Kuala Lumpur – Ho Chi Minh – Phnom Penh – Siem Reap – Bangkok

28 04 2014

20140428-022926.jpg

Alhamdulillah, kami bisa ngajak krucils jalan-jalan lagi melihat dunia luar, berpetualang lagi, berkelana lagi, menjelajah lagi. Kali ini kami berencana mengunjungi 3 negara, atau 4 negara kalau dihitung dengan negara transit pengelanaan. Apa aja sih negaranya? Mau tahu aja atau mau tahu banget? hehe. Negara tersebut adalah Malaysia (transit), Vietnam, Cambodia, dan Thailand…seru kan? Pastinya seru dong…

Petualangan ini sudah sejak setahun yang lalu kami rencanakan, awalnya kami tertarik untuk menyambangi 5 negara di Asia sekaligus yaitu Thailand nyeberang dikit ke Myanmar, lalu keatas dikit Laos, lanjut ke Vietnam, kemudian turun ke Cambodia. Tapi kemudian kami menyadari bahwa susah untuk mengatur waktu mengunjungi 5 negara sekaligus dengan waktu libur hanya 10 harian, yang ada habis waktu dijalan aja. Akhirnya kami memutuskan mengunjungi 3 negara saja dulu, dimulai dari Ho Chi Minh City (Vietnam) lalu ke Phnom Penh dan Siem Reap (Cambodia) ==> tujuan utama memenuhi impian si bungsu mengunjungi 7 keajaiban dunia, ya salah satunya Angkor Wat, kemudian berleha-leha di Bangkok (Thailand).

Seperti yang sudah-sudah, krucils yang paling heboh. Sok ikutan bantu packing-packing, ikutan hunting tempat yang ingin mereka kunjungi, ikutan nyari-nyari hotel….wah seru deh. Senang banget ngeliat antusiasme mereka setiap saat. Inilah cerita suka duka penjelajahan kami melintasi negara-negara tersebut ala backpacker.

# Menuju LCCT, Kuala Lumpur (Malaysia), 16 April 2014 #
Menjelang berangkat memulai petualangan ini, saya dan sulung saya malah terserang flu akibat ketularan si bungsu yang seminggu sebelumnya juga terserang flu. Sakit kepala, flu dan datang bulan membuat saya malas untuk browsing, googling dan surfing…untung ada si ayah, jadi beres. Bagi-bagi tugas dengan si ayah akhirnya saya kebagian ngurus packing dan beli hotel di internet sisanya urusan ayah hehe.

Jadwal pesawat kami ke Kuala Lumpur jam 12.00 siang, tapi karena krucils sudah tidak sabar akhirnya jam 9-an pagi kami sudah kebandara…hahaha. Di bandara malah bertemu sama tetangga satu blok yang sama-sama mau ke KL tapi dia hendak meneruskan ke Alor Setar sore itu sedangkan kami transit semalam dulu sebelum meneruskan ke Ho Chi Minh.

Tiba di LCCT jam 14.35, selesai urusan imigrasi langsung ngacir ke Taste of Asia, makan dulu walau dipesawat juga sebenarnya sudah makan tapi rasanya gak afdol banget kalau gak ngabsen disini. Setelah makan nasi lemak dan minum teh tarik panas, sakit kepala yang menyerang saya jadi agak berkurang…baiklah, saatnya ke hotel. Kami menggunakan taxi bandara dengan tarif RM 50 (kalau gak salah, lupa euy) untuk mengantar kami ke hotel yang telah kami beli di internet yang letaknya di daerah Sepang. Di hotel sempat berburu nasi lemak lagi kemudian istirahat…petualangan panjang telah menanti.

# Menuju Ho Chi Minh City (Vietnam), 17 April 2014 #
IMG20140417003 Esok subuhnya menggunakan taxi dengan tarif RM 55, kami ke LCCT kembali. Jadwal pesawat kami ke Ho Chi Minh City jam 07.05 pagi dan tiba jam 08.05 waktu setempat. Lama perjalanan sebenarnya sekitar 2 jam tapi karena perbedaan waktu satu jam antara Kuala Lumpur dan Ho Chi Minh, jadi terlihat waktu tempuhnya seperti hanya 1 jam-an saja.

Kami sempat kena tegur petugas imigrasi karena si ayah berniat ngambil foto padahal belum sempat motret sudah kena tegur duluan. Entah kenapa petugas-petugasnya kurang ramah sama pengunjung, selain dilarang foto, turis-turis yang ngantri juga sering ditegur karena ngantrinya kepanjangan disatu tempat (gak liat kalau loket imigrasinya ternyata lumayan banyak jadi pada ngantri di loket-loket terdekat saja).

Setelah selesai urusan imigrasi, kami pun langsung mencari money changer…belum punya Dong (mata uang Vietnam) nih. Salahnya kami, kami gak punya uang Dollar pecahan kecil, uang yang kami bawa pecahan 100 sehingga ketika kami bilang hanya nukar 50$ saja (niatnya untuk ongkos bis atau transportasi dari bandara ke kota saja), money changernya gak mau. Mereka hanya mau menukar 100$…ya sudahlah daripada gak punya uang akhirnya kami tukar saja 100$ yang setara dengan 2,1 juta Dong. Dan dikasihnya pecahan besar juga lagi, 11 lembar pecahan 100rb Dong plus 2 lembar pecahan 500rb Dong. Pada akhirnya tetap aja kami kebingungan bayar tiket bis yang hanya seharga 5000 Dong/orang hahaha.

