Balikpapan – Palangkaraya – Sampit – Pangkalan Bun – Banjarmasin

5 01 2020

Setiap saya ijin bertualang kepada orang tua saya, ibu saya sering ngomel, “kenapa sih pikiran kalian tuh jalan aja terus”. Hmmm, sebenarnya saya juga gak tahu kenapa…mungkin bawaan orok, memang sudah dari sononya begitu 😂 Tapi setelah saya pikirkan lagi, mungkin karena masa kecil saya dipenuhi oleh novel-novel petualangan karya Enid Blyton seperti Lima Sekawan, Sapta siaga, Trio Detektif eh Trio Detektif bukan karya Enid Blyton ya? Little house on the praire, yah sejenisnyalah pokoknya karena di rumah saya penuh dengan buku-buku dan setiap dapat hadiah ya berupa buku. Selain itu papa saya suka kegiatan di alam seperti mancing ke pelosok hutan, dan yang sering dibawa ya saya anak sulungnya karena adik saya waktu kecil gampang mabuk di jalan. Kalau liburan keluarga, karena tiket pesawat mahal adik saya dan ibu saya naik pesawat…saya dan papa saya yang kebagian naik kapal, jadi sejak kecil sudah terlatih bertualang.

Kebetulan jodohnya sama pecinta alam, anak gunung…si ayah waktu muda suka mendaki gunung. Jadinya ya klop, kalau ada waktu libur ya dimanfaatkan maksimal dengan mengajak krucils bertualang. Mumpung kami masih kuat jalan jauh, mumpung kami masih tahan berjam-jam di jalan, mumpung badan belum ngilu termakan usia, mumpung masih bisa menikmati berbagai makanan aneh walau sekarang sudah mikir-mikir kolestrol juga, mumpung krucils masih mau bertualang bersama ayah bundanya, mumpung krucils belum sibuk dan asik dengan dunia mereka yang pastinya berbeda jauh dengan dunia orang tuanya karena jaman yang berbeda.

Libur akhir tahun biasanya jarang bisa terlaksana karena akhir tahun kerjaan ayah sedang banyak-banyaknya dan memang walau sudah disetujui cuti sejak setengah tahun lalu, tapi sesuai perkiraan menjelang cuti langsung ditahan karena tidak ada orang di kantor. Saya sih woles aja karena memang sudah diprediksi sejak dulu kalau akhir tahun tuh susah dapat cuti. Eh diluar perkiraan, sehari menjelang hari H tiba-tiba dapat kabar gembira…boleh deh bepergian tapi gak boleh jauh-jauh dan harus ready setiap saat kalau suatu waktu dipanggil balik untuk kerja. Yippieee….buru-buru jemput krucils yang sudah start duluan liburan di rumah kakek nenek di Samarinda sekalian ijin bertualang ke ortu. Inilah diari perjalanan kami selama bertualang tipis-tipis…rencana awal mewujudkan impian ayah overland Kalimantan sampai ke Pontianak tapi pada akhirnya kami hanya sampai Pangkalan Bun.

# Menuju Palangkaraya, 24 Desember 2019 #

Kami tiba di rumah kembali tanggal 23 Desember setelah menjemput krucils di Samarinda. Tiba sekitar jam 17.00 sore, sekalian mampir beli perbekalan untuk keesokan di jalan. Di rumah packing-packing, tidur. Sekitar jam 4 subuh semua mulai bangun dan bersiap-siap berangkat, krucils dan saya langsung cabut, ayah sempat mandi dulu. Ketika ferry berangkat adzan subuh berkumandang, kami sholat di atas kapal ferry. Angin bertiup kencang dan dingin, langit masih gelap ketika itu. Setelah sholat, ayah sempatkan tidur dulu di ferry sementara krucils baca buku.

Tiba di Penajam kurang lebih satu jam kemudian, kami tidak berhenti karena bawa bekal lumayan banyak berupa berbagai jenis roti dan cemilan. Kami hanya berhenti untuk sholat di jalan. Sampai Tanjung sekitar jam 13.00. Seperti biasa, kami selalu berembuk dulu, apa lanjut atau istirahat cari hotel atau bagaimana. Saya sih pengennya istirahat di Tanjung, santai-santai aja namanya juga liburan. Tapi saya kalah suara dari kubu ayah dan krucils yang pengen langsung lanjut ke Palangkaraya…alasan mereka masih siang, masih terang…mending terus aja, malam baru istirahat. Baiklah…lanjuuuttt…

