Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.

Advertisements




Alun-Alun Kota Batu

27 07 2016

20160727-112624.jpg

Menjelang maghrib kami menuju alun-alun Batu, begitu tiba…cari parkiran susah banget, penuh semua untungnya setelah muter-muter akhirnya ketemu juga parkiran yang masih kosong walau harus jalan kaki sedikit menuju alun-alunnya. Alun-alun Batu ini kecil, tapi dikelilingi oleh berbagai macam kuliner…hmm, nyamm

Ketika berjalan kaki dari parkiran menuju alun-alun, kami melihat warung yang menjual susu murni. Karena kami penggemar susu, tentu saja kami mampir untuk istirahat sekalian minum susu. Ada berbagai rasa susu, ada yogurt juga. Puas minum susu kami kemudian menuju alun-alun.

Ternyata alun-alunnya ramai banget, penuh dengan orang. Isinya sih mirip lampion garden dengan berbagai lampion berbentuk hewan dan bunga. Selain itu terdapat bianglala juga. Tiket naik bianglala ini murah meriah (kalau gak salah) 3 rb / orang, cuma antriannya mengular tangga panjangnya. Waktu krucil liat ada antrian tiket bianglala, mereka gak mau kalah pengen naik bianglala juga lalu mengantrilah ayah untuk beli tiket. Sementara nungguin ayah dapat tiket, saya dan krucil keliling alun-alun, foto-foto, belanja souvenir gantungan kunci kemudian kembali mendatangi ayah, ayahnya masih mengantri belum dapat tiket…bukannya berkurang, antriannya malah tambah panjang…haha yo weslah, kalau begini caranya gak usah ajalah naik bianglalanya.

Tidak jadi naik bianglala bukan berarti mengurangi keseruan di alun-alun, krucil happy liat lampu di bianglala yang berubah-ubah warna dan bentuk hingga malah mirip kembang api tahun baru. Mereka cukup senang melihat lampion-lampion, melihat segala aktifitas di alun-alun (ada yang berdandan ala pocong juga loh…hiii), dan yang paling penting bisa belanja souvenir gantungan kunci 🙂





Museum Angkut, Batu

26 07 2016

20160726-051202.jpg

Hampir semua wisata di Batu sudah pernah krucil kunjungi kecuali agrowisata dan Museum Angkut ini karena ketika kami ke Batu 2013 lalu, museum ini belum ada. Jadi begitu ada kesempatan ke Batu, krucil harus diajak ke museum ini…biar kekinian…hehe.

Setelah dari Museum Brawijaya, kami langsung ke Batu. Pemilihan waktu kurang tepat, weekend jalan menuju Batu itu macet. Akhirnya kami istirahat makan dulu di pertengahan jalan sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Batu, akibatnya kami agak kesiangan untuk bermain di beberapa tempat wisata incaran, hanya sempat ke Museum Angkut dan alun-alun Batu.

Tiket masuk museum ini lumayan juga, tiket terusan 90rb / orang ditambah kamera 30rb/kamera. Setelah itu tiket berupa gelang pun dipakaikan petugas di pintu masuk. Awalnya yang terlihat ya museum biasa yang berisi berbagai moda transportasi berupa mobil, sepeda, motor, becak, dsb. Menarik sih, tapi kesannya biasa aja…mungkin pengaruh pengunjung yang berjubel (maklum masih suasana liburan) sehingga susah untuk menikmati isi museum.

Baru setelah dari museum, ada zona-zona yang lebih menarik. Saya lupa lagi urutan-urutannya, kalau gak salah zona Gangster Town, zona Eropa, dsb…terakhir museum topeng di D’Topeng. Sebelum pintu keluar ada Floating Market, tempat penjual makanan dan souvenir. Kami keluar Museum Angkut ini sudah menjelang maghrib, yang penting krucil happy, ayah bundanya pun ikutan happy walau badan rasanya remuk redam setelah menemani krucil bermain seharian. Kata ayah, lebih capek nemenin krucil main daripada mendaki gunung…hmmm, baru tahu dia… hehe





Museum Brawijaya, Malang

26 07 2016

20160726-110529.jpg

Tahun 2013 lalu, saya dan krucil berkelana bertiga ke beberapa kota di pulau Jawa salah satunya ya Malang. Ketika itu kami memilih untuk mengeksplore dan menginap di kota Batu, jadi Malangnya sendiri hanya numpang lewat. Ketika turun dari kereta, saya memutuskan menggunakan angkot sebagai transportasi menuju Batu. Kebetulan rute angkot tersebut melalui Museum Brawijaya, krucil saya yang penggemar museum ketika itu meminta agar saya mengajak mereka ke museum tersebut cuma karena ketika itu tujuan kami langsung ke Batu dan pulangnya juga dari Batu langsung ke Surabaya, jadi saya tidak sempat mengajak mereka ke museum ini.