Dari bandara kami naik bis umum yang bentuknya mirip metromini nomor 152 ke Pham Ngu Lao, letak hotel kami. Setelah bertanya sama penumpang seorang ibu yang duduk dibelakang saya, akhirnya kami berhenti di dekat Ben Thanh, kemudian jalan kaki ke hotel kami yang letaknya persis seperti yang digambarkannya, ditengah-tengah Pham Ngu Lao (backpacker area). Di Ho Chi Minh kami berkelana ke War Remnant Museum, Reunification Palace, Ben Thanh Market, Tao Dan Park dan menjelajah sepanjang Pham Ngu Lao…seruuu melihat di Ho Chi Minh banyak taman dan bersih. Dan lebih seru lagi melihat motor-motor yang berseliweran, penuh banget dan njelimet kalau sudah jam pulang kerja dengan helm-helm bulat lucu. Untuk petualangan kami di Ho Chi Minh City, lihat postingan sebelumnya.

# Menuju Phnom Penh (Cambodia), 18 April 2014 #
IMG20140418009 Pertama-tama yang kami lakukan di Ho Chi Minh adalah membeli tiket bis ke Phnom Penh untuk keesokan harinya. Hasil baca dari buku katanya sih bis yang paling direkomendasikan adalah Mekong Express yang agennya ada di Pham Ngu Lao, dekat hotel kami berada. Kata si ayah sih, yang dia baca bis hanya ada satu kali setiap hari yaitu jam 8 pagi sedang kami sudah kesiangan waktu ke agen bis ini. Ternyata bis pagi penuh, ada yang jam 12 siang esok hari itupun hanya tersisa 3 seat paling belakang dekat toilet! Harga tiket bis ini 23$ / orang tapi karena kami hanya kebagian 3 seat, jadi dihitungnya ya cuma untuk 3 orang.

Kebayang pengalaman buruk waktu naik bis “first class” dari Phuket ke Hatyai yang kondisinya…yaaa…gitu deh dan toiletnya wangi semerbak bikin mual, awalnya agak ragu juga kami mengambilnya. Tapi hotel di kota-kota selanjutnya sudah terlanjur dibeli, jadi akhirnya nekat kami ambil saja seat yang tersisa sembari menyiapkan masker hidung untuk jaga-jaga..hehe.

Ternyata bisnya lumayan bagus, bersih, pakai Ac, toiletnya juga sama sekali tanpa bau dan hebatnya pakai pramugari (eh pramugari untuk pesawat, kalau bis apaan yah?). Selama perjalanan, pramugari ini yang memberitahukan pada penumpang sudah sampai dimana atau apa yang harus dilakukan ketika memasuki daerah perbatasan kedua negara selain itu juga membagikan minuman, cemilan roti (yang sama sekali tidak berani kami sentuh karena rotinya isi daging yang malas juga nanya daging apaan), tisu basah dan ngurusin pasport kami selama di imigrasi. Lama perjalanan 6 jam ditambah berhenti istirahat makan dan urusan imigrasi, jatuhnya sekitar 7-8 jam-an di jalan.

Selama perjalanan sih saya tidur sehingga tidak banyak yang bisa saya ceritakan kecuali ketika sampai suatu tempat sudah berada di wilayah Cambodia, jalan bis agak tersendat. Ketika kami lihat keluar ternyata jalan macet oleh kendaraan-kendaraan berbentuk pick up dan truk terbuka yang isinya berjejalan buruh-buruh pabrik yang sudah kayak sapi aja dimasukkan berjejalan gitu…kasian juga liatnya. Selain itu juga yang paling mengesankan selama perjalanan ini adalah ketika bis naik ferry kecil menyeberangi sungai Mekong. Dari antri masuk ferry, ferry jalan hingga akhirnya bis turun dari ferry memakan waktu hanya sekitar 5 menit saja, cepat prosesnya tidak seperti di Balikpapan yang antrinya bisa berjam-jam belum lagi nunggu berlabuhnya. Padahal ferry di Cambodia ini sederhana banget dan jalan menuju pelabuhan ferry ini pun masih jalan tanah tapi proses yang cepat membuat kami salut.

Akhirnya sekitar jam 8 malam kami pun sampai di Phom Penh. Dari tempat bis Mekong Express ini kami naik tuktuk seharga 4$ ke hotel kami di Sisowath Quay yang letaknya menghadap sungai yang kalau malam asyik banget tempatnya. Di Phnom Penh kami ke night market, jalan-jalan ke Wat Phnom, Central Market, National Museum of Cambodia dan Royal Palace…lebih lengkapnya liat postingan sebelumnya.

# Menuju Siam Reap (Cambodia), 19 April 2014 #
IMG20140419014 Kami kembali menggunakan bis Mekong Express ke Siam Reap. Tiket bis ke Siam Reap ini (23$/orang) sudah sekalian kami beli waktu di Ho Chi Minh, awalnya kami memilih tempat duduk paling depan tapi dengan alasan keamanan karena kami bawa krucils, mereka tidak mau memberikan tempat duduk paling depan. Kami akhirnya dapat seat nomor lima dan kali ini bisa lebih leluasa selama perjalanan karena kami dapat 4 seat.

Dari hotel kami dijemput minivan yang disediakan oleh bis untuk berkumpul di tempat bis Mekong Express yang ruang tunggunya ber Ac dan free wifi…hihi, penting banget nih. Bis berangkat sekitar jam 12.30 siang namun kali ini bukan mbak pramugari lagi yang mengurusi kami di bis tapi mas pramugara, yang tugasnya sih sama memberitahukan penumpang sudah berada dimana, mau ngapain (berhenti istirahat makan), membagikan makan dan minum, dsb. Lama perjalanan kurang lebih sama dengan ke Phnom Penh, memakan waktu 6-7 jam ditambah dengan istirahat makan. Bedanya selama perjalanan bis tidak bisa jalan cepat karena banyak jalan rusak dan jalannya berdebu banget, mirip banget dengan jalan di kabupaten-kabupaten di Indonesia. Sepanjang jalan juga banyak perbaikan jalan, pemandangannya sawah yang baru dipanen, rumah penduduk yang berbentuk panggung, sapi-sapi kurus dan temple-temple.

