Unik, Lucu dan Menggelitik di Ho Chi Minh

17 04 2014


Ini adalah beberapa cerita yang unik, lucu, menggelitik dan paling berkesan tentang suka duka selama petualangan kami di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Dimarahin Petugas Imigrasi

Setelah turun dari pesawat, kami yang udik dan ndeso ini pun pengen narsis-narsis ceritanya di bandara. Kan pengen juga tuh punya foto di bandara, tanda bukti krucils sudah menjejakkan langkah ke negara ini. Kemudian kamipun melangkah ke imigrasi. Untungnya sulung saya yang nenteng-nenteng kamera dileher tidak berminat foto-foto disini, saya yang sedang megang tablet yang cover pembungkusnya sudah compang camping jadi malah penampakannya mirip buku sehingga sempat ngambil foto menggunakan tablet. Tapi si ayah sedang sial, saat mengambil foto menggunakan smartphone…eh keliatan cahaya blitznya. Dan petugas imigrasi yang tampangnya sudah cool pun langsung membentak ayah…hey you sir, no picture. Dan semua yang sedang antri di imigrasi pun langsung ngeliatin kami…wahaha, kesian deh dimarahin. The moral of story, jangan narsis kalau di depan petugas hehe…

Awas Barang Bawaan!

Entah kenapa, beberapa orang yang bertemu kami mengingatkan kami…please watch out your stuff, jangan liatin kamera, jangan perlihatkan uang atau dompet, jangan keliatan Hp, many bad people..gitu katanya. Ketika sedang di bis 152 dari bandara, kami yang gak ngerti bahasa pak supir bis kebingungan mau bayar berapa tiket bisnya. Rupanya harga tiketnya 5000 Dong, sedang kami baru menukar uang di money changer bandara. Dan dikasihnya pecahan besar semua, jadi begitu supir nyebut angka…kami yang kebingungan pun memperlihatkan uang 100rb Dong kami. Untungnya ada ibu-ibu yang dibelakang saya ngasih tahu dan kami jadi nunggu ada kembalian dulu baru bayar tiket hahaha. Nah karena ngeliat kami yang oon saat berkomunikasi dengan supir bis itu, malah nunjukin uang kami…si ibu itu pun memperingatkan kami seperti itu.

Sorenya, saat mau keluar hotel…melihat kami nenteng kamera dan memegang tablet…security hotel memperingatkan hal yang sama lagi pada kami. Selain itu dibuku-buku traveler pun kami membaca peringatan serupa. Dimanapun kita berada memang sebaiknya kita selalu waspada.

Banyak Taman

Satu yang saya suka dari Ho Chi Minh City adalah banyak taman. Hampir di semua tempat ada tamannya…pedestriannya juga luas. Jadi ya enak banget untuk jalan kaki, teduh…hijau royo-royo…. krucils juga bisa bermain di taman. Sore hari taman dipenuhi warga, kebanyakan anak-anak muda yang bermain seperti bola takraw bedanya bolanya bukan bola takraw tapi malah seperti bola bulu tangkis ada bulu ayamnya. Mereka bergantian menendang-nendang bola melambungkannya diudara yang kemudian disambut temannya dengan kaki pula. Selain itu semakin sore semakin banyak penjual makanan kaki lima….seruuu liatnya, makanannya unik-unik tapi kami gak berani cobanya karena gak tahu halal atau tidaknya.

Hidup Backpacker !

Biasanya kalau sedang berkelana kami ala backpacker, jalan kaki kemana-mana atau kalau tempatnya jauh yang naik kendaraan umum seperti bis yang murah meriah. Taxi tidak termasuk hitungan kami sebagai backpacker, namanya juga nyari yang irit. Tapi di Ho Chi Minh, nilai mata uang Dong 1/2 dari Rupiah. Saat kami menukar uang di bandara, mereka tidak mau nukar sedikit…akhirnya terpaksalah kami nukar 100 Dollar yang setara dengan 2,1 Juta Dong. Itu sudah kelas bandara, mungkin bisa lebih banyak lagi kalau nukar uangnya di kawasan turis. Beuh berasa kaya mendadak….wahahaha….