Siang itu kami makan siang dulu di warung ikan bakar langganan kami sekalian istirahat dan mengisi BBM. Baru sekitar jam 2 atau 3 siang perjalanan dilanjutkan lagi. Melalui jalur Buntok kami menuju Palangkaraya. Jalannya sih mulus, cuma bergelombang. Banyak banget jalan keriting, yang menyebabkan kami banyak istirahat aja…foto-foto di jalan, sholat dan ke toilet. Karena jalannya slow sangat selow, santai…santai….laaahhh kok malah nyanyi, yah karena jalannya santai kami kemalaman di jalan dan karena kemalaman, jarak pandang ayah terbatas yang efeknya jalannya tambah selow. Akibatnya kami baru sampai di Palangkaraya sekitar jam 9 malam, dan karena kepedean sudah pesan hotel di aplikasi langganan, kami pun check in di hotel yang sudah dipesan dan dibayar itu. Tapi yang terjadi adalah kami ditolak masuk pihak hotel karena katanya belum ada email konfirmasi booking yang masuk ke hotel tersebut. Jadilah satu jam kami bolak balik telp cs aplikasi tersebut dan pihak aplikasi merasa sudah mengirimkan email konfirmasi ke hotel. 2x dikirim oleh pihak aplikasi, 2x juga hotel merasa tidak terima. Dan sayangnya hotel ngotot gak mau terima kami sebelum ada email tersebut. Selama bertualang saya selalu percaya sama aplikasi ini, dari dulu jarang ada kendala…kalau ada kendalapun selalu tetap bisa masuk hotel …hanya kali ini kami terlunta-lunta ditolak masuk ke hotel yang sudah kami bayar untuk 2 kamar.

Akhirnya kami putuskan makan dulu sembari nunggu email masuk, sambil bolak balik telp pihak hotel sudah bisa check in belum? Jawabannya tetap sama, belum bisa masuk karena email belum ada. Bahkan kami tunjukkan email konfirmasi yang kami terima pun pihak hotel tetap gak mau terima kami. Si Ayah akhirnya bete, dia langsung cari hotel lain yang jauh lebih bagus. Bukan apa-apa, saat sudah lelah diperjalanan, sudah mengharapkan kasur empuk malah ditolak masuk hotel yang sudah dibayar itu kan rasanya gondok banget. Tidak ada solusi dari kedua belah pihak. Baru keesokannya saat laporan ke pusat aplikasi, baru ada solusi yaitu booking sebelumnya dibatalkan dan uang akan kembali tapi itu menunggu 24 jam. Dalam setiap petualangan akan selalu ada kejutan-kejutan yang diluar prediksi, siap gak siap, mau gak mau…harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya. Keesokannya kami jadi membahas kejadian tersebut bersama-sama sambil tertawa, padahal saat mengalaminya gondok to the max…kalau sudah dilalui jadi terasa lucu, bayangin aja sudah ngantuk, badan sudah burket semua belum mandi sejak subuh, punggung minta jatah diluruskan dikasur eh malah terlunta-lunta gak bisa masuk hotel 😂

Akhirnya kami beli hotel langsung tanpa aplikasi. Jam 22.30 akhirnya bisa rebahan dikasur empuk itu rasanya luar biasa nikmat…alhamdulillah ya Allah. Setelah sholat langsung pada ngorok …ZZzzzzz

# Menuju Sampit, 25 Desember 2019 #

Kami putuskan agak santai, belajar pengalaman dihari sebelumnya saat memforsir agar sampai langsung ketujuan yang ada kami jadi tidak menikmati perjalanan. Jarak Palangkaraya – Sampit sekitar 222km, Sampit letaknya persis setengahnya ke Pangkalan Bun. Kalau di google ditempuh dengan kurang lebih 4 jam perjalanan. Sebenarnya kalau mau maksain diri sih bisa aja langsung ditembuskan ke Pangkalan Bun hari itu juga cuma ya jadi gak bisa menikmati perjalanan karena fokus pada tujuan.