Ketika jam menunjukkan angka 7 malam kami pun akhirnya sampai di Siem Reap. Bis berhenti di terminal bis yang letaknya sekitar 6km dari pusat kota sedang hotel kami terletak di pusat kota. Turun dari bis kami pun memesan tuktuk untuk mengantar kami ke hotel dengan tarif 3$. Sebelum mengantar kami ke hotel, ayah meminta supir tuktuk untuk berhenti sebentar di Nattakan Express dulu untuk membeli tiket bis ke Bangkok seharga 28$/orang. Sebenarnya banyak bis-bis lainnya dari Siam Reap ke Bangkok, tapi umumnya bis lain hanya mengantar sampai perbatasan Cambodia dan akan berganti dengan minivan saat memasuki wilayah Thailand. Kenapa demikian? Hal ini dikarena sistem setir mobil yang berbeda, jika di Cambodia setir jalur sebelah kanan, nah di Thailand setirnya sama dengan di Indonesia dijalur kiri. Karena kami malas kalau harus ribet berganti-ganti kendaraan seperti itu, untungnya katanya ada bis baru yang bisa langsung Siem Reap-Bangkok tanpa harus berganti kendaraan yang walau sedikit lebih mahal kami lebih memilih menggunakan bis ini.

Setelah tiket bis sudah ditangan dan sempat beli KFC (KFC dieu…KFC dieu…yang paling aman soalnya hehe), kami pun istirahat di hotel kami di Siem Reap. Esoknya kami keliling komplek percandian Angkor Wat yang luas banget (seperti sebuah kota kecil saja) sampai gempor dan malamnya keliling Siem Reap melihat-lihat kehidupan malam serta night marketnya sekaligus cari makan menggunakan sepeda dan bertemu dengan pemukiman muslim serta penjual makanan halal. Kami 2 malam di Siem Reap, cerita lengkapnya lihat postingan sebelumnya.

# Menuju Bangkok (Thailand), 21 April 2014 #
DSC_0024 Pagi hari kedua di Siem Reap kami dijemput tuktuk di hotel untuk diantar ke tempat bis Nattakan yang letaknya sih sebenarnya tidak jauh dari hotel tapi karena ada fasilitas penjemputan ke hotel ya kami manfaatkan saja. Di ruang tunggu bis sembari check in, passport kami juga dimasukkan dalam data mereka.

Bis Nattakan hanya punya dua jadwal keberangkatan dipagi hari, yaitu jam 8 dan jam 9 pagi. Hal ini dikarenakan waktu tempuh Siam Reap – Bangkok yang memakan waktu 10-12 jam perjalanan, ditambah border (perbatasan) imigrasi Thailand yang tidak buka 24 jam, hanya buka pagi hingga jam 7 malam. Dan beruntungnya lagi, bis sebesar itu isinya hanya sekitar sepuluh orang saja, kami berempat dan bule-bule…jadi si pramugara (iya pakai pramugara juga seperti Mekong Express) membolehkan kami duduk dimana saja yang kami inginkan.

Di perbatasan keluar Cambodia (Poipet) kami hanya disuruh turun membawa passport saja. Dari imigrasi Cambodia kami harus jalan kaki yang lumayan jauh juga memasuki wilayah Thailand (Aranyaprathet). Begitu masuk wilayah Thailand, si pramugara sudah menunggu kami sembari menyerahkan barang bawaan kami karena katanya barang harus melewati X-ray. Nah di imigrasi Thailand ini, bujubune…antrinya puanjangnya poll deh. Ruangnya sempit, antriannya panjang eh petugas imigrasinya hanya 3 orang untuk mengurusi ratusan orang yang berniat masuk Thailand melalui Cambodia ini. Kebayangkan antriannya gimana, walau ruangannya ber Ac tapi karena sempit ditambah antriannya panjang melingkar-lingkar gitu jadi gak terasa juga Ac nya…panas…

Setelah antri sekitar 1,5-2 jam akhirnya dapat cap masuk Thailand juga. Kalau kata bule yang satu bis sama kami, we did it…we survive…wahaha…kayak apa aja tapi rasanya memang seperti itu. Saya dan ayah terpisah loket, sulung dan si ayah diloket sebelah kanan, saya dan bungsu di loket sebelah kiri…dan setelah urusan passport saya selesai, giliran passport si bungsu. Petugas imigrasi bilang foto, ya saya pasang pose dong dikameranya…eh dia malah menyorongkan passport ke arah saya sambil ngangkat keatas dan bilang up up…saya kebingungan dong, masa iya disuruh foto narsis sambil megang passport dekat kepala, emangnya anak alay hehe. Eh melihat saya yang terbengong-bengong dia bilang lagi kiden kiden up up…laaah saya tambah bingung, sambil mikir apaan yah maksudnya kiden itu? Rupanya maksudnya saya disuruh gendong si bungsu untuk di foto wahahaha….biasanya krucils gak repot urusannya diimigrasi, eh disini disuruh foto juga rupanya…maaf pak, saya gak ngerti…hehe.

Nah selesai diimigrasi dan dapat cap ijin masuk Thailand di passport, berjalanlah kami ke arah bis kami menunggu. Kami sudah ditungguin si pramugara, katanya kami the last one, yang lain sudah pada nungguin hehehe. Kemudian bis pun jalan lagi dan sempat berhenti istirahat untuk memberi kesempatan penumpang untuk ke toilet atau membeli makan minum di dekat pom bensin yang ada gerai seven elevennya. Ketika akhirnya bis sudah memasuki Bangkok, langsung disambut dengan kemacetan jalan…bener-bener macet padahal melalui jalan tol, serasa ada di Jakarta aja. Terjebak kemacetan ini memakan waktu 2 jam sendiri…arrrggghhh. Kata saya ke krucils, kotanya mirip Jakarta ya. Sulung saya langsung menjawab, bedalah bunda…disini lebih bersih. Memang lebih bersih sih tapi tetap aja macet.

