Madam Tussauds, Bangkok

14 03 2015


Masih berhubungan dengan cita-cita sulung kami, ketika kami sampai di Bangkok, kami tidak tahu lagi hendak kemana…kayaknya sudah semua deh kami kunjungi tahun lalu. Kalau wat-watan sudah tidak menarik lagi rasanya. Jadi…mau kemana kita?, tanya si ayah. Mana ketehe…laa wong kami ke Bangkok aja tidak direncanakan, tidak masuk dalam list petualangan kali ini sebenarnya.

Kami ke Bangkok tidak sengaja, sebenarnya niatnya pengen ke Hanoi tapi setelah dihitung-hitung harinya, gak cukup. Lama perjalanan darat Laos ke Hanoi sekitar dua harian (maklum backpacker, cari yang hemat), sedang kami harus sudah berada di Kuala Lumpur (KL) kembali tanggal 12 Maret. Padahal jarak Hanoi ke KL itu ujung ke ujung…jauh bingit. Kalau pakai pesawat bisa sih, cuma saya yang gak tahan membayangkan dipesawat lama-lama, bagi saya lebih baik jalan darat berhari-hari daripada dipesawat beberapa jam…pasti pada gak nyangka kan kalau saya takut naik pesawat? Kata si ayah sih harusnya saya ikutan Dennis Bergkamp club, sesama penggemar kereta api daripada pesawat hehe…

Nah setelah hitung-hitungan hari itulah kami akhirnya memutuskan, dari Vientiane kami ke Bangkok karena ada kereta tidur Nongkhai-Bangkok. Disinilah kami di Bangkok lagi, tanpa rencana dan tanpa tujuan apapun. Akhirnya kami putuskan ke Madam Tussauds saja. Krucils nanya ada apa sih disitu? Ketika dijelaskan bahwa Madam Tussauds adalah museum lilin, didalamnya penuh tokoh-tokoh terkenal seperti Soekarno, sulung saya langsung seketika itu juga antusias. “Beneran bunda, ada Soekarno disana?”, tanya antusias. “Iya beneran, tapi hanya patung lilinnya aja loh”. “Ayo kalau gitu kita kesana”, ajaknya dengan semangat menggebu.

20150314-124157.jpg

Dari Khaosan Road, kami naik taxi meter yaitu taxi argo. By the way, busway…taxi meter ini jauh lebih murah daripada naik tuktuk loh, lebih fair lagi karena kita bisa periksa tarifnya berdasarkan argonya. Khaosan Road ke Siam Discover (nama mall tempat Madam Tussauds ini berada) hanya bayar 95Baht. Harga tiket masuknya lumajen juga, berhubung saya belum nemu tiketnya dan saya lupa harga tiketnya jadi saya gak bisa kasih tahu harga tiket masuknya. Waktu mau beli tiket masuk Madam Tussauds ini, kami ditawari tiket paket promo Madam Tussauds + Aquarium Sea Life. Untungnya saat ditanya ke krucils mau gak ke aquarium, mereka yang biasanya suka liat aquarium, kali ini gak begitu berminat. Pengertian banget sama isi dompet ayah bundanya yang sudah menipis…hehe ;P

Pada akhirnya kami hanya beli tiket Madam Tussauds saja, plus satu tiket paket foto dan wax hand untuk sulung, karena bungsu tidak mau wax hand. Baiklah…yuk masuk. Madam Tussauds ini ada dilantai enam Siam Discovery. Begtiu masuk, ada patung lilin pasangan entah siapa itu di depan pintu. Baru setelah itu Soekarno yang berada paling depan diantara tokoh-tokoh negara. Begitu melihat Soekarno sulung langsung minta difoto. Saat adeknya mau ikutan difoto juga, sulung jadi bete banget. Dia hanya mau di foto bersama Soekarno sendirian…bolak-balik minta foto sama Soekarno tok. Liat hasilnya gak begitu bagus, minta di foto ulang….hehe, sebegitu ngefansnya sama Soekarno.