Jadi kami putuskan kami hanya sampai Sampit hari itu, agar kalau ribet urusan hotel lagi badan masih bugar gak ngantuk. Di hotel santuy dulu leyeh-leyeh, sarapan dulu baru sekitar jam 8 atau 9-an berangkat. Di jalan pun banyak berhenti, kami sempat berhenti cukup lama di Bukit Batu Kasongan. Sampai Sampit sore, langsung cari makan dan hotel. Ayah trauma pesan melalui aplikasi hingga mau gak mau kami bergirlya cari hotel sendiri yang sesuai budget. Di hotel istirahat sebentar yang disambut hujan lebat, malamnya lanjut wisata kuliner mencoba makanan khas Sampit dipinggiran sungai, menunya sayur rotan yang rasanya pahit dan sayur ikan asin yang enak banget.

# Menuju Pangkalan Bun, 26 Desember 2019 #

Jarak Sampit – Pangkalan Bun kurang lebih sama dengan Palangkaraya – Sampit. Kami memutuskan tetap santai…leyeh-leyeh di hotel sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Bun. Waktu tempuh kurang lebih 4,5 jam. Sebelum keluar Sampit kami sempatkan dulu foto di Tugu Perdamaian Sampit. Siang sekitar jam 12.00 tiba di simpangan, kami memutuskan melalui lingkar luar langsung lanjut ke Kumai agar bisa melihat situasi dermaga sekaligus memesan kelotok untuk esok hari. Kami sempat nyasar ke pelabuhan lama ESDP, padahal hujan turun dengan deras dan tidak nampak seorangpun untuk bertanya. Untunglah akhirnya menemukan jalan yang benar. Sekitar jam 13.00 sampai di dermaga Kumai. Disini ayah ngobrol sama petugas, saya dan krucils asik befotoan dan melihat-lihat kelotok yang bersiap-siap berangkat.

Setelah deal untuk pemesanan kelotok keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Bun dan langsung takjub dengan kotanya. Kotanya rapi dan modern. Di Pangkalan Bun kami makan siang lalu lanjut beli perbekalan untuk ke Tanjung Puting di Hypermart, satu yang penting banget di bawa kalau bertualang di tengah hutan menurut saya adalah jas hujan karena cuaca sering tiba-tiba berubah di hutan. Sebelum ke hotel kami sempatkan mampir ke Istana Kuning yang berada dekat hotel. Kami 3 hari 2 malam di Pangkalan Bun, tujuannya berburu foto orang utan di Tanjung Puting. Sulung saya sedang hobi fotographi, dia sedang suka foto hewan di habitat aslinya dan dia jugalah yang membujuk kami agar ke Tanjung Puting ini. Selain ke Tanjung Puting, kami juga diajak city tour sama abang saya..melihat-lihat kota Pangkalan Bun malam hari, melihat waterfront di Kampung Sega, mencicipi berbagai kuliner, dsb. Cerita lebih lengkap tentang Tanjung Puting dan tempat-tempat yang kami kunjungi bisa dilihat di postingan sebelumnya.

# Kembali Menuju Sampit, 28 Desember 2019 #

Hari Sabtu pagi, kami agak santai karena masih kelelahan setelah dari Tanjung Puting. Baru sekitar jam 9 pagi check out hotel dan berangkat menuju Pontianak, tapi sebelum keluar kota kami bolak balik cari stok makanan dan cemilan di jalan. Sebelumnya di hotel yang sama kami bertemu dua mobil berplat serupa dengan kami yang berarti berasal dari propinsi sama, setelah ngobrol malah ketahuan kalau bukan hanya satu propinsi tapi juga satu kota dengan kami. Mereka rombongan dua mobil sedang perjalanan pulang menuju hometown dari Pontianak, dari mereka kami dapat informasi bahwa jalanan mulus dan bisa ditempuh dalam waktu 12 jam (jaraknya dari Pangkalan Bun sekitar 600km). Saat ayah tanya ada penginapan gak di tengah jalan? Mereka jawab ngapain nginap di jalan pak, tembuskan aja cuma 12 jam aja kok. Nah mereka masih muda, ayah kan sudah berumur…harus banyak istirahat.

Sebenarnya kami sudah browsing tentang jalan ke Pontianak ini. Begitu tahu bahwa akan menempuh 12 jam perjalanan yang mana kalau dalam sebuah perjalanan menempuh jarak lebih 8 jam, saya selalu memaksa berhenti ditengah-tengahnya. Berhenti disini adalah berhenti istirahat untuk tidur dan cari hotel….tujuannya supaya menjaga kondisi ayah yang menyetir sendiri, juga kondisi saya dan krucils. Kalau 12 jam berarti ditempuh 2 hari perjalanan, sedangkan ayah harus balik atau setidaknya sudah ada dihometown lagi tanggal 4, yang kalau dihitung-hitung bisa sih, cuma mepet banget. Sejak di hotel saya sudah bilang ke ayah, gak usah memaksakan diri….bisa next adventure lagi ke Pontianaknya. Memang impian ayah dari dulu adalah mengelilingi Kalimantan jalan darat, menggunakan kendaraan pribadi…biar lebih berasa petualangannya dibandingkan kalau naik pesawat.

Namun ayah meyakinkan kami, bisa kok kita teruskan lanjut terus ke Pontianak. Baiklah kalau begitu…yuk markimon. Tapi yang saya bingung kok si ayah santai banget, sudah tahu perjalanan akan panjang tapi kok muter-muter dulu di kota untuk cari makan padahal biasanya cari selewatnya aja. Lebih aneh lagi begitu sudah masuk jalur luar kota, arah Pontianak (arah Pontianak berbeda arah dengan arah pulang)…sudah 100km yang ditempuh tapi gak biasanya jalannya pelan, kadang cepat kadang melambat, tapi lebih sering pelan dan santai sebelum akhirnya bertanya pada kami, yakin kalian ke Pontianak? Laahhh yakin dong, kan tadi ayah juga yang meyakinkan di hotel. Terus ayah hitung-hitung kalender…hmmm sempat sih, tapi kok ayah gak yakin. Laaahhh, piye iki? Si ayah gak pernah ragu kalau sudah punya tujuan, baru kali ini keliatan galau dan ragu.

Ya sudah kalau gak yakin kita pulang aja yah, next trip kita bisa coba lagi, kata saya. Krucils ditanya pendapatnya, serentak mereka jawab lanjut aja. Akhirnya setelah diskusi panjang lebar, ayah bilang kalau kita pulang aja gak kecewa kan? Gak kecewa, cuma kesel…eh sama aja yak 😁…ya udah, balik arah pulang. Tapi saat dipertigaan, untuk menghilangkan gundah gulana si ayah dan untuk mengurangi kekecewaan kami ayah ngajak kami makan siang di Pangkalan Bun. Kita makan siang aja dulu, siapa tahu setelah makan ayah jadi yakin, atau kalau gak kita nginap lagi aja di Pangkalan Bun semalam lagi. Apaa?..wah ini sih si ayah benar-benar lagi galau, belum pernah sejarahnya kami muter balik lagi, baru kali ini. Jadi deh muter kembali ke Pangkalan Bun yang jauh kami tinggalkan sebelumnya. Hadeuuuhh, hari yang gak jelas dan aneh…

Pagi dan siang itu kami hanya bolak balik gak jelas, akibatnya banyak waktu terbuang yang pada akhirnya kami putuskan kalau malam itu kami akan beristirahat di Sampit aja. Pangkalan Bun – Sampit kurang lebih 4 jam, dan karena kami makan siang santai di Pangkalan Bun jadi sampai Sampit sudah menjelang malam. Ayah masih melarang memesan hotel melalui aplikasi, jadilah nyari-nyari hotel sesuai kantong eh hotel yang ada penuh semua karena katanya sudah dibooking sampai tahun baruan. Akhirnya dapat juga hotel malam itu dan semua langsung tidur pulas.

# Menuju Banjarmasin, 29 Desember 2019 #

Setelah sarapan, kami langsung berangkat lagi. Tujuan awal malam nanti istirahat di Palangkaraya, cuma setelah ditimbang-timbang…Palangkaraya-Banjarmasin hanya 4 jam, nanggung juga kalau gak diteruskan akhirnya kami teruskan sampai Banjarmasin. Diperjalanan kami berhenti lama di Betung , beli buah, nongkrong makan durian pinggir jalan, makan siang di Palangkaraya, mampir ke rumah saudara, dsb. Hingga gak heran kami sampai Banjarmasin sekitar jam 22.00 eh nyasar pula nyari hotel yang sudah di booking melalui aplikasi. Lohhh kok akhirnya pakai aplikasi, iya soalnya belajar dari hari sebelumnya di Sampit …susah nyari hotel karena menjelang tahun baru.

Saya malas sebenarnya membahas hotel, karena kami sudah mencoba berbagai jenis hotel. Nah hotel di Banjarmasin ini baru keingat untuk pesan dulu saat di tengah jalan yang sinyalnya hilang timbul, jadi begitu dapat sinyal buru-burulah beli untuk 2 kamar, liat fotonya kamarnya bagus, harganya murah eh pas bayar dapat potongan vouvher pula lagi…jadi hanya bayar 150rb untuk 2 kamar, murah bingit yang langsung menceriakan hati emak-emak irit seperti saya. Saya lupa baca review pengunjung, biasanya sebelum memesan hotel, saya selalu baca review pengunjung untuk mengetahui kondisi real hotel dari pengunjung yang pernah menginap disitu. Setibanya di Banjarmasin, kami nyari hotel ini pake google maps…eh ternyata hotelnya ada banyak yang namanya serupa. Begitu tiba di hotel yang benar…kamarnya sih sesuai dengan foto yang dipajang, minimalis modern cuma terlihat sekali gak terawatnya, jadi kesannya malah kumuh dan bau. Ya karena kami sudah biasa dapat kejutan di jalan selama bertualang, jadi ya reaksi kami sih biasa wae….wesss gpp, wong cuma semalam, lagian untuk hotel seharga 75rb/kamar (harga aslinya sih 250rb/kamar, cuma dapat voucher diskon hingga totalnya cuma 75rb/kamar) itu lumayanlah. Karena salah pilih hotel inilah, niat awal 2 hari di Banjarmasin jadi berubah cuma semalam aja.

# Menuju Tanjung, 30 Desember 2019 #

Di Banjarmasin kami mengunjungi om saya sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanjung. Biasanya Banjarmasin – Tanjung padat, walau jaraknya tidak terlalu jauh tapi karena jalurnya padat, bisa memakan waktu hingga 5 jam. Untungnya saat ngobrol sama om saya, kami diberitahu bahwa ada jalur baru yang masih sepi yaitu jalur Rantau. Berhubung kami semua suka melihat tempat-tempat baru, langsung terpicu rasa keingintahuannya…yuks kita coba jalur baru tersebut. Konon kata om saya, jalur baru ini menghemat 1-2 jam. Baiklah…langsung deh di coba. Jalurnya mulus, sempit dan lebih sepi, tampaknya belum banyak yang menggunakan jalur tersebut.

Saya lupa lagi sampai jam berapa di Tanjung. Yang jelas kami disambut hujan deras, hingga malam itu kami hanya makan di hotel lalu tidur saja tidak blusukan seperti biasa kalau ke Tanjung. Tanjung ini menurut kami surga kuliner, kami biasanya kalau pagi nyari nasi kuning, siang nyari ikan bakar dan sate itik atau paliat. Sayangnya sate itik hanya ada dihari pasar, yaitu Sabtu atau Minggu saja. Untungnya di perjalanan kami sudah bertemu warung sate itik sehingga siang itu sudah kenyang makan sate itik.

# Menuju Hometown, 31 Desember 2019 #

Setelah sarapan, kami santai-santai di kamar. Tampaknya krucils masih belum rela kalau liburannya sudah usai, mereka masih pengen liburan lebih lama lagi hingga saat mereka diajak packing pun masih santuy. Ayah pun tampak malas-malasan, kata ayah ini malam tahun baru loh…ayah malas rame-rame, laah siapa juga yang mau rame-rame ? Kan kita gak pernah ikutan malam tahun baruan. Kalau malam tahun baru biasanya kami malah tidur cuma sering terkaget-kaget karena banyak yang nyalain kembang api.

Sebenarnya saya juga malas balik cepat, krucil masih libur seminggu lagi…sangat jarang kami balik liburan cepat seperti sekarang. Tapi kalau ada anggota team yang ragu untuk meneruskan perjalanan, lebih baik putar arah. Mungkin memang harus bertahap petualangan overland kalimantan kami. Dulu waktu krucils kecil, kami hanya berani sampai Tanjung, lalu maju dikit sampai Loksado, lalu Banjarmasin, lalu maju ke Palangkaràya, lalu sekarang maju dikit lagi Pangkalan Bun, inshaAllah next trip bisa maju ke Pontianak, aamiin. Ambil hikmahnya segala sesuatu memang harus bertahap biar selalu ada target baru untuk dieksplore.

Kami istirahat makan siang di Gunung Halat, perbatasan Kalsel-Kaltim. Dari Tanjung kami sengaja bawa makanan, ikan bakar, itik panggang, ayam panggang, banyak rambutan, sedikit langsat, manggis pesanan papa, kasturi, durian yang bikin mabuk seisi mobil dengan wangi semerbaknya. Di perbatasan kami cari lokasi yang sepi dan bisa lesehan makan. Baru kali ini kami piknik makan, biasanya kalau lapar di jalan yang kami lakukan adalah cari warung terdekat untuk makan. Kata krucils, bunda sudah kayak uci-uci (uci panggilan mereka untuk ibu saya, aka nenek mereka). Ibu saya memang kemana-mana bawaannya banyak banget, makanan, minuman berbagai rupa, bantal, pernah ke Tanjung bawa kasur lipat, bahkan pernah ke Malaysia bawa rice cooker juga, baju hampir satu lemari….kata papa saya kalau bisa mindahin rumah, uci bakalan bawa rumah juga kalau jalan saking banyaknya bawaannya.

Seperti biasa, krucils request main air di Batu Sopang. Di Batu Sopang berhenti lagi main air sepuasnya bahkan kala hujan pun ayah dan krucils masih main air…inilah yang mengakibatkan setiba di rumah sulung demam. Main air hampir dua jam, lalu lanjut perjalanan. Di Kuaro mampir makan bakso, karena pada pusing habis makan lahung di jalan. Lahung itu durian merah, kami hanya menemukannya di dekat-dekat perbatasan Kaltim. Durian ini sudah sangat langka, karenanya krucils saya terobsesi mengkonservasi Lahung …jadi sengaja banget beli Lahung 2 buah supaya bijinya bisa kami bibitkan di rumah, yàng ketika dilihat penjual Lahung dia malah kaget kenapa bijinya kami kumpulin bawa pulang.

Ngomong-ngomong tentang biji buah-buahan, kami sering banget kalau makan buah bijinya kami kumpulin lalu disebar di taman belakang. Di taman belakang rumah kami penuh bibit buah lengkeng, mangga, alpukat, pepaya….cuma karena sering bepergian, kadang ketika pulang sebagian sudah meranggas kekeringan. Kadang kalau sudah dirasa cukup besar bisa dipindah, kami pindah ke tempat lain…cuma ya baru beberapa minggu dipindah tanam sudah mati, atau malah dipotong orang. Kadang kesel juga liatnya, kok pada gak punya jiwa pecinta pohon sih. Halaman depan rumah kami penuh pohon, kebanyakan sih yang survive pepaya. Buahnya gak pernah kami nakan tapi kami suka aja melihat halaman rimbun penuh tanaman. Pernah saya berniat merapikan tanaman, sebagian pohon yang pepaya yang terlalu banyak di halaman saya suruh tebang…eh begitu krucils pulang sekolah dan ayah pulang kantor, mereka nanya dengan nada kecewa, kok ditebang sih? Kan jadi aneh dan panas rumah kita, kata mereka.

Kalau sedang musim buah-buahan seperti sekarang, biji buah yang berlimpah buah sering kami tebar dilapangan kosong atau di jalan-jalan. Kalau bertualang, kami lempar keluar jendela sepanjang jalan…berharap diantara ratusan biji buah yang disebar, satu atau dua biji bisa tumbuh hingga besar dan berbuah. Coba bayangkan, setiap dari biji yang kita tebar tumbuh subur di lahan-lahan kosong atau hutan-hutan…berapa banyak buah-buahan gratis yang tersedia di alam? Jadi saya mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama, mari kita simpan biji buah-buahan yang kita makan, lalu sebarkanlah di jalan, di hutan, di lapangan kosong. Mari kita hijaukan bumi yang mulai panas ini dengan pohon buah-buahan semoga anak cucu kita atau minimal hewan liar bisa menikmati hasilnya kelak.

Kembali ke cerita semula, kami sampai ferry setelah maghrib. Baru kali ini kami merasakan naik ferry super cepat, 30 menit kemudian sudah bersandar. Setelah ditelisik ternyata ferry sedang membawa ambulan. Ambulan ini yang menyebabkan ferry harus segera sampai di seberang, akibatnya kalau biasanya ferry membutuhkan waktu satu jam lebih, sekarang dipangkas 30 menit sudah sampai tanpa nunggu antrian bersandar. Alhamdulillah sampai rumah lagi, walau rumah berdebu tapi home sweet home. Tapi seperti yang diduga semula, malam itu kami susah tidur karena terganggu dengar kembang api yang bersahut-sahutan. Semoga tahun baru, kalender baru… semua lebih baik dari tahun sebelumnya dan petualangan berikutnya lebih seru dan lebih jauh lagi kami bisa melangkahkan kaki melihat bumi ciptaan Allah yang indah ini, aamiin yarobbalalamiin.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: