Rahmat International Wildlife Museum & Gallery

7 07 2018

Dapat info bagus banget nih dari teman saya, katanya ada museum bagus punya ayahnya Ralline Syah, namanya Rahmat International Wildlife Museum & Gallery. Selain dapat info eh diantarkan ke tempatnya pula (tengkyu jeung…kecup kecup). Awalnya saya pesimis kalau sejenis gallery bisa menarik, apalagi menarik untuk anak-anak seusia krucils yang gampang bosenan…walau krucils seleranya juga anti mainstream Sudah begitu beli tiketnya, mahal pula lagi untuk ukuran sejenis museum, kan museum biasanya terjangkau rakyat jelita, eh ini seharga beras 5 kg …alias 50rb/dewasa, 40rb/anak. Untunglah sedang beruntung…hmmm, kalimat apapula ini?

Dalam rangka ultah Medan, dapat diskon 10rb/tiket…yippie, lumayan untuk beli es teh. Begitu masuk…terlihatlah binatang-binatang yang diawetkan dan tampak nyata. Kan ada juga binatang yang diawetkan tapi bikin serem…nah kalau ini ya biasa aja kesannya, seperti binatang aslinya aja. Binatang-binatang ini dikelompokkan sesuai kategorinya, misalnya kucing-kucingan, serangga, binatang yang hidup di rawa, binatang air, dsb. Bagus dan menarik banget untuk anak-anak apalagi krucils saya yang suka banget memperhatikan keterangan nama binatangnya.

Ada juga night safari. Apaan tuh night safari, jadi kita masuk dalam sebuah ruang gelap yang disertai suara-suara binatang liar di alam, seperti auman singa, pekikan burung hantu dan lolongan serigala. Awalnya bikin kaget dan takut, sueeer…apalagi kami satu rombongan dengan beberapa remaja saat melakukan safari. Begitu mau masuk langsung terdengar auman singa, eh tuh remaja lari terbirit-birit keluar bikin kami jadi kaget dan takut juga. Setelah nanya penjaga loketnya gpp, masuk lagi eh gak kenapa-kenapa sih…malah seru berasa dialam liar…haha. Sayangnya bundanya sedang diare, mules-mulesnya muncul lagi…jadi gak bisa lama-lama, buru-buru mengajak krucils balik hotel yang membuat krucils kecewa dan mengajak agar keesokan harinya kembali. What? Kapan-kapan ajalah ya …yuks markimon…daripada bunda mules di jalan kan bisa barabe

Advertisements




Tjong A Fie Mansion

7 07 2018

Salah satu pertimbangan saya memilih hotel yang utama adalah letaknya dekat dengan tempat wisata selain review pengunjung yang bagus. Tapi kalau diantara 2 pilihan review atau letak, saya lebih memilih letak. Begitu buka maps, keliatan…city center dan dekat wisata (kalau perlu bisa ditempuh dengan berjalan kaki). Biasanya kalau di Agoda akurat banget (bukan iklan berbayar, suer). Nah kalau menurut maps sih hotel kami letaknya city center, dekat wisata terutama Tjong A fie mansion, walau saya juga gak tahu apaan sih Tjong A fie Mansion itu. Ternyata lumayan jauh juga dari tempat wisata, karena jalan di pusat kota Medan banyak yang satu arah jadi harus mutar dulu. Beruntung selama berpetualang kali ini bertemu keluarga dan sahabat yang mau mengantar ke tempat-tempat wisata…kecup semuanya

Kembali ke Tjong A Fie, rupanya Tjong A Fie adalah immigrant China yang turut berperan serta dalam pembangunan kota Medan. Itu sebabnya rumah peninggalannya dijadikan semacam museum. Tiket masuknya 35rb/orang, beruntungnya karena sedang Ultah kota Medan didiskon 5rb/orang sehingga cukup membayar 30rb/orang. Biaya segitu sudah termasuk untuk tour guide, ada guide yang menjelaskan tentang bagian-bagian rumah. Rumahnya besar dan berarsitektur China Melayu dan menarik bagi krucils saya. Dan yang terpenting, rumah ini bagus banget untuk spot foto narsis bagi emaknya krucils apalagi dibantu foto oleh seorang bapak yang niat banget ngarahin gaya kami agar hasil maksimal.





Museum Uang Sumatera

7 07 2018

Urusan museum-museum, krucils saya jagonya. Tahu aja museum dan letaknya yang bahkan bagi warga lokal belum pernah kedengaran. Mereka meminta teman saya mengantarkan kami ke Museum Uang Sumatera. Tempatnya nyempil dipojokan Gedung Juang. Tiket masuknya 10rb/orang dan masing-masing dapat souvenir berupa uang koin Kesultanan Palembang 1659-1825 (asli loh katanya), yang membuat krucils saya girang banget. Krucils saya memang anak Milenial dengan selera old school, hobinya yang antik-antik

Rupanya museum ini dikelola oleh komunitas pecinta uang kuno (laah saya juga pecinta uang, uang merah khususnya hehe), jadi bukan museum milik negara walau berada di gedung milik pemerintah. Selain itu tempatnya juga kecil dan dipojokan. Mungkin itu pula sebabnya, museum ini sepi dan tidak diketahui oleh warga lokal, yang tahu malah wisatawan menurut keterangan penjaga loket.

