Istana Maimoen

7 07 2018

Dulu sekali, waktu adek saya menikah di Medan dan baru ada sulung saya yang ketika itu masih berusia kurang lebih setahun, kami pernah ke Istana Maimoen. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa bungsu saya pengen banget ke Istana Maimoen ini, selain mungkin dikiranya istana ala princess Pokoknya kalau sulung sudah, bungsu biasanya gak mau kalah. Baiklah, mumpung sudah ada di pulau Sumatera …mari kita lanjutkan petualangan.

Begitu kami sampai Medan, salah satu sohib saya menawarkan dirinya jadi tour guide. Hari kedua di Medan pun kami berkeliling diantar teman saya ini, termasuk ke Istana Maimoen ini. Tiket masuknya 10rb/orang. Istana Maimoen ini penuh banget dengan turis, mau foto ke arah manapun ada aja turisnya, harus sabar-sabar aja kalau mau dapat hasil foto yang maksimal. Istananya nampak lumayan besar, begitu masuk…ternyata yang dipakai untuk wisatawan hanyalah ruangan kecil yang berupa Singgasana Raja, Kursi Raja, beberapa lukisan dan cermin. Sisa bangunan lain masih dipakai anggota kerajaan dan orang berjualan (kebanyakan berupa penyewaan baju adat). Agak kecewa sih melihatnya, ekspektasi kami dalamnya seperti museum lah dengan beberapa peninggalan kerajaan.

Di depan, dekat areal parkir, ada meriam puntung. Bangunannya tertutup dan didalamnya ditutupin kain-kain berwarna kuning. Untuk masuk meriam puntung ini pengunjung dipungut biaya 3rb/orang. Apa sih meriam puntung itu? Menurut hikayat puak Melayu Deli, meriam puntung adalah penjèlmaan dari adik Putri Hijau yang berubah menjadi meriam untuk mempertahankan istana dari serbuan Raja Aceh setelah pinangannya ditolak oleh Putri Hijau. Saking panasnya moncong meriam terbelah dua, satu bagian terlontar ke Tanah Karo, satu bagian lagi disimpan di Istana Maimoen.

Advertisements




Mesjid Raya Al Mashun

6 07 2018

Mesjid yang merupakan bangunan peninggalan Sultan Deli ini adalah salah satu mesjid yang cantik menurut saya. Cantik warnanya dan juga arsitekturnya. Kalau digabung dengan latar langit cerah, pas banget. Jadi tidak salah kalau mesjid ini menjadi salah satu ikon kota Medan. Letaknya juga tidak berjauhan dengan Istana Maimun.

Kami ke mesjid ini kebetulan di hari Jumat. Begitu melangkah, yang pertama terlihat banyak penjaga berpakaian coklat-coklat, kata teman saya sih salah satu tata cara ke mesjid ini yang diperhatikan adalah aturan berbusana pengunjung, seperti tidak boleh bercelana pendek, wajib memakai jilbab, dsb. Ya karena sudah menjadi ikon kota jadi mesjid ini memang banyak turis saya lihat (terlihat dari selfie-selfieannya).

Satu lagi yang saya suka, penjaganya ramah-ramah loh. Mereka tidak segan untuk menjelaskan tentang mesjid tersebut, bahkan membantu mengambil foto dengan posisi terbaik. Tidak heran hasil fotonya jadi maksimal.





Taman Budaya Riau

4 07 2018

Hari ketiga di Pekanbaru bingung juga mau kemana. Awalnya mau ke Istana Siak, googling…alamakjang, jauh beud dari kota…kurang lebih 2 jam, kalau pp berarti 4 jam kalau gak macet. Capek di jalan aja kalau begitu, padahal kami sedang memulihkan stamina setelah estafet dari satu kota ke kota lain selama beberapa minggu ini. Kebetulan lagi krucils sedang malas bergerak, mereka betah di hotel karena bisa santai-santai sambil membaca buku hasil berburu buku murah di Gramedia yang letaknya tidak jauh dari hotel. Itu sebabnya, tiap diajak jalan sama bundanya, mereka beralasan memang mau kemana lagi? Kan sudah dijelajahi semua bersama sohib-sohib bunda.