Setibanya di terminal bis Bangkok, kami bertanya ke ayah, “dari sini kita naik apa yah?” Ayah dengan entengnya menjawab, ayah juga gak tahu…dia belum mempelajari Bangkok sama sekali, kacau deh dunia persilatan. Tanya sama petugas yang lalu lalang eh malah dioper-oper, ditunjuk kesana tapi pas kesana orangnya malah balik nunjuk kesini…mana gak bisa bahasa inggris lagi. Akhirnya ketemu ruang informasi, pas kami nanya gimana caranya ke Khaosan Road…dia hanya menjawab tuktuk. Kemudian muncullah supir tuktuk yang lumayan bisa bahasa inggris, dia nawarin 300 Baht ke Khaosan. Feeling saya sih harga tersebut kemahalan, ditawar 100 Baht dia gak mau…akhirnya saya bilang ke ayah, mending kita pakai taxi argo deh, yang kalau disini tulisannya Taxi Meter. Mahal tapi jelas…apalagi bule-bule teman seperjalanan kami juga banyak antri naik Taxi ini.

Akhirnya antrilah kami nunggu Taxi Meter ini, ya antri beneran…begitu Taxi muncul, antrian yang paling depan yang berhak masuk duluan demikian seterusnya hingga tiba giliran kami. Naik Taxi Meter ini hanya kena tarif sekitar 75 Baht saja, enak lagi pakai Ac dan wangi. Tapi supir Taxinya gak tahu letak hotel kami, kami disuruh cari sendiri di Khaosan Road. Untungnya banyak Polisi disekitar situ karena ada kantor polisi pas dijalan masuk Khaosan, saat kami tanya hotel kami mereka langsung calling-callingan menggunakan Walkie Talkie menanyakan ketemannya siapa yang tahu nama hotel kami dan letaknya dimana. Akhirnya polisi tersebut nunjuk kedalam Khaosan, dia bilang terus aja nanti belok kanan. Sampai ujung jalan gak nemu juga tuh hotel padahal katanya ditepi jalan. Akhirnya nanya sama penjual-penjual dikawasan tersebut…eh dia nunjuk kearah luar lagi tempat Taxi kami berhenti sebelumnya…jalan lagi keluar, masih tetap gak nemu.

Kemudian karena sudah capek akibat perjalanan jauh Siem Reap – Bangkok ditambah ngantuk juga karena sudah malam (jam 9 atau 10 malam, kalau gak salah), kami pun masuk kantor polisi. Minta tolong telpkan hotel, dikasih petunjuk masuk di Khaosan Road dekat Bangkok Inn…lalu masuk lagilah kami ke Khaosan Road, gak nemu Bangkok Inn sampai diujung jalan, bulak-balik tetap gak liat. Alhamdulillah banget kami bertemu dengan segerombolan pelajar, ketika nanya mereka…mereka dengan antusias tinggi membantu kami mencari hotel kami, bahkan bolak balik menelpkan hotel, mencarikan di google map,dsb. Akhirnya pihak hotel pun menjemput kami, finally setelah satu jam bolak balik nyari hotel. Pelajar-pelajar tersebut benar-benar baik hati dan tanpa pamrih sama sekali, thank you so much kata kami dan mereka langsung menjawab welcome welcome…tertolong deh berkat mereka.

Ternyata letak hotelnya tidak ditepi jalan, tapi masuk kedalam gang sedikit…pantesan gak ada yang tahu dan pantesan lagi bolak balik menyusuri jalan gak nemu-nemu…hahaha. Walau saya sudah tahu kalau hotel kami di Bangkok ini hotel kelas backpacker tapi gak nyangka juga kalau letaknya nyempil dalam gang. Memang sih deskripsinya benar, letaknya strategis banget ditengah jalan Khaosan, dekat kemana-mana tapi kok gak pasang petunjuk depan gang kek kalau letaknya disitu. Krucils dan si ayah langsung deh ada kesempatan nyela-nyela bundanya, pinggir jalan apaan…pinggir jalan gang kaleee…hahaha.

Maklum saya beli hotel ini sehari sebelum ke Bangkok yaitu ketika kami di Siem Reap, malam setelah kecapekan berkelana di Angkor Wat…jadi liat review pengunjung bagus, murah, letak strategis…langsung beli deh, gak sempat liat-liat petanya lagi deh. Ini karena ayah juga nih yang melarang saya beli hotel di Bangkok waktu kami masih berada di Indonesia, padahal hotel-hotel di negara lain semua sudah saya beli saat di Indonesia yang waktu untuk menimbang-nimbang lebih banyak, internet cepat, tidak dalam kondisi kelelahan juga.

Tapi krucils dan ayah ngeledeknya sebentar saja, karena sejak dari Siem Reap saya sudah wanti-wanti…hotel kita di Bangkok ala backpacker loh walau fasilitas sama komplitnya (AC, TV, Wifi) cuma lebih sempit saja. Gak terima komplain ya…hahaha. Pada akhirnya krucils malah senang karena ya itu tadi, letaknya yang strategis dekat kemana-mana, dekat pusat keramaian, dekat nyari makan dan oleh-oleh, dan tidak jauh juga dari tempat wisata.

Kami menghabiskan 3 malam di Bangkok, mencoba floating market yang tertipu 2x lipat harga sebenarnya, ke National Museum, The Grand Palace, dll. Cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Hari ketiga kami pun bersiap-siap kembali ke Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Indonesia.