Isinya sih cukup menarik bagi krucils saya, mereka antusias melihat isi museum. Bertanya ini itu, menunjuk ini itu, foto ini itu. Plusnya adalah ada guide yang menemani sehingga kami bisa bertanya langsung pada guidenya mengenai sejarah uang-uang tersebut. Cukup banyak pengetahuan yang didapat krucils disini. Ok anak-anak…mari kita lanjutkan keliling kotanya.





Istana Maimoen

7 07 2018

Dulu sekali, waktu adek saya menikah di Medan dan baru ada sulung saya yang ketika itu masih berusia kurang lebih setahun, kami pernah ke Istana Maimoen. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa bungsu saya pengen banget ke Istana Maimoen ini, selain mungkin dikiranya istana ala princess Pokoknya kalau sulung sudah, bungsu biasanya gak mau kalah. Baiklah, mumpung sudah ada di pulau Sumatera …mari kita lanjutkan petualangan.

Begitu kami sampai Medan, salah satu sohib saya menawarkan dirinya jadi tour guide. Hari kedua di Medan pun kami berkeliling diantar teman saya ini, termasuk ke Istana Maimoen ini. Tiket masuknya 10rb/orang. Istana Maimoen ini penuh banget dengan turis, mau foto ke arah manapun ada aja turisnya, harus sabar-sabar aja kalau mau dapat hasil foto yang maksimal. Istananya nampak lumayan besar, begitu masuk…ternyata yang dipakai untuk wisatawan hanyalah ruangan kecil yang berupa Singgasana Raja, Kursi Raja, beberapa lukisan dan cermin. Sisa bangunan lain masih dipakai anggota kerajaan dan orang berjualan (kebanyakan berupa penyewaan baju adat). Agak kecewa sih melihatnya, ekspektasi kami dalamnya seperti museum lah dengan beberapa peninggalan kerajaan.

Di depan, dekat areal parkir, ada meriam puntung. Bangunannya tertutup dan didalamnya ditutupin kain-kain berwarna kuning. Untuk masuk meriam puntung ini pengunjung dipungut biaya 3rb/orang. Apa sih meriam puntung itu? Menurut hikayat puak Melayu Deli, meriam puntung adalah penjèlmaan dari adik Putri Hijau yang berubah menjadi meriam untuk mempertahankan istana dari serbuan Raja Aceh setelah pinangannya ditolak oleh Putri Hijau. Saking panasnya moncong meriam terbelah dua, satu bagian terlontar ke Tanah Karo, satu bagian lagi disimpan di Istana Maimoen.





Mesjid Raya Al Mashun

6 07 2018

Mesjid yang merupakan bangunan peninggalan Sultan Deli ini adalah salah satu mesjid yang cantik menurut saya. Cantik warnanya dan juga arsitekturnya. Kalau digabung dengan latar langit cerah, pas banget. Jadi tidak salah kalau mesjid ini menjadi salah satu ikon kota Medan. Letaknya juga tidak berjauhan dengan Istana Maimun.

Kami ke mesjid ini kebetulan di hari Jumat. Begitu melangkah, yang pertama terlihat banyak penjaga berpakaian coklat-coklat, kata teman saya sih salah satu tata cara ke mesjid ini yang diperhatikan adalah aturan berbusana pengunjung, seperti tidak boleh bercelana pendek, wajib memakai jilbab, dsb. Ya karena sudah menjadi ikon kota jadi mesjid ini memang banyak turis saya lihat (terlihat dari selfie-selfieannya).

Satu lagi yang saya suka, penjaganya ramah-ramah loh. Mereka tidak segan untuk menjelaskan tentang mesjid tersebut, bahkan membantu mengambil foto dengan posisi terbaik. Tidak heran hasil fotonya jadi maksimal.





Taman Budaya Riau

4 07 2018

Hari ketiga di Pekanbaru bingung juga mau kemana. Awalnya mau ke Istana Siak, googling…alamakjang, jauh beud dari kota…kurang lebih 2 jam, kalau pp berarti 4 jam kalau gak macet. Capek di jalan aja kalau begitu, padahal kami sedang memulihkan stamina setelah estafet dari satu kota ke kota lain selama beberapa minggu ini. Kebetulan lagi krucils sedang malas bergerak, mereka betah di hotel karena bisa santai-santai sambil membaca buku hasil berburu buku murah di Gramedia yang letaknya tidak jauh dari hotel. Itu sebabnya, tiap diajak jalan sama bundanya, mereka beralasan memang mau kemana lagi? Kan sudah dijelajahi semua bersama sohib-sohib bunda.

