Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe 🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…





Saung Angklung Udjo, Bandung

28 07 2016

20160728-091040.jpg

Saung Anglung Udjo ini letaknya dekat dengan rumah waktu kuliah di Bandung, sama-sama di Padasuka. Saking dekatnya, jalan kaki kurang 5 menit sudah sampai di Saung Angklung ini. Dulu sih saya gak ngeh dengan tempat ini karena pagarnya masih tertutup seng dan bambu, cuma sering liat bis-bis besar hilir mudik keluar masuk tempat ini.

Saya baru mulai ngeh dengan tempat ini ketika sahabat saya yang suka hunting foto minta ditemenin ke tempat ini. Dari rumah jalan kaki, lalu masuk …gak pakai bayar tiket karena gak liat letak loketnya, selain itu tidak bertemu petugasnya. Mungkin kami disangka warga sekitar yang memang ketika itu bebas keluar masuk tempat ini. Begitu sampai di dalam pas banget dengan jam pertunjukan, jadi bisa nonton gratis…berkah banget deh dapat yang gratisan bagi mahasiswa…hehe *colek om Anto*

Sudah sedari dulu saya berniat mengajak krucil menonton pertunjukan angklung di tempat ini, tapi selalu ada halangan…ya gak punya kendaraanlah, ya waktu mepetlah, dsb. Baru tahun ini akhirnya kesampaian juga mengajak krucil ke Saung Angklung Udjo…itupun gak sengaja karena setelah berkunjung dari rumah saudara, kami berniat nengok rumah eh kena macet dimana-mana. Si ayah yang kakinya sudah pegel banget menginjak kopling akhirnya mengajak istirahat dulu di Saung Angklung ini.

Saung Angklung ini lebih cihuy sekarang, parkirannya luas, adem dan ada restonya juga sekarang. Ketika nanya-nanya sama petugas, ternyata pertunjukan pagi (jam 9 atau 10) sudah selesai tinggal sore jam 16.00 nanti baru ada lagi. Sembari istirahat, ketemuan sama sahabat yang dulu mengajak saya hunting foto ditempat ini. Lalu dia kirim foto keren ke saya dan atas ijinnya, saya boleh pajang fotonya di blog saya. Foto diatas hasil karya sahabat saya itu Sudarmanto Edris yang berawal dari hobi motret sekarang jadi photographer handal.

Kembali ke cerita Saung Angklung, akhirnya kami bisa mengajak krucil menonton pertunjukan angklung juga. Beli tiket 70rb/dewasa, 50rb/anak…lumayan juga, tapi kata si ayah lebih baik bayar mahal nonton beginian daripada ke tempat bermain. Tiketnya unik, berupa kalung berbentuk angklung plus brosur sinopsis. Awalnya karena gak ngeh apa guna sinopsis tersebut, satu brosur sinopsis kami kebuang, padahal ternyata itu berguna untuk mengambil welcome drink yang bisa milih air mineral atau ice cream…hiks hiks..

Pengunjung Saung Angklung ini 60 % domestik, 40% mancanegara. Pertunjukan terbagi beberapa segmen, awalnya pertunjukan wayang golek, lalu anak-anak bernyanyi, bermain angklung dan menari. Lalu giliran yang senior-senior yang bermain angklung. Permainan angklung ini tidak membosankan loh, musiknya yang asik-asik loh.. ada lagu Beatles, Semi Jazz, Marimba, bahkan klasik seperti Hungarian Dance no 5…keren yah. Krucil kami bahkan terkesima dan tidak berkedip sepanjang pertunjukan. Kemudian pengunjung dibagiin satu persatu angklung, diajari cara memainkannya…lalu dengan instruksi mulai bermain musik bersama. Terakhir anak-anak kecil masuk lagi dan memilih pengunjung untuk bermain dan menari bersama di depan. Kata krucil kami, Saung Angklung Udjo keren…seruu, kapan-kapan kesana lagi ya kita, ajak mereka. Oke deh …





Museum Geologi, Bandung

23 07 2015

20150724-053114.jpg

Punya krucils penggemar museum itu wajib banget hukumnya mampir ke museum kalau berkunjung ke suatu kota. Bagi mereka gak afdol banget jalan-jalan ke satu kota tanpa mampir ke museumnya. Di museum ada aja yang bisa diliat, ditanyakan dan di foto mereka. Nah, dari dulu pengen banget ngajak ke Museum Geologi ini, namun baru kali ini berkesempatan mewujudkannya karena seringnya kalau ke Bandung libur lebaran yang artinya museumnya juga tutup libur lebaran.

