Petualangan Pertama Sulung

23 01 2017

20170123-085922.jpg

Sejak awal kami sering mengajak krucil keluyuran adalah dengan tujuan agar krucil kami bisa melihat dunia itu terdiri dari berbagai warna (bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, ras, dan masih banyak lagi). Dengan krucil melihat sendiri, saya tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada krucil bahwa perbedaan itu ada tapi tidak untuk membedakan. Lihatlah dunia ini justru terasa indah dengan berbagai warna tersebut. Ini juga sebagai bekal untuk menghadapi dunia mereka sendiri kelak, harapan kami sih agar mereka lebih mudah beradaptasi, tidak gampang menyerah dan toleran.

Itu sebabnya ketika ada pengumuman dari sekolah bahwa akan diadakan supercamp (di kota lain yang berjarak sekitar 7 jam dari hometown) dengan semangat 45 saya menyuruh sulung saya mendaftar, gak peduli dia nangis-nangis gak mau ikutan…pokoknya harus ikut demi masa depanmu sendiri kelak nak…halah lebay mode on. Mungkin akan terasa berat, tapi kelak suatu hari nanti sulung saya akan mengingatnya sebagai kenangan indah bahwa inilah petualangan pertamanya sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingi. Dan itupula sebabnya saya harus merekam memori ini dalam blog sebagai kenang-kenangan untuk sulung saya kelak.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan masih santai, ayah bunda dan anaknya sama-sama santai. Seminggu menjelang hari kebarangkatan, sulung mulai sibuk latihan ini itu di sekolah dan pulang mulai menjelang maghrib…tapi masih santai. Tiga hari menjelang hari keberangkatan, ada pertemuan wali murid dan guru untuk membahas supercamp dan peralatan yang harus disiapkan. Pulang pertemuan, ayah yang dengan semangat membara langsung mengajak nyari ransel pendaki gunung …hadeuh tepok jidat, memangnya yang mau camping ayahnya atau anaknya sih? Eh mahal pula lagi ransel pendaki gunung itu, baru tahu eike…*manggut-manggut*

Tidak hanya ransel, ayah pun mulai kasak kusuk dengan tenda, sleeping bag, dan printilan-printilannya. Ayahnya sibuk dengan printilan camping, bundanya sibuk nyiapin baju dan peralatan mandi, sementara anaknya masih anteng, santai kayak di pantai. Dua hari menjelang, peralatan harus dikumpulkan di sekolah…giliran sulung yang sibuk ngecek-ngecek ala kadarnya. Dan di hari keberangkatan semua sibuk….selamat bersenang-senang sayang.

Sulung berangkat bersama rombongan sekolahnya naik bis. Malamnya masih belum merasa apa-apa, tapi begitu foto anak-anak supercamp di share di grup WA…hiks hiks bundanya mulai merasa sedih. Tiap hari, selama lima hari, kerjaan ayah bundanya mantengin grup, berharap-harap foto kegiatan anak-anak selama di sana di share ..haha. Gini ya rasanya melepas anak sendirian jauh dari rumah…sedih, kepikiran gimana makannya, gimana tidurnya, apakah kehujanan, kesehatannya, dsb dst dll.

Walau pada awalnya menolak ikutan supercamp tapi begitu dijemput setelah pulang supercamp, meskipun waktu sudah menjelang tengah malam, banyak hal yang diceritakan sulung kepada ayah bundanya…tentang bagaimana regunya memenangkan perlombaan, bagaimana capeknya saat rotasi, bagaimana pengapnya tenda, serunya naik bis yang terasa seperti roller coaster, tentang bikin kulkas ala McGyver bersama teman-teman demi mempunyai minuman dingin, dsb. Dari cerita sulung terlihat betapa dia menikmati semua petualangannya. Ayah bunda memang berharap abang bersenang-senang bersama teman-teman dan menyimpannya sebagai kenangan indah masa kecil abang. Suatu hari kelak, mungkin abang bersama teman-teman abang bisa menertawakan kejadian-kejadian lucu selama camping ini di grup WA atau media social lainnya sambil mengenang dan mengatakan bahwa inilah petualangan pertama abang sendiri…we love you…muah muah..





Balikpapan – Palangkaraya – Banjarmasin

10 05 2016

Long weekend enaknya kemana ya? Tanya ayah yang baru pulang, kira-kira ada job gak yah minggu-minggu ini? Seperti biasa ayah jawab, gak tahu..namanya juga panggilan, ya gak tahu ada job gaknya. Baiklah…siap-siap menghabiskan long weekend bertiga sama krucil di rumah kalau ayah ada job.

Beberapa rencana kemudian disusun, main di pantai sama teman dugemak (dunia gemerlap emak-emak) atau nonton Captain America yang konon gantengnya mengalahkan mas Nunu (Keanu Reeves). Tapi kemudian tokoh superhero realnya muncul beneran dengan membawa kabar gembira sepulang kerja…”yuk markimon, kita berpetualang”… yippie…

Dan brat bret brot…eh brak brik bruklah siapin ini itu. Jejalkan semua…berangkaaattt…

20160511-083540.jpg

# Menuju Tanjung (Kalimantan Selatan), 4 Mei 2016 #

==> Day 1
Sekitar jam 18.00 berangkat dari rumah, sempat berhenti di salah satu bakery untuk mengisi perbekalan di jalan. Di pelabuhan Kariangau ternyata tidak panjang antriannya, tiket penyeberangan Rp 264.000,-

Naik ferry, gak berapa lama ferry berangkat dan satu jam kemudian sudah sampai di pelabuhan Penajam…cuma antrian kapal untuk berlabuh lumayan memakan waktu lama juga. Kami harus menunggu satu jam lagi sebelum akhirnya ferry bisa merapat di dermaga….arggghhh. Baru sekitar jam 21.00-an mobil akhirnya bisa melaju di Penajam.

