Madam Tussauds, Bangkok

14 03 2015


Masih berhubungan dengan cita-cita sulung kami, ketika kami sampai di Bangkok, kami tidak tahu lagi hendak kemana…kayaknya sudah semua deh kami kunjungi tahun lalu. Kalau wat-watan sudah tidak menarik lagi rasanya. Jadi…mau kemana kita?, tanya si ayah. Mana ketehe…laa wong kami ke Bangkok aja tidak direncanakan, tidak masuk dalam list petualangan kali ini sebenarnya.

Kami ke Bangkok tidak sengaja, sebenarnya niatnya pengen ke Hanoi tapi setelah dihitung-hitung harinya, gak cukup. Lama perjalanan darat Laos ke Hanoi sekitar dua harian (maklum backpacker, cari yang hemat), sedang kami harus sudah berada di Kuala Lumpur (KL) kembali tanggal 12 Maret. Padahal jarak Hanoi ke KL itu ujung ke ujung…jauh bingit. Kalau pakai pesawat bisa sih, cuma saya yang gak tahan membayangkan dipesawat lama-lama, bagi saya lebih baik jalan darat berhari-hari daripada dipesawat beberapa jam…pasti pada gak nyangka kan kalau saya takut naik pesawat? Kata si ayah sih harusnya saya ikutan Dennis Bergkamp club, sesama penggemar kereta api daripada pesawat hehe…

Nah setelah hitung-hitungan hari itulah kami akhirnya memutuskan, dari Vientiane kami ke Bangkok karena ada kereta tidur Nongkhai-Bangkok. Disinilah kami di Bangkok lagi, tanpa rencana dan tanpa tujuan apapun. Akhirnya kami putuskan ke Madam Tussauds saja. Krucils nanya ada apa sih disitu? Ketika dijelaskan bahwa Madam Tussauds adalah museum lilin, didalamnya penuh tokoh-tokoh terkenal seperti Soekarno, sulung saya langsung seketika itu juga antusias. “Beneran bunda, ada Soekarno disana?”, tanya antusias. “Iya beneran, tapi hanya patung lilinnya aja loh”. “Ayo kalau gitu kita kesana”, ajaknya dengan semangat menggebu.

20150314-124157.jpg

Dari Khaosan Road, kami naik taxi meter yaitu taxi argo. By the way, busway…taxi meter ini jauh lebih murah daripada naik tuktuk loh, lebih fair lagi karena kita bisa periksa tarifnya berdasarkan argonya. Khaosan Road ke Siam Discover (nama mall tempat Madam Tussauds ini berada) hanya bayar 95Baht. Harga tiket masuknya lumajen juga, berhubung saya belum nemu tiketnya dan saya lupa harga tiketnya jadi saya gak bisa kasih tahu harga tiket masuknya. Waktu mau beli tiket masuk Madam Tussauds ini, kami ditawari tiket paket promo Madam Tussauds + Aquarium Sea Life. Untungnya saat ditanya ke krucils mau gak ke aquarium, mereka yang biasanya suka liat aquarium, kali ini gak begitu berminat. Pengertian banget sama isi dompet ayah bundanya yang sudah menipis…hehe ;P

Pada akhirnya kami hanya beli tiket Madam Tussauds saja, plus satu tiket paket foto dan wax hand untuk sulung, karena bungsu tidak mau wax hand. Baiklah…yuk masuk. Madam Tussauds ini ada dilantai enam Siam Discovery. Begtiu masuk, ada patung lilin pasangan entah siapa itu di depan pintu. Baru setelah itu Soekarno yang berada paling depan diantara tokoh-tokoh negara. Begitu melihat Soekarno sulung langsung minta difoto. Saat adeknya mau ikutan difoto juga, sulung jadi bete banget. Dia hanya mau di foto bersama Soekarno sendirian…bolak-balik minta foto sama Soekarno tok. Liat hasilnya gak begitu bagus, minta di foto ulang….hehe, sebegitu ngefansnya sama Soekarno.

Di Madam Tussauds ini krucils kami antusias sekali, kalau sulung pilih-pilih hanya tokoh yang dia suka saja sedang bungsu saya minta difoto sama semua patung lilin yang ada didalamnya, mau yang dikenal atau gak kek…pokoknya foto terusss…hehe. Diakhir bagian, ada tempat untuk membuat lilin berbentuk tangan pengunjung, kalau tidak salah harganya 1200Baht (kalau gak salah, lupa lagi) tapi karena kami sudah beli paket wax hand jadi ini termasuk dalam paket sulung kami. Prosesnya adalah pertama tangan dikasih semacam lotion, lalu dicelup dalam air dingin setelah itu langsung dicelup lagi dalam lilin cair bersuhu 60 derajat. Setelah itu celup dalam air biasa, lalu dicelup dua kali lagi dalam lilin cair. Kemudian dilepas dari tangan, diwarnai sesuai keinginan kita. Setelah dari Madam Tussauds kami langsung balik ke hotel karena bungsu saya sedang gak enak perut. Di dalam taxi dengan wajah berseri-seri sambil nenteng-nenteng lilin berbentuk tangannya, sulung saya berkata “hari ini abang senang sudah ketemu sama Soekarno dan Jackie Chan” hehehe…krucils memang lucu-lucu 😀