Tahun ini ayah memutuskan mengajak kami ke Bromo, menginap di Malang…yeaaayyy. Kesempatan untuk mengajak krucil mampir ke Museum Brawijaya, semua indah pada waktunya *halah…lebay mode on*

Hari ketiga di Malang kami menyempatkan ke Museum Brawijaya ini. Tiket masuknya Rp 2.500 atau Rp 2.000,- antara segitu deh, murah meriah tapi bermanfaat karena di sini krucil bisa belajar sejarah. Isinya kebanyakan peralatan perang/tempur, seperti basoka, meriam, tank, dan ada foto-foto tentang penumpasan PKI di Malang…tapi ngeriii liat fotonya. Ada juga gerbong maut, kenapa disebut gerbong maut karena menurut sejarah di dalam gerbong kecil inilah Belanda mengangkut orang-orang Indonesia yang ketika sampai di tujuan ternyata kebanyakan orang Indonesia dalam gerbong tersebut tewas karena kekurangan udara.

Paling seru ternyata di museum ini juga ada koleksi komputer-komputer IBM jadul. Ternyata komputer jadul yang fungsinya untuk perkalian penambahan dan pengurangan saja bentuknya segede gaban. Tapi walau bentuknya segede mesin cuci, itulah barang tercanggih pada jamannya. Dan seperti biasa, krucil saya terutama yang sulung betah banget di museum, nanya ini, nanya itu…narik tangan ayahnya ke sana ke mari…bolak balik karena penasaran sama ini itu. Bukti bahwa bagi anak, liburan itu gak harus mahal dan wah…ajak ke museum aja sudah cukup menyenangkan bagi mereka 🙂





Alun-Alun Malang

26 07 2016

20160726-095410.jpg

Pagi hari ketiga kami di Malang, kami gunakan dengan mengajak krucil berjalan-jalan seputaran hotel, olahraga sekalian cari makan. Hotel kami yang berada di Pasar Besar letaknya tidak jauh dari alun-alun kota Malang. Berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel, kami sudah berada di alun-alun.

Alun-alun kota ini berada tepat di seberang mesjid raya dan dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat joging, santai ataupun bermain bola. Di alun-alun ini ada pojok baca juga loh…hmm, ide bagus bahwa tempat publik harusnya memang disediakan buku-buku untuk warga yang ingin meluangkan waktunya dengan membaca. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai alun-alun ini, yang pasti krucil kami senang berada di sini karena banyak burung merpati yang sengaja dipelihara dan dibiarkan berkeliaran bebas di taman.





Bromo, Jawa Timur

25 07 2016

20160725-112042.jpg

Waktu masih muda dan masih kuliah, si ayah pendaki gunung. Bersama sahabat-sahabatnya beberapa gunung telah ditaklukkannya. Saya walau pecinta alam tapi gak pernah kepikiran untuk mendaki gunung, saya tipekal yang lebih suka menjelajah lembah daripada menghabiskan waktu berhari-hari mendaki gunung…pikiran standard emak-emak. Itulah sebabnya kalau suami saya merencanakan mengajak krucil ke gunung, saya pura-pura gak dengar…hahaha.

Sudah dari dulu suami saya berniat mengajak krucil ke gunung, mulai dari yang gampang dulu Bromo. Waktu kami bertualang hanya bertiga 2013 dulu (ke Jogja, Solo, Semarang dan Malang), si ayah hampir tiap saat telp menyuruh saya mengajak krucil ke Bromo tapi ya gitu deh… ngebayangin harus bangun malam untuk jalan ke gunung aja sudah malas belum lagi ngebayangin betapa ribetnya bawa dua anak masih kecil-kecil, kalau sudah gitu saya tidak menemukan dimana letak asiknya. Jadi ya saya bilang ke ayah…”kalau ke Bromo sama ayah aja”.

Baiklah intronya sudah, saya mulai masuk cerita petualangan ke Bromo kami tahun ini. Suatu saat, ketika saya dan krucil sedang asik berkumpul di ruang tengah…ayah yang baru pulang kerja ikutan ngumpul, lalu tiba-tiba ayah bilang “ayah sudah ambil cuti loh tanggal 14 ini (bulan Juli maksudnya), mau kemana kita?” Dan bumi gonjang ganjing, agak kaget karena cuti ayah sudah diambil awal tahun. Iya, ayah dapat jatah tambahan cuti…baiklah kalau begitu. Lalu, “mau kemana kita? cari-carilah tiket”, tambah ayah lagi. Kemudian saya lupa…beberapa hari kemudian, ayah nanya lagi ke saya “sudah cari tiketnya bund?” laa saya lupa , kemudian cari-carilah tiket secara dadakan…ternyata libur lebaran + libur sekolah bikin harga tiket melambung. Beberapa destinasi liburan hendak dipilih tapi tiket ke beberapa destinasi incaran mahal, jadilah destinasi disesuaikan dengan harga tiket…cari tiket termurah, destinasi disesuaikan belakangan…hehe maklum backpacker

