Night Market, Chiang Mai

7 03 2015


Selama kami mengunjungi beberapa kota di Thailand, night market jadi magnet tersendiri bagi turis. Sebenarnya night market ini sama seperti kalau kita sedang jalan-jalan di pasar baru Bandung, Jakarta atau bahkan Jogja, tenda-tenda dadakan memenuhi trotoar dan sebagian besar memenuhi lapangan.

Ya namanya juga night market, adanya ya malam. Mulai sore para pedagang sudah sibuk mendirikan tendanya dan berlangsung dari jam 6 sore sampai jam 2 dinihari. Mungkin akibat begadang semalaman seperti itu makanya kalau siang penjual malah sepi…

Letak hotel kami yang strategis, dekat dengan Chiang Mai Night Bazaar dan Anusarn Night Market, jadi paling asik ya ngider-ngider pasar malam ini kalau malam. Banyak makanan, minuman, penjual souvenir yang aneh dan unik, baju, celana…wah surganya belanja deh. Tidak heran night market nih tumplek dengan turis. Harganya sih menurut saya standard, kurang lebih sama dengan di Indonesia tergantung pinter-pinternya nawar aja. Dan karena saya hanya tertarik sama souvenir, saya hanya berburu magnet kulkas. Krucils minta belikan gantungan kunci berbentuk gajah untuk sahabat mereka, nah si ayah nih pengoleksi baju yang bertuliskan nama kota atau negara. Jadi si ayah aja yang hobi beli-beli baju…wahaha…tapi di banding Hatyai (salah satu kota di Thailand juga), Chiang Mai ini termasuk mahal sih menurut saya. Ok yah, sudah cukup belanjanya (geret paksa si ayah dari night market)… hehe 😀





Tiger Kingdom, Chiang Mai

6 03 2015


Setelah dari Baan Tong Luang kemudian kami ke Tiger Kingdom. Terus terang saya sendiri sih belum punya bayangan seperti apakah Tiger Kingdom ini, awalnya saya kira malahan Temple yang biksunya memelihara harimau seperti yang pernah saya tonton di TV. Saya sama sekali belum search tentang wisata di Chiang Mai ini, jadi petualangan di Chiang Mai ini ngalir begitu saja.

Begitu kami sampai di Tiger Kingdom ini, tempatnya ramai banget. Masuk areal parkir aja penuh, seketika itu juga mengingatkan saya pada Bali Safari yang dari parkiran aja penuh dengan turis. Masuk ke dalam, beberapa wanita menawarkan paket-paket berfoto gitu dan karena kami sama sekali blank tentang tempat ini, kami pertamanya cuekin aja tuh wanita-wanita yang nawarin paket-paket foto itu. Laaa kami pikir tempat ini bisa ngeliat harimau gratis atau minimal kalaupun harus bayar bakalan ada pertunjukan yang melibatkan harimau.

Kemudian setelah ditilik-tilik lagi, dilihat, dicermati lebih dalam ternyata kami baru menyadari bahwa wisatanya ya cuma tempat berfoto-foto bersama harimau tok, seperti yang ditawar-tawarkan di kebun binatang gitu. Harga yang ditawarkan paling murah 420 Baht/orang…itu untuk anak-anak, kalau untuk dewasa bisa sampai 1250 Baht, tergantung jenis paket yang diambil dan berapa jenis harimau yang ikut berfoto. Busyet deh, harimaunya ngartis banget yak…

Untungnya saya lagi sakit kepala banget nih waktu disini, jadi pengen istirahat tok, menenangkan kepala yang cenat-cenut…malas ikutan masuk. Oiya, mau ikut berfoto atau gak tapi selama masuk ke dalam kandang harimau, tetap harus bayar loh. Nah karena saya sakit kepala karena kepanasan selama mengitari Baan Tong Luang sebelum kesini, jadi di Tiger Kingdom ini saya lebih memilih duduk-duduk cantik saja di Restaurantnya sambil nyeruput-nyeruput manja es kelapa muda #apa sih? (maklum pucing pala berbie, jadi aja ngelantur hehe…)

Pada akhirnya yang masuk si ayah sama krucils saja dengan total yang harus dibayar 1460 Baht, dengan rincian 420Baht/anak dan 620Baht untuk si ayah. Arrrghhh tambah pucing deh pala berbie…hehe. Itu sudah yang paling murah, berfoto dengan hanya dengan Baby Tiger karena menurut aturan mereka anak-anak hanya boleh masuk kandang harimau yang masih bayi…tapi bayinya aja lebih besar dari si Imuto (anak kucing peliharaan krucils dirumah).

