Balikpapan – Berau – Bulungan

24 12 2016

Ayah belakangan ini bolak-balik nanya, kapan krucil libur. Ternyata ada rencana tersembunyi untuk mengajak kami berpetualang lagi. Dia masih penasaran mengelilingi pulau Kalimantan by land, terutama daerah yang masih belum diinjaknya yaitu bagian barat pulau. Namun setelah ditimbang jaraknya yang konon 1800km sedang cuti terbatas hanya 4 hari + libur Sabtu-Minggu..akhirnya pilihan yang masuk akal adalah mengajak krucil melihat nemo di Derawan.

Malam sebelum berpetualang, ayah mengajak krucil ke salah satu swalayan untuk mengisi perbekalan dijalan sementara si bunda sedang asik dengan drama korea (eeaa…hehe). Perbekalan penuh tinggal urusan si bunda nih ngurus packing-packing keesokan harinya lalu menitahkan krucil untuk memasukkan semua kebutuhan dalam mobil…siap berangkat. Eits tapi gak bisa berangkat dulu sebelum ambil raport krucil.

# Menuju Berau, 16 Desember 2016 #

==> Day 1

Jumat sore, sepulang ayah kerja dan setelah pembagian raport, kami langsung ngacir. Tujuan adalah Samarinda, pitt stop sekaligus memberitahu orang tua saya bahwa kami hendak ke Derawan. Lama perjalanan 2-3 jam dengan jarak 126 km. Tapi begitu sampai kami berkeliling mall dulu, berburu snorkeling dan kacamata renang. Alat snorkeling kami tidak ketemu, sebenarnya di Derawan ada penyewaan snorkeling sih cuma membayangkan ganti-gantian alat snorkeling rasanya gimana gitu…mending beli baru deh. Setelah dapat alat snorkeling, istirahat dulu sebelum petualangan dimulai…hmZZzzzZz

==> Day 2

20161224-014635.jpg

Keesokannya, setelah sholat subuh dan mandi…jalan lagi. Kali ini perjalanan cukup jauh dan tanpa bayangan apakah jalannya masih rusak seperti dulu atau sudah baik. Kami berangkat sekitar jam 5 subuh, belum sempat sarapan…untung stok cemilan cukup banyak.

Samarinda-Bontang sekitar 180 km ditempuh dengan waktu 3 jam. Bahan bakar sedang susah di Samarinda dan Bontang…hampir semua SPBU tutup atau antrian mengular panjangnya. Dengan pertimbangan mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kami memutuskan tidak ikutan mengantri dengan harapan di Sangatta kondisinya lebih baik. Di Bontang kami mampir sebentar untuk sarapan sebelum melanjutkan menuju Sangatta.

Bontang-Sangatta kurang lebih ditempuh 1 jam lebih, banyak jalan berlubang. Sepanjang perjalanan hujan gerimis, suhu cukup dingin dan bikin cepat lapar lagi. Di Sangatta ternyata kondisinya sama dengan kota-kota lainnya, terpaksalah mengisi BBM di eceran pinggir jalan 200rb. Di sini kami mengisi perbekalan makanan di mobil, beli wing bucket dan perkedel KFC, jaga-jaga kalau tidak nemu tempat makan selama perjalanan, tapi belum apa-apa sudah habis duluan..haha..

Sangatta-Muara Wahau ditempuh kurang lebih 4 jam. Keluar Sangatta jalan banyak rusak, namun setelah simpang Bengalon jalan mulus. Kami tiba siang di Muara Wahau, mampir makan siang dulu karena sudah pada kelaparan sekalian ayah meluruskan badan dulu. Setelah sholat, perjalanan berlanjut menuju Tanjung Redeb.

Muara Wahau-Tanjung Redeb kurang lebih 5 jam. Kami banyak berhenti untuk istirahat dan bermain di semacam air terjun tempat truk-truk berhenti beristirahat. Jalan lumayan mulus, sayangnya sepanjang perjalanan yang kami jumpai lebih banyak kebun sawitnya daripada hutan. Hutan beralih fungsi jadi kebun sawit…hiks sedih jadi gak bisa nunjukin ke krucil hutan Kalimantan yang indah itu deh.