Selama perjalanan kami tidak berhenti. Di mobil sempat terjadi diskusi, mau makan lagi gak? Semua masih kenyang karena sebelum berangkat sudah makan nasi Padang…ok kita tidak berhenti kalau gitu. Di simpang Kuaro sempat diskusi lagi, nginap di Paser gak? Saya sih pengennya nginap di Paser tapi ayah dan krucil pengen terus aja jadi deh kalah suara, mobil pun meneruskan perjalanan kembali.

Sekitar jam 12-an malam, kami sampai di Batu Kajang. Kami memutuskan menginap semalam untuk meluruskan badan di sini. Kami menginap di Penginapan Awa, seharga Rp 250.000,- permalam. Istirahat dulu biar fit sebelum bertemu jalan rusak…HmmZzzzz…

==> Day 2

Subuh sekitar sholat subuh, kami semua terbangun..siap melanjutkan perjalanan kembali. Sayangnya tidak ada orang penginapan sama sekali di lobby, padahal KTP ayah disimpan pihak penginapan…dicari-cari, gak ketemu. Untunglah ada sesama tamu penginapan yang membantu mencari pemilik penginapan…ternyata pemilik penginapan sedang tidur dirumahnya yang letaknya dibelakang penginapan. Rugi waktu setengah jam-an mencari-cari pemilik penginapan, baru sekitar jam 05.30-an kami melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah Batu Kajang ini jalan mulai rusak parah. Daerah terparah kondisinya daerah perbatasan, ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan sehingga jalur tambah sempit. Dua kali kami berjumpa dengan truk yang susah mendaki dan ngadat ditanjakan. Untungnya ketika ketemu jalan rusak parah ini kondisi kami sudah prima setelah beristirahat semalam. Kami sempat berhenti membeli nasi kuning di sebuah warung di tepi jalan. Sekitar jam 09.00-an akhirnya sampai di Tanjung.

Di Tanjung sempat beristirahat 1 jam dirumah kakek saya dan makan di pasar (nyari sate itik ternyata tidak ada karena bukan hari pasar). Ketika kami sedang makan ikan bakar di pasar, pemilik warung bertanya sedang liburan ya? kok liburan kesini sih ? Baiklah…ini pertanyaan tersusah untuk dijawab…haha. Kami kembali mengisi penuh bensin di Tanjung sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

# Menuju Palangkaraya (Kalimantan Tengah), 5 Mei 2016 #

Beberapa teman sempat kami tanya tentang jalan menuju Kalteng, umumnya mereka menjawab jalan Buntok lebih hemat waktu daripada muter melalui Banjarmasin. Kota Buntok ini merupakan salah satu kota di Kabupaten Barito Selatan (Kalteng) yang berbatasan dengan Tanjung (Kalsel). Nah, melalui jalan inilah yang kami pilih menuju Kalteng. Kami sempat berhenti di Museum Lewu Hante di Pasar Panas, Barito Timur sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

20160510-112920.jpg

Kami berangkat dari Tanjung sekitar jam 10.00-an. Perjalanan Tanjung – Palangkaraya via Buntok ini mulus, lurus dan sepi. Kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan dekat Buntok, makan ikan bakar plus sayur dari rotan…rasanya mantap banget, saya suka banget sayur rotan tersebut.

Setelah makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Kota terakhir yang dijumpai adalah Buntok selanjutnya sepanjang jalan yang terlihat hanya rawa gambut dan awan berarak, jarang bertemu pemukiman. Sehingga kendaraan bisa di pacu dengan kecepatan tinggi…cuma masalahnya jalan lurus, mulus dan sepi adalah bikin ngantuk. Sepanjang perjalanan dua krucil tidur dengan pulas, saya berusaha menahan ngantuk menemani ayah yang nyetir dan tidak mau dibantu gantian nyetir…akhirnya saya ketiduran, gantian bungsu yang nemenin ayahnya nyetir.

Sekitar 16.30 sampai juga di Palangkaraya…nemu peradaban lagi tuh sesuatu banget…hehe. Kami berhenti sejenak di Taman Wisata Kum-Kum, cerita lebih lengkap lihat postingan sebelumnya. Di Palangkaraya kami mengisi bahan bakar lagi sembari buru-buru buka agoda untuk mencari hotel.

Kami memutuskan menginap di Hotel Luwansa dengan tarif Rp 509.000,- permalam setelah krucil pake please-please-an segala meminta agar nginap disitu. Istirahat sebentar di kamar, mandi…malamnya jalan-jalan melihat-lihat kota sembari cari makan. This is it…petualangan hari kedua pun diakhiri dengan tidur nyenyak di kamar hotel…grroookzzZ…

==> Day 3

Tidur nyenyak di hotel yang nyaman itu sesuatu. Setelah semua mandi, krucil dan ayah sarapan di hotel, sedang saya packing barang kembali dan sarapan di kamar. Selesai krucil sarapan, barang-barang kembali dimasukkan mobil. Rencananya kami mau jalan-jalan dulu di Palangkaraya sampai siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Kami memutuskan check out pagi itu juga daripada muter kembali ke hotel lagi nanti malah repot.

Di Palangkaraya kami jalan-jalan ke Museum Balanga, Arboretum Nyaru Menteng, Danau Tahai, Bunderan Besar, Tugu Soekarno, Jembatan Kahayan. Cerita lebih lengkapnya lihat di postingan sebelumnya.

20160510-113108.jpg

# Menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan), 6 Mei 2016 #

Di perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Palangkaraya terjadilah diskusi dalam mobil. Saya ingin kami melalui jalan Buntok lagi untuk perjalanan pulang supaya gak capek. Tapi ayah dan krucil pengen petualangan masih berlanjut, gak seru kalau cepat-cepat pulang kan masih ada dua hari libur lagi, alasan mereka. Jadi mereka pengen perjalanan pulang melalui Batulicin yang artinya harus lewat Banjarmasin dan muter arah ratusan kilometer.

Ayah dan krucil pengen makan nasi kuning di Batulicin lagi, yang kata mereka nasi kuning terenak yang pernah mereka makan…hadeuh. Akhirnya saya setuju kami pulang melalui Banjarmasin tapi via Tanjung bukan Batulicin. Kita liat aja kondisi nanti, kata ayah. Lalu mulailah perjalanan menuju ke Banjarmasin sekitar jam 13.00-an melalui jalan Trans Kalimantan setelah sebelumnya ayah dan sulung sholat Jumat di jalan dulu.

Jalan menuju Banjarmasin ini sih kondisinya bagus cuma bergelombang. Ada jalan yang berupa jalan layang panjang banget disini, dibuat bukan karena jalannya padat tapi karena dibawahnya rawa…seru banget. Jalan menuju Banjarmasin ini tidak sesepi jalan via Buntok, kami sering berpapasan dengan kendaraan lain dan juga berjumpa pemukiman penduduk. Ditengah perjalanan kami sempat berhenti istirahat makan siang di sebuah rumah makan. Lalu berhenti lagi di Jembatan Barito, ikut-ikutan foto narsis karena kami lihat jembatan ini jadi objek wisata…banyak mobil dan motor berhenti dan penumpangnya foto-foto di jembatan ini. Biar kekinian, kami ikut-ikutan foto juga dong, gak mau kalah hehe…

20160510-113336.jpg

Kami sampai di Banjarmasin sekitar jam 17.00 dan sempat beberapa kali berhenti untuk bertanya pada warga lokal tentang sebuah alamat om saya. Kami berkunjung ke rumah om saya sampai jam 20,00 sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan sulung saya memaksa ayahnya agar memilih jalur melalui Batulicin, tapi karena saya sudah capek banget saya minta pilih jalur Martapura aja. Lalu ke Martapuralah kami…disini saya sudah capek banget, akhirnya kami memutuskan mencari hotel. Gak nemu ada hotel, buka agoda…gak dikenal juga Martapura di agoda. Akhirnya kami senemunya aja dijalan setelah muter-muter nyari hotel pada penuh semua (ingat coy, ini long weekend …hotel jadi penuh).

# Menuju Little House on the Prairie, 7 Mei 2016 #

Dengan pertimbangan setelah Martapura sudah desa-desa kecil yang tidak mungkin ada hotel, akhirnya kami muter balik ke arah perempatan Batulicin. Nemu hotel Roditha,seharga sekitar Rp 675.000, permalam….arrghhh diluar anggaran, overbudget. Budget saya untuk hotel maksimal 500rb (kecuali diluar negeri beda lagi hitungannya). Prinsip saya, kalau ada murah ngapain nyari mahal …saya gak perlu gengsi. Tapi kata ayah gpp tidur dihotel mahal sesekali.

Malam itu kami tidur nyenyak dan pulas. Esoknya, gak mau rugi sudah bayar mahal…sarapan harus maksimal dong, makan sampai kenyang…haha. Sarapan di hotel mahal itu ternyata menunya juga maksimal, banyak banget jenisnya, gak mau rugi cicipin semua…haha kamseupay mode on. Setelah sarapan, check out dan memulai perjalanan kembali. Kali ini ayah dan krucil kompak satu suara, pengen lewat Batulicin…saya akhirnya kalah suara, terpaksalah ikut suara terbanyak.

==> Day 4

Start dari hotel sekitar jam 09.00 -an lebih, kesiangan sih untuk memulai perjalanan panjang. Kondisi jalan Banjarmasin – Batulicin padat, beberapa titik rusak tapi so far so good lah…masih bisa ditolerir. Sekitar daerah Asem-Asem istirahat makan siang dan di daerah Tanah Laut isi bahan bakar lagi.

Tiba daerah Pagatan sekitar jam 15.00-an disambut hujan dan pemandangan laut dari jalan raya. Kami sempat berhenti sebentar di pantai Pagatan untuk memberi kesempatan krucil bermain pasir sembari meluruskan badan.

20160510-113539.jpg

Kurang lebih satu jam kemudian tibalah kami di Batulicin, sempatkan isi bahan bakar lagi lanjut check in di Hotel Harmony seharga Rp 350.000,-permalam. Istirahat sebentar, mandi-mandi…lanjut massage di spa yang berada tepat di samping hotel. Ini juga salah satu alasan krucil maksa-maksa lewat Batulicin, karena pengen dipijat ramai-ramai berempat di sini seperti yang kami lakukan pada January lalu..hadeuh. Selama pijat lagi-lagi kami ditanya pertanyaan yang sama ke beberapa kalinya…sedang liburan ya? kok liburan pilih kesini, disini kan gak ada apa-apa. Lagi-lagi ini pertanyaan tersusah untuk dijawab. Intinya selera kami agak berbeda dari kebanyakan orang. Mungkin bagi kebanyakan orang kami kurang kerjaan suka ngelayap ngabisin waktu berhari-hari di jalan untuk menuju kota-kota kecil, karena refreshing ala kami bukanlah melihat keramaian di mall atau sebuah kota. Refreshing bagi kami adalah melihat dan merasakan hal-hal baru. Selesai pijat, cari makan…setelah itu tidur, perjalanan masih jauh…good night …HmmmZzzz