Sekitar jam 8 pagi kami pun ke Museum Geologi ini. Bila biasanya museum sepi dan lebih banyak dikunjungi pengunjung yang lebih sepuh, berbeda dengan museum ini. Walau masih pagi dan museum baru buka, banyak keluarga-keluarga kecil seperti kami yang mulai berdatangan ke museum ini. Rata-rata keluarga muda dengan dua anak yang datang ke museum ini, mantap…keluarga muda masa kini sudah mulai tertarik ke museum euy.

Tiket masuk 3rb untuk dewasa dan 2 rb peranak, murah meriah dan bermanfaat untuk edukasi anak. Di museum ini rencana awal hanya satu jam molor jadi 2-3 jam! Krucils tea kalau ke museum lupa diri, di halaman museum aja sudah hampir satu jam sendiri. Halaman museum memang di taruh berbagai batu raksasa berbagai jenis, jadi aja krucils berhenti di tiap objek nanya ini apa, itu apa, jepret sana, jepret sini. Belum lagi di dalam museum, banyak banget bebatuan berbagai jenis, rupa dan warna…cocok banget nih buat yang demam batu akik 🙂

Tambahan setengah jam lagi si sulung mengulang-ulang menonton proses awal mula universe…hadeuh. Setiap objek di foto (kebiasaan krucils kalau ke museum, untuk museum ini aja ada seribu lebih foto), tiap ditanya untuk apa sih foto tiap objek, jawabannya…bunda tuh gak ngerti loh perasaan kami…hiks, kalian juga gak ngerti perasaan bunda, bunda kan lapar nungguin kalian hehe :p

Pada akhirnya saya tepar karena lapar dan memilih duduk dipojokan dan membiarkan krucils ditemani ayah keliling museum. Setelah dua-tiga jam kemudian barulah krucils puas keliling museum. Rencana jadi molor dan agak amburadul karena awalnya kalau hanya satu jam saja di Museum Geologi, sisanya bisa ngajak krucils ke Museum Pos yang letaknya di seberang Museum Geologi ini, bisa mampir ke Cisangkuy juga minum youghurt, bisa ke Gedung Sate juga masih di area yang sama. Tapi karena kelamaan di Museum Geologi sedangkan si bunda sudah janjian ketemuan sama para sahabat, akhirnya habis ke museum ini kami langsung ke rumah teman. Untung ayah dan saya belum ngasih tahu rencana awal itu, kalau gak bisa-bisa langsung ditagih ke Museum Pos juga.

Keluar museum, krucils pun riang gembira dengan seribu lebih foto barang-barang koleksi museum yang memenuhi memori card kamera, yang biasanya pada akhirnya ya hanya tersimpan di folder tanpa pernah dilihat lagi oleh krucils (bunda benar-benar gak ngerti perasaan kalian :p)…hehe, yang terpenting sih krucils happy. Sip, yuk markimon (mari kita kemon), saatnya nyari makan di rumah teman bunda yang anak geologi, kalian bisa nanya-nanya disana tentang yang ada di museum plus kenyang juga …hehe 😀





Dago Pakar, Bandung

23 07 2015

20150723-095633.jpg

Nama tempat ini Tahura Ir.H.Djuanda tapi lebih dikenal sebagai Dago Pakar, letaknya di Dago atas. Hari kelima kami di Bandung baru akhirnya bisa ngajak krucils jalan-jalan. Hari pertama kejebak macet ditol berjam-jam dari Jakarta, baru jam 11 malam sampai di Bandung….mantap teparnya. Hari kedua, ke rumah saudara-saudara, sangat macet…mulai tampak gejala penuaan dini di jalan. Hari ketiga, dijemput sahabat ke rumah…alhamdulillah walau macet tapi lebih enak daripada naik angkot. Hari keempat…ikut ipar jalan, macet dimana-mana…badan pegel-pegel. Hari kelima, kapok kena macet…stay at home aja sepanjang hari sampai sobat yang mau ketemuan terpaksa dan dipaksa datang ke rumah aja deh.