Serangga Goreng di Khaosan Road, Bangkok

27 04 2014

20140428-024810.jpg

Khaosan Road atau kalau diplang nama jalan sih ditulis Thanon Khao San adalah nama jalan yang paling terkenal di Bangkok. Sama dengan Legian-Bali, Pham Ngu Lao-Ho Chi Minh, Sisowath Quay-Phnom Penh, Bukit Bintang-Kuala Lumpur, disinilah pusatnya turis. Makin malam makin bergeliat, makin malam malah makin ramai. Banyak yang berjualan baju, celana, tas, souvenir, makanan, minuman, bar dan cafe.

Biasanya kalau malam kami tidak keluar hotel, istirahat dan bermain di kamar bersama krucils saja, namun pada malam terakhir di Bangkok kami mengajak krucils melihat-lihat keramaian di daerah ini sembari mencari makan dan mencari sedikit oleh-oleh. Paling menarik perhatian kami ya gerobak-gerobak penjual gorengan yang ternyata bukan sembarang gorengan yang dijual, tapi ada ulat kecil-kecil dan ulat sagu goreng, kecoak goreng, kalajengking, spider, dan serangga-serangga jenis lainnya. Jadi kalau ada yang beli, gorengan ini dimasukkan dalam plastik lalu disemprot sesuatu yang mungkin berisi bumbu. Harganya? entahlah kami tidak menanyakannya tapi satu hal yang pasti adalah kalau mau foto harus bayar 10 Baht…nah loh. Mungkin mereka tahu kalau dagangan mereka pasti akan menarik perhatian turis.

Berhubung kami suka sesuatu yang unik, yang jarang bisa ditemui di tempat lain jadi walau tidak tertarik mencoba makanan ini, kami membayar 10 Baht untuk dapat memotret makanan ini…buat kenang-kenangan kami sendiri dan juga dibagikan kepada teman dan keluarga (fotonya loh bukan serangga gorengnya)…hehe. Seruuu liat makanan unik-unik, krucils malah antusias memotret setiap jenis serangga yang dijual sampai-sampai penjualnya bilang just one more picture please…wahaha…bete kali dia, beli kagak cuma bayar 10 Baht tapi potret-potret mulu hehe 🙂





The Grand Palace, Bangkok

27 04 2014


Akhirnya hari kedua kami berhasil juga datang ke Grand Palace setelah hari sebelumnya diputar-putar kemana-mana dan tidak jadi masuk karena salah dress code. Untuk dapat masuk ke Grand Palace tidak boleh sembarangan berpakaian, harus pakai celana panjang atau rok panjang. Banyak turis yang bercelana pendek akhirnya menyewa pakaian atau bahkan akhirnya membeli celana atau kain panjang yang dililitkan menjadi rok. Kami malas menyewa walau ada tersedia tempat menyewa pakaian, kami lebih memilih memasukinya pada hari kedua saja.

Di pintu masuk ada penjaga yang akan memeriksa pakaian pengunjung, jika terlihat mereka ada pengunjung yang mengenakan celana pendek maka akan diarahkan ke tempat khusus penyewaan pakaian. Kalau sudah lolos dari penjagaan ini, kita berjalan terus sampai ada loket tiket masuk. Tiket masuk 500 Baht /orang dan kami cukup membayar 1000Baht. Sebelum pintu masuk ada museum yang bertuliskan Pavilion of Regalia, yang isinya ya perhiasan-perhiasan dan dekorasi-dekorasi kerajaan yang terbuat dari emas. Keluar museum ini ada pintu masuk ke Grand Palace, dengan memperlihatkan tiket masuk kita diberi sebuah peta Grand Palace lalu dipersilahkan masuk. Krucils yang tidak mempunyai tiket masuknya melalui pintu masuk khusus untuk anak-anak.

Begitu masuk, kami langsung disambut oleh bangunan megah berwarna keemasan serta berhiaskan batu-batu kecil warna warni dan kaca-kaca kecil. Entah kenapa selama petualangan ini kami malas banget mempelajari peta bahkan peta Grand Palace yang diberi dipintu masuk pun tidak kami pelajari sehingga saya malah mengira itulah istana rajanya….hehe. Konon kabarnya Grand Palace ini adalah kediaman raja Siam (kemudian Thailand) sejak 1782. Sekarang tempat ini masih dipakai untuk seremoni setiap tahunnya.