Berdasarkan pengamatan saya, kondisi jalan sudah 80% mulus namun sayangnya kondisi hutan berbanding terbalik dengan kondisi jalan. Baru memasuki daerah Kelay hutan masih keliatan asri. Di daerah Kelay inipula kami melihat desa wisata Merasa (Merasa Village) …mau tahu tempat ini googling sendiri ya karena kami belum masuk juga.

Akhirnya sekitar jam 19.30 sampai juga di tanjung Redeb. Untungnya SPBU Tanjung Redeb tidak mengantri…langsung isi penuh sekitar 200rb. Kami menginap di Hotel Sederhana yang letaknya dekat tepian sungai Segah, rate yang standard room Rp 363.000. Cari makan di sepanjang sungai banyak penjual makanan, lalu balik hotel dan grookkk…waktunya mimpi indah.

==> Day 3

Setelah tidur nyenyak, badan kembali segar. Jam 5 subuh sudah packing-packing lagi, mandi, jalan-jalan di tepian sungai dulu…lalu sarapan di hotel. Check out sekitar jam 07.00, lanjutkan perjalan menuju Tanjung Batu. Di perempatan ayah dan krucil maksa belok kiri, katanya ada jalan tembus…padahal saat nanya orang hotel dikasih tahu kembali ke tempat kami datang dulu, baru disitu liat petunjuk arah. Akibatnya bisa ditebak, kami nyasar dengan sukses, muter-muter selama satu jam di Berau…haha daebak. Tapi gpp deh, jadi bisa ambil uang dulu persiapan di pulau nanti. Note untuk wisatawan, ATM di pulau Derawan saya lihat cuma ATM bersama BRI…berhubung saya pelit kalau pakai ATM bersama ada potongan ini itu, jadi saya pilih narik ATM punya bank tabungan saya aja biar gak kena potongan…haha…

Pelabuhan menuju Derawan ada di Tanjung Batu ini, jalannya 1/3nya rusak. Lama perjalanan sekitar 2 jam lebih dengan jarak 132km. Dulu hutan di Tanjung Batu ini super duper keren, sekarang rusak parah…jadi gagal deh nunjukin hutan disini ke krucil. Dalam 10 tahun banyak yang berubah, apalagi 10 tahun kedepan, jaman krucil siap berkelana sendiri…mungkin hutan sudah tinggal kenangan.

Kami tiba di pelabuhan Tanjung Batu ini sekitar jam 10-an. Parkir, waktu parkir kebetulan ada bapak-bapak lewat, nanyalah sama dia…disini ya tempat parkirnya pak? Sekarang pelabuhan Tanjung Batu ada dermaganya, dulu sih letaknya dibelakang pasar. Ternyata bapak itu supir speedboat, dia ngasih tahu disitu parkirnya atau kalau mau masuk dermaga disitu bisa juga cuma nanti kena charge 15rb/orang. Ya sudah parkir situ deh, lalu bapak (pak Tion) itu nawarin speedboat, dia minta 600rb pp. Bukan emak-emak dong kalau gak nawar…tawar 500rb pp. Dia setuju…deal..siapkan barang-barang yang mau dibawa, snorkel, koper baju, stok cemilan yang masih banyak, dan air mineral galon kecil.

Ngomong-ngomong tentang air mineral, sebulan lalu saya mengajak ayah berbelanja di salah satu pusat grosir, kebetulan waktu itu ayah melihat air mineral galon ukuran kecil…lucu juga nih saya pikir. Dibelilah air galon tersebut…harapan saya ya kalau saya harus mengganti galon sendiri di rumah saat ayah sedang di lokasi…kan ribet amat ngangkat galon besar, kalau galon kecil sih masih sangguplah. Sementara si ayah berpikir lain rupanya, galon kecil itu stok untuk dimobil kalau mendadak pengen berpetualang dan kami butuh minuman atau air untuk cuci muka. Ini salah satu bukti men from mars, women from venus …beda pemikiran …hahaha

Untung bawa air galon kecil ini, lumayan menghemat karena ayah dan krucil minumnya banyak tiap habis berenang sedang air mineral lumayan juga harganya di Derawan. Kembali ke cerita perjalanan, entah karena naik speedboat siang atau memang ombaknya lumayan besar saat menuju Derawan, speedboatnya terhentak-hentak yang membuat saya tegang sementara krucil happy banget melihat burung-burung bertengger di kayu yang terombang-ambing dilautan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu ke Derawan 20-25 menit.