==> Day 5

Seperti biasa, subuh kami sudah mulai kasak-kusuk lagi. Sekitar jam 05.00 check out hotel dan berangkat. Tapi di daerah pasar, berhenti dulu nungguin warung nasi kuning yang sudah diincar ayah dan krucil. Lumayan lama juga nungguin warung ini buka…niat banget kan muter ratusan kilometer dan nungguin warung buka sejak subuh hanya demi nasi kuning…hahaha…sesuatu banget :p

Setelah dapat nasi kuning yang diincar, sekitar jam 06.00 memulai perjalanan pulang. Sempat berhenti di pegunungan karst request krucil karena minta di foto di gua…sambil krucil bermain mencari kerang di pegunungan tersebut. Mencari kerang di gunung? Ngelindur kali? Beneran loh, di pegunungan karst ini banyak kerang-kerang kecil yang kemungkinan berdasarkan analisa sotoy kami dulunya jaman dinosaurus dulu wilayah ini lautan. Tapi jangan percaya deh, namanya juga analisa sotoy…hehe…

20160510-113646.jpg

Perjalanan lalu lanjut lagi sampai akhirnya sampai juga di Paser sekitar jam 11.00 siang. Di Paser kami mampir ke Museum Sandurangas, lalu belanja oleh-oleh di pasar dan membeli cemilan di minimarket plus isi bahan bakar lagi.

Perjalanan kemudian berlanjut lagi sampai Panajam, mampir makan bakso dulu. Sekitar jam 15.00 sampai di ferry. Tiket penyeberangan dari Penajam Rp 269.500.. cuss istirahat di ferry. Tepat jam 16.00 touchdown di hometown…yippie. Lumayan lelah untuk ayah bunda yang faktor usia tidak bisa dibohongin sementara krucil masih full of energy, masih bisa lari-larian sana sini…bener juga kata pepatah, mumpung masih muda banyakin liat dunia. Kalau sudah tua, ada uang tapi tubuh sudah tidak support….haha.

Perjalanan yang ditempuh Balikpapan-Palangkaraya (via Buntok) = 645 km + Palangkaraya-Balikpapan (via Batulicin) = 931 km.
Total yang kami tempuh selama petualangan kali ini ==> 1576 km.
Biaya Hotel selama perjalanan ==> 250 + 509 + 675 + 350 = Rp 1.784.000,-
Biaya BBM selama perjalanan : 125 + 180 + 80 + 125 + 80 ==> Rp 590.000,- (kondisi full dari rumah)
Biaya tiket penyebarangan ferry : 264 + 269 ==> Rp 533.000,-
Biaya lain-lain (makan, minum, nyemil, tiket masuk wisata, dsb) ==> Rp 3.593.000,-
Total Biaya selama perjalanan ==> Rp 6.500.000,-

Dan this is it….petualangan seru kami menjelajah sebagian wilayah Kalimantan. Begitu sampai rumah, yang dilakukan ayah adalah browsing untuk penjelajahan berikutnya… target berikutnya ==> Pontianak, kata ayah…hahaha. Ok deh kaka 😀





Legoland, Johor Bahru

19 03 2016

20160319-062841.jpg

Krucil bangun pagi dengan penuh semangat menyongsong hari yang cerah (halah…) karena tahu hari itu jatahnya main seharian di Legoland. Dari hotel kami jalan kaki ke JB Central, kemudian naik bis jurusan Legoland dan berangkat. Lama perjalanan dari pusat kota (JB Central) sekitar 1 jam…lumayan lama juga sampai-sampai ayah dan krucil ketiduran di bis. Legoland ini tujuan akhir dari bis Legoland, jadi begitu supirnya bilang Legoland, turunlah kami dengan wajah agak bingung…mana Legolandnya? Tanya security, dia bilang terus aja masuk sampai ujung…oalah, Legolandnya tersembunyi hehe…

Ternyata kami kepagian! Legoland baru buka jam 09.00 (kalau gak salah) sedangkan ketika itu masih jam 08.00 …nunggu deh, tapi puas foto-foto di depan logonya karena cuma ada kami saat itu hahaha…sesuatu banget ya. Beli tiket RM 185 / dewasa dan RM 145 / anak. Si ayah malah yang semangat mau beli tiket terusan dua hari, untung aja si bunda yang agak pelita menahannya, cukup satu hari aja yah mainnya 😉

Begitu Legoland buka, belum semua wahana permainan sudah buka. Jadilah setelah main wahana driving school dan boating school, kami makan dulu….makan di dalam arena permainan tuh lumayan menguras kantong juga tapi serunya dalam restonya pun disediakan meja berisi lego, sambil makan bisa main lego. Walau seru, krucil gak betah lama-lama makan, buru-buru mengajak kami ke wahana-wahana permainan lagi. Heran deh, panas-panasan di bawah terik matahari yang menyengat betah banget narik-narik ayah bundanya kesana kemari. Ujung-ujungnya ayah bundanya tepar, duduk-duduk saja mengawasi krucil bermain. Di setiap wahana, krucil meminta stamp (cap) dari petugas dan untuk melengkapi stamp artinya krucil harus ikut permainan semua wahana…gempor to the max TT

Di permainan lego academy krucil lama banget bermain, ngapain sih mereka di dalam? Begitu diintip rupanya sedang bikin program robot lego…disini kami memutuskan menunggu di resto lagi, saking lamanya krucil bermain disini kemudian turunlah hujan. Hujan lebat inilah yang pada akhirnya menuntaskan misi krucil melengkapi stamp. Dengan berat hati krucil diseret paksa keluar dari Legoland, diiringi dengan permintaan krucil “besok kesini lagi ya”…heemmm. Kami masuk ketika Legoland baru buka dan pulang ketika hampir tutup yaitu jam 17.00 (tutup jam 18.00). Di hotel, krucil selalu meminta agar keesokan harinya kami mengajak mereka ke Legoland lagi…”iya nanti ya, kalian nabung dulu dan kalau hasil ujian kenaikan kelas nanti bagus, baru boleh main ke Legoland lagi” …strategi jitu meredam rengekan krucil…hehe 😀





Kebun Raya Balikpapan

12 10 2015

20151012-085325.jpg

Sudah lama kami tidak menginjakkan kaki ke dalam hutan, sudah lama juga krucils gak diajak berpetualang. Mumpung hari minggu kali ini si ayah gak kerja, yuk mari kita jalan…tujuannya Kebun Raya Balikpapan.

Pagi-pagi siapkan bekal krucils untuk dijalan, beli nasi kuning juga sebagai tambahan bekal, dan berangkat. Di jalan mulai bermunculan ide-ide dari krucils sebagai alternatif tema petualangan kali ini. Sulung ngajak mancing aja, bungsu pengen ke Kebun Raya, ayah ngajak ke Batu Dinding yang sedang ngehit di kalangan backpacker Kaltim. Pada akhirnya semua keinginan terakomodasi dengan baik, semua terpenuhi…yippie.

Sesampainya di gerbang Kebun Raya Balikpapan, sulung kami sudah minta berhenti dulu untuk mengabadikan burung Enggang yang sedang terbang di atas pepohonan di kejauhan dan lebah kecil yang sedang mengisap sari bunga di kameranya. Lanjut masuk gerbang disuruh security untuk mengisi buku tamu dulu plus sumbangan sukarela katanya, hmmm…baiklah. Kemudian masuk terus sampai bertemu waduk, sulung langsung menyiapkan alat pancing yang memang selalu stand by di dalam mobil. Mancing beberapa saat sambil mendengarkan suara burung gagak di pucuk pohon dan suara tongeret dari dalam hutan sembari bungsu ngabisin bekalnya.

Berhubung nampaknya tidak ada ikan di waduk, kami pun menyudahi acara memancing dengan melanjutkan perjalanan dengan melihat kebun bunga dan tanaman obat masih di areal Kebun Raya. Puas foto-foto, lanjut kembali ke areal parkir…rencananya sih mau treking masuk hutan. Eh begitu parkir langsung ngeliat ada orang sedang berdiri diam dengan muka menghadap kamera berlensa tele yang panjang banget mengarah ke sebuah pohon, penasaran apa sih yang di potret orang tersebut kami pun ikut mendekat. Rupanya ada seekor burung pelatuk yang sedang bikin sarang dengan mematuk-matuk pohon.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan treking menembus hutan…eh krucils melihat semut yang berukuran jumbo, lebih besar daripada ukuran semut biasa, jerit-jeritlah mereka dan langsung tidak mood meneruskan perjalanan dan ngajak balik ke mobil. Cerita petualangan di Kebun Raya Balikpapan pun diakhiri dengan masuk mobil …hahahaha 😀





KidZania, Jakarta

26 07 2015

20150726-112213.jpg

Sudah dari dulu si bunda berniat ngajak krucils ke KidZania ini. Waktu ke Makassar sempat ke KidZania Makassar…eh ternyata sedang tutup perbaikan. Waktu ke Bandung, hanya numpang lewat di Jakarta. Baru kali ini nih yang benar-benar disempatin untuk main sebentar di Jakarta biar krucils agak gaul dikit 😀

Kebetulan lagi karena masih dalam suasana libur lebaran dan libur sekolah, Jakarta masih lengang ditambah Sudirman gak jauh-jauh amat dari Gambir jadi masih bisalah bertaxi ria. Niat awal sih naik bis, waktu nanya sama pegawai restoran tempat kami makan eh ternyata lumayan ribet juga naik bis. Katanya gak ada bis umum ke sana, kalau mau naik TransJakarta transit Harmony, baru dari Harmony lanjut ke Sudirman…hmmm, kayaknya naik taxi lebih gampang.

Akhirnya naik taxi lah kami dari Gambir tapi ternyata supir taxinya baru 10 hari jadi supir, dia sama sekali gak tahu dimana itu Pasific Place ataupun KidZania…nanya sama kami, sama mawon pak. Akibatnya bisa ditebak, kami muter-muter deh sampai Semanggi, nanya sama orang lewat sama juga gak tahunya. Ketika akhirnya ngeliat polisi berhenti nanya, baru deh tahu arah yang benar…haha, pengalaman lucu dan sedikit ngeselin. Sesampainya di Pasific Place ini sudah jam 17.00-an sore, naik lantai 6 dan beli tiket. Tiketnya mahal bener ternyata, 250rb/anak dan 200rb/dewasa…hiks sudah terlanjur depan kidZania gak mungkin dibatalkan kalau gak mau krucils ngamuk.

Awalnya saya bingung banget nih cara bermain di KidZania ini, krucils masing-masing dikasih cek 50rb untuk dicairkan di bank katanya…waduh maksudnya opo toh, kok ya bunda gak understand gitu. Masuk, nanya sama petugas…mas, gimana nih katanya untuk nyairin cek? Eh dia malah bingung, loh baru datang ya…tanyanya bingung. Laa saya malah jadi ikutan bingung, memang kenapa kalau baru datang…(si bunda masih belum ngeh). Kemudian dia nunjukin sebuah bank kecil untuk anak-anak mencairkan cek yang dikasih untuk modal bermain katanya (si bunda nambah bingung lagi, memang main perlu modal uang ya? selama ini saya pikir main tuh hanya perlu modal dengkul…hehe).