Ternyata tempat pertama dari pintu masuk itu tempat peribadatannya yang bernama Temple of Emerald Budha. Keluar dari situ ada gedung-gedung lainnya yang lebih bernuansa klasik modern, perpaduan arsitektur Thailand dan Eropa abad ke 19, yang awalnya saya pikir kantor apaan gitu, namun dijaga oleh penjaga seperti yang ada dipintu-pintu istana (Royal Guard). Rupanya disitulah kediaman sang raja namun karena panas yang menyengat kulit, kami jadi malas untuk mengeksplore gedung-gedung lain…pengen segera nyari tempat berteduh dan nyari minuman segar.

Untungnya tidak jauh dari situ ada tempat minum, krucils beli Haagen Daz sedang ayah bundanya cukup es kelapa muda. Panasnya aje gile bener…baju sampai basah oleh keringat dan butuh 3 buah es kelapa muda baru bisa menetralkannya, badan berasa segar lagi. Nah tidak jauh dari tempat minum ini ada museum lagi, yang langsung ditagih oleh bungsu kami untuk masuk. Sulung kami yang biasanya paling semangat melihat museum kali ini malas-malasan karena kepanasan…hehe. Diantara kami berempat, cuma bungsu yang masih punya tenaga lebih kayaknya, yang lain loyo karena udara yang menyengat.

Museum ini namanya The Temple of Emerald Budha Museum. Isinya ada keramik, ada patung, ada gelas-gelas, dan perhiasan emas. Keluar dari museum ini eh tidak jauh dari pintu keluar Grand Palace ada museum lagi yang namanya Queen Sirikit Textile Museum. Isinya baju-baju yang dulunya dipakai oleh Ratu Sirikit, ada juga kain-kain…ya tentang textile lah. Kompleks Grand Palace ini luas banget deh, sampai capek ngidernya. Oke krucils, kita istirahat dulu di hotel…adem-ademan setelah seharian kepanasan dibawah terik mentari kota Bangkok.





National Museum, Bangkok

27 04 2014


Pagi kedua di Bangkok kami menimbang-nimbang, masih main di Bangkok atau ke Ayuthaya sekitar 2 jam dari Bangkok. Ayuthaya ini sebenarnya termasuk dalam list petualangan kami kali ini, tapi karena terus terang saya tepar kelelahan setelah meloncat-loncat kebeberapa negara dalam seminggu ini, saya jadi malas kalau harus menghabiskan waktu dijalan lagi, pengen istirahat aja santai-santai sebelum pulang. Krucils dan si ayah sih masih semangat dan masih kuat berkelana lagi, hanya saya yang kelelahan akibat perjalanan yang lumayan jauh dan juga efek dari flu dan batuk yang menyerang saya.

Setelah diskusi sama si ayah, kami memutuskan Ayuthaya bisa dimasukkan dalam petualangan berikutnya aja. Kali ini petualangan kami cukup sampai di Bangkok saja. Akhirnya kami putuskan untuk menghabiskan waktu hari kedua dengan mengunjungi National Museum dan Grand Palace saja, sisanya ya istirahat di hotel dan packing-packing lagi.

Setelah sarapan ala seven eleven (selama di Bangkok kami sering makan nasi yang dijual di gerai-gerai seven eleven yang banyak tersebar di Khaosan Road), mandi dan let’s go…markimon (mari kita kemon). Kami berjalan kaki menembus Khaosan Road, lanjut Phra Athit dan akhirnya sampai di National Museum. Tiket masuk museum ini 200Baht, yang bayar cuma saya dan ayah karena krucils gratis…bawa krucils memang menyenangkan, banyak gratisnya hehehe.

Nah, museum ini luaaasss banget dan terdiri dari banyak bangunan yang terpisah-pisah. Di gedung pertama saja (Galery of Thai History), kami menghabiskan waktu satu jam lebih. Krucils yang asyik nanya ini itu, foto ini itu, penasaran sam ini itu menyebabkan kami lama banget disini. Di gedung pertama ini ada tentang kerajaan-kerajaan di dunia juga yang berhubungan dengan kerajaan di Thailand, salah satunya tentang Borobudur. Belum lagi gedung-gedung lainnya, dan ada gedung khusus tentang harta karun kerajaan Thailand yang isinya emas melulu dari kalung emas, mahkota emas, patung emas, dsb. Pada akhirnya kami pun menyerah, tidak semua gedung kami datangin…hanya yang tentang Thai History dan Harta Karun…biar petualangannya berasa Indiana Jones yang menemukan harta karun yang hilang wahahaha 😀





Chao Phraya Express Boat, Bangkok

27 04 2014


Setelah dari Phra Sumen Fort, sulung saya penasaran pengen mencoba express boat yang dilihatnya hilir mudik di sungai Chao Phraya. Saya dan bungsu saya sih sudah malas naik kapal lagi, laaa pagi tadi kan sudah saat mencoba floating market…masa sore main di sungai lagi hehe…

Punya anak yang gampang penasaran sama banyak hal menyenangkan sebenarnya, tapi ya gitu deh…susah ditolak keinginannya. Pengen nyoba ini itu, pengen tahu ini itu jadi ya sore itu kami pun mencoba express boat ini hanya untuk memenuhi keingintahuan sulung saya.

