Farmhouse, Lembang

28 07 2016

20160728-114911.jpg

Kalau De’Ranch tahu dari baca, nah kalau Farmhouse ini tahu dari pernah liat foto-foto cantik teman-teman yang berada di Bandung. Dari penampakan foto sih kayaknya tempatnya wokeh nih (penampakan foto yang diingat hanyalah rumah hobit), walau saya lupa lagi apa aja yang bisa diliat di Farmhouse ini. Kebetulan lagi waktu jalan menuju De’Ranch, ditengah jalan melihat Farmhouse ini tapi karena krucil keukeuh mau ke De’Ranch dulu, jadi Farmhousenya dilewat dulu…cuma sempat baca iklannya di pagar Farmhouse kalau ada makanan disini.

Setelah berhasil menyeret paksa krucil dari De’Ranch, muka mereka mendung kelabu semendung langit Lembang yang memang terlihat bermega mendung..halah. Untuk menyenangkan hati mereka dan memang kelaparan juga, si ayah mengajak kami nyari tempat makan yang asik. Dan teng teng…saya lalu teringat Farmhouse yang sebelumnya kami lalui dan seingat saya dipagarnya tertulis harga makanan mulai 20rb…yuk ah kita kesana aja.

Dengan ekspektasi awal bahwa tempat tersebut adalah rumah makan…agak kaget juga kami ketika hendak parkir dihentikan oleh petugas dan disuruh membayar tiket masuk sebesar 96rb untuk berempat. Waduh…ini rumah makan atau apaan sih? Maklum belum sempat googling, hanya ingat foto teman di rumah hobit…jadi yang kepikiran rumah makan bernuansa ala-ala farmhouse gitu…hahaha…

Tiket masuknya lagi-lagi bisa ditukar dengan segelas susu dalam berbagai varian rasa. Lembang memang sejak dulu kala terkenal dengan susu murni. Lalu kami bingung nih…kemana dulu, lalu security nunjukin arah…kesono yang baru, sini yang lama tempat petting zoo. Di tengah hujan gerimis, kami agak kebingungan karena salah masuk tempat, dikira sejenis restoran bertema unik eh malah masuk arena permainan lagi. Baiklah, kita liat petting zoo aja kalau gitu, ada apaan sih di situ.

Begitu melangkah ke petting zoo…matahari langsung terbit di wajah krucil, cerah ceria dan bahagia. Ya ya ya…disitu ada berbagai jenis hewan yang bisa diberi makan. Jadilah harus merogoh dompet lagi, beli wortel 4 biji = 20rb (beli sampai 2x) untuk memberi makan kelinci dan domba, beli makanan ayam 5rb, lalu beli botol susu 20rb/botol (beli 2 botol) untuk menyusui anak sapi. Untungnya sudah sore banget ketika kami di petting zoo ini, kelinci sudah mulai dimasukkan kandang, hujan mulai tambah deras…jadi agak terselamatkan isi dompet.

Eits, gak bisa bernafas lega karena krucil mulai nemu tempat asik baru. Mereka penasaran menjelajah seluruh Farmhouse, hanya sempat ke jembatan cinta yang berisi gembok-gembok bertuliskan nama-nama pasangan. Sayangnya (untung bagi ayah bundanya) belum sempat lebih melangkah lebih jauh sudah keburu hujan deras. Masuk salah satu toko disitu, nanya ada jual payung gak? Ditawari jas hujan, jadilah kami berempat bagai power rangers…keluar toko berubah penampilan dengan jas hujan warna warni bertuliskan floating market…haha…sesuatu.