Belum sempat ngajak krucils jalan kemana-mana, hari kelima sore krucils mulai rewel…maksa ngajak jalan. Ayah bunda pun berpikir keras, kemana ya ngajak krucils jalan yang murah meriah, tidak jauh dan tidak macet…tik tok tik tok tik tok…aha, di rumah aja…hehe. Maklum macet selain bikin capek juga bikin boros kalau terpaksa harus naik taxi. Akhirnya kasih usulan ke kebun binatang aja, gak begitu jauh (cukup satu kali angkot) selain murah ongkos transport juga gak kemalaman karena hari sudah teramat sore dan pastinya tiket masuk tidak mahal…hehehe *tertawa pelit ala emak-emak perhitungan*. Setelah diskusi yang sangat alot, akhirnya deal ke kebun binatang aja.

Naik becak, disambung naik angkot…depan Unpad sempat diskusi dulu, berhenti di mana yang dekat Ganesha…eh si ayah di tengah jalan malah kasih usulan kenapa gak ke Dago Pakar aja? Saya memang sering cerita ke krucils tentang petualangan-petualangan saya dan sahabat-sahabat saya ketika mahasiswa dulu, salah satu latar cerita tersebut ya di Dago Pakar ini. Mendengar usulan si ayah, krucils pun antusias…mau liat gua Jepang dan Belanda, dan pengen seperti bunda yang sempat nyasar masuk hutan waktu mau jalan nembus Dago Pakar ke Maribaya sampai kemalaman di Dago Pakar…biasa cerita si bunda ke krucils kan dibumbui biar ala-ala India Jones campur Charlie Chaplin 😉

Dulu sih kalau berpetualang bersama sahabat, saya tinggal terima beres. Walau sama-sama naik angkot, pokoknya hanya tahu sampai aja di tempat tujuan…teuing eta naik angkot jurusan apa mah. Begitu krucils bilang mau ke Dago Pakar, langsung deh nanya sobat-sobat…naik angkot apa, berhenti dimana, biayanya berapa…ngandalin GPS hidup banget deh :p Berkat bantuan sobat-sobat nyampe juga deh akhirnya …walau sempat naik ojek ngebut ala motor GP.

Sampai di Dago Pakar, hari sudah sore…sobat sih sudah memperingatkan kalau sudah terlampau sore untuk berpetualang di hutan raya seperti itu. Namun spirit petualang krucils berkibar membara di dada akibat hasutan cerita-cerita petualangan bundanya. Tiket masuk 10rb/orang + seribu untuk asuransi. Total 44rb berempat. Jika dibandingkan suhu di Bandung dengan di Kalimantan aja sudah jauh beda, apalagi kalau dibandingkan di daerah ketinggian seperti Dago Pakar ini…tiris pisan euy (dingin banget). Bagaimanapun, petualangan harus berlanjut…ganbatte! (semangat!)

Berjalan menembus hutan raya dan tidak berapa lama sampailah di Gua Jepang. Di pintu masuk ini beberapa pemuda langsung menawarkan senter seharga 5rb/senter. Awalnya kami hanya ambil dua senter, eh ditambah sama masnya jadi tiga senter…di dalam eh dipaksa megang senter keempat, ditambah biaya guide seiklasnya total 30rb deh untuk gua ini. Sisi positif memakai guide adalah bisa mengetahui sejarah, posisi gua, digunakan untuk apa, dsb. Krucils terutama sulung saya antusias banget nih disini.

Tidak jauh dari Gua Jepang ada Gua Belanda yang pintu depannya berbentuk jeruji dan lorongnya lebih sempit namun menembus bukit. Gua Belanda ini lebih terang dibanding Gua Jepang sehingga kami memutuskan untuk tidak menyewa senter maupun guide. Pada akhirnya sulung saya mencak-mencak…gua ini gak seru, gak bisa keliling-keliling, gak tahu sejarahnya. Menembus gua kemudian kami berjalan ke arah Maribaya. Baru beberapa langkah, beberapa tukang ojek menawarkan ojeknya dengan rayuan Maribaya masih jauh…kasihan anak-anak. Baru setelah melihat jam saya sadar, walah sudah hampir maghrib. Krucils dan si ayah langsung saya ajak diskusi, gimana ini jalannya masih jauh sekitar 1-2jam lagi sementara sebentar lagi sudah malam. Sulung maksa tetap lanjut sedang bungsu malah ngajak balik, ayah ngikut suara terbanyak tapi condong ngikut ke sulung…lanjut terus,namanya juga berpetualang, kemalaman sih orapopo.