Begitu sampai jam menunjukkan pukul 11.00, supir speedboat menunjukkan salah satu cottage. Si ayah pengen di resort, sedang saya milih di cottage aja, wong seharian bakal banyak dilautnya daripada di kamar, lumayan hemat lagi…nah ini entah bukti men from mars, women from venus atau si bundanya aja yang pelit ..hahaha. Akhirnya kami pilih Sunrise Cottage Rp 300.000 / malam.

Setelah masukin barang ke kamar…krucil langsung ngajak nyemplung. Sebelum berenang harus ngisi tenaga dulu dong, karena pengen buru-buru sampai Derawan kami tidak makan dulu di Tanjung Batu, nyari makannya di Derawan aja. Selesai makan, ayah dan krucil langsung berenang. Kerjaan selama Derawan ya berenang seharian, snorkeling, ngasih makan ikan…berenang lagi, snorkeling lagi, ngasih makan ikan lagi. Malam pertama hanya ada kami di cottage tersebut, jadi seru banget…nongrong depan kamar memandang lautan dan bintang yang tampak lebih banyak dan bersinar terang disertai suara deburan ombak. Kami 3 hari 2 malam di Derawan, cerita tentang Derawan bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bulungan, 20 Desember 2016 #

==> Day 5

20161224-015757.jpg

Selasa pagi telp pak Tion minta jemput jam 8 pagi. Sembari nunggu kami jalan-jalan dulu cari souvenir…nyari magnet kulkas gak ada sebagai gantinya krucil beli gantungan kunci dan ayah beli baju. Setelah itu nongkrong depan kamar, menunggu speedboat datang sembari memberi makan ikan. Saat menunggu itu saya melihat awan hitam bergelayut di langit…wah gawat nih kalau hujan saat kami ditengah lautan. Akhirnya telp lagi pak Tion, dipercepat dong datangnya…setengah jam kemudian datanglah yang ditunggu ternyata pas datang jam 8-an juga…hehe.

Laut tenang banget saat kami pulang…kalau begini bisa menikmati perjalanan deh, bisa berfoto-foto juga (teuteup ya narsis…hehe). Saya pernah cerita bahwa dulu ketika ayah bunda ke Derawan 10 tahun lalu, sering ngeliat ikan terbang saat naik speedboat dan beruntungnya dalam perjalanan pulang naik speedboat ini krucil melihat juga ikan yang terbang-terbang membuat mereka antusias. Kata bungsu saya, I Love Derawan…haha…sudah diajak kemana-mana, baru kali ini bilang love artinya suka banget tuh si bungsu sama Derawan. Setelah perjalanan selama 20 menit, sampai di Tanjung Batu. Saat masukin barang dalam bagasi…ditagih uang parkir 100rb, rupanya tarif parkir di dermaga 50rb/malam.

Di parkiran sinilah kami berdiskusi dengan krucil, lanjut ke Tanjung Selor (Bulungan, Kaltara) atau ke Tanjung Redeb (Berau)? hasilnya kami memutuskan ke Tanjung Selor mumpung sudah di Utara Kalimantan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu kurang lebih 4 jam. Kondisi jalan ke Bulungan bagus dan yang paling menyenangkan hutannya keren. Kata ayah, ini baru namanya hutan Kalimantan (si ayah kecewa selama merantau ke Kalimantan jarang ngeliat hutan yang masih benar-benar hutan).

Kami sampai sekitar jam 13.00 siang, kelaparan berat. Di Tanjung Selor makan siang, nyari cemilan di pasar induk, jalan-jalan di tepian Sungai Kayan, main sebentar di Tugu Pedamaian lalu balik arah ke Berau. Awalnya kalau ada waktu pengen sekalian nyeberang ke Tarakan, sayang waktu mepet karena libur ayah cuma sebentar. Kami hanya beberapa jam saja di Tanjung Selor, untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang propinsi termuda di Kalimantan ini. Tentang petualangan kami di Kaltara, bisa dilihat di posting sebelumnya.

