Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe 🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…

Advertisements




Saung Angklung Udjo, Bandung

28 07 2016

20160728-091040.jpg

Saung Anglung Udjo ini letaknya dekat dengan rumah waktu kuliah di Bandung, sama-sama di Padasuka. Saking dekatnya, jalan kaki kurang 5 menit sudah sampai di Saung Angklung ini. Dulu sih saya gak ngeh dengan tempat ini karena pagarnya masih tertutup seng dan bambu, cuma sering liat bis-bis besar hilir mudik keluar masuk tempat ini.

Saya baru mulai ngeh dengan tempat ini ketika sahabat saya yang suka hunting foto minta ditemenin ke tempat ini. Dari rumah jalan kaki, lalu masuk …gak pakai bayar tiket karena gak liat letak loketnya, selain itu tidak bertemu petugasnya. Mungkin kami disangka warga sekitar yang memang ketika itu bebas keluar masuk tempat ini. Begitu sampai di dalam pas banget dengan jam pertunjukan, jadi bisa nonton gratis…berkah banget deh dapat yang gratisan bagi mahasiswa…hehe *colek om Anto*

Sudah sedari dulu saya berniat mengajak krucil menonton pertunjukan angklung di tempat ini, tapi selalu ada halangan…ya gak punya kendaraanlah, ya waktu mepetlah, dsb. Baru tahun ini akhirnya kesampaian juga mengajak krucil ke Saung Angklung Udjo…itupun gak sengaja karena setelah berkunjung dari rumah saudara, kami berniat nengok rumah eh kena macet dimana-mana. Si ayah yang kakinya sudah pegel banget menginjak kopling akhirnya mengajak istirahat dulu di Saung Angklung ini.

Saung Angklung ini lebih cihuy sekarang, parkirannya luas, adem dan ada restonya juga sekarang. Ketika nanya-nanya sama petugas, ternyata pertunjukan pagi (jam 9 atau 10) sudah selesai tinggal sore jam 16.00 nanti baru ada lagi. Sembari istirahat, ketemuan sama sahabat yang dulu mengajak saya hunting foto ditempat ini. Lalu dia kirim foto keren ke saya dan atas ijinnya, saya boleh pajang fotonya di blog saya. Foto diatas hasil karya sahabat saya itu Sudarmanto Edris yang berawal dari hobi motret sekarang jadi photographer handal.

Kembali ke cerita Saung Angklung, akhirnya kami bisa mengajak krucil menonton pertunjukan angklung juga. Beli tiket 70rb/dewasa, 50rb/anak…lumayan juga, tapi kata si ayah lebih baik bayar mahal nonton beginian daripada ke tempat bermain. Tiketnya unik, berupa kalung berbentuk angklung plus brosur sinopsis. Awalnya karena gak ngeh apa guna sinopsis tersebut, satu brosur sinopsis kami kebuang, padahal ternyata itu berguna untuk mengambil welcome drink yang bisa milih air mineral atau ice cream…hiks hiks..

Pengunjung Saung Angklung ini 60 % domestik, 40% mancanegara. Pertunjukan terbagi beberapa segmen, awalnya pertunjukan wayang golek, lalu anak-anak bernyanyi, bermain angklung dan menari. Lalu giliran yang senior-senior yang bermain angklung. Permainan angklung ini tidak membosankan loh, musiknya yang asik-asik loh.. ada lagu Beatles, Semi Jazz, Marimba, bahkan klasik seperti Hungarian Dance no 5…keren yah. Krucil kami bahkan terkesima dan tidak berkedip sepanjang pertunjukan. Kemudian pengunjung dibagiin satu persatu angklung, diajari cara memainkannya…lalu dengan instruksi mulai bermain musik bersama. Terakhir anak-anak kecil masuk lagi dan memilih pengunjung untuk bermain dan menari bersama di depan. Kata krucil kami, Saung Angklung Udjo keren…seruu, kapan-kapan kesana lagi ya kita, ajak mereka. Oke deh …





Farmhouse, Lembang

28 07 2016

20160728-114911.jpg

Kalau De’Ranch tahu dari baca, nah kalau Farmhouse ini tahu dari pernah liat foto-foto cantik teman-teman yang berada di Bandung. Dari penampakan foto sih kayaknya tempatnya wokeh nih (penampakan foto yang diingat hanyalah rumah hobit), walau saya lupa lagi apa aja yang bisa diliat di Farmhouse ini. Kebetulan lagi waktu jalan menuju De’Ranch, ditengah jalan melihat Farmhouse ini tapi karena krucil keukeuh mau ke De’Ranch dulu, jadi Farmhousenya dilewat dulu…cuma sempat baca iklannya di pagar Farmhouse kalau ada makanan disini.

