Amber Palace, Jaipur

18 07 2019

Hari kedua di Jaipur, setelah sarapan…berbekal peta Jaipur yang diberi hostel, kami berkeliling tempat di Pink City yang berada dekat dengan hostel kami. Jalan kaki menyusuri areal Pink City, kami mengunjungi City Hall , Jantar Mantar, dan sebagainya. Sayangnya semua tempat tersebut belum buka, baru buka jam 10an, sedang kami kesana jam 7 sampai jam 8-an, masih terlalu pagi tapi keuntungannya sih bisa foto sepuasnya tanpa ada gangguan. Nah di City Hall kami bertemu pedagang souvenir yang menawarkan postcard satu bundelan hanya seharga 50 rupee, sempat tawar menawar tapi setelah dipikir-pikir 50 rupe tuh murah untuk dapat satu buntel postcard, langsung beli.

Ngomong-ngomong apaan sih itu Pink City? Pink City itu area dimana banyak bangunan-bangunan bersejarah yang nampaknya dilindungi oleh pemerintah dan didalamnya terdapat banyak tempat wisata seperti yang sebut diatas. Walau namanya pink tapi sebenarnya warnanya warna bata, orange kemerah-merahan. Setelah dari Jantar Mantar, kami jalan kaki ke Albert Hall. Disini juga gak masuk cuma numpang foto doang karena masih pagi.

Setelah itu kami pesan uber untuk Amber Palace, saya lupa lagi berapa tarif ke Amber Palace ini dari Albert Hall. Saran saya sih kalau banyakan mending pakai taxi atau uber atau ola (ubernya India) dibanding naik tuktuk yang sering berlebihan netapin tarif. Perjalanan ke Amber ini menanjak, seperti ke puncak tapi gak tinggi banget sih. Sesampainya di Amber, kami melihat banyak mobil jeep parkir dan ada gajah juga. Saya sakit kepala ketika itu, mungkin masuk angin karena panas-panasan keliling Pink City…baju yang basah kena keringat kering dibadan eh langsung naik mobil ber ac…jadilah masuk angin, maklum sudah berumur juga Disini saya minta kami mampir ke resto dulu, saya pengen makan dan terutama minuman hangat karena biasanya kalau masuk angin dikasih minuman hangat tuh agak enakan.

Saat makan itulah nanya-nanya sama pemilik resto, itu jeep untuk kemana? Katanya untuk naik ke Amber Palace, gajah juga untuk naik ke Amber biayanya sekitar 1100 rupee/person. For your information, begitu sampai gerbang Amber bukan berarti sudah sampai. Kita harus mendaki anak tangga yang lumayan banyak dan bikin ngos-ngosan dulu untuk sampai ke gerbang kedua. Begitu sampai gerbang kedua lalu berjalan melintasi lapangan luas, nah diseberang gerbang itulah letak loket tiket. Harga tiket masuk 500 rupee/person dan 100 rupee/anak untuk foreigner. Kalau sudah dapat tiket, nah masuk lagi menaiki anak tangga…terus aja nih mendaki , karena memang letak Amber ini di bukit dan bentuknya berbukit-bukit.

Di gerbang kedua ini saya sudah ngos-ngosan mana sakit kepala plus kepanasan juga karena terik mentari, membuat saya malas bergerak. Akhirnya dekat loket tiket saya duduk aja, saya memutuskan tidak ikut masuk ke dalam…saya memilih untuk menunggu ayah dan krucils yang masuk ke dalam disitu saja. Kebetulan di bangku sebelah saya ada dua orang wisatawan yang juga sedang duduk. Begitu saya duduk mereka langsung menyapa, darimana? Indonesia, jawab saya. Oh kami dari Malaysia, sahut mereka. Jadilah saya asik mengobrol dengan dua kenalan baru tersebut, saling bertukar informasi seru …seperti dia cerita bahwa mereka baru dari pegunungan himalaya di sikkim. Jadilah kami saling memamerkan foto masing-masing Sakit kepala yang mendera membuat saya gak ngeh tentang sikim, baru setelah sampai Indonesia saya gugel dan menyesal kenapa waktu itu gak langsung gugel tentang sikim, keren juga tampaknya. Selama ini kami hanya tahunya kashmir saja kalau himalaya, tidak tahu kalau ada jalur darjeeling di sikkim.