# Kembali ke Kuala Lumpur (Malaysia), 24 April 2014 #
IMG_5872[1]
Di hotel kami di Bangkok, kami memesan jemputan yang bisa mengantar kami ke bandara Don Mueang. Katanya sih bandara ini berbeda arah dari bandara Suvarnabhumi dan ongkos ke Don Mueang sedikit lebih mahal dibanding ke Suvarnabhumi. Karena pesawat kami letaknya di Don Mueang, ya apa boleh buat…dengan membayar 600Baht esok paginya sekitar jam 6.30 pagi kami dijemput oleh minivan. Isi minivan tersebut hanya kami dan dua orang bule Prancis.

Jadwal keberangkatan pesawat sih jam 10 pagi tapi jadwal boardingnya jam 8.30 pagi, itu sebabnya kami minta diantar pagi sekali ke bandara …takut jalan macet. Sembari nunggu, krucils bermain ditempat bermain khusus anak-anak yang ada di bandara, sedang saya dan ayah sibuk mencoba login wifi gratis bandara. Rupanya ribet banget untuk bisa masuk wifi gratis ini, harus ngisi aplikasi dulu lengkap dengan nomor passport, baru dikirim password ke email, baru deh bisa login.

Kemudian boarding, masuk pesawat dan berangkat. Sekitar jam 13.00 siang alhamdulillah kami pun mendarat di LCCT Kuala Lumpur. Kelar urusan imigrasi, seperti biasa ngabsen dulu di Taste of Asia, krucils beli ice cream di McDonald…setelah kenyang beli perbekalan dulu untuk dihotel karena hotel kami letaknya di areal bandara yang jauh dari mana-mana. Setelah yakin bekal cukup, kami pun jalan kaki ke hotel…jaraknya 800m dari LCCT.

Masuk hotel, ternyata kamarnya sempit…malah jauh lebih sempit dari hotel backpacker kami di Bangkok. Belum lagi Ac dan Wifi harus bayar tambahan dari biaya kamar, harganya 2x lipat dari hotel-hotel kami selama petualangan, jauh dari mana-mana ditambah fasilitasnya gak begitu bagus…yah apa boleh buat, hotel ini ayah yang beli waktu di Bangkok…katanya sih biar kami gak kejar-kejaran waktu esok harinya, bisa agak santai di hotel.

Mungkin karena gak ada yang bisa dilakukan di hotel inilah yang menyebabkan krucils mengajak kami ke kota (Bukit Bintang). Baiklah…hayuu kita jalan-jalan aja kalau gitu sekalian wisata kuliner di Bukit Bintang. Kami pun jalan-jalan ke Bukit Bintang dan pulang ke hotel sekitar jam 10-an malam, ngantuk banget euy…yuk anak-anak kita tidur, besok kita pulang menggunakan pesawat pagi.

# Menuju Little House on The Prairie (Indonesia), 25 April 2014 #
Kami check out hotel sekitar jam 07.10 pagi, agak telat juga karena keasikan tidur padahal jadwal keberangkatan pesawat kami 8.30, boarding 7.30. Jadinya dari hotel langsung jalan cepat ke LCCT, untung sampai tepat waktu dan untungnya lagi antrian imigrasi tidak panjang. Krucils sempat minta belikan Dunkin dulu, turun ke Gate eh sudah boarding…kami satu pesawat dengan rombongan umroh asal Samarinda, senang rasanya.

Begitu hendak masuk pesawat, kami sempat melihat ada beberapa teknisi yang sedang ngecek baling-baling pesawat sebelah kiri. Saya yang kebanyakan nonton National Geographic pun agak cemas…waduh ada apa ini, tumben-tumbenan ada teknisi. Lampu pesawat dan Ac hidup, pilot mulai ngasih kata pengantar…katanya sedang proses loading barang. Kemudian lampu dan Ac sempat mati sebentar, kemudian hidup lagi. Masih belum jalan juga…seorang teknisi senior bolak balik masuk ruang pilot sambil membawa suatu alat, saya pun mulai khawatir…waduh yah, pesawatnya kenapa? Kita turun aja yuk, kita tunggu pesawat berikutnya aja…

Setengah jam belum jalan juga dan teknisi bolak balik masuk pesawat, kru-kru mulai pakai bahasa isyarat dan mulai melirik-lirik ke arah pesawat yang sedang parkir disebelah pesawat kami. Tepat disaat saya mulai hendak mengajak krucils turun dari pesawat, kemudian pilot pun akhirnya mengumumkan bahwa katanya toilet pesawat tidak bisa digunakan. Walau pesawat tetap bisa jalan tapi demi kenyamanan penumpang, kami akan berganti pesawat. Saya dan ayah sih gak yakin dengan penjelasan pilot tersebut, kami yakin bukan karena toiletnya…menurut perkiraan saya ada masalah di sistem elektriknya sedang kata si ayah sih kayaknya ada masalah di baling sebelah kiri.

Sementara pilot dan kru berpindah ke pesawat yang parkir disebelah, kami diminta tetap menunggu di pesawat yang ada karena Ac nya tetap dihidupkan. Setelah proses bongkar muat barang selesai dan katanya Ac pesawat sebelah sudah dingin, kami pun disuruh berpindah pesawat. Alhamdulillah walau tertunda sejam dari jadwal keberangkatan semula, yang paling penting bagi kami bisa sampai selamat di tanah air…alhamdulillah wasyukurlillah…

Dari bandara naik Taxi ke little house on the praire dan pulang-pulang ditanyain tetangga, tukang sayur dan yakult langganan serta rekan kerja ayah…kemana aja nih kok menghilang semingguan ini, ke Jakarta ya? tuduh mereka… hehehe…kami pun pasang tampang cengengesan aja…ada deh 😉

Advertisements




Uniknya Cambodia

23 04 2014

20140423-082143.jpg

Ini beberapa hal yang menarik dan unik bagi kami selama petualangan di Cambodia

Tintin dimana-mana

Entah kenapa, tokoh komik Tintin rupanya ngetop banget di Cambodia. Baju dan souvenir sering menyertakan tokoh kartun satu ini, misalnya saja kami nemu baju kaos yang bertuliskan Tintin eu Phnom Penh atau Tintin in Siem Reap, Tintin in Cambodia dan sejenisnya. Demikian juga magnet kulkas, bahkan kami pernah melihat restaurant Tintin di Phnom Penh. Krucils saya sih senang banget sehingga mereka mengoleksi Tintin, dari baju hingga magnet.