Di Madam Tussauds ini krucils kami antusias sekali, kalau sulung pilih-pilih hanya tokoh yang dia suka saja sedang bungsu saya minta difoto sama semua patung lilin yang ada didalamnya, mau yang dikenal atau gak kek…pokoknya foto terusss…hehe. Diakhir bagian, ada tempat untuk membuat lilin berbentuk tangan pengunjung, kalau tidak salah harganya 1200Baht (kalau gak salah, lupa lagi) tapi karena kami sudah beli paket wax hand jadi ini termasuk dalam paket sulung kami. Prosesnya adalah pertama tangan dikasih semacam lotion, lalu dicelup dalam air dingin setelah itu langsung dicelup lagi dalam lilin cair bersuhu 60 derajat. Setelah itu celup dalam air biasa, lalu dicelup dua kali lagi dalam lilin cair. Kemudian dilepas dari tangan, diwarnai sesuai keinginan kita. Setelah dari Madam Tussauds kami langsung balik ke hotel karena bungsu saya sedang gak enak perut. Di dalam taxi dengan wajah berseri-seri sambil nenteng-nenteng lilin berbentuk tangannya, sulung saya berkata “hari ini abang senang sudah ketemu sama Soekarno dan Jackie Chan” hehehe…krucils memang lucu-lucu 😀

Advertisements




Serangga Goreng di Khaosan Road, Bangkok

27 04 2014

20140428-024810.jpg

Khaosan Road atau kalau diplang nama jalan sih ditulis Thanon Khao San adalah nama jalan yang paling terkenal di Bangkok. Sama dengan Legian-Bali, Pham Ngu Lao-Ho Chi Minh, Sisowath Quay-Phnom Penh, Bukit Bintang-Kuala Lumpur, disinilah pusatnya turis. Makin malam makin bergeliat, makin malam malah makin ramai. Banyak yang berjualan baju, celana, tas, souvenir, makanan, minuman, bar dan cafe.

Biasanya kalau malam kami tidak keluar hotel, istirahat dan bermain di kamar bersama krucils saja, namun pada malam terakhir di Bangkok kami mengajak krucils melihat-lihat keramaian di daerah ini sembari mencari makan dan mencari sedikit oleh-oleh. Paling menarik perhatian kami ya gerobak-gerobak penjual gorengan yang ternyata bukan sembarang gorengan yang dijual, tapi ada ulat kecil-kecil dan ulat sagu goreng, kecoak goreng, kalajengking, spider, dan serangga-serangga jenis lainnya. Jadi kalau ada yang beli, gorengan ini dimasukkan dalam plastik lalu disemprot sesuatu yang mungkin berisi bumbu. Harganya? entahlah kami tidak menanyakannya tapi satu hal yang pasti adalah kalau mau foto harus bayar 10 Baht…nah loh. Mungkin mereka tahu kalau dagangan mereka pasti akan menarik perhatian turis.

Berhubung kami suka sesuatu yang unik, yang jarang bisa ditemui di tempat lain jadi walau tidak tertarik mencoba makanan ini, kami membayar 10 Baht untuk dapat memotret makanan ini…buat kenang-kenangan kami sendiri dan juga dibagikan kepada teman dan keluarga (fotonya loh bukan serangga gorengnya)…hehe. Seruuu liat makanan unik-unik, krucils malah antusias memotret setiap jenis serangga yang dijual sampai-sampai penjualnya bilang just one more picture please…wahaha…bete kali dia, beli kagak cuma bayar 10 Baht tapi potret-potret mulu hehe 🙂





The Grand Palace, Bangkok

27 04 2014


Akhirnya hari kedua kami berhasil juga datang ke Grand Palace setelah hari sebelumnya diputar-putar kemana-mana dan tidak jadi masuk karena salah dress code. Untuk dapat masuk ke Grand Palace tidak boleh sembarangan berpakaian, harus pakai celana panjang atau rok panjang. Banyak turis yang bercelana pendek akhirnya menyewa pakaian atau bahkan akhirnya membeli celana atau kain panjang yang dililitkan menjadi rok. Kami malas menyewa walau ada tersedia tempat menyewa pakaian, kami lebih memilih memasukinya pada hari kedua saja.