Setelah berhasil menyeret paksa krucil dari De’Ranch, muka mereka mendung kelabu semendung langit Lembang yang memang terlihat bermega mendung..halah. Untuk menyenangkan hati mereka dan memang kelaparan juga, si ayah mengajak kami nyari tempat makan yang asik. Dan teng teng…saya lalu teringat Farmhouse yang sebelumnya kami lalui dan seingat saya dipagarnya tertulis harga makanan mulai 20rb…yuk ah kita kesana aja.

Dengan ekspektasi awal bahwa tempat tersebut adalah rumah makan…agak kaget juga kami ketika hendak parkir dihentikan oleh petugas dan disuruh membayar tiket masuk sebesar 96rb untuk berempat. Waduh…ini rumah makan atau apaan sih? Maklum belum sempat googling, hanya ingat foto teman di rumah hobit…jadi yang kepikiran rumah makan bernuansa ala-ala farmhouse gitu…hahaha…

Tiket masuknya lagi-lagi bisa ditukar dengan segelas susu dalam berbagai varian rasa. Lembang memang sejak dulu kala terkenal dengan susu murni. Lalu kami bingung nih…kemana dulu, lalu security nunjukin arah…kesono yang baru, sini yang lama tempat petting zoo. Di tengah hujan gerimis, kami agak kebingungan karena salah masuk tempat, dikira sejenis restoran bertema unik eh malah masuk arena permainan lagi. Baiklah, kita liat petting zoo aja kalau gitu, ada apaan sih di situ.

Begitu melangkah ke petting zoo…matahari langsung terbit di wajah krucil, cerah ceria dan bahagia. Ya ya ya…disitu ada berbagai jenis hewan yang bisa diberi makan. Jadilah harus merogoh dompet lagi, beli wortel 4 biji = 20rb (beli sampai 2x) untuk memberi makan kelinci dan domba, beli makanan ayam 5rb, lalu beli botol susu 20rb/botol (beli 2 botol) untuk menyusui anak sapi. Untungnya sudah sore banget ketika kami di petting zoo ini, kelinci sudah mulai dimasukkan kandang, hujan mulai tambah deras…jadi agak terselamatkan isi dompet.

Eits, gak bisa bernafas lega karena krucil mulai nemu tempat asik baru. Mereka penasaran menjelajah seluruh Farmhouse, hanya sempat ke jembatan cinta yang berisi gembok-gembok bertuliskan nama-nama pasangan. Sayangnya (untung bagi ayah bundanya) belum sempat lebih melangkah lebih jauh sudah keburu hujan deras. Masuk salah satu toko disitu, nanya ada jual payung gak? Ditawari jas hujan, jadilah kami berempat bagai power rangers…keluar toko berubah penampilan dengan jas hujan warna warni bertuliskan floating market…haha…sesuatu.

Beli jas hujan ini yang aman cuma baju, celana dan sepatu tetap basah kuyup terlebih si ayah membolehkan krucil hujan-hujanan. Si bunda (saya) selalu melarang krucil hujan-hujanan jadi begitu dapat permit dari ayahnya, krucil happy banget hujan-hujanan menggunakan jas hujan. Gak mau diajak balik ke mobil, baru setelah celana dan sepatu kami basah kuyup dan menggigil kedinginan, baru bisa diajak balik mobil. Di mobil baru deh terasa penderitaannya, celana plus sepatu basah dan gak bawa baju ganti, gak ada sandal pula, kedinginan (walau ac mobil dimatikan, hawa Lembang tetap menusuk sukma..hehe), perut keroncongan, eh pulangnya terjebak macet pula…nelongso. Waktu kejadian menderita banget rasanya, sekarang kalau diingat lagi jadi lucu…hahaha.. seru…





De’Ranch, Lembang

27 07 2016

20160728-073010.jpg

Saya dan krucil saya kalau dirumah suka menonton acara-acara petualangan atau traveling dan juga membaca buku atau majalah yang membahas tentang tempat-tempat wisata (tempat-tempat indah). Suatu ketika kami pernah membaca tentang wisata yang ada di Bandung, salah satu yang paling diingat krucil adalah bermain cowboy-cowboyan di De’Ranch.