# Menuju Berau kembali, 20 Desember 2016 #

20161224-020926.jpg

Kami tidak bisa lama-lama main di Bulungan karena ayah mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kondisi jalan kan belum hapal betul dan berkelok-kelok tajam. Jam 16.00 kami melakukan perjalanan kembali. Sekitar jam 18.00 mulai masuk Berau lagi. Di mobil mulai diskusi alot masalah hotel yang akan dipilih. Ayah dan krucil maksa harus cari hotel berbintang, karena capek selama petualangan pengen menikmati tidur di hotel bagus. Bunda ngotot hotel biasa aja, toh hotelnya cukup bagus juga dan cuma tidur semalam doang. Saat vote si bunda kalah, untung bunda cerdik bilang…hayoo siapa yang dukung bunda selisih uang hotel mahal dengan hotel standard bunda kasih ke kalian daripada uangnya di kasih ke orang hotel, mending untuk kalian. Dan hasil akhir, bunda memenangkan vote…haha. Apesnya kamar standardnya penuh, sisa deluxe dengan rate Rp 495.000. Tapi tetap masih lebih murah dari hotel mahal…hahaha *ketawa pelit*. Di Berau ini, ayah isi BBM lagi 130rb. Kemudian cari makan, langsung tidur…ZzzzzZz

# Menuju Samarinda, 21 Desember 2016 #

==> Day 6

Mulih mulih, saatnya pulang. Walau krucil protes protes, petualangannya kurang lama…tenang aja, masih akan ada petualangan-petualangan lain yang menanti. Perjalanan pulang kami agak santai, di hotel krucil tidur sampai jam 06.00, lalu mandi, sarapan. Baru jam 7 lewat check out hotel. Di Berau pun bersantai-santai membuktikan teori bunda bahwa ada jembatan menuju istana Berau yang letaknya dipulau tengah sungai Segah…ternyata salah, sambil ledek-ledekan deh, si bunda urusan baca peta emang suka ngaco haha.

Di daerah Kelay, si ayah penasaran dengan Merasa Village…nyobain treknya sebelum mutar arah lagi, karena jalan tanah sedang mobil yang dipakai bukan mobil offroad. Kami banyak berhenti dan jalannya santai banget, gak ngebut seperti saat pergi. Di air terjun kecil, berhenti lagi…main air dulu sekalian ngilangin ngantuk. Makan siang di Muara Wahau, baru agak ngebut karena ngejar makan malam di Bontang. Di Sangatta berhenti sholat dan isi BBM 200rb. Sampai simpang Bontang ternyata sudah 18.30, wah kalau masuk kota bakal lama lagi nih sehingga kami putuskan makan di Kenari aja (pertengahan Bontang- Samarinda). Baru jam 22.30 kami sampai di Samarinda. Ayah bunda tepar dengan sukses, badan pegel-pegel…eh krucil masih bisa perang bantal sampai jam 24.00. Usia tidak bisa dibohongi…haha..

Saya dan krucil menghabiskan sisa liburan dirumah orang tua saya, sedang ayah melanjutkan perjalanan kembali menuju little house on the prairie keesokan harinya disertai sms, total odometer menunjukkan 1889 km sampai rumah, sambil bilang “tuh sudah bisa sampai Kalbar tuh”…haha teuteup si ayah masih penasaran. Ok yah, lain kali kalau liburnya panjang kita susuri Kalimantan ujung yang belum tersentuh kita…sabar aiiii… hehe…





Tugu Perdamaian, Tanjung Selor (Kaltara)

22 12 2016

20161223-052405.jpg

Sepulang dari Derawan, di Tanjung Batu, ayah bertanya…gimana kalau kita lanjutkan petualangan kita? Mari kita vote dulu, mau ke Tanjung Redeb (ibukota Berau) atau Tanjung Selor (Ibukota Kaltara) ? Ternyata mayoritas penasaran dengan Kaltara…markimon, kita lanjutkan petualangan mumpung sudah berada di utara Kalimantan.