Di pintu masuk ada penjaga yang akan memeriksa pakaian pengunjung, jika terlihat mereka ada pengunjung yang mengenakan celana pendek maka akan diarahkan ke tempat khusus penyewaan pakaian. Kalau sudah lolos dari penjagaan ini, kita berjalan terus sampai ada loket tiket masuk. Tiket masuk 500 Baht /orang dan kami cukup membayar 1000Baht. Sebelum pintu masuk ada museum yang bertuliskan Pavilion of Regalia, yang isinya ya perhiasan-perhiasan dan dekorasi-dekorasi kerajaan yang terbuat dari emas. Keluar museum ini ada pintu masuk ke Grand Palace, dengan memperlihatkan tiket masuk kita diberi sebuah peta Grand Palace lalu dipersilahkan masuk. Krucils yang tidak mempunyai tiket masuknya melalui pintu masuk khusus untuk anak-anak.

Begitu masuk, kami langsung disambut oleh bangunan megah berwarna keemasan serta berhiaskan batu-batu kecil warna warni dan kaca-kaca kecil. Entah kenapa selama petualangan ini kami malas banget mempelajari peta bahkan peta Grand Palace yang diberi dipintu masuk pun tidak kami pelajari sehingga saya malah mengira itulah istana rajanya….hehe. Konon kabarnya Grand Palace ini adalah kediaman raja Siam (kemudian Thailand) sejak 1782. Sekarang tempat ini masih dipakai untuk seremoni setiap tahunnya.

Ternyata tempat pertama dari pintu masuk itu tempat peribadatannya yang bernama Temple of Emerald Budha. Keluar dari situ ada gedung-gedung lainnya yang lebih bernuansa klasik modern, perpaduan arsitektur Thailand dan Eropa abad ke 19, yang awalnya saya pikir kantor apaan gitu, namun dijaga oleh penjaga seperti yang ada dipintu-pintu istana (Royal Guard). Rupanya disitulah kediaman sang raja namun karena panas yang menyengat kulit, kami jadi malas untuk mengeksplore gedung-gedung lain…pengen segera nyari tempat berteduh dan nyari minuman segar.

Untungnya tidak jauh dari situ ada tempat minum, krucils beli Haagen Daz sedang ayah bundanya cukup es kelapa muda. Panasnya aje gile bener…baju sampai basah oleh keringat dan butuh 3 buah es kelapa muda baru bisa menetralkannya, badan berasa segar lagi. Nah tidak jauh dari tempat minum ini ada museum lagi, yang langsung ditagih oleh bungsu kami untuk masuk. Sulung kami yang biasanya paling semangat melihat museum kali ini malas-malasan karena kepanasan…hehe. Diantara kami berempat, cuma bungsu yang masih punya tenaga lebih kayaknya, yang lain loyo karena udara yang menyengat.

Museum ini namanya The Temple of Emerald Budha Museum. Isinya ada keramik, ada patung, ada gelas-gelas, dan perhiasan emas. Keluar dari museum ini eh tidak jauh dari pintu keluar Grand Palace ada museum lagi yang namanya Queen Sirikit Textile Museum. Isinya baju-baju yang dulunya dipakai oleh Ratu Sirikit, ada juga kain-kain…ya tentang textile lah. Kompleks Grand Palace ini luas banget deh, sampai capek ngidernya. Oke krucils, kita istirahat dulu di hotel…adem-ademan setelah seharian kepanasan dibawah terik mentari kota Bangkok.