Kembali ke cerita, setelah sekian lama menunggu akhirnya teman ngobrol saya pulang karena suaminya sudah turun dari dalam, dia menunggu suaminya juga seperti saya. Gak ada teman ngobrol lagi, saya mulai kebosenan apalagi disamperin mulu sama penjual souvenir, akhinrya saya wa ayah eh baru ingat kalau gak ada kuota internasional hahaha. Lalu coba sms, berharap sampai. Akhirnya muncul juga ayah dan krucils. Kata mereka di dalam keren banget, berasa jadi indiana jones yang bertualang mencari harta karun yang hilang. Pokoknya tempatnya keren, bunda rugi gak masuk, cerita mereka.

Ketika itulah kami disamperin penjual souvenir lagi yang menawarkan magnet. Sebagai kolektor magnet langsung saya tanya berapa? Dia bilang 50 rupee/biji. Namanya emak-emak militan, saya tawar dong 50/2 biji…eh tanpa banyak penolakan dia langsung setuju yang membuat saya menyesal kenapa kurang sadis nawarnya Baru selesai transaksi si ayah ngomong, kenapa bunda nawarnya segitu sih, padahal dia tadi nawarin ke ayah 10 rupee /biji. Dan sayapun bengong…duh ayah, kenapa baru bilang sekarang sih, sudah tahu tadi bunda sedang tawar menawar sama dia…si ayah efek kepanasan jadi telat ngeh juga nih Lalu tuh di penjaja magnet yang ngakunya bernama Ali nanya ke saya, tuh yang dari tadi saya oles-oles ke kepala itu minyak ya? Nah kan ketahuan sudah bangkotan, mainnya bukan sama parfum tapi malah sama minyak kayu putih Si penjaja tertarik sama minyak kayu putih saya, dia bilang kalau saya mau ngasih ke dia minyak itu, dia akan kasih saya souvenir gajah 2 buah. Saya cuma bawa minyak kayu putih satu itu, itupun yang ukuran paling kecil. Kalau saya kasih, nanti kalau saya butuh untuk saya atau untuk krucils yang memang hobinya minta diminyakin kayu putih kan ribet.

Dengan menghiba-hiba si Ali meminta minyak saya, aduh Ali…sory ya bukannya gak mau ngasih tapi saya butuh. Dia lalu cerita kalau dia sering sakit kepala demikian juga keluarganya, anaknya masih kecil-kecil , lalu dia bilang kamu bisa beli lagi ditempatmu saat pulang nanti sedang saya tidak mungkin bisa ke negaramu untuk membeli itu. Hiks …disini saya jadi iba, ayah langsung ingatkan saya bahwa selain minyak kayu putih saya juga bawa bawa fresh care aromatheraphy. Ya akhirnya saya kasih aja freshcare itu sebagai hadiah, eh dia juga maksa saya agar menerima souvenir gajah sebagai hadiah juga. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan.

Advertisements




Hawa Mahal, Jaipur

18 07 2019

Tujuan saya ke India selain Taj Mahal, pegunungan Himalaya di Kashmir juga Hawa Mahal. Ini tok yang pengen saya liat…Hawa Mahal di Jaipur yang kalau diliat digugel, foto blogger-blogger di Hawa Mahal dengan memakai baju khas India…wuih keren banget. Jadi pengen liat seperti apa sih Hawa Mahal itu…itu sebabnya Jaipur is must city. Pokoknya wajib ke Jaipur …kota lain terserah deh, tapi Jaipur harus.

Ketika sampai Jaipur sudah sore dan capek, sebenarnya malas sih kemana-mana pengen tidur di hostel dulu baru keesokan hari jalan melihat kota. Saat malam santai-santai diruang santai, iseng-iseng nanya sama orang hotel arah mana sih Hawa Mahal itu dan jauh gak dari hostel. Katanya sih dekat dari hostel, jalan kaki paling banter 15 menit dan kalau malam lebih bagus karena efek pencahayaan. Begitu dengar info tersebut, langsung buru-buru balik kamar ganti baju…lets go, kita jalan ke Hawa Mahal malam itu juga.

