Orang Utan di Tanjung Puting, Kalteng

3 01 2020

Apa yang anda rasakan begitu sampai ditempat yang diidamkan? Perasaan saya begitu kami sampai di pelabuhan Kumai adalah….yeaaayyyy…joget joget. Alhamdulillah kesampaian juga bisa kesini walau saat itu baru sampai di dermaganya, norak maksimal 😂 Kok setiap sampai tempat tujuan reaksi saya selalu sama? Reaksi saya memang sudah di standardisasi…jadi maklum aja kalau tiap sampai tempat tujuan sering kegirangan sendiri kayak anak kecil dibelikan permen.

Semua orang punya prioritasnya sendiri, punya sesuatu yang dianggap membahagiakan dirinya…ada yang merasa bahagia kalau bisa meñambah koleksi barang, ada yang bahagia dengan koleksi perhiasan, koleksi mobil, dsb. Kalau kami bahagia banget kalau bisa melihat tempat-tempat baru walau untuk sampai ke tempat tersebut butuh perjuangan. Untuk sampai ke pelabuhan Kumai ini kami membutuhkan 3 hari perjalanan dari hometown. Kok sampai 3 hari? Soalnya saya dan si ayah sudah berumur, badan sering pegel maksimal kalau kelamaan duduk diam jadi harus banyak berhenti…maksimal 8 jam kami stop untuk beristirahat. Begitu kendaraan sudah mendekati Pangkalan Bun, kami memilih lingkar luar agar bisa langsung ke dermaga Kumai yang ternyata jalannya rusak parah plus ditambah nyasar pula malah ke pelabuhan ESDP padahal ketika itu angin kencang bertiup dan hujan deras plus belum makan juga. Rasanya nelangsa banget…

Lalu kenapa tujuan langsung ke dermaga Kumai sih, bukannya nyari hotel dulu di Pangkalan Bun? Kami sama sekali gak punya gambaran bagaimana menuju Tanjung Puting…dimana sewa kelotok dan informasi sejenisnya. Memang sebelumnya sempat nanya-nanya tentang kelotok melalui telp hasil nyari di google, tapi kami belum booking. Jadi kalau langsung ke dermaga Kumai, bisa melihat langsung situasi dan bisa tanya langsung ke petugas Taman Nasional Tanjung Puting karena di dermaga Kumai ini ada kantor Tanjung Putingnya sekalgus untuk pesan kelotok. Begitu akhirnya sampai di dermaga, hujan berubah rintik-rintik sementara ayah nanya ke kantor Tanjung Putingnya kami melihat-lihat ke dermaganya. Kebetulan sore itu ada dua kelotok yang sedang bersiap-siap berangkat, sementara banyak kelotok sedang bersandar.

Kami memutuskan untuk sewa kelotok yang dikoordinir oleh petugas di dermaga…harganya 2,6 jt sudah termasuk makan siang, guide, tiket masuk dua camp. Harganya gak bisa kurang katanya…hiks, kalau mau lebih murah sedikit pakai speedboat tapi kami memilih menggunakan kelotok biar bisa santai-santai. Berhubung sedang musim hujan kami disarankan untuk membeli jas hujan plastik seharga 10rb -an di hypermart (yang akhirnya kami pakai di camp Leakey). Dari petugas ini kami baru tahu ada Hypermart di Pangkalan Bun, disitulah kami membeli perlengkapan lainnya jas hujan, cemilan, mie instant, air mineral, dsb. Air panas, kopi dan teh disediakan dikelotok. Jarak dermaga Kumai ke Pangkalan Bun sekitar 12 km.

Singkat cerita …keesokan harinya, yaitu hari keempat petualangan, setelah sholat subuh kami langsung cabut dari hotel menuju ke dermaga Kumai. Kami lupa kalau mau berangkat subuh hari ini jadi lupa beli makanan untuk sarapan pagi ini pada malam sebelumnya karena subuh belum ada warung yang buka. Sebenarnya dihotel dapat sarapan, cuma pada jam 5 subuh bahkan sarapan di hotel pun belum tersedia. Kami janjian jam 05.30 subuh dengan petugas Tanjung Puting kemarin. Sampai tepat jam 05.30 di dermaga ternyata belum ada orang sama sekali, telp lagi petugasnya lalu jam 06.00 mulai terlihat tukang kelotok mempersiapkan kelotoknya, jam 06.30 mulai terlihat petugas kemarin plus guide yang memperkenalkan dirinya bernama Agung.