Kami naik dari dermaga Phra Athit dan beitu sampai dermaga, sebelum membayar kita akan ditanya dermaga tujuan kita. Ada sih tarif khusus untuk naik turun semaunya dimana kita inginkan, kalau gak salah tarifnya 80 Baht untuk seharian (kalau gak salah loh, lupa lagi soalnya). Sedang kalau per dermaga, kena tarif 15Baht /orang. Nah saat akan membayar, terus terang kami bingung hendak kemana …jadi asal nyebut aja waktu liat ada dermaga bernama China Town, ya sebut China Town…hehe…

Rupanya ini transportasi air yang berhenti di tiap dermaga yang ada di daerah tertentu, misalnya China Town ya berhentinya ya diseputaran daerah China Town. Atau kalau berhentinya di Phra Athit, ya diseputaran jalan Phra Athit yang berdekatan dengan Khaosan Road (wilayah paling terkenalnya tempat turis ngumpul). Ya mirip-mirip kalau naik bis deh, cuma bedanya naik express boat ini gak muter-muter (jalan di Bangkok banyak satu arah, jadi banyak muternya) dan paling yahud sih bebas macet sudah gitu murah meriah lagi. Lumayan bermanfaat juga nih nyobain express boat, jadi bisa tahu sarana transportasi alternatif di Bangkok hehe..

Pulang dari China Town, di dalam kapal kami bertemu sekelompok ibu asal Jakarta yang berniat ke Khaosan Road. Mereka mengira kami sudah lama tinggal di Bangkok atau setidak-tidaknya sering ke Bangkok karena keliatannya expert banget soal transportasi disini, padahal mah kami sotoy (sok tewu karena suka nyoba-nyoba yang baru) aja, ke Bangkok juga baru kali itu hahaha. Mereka pun nanya-nanya kami gimana cara ke Khaosan, kami jawab kami jalan kaki…dan mereka pun ngikutin kami di belakang karena pengen tahu jalan ke Khaosan Road. Asyik juga bertemu teman senegara di negara orang, rasanya senasib sepenanggungan. Berkat Chao Phraya Express Boat nih kami jadi bisa tahu transportasi bebas macet yang murah meriah, bisa ketemu teman senegara, cuma pulang ke hotel sedikit mabuk aja kebanyakan terombang ambing disungai hehehe 😉





Phra Sumen Fort, Bangkok

25 04 2014

20140426-054632.jpg

Sulung saya suka banget liat meriam apalagi kalau meriam tersebut berada di sebuah benteng. Kayaknya dia penasaran seperti apa sih senjata jaman dulu, bagaimana bentuk dan mekanismenya. Begitu liat benteng ini dia langsung pengen masuk tapi sayangnya ditutup.

Kami akhirnya hanya melihat-lihat benteng ini dari depan, dibeberapa bagian ada tulisan baru di renovasi tahun 1993 (kalau gak salah), sedang bagian lainnya tetap dibiarkan aslinya. Seru juga krucils bertanya ini itu tapi karena hanya bisa melihat dari luar sebentar aja sudah selesai deh liat-liatnya. Oke krucils sekarang kita coba naik taxi airnya ya…





Santi Chai Prakan Park, Bangkok

25 04 2014


Setelah seharian kena scam di pagi hari pertama kami di Bangkok, kami putuskan balik ke hotel dulu…istirahat. Krucils makan, tidur, mandi baru sore hari kami keluar hotel lagi. Kali ini kami bertekad kembali pada gaya jalan kami semula, backpackeran alias jalan-jalan hemat ala kami yaitu jalan kaki kemana-mana. Kami akui kami terlena selama petualangan kali ini, kami sudah manja dari awal memulai petualangan ini, terlenakan pada kemudahan jalan-jalan di Ho Chi Minh (Vietnam) yang kemana-mana naik taxi murah jadinya petualangan-petualangan selanjutnya jadi malas jalan kaki.