Menurut cerita si ayah dan hasil rekaman di kamera, krucils kami terutama yang bungsu takut-takut gitu berfoto sama bayi harimau…duile dek, sudah bayar mahal eh takut lagi berfoto, piye toh nak-nak. Tapi katanya sih begitu keluar kandang berani ganggu-gangguin harimau-harimau besar dikandang lain hehe. Harimaunya sih banyak banget, ada bermacam-macam…bayi, sedang, besar sampai besar banget. Harimau biasa sampai harimau siberia yang putih…benar-benar kerajaan harimau.

Dari arah Restaurant saya bisa melihat ke salah satu kandang harimau besar yang berisi dua harimau dewasa. Harimaunya ngantuk-ngantuk gitu…matanya merem melek aja, pantesan anteng-anteng aja ngeliat turis berbagai ras bangsa hilir mudik keluar masuk kandang mereka, meluk-meluk mereka, pasang pose sebagus mungkin dekat harimau-harimau ini.

Setelah minuman saya habis, krucils datang sambil cerita heboh pengalaman mereka berfoto bersama dua ekor bayi harimau yang nakal, senakal Imuto bunda cerita mereka…hehe…syukurlah kalau kalian senang. Setelah membayar minuman, kami pun beranjak keluar Resataurant…eh tidak jauh dari situ ada boneka Tiger besar…si adek minta difoto disini. Sudah bayar mahal, di dalam kandang takut malah minta foto sama boneka. Lain kali kita ke toko boneka aja ya dek, boleh kok foto sepuasnya dengan boneka tiger tanpa bikin pucing pala bunda dan ayah…wahaha 😀

PS : foto krucils bersama bayi harimaunya belum ditransfer dari kamera, sabar ya nunggu kami pulang berpetualang dulu 🙂





Baan Tong Luang, Chiang Mai

6 03 2015


Pagi-pagi sekali di hari kedua kami di Chiang Mai, kami sudah bangun, sarapan dan nunggu jemputan. Kami sudah carter mobil hari sebelumnya untuk mengantar kami kesono kemari. Ada banyak tempat sebenarnya yang hendak kami kunjungi awalnya tapi yang utama tetap dong Long Neck Karen. Supir mobil kami (namanya Mr.Aroon) menawarkan riding elephant di Elephant Camp, Bamboo Rafting, Tiger Kingdom, Baan Tong Luang, sisanya sih terserah deh mau kemana. Awalnya sih kami ho oh ho oh aja, eh pas kami iseng-iseng tanya berapa biaya naik gajah ke Mr.Aroon jawabnya 1200Baht /orang. Jadi kalau berempat hitung aja tuh totalnya berapa…waaahhh, gak jadi deh. Chiang Mai ini adalah kota pertama dalam petualangan kami kali ini, kalau uangnya dihabiskan di Chiang Mai duluan, lalu bagaimana nasib kami di kota-kota selanjutnya…maklum backpacker yang budgetnya terbatas…hehe.

Jadi beberapa tawaran kesono kemari kami skip, termasuk Chiang Mai Zoo. Pada akhirnya kami hanya ke Baan Tong Luang dan Tiger Kingdom saja. Karena kami tidak jadi menaiki gajah, kami langsung ke Baan Tong Luang…sudah dari dulu kami (ok ngaku deh, saya sih sebenarnya..) penasaran pakai bingit sama yang namanya Long Neck Karen. Awalnya sih saya berniat mengajak krucils dan si ayah melihat suku ini langsung di tempatnya asli, yaitu di Myanmar perbatasan (Tachiliek) tapi karena setelah dihitung-hitung waktunya tidak cukup jadi kami putuskan melihatnya di Chiang Mai saja, tepatnya di Baan Tong Luang, sebuah desa yang dibuat khusus untuk beberapa suku yang mengungsi ke Thailand. Untuk itulah kami sampai bela-belain rental mobil.

Biaya masuk ke Baan Tong Luang ini 500Baht/orang dewasa, dan 300 Baht /anak. Totalnya kami harus membayar 1600Baht. Di dalam Baan Tong Luang ini ada beberapa suku yaitu, Karen (yang leher panjang), Akha (yang pakai topi dengan manik-manik), dan Lahu (yang telinganya ditindik pakai semacam pipa besi). Masih ada sih suku lainnya tapi seperti biasa kami gagal paham baca peta jadi tidak bertemu yang lain hehe 😀

Awalnya bungsu kami ketakutan kesini. Dari awal dia sudah bolak balik nanya, gak apa-apakah kita bertemu suku itu yah? Orang-orangnya baik gak? Setelah dijelaskan dan diyakinkan akhirnya mau juga kesini walau dari tampangnya difoto masih keliatan sedikit rasa takutnya. Disini krucils dan si ayah kalap belanja belanji beberapa barang handmade suku. Kata si ayah sih, sudah jauh-jauh kesini nanggung gak belanja hehe. Belanja scarf, gelang berbagai bentuk, alat musik, tempat botol, magnet kulkas dan syukurlah pas kesini belum sempat nukar uang di money changer…jadi pas mau belanja lagi, Baht menipis…sudah deh selesai belanja belanjinya. Kalau tidak entahlah apalagi yang bakal mereka borong disini.