Jago Bahasa Inggris

Berbeda dengan negara tetangganya Vietnam ataupun Thailand, kebanyakan orang Cambodia yang kami temui selama petualangan kami di negara tersebut jago bahasa Inggrisnya, lafalnya pun mudah dimengerti. Mungkin pariwisata di negara ini berdampak positif terhadap kemampuan berbahasa asing penduduknya.

Riel vs Dollar

Dalam satu negara ada dua mata uang yang digunakan yaitu Riel dan Dollar…bingung kan? Kami sih bingung banget, pusing mikirnya. Kalau harganya dibawah 1$ maka diminta dalam Riel, diatas itu diminta Dollar. Yang membingungkan kalau kita ngasih uang Dollar eh dikembaliinnya pakai Riel…nah loh, langsung meras otak deh…bener gak tuh kembaliannya. 1$ = 4000 Riel. Misalnya harga minuman 1,5 Dollar, jadi kita ngeluarin uangnya 1$ + 2000 Riel…naahhh pusing gak tuh kalau tiap transaksi ngitung-ngitung dulu karena uangnya campur-campur.





Night Market, Siem Reap

22 04 2014

20140423-120406.jpg

Night Market ini ya sama dengan pasar malam, bergeliatnya kalau malam hari hehe. Jualannya sih sama aja ; pakaian, makanan, souvenir, dsb. Sebenarnya di tiap negara ada nih night market, cuma ya pengelolaannya aja yang membedakan. Kalau di negara Vietnam, Combodia, ataupun Thailand night market ini jadi magnet bagi turis karena dikelola dengan baik sebagai jualan wisata, tempatnya bersih, rapi, dan dihias lampu warna-warni kadang-kadang, sedang kalau di Indonesia ya dibiarkan apa adanya aja.

Nah di Siem Reap ini kami mendatangi Night Marketnya dengan menyewa sepeda dari penyewaan sepeda didepan hotel kami seharga 1$ untuk waktu 3 jam-an. Seru juga, karena di Siem Reap ini banyak sekali penyewaan sepeda jadinya banyak turis yang menyewa sepeda untuk keliling Siem Reap, malah kadang mereka bersepeda ke Angkor Wat yang jaraknya pasti bisa bikin saya ngos-ngosan. Umumnya sepeda disewakan untuk waktu seharian seharga 3-7$ tergantung jenis sepedanya. Nah karena kami meminjam hanya untuk beberapa jam, kami hanya ditagih 2$ untuk dua buah sepeda.

Seru juga liat-liat malam di Siem Reap dan ternyata kami baru tahu bahwa Night Marketnya ada banyak. Di dekat hotel kami ada night market, malah ditulis the real night market of Siem Reap. Di dekat sungai ada lagi…yah seru juga. Cuma saat mau liat-liat, kepikiran ninggalin sepedanya …akhirnya gak jadi masuk hanya muter-muter mengelilingi night market aja menggunakan sepeda…hehe..





Angkor Thom Bayon, Siem Reap

22 04 2014


Angkor Thom ini dulunya dibangun oleh raja Jayavarman VII di abad ke 12 dan merupakan ibukota dari kerajaan Khmer…untuk lebih jelas lagi sejarahnya liat buku sejarah atau wikipedia ya, saya gak ngerti sejarah soalnya… hehe.

Nah setelah dari Ta Phrom, kami pun berniat menjelajah Angkor Thom ini. Tapi baru sampai areal parkir dan melihat kearah Angkor Thom, rasa malas pun merambati saya dan krucils, cuma si ayah yang masih semangat. Melihat areal yang luas plus panas yang menyengat…duh, malasnya poll dah…rasanya pengen balik ke hotel daripada panas-panasan lagi…hehehe..

Setelah minum kelapa muda sampai dua buah, baru kami memaksakan diri melangkahkan kaki menjelajahi Angkor Thom yang luas ini. Kebayang kan luasnya ibukota kerajaan jaman dahulu. Panas yang menyengat membuat kami malas memulai penjelajahan dari pintu masuk, jadi kami mutar dari pintu samping…pokoknya mutar-mutarlah nyari yang ada pohonnya, nyari yang agak teduh. Akhirnya malah bingung sendiri, loh kok sampai sini…loh kok disitu…hehehe. Jadi begitu nemu candi yang agak besaran, kamipun mengambil kesimpulan semena-mena…oh ini dia sentralnya, Bayon Temple…yuks balik lagi keparkiran…wahaha…

Peta Angkor Wat yang diterbangkan oleh angin saat kami naik tuktuk, plus panas yang menyengat menyebabkan kami malas jalan jauh-jauh…sudah bikin perjanjian bersama, kalau sudah nemu candi utama kita balik hotel aja sudah. Padahal sih sebenarnya bukan itu Bayon Templenya…tapi karena kepanasan, kelelahan, peta hilang plus sok tewu…jadi aja salah candi yang dipelototin. Kata supir tuktuk sih biasanya orang hampir setengah harian di Angkor Thom ini, laaa kami sejam aja gak nyampe…hehe. Enaknya sih sewa sepeda nih ngelilingi Angkor Thom ini.