Bisa ditebak, kami seharian bermalas-malasan saja di kamar sambil menunggu laundry an diantar ke kamar. Laundrynya murah, hitung kiloan bisa ekspress 4 jam selesai dan diantar ke kamar…wow. Sejauh ini, di Pekanbaru ini yang the best urusan laundry dan hotel. Kembali ke cerita, bosen juga akhirnya dikamar akhirnya iseng-iseng googling tentang kota Pekanbaru. Ahaa! Dapat ide, kenapa kita gak nyobain Trans Metro Pekanbaru aja, ikutin aja kemana jalurnya…kayaknya bisa deh nyampai Museum.

Baiklah…yuks markimon. Sore jam 4.30 langsung buru-buru bersiap-siap dan berjalan menuju halte bis di depan Mall Pekanbaru. Cek rute peta, hmmm…kayaknya kalau mau ke Museum kita harus naik bis no 1 jurusan Ramayana-Pandau. Naiklah dengan pedenya, eh begitu mau bayar tiket ditanyalah mau kemana. Jawab, jl. Sudirman…museum mbak (kondekturnya perempuan). Dia pun bingung, dimana itu museum? Hadeuh, terbukti juga nih kata sohib, disini museum kurang diperhatikan. Nah karena dia bingung, saya juga bingung…nah sama-sama bingunglah kami…haha. Akhirnya dia bilang, depan DPRD? Sulung saya langsung bilang iya. Untung punya anak yang ingatannya kuat, setelah diajak berkeliling seharian kemarin, dia masih ingat kalau letak museumnya di depan DPRD…padahal bundanya aja bingung arah

Bayar tiket bis 4rb/orang, dikasih tahu kondektur turunnya nanti di halte Awal Bros. Di halte Awal Bros kamipun turun, lalu sulung saya bilang kalau museum tuh letaknya diseberang jalan jadi kami harus menyeberang. Tapi behitu diajak melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) krucils saya menolak. Mereka trauma karena kami pernah melalui JPO di depan Mall Pekanbaru, kondisinya serem…jembatannya lapuk. Tapi karena gak mungkin menyeberang dibawah karena jl.Sudirman itu umumnya kendaraannya ngebut, mau gak mau kami harus melalui JPO kalau mau ke museum. Dan kondisi yang sama terulang lagi, JPO Awal Bros ini bahkan lebih mengerikan daripada JPO Mall Pekanbaru. Disana sini berkarat, berlubang-lubang dan kalau diijak berderit-derit. Krucils takut berat, mereka bilang bunda pulangnya kita naik gocar aja biar gak harus lewat JPO lagi.

Begitu akhirnya sampai seberang, eh yang terlihat malah tulisan Taman Budaya Riau. Foto-foto sejenak, lalu muter-muter di dalam area mencari museum. Rupanya museumnya persis di sebelahTaman Budaya, sayangnya sudah tutup. Tapi gak apalah foto-foto di luar aja, museumnya bagus berbentuk rumah panggung khas melayu. Setelah puas berkeliling, waktu sudah menjelang maghrib. Yuk kita pesan gocar aja ke hotel, eh begitu pesan harganya ternyata gak jauh beda dengan naik bis. Kemon krucils, mari kita balik hotel.





Perpustakaan Soeman H.S

4 07 2018

Begitu tahu saya di Pekanbaru, sohib-sohib saya langsung menjemput kami di hotel untuk diajak berkeliling kota Pekanbaru. Mereka sibuk membahas, mau bawa kemana nih emak satu ini…pusing juga mereka karena menurut mereka Pekanbaru tuh gak ada tempat wisatanya. Pekanbaru tuh banyak mallnya coy, gak ada tempat wisata… kalaupun ada tapi jauh dari kota. Orang sini kalau mau wisata ke Sumbar lanjut mereka lagi. Baiklah…

Akhirnya kami berkeliling kota sambil mereka menjelaskan nama tempat atau daerah, menunjukkan ikon-ikon kota seperti Kantor Gubernur, kantor DPRD, dsb disertai kabar kota dan banyak kabar masa lalu kami Salah satu tempat yang berbentuk unik adalah gedung Perpustakaan Soeman H.S yang berbentuk alas baca Al-Quran dan sekilas mirip buku yang sedang terbuka. Sebenarnya krucils mengajak emaknya baca buku di lantai 2 tapi karena emaknya sedang sibuk bergosip sama sohibnya jadi gak ngeh sama permintaan krucils…maafkanlah emakmu ini ya nak.

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perpustakaan ini sih karena dalamnya kurang lebih sama dengan perpustakaan pada umumnya, yang membedakan hanyalah bentuk bangunannya yang unik. Setelah berfoto-foto dan setelah bergosip, kami pun melanjutkan berkeliling kota Pekanbaru. Btw, thanks ya coy sudah diajak berkeliling kota