Singkat cerita, dapatlah tiket ke Surabaya. Setelah tiket dibeli, ayah lalu bilang “ayah mau mengajak kalian ke Bromo” dan urusan selanjutnya saya serahkan ke ayah. Hari H tanggal 14 Juli, berangkatlah kami menuju Surabaya. Sesampai Surabaya istirahat sebentar makan di bandara, lalu lanjut ke Malang. Di Malang istirahat sebentar 1-2 jam di hotel, ayah sibuk telp sana sini lalu berkata, habis maghrib kita nginap dirumah teman ayah di Tumpang biar gampang ke Bromo.

Habis maghrib jalan lagilah kami menggunakan taxi menuju Tumpang. Di Tumpang saya tepar banget. Seharian di jalan untuk emak-emak yang cukup berumur itu menguras energy, di rumah teman ayah di Tumpang saya langsung tidur..ngrok ngrok. Eh belum puas tidur, sekitar jam 01.00 dibangunin, mobil jeep nya sudah datang menjemput. Ngantuk dan capek bercampur jadi satu…arrghh liburan macam apa ini?! *jambak-jambak rambut, jedotin kepala* hehe…

Naik jeep tengah malam melalui jalan antah berantah itulah petualangan bermula. Jalan yang dilalui itu sempit, berkelok-kelok, kanan kiri jurang…kalau gak ingat supir jeep warga setempat yang sudah mengenal medan, pengen rasanya mutar arah kembali ke hotel, tidur nyenyak aja. Jalan yang cukup mengerikan membuat mata saya yang awalnya 1 watt langsung naik level jadi 100 watt, waspada. Si ayah dan sulung yang duduk di belakang, tidak memperhatikan jalan malah asik meneruskan tidur. Tiket masuk totalnya 85 ribu, rincian 25rb /orang dan krucil dihitung satu orang saja + kendaraan 10rb, gak mahal sih tapi membuat saya was-was lalu bertanya pada petugasnya : “aman pak?”, petugas :”aman bu”…singkat padat jelas.

Orang tua saya sebelum kami berangkat sudah mewanti-wanti agar kami jangan ke Bromo, bahaya..sedang erupsi. Awalnya saya juga ragu, tapi belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya apa yang media sebarkan itu kadang tidak sesuai kenyataan. Di petualangan kali ini pun terbukti bahwa jangan percaya media 100% dan jangan takut terhadap apapun sebelum melihat dan mengalaminya sendiri…buktinya Bromo aman-aman aja, walau erupsi tapi aman kok untuk wisatawan. Lalu perjalanan dilanjutkan lagi melalui padang savana, pasir dan kabut yang tebal. Suhu dingin mulai menyergap…brrr.

Sekitar jam 03.30 subuh kami lalu sampai di Pananjakan…yippie. Belum keliatan sih apa istimewanya tempat ini, karena yang terlihat di malam hari hanyalah warung-warung dan jeep-jeep saja. Istirahatlah kami di sebuah warung, nyari yang hangat-hangat karena begitu keluar jeep kami menggigil kedinginan….bbbrrrr. Pemilik warung menyarankan agar kami santai aja dulu, jangan buru-buru ke atas karena di atas suhunya jauh lebih dingin. Awalnya saya gak ngeh, ke atas apaan? Rupanya dari tempat parkir jeep itu masih harus mendaki sedikit lagi untuk menuju puncak. Ayah cerita ke krucil, ayah kapok waktu dulu masih muda, ayah ke Bromo cuma pakai celana pendek sama kaos oblong..haha, salah sendiri ke gunung cuma pakai celana pendek.

Krucil saya sudah gak sabaran tuh istirahat di warung, mulai merengek-rengek agar kami segera ke atas. Di bilang di atas lebih dingin gak percaya, gak apa-apa abang tahan kok , kan sudah pakai jaket double katanya pede. Keluar warung, ketemu supir jeep yang langsung mewanti-wanti agar nanti aja jam 5-an saja ke atasnya karena di atas lebih dingin lagi, kalau naik sekarang kelamaan nunggunya karena sunrise sekitar 05.15 .