Akhirnya dengan kekuasaan tirani si bunda (hehe), sulung mau juga balik lagi sambil sepanjang jalan ngomel-ngomel, besok harus kesini lagi. Ketika jalan kembali ke arah pintu masuk, hari mulai gelap…eh pakai nyasar pula ditambah bunyi gemerisik rumput di dekat jalan setapak yang kami lalui plus serangga malam yang mulai menggigit, krucils terlihat panik. Tuuuhhh kan, bunda tuh tahu tipekal kalian…gayanya aja mau berpetualang seperti si bunda, yang sering kemalaman dan pernah nyasar di hutan, eh baru maghrib aja sudah pada takut minta gendong si ayah…hehe..

Ketika berhasil nemu pintu keluar masih belum bisa bernafas lega, ojeknya cuma ada satu…eh sudah gitu si ayah nyuruh kami pura-pura gak dengar tawaran si tukang ojek karena kata si ayah orangnya sedang mabuk. Terpaksa deh jalan kaki jauh untuk kembali keramaian lagi, kaki dan pinggang jadi sakit…hiks ternyata bunda sudah tua. Di pertigaan akhirnya nemu pangkalan ojek lagi …naik ojek sampai terminal, dari terminal naik angkot ke Dipati Ukur dan berhenti di warung sate Padang salah satu tempat makan favorite dahulu kala, petualangan pun diakhiri dengan makan banyak…haha, mirip petualangan bunda bersama sobat-sobat dahulu kala :p





Berfoto ala Chibi-Chibi di Jonas

22 08 2012

20120904-113005.jpg

Saya dari dulu suka memotret apapun yang menarik bagi saya, sehingga saya sendiri justru jarang bisa berfoto. Dalam tiap petualangan, sayalah yang jadi photographernya…saya merasa lebih pas aja dibanding orang lain misalnya yang ngambil foto, yang seringnya komposisinya gak jelas…kadang kepala kepotong, atau terlalu ke samping, atau buram atau yang di foto gak sesuai dengan yang saya mau. Itu sebabnya saya jarang ikutan muncul dalam foto-foto petualangan krucil saya.

Nah, karena saya jarang banget muncul difoto, sebenarnya saya pengen banget punya foto keluarga (saya, ayah, dan duo krucil saya) yang seru, bagus, lucu. Kami pernah sempat mencoba berfoto di studio foto di Balikpapan, hasilnya ya kok mengecewakan bagi kami. Hasilnya fotonya jadi kaku, kami tidak rileks…mau bergaya juga bingung, harus bergaya kayak gimana maklum kan bukan model…gak ada yang mengarahkan gaya.

Mumpung sedang di Bandung…kesempatan untuk berfoto-foto, si bunda ikutan narsis juga dong hehe. Kebetulan saudara-saudara suami saya juga pengen bikin foto keluarga, jadilah kami rombongan ke Jonas. Apa sih Jonas itu? Jonas adalah studio foto terbesar dan paling terkenal di Bandung. Saat giliran keluarga kami yang berfoto, saya paling males banget kalo berfoto resmi-resmi gitu…pengennya santai, rileks. Jadi saya mengusulkan ke photographer agar kami posisi melantai aja di foto, gak pake kursi. Eh photographernya gak setuju, dia bilang tadi sudah melantai bersama keluarga besar (atas usul saya juga nih melantai), sekarang yang beda dong bu katanya sambil mendorong kursi besar ke saya. Halah…males banget foto keluarga duduk dikursi, biasa banget…

Akhirnya saya mengambil posisi berchibi-chibi, eh photographernya setuju. Iya begitu…haha, beberapa kali jepret hasilnya bagus menurut saya, ini yang saya mau..foto keluarga yang sesuai dengan jiwa kami : santai, rileks, dan lucu…hehe…anak-anak juga jadi tertawa lepas, geli biasa main sama anak tetangga chibi-chibi, sekarang disuruh pose chibi-chibi di depan kamera…chibi-chibi…ha ha ha 😀