Setelah semua beres, sekitar jam 07.15 kami berangkat dari dermaga. Perjalanan dari dermaga Kumai menuju camp 1, pondok Tanggui memnempuh 2 jam perjalanan menyusuri sungai. Feeding time di pondok Tanggui 09.00-11.00. Treking tipis 10-15 menit dari tempat kelotok bersandar. Orang utannya banyak sedang makan, kata guide kami…beruntung banget hari ini banyak orang utannya karena biasanya orang utannya di camp ini sedikit, biasanya cuma 2 maksimal 3 …lah hari ini malah banyak, dia sendiri kaget. Kemudian perjalanan diteruskan lagi menuju camp Leakey menempuh 2 jam perjalanan dari camp pondok Tanggui. Semakin menyusuri kedalam sungainya semakin menyempit, bahkan arah menuju camp Leakey ini air sungainya berubah warna jadi hitam karena perbedaan jenis tumbuhan.

Feeding time di Camp Leakey jam 14.00-16.00, paling akhir jam 4 sore semua pengunjung diwajibkan untuk meninggalkan lokasi. Selama berada di lokasi makan, kita diwajibkan untuk silence …jangan berisik, kalaupun mau ngomong harus bisik-bisik agar tidak mengganggu orang utan. Di Camp Leakey ini cuaca mendadak berubah total, dari terik panas menyengat langsung angin kencang, hujan dan petir. Saya punya ketakutan terhadap petir, itu sebabnya ketika petir saya memutuskan menunggu di pondok ranger aja….untungnya ketika itu masih belum jam 14.00, bahkan ranger yang memberi makan orang utan aja masih di pondok sehingga kebanyakan pengunjung memilih berteduh dari hujan di situ juga. Ketika ranger akhirnya bergerak…hujan sudah agak reda dan petir pun sudah tidak ada…alhamdulillah saya jadi bisa ikutan ke feeding location. Trekking tipis sekitar 20 menitan, ternyata di camp ini selain orang utan banyak babi juga. Sementara diatas panggung oŕang utan makan, babi dibawah juga makan sisa-sisa makanan orang utan.

Jam 4 sore yang tersisa hanya kami dan sepasang bule spanyol. Kami memutuskan keluar camp, lalu perjalanan pulang pun dimulai. 4 jam untuk kembali ke dermaga Kumai, matahari perlahan terbenam, angin dingin mulai bertiup, sepanjang jalan bekantan dan warik (monyet) terlihat di pepohonan sepanjang tepian sungai. Ketika malam semakin gelap, kunang-kunang terlihat menghiasi pepohonan dengan kelap kelip cahayanya, genset dan lampu kapal mulai dinyalakan, krucils mulai menyetel film conan di laptopnya. Selama perjalanan tidak ada sinyal, jadi benar-benar menepi sejenak dari hingar bingar dunia. Kelotok-kelotok lain mulai menepi dan besandar di tepian sungai, bersiap-siap untuk posisi tidur….hanya kelotok kami yang masih menyusuri sungai sendirian dalam kegelapan malam. Seru sekaligus ngeri-ngeri sedap, karena tidak ada sinyal sementara sungainya sepi karena memang sungai khusus jalur ke Tanjung Puting yang tidak diperbolehkan kapal lain lewat situ, gelap pula dan sungainya konon banyak buayanya.

Sekitar jam 8 malam akhirnya sampai juga di dermaga Kumai dan ternyata sungainya sedang pasang karena dermaganya jadi dibawah kelotok bagian atas padahal saat berangkat dermaga tingginya sama dengan kelotok lantai atas. Seru banget ….petualangan berkesan buat kami terutama untuk krucils, bahkan sulung saya memaksa agar tahun depan kembali ke Tanjung Puting lagi. Kami memang sengaja memilih untuk sewa kelotok satu hari saja, tidak ambil paket 3 hari 2 malam seperti bule-bule karena pertimbangan waktu. Tujuan utama kami sebenarnya ke Pontianak, melipir ke Tanjung Puting sebentar mumpung lewat, yang pada akhirnya kami malah tidak jadi ke Pontianak karena ayah sudah ditelp kantor suruh supaya cepat balik. Tapi walau begitu kami semua sudah puas dan senang. Alhamdulillah wasyukurillah bisa kesampaian juga ngeliat orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting,


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: