Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe πŸ™‚

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…

Advertisements




KidZania, Jakarta

26 07 2015

20150726-112213.jpg

Sudah dari dulu si bunda berniat ngajak krucils ke KidZania ini. Waktu ke Makassar sempat ke KidZania Makassar…eh ternyata sedang tutup perbaikan. Waktu ke Bandung, hanya numpang lewat di Jakarta. Baru kali ini nih yang benar-benar disempatin untuk main sebentar di Jakarta biar krucils agak gaul dikit πŸ˜€

Kebetulan lagi karena masih dalam suasana libur lebaran dan libur sekolah, Jakarta masih lengang ditambah Sudirman gak jauh-jauh amat dari Gambir jadi masih bisalah bertaxi ria. Niat awal sih naik bis, waktu nanya sama pegawai restoran tempat kami makan eh ternyata lumayan ribet juga naik bis. Katanya gak ada bis umum ke sana, kalau mau naik TransJakarta transit Harmony, baru dari Harmony lanjut ke Sudirman…hmmm, kayaknya naik taxi lebih gampang.

Akhirnya naik taxi lah kami dari Gambir tapi ternyata supir taxinya baru 10 hari jadi supir, dia sama sekali gak tahu dimana itu Pasific Place ataupun KidZania…nanya sama kami, sama mawon pak. Akibatnya bisa ditebak, kami muter-muter deh sampai Semanggi, nanya sama orang lewat sama juga gak tahunya. Ketika akhirnya ngeliat polisi berhenti nanya, baru deh tahu arah yang benar…haha, pengalaman lucu dan sedikit ngeselin. Sesampainya di Pasific Place ini sudah jam 17.00-an sore, naik lantai 6 dan beli tiket. Tiketnya mahal bener ternyata, 250rb/anak dan 200rb/dewasa…hiks sudah terlanjur depan kidZania gak mungkin dibatalkan kalau gak mau krucils ngamuk.

Awalnya saya bingung banget nih cara bermain di KidZania ini, krucils masing-masing dikasih cek 50rb untuk dicairkan di bank katanya…waduh maksudnya opo toh, kok ya bunda gak understand gitu. Masuk, nanya sama petugas…mas, gimana nih katanya untuk nyairin cek? Eh dia malah bingung, loh baru datang ya…tanyanya bingung. Laa saya malah jadi ikutan bingung, memang kenapa kalau baru datang…(si bunda masih belum ngeh). Kemudian dia nunjukin sebuah bank kecil untuk anak-anak mencairkan cek yang dikasih untuk modal bermain katanya (si bunda nambah bingung lagi, memang main perlu modal uang ya? selama ini saya pikir main tuh hanya perlu modal dengkul…hehe).

Di bank mainan yang situasi dan kondisinya dibuat semirip mungkin dengan bank beneran ini hanya anak-anak yang boleh masuk, orang tua hanya boleh liat dari luar. Setelah cek cair, masing-masing krucils saya keluar sambil menggenggam uang mainan senilai 50doz. Setelah itu mereka ngajak ke stand Garuda, mereka pengen jadi pilot katanya. Di stand pilot ini mereka disambut sama pramugari berseragam pramugari Garuda beneran, kemudian gelang mereka di scan, disuruh memakai seragam pilot yang disediakan, masuk ruang kokpit…main deh menerbangkan pesawat, lagi-lagi orang tua gak boleh masuk hanya boleh liat dari luar. Keluar dari situ gelangnya discan lagi, masing-masing dikasih dua buah stiker dan uang 10 doz…

Kemudian mereka bermain jadi pembawa acara laporan cuaca di Metro TV, prosesnya sama juga. Gelang di scan, masuk ruang rias dikasih seragam, berdiri depan kamera yang mengeluarkan text yang harus dibaca…mulai deh jadi pembawa acara. Keluar, gelang di scan lagi, dikasih uang 10 doz lagi. Lalu mereka main di Book Factory, bikin buku sendiri dan dapat uang 10 doz lagi. Lama-lama krucils saya langsung ngerti deh tema permainannya, sayanya masih belum ngeh. Keluar dari Book Factory mereka langsung ngajak saya ke bank lagi untuk menukar uang yang mereka dapat dari gaji setiap permainan dengan kartu ATM. Nah, masuk bank mereka ditanya tuh nama orang tua …ya mirip kalau bikin kartu ATM beneran di bank deh. Keluar dari bank mereka mamerin kartu masing-masing, abang gambar kartun cowok, sedang adeknya bergambur kartun cewek…eh ATMnya beneran mirip lagi dengan ATM yang sebenarnya. Sudah gitu kartu ATM ini bisa narik uang yang sudah mereka simpan di bank sebelumnya…ckckck, canggihnya mainan anak sekarang, gak seperti jaman bundanya dulu paling canggih cuma lompat tali…hehe.

Setelah itu mereka mencoba jadi pembersih gedung tinggi, nah yang ini gajinya cuma 5 doz…uangnya langsung discankan ke dalam kartu ATM yang mereka miliki. Terakhir mereka mencoba jadi teknisi mekanik, gajinya paling besar 20 doz dan dapat sebuah kartu sebagai tanda lulus jadi teknisi tapi kerjanya lama juga sekitar 25 menit. Nah uang-uang yang sudah dikumpulkan hasil kerja ini bisa digunakan untuk naik taxi, naik bis atau kendaraan sejenis yang memang ada di arena KidZania, atau bisa dibelanjakan di supermaket mainan, atau ditukarkan di souvenir shop.

Kata sulung saya niat awalnya sih uang yang sudah dikumpulkannya mau dihabiskan untuk naik taxi keliling kidZania. Tapi karena jam tangan si bunda sudah menunjukkan angka 20.00 WIB, bunda langsung nyuruh krucils berhenti bermain…gak tega juga sebenarnya sedang seru-serunya main disuruh berhenti. Kami harus segera kembali ke Gambir karena loker penitipan koper dan barang kami tutup jam 21.00, belum lagi kami ngejar bis ke bandara (letak hotel kami di bandara, biar esok subuh gak ribet nyari-nyari kendaraan ke bandara lagi…pesawat yang kami beli jam 05.35 subuh artinya minimal standby jam 4-an subuh untuk check in). Baru saya ngeh kenapa orang heran kami baru datang bermain sore hari, harusnya kalau mau puas bermain ya dari pagi sudah standby di KidZania. Pada akhirnya uang yang berhasil dikumpulkan krucils ditukarkan di souvenir shop dengan gantungan kunci.

Di taxi krucils saya minta agar kami jangan pulang dulu esok harinya, masih mau main di KidZania lagi tapi besok mulai dari pagi pinta mereka…hehe. Di bujuk bundanya deh…besok kita pulang dulu, nanti lain kali kalau ke Jakarta lagi kita main ke KidZania ya anak-anak. Sampai di Gambir ambil koper dan barang, buru-buru ke Damri…eh bis bandaranya sudah gak ada, bis terakhir memang jam 20.00 dari Gambir…alternatif lain naik travel ke bandara, tarifnya 50rb/orang. Kalau gini caranya sih ya naik taxi lagi deh, hitung-hitungannya kurang lebih sama kalau berempat sih jadi ya lebih enak naik taxi. Nah karena terpaksa naik taxi, gak perlu buru-buru dong…santai-santai lagi deh di Gambir, krucils ke kamar kecil dulu, makan-makan dulu, beli cemilan dulu, baru deh naik taxi ke bandara.

Sampai di bandara, check in hotel, masuk kamar dan kami semua pun langsung tidur nyenyak…ngantuk berat setelah seharian berkelana. Petualangan kita kali ini seru kata krucils sambil tersenyum manis πŸ˜€





Monumen Nasional, Jakarta

26 07 2015

20150726-055625.jpg

Pernah ke Monas? Saya tidak pernah ke Monas…kalau lewat sih sering banget karena waktu kuliah dulu (hampir 8 tahun di Bandung), kalau mudik ya ke Gambir Jakarta dulu naik kereta, baru dari Gambir naik Damri ke bandara. Gambir kan tetanggaan aja dengan Monas, jadi kalau niat sih sebenarnya gampang aja ke Monas ini, masalahnya gak pernah kepikiran hehe…

Sekarang sudah beda situasinya dengan dulu, punya krucils harus kreatif dan inovatif (halah, opo toh) nyari hiburan yang edukatif dan murah meriah untuk anak. Hiburan mahal sih biasa, kalau punya banyak uang di kota-kota besar banyak bertebaran hiburan mahal…gak mau biasa, kreatif dong (beuh banyak gaya… hehe).

Jumat pagi kami berangkat dari Bandung dengan tujuan Jakarta, ceritanya mau pulang kampung. Sama sekali tanpa tiket apapun ditangan, tidak kereta dan tidak juga pesawat…sesekali pengen go show aja. Naik taxi dari rumah ke stasiun, sesampai di stasiun wanti-wanti ke supir taxi tunggu ya mas, kalau gak dapat tiket kereta mau ke terminal bis. Eh ternyata ada, padahal pas mau beli malam sebelumnya di supermaket yang konon katanya ada kerjasama dengan PT.KAI katanya tiketnya habis. Yippie, satu tiket sudah di tangan…krucils pun riang gembira karena memang mereka sudah pesan kalau mereka mau naik kereta dari Bandung karena itulah salah satu alasan kenapa kami malah naik kereta ke Jakarta dibanding nyari tiket pesawat via Bandung.