Dan memang gak jauh dari hostel sampailah di Hawa Mahal ini, dan saya batu tahu kalau letaknya dipinggir jalan persis dn hanya berbentuk satu dinding gitu memanjang keatas…jadi rada susah sih kalau mau ambil foto keseluruhannya. Bingung juga tuh blogger-blogger dan angle darimana kok hasilnya bisa bagus seluruh dinding. Pas melototin seputaran situ, baru saya ngeh ternyata ada resto diseberang jalan persis seberang Hawa Mahal ini yang letaknya di roof top dengan point of viewnya Hawa Mahal. Kayaknya di resto itu sih kalau mau ambil foto yang pas, sayangnya kami sudah kemlaman banget saat berkelana ke Hawa Mahal ini sekitar jam 10an. Jadi foto-foto seadanya aja, dengan pencahayaan dan latar belakang yang kurang jelas …kata ayah yang penting kan misi bunda sudah check list.





Ghats Tour, Varanasi

18 07 2019

Ayah sempat jatuh sakit di Agra, demam, menggigil walau semua ac dimatikan, badannya gemetaran dan mencret. Alhamdulillah keesokan harinya sudah membaik setelah istirahat seharian. Saat istirahat itu ayah bilang kayaknya kita salah pilih tempat nih dan salah beli tiket pulang juga. Kami beli tiket pp ke India untuk 2 minggu full. “Kalau bisa dimajukan, majukan ajalah tiket pulangnya”, kata ayah…efek pasca demam si ayah langsung homesick, pengen pulang Kali ini kami beli tiket ke India pakai penerbangan full service, bukan penerbangan hemat seperti biasa kalau bertualang, kalau mau di majukan kayaknya susah, mau dihanguskan sayang banget karena harganya lumayan juga.

Sètelah coba majuin tiket tapi gak bisa, yo weslah….jalanin aja dulu, kita buat happy aja. Ke India ini adalah keinginan ayah, saya dan bungsu pengennya ke Jepang…malahan kami sudah merencanakan dari beberapa tahun lalu kalau 2019 jatahnya si bunda ke Jepang. Tapi ayah keukeuh ke 7 wonders, Taj Mahal…malahan tiap saat pulang kerja selalu nanya, gimana bun sudah beli tiket belum? Saya sih masih mikir-mikir, selain karena harga tiket sedang melambung juga pengennya ke Jepang tahun ini …itu sebabnya tiap disuruh beli tiket masih entar besok, tar sok aja terus. Tapi kalau tiap hari ditanya mulu, akhirnya ya beli juga….biarlah tahun ini mewujudkan cita-cita ayah, tahun depan jatah gue dong… hahaha.

Kembali ke cerita, ketika ayah menitahkan mencari tiket pulang…saya kasih pertimbangan, ayah yang pengen ke India loh masa gitu aja menyerah sih. Hayoo kita berkelana aja menjelajahi India, jangan stuck di satu kota. Masa sudah jauh-jauh ke India hanya ke Taj Mahal tok, kalau gak cocok sama cuaca panasnya atau makanannya ya dibawa hepi aja. Akhirnya ayah nanya ke saya, bunda pengen kemana kalau gitu? Saya bilang, satu kota yang pengen saya datangi banget itu Jaipur…sisanya terserah asal jangan ke kashmir (ayah pengen ke kashmir) karena perjalanannya jauh dan baca-baca katanya oksigen juga tipis (karena sudah dekat himalaya), takut krucils gak tahan. Kalau mau ayo sekalian kita liat sungai gangga di Varanasi, ya memang gak ada apa-apa sih di Varanasi selain sungai gangga…tapi mumpung sudah disini sekalian aja kita liat bagaimana sih sungai gangga itu. Note, kami jarang hidupin tv kalaupun hidup seringnya untuk nonton channel natgeo dan discovery atau movie. Nah di natgeo kan sering ada tentang kebudayaan-kebudayaan gitu salah satunya tentang gangga. Daripada tahunya hanya lewat tv, mending liat langsung di tempatnya.

Baiklah, rencana langsung dibuat, dari Agra ke Varanasi, dari Varanasi kalau sempat ke Mumbai (request sulung), lalu ke Jaipur kemudian Delhi lalu pulang. Kami baru dapat tiket kereta setelah menunggu 3 hari di Agra, umumnya waktu banyak terbuang sia-sia karena susah dapat tiket kereta. Kami salah strategi juga, harusnya begitu sampai India langsung beli tiket kereta ke kota-kota tujuan selanjutnya sekaligus, bukan dadakan. Di Agra kami banyak menghabiskan waktu di hotel saja, malas kemana-mana, kan misi ayah ke Taj Mahal sudah terlaksana