Bisa ditebak, kami seharian bermalas-malasan saja di kamar sambil menunggu laundry an diantar ke kamar. Laundrynya murah, hitung kiloan bisa ekspress 4 jam selesai dan diantar ke kamar…wow. Sejauh ini, di Pekanbaru ini yang the best urusan laundry dan hotel. Kembali ke cerita, bosen juga akhirnya dikamar akhirnya iseng-iseng googling tentang kota Pekanbaru. Ahaa! Dapat ide, kenapa kita gak nyobain Trans Metro Pekanbaru aja, ikutin aja kemana jalurnya…kayaknya bisa deh nyampai Museum.

Baiklah…yuks markimon. Sore jam 4.30 langsung buru-buru bersiap-siap dan berjalan menuju halte bis di depan Mall Pekanbaru. Cek rute peta, hmmm…kayaknya kalau mau ke Museum kita harus naik bis no 1 jurusan Ramayana-Pandau. Naiklah dengan pedenya, eh begitu mau bayar tiket ditanyalah mau kemana. Jawab, jl. Sudirman…museum mbak (kondekturnya perempuan). Dia pun bingung, dimana itu museum? Hadeuh, terbukti juga nih kata sohib, disini museum kurang diperhatikan. Nah karena dia bingung, saya juga bingung…nah sama-sama bingunglah kami…haha. Akhirnya dia bilang, depan DPRD? Sulung saya langsung bilang iya. Untung punya anak yang ingatannya kuat, setelah diajak berkeliling seharian kemarin, dia masih ingat kalau letak museumnya di depan DPRD…padahal bundanya aja bingung arah

Bayar tiket bis 4rb/orang, dikasih tahu kondektur turunnya nanti di halte Awal Bros. Di halte Awal Bros kamipun turun, lalu sulung saya bilang kalau museum tuh letaknya diseberang jalan jadi kami harus menyeberang. Tapi behitu diajak melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) krucils saya menolak. Mereka trauma karena kami pernah melalui JPO di depan Mall Pekanbaru, kondisinya serem…jembatannya lapuk. Tapi karena gak mungkin menyeberang dibawah karena jl.Sudirman itu umumnya kendaraannya ngebut, mau gak mau kami harus melalui JPO kalau mau ke museum. Dan kondisi yang sama terulang lagi, JPO Awal Bros ini bahkan lebih mengerikan daripada JPO Mall Pekanbaru. Disana sini berkarat, berlubang-lubang dan kalau diijak berderit-derit. Krucils takut berat, mereka bilang bunda pulangnya kita naik gocar aja biar gak harus lewat JPO lagi.

Begitu akhirnya sampai seberang, eh yang terlihat malah tulisan Taman Budaya Riau. Foto-foto sejenak, lalu muter-muter di dalam area mencari museum. Rupanya museumnya persis di sebelahTaman Budaya, sayangnya sudah tutup. Tapi gak apalah foto-foto di luar aja, museumnya bagus berbentuk rumah panggung khas melayu. Setelah puas berkeliling, waktu sudah menjelang maghrib. Yuk kita pesan gocar aja ke hotel, eh begitu pesan harganya ternyata gak jauh beda dengan naik bis. Kemon krucils, mari kita balik hotel.





Perpustakaan Soeman H.S

4 07 2018

Begitu tahu saya di Pekanbaru, sohib-sohib saya langsung menjemput kami di hotel untuk diajak berkeliling kota Pekanbaru. Mereka sibuk membahas, mau bawa kemana nih emak satu ini…pusing juga mereka karena menurut mereka Pekanbaru tuh gak ada tempat wisatanya. Pekanbaru tuh banyak mallnya coy, gak ada tempat wisata… kalaupun ada tapi jauh dari kota. Orang sini kalau mau wisata ke Sumbar lanjut mereka lagi. Baiklah…

Akhirnya kami berkeliling kota sambil mereka menjelaskan nama tempat atau daerah, menunjukkan ikon-ikon kota seperti Kantor Gubernur, kantor DPRD, dsb disertai kabar kota dan banyak kabar masa lalu kami Salah satu tempat yang berbentuk unik adalah gedung Perpustakaan Soeman H.S yang berbentuk alas baca Al-Quran dan sekilas mirip buku yang sedang terbuka. Sebenarnya krucils mengajak emaknya baca buku di lantai 2 tapi karena emaknya sedang sibuk bergosip sama sohibnya jadi gak ngeh sama permintaan krucils…maafkanlah emakmu ini ya nak.