Naik kereta salah satu hiburan untuk krucils, maklum di kampung kami gak ada kereta jadi kalau ada kereta itu bagai berkah banget deh…haha, wajib dicoba. Kami naik Argo Parahyangan dong, andalan ke Jakarta….rasanya masih seperti puluhan tahun lampau (jadi mengenang masa muda dulu), yang sedikit membedakan cuma pemandangannya. Dulu gak pernah liat jalan tol di jalur kereta, sekarang jadi bisa liat jalan tol.

Sampai di Jakarta sekitar jam 10an, masih belum punya tiket pesawat…haha, nekat men. Kemudian simpan koper dan barang bawaan di loker. Loker ini salah satu jenis layanan dari PT.KAI, tempat naruh tas dan barang bawaan. Kalau cuma naruh tas sekitar 2rb/jam, nah kalau kami sewa loker tarifnya 5rb/jam…murah kan, bisa jadi alternatif kalau mau one day city tour dibanding ke hotel, tinggal titip tas aja di loker bisa langsung cuss berkelana. Nah karena niat awalnya mau nyari tiket pesawat malam, pagi-siang mau ngajak krucils jalan dulu liat-liat ibukota negara jadi loker ini pilihan paling masuk akal bagi kami.

Setelah taruh barang di loker, langsung jalan ke Monas (ya karena yang paling dekat dari Gambir). Beli tiket agak bingung, ada 2 loket tempat penjualan tiket masuk Monas. Di salah satu loket tertulis tiket ke Museum, satu loket lagi bertulis tiket ke Cawan & Puncak. Laa jadi aja saya dan ayah berbagi tugas …saya beli tiket ke Museum, ayah beli tiket ke Cawan & Puncak biar cepat. Ternyata kalau beli tiket ke Cawan & Puncak tuh sudah termasuk tiket Museum juga…jadi aja double tiket Museumnya, tiket doublenya di kasihkan ke orang lain…haha, untung aja gak begitu mahal tiketnya. Tiket ke Puncak 10rb/dewasa, 2rb/anak. Sedang tiket ke Cawan (ini termasuk Museum juga) 5rb/dewasa, 2rb/anak.

Museum Sejarah Nasional ini letaknya di lantai dasar, bentuknya diorama-diorama 3 Dimensi tentang kejadian bersejarah di Indonesia disertai sepenggal tulisan tentang cerita dari diorama tersebut…dan bisa ditebak, semuanya dibaca dan diperhatikan serta ditanyakan sulung saya, lama banget nih di museum ini. Naik ke atas museum ini ada cawan…ya cawan aja, kayak teras biasa cuma berangin kencang. Mau ke puncak, antrinya panjang banget nget nget kebangetan, akhirnya saya bilang ke krucils gak usah ajalah kita ke puncaknya ya…ntar aja kalau ke Eiffel…(hacuih, pletak lempar bakiak… belagu lu…hehe).

Saat kami hendak turun dari cawan, bertemulah kami dengan seorang bapak-bapak yang tampaknya salah satu karyawan Monas ini, kepada dia lah kami sempat bertanya tentang puncak sebelumnya. Dia nanya, loh gak jadi ke puncak? “Malas, antrinya panjang…kasihan anak-anak”, jawab ayah. Kemudian dia mendekat sambil bisik-bisik, “kalau mau cepat 100rb”. “Hah?” , dari awalnya ngantuk akibat kena angin kencang di cawan jadi terbelalak kaget tiba-tiba dapat tawaran begitu. “Itu untuk berempat, daripada antri 2-3 jam lagi”, balasnya bisik-bisik lagi. Akhirnya bisa ditebak, walau kami gak suka tuh cara sogok menyogok, suap menyuap…tapi apa daya, demi krucils terpaksa deh pakai jalur beginian, kalau waktu kami banyak aja lebih rela ngantri deh di bawah….hiks sama sekali tidak merasa bangga dan malah merasa bersalah pada orang-orang yang sudah antri, maafkan kami ya.