Beli jas hujan ini yang aman cuma baju, celana dan sepatu tetap basah kuyup terlebih si ayah membolehkan krucil hujan-hujanan. Si bunda (saya) selalu melarang krucil hujan-hujanan jadi begitu dapat permit dari ayahnya, krucil happy banget hujan-hujanan menggunakan jas hujan. Gak mau diajak balik ke mobil, baru setelah celana dan sepatu kami basah kuyup dan menggigil kedinginan, baru bisa diajak balik mobil. Di mobil baru deh terasa penderitaannya, celana plus sepatu basah dan gak bawa baju ganti, gak ada sandal pula, kedinginan (walau ac mobil dimatikan, hawa Lembang tetap menusuk sukma..hehe), perut keroncongan, eh pulangnya terjebak macet pula…nelongso. Waktu kejadian menderita banget rasanya, sekarang kalau diingat lagi jadi lucu…hahaha.. seru…





De’Ranch, Lembang

27 07 2016

20160728-073010.jpg

Saya dan krucil saya kalau dirumah suka menonton acara-acara petualangan atau traveling dan juga membaca buku atau majalah yang membahas tentang tempat-tempat wisata (tempat-tempat indah). Suatu ketika kami pernah membaca tentang wisata yang ada di Bandung, salah satu yang paling diingat krucil adalah bermain cowboy-cowboyan di De’Ranch.

Itu sebabnya ketika kami ke Bandung, krucil meminta agar ke “tempat cowboy-cowboy-an”…haha. Setelah silaturahmi ke keluarga, kami pun mengarah ke Lembang…lagi-lagi pemilihan waktu kurang tepat, menjelang weekend jalan ke Lembang sudah mulai padat walau belum macet…baru saat pulangnya kami terjebak macet.

Sayangnya karena sudah kesiangan, ketika kami sampai Lembang hujan mulai turun. Susah payah membujuk krucil agar tidak usah aja ke De’Ranch, next time aja karena hujan turun, takut sakit. Negosiasi lama dengan krucil, akhirnya kami bikin perjanjian, krucil hanya boleh bermain sebentar disini karena hujan. Kalau sakit, gak usah merengek-rengek pusing dan tidak akan ada acara jalan-jalan lagi…mereka deal. Baiklah…yuk masuk…

Tiket masuk murah meriah, 10rb/orang (kalau gak salah, terlalu banyak tempat yang dikunjungi jadi lupa harga-harga tiket masuk). Tiket masuk ini nanti ditukar dengan satu cup susu segar dengan berbagai pilihan rasa sebagai welcome drink. Tempatnya asik sih…ala-ala ranch cowboy, tapi karena hujan dan dingin jadi kurang bisa dinikmati. Rupanya tiket masuk itu hanya untuk masuk doang, di setiap wahana permainan harus bayar tiket lagi.

Disini krucil kami bermain Gold Hunter, tiketnya 20rb/anak. Lalu ketika hujan agak reda, mereka menunggang kuda, tiketnya 25rb/orang. Menunggang kuda disini seru deh, penunggang kuda disediakan jaket dan topi ala cowboy dan tempat untuk selfi-selfi yang ala-ala cowboy. Krucil menunggan kuda mengelilingi lapangan besar, yang dari cerita mereka sih melalui kandang kambing juga…wuiihh seru.

Sebenarnya ada banyak wahana permainan lain, seperti memerah sapi (sudah tutup karena sore), memanah , melukis gerabah, dsb…namun karena hujan, kami mengajak krucil balik ke Bandung yang menyebabkan krucil menangis, walau bolang bagaimanapun mereka masih anak-anak…haha. Don’t worry anak-anak, masih banyak tempat menarik lainnya kok. Dan this is it, keluar De’Ranch mobil basah…selain karena hujan juga karena gerimisnya krucil…hahaha





Taman Pintar, Jogjakarta

27 07 2016

20160728-045002.jpg

Di Jogja enaknya kemana ya? Ada banyak wisata menarik di Jogja yang belum krucil kunjungi, namun karena pertimbangan jauh dan waktu kami yang terbatas di Jogja, pada akhirnya kami memutuskan mengunjungi yang tidak terlalu jauh dari hotel kami di Malioboro. Apaan tuh yang dekat dan asik buat anak tapi juga penuh manfaat edukasi? Salah satunya ya Taman Pintar.