Di bank mainan yang situasi dan kondisinya dibuat semirip mungkin dengan bank beneran ini hanya anak-anak yang boleh masuk, orang tua hanya boleh liat dari luar. Setelah cek cair, masing-masing krucils saya keluar sambil menggenggam uang mainan senilai 50doz. Setelah itu mereka ngajak ke stand Garuda, mereka pengen jadi pilot katanya. Di stand pilot ini mereka disambut sama pramugari berseragam pramugari Garuda beneran, kemudian gelang mereka di scan, disuruh memakai seragam pilot yang disediakan, masuk ruang kokpit…main deh menerbangkan pesawat, lagi-lagi orang tua gak boleh masuk hanya boleh liat dari luar. Keluar dari situ gelangnya discan lagi, masing-masing dikasih dua buah stiker dan uang 10 doz…

Kemudian mereka bermain jadi pembawa acara laporan cuaca di Metro TV, prosesnya sama juga. Gelang di scan, masuk ruang rias dikasih seragam, berdiri depan kamera yang mengeluarkan text yang harus dibaca…mulai deh jadi pembawa acara. Keluar, gelang di scan lagi, dikasih uang 10 doz lagi. Lalu mereka main di Book Factory, bikin buku sendiri dan dapat uang 10 doz lagi. Lama-lama krucils saya langsung ngerti deh tema permainannya, sayanya masih belum ngeh. Keluar dari Book Factory mereka langsung ngajak saya ke bank lagi untuk menukar uang yang mereka dapat dari gaji setiap permainan dengan kartu ATM. Nah, masuk bank mereka ditanya tuh nama orang tua …ya mirip kalau bikin kartu ATM beneran di bank deh. Keluar dari bank mereka mamerin kartu masing-masing, abang gambar kartun cowok, sedang adeknya bergambur kartun cewek…eh ATMnya beneran mirip lagi dengan ATM yang sebenarnya. Sudah gitu kartu ATM ini bisa narik uang yang sudah mereka simpan di bank sebelumnya…ckckck, canggihnya mainan anak sekarang, gak seperti jaman bundanya dulu paling canggih cuma lompat tali…hehe.

Setelah itu mereka mencoba jadi pembersih gedung tinggi, nah yang ini gajinya cuma 5 doz…uangnya langsung discankan ke dalam kartu ATM yang mereka miliki. Terakhir mereka mencoba jadi teknisi mekanik, gajinya paling besar 20 doz dan dapat sebuah kartu sebagai tanda lulus jadi teknisi tapi kerjanya lama juga sekitar 25 menit. Nah uang-uang yang sudah dikumpulkan hasil kerja ini bisa digunakan untuk naik taxi, naik bis atau kendaraan sejenis yang memang ada di arena KidZania, atau bisa dibelanjakan di supermaket mainan, atau ditukarkan di souvenir shop.

Kata sulung saya niat awalnya sih uang yang sudah dikumpulkannya mau dihabiskan untuk naik taxi keliling kidZania. Tapi karena jam tangan si bunda sudah menunjukkan angka 20.00 WIB, bunda langsung nyuruh krucils berhenti bermain…gak tega juga sebenarnya sedang seru-serunya main disuruh berhenti. Kami harus segera kembali ke Gambir karena loker penitipan koper dan barang kami tutup jam 21.00, belum lagi kami ngejar bis ke bandara (letak hotel kami di bandara, biar esok subuh gak ribet nyari-nyari kendaraan ke bandara lagi…pesawat yang kami beli jam 05.35 subuh artinya minimal standby jam 4-an subuh untuk check in). Baru saya ngeh kenapa orang heran kami baru datang bermain sore hari, harusnya kalau mau puas bermain ya dari pagi sudah standby di KidZania. Pada akhirnya uang yang berhasil dikumpulkan krucils ditukarkan di souvenir shop dengan gantungan kunci.

Di taxi krucils saya minta agar kami jangan pulang dulu esok harinya, masih mau main di KidZania lagi tapi besok mulai dari pagi pinta mereka…hehe. Di bujuk bundanya deh…besok kita pulang dulu, nanti lain kali kalau ke Jakarta lagi kita main ke KidZania ya anak-anak. Sampai di Gambir ambil koper dan barang, buru-buru ke Damri…eh bis bandaranya sudah gak ada, bis terakhir memang jam 20.00 dari Gambir…alternatif lain naik travel ke bandara, tarifnya 50rb/orang. Kalau gini caranya sih ya naik taxi lagi deh, hitung-hitungannya kurang lebih sama kalau berempat sih jadi ya lebih enak naik taxi. Nah karena terpaksa naik taxi, gak perlu buru-buru dong…santai-santai lagi deh di Gambir, krucils ke kamar kecil dulu, makan-makan dulu, beli cemilan dulu, baru deh naik taxi ke bandara.