Naik melalui jalur ini cepat bener memang prosesnya…bisa langsung naik lift dari cawan, padahal aturannya sih tidak boleh. Malah anehnya salah satu penjaga lift di cawan ini seolah-olah tidak melihat kami yang naik lift ke puncak melalui cawan padahal sebelumnya dia sempat menegur kami ketika mencoba ngikut serombongan orang yang naik lift ke puncak melalui lift di cawan, katanya “gak boleh pak, bapak gak tahu ya saya petugas di sini”. Eh giliran bayar lebih aja, langsung diam…Indonesia punya cerita banget deh…

Di puncak Monas ini ada teropong-teropong koin gitu yang bisa digunakan untuk melihat-lihat berbagai tempat seputaran Monas. Setelah dari puncak, turun ke Ruang Kemerdekaan, di sini hanya ruang kosong dengan empat sisi yang tiap sisi ada Proklamasi Kemerdekaan, Garuda Pancasila, peta Indonesia dan sebuah pintu…entah deh pintu apaan. Nah di depan tiap sisi itu ada tempat duduk, kami duduk cukup lama sambil istirahat di sini.

Setelah dari Ruang Kemerdekaan, keluar dan langsung jalan kaki lagi ke Gambir. Di Gambir istirahat makan sambil browsing tiket pesawat untuk pulang…eh sudah habis untuk hari itu, adanya besok subuhnya. Beli tiket pesawat untuk keesokan hari sekalian beli hotel di bandara untuk istirahat malamnya. Nah lega sudah punya tiket dan hotel, perut juga sudah kenyang…sekarang bisa ngajak krucils jalan lagi deh melihat ibukota. Browsing-browsing…ada Galeri Nasional, Museum Gajah di depan Gambir euy. Liat jam..yah sudah sore kemungkinan museum sudah pada tutup. Browsing lagi, nemu info Kidzania di Sudirman tidak jauh dari Gambir. Yuks markimon (mari kita kemon), tujuan pengelanaan krucils selanjutnya KidZania…





Hunting Kerja Bersama Sahabat

21 06 2009

Kasus cici paramida yg ramai diberitakan skrg mengingatkan saya pd petualangan me and friends beberapa thn lalu. kejadian ini terjadi saat menjelang wisuda s1 saya. Walopun belum memiliki ijazah resmi, berbekal surat tanda lulus sidang skripsi dan transkrip nilai, saya dan teman2 dekat saya mulai mengatur strategi agar dpt memperoleh kerja secepatnya.

ketika itu kami rajin ikut bursa lowongan kerja dibandung, namun tdk juga membuahkan hasil. Suatu ketika sahabat saya mendpt info kalo di jakarta akan ada bursa lowongan kerja besar2an. Akhirnya dgn semangat membara, kami pun berangkat kejakarta. Dari bdg kami naik kereta api, kemudian dari gambir naik taxi ketempat yg dituju, saya lupa lagi dimana,kalo gak salah sih di JHCC. Ditaxi yg membawa kami, saya dijdkan objek penderita oleh teman2 saya. Ketika melewati Monas, teman2 saya bilang ke saya, inilah monas… liat baik2 loe kan belum pernah liat monas. Seakan2 saya wong ndeso banged. saya pun lgsg berakting ndeso beneran…lengkap dgn mulut ternganga lebar…oalah kok iso yo emas sebanyak itu… Ckckck…hehehe.

Yah, Walopun saya kurang suka kota metropolitan dan bukan pula anak yg suka dugem, tp ya gak geto2 juga ndesonya hehe. Saya sdh sering ke jakarta, tapi seru juga berlakon ndeso didpn org jakarta, yg membuat supir taxi lgsg senyum2 dan jatuh iba…kasian bgt ni bocah hehehe.

Sesampainya di tempat yg dituju, kami pun aktif melamar semua tempat, hasilnya tetap gatot, gagal total. Pulangnya kami memutuskan nginap rumah tmn saya dibekasi. Yah, Sakalian jalan2 gitu, mumpung ada penginapan gratis.

Keesokannya kami jalan2 kemall, kalo gak salah sih mall taman anggrek. Dimall kami bertemu dgn cici paramida . Sebenarnya saya kurang begitu tahu ttg artis, kurang mengikuti perkembangan. Namun teman2 saya membisiki saya bahwa itu cici yg artis ntu tuh. Sehingga saya pun mau gak mau memperhatikannya. Ternyata tdk tinggi2 amat seperti bayangan saya ttg artis. Akhirnya dgn ndesonya kami berhenti shoping terpana oleh artis ibukota hehehe.

Kemudian kami pun kembali kebandung dgn berseri2 dan riang gembira, gpplah gagal dapat kerja yg penting ketemu artis gitu loch…