National Museum, Bangkok

27 04 2014


Pagi kedua di Bangkok kami menimbang-nimbang, masih main di Bangkok atau ke Ayuthaya sekitar 2 jam dari Bangkok. Ayuthaya ini sebenarnya termasuk dalam list petualangan kami kali ini, tapi karena terus terang saya tepar kelelahan setelah meloncat-loncat kebeberapa negara dalam seminggu ini, saya jadi malas kalau harus menghabiskan waktu dijalan lagi, pengen istirahat aja santai-santai sebelum pulang. Krucils dan si ayah sih masih semangat dan masih kuat berkelana lagi, hanya saya yang kelelahan akibat perjalanan yang lumayan jauh dan juga efek dari flu dan batuk yang menyerang saya.

Setelah diskusi sama si ayah, kami memutuskan Ayuthaya bisa dimasukkan dalam petualangan berikutnya aja. Kali ini petualangan kami cukup sampai di Bangkok saja. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu hari kedua dengan mengunjungi National Museum dan Grand Palace saja, sisanya ya istirahat di hotel dan packing-packing lagi.

Setelah sarapan ala seven eleven (selama di Bangkok kami sering makan nasi yang dijual di gerai-gerai seven eleven yang banyak tersebar di Khaosan Road), mandi dan let’s go…markimon (mari kita kemon). Kami berjalan kaki menembus Khaosan Road, lanjut Phra Athit dan akhirnya sampai di National Museum. Tiket masuk museum ini 200Baht, yang bayar cuma saya dan ayah karena krucils gratis…bawa krucils memang menyenangkan, banyak gratisnya hehehe.

Nah, museum ini luaaasss banget dan terdiri dari banyak bangunan yang terpisah-pisah. Di gedung pertama saja (Galery of Thai History), kami menghabiskan waktu satu jam lebih. Krucils yang asyik nanya ini itu, foto ini itu, penasaran sam ini itu menyebabkan kami lama banget disini. Di gedung pertama ini ada tentang kerajaan-kerajaan di dunia juga yang berhubungan dengan kerajaan di Thailand, salah satunya tentang Borobudur. Belum lagi gedung-gedung lainnya, dan ada gedung khusus tentang harta karun kerajaan Thailand yang isinya emas melulu dari kalung emas, mahkota emas, patung emas, dsb. Pada akhirnya kami pun menyerah, tidak semua gedung kami datangin…hanya yang tentang Thai History dan Harta Karun…biar petualangannya berasa Indiana Jones yang menemukan harta karun yang hilang wahahaha 😀





Chao Phraya Express Boat, Bangkok

27 04 2014


Setelah dari Phra Sumen Fort, sulung saya penasaran pengen mencoba express boat yang dilihatnya hilir mudik di sungai Chao Phraya. Saya dan bungsu saya sih sudah malas naik kapal lagi, laaa pagi tadi kan sudah saat mencoba floating market…masa sore main di sungai lagi hehe…

Punya anak yang gampang penasaran sama banyak hal menyenangkan sebenarnya, tapi ya gitu deh…susah ditolak keinginannya. Pengen nyoba ini itu, pengen tahu ini itu jadi ya sore itu kami pun mencoba express boat ini hanya untuk memenuhi keingintahuan sulung saya.

Kami naik dari dermaga Phra Athit dan beitu sampai dermaga, sebelum membayar kita akan ditanya dermaga tujuan kita. Ada sih tarif khusus untuk naik turun semaunya dimana kita inginkan, kalau gak salah tarifnya 80 Baht untuk seharian (kalau gak salah loh, lupa lagi soalnya). Sedang kalau per dermaga, kena tarif 15Baht /orang. Nah saat akan membayar, terus terang kami bingung hendak kemana …jadi asal nyebut aja waktu liat ada dermaga bernama China Town, ya sebut China Town…hehe…

Rupanya ini transportasi air yang berhenti di tiap dermaga yang ada di daerah tertentu, misalnya China Town ya berhentinya ya diseputaran daerah China Town. Atau kalau berhentinya di Phra Athit, ya diseputaran jalan Phra Athit yang berdekatan dengan Khaosan Road (wilayah paling terkenalnya tempat turis ngumpul). Ya mirip-mirip kalau naik bis deh, cuma bedanya naik express boat ini gak muter-muter (jalan di Bangkok banyak satu arah, jadi banyak muternya) dan paling yahud sih bebas macet sudah gitu murah meriah lagi. Lumayan bermanfaat juga nih nyobain express boat, jadi bisa tahu sarana transportasi alternatif di Bangkok hehe..