Yah yang penting krucil sudah tahu deh yang mana Angkor Thom, capital city of Khmer empire. Jalan masuknya memang keliatan sih kalau ini ibukota. Ok anak-anak, kita istirahat dulu dihotel…siapkan tenaga buat nanti malam kita gowes-gowes ngeliat Night Marketnya Siem Reap.

Ps : Saya hanya sempat foto krucils di gerbang pintu samping. Batrai tablet yang habis selama pengelanaan di Angkor Thom memaksa kami mengandalkan kamera dan berhubung tidak membawa kabel data selama petualangan, jadi foto-fotonya disusulkan kemudian ya…harap sabar kalau mau liat foto Angkor Thom, kalau gak sabar silahkan cari di google hehehe 🙂





Ta Phrom, Siem Reap

22 04 2014


Pernah nonton Tomb Raider kan? Atau kalau belum pernah nonton seperti saya setidaknya tahu kan tentang film ini? Itu tuh yang terkenal diperankan oleh si sexy Angelina Jolie. Nah Ta Phrom ini terkenal juga dengan Tomb Raider Temple….hehe…ya karena syuting disini kali ya.

Mumpung masih berada di areal Angkor Wat, penting banget nih ngasih pin sudah pernah kesini wahahaha, mulai deh narsis. Tidak seperti Angkor Wat yang menurut saya panasnya mirip kalau sedang ngunjungi Borobudur, nah di Ta Phrom ini sedikit lebih enak tempatnya. Jalan masuknya aja ditengah rerimbunan pohon…jadi panasnya gak begitu berasa, itu tuh pentingnya pohon bagi kehidupan, salah satunya ya seperti ini…mengurangi panas.

Kembali ke cerita, supir tuktuk kemudian menurunkan kami didepan pintu masuk. Awalnya kami gak ngeh kalau itu hanya satu dari empat pintu masuk ke Ta Phrom. Kami jalan santai, begitu tiba di depan Ta Phrom pemandangan yang keren yang ada langsung menyambut mata kami. Candinya ketutup akar pohon yang gede-gede karena memang letak candi ini ditengah-tengah hutan gitu. Wah kalau gini sih asik aja, bisa santai-santai aja jalannya. Istirahat dulu, minum-minum dan makan-makan dulu karena kami bawa bekal ayam KFC…hihihi KFC lagi deh makannya.

Setelah makan, minum, istirahat. Yuk markimon (mari kita kemon), saatnya menjelajah kedalam. Sebagian besar bangunan candi hampir runtuh sehingga ditopang sama kayu-kayu dan besi. Dan yang paling keren adalah banyak bagian candi yang tertutup oleh akar-akar pohon raksasa, ya persis di Tomb Raider itu (bener gak ya, gak pernah nonton filmnya soalnya…hehe). Alhamdulillah, bisa nyampai sini juga krucils berpetualang…

Menurut saya pribadi, Ta Phrom ini lebih eksotis dan keren dibanding yang lain. Apa karena kami kepanasan di candi yang lain, atau karena saya memang suka hutan dan pohon aja makanya bagi saya ini lebih keren. Mungkin kalau kami mendatangi Angkor Wat pagi atau sore hari mungkin jadi berbeda lagi ceritanya. Entahlah…hehe…saya kalah sama panasnya mentari di Angkor Wat…

Ketika keliling-keliling mengaggumi candi, eh tanpa sadar kami tersesat. Iya, tersesat dalam arti sebenarnya, bingung arah keluar…wkwkwk. Padahal kata supir tuktuk Ta Phrom ini more little than Angkor Thom. Tanya sama tour guide yang ada, eh dia menanyakan tadi kami masuk dari pintu sebelah mana karena ada empat pintu (south, east, west and north) masuk disini…ujubune, mana kami ngeh dipintu mana kami masuk.

Nekat keluar ngikutin orang banyak dan eng ing eng, we are in the middle of nowhere…wahaha. Entah dimana ini, berbeda dengan jalan masuk kami pertama tadi. Langsung aja yang pertama saya lakukan membeli ice cream…untung aja disitu ada yang jualan ice cream. Nongkrong disitu makan ice cream sambil ayah minta tolong supir tuktuk yang sedang nunggu pelanggannya disitu untuk telpkan supir tuktuk menjemput kami disitu. Untung aja si ayah sempat simpan no telp supir tuktuk, kalau enggak entah apa yang terjadi….luntang lantung ditengah hutan…hahaha. Benar-benar pengalaman seru, dan kesempatan kami untuk ledek-ledek ayah…”katanya jago masalah arah tapi masa nyasar. Ini candi kecil loh kata supir tuktuk”…hahaha 😀





Angkor Wat, Siem Reap

21 04 2014


Pagi hari pertama kami di Siem Reap, kami santai-santai dulu di kamar hotel, baru sekitar jam 9-an keluar hotel dan langsung disambut oleh supir tuk-tuk yang sudah menanti di depan hotel. Dia menawarkan 20$ untuk mengantar seharian di Angkor Wat, padahal hasil survey googling mengoogling di internet, biasanya harganya 15$. Tawar menawarlah kami, dan akhirnya dia setuju 15$…baiklah berangkaaattt…

Sebelum masuk kedalam kompleks percandian ini kami diantar ke loket tempat beli tiket masuk areal Angkor Wat. Biaya masuk 20$/orang, krucils gratis karena anak-anak dibawah umur 12 tahun tidak dikenakan tiket. Biaya tarif sebenarnya ada 3 jenis, one day visit yang termurah seharga 20$, ada two day visit dan three day visit. Kenapa sampai ada tarif untuk kunjungan tiga hari? Karena areal Angkor ini luaaasss banget nget nget, sudah kayak sebuah kota kecil sehingga kalau mau puas memang harus tiga hari kunjungan baru bisa datangin satu persatu candi-candi yang tersebar di lokasi yang luas ini. Tapi berhubung kami hanya dua malam di Siem Reap ini, jadi ya ngambil yang one day visit aja.