Naik taxi juga jatuhnya paling mahal 50rb Dong…atau setara 25rb Rupiah. Ngabisin Dong jadi bingung, gak dihabisin sayang juga sudah terlanjur nukar… jadilah kemana-mana naik taxi (andalan kami Vinasun taxi yang menggunakan argo) serta makan di cafe terus …belagu banget deh haha..hidup backpacker! 😀





Ben Thanh Market, Ho Chi Minh

17 04 2014


Buat yang hobi belanja pasti senang banget kesini. Ben Thanh Market ini tempat berbagai macam barang dan souvenir dijual. Ada magnet kulkas, gantungan kunci, berbagai jenis baju baik yang bertuliskan Ho Chi Minh maupun baju biasa, topi-topi khas Vietnam, tas rajutan, mainan, dsb. Intinya ini adalah pasar souvenir karena pengunjungnya juga kebanyakan turis.

Ben Thanh ini letaknya tidak jauh dari kawasan backpacker, Pham Ngu Lao. Dari hotel kami seringnya jalan kaki main kesini, bukan untuk belanja tapi lebih seringnya untuk nyari makanan. Di dekat Ben Thanh ini memang banyak penjaja makanan, baik yang kaki lima maupun berupa cafe atau restaurant. Rekomendasi dari saya, cobain deh minuman coconutnya….beuh mantap bener. Minuman ini adalah kelapa dingin yang berukuran mini (mirip yang banyak dijual juga di Thailand), saking mininya satu dua kali sedot juga habis…tapi rasanya mantap banget. Biasanya harganya 35-45rb Dong kalau di restaurant….mungkin lebih murah lagi kalau di kaki lima.

Nah, selepas dari Reunification Palace, kami meminta supir taxi mengantar kami ke De’Nyonya (restaurant yang kata buku sih khusus menjual makanan halal) tapi karena supirnya gak ngerti dan kayaknya gak tahu juga letaknya….yo weslah ke Ben Thanh aja karena siangnya kami sempat makan di daerah Ben Thanh juga, makan makanan yang khusus vegetarian…hahaha. Eh sebelum sampai Ben Thanh, kami melihat tulisan halal food, langsung saja kami minta berhenti disitu yang ternyata letaknya hanya dua blok dari Ben Thanh, nama retaurant ini The Green House…dan ajaibnya mereka bisa berbahasa melayu dan makanan yang dijual makanan malaysia seperti nasi lemak, roti canai, dsb. This is it, petualangan hari ini ditutup dengan jalan-jalan ke Ben Thanh Market.





Reunification Palace, Ho Chi Minh

17 04 2014


Setelah dari War Remnants Museum, si ayah nanya…hayooo kemana lagi kita. Saya pun menjawab dengan semangat membara, Ho Chi Minh (Saigon) Square! Begitu naik taxi, ditunjuklah satu tempat di peta oleh si ayah ke supir taxi, ditambah suara saya yang menyebut Saigon Square dan manggut-manggutlah pak supir. Karena bahasa yang paling banyak digunakan selama berada di Ho Chi Minh ini adalah bahasa peta…haha, maklum kebanyakan orang Vietnam tidak bisa berbahasa Inggris, di daerah turis (kawasan backpacker di Ho Chi Minh adalah Pham Ngu Lao) memang bisa berbahasa Inggris tapi logatnya agak susah dimengerti selain itu pengucapan nama jalan juga kadang berbeda. Jadi bahasa yang sering kami gunakan ya nunjukin peta…hehe 😀

Tidak jauh dari War Remnants Museum, sampailah kami di satu tempat yang dari penampakannya mirip perpaduan gedung asia afrika di Bandung dengan kebun raya Bogor…hehe. Tamannya luas banget, teduh dan indah….ya mirip kebun raya Bogor deh (menurut saya loh…). Terus terang saya agak bingung juga, kok beda dengan penampakannya di Trip Advisor…hehe. Saya kemudian baru ngeh ternyata tempat itu adalah Reunification Palace padahal pak supir dengan suara tegas dan pede saat menurunkan kami disini, menyebut tempat ini Square!….wahahaha, salah maksud deh. Tapi gak apa-apa, senang juga kok bisa kesini.