Dari Tanjung Batu ke pertigaan Tanjung Batu-Tanjung Selor-Tanjung Redeb sekitar 2 jam, dari pertigaan tersebut menuju Tanjung Selor juga sekitar 2 jam. Sekitar jam 13.00-an kami sampai di Tanjung Selor. Begitu tiba disambut dengan jalan lebar dua arah dan deretan perkantoran pemerintahan tapi sepi banget. Baru agak mendekati arah Sungai Kayan mulai terlihat keramaian, ada pasar induk yang kebanyakan menjual produk Malaysia, ada tempat makan (ini yang paling dicari sepanjang perjalanan karena sudah lapar berat), dan ada sungai tentunya 😀

Kami mencari tempat makan mengandalkan google map, katanya sih tempat makan paling top. Setelah pesan ini itu, eh ternyata beneran top loh….top lamanya dan top mahalnya ..hiks. Setelah makan, googling tempat wisata dan tanya sama warga sekitar terrnyata kebanyakan tempat wisata jauh dari pusat kota. Akhirnya kami hanya jalan liat seputaran tepian Sungai Kayan dan berfoto di Tugu Perdamaian.

Kami memutuskan tidak menginap disini karena mengejar waktu, cuti ayah yang sebentar aja…jadi lebih hemat waktu jika kami menginap di Berau di banding Bulungan. Jam 16.00 kami pun memutuskan balik ke Berau….iseng banget cuma numpang makan siang di sini wkwkwk. Yang menarik perhatian krucil selama di Kaltara adalah plat kendaraan yang masih menggunakan plat Kaltim. Selain itu yang paling menarik adalah hutannya yang masih lebat…ini baru keren *sepuluh jempol*.





Derawan, Berau

22 12 2016

20161222-072334.jpg

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ayah dan saya melakukan perjalanan nekat menembus hutan menggunakan mobil jeep tua menuju Derawan. Kenapa saya bilang nekat? Karena selain sepi, ketika itu jalannya rusak parah, lebih banyak kubangan lumpurnya dan memakan waktu yang lumayan lama untuk bisa tembus ke tujuan dan kami lakukan hanya berdua yang ketika itu membuat orang-orang yang kami jumpai dijalan heran, berani juga kami melakukan itu.

Tujuan petualangan akhir tahun kami kali ini sebenarnya bukanlah Derawan, tapi kota lain di ujung pulau. Tapi setelah mempertimbangkan waktu dan jarak, akhirnya kami memutuskan untuk mengulang petualangan kami sepuluh tahun lalu dengan team yang lebih komplit bersama krucil kami. Kami ingin menujukkan tempat-tempat yang sering kami ceritakan kepada krucil, agar mereka bisa melihat dan merasakan sendiri serunya petualangan ayah bundanya dulu serta menikmati keindahan hutan yang dilalui dan menakjubkannya kepulauan Derawan.

Singkat cerita, setelah menempuh waktu 16 jam menembus hutan yang sekarang lebih banyak berubah menjadi kebun sawit serta terhentak-hentak di speedboat, kami tiba di Derawan sekitar jam 11-an siang. Begitu tiba apa yang dilakukan krucil? Melototin perairan yang berada di depan kamar kami. Kami menginap di salah satu cottage yang letaknya menjorok ke laut…jadi kalau mau melihat satwa laut ya cukup nongkrong depan kamar. Setelah melihat laut, mereka langsung ngajak ayahnya berenang. Tapi kami paksa makan dulu, baru deh boleh berenang.

Makanan di Derawan serba 25rb, entah hanya kami aja atau memang segitu harganya. Nasi goreng 25rb, nasi kuning 25rb, ikan tergantung ukuran 25-50rb, ayam goreng/bakar 20-30rb/potong tanpa nasi. Lumayan menguras kantong selama di Derawan ya urusan perut ini…4 orang x 3 waktu makan = *nangis* TT

Lupakan urusan perut, liat ke dalam air yang jernih, indah banget dah…walau tetap sih menurut ayah dan saya lebih indah sepuluh tahun lalu. Dulu penginapan yang menjorok ke laut bisa dihitung, hanya 3-4 aja…sekarang semua berlomba-lomba bikin menjorok ke laut yang walau sebagai konsumen terasa menyenangkan dari bangun tidur sampai mau tidur bisa ngeliat laut tetap aja ada efek negatif dari ini semua. Kebanyakan air kamar mandinya langsung dibuang ke bawah alias ke laut, coba bayangkan berapa banyak sabun,detergen,shampo yang mencemari laut. Efek kumulatifnya menurut saya (ini menurut saya loh sebagai orang awam), ya mencemari dan merusak kehidupan laut yang ironisnya justru menjadi andalan wisata di Derawan. Contoh paling keliatan sih, sudah mulai keliatan sampah di dasar laut, ada beberapa bungkus plastik yang saya lihat.