Sampai di bandara, check in hotel, masuk kamar dan kami semua pun langsung tidur nyenyak…ngantuk berat setelah seharian berkelana. Petualangan kita kali ini seru kata krucils sambil tersenyum manis 😀





Monumen Nasional, Jakarta

26 07 2015

20150726-055625.jpg

Pernah ke Monas? Saya tidak pernah ke Monas…kalau lewat sih sering banget karena waktu kuliah dulu (hampir 8 tahun di Bandung), kalau mudik ya ke Gambir Jakarta dulu naik kereta, baru dari Gambir naik Damri ke bandara. Gambir kan tetanggaan aja dengan Monas, jadi kalau niat sih sebenarnya gampang aja ke Monas ini, masalahnya gak pernah kepikiran hehe…

Sekarang sudah beda situasinya dengan dulu, punya krucils harus kreatif dan inovatif (halah, opo toh) nyari hiburan yang edukatif dan murah meriah untuk anak. Hiburan mahal sih biasa, kalau punya banyak uang di kota-kota besar banyak bertebaran hiburan mahal…gak mau biasa, kreatif dong (beuh banyak gaya… hehe).

Jumat pagi kami berangkat dari Bandung dengan tujuan Jakarta, ceritanya mau pulang kampung. Sama sekali tanpa tiket apapun ditangan, tidak kereta dan tidak juga pesawat…sesekali pengen go show aja. Naik taxi dari rumah ke stasiun, sesampai di stasiun wanti-wanti ke supir taxi tunggu ya mas, kalau gak dapat tiket kereta mau ke terminal bis. Eh ternyata ada, padahal pas mau beli malam sebelumnya di supermaket yang konon katanya ada kerjasama dengan PT.KAI katanya tiketnya habis. Yippie, satu tiket sudah di tangan…krucils pun riang gembira karena memang mereka sudah pesan kalau mereka mau naik kereta dari Bandung karena itulah salah satu alasan kenapa kami malah naik kereta ke Jakarta dibanding nyari tiket pesawat via Bandung.

Naik kereta salah satu hiburan untuk krucils, maklum di kampung kami gak ada kereta jadi kalau ada kereta itu bagai berkah banget deh…haha, wajib dicoba. Kami naik Argo Parahyangan dong, andalan ke Jakarta….rasanya masih seperti puluhan tahun lampau (jadi mengenang masa muda dulu), yang sedikit membedakan cuma pemandangannya. Dulu gak pernah liat jalan tol di jalur kereta, sekarang jadi bisa liat jalan tol.

Sampai di Jakarta sekitar jam 10an, masih belum punya tiket pesawat…haha, nekat men. Kemudian simpan koper dan barang bawaan di loker. Loker ini salah satu jenis layanan dari PT.KAI, tempat naruh tas dan barang bawaan. Kalau cuma naruh tas sekitar 2rb/jam, nah kalau kami sewa loker tarifnya 5rb/jam…murah kan, bisa jadi alternatif kalau mau one day city tour dibanding ke hotel, tinggal titip tas aja di loker bisa langsung cuss berkelana. Nah karena niat awalnya mau nyari tiket pesawat malam, pagi-siang mau ngajak krucils jalan dulu liat-liat ibukota negara jadi loker ini pilihan paling masuk akal bagi kami.

Setelah taruh barang di loker, langsung jalan ke Monas (ya karena yang paling dekat dari Gambir). Beli tiket agak bingung, ada 2 loket tempat penjualan tiket masuk Monas. Di salah satu loket tertulis tiket ke Museum, satu loket lagi bertulis tiket ke Cawan & Puncak. Laa jadi aja saya dan ayah berbagi tugas …saya beli tiket ke Museum, ayah beli tiket ke Cawan & Puncak biar cepat. Ternyata kalau beli tiket ke Cawan & Puncak tuh sudah termasuk tiket Museum juga…jadi aja double tiket Museumnya, tiket doublenya di kasihkan ke orang lain…haha, untung aja gak begitu mahal tiketnya. Tiket ke Puncak 10rb/dewasa, 2rb/anak. Sedang tiket ke Cawan (ini termasuk Museum juga) 5rb/dewasa, 2rb/anak.

Museum Sejarah Nasional ini letaknya di lantai dasar, bentuknya diorama-diorama 3 Dimensi tentang kejadian bersejarah di Indonesia disertai sepenggal tulisan tentang cerita dari diorama tersebut…dan bisa ditebak, semuanya dibaca dan diperhatikan serta ditanyakan sulung saya, lama banget nih di museum ini. Naik ke atas museum ini ada cawan…ya cawan aja, kayak teras biasa cuma berangin kencang. Mau ke puncak, antrinya panjang banget nget nget kebangetan, akhirnya saya bilang ke krucils gak usah ajalah kita ke puncaknya ya…ntar aja kalau ke Eiffel…(hacuih, pletak lempar bakiak… belagu lu…hehe).

Saat kami hendak turun dari cawan, bertemulah kami dengan seorang bapak-bapak yang tampaknya salah satu karyawan Monas ini, kepada dia lah kami sempat bertanya tentang puncak sebelumnya. Dia nanya, loh gak jadi ke puncak? “Malas, antrinya panjang…kasihan anak-anak”, jawab ayah. Kemudian dia mendekat sambil bisik-bisik, “kalau mau cepat 100rb”. “Hah?” , dari awalnya ngantuk akibat kena angin kencang di cawan jadi terbelalak kaget tiba-tiba dapat tawaran begitu. “Itu untuk berempat, daripada antri 2-3 jam lagi”, balasnya bisik-bisik lagi. Akhirnya bisa ditebak, walau kami gak suka tuh cara sogok menyogok, suap menyuap…tapi apa daya, demi krucils terpaksa deh pakai jalur beginian, kalau waktu kami banyak aja lebih rela ngantri deh di bawah….hiks sama sekali tidak merasa bangga dan malah merasa bersalah pada orang-orang yang sudah antri, maafkan kami ya.