Bayar tiket 66.000 VND (Vietnamese Dong), dengan rincian 30.000 Dong/ dewasa, dan 3 Dong/anak. Rupanya ini adalah gedung kemerdekaan, Independence Palacenya Vietnam. Isinya ya ada ruang pertemuan, ada ruang yang berisi meja bundar, presidential office yang sangat bersahaja,ruang menerima tamu kepresidenan, ruang ambasador, dan dibelakangnya ada apartemen dan ruang makan. Mungkin disinilah tamu-tamu kenegaraan menginap. Walau krucils tampak kelelahan mengitari gedung yang luas ini, ternyata mereka cukup tertarik juga melihat-lihat ruangan yang ada. Tapi setelah itu mereka ngajak kembali ke hotel…hehe, capek kan? Hayu kita kembali ke hotel tapi sebelum itu kita ke Ben Thanh Market dulu ya….





War Remnants Museum, Ho Chi Minh

17 04 2014


Museum ini adalah museum yang memperlihatkan benda-benda peninggalan perang serta dampak dari perang, bangunan besar tiga lantai ini kebanyakan memajang foto-foto perang dan akibatnya. Selain itu ada juga berisi peralatan-peralatan perang seperti tank, helikopter, senapan, basoka, dsb.

Kami datang ke museum ini sekitar jam 12an siang kalau tidak salah, tapi ternyata begitu sampai terdengar suara seperti bel sekolah dan tamu-tamu di mueseum langsung keluar dan pintu gerbang museum langsung ditutup. Katanya sih (katanya supir taxi yang mangkal depan museum ini) semua museum di Ho Chi Minh memang tutup jam 12-an dan dibuka lagi jam 13.30. Sulung saya yang penggemar berat museum langsung kecewa, padahal dari Indonesia dia sudah wanti-wanti bahwa dia ingin ke museum tersebut.

Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami kembali ke museum ini sekitar jam 2 an dan museum sudah buka kembali….malahan pengunjungnya full banget dari lantai satu sampai lantai tiga penuh sesak pengunjung, terutama sih bule-bule. Dengan membayar 15.000 Dong /orang tapi kami hanya ditagih 45.000 Dong karena bungsu di gratiskan sama petugas loket, kami pun masuk. Bungsu saya ternyata tidak tahan melihat foto-foto yang dipajang, katanya sih ngeri-ngeri semua…laaa saya aja yang sudah gede gini merinding melihat dampak perang tersebut. Perang itu kan gak ada gunanya, jauh lebih indah dan bermanfaat kalau hidup damai kan….nah inilah tujuan museum ini didirikan, untuk menunjukkan pada generasi selanjutnya bahwa perang tidak bermanfaat.

Pada akhirnya saya hanya menemani bungsu saya saja yang tidak ingin melihat isi museum, kami lebih banyak duduk saja mengamati pengunjung yang berupa turis-turis berbagai kewarganegaraan dan bahasa seliweran di depan kami. Sementara itu sulung saya ditemani si ayah dengan antusiasme tinggi mengamati semua foto dan benda-benda peninggalan perang tersebut dari lantai 1-3…ckckck. Sebenarnya sulung saya minta kami agar ke cu chi tunnel juga, itu tuh lororng-lorong sempit tempat persembunyian tentara-tentara vietnam jaman perang dulu. Tapi kami pikir kemungkinan besar sih bungsu saya menolak masuk dalam lorong-lorong sempit seperti itu, jadi cukuplah museum ini dulu.

Setelah puas memperhatikan isi dalam museum, krucils kemudian asik mengambil foto-foto helikopter, tank, pesawat tempur, dan beberapa senjata yang dipajang di depan museum. Memang tank-tank dan helikopter perang ini yang menarik minat mereka sehingga mengajak kami ke museum ini, seperti foto-foto yang mereka lihat di trip advisor. Kalau enggak di paksa beranjak dari situ, ya betah ngeliatin tank-tank perang tersebut….hehe. Baiklah krucils, kita jalan lagi yuks nyari yang lebih seru….