Jadi sore itu kami putuskan kami akan kembali ke gaya awal kami, backpacker…cari transport murah kalau perlu jalan kaki kemana-mana dan lebih percaya pada feeling dan instuisi sendiri dan mulai tidak memperdulikan orang-orang yang menyapa kami selama dijalan, trauma…hehe. Mengandalkan peta Bangkok yang dikasih dari hotel, kami jalan kaki menembus Khaosan Road (daerah hotel kami), lurus terus melalui gang-gang kecil hingga tembus jalan Phra Athit, ke kanan dikit eh nemu taman kecil yang indah yang naung oleh pepohonan serta menghadap sungai Chao Phraya dan berada tepat disamping benteng Phra Sumen. Krucils berlari-larian disini sambil maksa-maksa agar kami mencoba taxi air yang lalu lalang melintasi sungai…oke sip, kita coba tapi kita liat dulu bentengnya ya…yuuukkks…





Penipuan yang Gagal di Wat Benchamabophit, Bangkok

25 04 2014


Setelah mencoba Floating Market, kami diturunkan dari kapal di dermaga yang bernama Tha Thien yang berlokasi tidak jauh Grand Palace. Istirahat sebentar minum es kelapa muda kemudian jalan kaki ke Grand Palace. Saat kami hendak masuk Grand Palace, kami ditahan oleh seorang bapak yang mengatakan Grand Palace saat ini tidak dibuka untuk umum, hanya khusus orang Thailand karena sedang ada upacara keagamaan (entah acara apaan, tapi memang banyak yang kayak sembahyang disitu). Untuk turis Grand Palace dibuka jam 13.00 nanti, sedang ketika itu jam baru menunjukkan angka 11-an.

Sambil menunjukkan stiker kecil yang tertempel di bajunya, yang baru saja dikeluarkannya dari kantong bajunya yang bertuliskan “Tourist Police” kalau gak salah (lupa lagi soalnya), dia pun meminta peta pada kami. Kemudian sambil mengajak kami menjauh dari pintu masuk, dia pun menunjukkan wat-wat lainnya yang ada didekat-dekat situ yang dibuka untuk umum pada jam segitu. Ada Wat Ratchanaraddam, Wat Benchamabophit, dan sebuah expo yang sedang berlangsung disebuah tempat yang katanya sih semacam expo kebudayaan gitu dan hari itu hari terakhir expo. After all, you can back here katanya lagi. Dan seperti jenis penipuan sebelumnya, dia pun menyarankan kami naik tuktuk untuk mengunjungi tiga tempat yang disebutnya tadi ditambah lagi dia bilang pakai bahasa Thai lebih murah, dan tiba-tiba secara misterius seperti sebelumnya berhentilah tuktuk plat kuning didekat kami. Dengan gaya penolong yang baik hati, diapun membantu kami menawar tuktuk tersebut 40 Baht untuk kesemua tempat tersebut. Hebatnya lagi kamipun seperti tersihir, manut aja padahal mengunjungi wat-wat lain itu tidak ada dalam list tempat yang akan kami datangi selama di Bangkok, kami setuju karena penasaran sama exponya sebenarnya.

Awalnya memang kami diantar ke Wat Ratchanaraddam, yang katanya sih hanya ada satu didunia yang ada stone budha ya disitu itu. Masuknya gratis karena lagi-lagi disana sedang ada orang sedang sembahyang, kami sebentar saja disini kemudian kami langsung ngajak si supir tuktuk cabut dari situ. Setelah dari Wat Ratchanaraddam tersebut, supir tuktuk pun mulai aneh…kami mau diajak ke toko perhiasan. Saya menolaknya, laa saya bukan penggemar perhiasan, ngapain ke toko perhiasan. Tapi supir tuktuk bersikeras ngajak kesana, hanya liat-liat aja kok katanya. Hmmm…mulai aneh dan curiga…

Tapi baiklah karena katanya toko tersebut sponsor dia, kalau kami masuk walau hanya liat-liat dia dapat stamp untuk ditukarkan dengan bensin. Kami pun masuk, begitu masuk dan melihat yang dijual disitu perhiasan tok…langsung keluar tanpa ba bi bu, satu detik aja dalam toko…wahaha. Supir tuktuk kaget, gak beli tanyanya? Gak tertarik tuh…lagian tadi cuma disuruh liat-liat…hahaha. Kemudian dia mengajak kami ke satu toko lagi, terus terang saya mulai gak suka. Saya menolaknya, tapi dia mengiba-ngiba supaya kami masuk sebentar supaya dia dapat stamp untuk bensinnya, kesian juga jadinya…baiklah…

Masuk toko kedua ini agak besar, selain perhiasan ada jual baju dan souvenir. Nah kalau souvenir sih boleh aja karena saya koleksi magnet kulkas, jadi ya yang saya beli ya magnet kulkas doang seharga 100Baht untuk 3 buah. Dan kembali ke tuktuk, lagi-lagi dia nanya apa tadi si ayah membelikan saya perhiasaan. Dia gak tahu saya bukan penggemar perhiasan apapun itu, satu-satunya perhiasan yang saya pakai ya cincin kawin. Jadi kalau dia pikir bisa merayu kami membeli perhiasan, dia salah orang…hahaha..jangankan perhiasan, belanja-belanja aja kami gak demen.