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perpustakaan ini sih karena dalamnya kurang lebih sama dengan perpustakaan pada umumnya, yang membedakan hanyalah bentuk bangunannya yang unik. Setelah berfoto-foto dan setelah bergosip, kami pun melanjutkan berkeliling kota Pekanbaru. Btw, thanks ya coy sudah diajak berkeliling kota





Danau Singkarak

2 07 2018

Di Sumatera Barat banyak sekali tempat menarik untuk di kunjungi, cuma karena saya sudah lelah akibat beberapa minggu ini road trip, terlebih jalan-jalan di Sumatera yang berkelok kelok, membuat badan saya agak goyang. Bukan mabuk perjalanan, tapi goyang aja…seperti kalau kita naik kapal lama lalu ke darat …badan rasanya goyang-goyang. Halah malah curhat Itu sebabnya ketika ditawari ke tempat-tempat lain saya menolak walau krucils sih langsung antusias…hayu bunda #tepok jidat (faktor usia tidak dapat dibohongi). Ini juga sebabnya saya selalu menyarankan perbanyaklah liat dunia sebanyak-banyaknya diusia muda, karena kalau sudah berumur stamina juga sudah menurun.

Danau Singkarak ini kurang lebih 25km dari Batusangkar. Danau terbesar kedua di pulau Sumatera akibat proses tektonik. Di sepanjang danau ini banyak sekali penjual makanan khas Sumatera Barat seperti keripik balado, ikan bilih, dsb. Ada banyak rumah makan juga ditepian danau, kami memilih tempat wisata bernama Tanjung Mutiara. Biaya masuknya 30rb, rinciannya saya lupa lagi. Di sini banyak anak-anak berenang menggunakan ban yang disewakan, ada juga sepeda air yang bisa memuat 4-5 orang dengan biaya 50rb, ada warung-warung, banyak wisatawan piknik membawa makanan dan menyewa tikar, dan ada banyak sekali penjual pensi.

Apaan sih pensi itu? Bukan pentas seni melainkan makanan khas berupa kerang-kerang super kecil yang ditumis dengan bumbu dan dijual dalam bungkus-bungkus plastik seharga 10rb untuk 3 bungkus. Murah meriah, tapi krucils suka banget sampai nambah-nambah melulu. Ada juga pepes ikan bilih (bilis), cuma yang ini agak pedas dan asam jadi krucils gak begitu suka. Krucils minta naik sepeda air, cuma bundanya khawatir karena krucils gak bisa berenang dan tidak ada pelampung pengaman. Pulang dari Danau Singkarak krucils ngantuk, tidur disepanjang perjalanan. Tuh capek kan…





Istana Pagaruyung

2 07 2018

Sudah lama banget saya gak ke Batusangkar (halah kayak sering aja ke Batusangkar, padahal mah baru sekali ). Pertama dan satu-satunya ke Batu Sangkar waktu masih kiplik, jaman masih nulis surat bukan nulis sms apalagi nulis WA…ya sekecil krucils sekarang ini. Jadi saya lupa-lupa ingat eh lupa total malah hahaha. Masa kecil yang diingat cuma di Batusangkar inilah rumah ayah gaek dan mak gaek (kakek nenek).

Kami naik travel (itu tuh mobil-mobil pribadi yang dijadikan angkutan massal tranport antar kota, kalau di Kalimantan dikenal sebagai taxi gelap) dari Padang ke Batusangkar dengan tarif 40rb/orang, sudah termasuk antar jemput. Lama perjalanan sih seharusnya sekitar 3 jam-an saja, namun karena antar jemput jadi ya lebih lama tergantung keberuntungan, kalau diantar pertama ya lebih cepat, kalau diantar terakhir ya sabar ai…Kebetulan keberuntungan sedang tidak berpihak, kami orang pertama dijemput dan orang terakhir yang diantar

Saran saya kalau mau keliling Sumatera terutama Sumatera Barat, ambil perjalanan pagi hari karena pemandangannya luar biasa indahnya (asal gak gampang mabuk perjalanan). Kami bahkan melalui air terjun, sayangnya bukan kendaraan pribadi jadi gak bisa minta berhenti dulu. Nah balik ke cerita, begitu kami sampai di rumah om saya…hujan menyambut, dingin banget. Keesokannya kami diajak berkeliling Batusangkar oleh om saya, termasuk ke Istana Pagaruyung ini.