Sejak turun kereta dari Malang, krucil saya minta ke Taman Pintar. Baru hari kedua kami di Jogja, kami mengajak krucil ke Taman Pintar lagi (ya.. ini kunjungan kedua krucil ke Taman Pintar). Taman Pintar ini letaknya di samping Fort Vredenburg, bisa jalan kaki dari hotel kami. Tiket masuknya tidak menguras kantong yaitu 18rb/dewasa, 10rb/anak. Ditambah karena krucil pengen membatik dan melukis kaos, membatik 13rb/anak, lukis kaos 35rb/anak dan 5rb/sekali main perahu di wahana bahari.

Seperti biasa, krucil saya antusias banget disini…membatik, melukis kaos yang hasilnya dibawa pulang dan langsung minta dipakai sesampai di hotel. Sedang di gedung oval dan kotak sendiri, mereka antusias memperhatikan dan mempelajari science yang ada disediakan berbagai alat peraganya. Krucil juga sempat bermain peran sebagai pembaca berita Tepi TV , dengan membayar 15rb, kami mendapat CD rekaman krucil ketika membaca berita. Kami seharian disini, dari pagi sampai sore…waktu gak kerasa berlalu karena menemani krucil bermain sambil belajar dengan cara yang menyenangkan.





Borobudur, Magelang

27 07 2016

20160728-035844.jpg

Ini kali kedua krucil ke Borobudur. Waktu pertama kali ke Borobudur, bungsu saya yang takut ketinggian, takut naik Borobudur. Ketika itu bungsu saya menangis-nangis tidak mau naik karena takut jatuh, sedang sulung penasaran banget pengen ke atas…namun karena adeknya ketakutan terpaksa mengalah. Jadilah kunjungan pertama ke Borobudur masih nanggung karena krucil saya hanya melihat Borobudur dari bawah saja.

Nah, kali ini sengaja ayah dan bundanya mengajak mereka kesini lagi agar bungsu saya tahu bahwa tidak apa-apa naik sampai atas (Borobudur). Kami tiba di Borobudur sekitar jam 15.00, sudah terlalu sore. Datang sore ternyata ada nilai lebihnya, matahari sudah tidak terlalu menyengat lagi dan pengunjung sudah mulai berkurang sehingga krucil lebih bisa menikmati daripada ketika kunjungan pertama.

Tiket masuk saya lupa lagi, dan ternyata ada beberapa perubahan yang baik di Borobudur. Pertama, dari tempat tiket pengunjung jalan tidak terlalu jauh. Kedua, ketika menaiki anak tangga naik ke Borobudur sudah dibedakan antara jalur naik dan jalur turun. Dulu jalur naik dan turun jadi satu sehingga tangga penuh sesak dengan pengunjung, hal ini pula menjadi salah satu penyebab bungsu saya dulu ketakutan untuk naik. Sekarang karena tangga naik sudah tidak sepenuh dulu oleh pengunjung, ditambah ada ayah yang menemani dan memeluk erat dirinya…walau masih tampak takut, bungsu saya akhirnya berhasil sampai di paling atas Borobudur…yeaayy…adek berhasil!

Kami bertemu turis Thailand yang ketika melihat kami ribet dengan kamera menawarkan diri untuk membantu kami berfoto ria…kapunkap. Oh ya, sekarang juga ada aturan tidak boleh memanjat stupa dan memegang patung budha yang berada didalamnya loh…aturan bagus agar menjaga Borobudur tidak cepat rusak. Agak lama juga kami disini, melepas lelah karena seharian berkelana kesono kemari. Baru sekitar jam 17.00 (waktu tutup Borobudur), kami memutuskan turun.

Mencari pintu keluar ke arah parkiran mobil kembali itu melelahkan dan menyebalkan. Pintu exit menuju parkiran dibuat melalui pasar souvenir yang diputar-putar jalurnya agar pengunjung melalui setiap blok pasar…arrgghhh. Padahal harusnya lurus saja bisa tapi sengaja dibikin berbelok-belok dan mutar-mutar yang selain ngesalin juga bikin capek krucil. Ketika akhirnya melihat parkiran kembali itu rasanya sesuatu…hahaha. Kecapekan setelah diputar-putar itu bikin perut keroncongan, sekarang saatnya kuliner…nyamm…





Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.