Menonton Parade Show di Trans Studio Bandung

22 08 2012


Jalan-jalan di kota Bandung sebenarnya banyak tujuan lain selain Mall atau FO (factory outlet). Ada museum, ada sentra buku palasari, ada kebudayaan (saung udjo) dan ada banyak wisata kuliner. Tapi karena tidak punya kendaraan, berangkot ria agak susah kesono kemarinya terlebih bawa krucil. Jadilah mau tidak mau kami nyari-nyari tempat yang gampang dijangkau saja, salah satunya adalah BSM (bandung super mall) yang telah berganti nama menjadi TSM (trans super mall). Sejak masuk TSM dan melihat logo Trans Studio plus roller costernya Krucil saya jadi pengen banget ke Trans Studio..hadeuh…

Beberapa kenalan dan saudara sudah mewanti-wanti si ayah, rugi kalau bawa anak kecil ke trans studio terlebih di libur panjang seperti sekarang. Pertama-tama karena tarifnya lebih mahal, jika hari biasa hanya 150rb/orang, hari libur jadi 200rb/orang. Kedua, tidak semua wahana diperuntukkan untuk anak, hanya sedikit wahana yang khusus diperuntukkan untuk anak. Kebanyakan wahana mensyaratkan tinggi minimal 135cm untuk dapat bermain disebuah wahana. Dengan kata lain, krucil-krucil saya belum memenuhi syarat tersebut. Ketiga, libur seperti ini biasanya antri masuk setiap wahananya panjang sekali, bisa berjam-jam hanya untuk bermain sebentar diwahana. Dan yang terakhir sih, mau main atau tidak main atau hanya ngantar /nemenin diwahana yang ada…tiap orang yang masuk ke dalam lokasi Trans Studio harus bayar tiket tersebut, 200rb/orang..ditambah biaya kartu 10rb/kartu. Artinya saya & si ayah yang dalam tiap kesempatan hanya nemenin duo krucil, tetap harus bayar full.

Masuk kelingkungan Trans Studio tidak diperbolehkan bawa makan & minum loh, hanya boleh beli makan & minum yang ada di dalam dan semuanya dikelola oleh trans, sehingga pembayarannya hanya melalui kartu khusus Trans…tidak terima cash. Nah loh…Jadi gimana caranya? caranya adalah beli kartu trans dulu. Biaya kartunya 10rb/kartu…isi minimal 40rb kalau tdk salah, isi maksimal 400rb/kartu. Artinya kalau mau belanja atau bermain di wahana lebih dari 400rb, kita harus beli minimal 2 kartu. Tapi tenang aja, kalau isinya habis, bisa diisi ulang kok…sistemnya kayak pulsa prabayar deh..hehe..

Walau sudah dikasih tahu, tapi karena sudah terlanjur penasaran dan krucil juga pengen banget..si ayah pun menuruti kemauan krucil. Masuk ke sini lumayan berasa juga untuk kantong…ibarat baterai HP, indikatornya langsung ke low bat…wkwkwk…Agak rugi sebenarnya, wahananya sedikit, kebanyakan memang diperuntukkan untuk orang dewasa, permainannya gak jauh beda dengan dufan..bedanya disini indoor aja, dan bentuk jalan-jalannya dibuat mirip dengan disneyland dan sebangsanya.

Tapi krucil saya senang sekali disini, walau wahana yang bisa mereka mainkan sedikit dan walau lebih banyak ngantrinya dibanding bermainnya. Antrinya puanjang buanget..nget..nget..nget deh (saking panjangnya). Ngantrinya bisa 1 jam lebih, mainnya paling lama 10 menit tiap wahana..hadeuh, capek deh *sambil ngelap keringat di jidat*. Gpp lah, namanya juga orang tua..ngantri panjang hayu aja deh demi anak. Duo krucil saya sempat bermain di Dunia Anak (arena khusus permainan anak, ada carousel, tea cup, jump around, bumper boat & mini train), Science Center (yang ini mirip Petrosains versi mini dan sederhananya), Sky Pirates (naik balon udara mengitari Trans Studio), Hanggar si Bolang (mirip rumah boneka di dufan tapi bertema ttg si bolang), Museum Broadcast (museum ttg pembuatan acara TV). Sulung saya katanya sih paling suka wahana Racing Car, permainan mengemudikan mobil balap gitu deh seperti formula one. Bungsu saya happy-happy aja kayaknya, gak tahu deh dia suka apaan..katanya sih suka Racing Car juga (padahal dia gak ikutan main karena tingginya belum mencukupi..biasa, ikut-ikutan apa kata abangnya aja).