Tapi bagaimanapun, krucil saya happy. Mereka tidak jemu-jemu nongkrongin laut dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Mereka heboh banget ketika melihat ikan berseliweran, penyu mondar-mandir depan kamar sedang sibuk memakan rumput laut, ikan-ikan yang berdatangan ketika mereka melempar roti, bahkan melihat lionfish, starfish dan sebagainya cukup membuat suara mereka serak teriak-teriak kegirangan. Berenang seharian, istirahat mandi, makan, sholat…lanjut berenang lagi walau bagi saya sih mereka cuma main air bukan berenang beneran…hehe..

Bagi ayah dan saya yang sudah pernah kesini, rasanya pengen meneruskan penjelajahan dengan island hopping ke pulau sekitar seperti Sangalaki, Kakaban dan Maratua apalagi dapat tawaran yang lumayan menggiurkan dari supir speedboat. Sayang krucil sudah terlanjur jatuh cinta bersnokeling dan memberi makan ikan di spot favorite mereka sehingga tidak tertarik diajak ke pulau lain. Baiklah kalau begitu. Next time kita kesini lagi ya krucil, sekalian kita explore pulau dan tempat lainnya 🙂





Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe 🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…





Saung Angklung Udjo, Bandung

28 07 2016

20160728-091040.jpg

Saung Anglung Udjo ini letaknya dekat dengan rumah waktu kuliah di Bandung, sama-sama di Padasuka. Saking dekatnya, jalan kaki kurang 5 menit sudah sampai di Saung Angklung ini. Dulu sih saya gak ngeh dengan tempat ini karena pagarnya masih tertutup seng dan bambu, cuma sering liat bis-bis besar hilir mudik keluar masuk tempat ini.

Saya baru mulai ngeh dengan tempat ini ketika sahabat saya yang suka hunting foto minta ditemenin ke tempat ini. Dari rumah jalan kaki, lalu masuk …gak pakai bayar tiket karena gak liat letak loketnya, selain itu tidak bertemu petugasnya. Mungkin kami disangka warga sekitar yang memang ketika itu bebas keluar masuk tempat ini. Begitu sampai di dalam pas banget dengan jam pertunjukan, jadi bisa nonton gratis…berkah banget deh dapat yang gratisan bagi mahasiswa…hehe *colek om Anto*

Sudah sedari dulu saya berniat mengajak krucil menonton pertunjukan angklung di tempat ini, tapi selalu ada halangan…ya gak punya kendaraanlah, ya waktu mepetlah, dsb. Baru tahun ini akhirnya kesampaian juga mengajak krucil ke Saung Angklung Udjo…itupun gak sengaja karena setelah berkunjung dari rumah saudara, kami berniat nengok rumah eh kena macet dimana-mana. Si ayah yang kakinya sudah pegel banget menginjak kopling akhirnya mengajak istirahat dulu di Saung Angklung ini.

Saung Angklung ini lebih cihuy sekarang, parkirannya luas, adem dan ada restonya juga sekarang. Ketika nanya-nanya sama petugas, ternyata pertunjukan pagi (jam 9 atau 10) sudah selesai tinggal sore jam 16.00 nanti baru ada lagi. Sembari istirahat, ketemuan sama sahabat yang dulu mengajak saya hunting foto ditempat ini. Lalu dia kirim foto keren ke saya dan atas ijinnya, saya boleh pajang fotonya di blog saya. Foto diatas hasil karya sahabat saya itu Sudarmanto Edris yang berawal dari hobi motret sekarang jadi photographer handal.

Kembali ke cerita Saung Angklung, akhirnya kami bisa mengajak krucil menonton pertunjukan angklung juga. Beli tiket 70rb/dewasa, 50rb/anak…lumayan juga, tapi kata si ayah lebih baik bayar mahal nonton beginian daripada ke tempat bermain. Tiketnya unik, berupa kalung berbentuk angklung plus brosur sinopsis. Awalnya karena gak ngeh apa guna sinopsis tersebut, satu brosur sinopsis kami kebuang, padahal ternyata itu berguna untuk mengambil welcome drink yang bisa milih air mineral atau ice cream…hiks hiks..