Alun-Alun Kota Batu

27 07 2016

20160727-112624.jpg

Menjelang maghrib kami menuju alun-alun Batu, begitu tiba…cari parkiran susah banget, penuh semua untungnya setelah muter-muter akhirnya ketemu juga parkiran yang masih kosong walau harus jalan kaki sedikit menuju alun-alunnya. Alun-alun Batu ini kecil, tapi dikelilingi oleh berbagai macam kuliner…hmm, nyamm

Ketika berjalan kaki dari parkiran menuju alun-alun, kami melihat warung yang menjual susu murni. Karena kami penggemar susu, tentu saja kami mampir untuk istirahat sekalian minum susu. Ada berbagai rasa susu, ada yogurt juga. Puas minum susu kami kemudian menuju alun-alun.

Ternyata alun-alunnya ramai banget, penuh dengan orang. Isinya sih mirip lampion garden dengan berbagai lampion berbentuk hewan dan bunga. Selain itu terdapat bianglala juga. Tiket naik bianglala ini murah meriah (kalau gak salah) 3 rb / orang, cuma antriannya mengular tangga panjangnya. Waktu krucil liat ada antrian tiket bianglala, mereka gak mau kalah pengen naik bianglala juga lalu mengantrilah ayah untuk beli tiket. Sementara nungguin ayah dapat tiket, saya dan krucil keliling alun-alun, foto-foto, belanja souvenir gantungan kunci kemudian kembali mendatangi ayah, ayahnya masih mengantri belum dapat tiket…bukannya berkurang, antriannya malah tambah panjang…haha yo weslah, kalau begini caranya gak usah ajalah naik bianglalanya.

Tidak jadi naik bianglala bukan berarti mengurangi keseruan di alun-alun, krucil happy liat lampu di bianglala yang berubah-ubah warna dan bentuk hingga malah mirip kembang api tahun baru. Mereka cukup senang melihat lampion-lampion, melihat segala aktifitas di alun-alun (ada yang berdandan ala pocong juga loh…hiii), dan yang paling penting bisa belanja souvenir gantungan kunci 🙂





Museum Angkut, Batu

26 07 2016

20160726-051202.jpg

Hampir semua wisata di Batu sudah pernah krucil kunjungi kecuali agrowisata dan Museum Angkut ini karena ketika kami ke Batu 2013 lalu, museum ini belum ada. Jadi begitu ada kesempatan ke Batu, krucil harus diajak ke museum ini…biar kekinian…hehe.

Setelah dari Museum Brawijaya, kami langsung ke Batu. Pemilihan waktu kurang tepat, weekend jalan menuju Batu itu macet. Akhirnya kami istirahat makan dulu di pertengahan jalan sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Batu, akibatnya kami agak kesiangan untuk bermain di beberapa tempat wisata incaran, hanya sempat ke Museum Angkut dan alun-alun Batu.

Tiket masuk museum ini lumayan juga, tiket terusan 90rb / orang ditambah kamera 30rb/kamera. Setelah itu tiket berupa gelang pun dipakaikan petugas di pintu masuk. Awalnya yang terlihat ya museum biasa yang berisi berbagai moda transportasi berupa mobil, sepeda, motor, becak, dsb. Menarik sih, tapi kesannya biasa aja…mungkin pengaruh pengunjung yang berjubel (maklum masih suasana liburan) sehingga susah untuk menikmati isi museum.

Baru setelah dari museum, ada zona-zona yang lebih menarik. Saya lupa lagi urutan-urutannya, kalau gak salah zona Gangster Town, zona Eropa, dsb…terakhir museum topeng di D’Topeng. Sebelum pintu keluar ada Floating Market, tempat penjual makanan dan souvenir. Kami keluar Museum Angkut ini sudah menjelang maghrib, yang penting krucil happy, ayah bundanya pun ikutan happy walau badan rasanya remuk redam setelah menemani krucil bermain seharian. Kata ayah, lebih capek nemenin krucil main daripada mendaki gunung…hmmm, baru tahu dia… hehe