Itu sebabnya ketika kami ke Bandung, krucil meminta agar ke “tempat cowboy-cowboy-an”…haha. Setelah silaturahmi ke keluarga, kami pun mengarah ke Lembang…lagi-lagi pemilihan waktu kurang tepat, menjelang weekend jalan ke Lembang sudah mulai padat walau belum macet…baru saat pulangnya kami terjebak macet.

Sayangnya karena sudah kesiangan, ketika kami sampai Lembang hujan mulai turun. Susah payah membujuk krucil agar tidak usah aja ke De’Ranch, next time aja karena hujan turun, takut sakit. Negosiasi lama dengan krucil, akhirnya kami bikin perjanjian, krucil hanya boleh bermain sebentar disini karena hujan. Kalau sakit, gak usah merengek-rengek pusing dan tidak akan ada acara jalan-jalan lagi…mereka deal. Baiklah…yuk masuk…

Tiket masuk murah meriah, 10rb/orang (kalau gak salah, terlalu banyak tempat yang dikunjungi jadi lupa harga-harga tiket masuk). Tiket masuk ini nanti ditukar dengan satu cup susu segar dengan berbagai pilihan rasa sebagai welcome drink. Tempatnya asik sih…ala-ala ranch cowboy, tapi karena hujan dan dingin jadi kurang bisa dinikmati. Rupanya tiket masuk itu hanya untuk masuk doang, di setiap wahana permainan harus bayar tiket lagi.

Disini krucil kami bermain Gold Hunter, tiketnya 20rb/anak. Lalu ketika hujan agak reda, mereka menunggang kuda, tiketnya 25rb/orang. Menunggang kuda disini seru deh, penunggang kuda disediakan jaket dan topi ala cowboy dan tempat untuk selfi-selfi yang ala-ala cowboy. Krucil menunggan kuda mengelilingi lapangan besar, yang dari cerita mereka sih melalui kandang kambing juga…wuiihh seru.

Sebenarnya ada banyak wahana permainan lain, seperti memerah sapi (sudah tutup karena sore), memanah , melukis gerabah, dsb…namun karena hujan, kami mengajak krucil balik ke Bandung yang menyebabkan krucil menangis, walau bolang bagaimanapun mereka masih anak-anak…haha. Don’t worry anak-anak, masih banyak tempat menarik lainnya kok. Dan this is it, keluar De’Ranch mobil basah…selain karena hujan juga karena gerimisnya krucil…hahaha





Taman Pintar, Jogjakarta

27 07 2016

20160728-045002.jpg

Di Jogja enaknya kemana ya? Ada banyak wisata menarik di Jogja yang belum krucil kunjungi, namun karena pertimbangan jauh dan waktu kami yang terbatas di Jogja, pada akhirnya kami memutuskan mengunjungi yang tidak terlalu jauh dari hotel kami di Malioboro. Apaan tuh yang dekat dan asik buat anak tapi juga penuh manfaat edukasi? Salah satunya ya Taman Pintar.

Sejak turun kereta dari Malang, krucil saya minta ke Taman Pintar. Baru hari kedua kami di Jogja, kami mengajak krucil ke Taman Pintar lagi (ya.. ini kunjungan kedua krucil ke Taman Pintar). Taman Pintar ini letaknya di samping Fort Vredenburg, bisa jalan kaki dari hotel kami. Tiket masuknya tidak menguras kantong yaitu 18rb/dewasa, 10rb/anak. Ditambah karena krucil pengen membatik dan melukis kaos, membatik 13rb/anak, lukis kaos 35rb/anak dan 5rb/sekali main perahu di wahana bahari.

Seperti biasa, krucil saya antusias banget disini…membatik, melukis kaos yang hasilnya dibawa pulang dan langsung minta dipakai sesampai di hotel. Sedang di gedung oval dan kotak sendiri, mereka antusias memperhatikan dan mempelajari science yang ada disediakan berbagai alat peraganya. Krucil juga sempat bermain peran sebagai pembaca berita Tepi TV , dengan membayar 15rb, kami mendapat CD rekaman krucil ketika membaca berita. Kami seharian disini, dari pagi sampai sore…waktu gak kerasa berlalu karena menemani krucil bermain sambil belajar dengan cara yang menyenangkan.