Pengunjung Saung Angklung ini 60 % domestik, 40% mancanegara. Pertunjukan terbagi beberapa segmen, awalnya pertunjukan wayang golek, lalu anak-anak bernyanyi, bermain angklung dan menari. Lalu giliran yang senior-senior yang bermain angklung. Permainan angklung ini tidak membosankan loh, musiknya yang asik-asik loh.. ada lagu Beatles, Semi Jazz, Marimba, bahkan klasik seperti Hungarian Dance no 5…keren yah. Krucil kami bahkan terkesima dan tidak berkedip sepanjang pertunjukan. Kemudian pengunjung dibagiin satu persatu angklung, diajari cara memainkannya…lalu dengan instruksi mulai bermain musik bersama. Terakhir anak-anak kecil masuk lagi dan memilih pengunjung untuk bermain dan menari bersama di depan. Kata krucil kami, Saung Angklung Udjo keren…seruu, kapan-kapan kesana lagi ya kita, ajak mereka. Oke deh …





Farmhouse, Lembang

28 07 2016

20160728-114911.jpg

Kalau De’Ranch tahu dari baca, nah kalau Farmhouse ini tahu dari pernah liat foto-foto cantik teman-teman yang berada di Bandung. Dari penampakan foto sih kayaknya tempatnya wokeh nih (penampakan foto yang diingat hanyalah rumah hobit), walau saya lupa lagi apa aja yang bisa diliat di Farmhouse ini. Kebetulan lagi waktu jalan menuju De’Ranch, ditengah jalan melihat Farmhouse ini tapi karena krucil keukeuh mau ke De’Ranch dulu, jadi Farmhousenya dilewat dulu…cuma sempat baca iklannya di pagar Farmhouse kalau ada makanan disini.

Setelah berhasil menyeret paksa krucil dari De’Ranch, muka mereka mendung kelabu semendung langit Lembang yang memang terlihat bermega mendung..halah. Untuk menyenangkan hati mereka dan memang kelaparan juga, si ayah mengajak kami nyari tempat makan yang asik. Dan teng teng…saya lalu teringat Farmhouse yang sebelumnya kami lalui dan seingat saya dipagarnya tertulis harga makanan mulai 20rb…yuk ah kita kesana aja.

Dengan ekspektasi awal bahwa tempat tersebut adalah rumah makan…agak kaget juga kami ketika hendak parkir dihentikan oleh petugas dan disuruh membayar tiket masuk sebesar 96rb untuk berempat. Waduh…ini rumah makan atau apaan sih? Maklum belum sempat googling, hanya ingat foto teman di rumah hobit…jadi yang kepikiran rumah makan bernuansa ala-ala farmhouse gitu…hahaha…

Tiket masuknya lagi-lagi bisa ditukar dengan segelas susu dalam berbagai varian rasa. Lembang memang sejak dulu kala terkenal dengan susu murni. Lalu kami bingung nih…kemana dulu, lalu security nunjukin arah…kesono yang baru, sini yang lama tempat petting zoo. Di tengah hujan gerimis, kami agak kebingungan karena salah masuk tempat, dikira sejenis restoran bertema unik eh malah masuk arena permainan lagi. Baiklah, kita liat petting zoo aja kalau gitu, ada apaan sih di situ.

Begitu melangkah ke petting zoo…matahari langsung terbit di wajah krucil, cerah ceria dan bahagia. Ya ya ya…disitu ada berbagai jenis hewan yang bisa diberi makan. Jadilah harus merogoh dompet lagi, beli wortel 4 biji = 20rb (beli sampai 2x) untuk memberi makan kelinci dan domba, beli makanan ayam 5rb, lalu beli botol susu 20rb/botol (beli 2 botol) untuk menyusui anak sapi. Untungnya sudah sore banget ketika kami di petting zoo ini, kelinci sudah mulai dimasukkan kandang, hujan mulai tambah deras…jadi agak terselamatkan isi dompet.