Naik melalui jalur ini cepat bener memang prosesnya…bisa langsung naik lift dari cawan, padahal aturannya sih tidak boleh. Malah anehnya salah satu penjaga lift di cawan ini seolah-olah tidak melihat kami yang naik lift ke puncak melalui cawan padahal sebelumnya dia sempat menegur kami ketika mencoba ngikut serombongan orang yang naik lift ke puncak melalui lift di cawan, katanya “gak boleh pak, bapak gak tahu ya saya petugas di sini”. Eh giliran bayar lebih aja, langsung diam…Indonesia punya cerita banget deh…

Di puncak Monas ini ada teropong-teropong koin gitu yang bisa digunakan untuk melihat-lihat berbagai tempat seputaran Monas. Setelah dari puncak, turun ke Ruang Kemerdekaan, di sini hanya ruang kosong dengan empat sisi yang tiap sisi ada Proklamasi Kemerdekaan, Garuda Pancasila, peta Indonesia dan sebuah pintu…entah deh pintu apaan. Nah di depan tiap sisi itu ada tempat duduk, kami duduk cukup lama sambil istirahat di sini.

Setelah dari Ruang Kemerdekaan, keluar dan langsung jalan kaki lagi ke Gambir. Di Gambir istirahat makan sambil browsing tiket pesawat untuk pulang…eh sudah habis untuk hari itu, adanya besok subuhnya. Beli tiket pesawat untuk keesokan hari sekalian beli hotel di bandara untuk istirahat malamnya. Nah lega sudah punya tiket dan hotel, perut juga sudah kenyang…sekarang bisa ngajak krucils jalan lagi deh melihat ibukota. Browsing-browsing…ada Galeri Nasional, Museum Gajah di depan Gambir euy. Liat jam..yah sudah sore kemungkinan museum sudah pada tutup. Browsing lagi, nemu info Kidzania di Sudirman tidak jauh dari Gambir. Yuks markimon (mari kita kemon), tujuan pengelanaan krucils selanjutnya KidZania…





Museum Geologi, Bandung

23 07 2015

20150724-053114.jpg

Punya krucils penggemar museum itu wajib banget hukumnya mampir ke museum kalau berkunjung ke suatu kota. Bagi mereka gak afdol banget jalan-jalan ke satu kota tanpa mampir ke museumnya. Di museum ada aja yang bisa diliat, ditanyakan dan di foto mereka. Nah, dari dulu pengen banget ngajak ke Museum Geologi ini, namun baru kali ini berkesempatan mewujudkannya karena seringnya kalau ke Bandung libur lebaran yang artinya museumnya juga tutup libur lebaran.

Sekitar jam 8 pagi kami pun ke Museum Geologi ini. Bila biasanya museum sepi dan lebih banyak dikunjungi pengunjung yang lebih sepuh, berbeda dengan museum ini. Walau masih pagi dan museum baru buka, banyak keluarga-keluarga kecil seperti kami yang mulai berdatangan ke museum ini. Rata-rata keluarga muda dengan dua anak yang datang ke museum ini, mantap…keluarga muda masa kini sudah mulai tertarik ke museum euy.

Tiket masuk 3rb untuk dewasa dan 2 rb peranak, murah meriah dan bermanfaat untuk edukasi anak. Di museum ini rencana awal hanya satu jam molor jadi 2-3 jam! Krucils tea kalau ke museum lupa diri, di halaman museum aja sudah hampir satu jam sendiri. Halaman museum memang di taruh berbagai batu raksasa berbagai jenis, jadi aja krucils berhenti di tiap objek nanya ini apa, itu apa, jepret sana, jepret sini. Belum lagi di dalam museum, banyak banget bebatuan berbagai jenis, rupa dan warna…cocok banget nih buat yang demam batu akik 🙂

Tambahan setengah jam lagi si sulung mengulang-ulang menonton proses awal mula universe…hadeuh. Setiap objek di foto (kebiasaan krucils kalau ke museum, untuk museum ini aja ada seribu lebih foto), tiap ditanya untuk apa sih foto tiap objek, jawabannya…bunda tuh gak ngerti loh perasaan kami…hiks, kalian juga gak ngerti perasaan bunda, bunda kan lapar nungguin kalian hehe :p

Pada akhirnya saya tepar karena lapar dan memilih duduk dipojokan dan membiarkan krucils ditemani ayah keliling museum. Setelah dua-tiga jam kemudian barulah krucils puas keliling museum. Rencana jadi molor dan agak amburadul karena awalnya kalau hanya satu jam saja di Museum Geologi, sisanya bisa ngajak krucils ke Museum Pos yang letaknya di seberang Museum Geologi ini, bisa mampir ke Cisangkuy juga minum youghurt, bisa ke Gedung Sate juga masih di area yang sama. Tapi karena kelamaan di Museum Geologi sedangkan si bunda sudah janjian ketemuan sama para sahabat, akhirnya habis ke museum ini kami langsung ke rumah teman. Untung ayah dan saya belum ngasih tahu rencana awal itu, kalau gak bisa-bisa langsung ditagih ke Museum Pos juga.

Keluar museum, krucils pun riang gembira dengan seribu lebih foto barang-barang koleksi museum yang memenuhi memori card kamera, yang biasanya pada akhirnya ya hanya tersimpan di folder tanpa pernah dilihat lagi oleh krucils (bunda benar-benar gak ngerti perasaan kalian :p)…hehe, yang terpenting sih krucils happy. Sip, yuk markimon (mari kita kemon), saatnya nyari makan di rumah teman bunda yang anak geologi, kalian bisa nanya-nanya disana tentang yang ada di museum plus kenyang juga …hehe 😀