Begitu sampai Varanasi, hujan. Berbeda dengan kota lainnya di India yang panasnya super, di Varanasi seringnya hujan…malahan tiap hari hujan walau udaranya panas juga bikin keringatan tapi karena hujan ya tidak sepanas kota lainnya. Menginap di hostel backpacker yang menyediakan berbagai tour, kami memilih mengikuti Ghats Tour seharga 350 rupee / orang. Serunya tour ini adalah kami bersama rombongan diajak jalan kaki, ditunjukkan dan diceritakan sejarah temple yang dilalui, dikasih tahu nama-nama tempat, lalu diajak ke tepian sungai gangga. Dari situ lanjut naik perahu menyusuri gangga, lalu berhenti di gusung (sejenis pulau pasir ditengah sungai gangga). Di situ menunggu acara seremoni dimulai, lalu lanjut naik perahu lagi ke Dashawarmath ghat untuk melihat kremasi (pembakaran mayat) di tepi sungai gangga. Di tempat ini kami dilarang mengambil foto atau merekam prosesi oleh tour guide. Banyak sekali mayat yang dibakar, umumnya pake kain berwarna cerah karena katanya bisa masuk surga jika menggunakan kain berwarna cerah. Wanita juga jarang ada, karena katanya kalau wanita menangisi mayat tersebut…mayat itu akan tertahan tidak sampai ke surga (ini semua penjelasan tour guide kami). Nah di dekat kremasi berlangsung tersebut banyak sapi yang sedang memamah biak juga beberapa anjing yang sibuk menggonggong.

Kami juga melihat mayat utuh yang tidak dibakar tapi ditenggelamkan begitu saja ditengah sungai, konon kata tour guide kami itu holly body biasanya berupaya mayat wanita hamil. Ayah bertanya kenapa gak ngapung tuh mayat, kata tour guide karena dalamnya sudah dikasih batu atau pemberat. Lalu ditutup dengan melihat nyanyian dan tarian di kuil pinggir gangga yang katanya ditujukan untuk sungai gangga, acara ini selalu ada setiap malam setiap hari sebagai persembahan untuk sungai gangga. Setelah itu balik hotel, lelah banget rasanya. Secara keseluruhan seru juga melihat kebudayaan yang berbeda secara langsung, ayah bahkan lupa sama homesicknya





Agra Fort, Agra

17 07 2019

Kami tiga hari di Agra, hari kedua kami putuskan ke Agra Fort. Begitu keluar hotel langsung ditempel sama supir tuktuk dan taxi. Ketika tanya harga tuktuk, dia nawarin 250 rupee. Saya tawar 100 rupee, dia nurunin jadi 200 lalu 150. Namun sebagai emak-emak militan saya keukeuh 100 rupee, kalau gak mau yo wes. Eh akhirnya dia setuju. Sip deh. Eh di tuktuk tuh supir berisik banget dah…mau ngantar kami ke tempat-tempat lain, kami cuekin aja. Begitu sampai Agra Fort, saat ayah mau bayar…supirnya gak mau terima uàngnya. Katanya nanti aja dibayar pas balik hotel, biar dia tungguin kami disitu. Whats?!!! Gak mau dong kami, kami bilang tinggal aja…kami banyak urusan. Eh dia maksa, dia bilang free kok dia nungguin disitu, gak usah bayar biaya nunggu dia. Yaeyalah, siapa juga yang mau bayar…dipaksa-paksa ambil uang rupee, tetap gak mau terima. Ya sudahlah sesukamulah…

Tiket masuk Agra Fort ini 1250 rupee juga per orang…hiks hiks, disitu saya sedih…kok mahal banget sih kalau untuk wisatawan asing. Bedanya jauh banget dengan tiket masuk warga lokal. Untungnya krucils tetap gratis jadi masih agak legaan dikitlah. Agra Fort ini luas banget, keren dan banyak tupai. Tupainya jinak-jinak. Sayang panas yang menyengat memaksa kami tidak berlama-lama di sini. Panasnya itu menyengat banget, luar biasa. Baju kami basah kuyup banjir keringat, sulung saya tidak tahan kena panas langsung pusing dan ngajak balik hotel.