Eits, gak bisa bernafas lega karena krucil mulai nemu tempat asik baru. Mereka penasaran menjelajah seluruh Farmhouse, hanya sempat ke jembatan cinta yang berisi gembok-gembok bertuliskan nama-nama pasangan. Sayangnya (untung bagi ayah bundanya) belum sempat lebih melangkah lebih jauh sudah keburu hujan deras. Masuk salah satu toko disitu, nanya ada jual payung gak? Ditawari jas hujan, jadilah kami berempat bagai power rangers…keluar toko berubah penampilan dengan jas hujan warna warni bertuliskan floating market…haha…sesuatu.

Beli jas hujan ini yang aman cuma baju, celana dan sepatu tetap basah kuyup terlebih si ayah membolehkan krucil hujan-hujanan. Si bunda (saya) selalu melarang krucil hujan-hujanan jadi begitu dapat permit dari ayahnya, krucil happy banget hujan-hujanan menggunakan jas hujan. Gak mau diajak balik ke mobil, baru setelah celana dan sepatu kami basah kuyup dan menggigil kedinginan, baru bisa diajak balik mobil. Di mobil baru deh terasa penderitaannya, celana plus sepatu basah dan gak bawa baju ganti, gak ada sandal pula, kedinginan (walau ac mobil dimatikan, hawa Lembang tetap menusuk sukma..hehe), perut keroncongan, eh pulangnya terjebak macet pula…nelongso. Waktu kejadian menderita banget rasanya, sekarang kalau diingat lagi jadi lucu…hahaha.. seru…





De’Ranch, Lembang

27 07 2016

20160728-073010.jpg

Saya dan krucil saya kalau dirumah suka menonton acara-acara petualangan atau traveling dan juga membaca buku atau majalah yang membahas tentang tempat-tempat wisata (tempat-tempat indah). Suatu ketika kami pernah membaca tentang wisata yang ada di Bandung, salah satu yang paling diingat krucil adalah bermain cowboy-cowboyan di De’Ranch.

Itu sebabnya ketika kami ke Bandung, krucil meminta agar ke “tempat cowboy-cowboy-an”…haha. Setelah silaturahmi ke keluarga, kami pun mengarah ke Lembang…lagi-lagi pemilihan waktu kurang tepat, menjelang weekend jalan ke Lembang sudah mulai padat walau belum macet…baru saat pulangnya kami terjebak macet.

Sayangnya karena sudah kesiangan, ketika kami sampai Lembang hujan mulai turun. Susah payah membujuk krucil agar tidak usah aja ke De’Ranch, next time aja karena hujan turun, takut sakit. Negosiasi lama dengan krucil, akhirnya kami bikin perjanjian, krucil hanya boleh bermain sebentar disini karena hujan. Kalau sakit, gak usah merengek-rengek pusing dan tidak akan ada acara jalan-jalan lagi…mereka deal. Baiklah…yuk masuk…

Tiket masuk murah meriah, 10rb/orang (kalau gak salah, terlalu banyak tempat yang dikunjungi jadi lupa harga-harga tiket masuk). Tiket masuk ini nanti ditukar dengan satu cup susu segar dengan berbagai pilihan rasa sebagai welcome drink. Tempatnya asik sih…ala-ala ranch cowboy, tapi karena hujan dan dingin jadi kurang bisa dinikmati. Rupanya tiket masuk itu hanya untuk masuk doang, di setiap wahana permainan harus bayar tiket lagi.

Disini krucil kami bermain Gold Hunter, tiketnya 20rb/anak. Lalu ketika hujan agak reda, mereka menunggang kuda, tiketnya 25rb/orang. Menunggang kuda disini seru deh, penunggang kuda disediakan jaket dan topi ala cowboy dan tempat untuk selfi-selfi yang ala-ala cowboy. Krucil menunggan kuda mengelilingi lapangan besar, yang dari cerita mereka sih melalui kandang kambing juga…wuiihh seru.

Sebenarnya ada banyak wahana permainan lain, seperti memerah sapi (sudah tutup karena sore), memanah , melukis gerabah, dsb…namun karena hujan, kami mengajak krucil balik ke Bandung yang menyebabkan krucil menangis, walau bolang bagaimanapun mereka masih anak-anak…haha. Don’t worry anak-anak, masih banyak tempat menarik lainnya kok. Dan this is it, keluar De’Ranch mobil basah…selain karena hujan juga karena gerimisnya krucil…hahaha