Istana Pagaruyung ini letaknya sekitar 4-5 km dari Batusangkar dan penuh banget dengan wisatawan. Susah banget mau foto-foto. Tiket masuknya dewasa 15rb, anak 7rb namun kami gratis masuk. OMG, seriusan nin masuk gratis? Lumayan kan hemat…hehe, iya kami bisa masuk gratis karena teman-teman om saya menyuruh kami langsung masuk, alhamdulillah.

Istana Pagaruyung ini pernah terbakar tahun 2007 lalu akibat tersambar petir. Beberapa barang berhasil diselamatkan, sebagian dalam kondisi baik, sebagian lagi rusak karena terbakar. Istana sekarang hasil renovasi dari istana lama. Isinya ya seperti istana pada umumnya, ada berbagai barang istana seperti tempat tidur, pakaian adat, dsb. Istananya lumayan luas dan terdiri dari 3 lantai. Dibelakang istana ada yang namanya tangga seribu, yaitu seribu tangga di tebing ke tempat tulisan Pagaruyung. Krucils mengajak saya kesana sih, cuma saya sadar diri…naik tangga sekitar 20an tangga saja sudah ngos-ngosan apalagi seribu buah. Next time kita kesini lagi ya sama ayah dan setelah bunda latihan di camp ninja warrior dulu





Legenda Maling Kundang di Pantai Aie Manih

1 07 2018

Kayaknya hampir semua orang tahu cerita legenda dari tanah minang satu ini, jadi tak perluĺah diceritakan kembali kisah legenda ini. Hari kedua di Padang, kakak saya menjemput kami untuk diajak berkeliling Padang. Semua tempat yang menjadi ikon kota Padang kami kunjungi, dari Jembatan Siti Nurbaya, bukit gado-gado (entah kenapa dinamakan demikian), Universitas Andalas, Mesjid Agung Padang, dan Pantai Aie Manih ini.

Di Pantai Aie Manih inilah terdapat batu yang konon adalah si Malin Kundang. Bentuknya mirip manusia yang sedang dalam posisi terkurap atau bersujud. Dari pintu masuk Pantai ke batu Malin Kundang ini masih jauh, bisa berjalan kaki namun umumnya wisatawan menggunakan ATV menuju batu Malin Kundang ini. Tiket masuk Pantai Aie Manieh ini sih kalau gak salah dewasa 5rb, anak 3 ribu…eh sama penjaga pintu masuk kami ditahih 15ribu aja all in, padahal kami berlima…entah petugasnya lagi baik hati, atau salah hitung atau apalah…yang penting masuk…hahaha.

Di dekat pintu masuk ini ada baliho besar yang bertuliskan “Malin Kundang beserta keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri”, yang membuat kami terbahak-bahak membacanya…ada juga ya keluarga Malin Kundang oh ya, ATV nya disewakan perjam 150rb tapi kata kakak saya biasanya 50rb aja, mungkin karena masih suasana lebaran dan libur sekolah harga jadi naik. Akhirnya kami tawar pinjam setengah jam aja. Awalnya tidak bisa, mereka bersikeras harus sewa perjam…setelah ngotot-ngototan…akhirnya bisa juga setengah jam dengan harga 75rb. Mahal sih…tapi ya apa boleh baut.

Jadinya yang pergi hanya anak-anak aja, sulung saya dan abang sepupunya karena bungsu saya gak mau ikutan. Sementara saya, kakak saya dan bungsu saya duduk-duduk menanti para bujang ke tempat batu Malin Kundang. Pantainya ramai banget dengan wisatawan dan penjual kaki lima. Itu belum seberapa, konon saat lebaran malah macet berkilo-kilometer menuju pantai ini. Krucils puas banget berkelana menjelajahi kota Padang ditemani abang-abangnya. Malam sebelumnya juga sudah diajak makan es durian yang yummy lezatos juga sama abang Aditia, eh besoknya seharian diajak berkeliling sama abang Alif dan Sultan. Terima kasih untuk para abang-abang juga uni-uni…you’re the best