Tapi saya lihat sih mereka paling suka nonton Parade Show Trans Studio Bandung jam 5 sore. Untung aja kami belum pulang, padahal sudah hampir pulang…untungnya saat itu saya sempat mampir ke info center untuk ngambil peta dan baru tahu akan ada parade show sebentar lagi. Parade shownya adalah tokoh-tokoh kartun dan tokoh icon Trans (seperti jeung kellin) parade atau jalan sepanjang jalan sambil nari-nari diiringi musik gitu, diakhiri dengan pertunjukkan laser. Nah duo krucil saya ketawa-ketawa terus tuh selama parade, karena liat badut, ada nemo, ada putri, peri, penyihir, chaplin, elvis, bahkan jacko pun ada. Bagusnya waktu pertunjukkan laser, keren… sayangnya si bungsu saya ketakutan…maklum untuk pertunjukkan laser ini lampu memang dimatikan, ditambah suara-suara keras membahana..bikin si bungsu saya yang tidak suka gelap & suara keras langsung ketakutan. Tapi si sulung antusias banget, dia paling depan nonton tanpa berkedip.

Ketika lampu akhirnya kembali menyala, duo krucil saya langsung pengen foto-foto tuh dengan figure parade shownya. Si adek gak takut lagi, malah pengen foto-foto terus…pengen foto sama badut, foto sama putri, foto sama ini itu…malah bundanya yang capek sebagai fotographernya..hehe. Pulangnya duo krucil happy, ayah bundanya yang sakit pinggang hampir seharian nemenin mereka berkeliling Trans Studio Bandung. Next time kita coba yang di Makassar aja deh, konon katanya jauh lebih murah..hehe..





Bertakbiran di Gedung Sate

22 08 2012

20120822-160859.jpg

Gedung sate pada tahu dong, iconnya kota Bandung. Bangunannya sih biasa aja, cuma ujung atapnya yang menyerupai tusuk sate. Dulu saya pernah job training nih disini, malah saya sempat ke museum paling atas yang dekat tusuk sate itu loh…itu museum tertutup untuk umum…halah sombong lagi…pletak lempar sendal jepit, gedubrak bunyi jatuh pingsan ketimpuk sendal jepit hehe..

Eh di dekat gedung sate ini ada juga museum geologi loh, nah di museum geologi ini ada tulang dinosaurus…pengen deh ngajak krucil kesini, apalagi sulung saya kan penggemar museum. Sayangnya saat kami berkunjung ternyata museumnya tutup dari tgl 17 – 24 agust…hiks sayang sekali, padahal mereka antusias sekali ketika mendengar cerita saya ttg museum geologi ini. Next time deh kita berkunjung kesini lagi anak-anak..

Kembali ke cerita, nah berhubung mobil rental yang sudah kami pesan ternyata tidak menepati janjinya untuk menyimpankan sebuah mobil untuk kami jadilah selama di Bandung kami seringnya berangkot mania, naik angkot kemana-mana. Usai berbelanja-belanji di PVJ (Paris Van Java), kami pun naik angkot pulang. Tapi karena malam takbiran, macet dimana-mana…jangankan malam takbiran hari biasa aja macet (beda deh Bandung sekarang…), akibatnya bisa ditebak…kami terjebak macet di depan gedung sate. Kebetulan pula kami memang akan berganti angkutan lain sehingga kami memutuskan turun di gasibu depan gedung sate.

Dan alhamdulillah…ternyata disitulah warga Bandung banyak berkumpul merayakan malam kemenangan. Mereka bertakbiran keliling, dan menyalakan kembang api dengan gasibu sebagai sentral (pusat)nya. Senang dong kami, kesempatan nih melihat kegiatan warga Bandung di malam takbiran…krucil saya lebih senang lagi melihat kembang api dinyalakan disana-sini. Perasaan saya campur aduk, ya senang karena ramai serta krucil juga senang. Ya penasaran pengen tahu ada apa sih dibalik keramaian itu, ya haru juga mendengar banyak orang takbiran…Allahu Akbar…Allah Maha Besar, tidak terasa Ramadhan sudah berlalu lagi. Inilah pengalaman pertama saya bertakbiran di jalan, di depan gedung sate lagi ditemani ribuan orang yang tumpah ruah plus diterangi oleh kerlip kembang api.