Hampir di semua tempat wisata India, tripod dilarang dibawa masuk. Kalau sudah terlanjur bawa di suruh simpan di loker. Setelah mengambil tripod di loker, balik ke tuktuk yang ternyata masih setia menanti…lalu buru-buru balik ke hotel. Segala rencana yang paginya telah disusun seperti mau ke stasiun untuk beli tiket kereta, mau ke restoran nyari makan, dsb mendadak dibatalkan. Kalau panas gini mendingan ngadem di hotel aja deh, ntar sore aja kalau cuaca bersahabat baru keluar lagi. Pada kenyataannya kami tetap ngadem di hotel sampai malam, malas keluar-keluar lagi





Taj Mahal, Agra

17 07 2019

Sèhari di Delhi, kami melanjutkan perjalanan ke Agra. Tujuannya apalagi kalau bukan salah satu dari 7 wonder, Taj Mahal. Di Agra kami menginap di hotel yang berada di area Taj Mahal, hanya sekitar 600 meter dari Taj Mahal, kalau jalan kaki sih kurang lebih 15 menitan. Dan karena berada di area Taj Mahal, dimana konon kendaraan umum dilarang masuk…jadi enaknya ya emang jalan kaki karena jalanannya dibuat nyaman untuk pejalan kaki. Walau katanya sih tidak boleh ada kendaraan umum masuk, tetap aja tuktuk nongkrong disini.

Kami tiba di Agra sekitar jam 4 sore waktu India. Istirahat sebentar dikamar, lalu memutuskan kayaknya enak nih cuaca sorenya sedang tidak terik, agak mendung kelabu…gimana kalau kita jalan-jalan sore melihat situasi seputaran hotel, sekalian melihat kondisi loket masuk Taj mahal yang konon antara loket tiket sama pintu masuk jauh dan antri panjang. Kalau sudah tahu dimana letaknya kan besok pagi gampang, gak perlu nyari-nyari lagi…begitu pertimbangan kami.

Tujuan awal sih jalan sore aja, sekalian olahraga karena kelamaan duduk di taxi selama perjalanan dan melihat situasi, itu sebabnya gak ganti baju…ini penyesalan saya sih, niatnya mau foto-foto keluarga yang keren di Taj Mahal eh malah pake baju ala kadarnya…si ayah malah pake celana pendek doang Kembali ke cerita, saat keluar hotel… security hotel mewanti-wanti kami agar jangan membawa tripod kalau mau ke Taj Mahal….laa kami kan gak niat ke Taj Mahal dulu sore itu, cuma mau jalan-jalan jadi dicuekin tuh warningnya security hotel. Lalu saat sedang jalan gitu kami bertemu sama 3 orang polisi India yang sedang duduk-duduk, mereka langsung menghentikan langkah kami…kata mereka no tripod allowed. Laah kan memang gak mau masuk Taj Mahal, cuma mau jalan sore sekitaran Taj Mahal aja. Akhirnya mereka bolehin kami jalan lagi asal nanti tripodnya masukin loker…baiklah.

Sulung saya memang sedang hobi fotography, itu sebabnya ribet banget dah dengan urusan kameranya. Dia sedang sibuk foto-foto dan merekam, karena itu jalannya lambat banget…jadi bagi tugas, si ayah nemenin sulung sedang saya dan bungsu saya sudah jalan agak jauh di depan. Beberapa orang nyamperin saya nawarin jasa guide, ya saya cuekin dong wong selama ini kami gak pernah pake guide-guidean…enakan jalan sendiri berasa lebih bebas dan irit juga gak perlu bayar guide

Saya gak tahu kalau jauh dibelakang saya, suami saya malah ngobrol sama salah satu guide yang awalnya nyamperin saya itu. Begitu sudah dekat loket tiket, baru saya sadar ternyata si ayah sedang jalan sama guide…lalu bilang ke saya kata si guide jam segini bagus nih masuk Taj Mahal karena lebih sepi dibanding pagi atau siang, mana gak panas juga. Hmm…akhirnya mikir-mikir ok deh kita masuk aja sore ini, sekarang atau besok kan bakalan masuk ke Taj Mahal juga, kalau memang sepi ya apasalahnya sekarang aja. Nah saat mau beli tiket ini si ayah dilema, antara pake jasa guide atau enggak. Saya sih nehi, malas aja gitu masa ngiterin tempat wisata harus dipandu…mana asik. Kalau sendiri kan mau berlama-lama melototin satu tempat juga tenang aja. Mungkin merasa gak enak sudah terlanjur ngobrol panjang lebar sama tuh guide, akhirnya ayah bilang sesekali kita pake guide ajalah…hitung-hitung sama dengan bayar tiket masuk krucils.