Tha Phae Gate, Chiang Mai

5 03 2015


Tha Phae Gate merupakan gerbang sebelah timur dari kota tua Chiang Mai. Kalau liat di peta sih oldtown Chiang Mai tuh berbentuk segi empat dan tiap sisi ada gerbang atau pintunya. Kalau realnya sih hmmm saya ragu bentuknya segi empat, habis kami bingung muter-muternya nyari si Tha Phae Gate ini (laa… kalau bingung ini sih derita lo kalii…salah sendiri gagal paham baca peta hehe).

Baidewai baswei, walau menurut peta ada 4 gerbang yang mengitari oldtown ini tapi yang terkenal ya cuma Tha Phae Gate alias gerbang timur ini…entah kenapa. Mungkin karena Tha Phae Gate ini yang masih terlihat berbentuk gerbang tua di sisa-sisa tembok bata tua kali ya..entahlah. Tha Phae Gate ini hanya berupa sebuah gerbang ditembok tua yang mirip pagar sebuah benteng, didepannya ada ruang terbuka, beberapa tempat duduk dan banyak burung merpati saja sebenarnya. Tidak ada apa-apa tapi karena salah satu landmark kota makanya tempat ini menjadi tempat favorite traveler kalau ke Chiang Mai.

Setelah dari sini, seorang ibu menyarankan mengunjungi beberapa wat dan sebuah museum yang berada di area dalam gerbang untuk kami kunjungi. Wat-wat dan museum itu sudah dioret-oret si ibu itu sih di peta pariwisata yang kami ambil di bandara. Lagi-lagi karena gagal paham baca peta plus malas juga karena panas terik, habis dari Tha Phae Gate ini kami malah sibuk nyari jalan pulang ke hotel wkwkwk 😀

Walau si bungsu ngambek tidak jadi ke museum tapi krucils happy di Tha Phae Gate ini. Mereka bersenang-senang memberi makan merpati ..malah pulangnya mengajak kami agar besok kesini lagi untuk memberi makan burung lagi. Berhubung kami hanya belikan makanan burung seharga 20 Baht hanya satu untuk berdua (sulung dan bungsu), sulung saya malah berniat menukar uang miliknya di money changer hanya supaya besok bisa beli makanan burung masing-masing satu …hehe





Baan Haw Masque, Chiang Mai

5 03 2015


Setelah taruh barang dan istirahat sejenak dihotel, kami memutuskan untuk melihat-lihat daerah seputaran hotel… yuk markimon (mari kita kemon) sekalian cari makan…

Si ayah yang dari Indonesia sudah wanti-wanti kalau beli hotel cari yang dekat Baan Haw Masque, seputaran mesjid tersebut wilayah muslim supaya lebih mudah cari makan yang halal selama di Chiang Mai. Dan karena tugas sayalah selalu yang mencari hotel, jadi saya beli disalah satu situs hotel langganan saya, yang berdasarkan reviewnya sih hotel ini letaknya tidak begitu jauh dari Baan Haw Masque ini, setelah saya buka mapnya ya emang gak begitu jauh. Tapi begitu tiba di hotel, tidak terlihat tanda-tanda dimana mesjid ini berada, si ayah sempat kecewa langsung komplain…kata ayah kan cari di wilayah muslim, di Baan Haw Masque.

Saat kami keluar hotel nyeberang jalan, eh di gang kecil depan hotel ada plang bertuliskan Masjid Hidayatul Islam Banhaw…yippie…tuh kan benar pilihan si bunda. Bunda kan jago kalau masalah cari hotel hehehe 🙂 Nah disini kami berburu makan, walau di pesawat sih sudah ngisi perut juga dengan nasi lemak dan chicken rice. Nemu penjual roti chanai tapi disini namanya rotee fruit gitu kalau gak salah, jadi adonan roti chanainya dicampur sama buah-buahan gitu. Kalau krucils pilihnya rotinya dicampur sama susu kental manis…saking sukanya sampai makan 6 buah. Sedang ayah bunda masih kenyang jadi hanya pesan ice green tea.

Kemudian jalan lagi, akhirnya nemu deh mesjidnya ditengah-tengah gang. Mesjidnya besar dan diseputarannya memang banyak penjual makanan muslim, ibu-ibu berjilbab. Ok sip…Baan Haw Masque sudah check list..yuks jalan lagi…