Borobudur, Magelang

27 07 2016

20160728-035844.jpg

Ini kali kedua krucil ke Borobudur. Waktu pertama kali ke Borobudur, bungsu saya yang takut ketinggian, takut naik Borobudur. Ketika itu bungsu saya menangis-nangis tidak mau naik karena takut jatuh, sedang sulung penasaran banget pengen ke atas…namun karena adeknya ketakutan terpaksa mengalah. Jadilah kunjungan pertama ke Borobudur masih nanggung karena krucil saya hanya melihat Borobudur dari bawah saja.

Nah, kali ini sengaja ayah dan bundanya mengajak mereka kesini lagi agar bungsu saya tahu bahwa tidak apa-apa naik sampai atas (Borobudur). Kami tiba di Borobudur sekitar jam 15.00, sudah terlalu sore. Datang sore ternyata ada nilai lebihnya, matahari sudah tidak terlalu menyengat lagi dan pengunjung sudah mulai berkurang sehingga krucil lebih bisa menikmati daripada ketika kunjungan pertama.

Tiket masuk saya lupa lagi, dan ternyata ada beberapa perubahan yang baik di Borobudur. Pertama, dari tempat tiket pengunjung jalan tidak terlalu jauh. Kedua, ketika menaiki anak tangga naik ke Borobudur sudah dibedakan antara jalur naik dan jalur turun. Dulu jalur naik dan turun jadi satu sehingga tangga penuh sesak dengan pengunjung, hal ini pula menjadi salah satu penyebab bungsu saya dulu ketakutan untuk naik. Sekarang karena tangga naik sudah tidak sepenuh dulu oleh pengunjung, ditambah ada ayah yang menemani dan memeluk erat dirinya…walau masih tampak takut, bungsu saya akhirnya berhasil sampai di paling atas Borobudur…yeaayy…adek berhasil!

Kami bertemu turis Thailand yang ketika melihat kami ribet dengan kamera menawarkan diri untuk membantu kami berfoto ria…kapunkap. Oh ya, sekarang juga ada aturan tidak boleh memanjat stupa dan memegang patung budha yang berada didalamnya loh…aturan bagus agar menjaga Borobudur tidak cepat rusak. Agak lama juga kami disini, melepas lelah karena seharian berkelana kesono kemari. Baru sekitar jam 17.00 (waktu tutup Borobudur), kami memutuskan turun.

Mencari pintu keluar ke arah parkiran mobil kembali itu melelahkan dan menyebalkan. Pintu exit menuju parkiran dibuat melalui pasar souvenir yang diputar-putar jalurnya agar pengunjung melalui setiap blok pasar…arrgghhh. Padahal harusnya lurus saja bisa tapi sengaja dibikin berbelok-belok dan mutar-mutar yang selain ngesalin juga bikin capek krucil. Ketika akhirnya melihat parkiran kembali itu rasanya sesuatu…hahaha. Kecapekan setelah diputar-putar itu bikin perut keroncongan, sekarang saatnya kuliner…nyamm…





Museum Malang Tempo Doeloe & Museum Inggil

27 07 2016

20160727-125552.jpg

Museum ini letaknya tidak begitu jauh dari balaikota dan stasiun kereta. Kami berjalan kaki saja dari balaikota ketika hendak menuju museum ini. Tiket masuk 15rb/orang, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang museum ini karena museum ini termasuk kecil untuk ukuran sebuah museum

Isinya ada diorama tentang archeology, diorama penjara, Malang jaman dulu, sepeda jadul, kamera jadul, foto-foto, patung Soekarno, dsb. Awalnya krucil takut disini…kata mereka seram , mungkin karena ketika masuk kami hanya berempat, sepi dan tempatnya agak kecil, awalnya krucil takut disini. Setelah berkeliling dan bertemu pengunjung lain, krucil baru mulai bisa menikmati isi museum dan seperti biasa sibuk tanya ini itu.

Tepat di samping museum ini, ada museum lainnya yang dijadikan restoran bernama Inggil Museum Resto. Setelah dari Museum Malang Tempo Doeloe, kami sebenarnya berniat istirahat makan siang…eh begitu masuk malah disuguhi pemandangan layaknya museum. Jadilah kami istirahat, makan dan belajar sejarah sekaligus. Sekali dayung tiga manfaat di dapat…yihaa…hehe.