Pulang dari China Town, di dalam kapal kami bertemu sekelompok ibu asal Jakarta yang berniat ke Khaosan Road. Mereka mengira kami sudah lama tinggal di Bangkok atau setidak-tidaknya sering ke Bangkok karena keliatannya expert banget soal transportasi disini, padahal mah kami sotoy (sok tewu karena suka nyoba-nyoba yang baru) aja, ke Bangkok juga baru kali itu hahaha. Mereka pun nanya-nanya kami gimana cara ke Khaosan, kami jawab kami jalan kaki…dan mereka pun ngikutin kami di belakang karena pengen tahu jalan ke Khaosan Road. Asyik juga bertemu teman senegara di negara orang, rasanya senasib sepenanggungan. Berkat Chao Phraya Express Boat nih kami jadi bisa tahu transportasi bebas macet yang murah meriah, bisa ketemu teman senegara, cuma pulang ke hotel sedikit mabuk aja kebanyakan terombang ambing disungai hehehe 😉





Phra Sumen Fort, Bangkok

25 04 2014

20140426-054632.jpg

Sulung saya suka banget liat meriam apalagi kalau meriam tersebut berada di sebuah benteng. Kayaknya dia penasaran seperti apa sih senjata jaman dulu, bagaimana bentuk dan mekanismenya. Begitu liat benteng ini dia langsung pengen masuk tapi sayangnya ditutup.

Kami akhirnya hanya melihat-lihat benteng ini dari depan, dibeberapa bagian ada tulisan baru di renovasi tahun 1993 (kalau gak salah), sedang bagian lainnya tetap dibiarkan aslinya. Seru juga krucils bertanya ini itu tapi karena hanya bisa melihat dari luar sebentar aja sudah selesai deh liat-liatnya. Oke krucils sekarang kita coba naik taxi airnya ya…





Santi Chai Prakan Park, Bangkok

25 04 2014


Setelah seharian kena scam di pagi hari pertama kami di Bangkok, kami putuskan balik ke hotel dulu…istirahat. Krucils makan, tidur, mandi baru sore hari kami keluar hotel lagi. Kali ini kami bertekad kembali pada gaya jalan kami semula, backpackeran alias jalan-jalan hemat ala kami yaitu jalan kaki kemana-mana. Kami akui kami terlena selama petualangan kali ini, kami sudah manja dari awal memulai petualangan ini, terlenakan pada kemudahan jalan-jalan di Ho Chi Minh (Vietnam) yang kemana-mana naik taxi murah jadinya petualangan-petualangan selanjutnya jadi malas jalan kaki.

Jadi sore itu kami putuskan kami akan kembali ke gaya awal kami, backpacker…cari transport murah kalau perlu jalan kaki kemana-mana dan lebih percaya pada feeling dan instuisi sendiri dan mulai tidak memperdulikan orang-orang yang menyapa kami selama dijalan, trauma…hehe. Mengandalkan peta Bangkok yang dikasih dari hotel, kami jalan kaki menembus Khaosan Road (daerah hotel kami), lurus terus melalui gang-gang kecil hingga tembus jalan Phra Athit, ke kanan dikit eh nemu taman kecil yang indah yang naung oleh pepohonan serta menghadap sungai Chao Phraya dan berada tepat disamping benteng Phra Sumen. Krucils berlari-larian disini sambil maksa-maksa agar kami mencoba taxi air yang lalu lalang melintasi sungai…oke sip, kita coba tapi kita liat dulu bentengnya ya…yuuukkks…