Bukan krucil namanya kalau gak penasaran, dikasih tahu gitu tambah penasaran…jadilah jam 04.00 kami mulai naik ke atas. Sesampai diatas cari spot untuk ngetem, ternyata sudah penuh…wuiiihhh. Begitu dapat tempat, angin dingin mulai terasa membekukan badan. Baru nunggu setengah jam, bungsu saya langsung minta gendong ayahnya untuk turun kembali. Sebenarnya sulung saya mengajak turun juga…”ayo bunda, abang kedinginan”, kata sulung saya. Saya lalu bilang ke sulung saya ” bang, perjuangan kita kesini tuh panjang banget, belum lagi biaya yang keluar. Bunda juga kedinginan tapi kita jangan menyerah, kalau kita nyerah sekarang…sia-sia perjuangan kita. Ayo semangat, kita pasti bisa”. Sulung saya akhirnya masih bisa bertahan sampai sunrise, tapi saat hendak foto-foto tangan saya dan sulung mati rasa karena kedinginan… kami pun tertawa berdua untuk menyemangati diri sendiri.

Begitu matahari mulai nyembul di ufuk, tuh wisatawan yang awalnya tertib jadi beringas…sikut sana sini. Wisatawannya banyak banget, domestik maupun mancanegara, bejubel layaknya pasar malam. Saya berdua sulung yang dapat spot paling depan, eh ditutupin sama wisatawan lain yang nyelinap keluar pagar. Jadilah kami ikut-ikutan manjat pagar supaya bisa ngeliat sunrise. Setelah foto sebentar, kami memutuskan untuk turun menyusul ayah dan bungsu yang sudah duluan turun. Sampai di warung, menghangatkan diri sambil minum dan makan yang panas-panas. Kemudian ketika wisatawan lainnya mulai turun, kami memutuskan naik lagi…rugi amat sudah jauh-jauh belum dapat foto keren.

Matahari sudah bersinar kala kami naik lagi, jadi krucil tidak begitu kedinginan seperti kala subuh. Foto-foto, lalu turun lagi ke jeep yang parkir. Pak supir Jeep kemudian membawa kami menuju spot-spot lainnya, ada banyak sih spot lainnya tapi karena kami semua tepar akhirnya kami hanya ke pasir berbisik dan bukit teletubbies saja, lalu balik ke Tumpang. Sampai di Tumpang sekitar jam 11.00 siang, bikin kaget teman ayah. Loh kalian gak ambil semua paketnya ya? tanyanya, kalau ambil semuanya biasanya sampai jam 4-5 sore katanya. OMG, kalau harus sampai 4 sore, saya dengan senang hati mengibarkan bendera putih deh…nyerah. Kalau semua tujuan di datangi, ada kawah, bukit cinta, danau Ranu Pani, ada air terjun juga. Tapi kasihan krucil kecapekan..itu sebabnya kami meminta supir segera balik setelah dari bukit teletubbies.

Dan this is it…petualangan kami ke Bromo, akhirnya cita-cita ayah mengajak krucil ke Bromo kesampaian juga. Kata ayah, someday ayah akan mengajak kalian mendaki Semeru…*segera lambaikan tangan ke kamera* hehe. Dan yang paling penting, walau capek kami semua senang…bahkan bungsu saya bilang ke ayahnya, dia senang diajak ke Bromo. Bromo itu indah banget nget nget kebangetan. Saya sampai terharu ketika melihat Bromo, wow…amazing. Susah saya menggambarkan perasaan saya ketika itu, takjub, kagum, bangga karena Bromo itu ada di Indonesia dan segera teringat surah Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan”.





Paiton (Java Power)

2 12 2009

Ini adalah foto kenangan ketika kami melakukan tour Surabaya – Bali beberapa waktu yang lalu, yang karena kesibukan, Big M (Malas), jaringan internet yang jelek, dan sebagainya, hingga baru pada saat inilah sempat saya up load.

Sebenarnya Paiton alias Java power alias pembangkit listrik Jawa-Bali ini lebih enak dipandang saat malam hari, karena efek dari ratusan bahkan ribuan lampu yang meneranginya sehingga menghasilkan efek yang lebih keren. Namun karena saat kami jalan malam hari saya sudah kelelahan, menyebabkan saya malas mengambil foto-foto Paiton. Dan baru saat kami melaluinya lagi dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan diri mengambil beberapa foto dari dalam mobil, dan inilah hasilnya….

Diambil dari atas mobil yang sedang berjalan….hasilnya….fotonya juga berjalan hehehe

Paiton…yang hidupnya bergantung pada batu bara…

Dilihat saat pagi hari…biasa aja yah, seperti pabrik-pabrik pada umumnya. Tapi bila dilihat malam hari? kereeeennnn…sepuluh jempol…wkwkwk

Paiton…Java Power, disinilah Listrik Jawa – Bali dikelola

Java Power