Orang bule sangat menghargai kalo ada yg sdg berfoto ria, mereka biasanya menunda langkah mereka untuk melewati tempat dimana ada orang sdg berfoto ria, jika mereka ingin berfoto ditempat tersebut juga, mereka rela menanti dgn sabar.

Sunset di Uluwatu keren banget, garis horizon terlihat dengan jelas, sayangnya ketika itu sdg ada sedikit awan sehingga sunset tidak begitu sempurna terlihat. Tapi yang jelas kami sudah puas…sudah melihat keindahan alam yang tiada tara…keren.

Dari Uluwatu, kami langsung memutuskan saatnya beristirahat di hotel. Nah…ini dia kendalanya, cari jalan pulang gak nemu lagi…rutinitas di bali, nyasar deui…nyasar deui…hehehe. Orang di hotel sebelumnya sdh mewanti-wanti, kalo nanti gak nemu jalan pulang, telp aja…nanti dipandu atau gak di jemput. Setelah nyasar kesana kemari, kami telp hotel…loh, kok gak diangkat? Untunglah ada pos polisi, kami pun dibuatkan peta untuk jalan pulang…cihuy…akhirnya nemu juga jalan pulang…hehehe.

Sesampai di hotel, rutinitas anak-anak yang paling mereka sukai adalah mandi di bath tub. Secapek apapun, kegiatan mereka seharian penuh begitu di hotel, mereka langsung berebut masuk bath tub. Dan setelah ditinggal berdua di bath tub, saya dan si ayah mendengar percakapan anak-anak kami, Abang : “ dek sini abang sabunin. Dek, kita ini hebat ya…kita petualang-petualang hebat ya dek”. Adek : “ aaaa haaa ( kurang lebih terjemahannya iya bang)” hehehe. Saya dan suami langsung ketawa…hehehe….

TANAH LOT – BALI

tanah lot

Sebenarnya kami berniat tinggal sehari lagi di Bali melihat upacara galungan dan kuningan, tapi ternyata oh ternyata…kakek nenek telp-telp terus, mewajibkan cucu-cucunya segera balik. Akhirnya pagi hari sekali kami memutuskan hari itu juga check out dari hotel, dan balik ke surabaya.

Sebelum balik, karena sebelum-sebelumnya saya gak sempat shoping en belanja belanji padahal butik-butik berderet memajang baju-baju keren di sepanjang legian, saya gak mau rugi dong. Masa iya sdh sejauh ini gak bawa apapun khas bali ? Mampir dulu yah di pasar badung… tapi dasar sial, karena hari itu sdg galungan…pasar sepi, hampir semua tutup, hanya satu dua yg buka. Tapi gak mengapa…kebetulan didepan pasar ada pure, saya bisa sekalian ngeliat dong tata cara adat orang bali saat hari raya mereka.

Hampir semua orang berpakaian putih khas bali, membawa sesajen pergi ke pure untuk membuat persembahan dan sembahyang. Setelah itu sebagian pergi ke pasar untuk belanja dan makan. Persembahan mereka isinya macam-macam, ada yg ditambah uang, ada rokok, dsb. Tapi intinya tetap sama, yaitu semacam janur dan kembang-kembang dan sebuah apa yah namanya, seusatu yg panjang kayak lidi yg dibakar.

Setelah belanja seadanya, kami melanjutkan perjalanan ke tanah lot. Kebetulan perjalanan pulang dari denpasar ke gilimanuk searah dengan jalan ke tanah lot. Mungkin karena sudah kesiangan, kami tiba tepat jam 12 jam berakhirnya sembahyang, tanah lot tidak terlalu rame lagi oleh upacara-upacara. Malah cenderung sepi, hanya turis-turis yang terlambat datang yang ada…hehehe. Bayar tiket masuk saya lupa lagi, mungkin 2rb, atau juga 20 rb…hehe…

turis cilik di tanah lotDisepanjang jalan menuju tanah lot banyak sekali penjual souvenir Bali. Tanah lot sdh sangat amat terkenal, gak afdol rasanya ke bali kalo gak ke tanah lot. Sebuah pura yg terletak di tengah laut…yang kala itu sdg surut. Dengan deburan ombak yang menghempas pantai…keren. Kami tidak berlama-lama di tanah lot, panas banget di tenagh hari bolong gitu. Setelah berfoto-foto, maka kami pun mengarahkan kendaraan ke Gilimanuk.

Gilimanuk – Bali

Dari denpasar – Gilimanuk dan sebaliknya saya lupa menjelaskan, lamanya sekitar 3 jam, dari tanah lot sekitar 107 km. Gak jauh sebenarnya, Cuma padat. Karena saat datang kami ngeri akan ombak gilimanuk yg kami pikir mungkin karena angin malam yang kencang yang menyebabkan ombak demikian mengerikan. Maka kami berniat mengejar waktu agar tidak sampe kemalaman lagi menyebrang.

Sebenarnya jika kita jalan mengikuti arah-arah di Bali, muter-muter aja, dari Gianyar jika terus bisa terus juga ke Gilimanuk. Kintamani teruskan ke singoraja tembus juga ke Gilimanuk, mengelilingi pulau Bali menyusuri tepian pantai. Jadi tidak heran jika sepanjang perjalanan menuju Gilimanuk, kita juga akan menemukan pantai-pantai yang tidak kalah kerennya namun lebih sepi.

Sepanjang perjalanan yg terutama terlihat adalah sawah, rumah bali dan tentu saja…pantai. Selama di bali kami jarang bertemu dgn mesjid, namun jika menyusuri jalan kea rah Gilimanuk dari denpasar…terdapat beberapa mesjid di pinggir jalan tempat kami sejenak bersyukur pada Allah SWT diberi kesempatan menikmati karya agung Nya….alhamdulillah.

Sampai di Gilimanuk…horey, masih sore. Dengan harapan yang besar ombak tidak terlalu ganas lagi seperti saat kami dating dulu. Setelah masuk kapal ferry yang tersedia, dengan pede kami naik ke lantai atas…dan ferry pun jalan. Dan yiha, kembali kapal oleng ke kiri kanan..saya pun langsung pucat pasi lagi, segala doa dirapal, segala dosa terbayang…ampun ya Allah. Segala keceriaan pun menghilang dari wajah saya, suami saya menggenggam erat tangan saya.

Lucunya anak pertama saya, Alvaro, justru berbahagia. Dia langsung teriak-teriak…yiha…mirip naik corousel ya yah…ya bunda?? Setiap kapal miring ke kiri atau kanan, dia langsung senang…asiiikkk…hehehe dasar anak-anak. Si adek tidak mau kalah…ikuta berbahagia gak tahu ayah bundanya was-was dan mabuk wakakakkk…dasar bocah-bocah petualang anak-anakku.

Kali ini kami berhenti untuk makan begitu tiba di ketapang. Setelah itu suami saya ngantuk berats, semua sdh terkena flu, tepar sehingga diputuskan nyari hotel yang ada. Akhirnya kami bertemu sebuah hotel di tepi jalan di situbondo, namanya hotel Rosali. Tempatnya bagus dan luas dan yang terpenting murah banget, hanya 80 rb. Memang kami memilih kamar tanpa ac, karena semua sdg flu dan tdk enak badan selain itu juga hotel hanya untuk tempat tidur semalam saja. Memang benar, begitu check in…semua langsung tidur pulas, tdk bangun-bangun lagi sampe subuh saatnya langsung berangkat lagi.

Karena malam sebelumnya kami tidur nyenyak di hotel, pagi rasanya Perjalanan pulang ke surabayasegalanya kembali segar. Siap untuk berpetualang kembali. Perjalanan sama seperti saat berangkat, namun bedanya kali ini kami bisa melihat jalan karena start pagi. Seperti halnya dimana-mana, kami jarang sekali memanfaatkan fasilitas breakfast di hotel, karena biasanya kami sdh cabut sebelum jam breakfast. Sebenarnya untuk hitungan backpacker rugi juga sih, karena breakfast dihotel berarti bisa menghemat ongkos makan hehehe. Tapi gak rugi juga kalo menurut kami, karena umumnya hotel menyediakan breakfast jam 8 pagi, antara subuh- jam 8, banyak tempat yang bisa dikunjungi dan dilihat.

TAMAN SAFARI, PANDAAN-PASURUAN

Perjalanan ke Surabaya kami sempatkan (lagi-lagi) ke taman safari di Pandaan pasuruan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, petualangan ini memang kami dedikasikan untuk anak-anak kami. Anak-anak kami penggemar binatang sejati, karena itu setiap ada kesempatan si ayah dan saya berusaha mampir ke tempat-tempat khusus anak-anak. Tiket masuk ke Pandaan zoo adalah 40rb/org dewasa, dan 35 rb/ anak-anak, sehingga totalnya 115rb.

Dengan menggunakan mobil sendiri, kami berkeliling zoo melihat berbagai binatang yang dilepas bebas begitu saja. Sehingga kita bisa melihat dari dekat berbagai binatang yang mendekat ke kaca mobil. Seru…dengar jerit-jerit anak-anak ketika ada binatang yang mendekat ke kaca mobil. Si ayah sebagai supir dan sibunda sebagai fotographer, tukang foto…demi anak-anak, si ayah dan bunda relalah bercapek-capek….hehehe

SURABAYA

Kembali ke Surabaya. Suami saya berniat mencari hotel lain, semua peta dibentang, GPS kembali di aktifkan ( seperti kata sebuah mobil dalam film CARS, “I have GPS never need a map again”), tapi ternyata percuma. Kami bingung…la dimana iki toh yah? Untunglah setelah memeras otak, kami bertemu kembali jalan darmo. Sudah aja yah, kita nginap di hotel dulu lagi…drpd nyasar-nyasar, capek-capek cari hotel lagi, capek dijalan…yo wes yang ada aja. Oke deh babe…dan kami pun nginap lagi di hotel yang sama ketika datang pertama kali ke Surabaya. Kali ini tetap tdk mendapat kamar VIP, tapi dikasih kamar dgn fasilitas bath tub…ya lumayanlah…hehehe.

Kali ini kamarnya menurut saya pribadi sedikit aneh sih, sering ada ketukan di pintu namun begitu di buka kosong melompong…lorong kosong sama sekali, gak ada orang. Dan ini lumayan sering terjadi, mengingatkan saya pada sebuah buku petualangan lima sekawan yg waktu saya kecil dulu suka saya baca, yang judulnya “wisma dorodokdokdok”…hehehe. Karena sering ada ketukan dipintu, setelah dibuka gak ada orang…kadang saya cuek aja kalo ada ketukan dipintu yang ternyata adalah kiriman pesanan saya dari café hotel…hihihi…

Malamnya kami sempatkan ke Tunjungan Plaza, mencari makan dan terutama mencari pakaian ganti karena pakaian kami kotor semua…hehehe. Karena areal tunjungan yang sangat luas, membuat kami pusing keliling-keliling sehingga diputuskan hanya beli di counter lea (oalah, padahal counter lea juga ada dimana-mana…hehehe), yang kebetulan ada Baby Lea, sdgkan di Kalimantan kami belum menemukan produk lea untuk anak-anak dan baby. Dan membeli seragam request anak…sponge Bob square pants…wakakakkk, si ayah dipaksa memakai baju sponge bob juga, dan karena ini request anak tercinta supaya kompak, mau gak mau dgn kepala plontos dan wajah sangar si ayah memakainya juga…hihihi.

Keesokannya sebenarnya kami persiapkan khusus berburu tiket dan istirahat total. Walo sdh browsing di internet, tiket tetap gak nemu yang murmer, semua tiket mahal…ampyun deh. Walo mahal, mau gak mau harus dibeli juga, masa gak pulang-pulang?

Setelah beli tiket, kami mengembalikan mobil rentalan kepada teman sekaligus membayar tagihan hihihi..lagi-lagi kami nyasar…hihi, cerita lama. Pulang dari rumah teman, suami saya berniat memperkenalkan kereta api pada anak-anak kami, jadilah kami pergi ke station sepanjang naik KRL tujuan station gubeng…hihi. Dan karena KRL ternyata baru jam 7 malam dating, kami jadinya naik kereta ekonomi sambil tdk lupa foto-foto…hihihi 😀 Gak apa-apalah demi anak. Dan malamnya semua dihotel, tepar bebas…istirahat total. Sebenarnya saya berniat belanja belanji, shopa shopi…tapi semua tepar, masa iya pergi sendiri mana asik…

Akhirnya baru keesokan pagi dengan sedikit memaksa dan ngambek, saya berhasil memaksa kembali ke Tunjungan..hihihi, habis sebel banget…masa dari legian sampe Surabaya gak sempat-sempat shoping padahal toko-toko berderet…hiks. Walopun saya bukan jenis yang hobi shoping, tapi kesempatan yang ada gak boleh dilewatkan coz di Kalimantan susah bgt nemu barang bagus hehehe. Kami pergi naik bis, karena lagi-lagi memperkenalkan rasa naik bis ke anak kami…hehehe.

MONUMEN KAPAL SELAM

dalam kapal selamDan au..au…rupanya kami salah perhitungan, yang kepikiran ketika itu adalah pergi secepatnya ke mall, belanja sebentar dan beli request anak lagi yang kali ini minta baju Patrick, langsung cabut ke bandara karena pesawat jam 14.00. dan karenanya kami dating kepagian, mall belum buka pak, kata security…hihihi, masa iya nungguin depan mall, emang penjaga mall.

Setelah putar otak, yuks mare kenapa gak mampir di monument kapal selam. Naik taxi 17 rb dari mall, sampailah kami di monument kapal selam. Bayar tiket masuk 5rb/ orang. Yah Cuma muter-muter dalam kapal selam yang ada, tapi harus dua kali bolak-balik karena pertanyaan anak pertama kami yang gak ada habisnya & exciting banget dgn hal-hal seperti itu. Tapi gak apa-apalah, adem didalam karena pake ac, dibanding diluar yang panasnya minta ampun pdhal baru jam 9 pagi.

Dan setelah puas di kapal selam naik becak ke Tunjungan, yaaaa karena terlalu lama di kapal selam, waktu mepet nih buat belanja. Terpaksalah hanya beli baju Patrick…dan segera kembali ke hotel untuk segera menuju bandara. Dari jalan darmo menuju bandara juanda naik blue bird sekitar 100 rb rupiah, lumayan mahal karena letaknya agak diluarkota, lebih tepatnya di sidoarjo.

Di bandara kami pun ngetem di executive lounge juanda yang makanannya bertumpuk-tumpuk. Dan singkat cerita, sampailah kami di bandara sepinggan. Dan semua terkapar dengan sukses dikamar, tidur pulas sampe pagi…have a nice dream kids, next time kita berpetualang yang lebih seru lagi…