Setelah membayar tiket 40$ untuk saya dan ayah, kami pun disuruh menghadap kearah kamera yang dipasang ditiap loket, jepret…eh difoto. Rupanya tiket kunjungannya pakai foto, mungkin untuk mengurangi pemalsuan atau semacamnya. Tunggu sekitar satu menit, kartu lengkap dengan fotonya sudah jadi dan kami bebas memulai dari candi yang mana. Setelah liat peta, kami memutuskan dimulai dari Angkor Wat dulu…laaa pan tujuan utama petualangan kali ini memang mengunjungi salah satu keajaiban dunia yang ini, Angkor Wat. Alhamdulillah, satu lagi sudah didatangin…tinggal lima lagi ya dek…

Ada tiga candi besar dan banyak candi-candi kecil yang tersebar di areal yang luas banget. Tiga candi yang utama dan paling terkenal adalah Angkor Wat, Ta Phrom, dan Angkor Thom. Angkor Wat adalah candi yang paling pertama kami kunjungi, letaknya di tepi sungai atau danau gitu, keren sih….tapi panasnya itu loh…panasnya poll. Sinar mentari yang terik membakar kulit, beuh benar-benar hangus dan gosong rasanya, mana candinya luas banget lagi. Belum apa-apa, kami sudah dekil dan keringatan…mau foto dengan latar Angkor Watnya juga susah karena sinar matahari justru dari arah sana sehingga kalau difoto dengan latar Angkor Wat hasilnya gelap.

Harusnya saat yang tepat mengunjungi Angkor Wat adalah pagi hari (biasanya orang mengejar sunrise disini) atau sore hari (menjelang sunset)…selain cuacanya yang bersahabat juga dapat foto yang lebih eksotis. Tapi kami gak tega bangunin krucils pagi-pagi, sedang kalau sore kesini…susah ngatur waktu ngunjungi candi-candi lainnya padahal biaya tiket sudah termasuk mengunjungi candi lainnya juga. Jadi yo weslah, terima aja panas-panasan…seru juga kok terengah-engah kepanasan mengunjungi Angkor Wat. Ayah kemudian memberi semangat pada kami yang loyo kepanasan, katanya “ayo dong kalian yang semangat masa gitu aja capek, petualang tuh tidak mengenal capek”. Sulung saya yang cerdas langsung menimpali “petualang memang gak mengenal lelah tapi kan mengenal panas” wahahaha…..ngakak guling-guling…benar banget 😀

Angkor Wat ini sebagian masih direnovasi sehingga tidak bisa dilalui. Di dinding bagian dalamnya penuh gambar-gambar yang berisi cerita, entah cerita apa…hasil nguping dari tour guide didekat saya sih, gambar monyet yang ada disitu adalah evil dalam cerita tersebut. Setelah puas keliling-keliling Angkor Wat, kami pun meneruskan pengelanaan kami di areal ini. Ta Phrom sudah menanti…yuk…





Royal Palace, Phnom Penh

20 04 2014


Jalan kaki tidak jauh dari National Museum, letaknya tepat disamping museum terlihatlah bangunan besar berwarna kuning, itulah dia Royal Palace. Bangunannya menurut saya malah mirip bangunan Thailand, ya 11 12 lah. Nah di depan Royal Palace ini ada sebuah taman yang luas yang berisi ratusan atau ribuan burung merpati. Saat kami berada ditaman tersebut matahari sedang terik-teriknya, kalau tidak mungkin berasa di salah satu taman di Eropa hehe…

Kami tidak masuk Royal Palace ini karena pengen istirahat sebentar di hotel sebelum melanjutkan petualangan ke kota berikutnya. Bis yang sudah kami pesan berjanji akan menjemput kami di hotel sekitar jam 11, sedang ketika itu sudah jam 10-an. Sehingga kami hanya foto-foto di depan dan membiarkan krucils bermain dengan burung-burung yang ada di taman tersebut, senang banget mereka disini. Puas mengejar-ngejar burung, kamipun beranjak dari situ. Tuk-tuk yang banyak ngetem depan taman langsung menawar-nawarkan tuk-tuk mereka. Panas yang menyengat menyebabkan kami malas rasanya jalan kaki kembali ke hotel, selain itu gak tahu arah ke hotel (kata saya sih kayaknya ke kiri deh yah, sedang ayah keukeuh ke kanan), jadilah iseng-iseng nawar tuk-tuk 1$ untuk mengantar kami ke hotel…lah daripada nyasar ditengah terik mentari.

Eh yang mengherankan tanpa ba bi bu supir tuk-tuk langsung mengangguk setuju. Agak mencurigakan juga sebenarnya, saya yakin sih sudah dekat hotel, lupa plus malas liat peta juga nih. Naik tuk-tuk, tuk-tuknya mutar arah ke kiri dan satu detik kemudian tibalah di hotel kami…wahahaha….tuh kan feeling wanita terbukti lagi. Jadi Royal Palace ini letaknya disamping hotel kami sebenarnya, tapi karena terhalang sebuah jalan kecil jadi gak keliatan…hahaha, pecahlah tawa kami semua…ow..ow…konyol banget, pantesan muka supir tuk-tuknya lempeng banget tanpa ekspresi saat kami menawar 1$ dan langsung setuju..haha… Dan that’s it, petualangan kami di Phnom Penh pun diakhiri. Yuk anak-anak, kita siap-siap…Angkor Wat sudah menunggu nih…