Akhirnya dia mengantar kami ke Wat Benchamabophit ini. Wat ini lebih besar dari wat pertama dan ada tiket masuk 20 Baht. Tapi karena counter tiketnya tutup, jadi ya kami jalan-jalan diluar aja…liat-liat. Di dalamnya sedang ada upacara sembahyang juga, mungkin hari itu hari keagamaan makanya disetiap wat sedang ada upacara keagamaan gitu. Kami hanya sebentar saja disini, cuaca Bangkok yang panas hari itu membuat kami pengen cepat balik ke hotel aja. Kami putuskan tidak jadi ke expo tersebut karena selain panas, kami juga mulai curiga sama supir tuktuk yang rajin banget ngajak kami ke toko-toko perhiasan.

Setelah di tuktuk kami minta diantar kembali ke Grand Palace aja, gak usah ke expo lagi. Eh lagi-lagi dengan gaya menghiba, supir tuktuk mengajak kami mampir lagi ke toko lainnya lagi, the last one janjinya. Saya langsung dengan tegas menolaknya, tapi si ayah yang gampang iba langsung menawarkan jalan tengah…kami akan tambah ongkos tuktuknya tapi langsung antar ke Grand Palace aja gak usah mampir-mampir ke toko lain lagi. Tapi supir tuktuk gak mau, dia hanya minta kami melihat-lihat saja ditoko terakhir tersebut setelah itu baru dia akan antar kami kembali ke Grand Palace. Katanya lagi kami membayar dia terlalu murah hanya 40 Baht untuk mendatangi wat-wat lainnya yang jaraknya lumayan jauh juga dari Grand Palace jadi dia butuh stamp untuk mengisi bensinnya katanya. Duile…siapa suruh dia mau ngantar kami dengan biaya 40 Baht tadi?

Akhirnya karena kasian, ayah mau. Di toko terakhir ini selain menjual perhiasan juga menjual pashmina, baju, souvenir. Pas liat-liat souvenir, krucils tertarik beli buku notes kecil yang sampulnya bertuliskan Thailand dan bergambar gajah seharga 50 Baht dan membeli sebuah pashmina untuk oleh-oleh. Saat dikasir kami bertemu dengan rombongan dari Indonesia juga…ada yang dari Jakarta, ada juga dari Banjarmasin. Berbeda dengan kami, mereka belanjanya banyak banget sedang kami sedikit banget hahaha. Belipun karena belum beli oleh-oleh, kalau gak ya gak akan tertarik beli apapun tuh.

Akhir cerita kami pun diantar kembali ke Grand Palace. Setelah kami rewind lagi kejadiannya, si ayah menyimpulkan ini adalah scam jenis lainnya yang ada di Bangkok. Sayangnya mereka salah orang yang disasar, kami buka tipe yang suka belanja…jadi mereka tidak sukses kali ini hahaha 😀 Kami belanja hanya souvenir, itupun harganya kurang lebih sama dengan yang diemperan jalan…tapi dengan belanja kecil segitu kami dapat keuntungan bisa keliling Bangkok (melihat daerah-daerah yang diblokir karena ada demo yang sudah berlangsung selama 6 bulan) dengan harga murah, 40 Baht saja hahaha..kerugiannya hanya waktu kami terbuang banyak hanya untuk mengunjungi toko-toko gak jelas. Yang penting keuntungan yang kami peroleh lebih banyak daripada kerugiannya…haha.

Begitu tiba di hotel, baru terbaca oleh saya di meja resepsionis hotel dipampang peringatan buat para turis agar selalu waspada pada orang yang tampaknya berniat baik menunjukkan jalan, atau supir taxi dan tuktuk yang menawarkan tarif murah. Yah telat bacanya setelah seharian kena tipu. Resepsionis hotel langsung ketawa ketika kami ceritakan, katanya disini (Bangkok) memang banyak yang begitu. Padahal saya suka banget tuh nonton Scam City yang hostnya ganteng banget itu di National Geographic, sayangnya yang sering dibahas adalah kota-kota di Eropa…eh di Bangkok ternyata banyak juga…kena deh. Pengalaman berharga buat kami agar kami selalu berhati-hati, jangan gampang percaya sama orang lain.





Penipuan Floating Market, Bangkok

23 04 2014


Selama petualangan kali ini kami mempercayakan semua urusan tour guide ke ayah…jadi saya malas gooling, baca-baca, maupun survey berbagai hal di internet. Laa kata ayah, “serahkan pada ayah semuanya”. Tapi ternyata ayah belum survey tentang Bangkok, dia hanya baca tentang Vietnam dan Cambodia sementara Bangkok sama sekali tidak disurveynya….jadi dia juga sama sekali buta tentang Bangkok, yang lucunya lagi dia yang paling ngebet kami berlama-lama di Bangkok daripada di kota-kota lain, ya ampyun…

Ketika kami tanya mau kemana kita di Bangkok yah? Gak tahu…hahaha….jadilah petualangan di Bangkok ini mengalir begitu saja. Pagi pertama di Bangkok akhirnya kami putuskan menyusuri jalan di seputaran hotel kami di Khaosan Road, yang dilihat dari peta sih banyak tempat wisata yang bisa didatangin hanya dengan berjalan kaki. Beberapa tawaran supir taxi dan tuktuk yang mangkal didaerah tersebut untuk mengantar kami kesono mari tidak kami pedulikan. Asyik ngobrol bareng krucils sembari sesekali baca peta kamipun terus berjalan kaki.

Tidak berapa lama kemudian, kami berpapasan dengan seorang pejalan kaki juga, seorang bapak yang bilang kepada kami kalau mau menyeberang kami salah arah (on the other side katanya) dan memang kami lihat disitu kami tidak bisa menyeberang jalan padahal kami berniat menyeberang jalan. Dia bertanya kami mau kemana? Dengan lugu dan polos kami menjawab kami mau ke National Museum, dengan cepat dia menjawab hari ini museum tidak buka, besok baru buka. Kami pun menjawab kalau gitu Grand Palace yang letaknya sebelahan aja dengan National Museum, eh dia bilang belum buka juga …bukanya siang nanti.

Lalu dia pun menyarankan kami mencoba floating market, bagus katanya menyusuri sungai. Dia meminta peta kami sembari mencoret-coret dermaga yang ada di peta, jangan disini katanya, itu untuk turis…mahal. Coba didermaga ini khusus orang Thailand, murah. Kalau dermaga lain 4000Baht didermaga yang ditunjukinnya tadi hanya max 2000Baht. Dia juga memberi tahu kami, jangan naik taxi mahal…naik tuktuk murah, kalau ke dermaga itu cuma 20 Baht saja kalau naiknya tuktuk plat kuning, bukan plat putih dan lebih murah lagi kalau bisa bahasa Thai….laaa kami kan gak bisa bahasa Thai…piye toh. Bapak tersebut yang sueeer banget tampangnya orang baik-baik dan berpendidikan mengaku dia teacher sekolah anak-anak….saya sih berbaik sangka karena kami berpapasan saat jalan, dia sedang jalan berbeda arah dengan kami jadi benar-benar gak kepikiran macam-macam.

Sambil ngobrol gitu, tiba-tiba berhentilah tuktuk plat kuning didekat kami…dia pun ngomong bahasa Thai yang dari gerak tubuhnya sih suruh supir tuktuk mengantar kami ke dermaga yang disebutnya itu dengan harga 20 Baht, supir tuktuk ngangguk-ngangguk setuju. Dermaga sih agak jauh dengan harga 20 Baht, hanya seharga dua buah minuman di seven eleven untuk ngantar sejauh itu harusnya sudah membuat kami curiga. Tapi masih gak ngeh…

Tiba di dermaga, dermaganya sepi banget…ya ampun dermaga apaan itu. Saya sih terus terang malas banget floating market, kami sudah pernah ke pasar terapung di Banjarmasin yang benar-benar khas, untuk kelas traveler kayaknya kelas keeksotisannya jauh lebih tinggi deh dibanding dengan floating market di tempat lain. Selain itu beberapa tahun lalu saya pernah iseng-iseng baca tentang floating market di Bangkok, katanya not worthed untuk didatangin. Makanya sebenarnya floating market Bangkok ini tidak termasuk dalam list yang pengen saya perlihatkan pada krucils…kan sudah ada di Indonesia, ngapain lagi jauh-jauh ke negara lain dan mahal lagi…2000Baht itu sekitar 800rb-an loh. Tapi karena ayah kayaknya pengen ngajak kami kesini, ya saya ngikut aja…kan katanya serahkan pada ayah semuanya…

Selain saya merasa tidak perlu ke floating market, saya juga sempat bilang uang Bath kita gak sampai 2000Baht loh yah. Entah kenapa saya malas menukar uang Dollar yang kami punya ke Bath, sayang aja rasanya. Kami hanya mengandalkan sekitar 700 Baht yang kami punya sisa dari petualangan ke Phuket tahun lalu. Itu sebenarnya sudah cukup untuk beli makan, minum dan tiket masuk museum. Namun ayah bilang, di dermaga nanti pasti ada money changer dan begitu sampai dermaga yang sepi itu tidak tampak money changer. Kami pun bilang kami akan menukar uang dulu, eh orang di dermaga tersebut bilang gak apa-apa kami membayar pakai Dollar atau kami bisa menukar uang ke dia 100$ = 3000 Baht. Sumpah deh, saya gak enak hati…duh 100$ itu harusnya dapat lebih, masa cuma 3000Baht.

Lagi-lagi ayah setuju menukar uang di dia, kemudian membayar 2000Baht. Laaa mau diapain lagi, yo weslah….kita nikmati aja jalan-jalannya kalau gitu. Lupakanlah masalah harga dan hitung-hitungan money changer ala si pemilik perahu, saya gak mau pusing lagi la wong tujuan jalan-jalan kan untuk refreshing, bukan pusing dengan hitung-hitungan uang. Uang mah ntar aja dipikirinnya kalau sudah di Indonesia lagi, work hard lagi dan play harder lagi…hehe.

Saya dan krucils saya sih menikmati perjalanan kami menyusuri sungai Chao Phraya, melihat kehidupan masyarakat dari arah sungai, melihat bahwa sungai tersebut ikannya banyak banget….wuih, sungainya dijaga banget sehingga ikan-ikan mirip ikan patin gede-gede banyak banget disitu. Kayaknya gak ada yang mancing atau menjalanya, yang ada beberapa biksu memberi makan ikan malah sehingga ikannya makmur gitu bisa sebanyak itu dan sebesar itu…seperti sedang berada dikolam ikan malah rasanya.

Saya dan krucils menikmati perjalanan kami walau kami sama sekali tidak melihat pasar terapungnya, yang mana katanya floating market sampai harus bayar semahal itu coba, sama sekali gak ketemu. Tetap aja asik-asik aja ditengah panas mentari yang menyengat kulit. Tapi si ayah sepanjang jalan langsung membahas, “bunda kayaknya kita kena scam nih”…masa semahal itu hanya begini. Saya yang sudah gak mau pusing, sudah gak mau mikir tentang pengalaman aneh yang kami alami tadi pagi.

Sepanjang jalan si ayah cuma membahas tentang scam mulu, bahkan sampai balik hotel pun masih bilang “kayanya kita kena scam deh”. Saya hanya mau berbaik sangka, okelah kami tadi ketemu bapak yang mengarahkan kami ke dermaga sepi. Masa sih seorang guru mau berbuat gitu…jadi sudahlah, yang terjadi ya sudah. Namun si ayah yang penasaran langsung browsing dan ow ow…dia langsung membacakan ternyata ada orang bule (turis) yang kena tipu juga persis seperti kami. Berpapasan dengan seorang yang ngakunya guru, ngasih tahu dermaga floating market murah, dsb….ya mirip dengan kami..bedanya dia kena 2400Baht. Dan dia memperingatkan hati-hati sama orang yang keliatannya baik di Bangkok…

Biaya floating market itu hanya berkisar 600-1000Baht saja sebenarnya. Bayangkan saudara-saudara, betapa banyak keuntungan yang diperoleh oleh komplotan ini, yang kemungkinan terdiri dari si guru, supir tuktuk, dan pemilik perahu. Arrrrghhhh…saya pun kesal dibuatnya. Bela-belain nukar duit Dollar hanya untuk ditipu, sudah gitu si ayah pakai acara membahas-bahas segala tentang penipuan tersebut. Kalau sudah tahu kena tipu, gak usah ceritain ke saya lagi maksud saya, saya mau tetap berbaik sangka dan tetap menikmati liburan ini…bukan malah dibuat menyesali yang sudah terjadi.

Ya sudahlah, yang terjadi sudah terjadi…dan yang paling penting mulai sekarang percaya pada diri pada diri sendiri aja. Itu sebabnya survey itu penting, selalu saya ingatkan ke ayah….browsing, surfing, googling dulu tentang tempat-tempat tujuan petualangan kami. Saya tiap hendak berpetualang bertiga dengan krucils, sebulan sebelum berkelana sudah mulai survey berbagai hal, dari transportasi, akomodasi, tempat-tempat tujuan, dsb. Kita kan tidak mengenal wilayah orang…apalagi ini keluar negeri loh yang pastinya berbeda bahasa, budaya, dsb. Ayah sih selalu beranggapan let it flow aja, dia selalu menganggap remeh survey…bagi dia petualangan itu ya get lost, gak perlu survey, gak perlu peta, gak perlu jadwal…seenaknya hati dan gimana mood membawa aja….

Sudah terjadi, ya sudahlah…sebuah pelajaran berharga banget bagi kami. Ini kota besar bung, berhati-hatilah selalu. Kalau kata bung napi, waspadalah…kejahatan terjadi tidak hanya karena ada niat dari pelaku tapi juga adanya kesempatan…waspadalah. Sekarang nikmati aja, ntar pulang ke Indonesia kita kerja keras lagi ya ngumpulin duit lagi untuk berpetualang yang lebih seru lagi…hahaha.. 😀