For your information, tiket masuk Taj Mahal itu 1250 rupee / person untuk foreigner. Anak dibawah usia 14 tahun free. Kebetulan krucil saya walau badan bongsor masih di bawah itu usianya, jadi krucils gratis masuknya. Yang bayar hanya saya dan si ayah. Guide ini minta upah 1500 rupee, lebih mahal dari harga tiket. Saya tawarpun dia gak mau karena katanya rate standard pemerintah…kalau gak bawa uang tunai nanti bisa dicharge pake kartu kredit di tempat mereka. Nah konyolnya saya adalah saya langsung menyimpulkan “mereka” yang dimaksud ini adalah pihak pemerintah atau otoritas resmilah, ya kan gak mungkin perorangan punya alat charge kartu kredit. Padahal ternyata bukan…nanti dijelaskan diakhir siapa “mereka” ini.

Si ayah orangnya suka gampang iba, itu sebabnya dia memutuskan yo weslah kita pake jasa guide ini yang memang nempelin kami mulu jadinya sejak diajak ngobrol si ayah. Memang enak sih ternyata pake guide …kami tidak buta cerita tentang tempat tersebut. Dia jelaskan sejarahnya, dia carikan tempat-tempat foto yang bagus plus bantuin foto juga karena kan gak boleh bawa tripod jadi gak bisa foto berempat tanpa tripod. Guide ini juga merangkap pengarah gaya foto lumayanlah dapat banyak foto walau hasil tidak maksimal karena hari sedang mendung, jadi pencahayaan kurang. Daripada bayar tukang foto yang banyak di dalam Taj Mahal, tarifnya 100 rupee / 1x jepret.

Singkat cerita karena sudah sore banget dan kami termasuk turis terakhir yang berada disitu, sampai saat masuk makam Mumtaz gak berapa lama sudah diusir suruh keluar karena sudah mau tutup…ternyata tutupnya tuh jam 6.30an lah, la kami disitu sampai jam 7 malam …gak heran disuruh keluar. Komplek Taj Mahal ini luas banget, kaki saya sampai pegel jadinya. Saat sudah keluar, saya mau cepat balik ke hotel…lelah banget rasanya, selain efek perjalanan panjang Delhi-Agra juga. Eh sama guide kami diajak masuk ke toko cenderamata dekat situ, sementara dia menghilang katanya sih mau ambilin tripod kami yang dititip ke temannya. Begitu masuk toko, disuruh duduk…lalu penjual tersebut ngomong kalau dia juga muslim seperti kami, lalu menjelaskan tentang marmer yang katanya sama persis dengan marmer yang dipake di Taj Mahal, kualitas no 1 dan bla bla…malas banget saya dengarinnya dengan demonstrasi menyorotkan senter ke marmer untuk membuktikan keaslian marmernya dan sebagainya…yang karena lelah saya langsung ngomong kalau kami gak berminat beli apapun di Agra. Perjalanan kami masih panjang, ngapain juga belanja marmer. Dia pikir memangnya kami sejenis Obelix yang kuat gotong-gotong batu kesana kemari eh namanya juga penjual, pinter dong marketingnya…dia jawab kalau kami gak perlu gotong-gotong, biar entar dia paketin langsung ke Indonesia…alamakjang, harus jawab apalagi nih.

Kami keukeuh gak tertarik, akhirnya dia nawarin souvenir-souvenir kecil yang harganya tetap wow. Minimal beli magnet kulkaslah katanya, ketika ditanya harganya 1000 rupee…whats?!!!! Magnet mah biasanya murmer, ini masa 1000 rupe, kalikan 200 aja sudah 200 ribu padahal kurs kan lebih mahal dari 200 nehi la yaw. Kami bilang kami capek, ngantuk, mau balik hotel. Dia maksa, kami lebih maksa lagi. Akhirnya muncul lagi guide kami membawa tripod sulung saya, dia bilang kalau gak ada yang menarik di toko itu dia bisa bawa kami ke toko lain…idih, nehi nehi. Kami tuh travelholic bukan shopaholic. Guide itu juga bilang kalau kami gak bawa uang tunai untuk bayar dia, bisa pake kartu kredit di charge di toko itu…ya ampun ini toh maksudnya tadi. Saya langsung ngeluarin uang tunai yang tinggal segitu-gitunya daripada ribet urusannya diajak ke toko lainnya…mending sudahin secepatnya. Masalah uang tunai mah gampang, entar tinggal cari atm atau money changer.

Sepanjang perjalanan balik ke hotel, kami ditempelin penjual-penjual souvenir yang nawarin magnet kulkas, entah dapat info darimana atau muka saya emang muka kolektor magnet kulkas. Biasanya saya suka tuh beli magnet, tapi sejak kejadian di bawa ke toko souvenir itu saya jadi bete, hilang mood…walau tuh penjaja magnet kulkasnya nawarin 50 rupee / biji, lalu karena dicuekin jadi sale 50 /3 biji, masih dicuekin lalu sale besar-besaran 50/7 biji…tetap gak saya gubris. Keburu kezel… kezel akutu…hahaha. Baru saat dikamar hotel saya menyesal, waduh tuh penjaja magnet jual murah napa saya gak beli yak…wkwkwkw, penyesalan selalu datang terlambat





Red Fort, Delhi

16 07 2019

Begitu pesawat mendarat di Delhi, kami langsung memesan taxi ke hotel yang sudah dibooking sebelumnya. Istirahat sejenak di hotel , sarapan, mandi, ganti baju, leyeh-leyeh meluruskan punggung lalu jalan. Kami memutuskan mencari makan siang, dari hotel pake tuktuk ke area connaught place mencari fastfood. Setelah makan, mencari mesjid seputaran situ lalu memutuskan ke Red Fort.

Suhu di Delhi mencapai 41 C saat itu, panasnya full. Naik tuktuk 100 rupee ke Red Fort. Biasanya tuktuk nawarin harga tinggi, umumnya mereka nawarin 200 rupee tapi tawar aja dengan tega, kalau merasa kemahalan, tinggalin aja….cara ini biasanya berhasil. Siang itu panasnya MasyaAllah luar biasa, kami banjir keringat. Itu sebabnya krucils saya yang biasanya antusias ke tempat-tempat semacam ini jadi gak mood berkeliling Red Fort. Ditawarin masuk mereka menolak, terutama bungsu saya sih yang langsung mengajak kami balik ke hotel aja.

Panas menyengat ditambah harga tiket masuk yang mahal kayaknya perpaduan yang klop hingga kami akhirnya memutuskan untuk foto-foto dari luar saja, tidak masuk ke dalam. Harga tiket 600 rupee / person untuk foreigner. Puas foto-foto, langsung balik badan kembali ke hotel. Setelah itu tidak ada satupun yang berminat jalan-jalan ke tempat lainnya hari itu, lebih enak ngadem di kamar hotel…petualang cemen ini sih, kalah sama suhu panas





Esplanade, Singapore

9 07 2019

Dari kampong glam, kami lanjut jalan kaki ke Merlion karena request krucils yang pengen banget ke Merlion. Kata ayah sih dekat aja kok dari kampong glam, sekitar 2km aja….cincailah kalau begitu. Hampir setiap sore kami sering berolahraga dengan jalan kaki di hometown, kadang jarak yang ditempuh lebih dari 2 km sehingga kami rasa kami mampu ke Merlion dengan berjalan kaki dari kampong glam.

Jalan kaki tuh asik sebenarnya, banyak yang bisa dilihat, banhak yang bisa di foto apalagi jalan di Singapore ramah untuk pejalan kaki. Trotoarnya besar, lumayan teduh juga di beberapa tempat namun kami lupa kalau kami bawa barang. Dua koper memang sudah dimasukkan bagasi dan kami terima di tujuan akhir nanti, tapi masih ada satu ransel besar dan satu ransel kamera serta tripod. Walau yang megang barang ini para lelaki tetap aja saya kecapekan karena jalannya jauh ternyata…haha, kadang harus mutar agak jauh agar bisa menyeberang jalan.

Kami beberapa kali berhenti istirahat untuk makan dan minum. Akhirnya maghrib-maghrib sampai juga kami di Esplanade, jalan kaki dikit…tidak jauh dari Esplanade terlihatlah Merlion, cuma kami tidak berfoto di Merlion karena penuh orang. Kami hanya nongkrong di tempat sepi membiarkan krucils terutama sulung saya hunting foto Marina Bay Sands. Lalu sekitar jam 10 malam jalan kaki ke MRT, dan balik ke changi menggunakan MRT. Selanjutnya sholat, makan dan istirahat di changi menunggu penerbangan kami selanjutnya ke kota berikutnya jam 02.30 pagi.