The Jewel, Singapore

22 07 2019

Begitu pesawat kami dari Delhi mendarat di Changi (Singapore), saya pengen buang air kecil. Saya kebiasaan lebih suka buang air kecil di darat daripada di pesawat kecuali sudah gak tahan lagi. Dekat pintu keluar ada toilet yang walau tampak antrian panjang, saya malas mencari toilet lain. Eh begitu mendekat, dekat toilet tersebut ada tulisan besar “Butterfly Garden” yang langsung saja saya tunjukan ke krucils, terutama pada sulung saya yang sedang hobi fotography. Tentu saja mereka senang, jadi nongkrong dulu di Butterfly Garden ini sembari ayah bundanya sibuk mencari penginapan dadakan di aplikasi.

Setelah puas memotret kupu-kupu cantik, krucils mengajak kami ke Jewel, tempat yang sedang hits di Changi. Sebenarnya saat mau ke Delhi kami sempat mencari Jewel ini di Changi cuma gak ketemu. Nah kali ini krucils bertekad harus ketemu apalagi saat itu masih sore, masih panjang waktunya untuk mencari Jewel. Jewel ini letaknya di terminal 3, kebetulan pesawat kami dari Delhi juga mendarat di terminal 3…jadi gak susah mencarinya cuma jalannya cukup jauh juga.

Jewel ini letaknya ditengah-tengah berbagai macam tempat makan. Nah ditengahnya inilah air terjunnya besar sekali dan tinggi serta penuh orang. Hampir setiap sudut ramai dengan orang, baik yang sedang selfie, groupie, maupun cuma memandang air terjunnya saja apalagi disertai backsound musik. Seru sih kalau mau berlama-lama disini menunggu penerbangan berikutnya kayaknya enak, apalagi banyak tempat makan…tapi kami sudah terlanjur memesan kamar yang buru-buru dipesan saat di Butterfly Garden sebelumnya.

Advertisements




Jama Mesjid, Delhi

22 07 2019

Area menuju mesjid ini macet luar biasa sehingga kami harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai mesjid ini. Dan ternyata mesjidnya pun ramai dengan orang, ada yang memang sedang sholat, ada yang hanya duduk-duduk saja, ada juga yang selfie bahkan kami berjumpa dengan anak-anak yang sedang bermain layangan.

Kami berniat melaksanakan sholat di mesjid ini. Begitu kami sampai di pintu masuk, tahu-tahu kami dihentikan oleh seseorang yang memberi kami tiket, kami disuruh membayar 300 rupee/orang dewasa, anak-anak gratis. Yang membuat saya heran adalah dari seฤทian banyak orang yang lalu lalang disitu, hanya kami yang tampaknya disuruh bayar tiket masuk. Apa memang wajah wisatawan diharuskan membayar, entahlah. Setelah mebayar tiket masuk, saya tanya dimana menaruh sepatu? Sebenarnya kami mau membawa masuk sendiri ke dalam seperti orang-orang yang lalu lalang, tapi kemudian kami teringat kalau sepatu kami itu sudah 2 minggu tidak dicuci dan sudah dibawa kemana-mana entah menginjak najis apa dijalan, takut mengotori kalau dibawa masuk selain kami juga tidak membawa plastik untuk tempat sepatu.

Lalu si tukang tiket masuk ini bilang, titip aja ke dia, tidak masalah. Yah namanya ditawari titip ke dia, ya kami senang dong gak perlu lagi bingung naruh dimana dan bawa pake apa ke dalam mesjid. Lalu wudhu tapi sayangnya keran wudhunya gak nyala, yang nyala dipojokan tempat orang-orang mengisi tumbler mereka. Setelah wudhu kami lalu berjalan melintasi ubin yang terasa panas banget di kaki telanjang. Berjalan menuju mesjid, saat saya dan bungsu saya mau masuk lalu dihadang oleh seorang pria yang duduk di kursi yang diletakkan ditengah pintu masuk. Dengan bahasa isyarat saya mempraktekkan gerakan sholat, lalu dia meunjuk pojokan depan pintu masuk. Rupanya tempat sholat perempuan disitu, hanya ayah dan sulung yang diperkenankan masuk mesjid untuk sholat.

Area tempat sholat saya itu persis dipojokan depan pintu masuk, tanpa ada karpet atau sajadah dan mukena. Saya juga tidak membawa mukena ketika itu. Disamping saya ada perempuan muda juga sholat disitu, setelah sholat seperti kebiasaan di Indonesia, saya ajak salaman perempuan tersebut…eh saat hendak melangkah, saya dan bungsu saya malah diajak foto selfie sama perempuan tersebut, berasa artis jadinya. Nah ketika ayah dan sulung keluar mesjid, si ayah memberi uang kepada sulung saya untuk dimasukkan ke kotak yang berada dipintu mesjid. Pria yang awalnya duduk dikursi ditengah pintu ini begitu melihat sulung saya memasukkan uang ke kotak tersebut, tiba-tiba mendehem keras sambil menjulurkan tangannya dalam posisi meminta ke ayah. Awalnya kami cuekin…kami pura-pura tidak tahu lalu berjalan berkeliling mesjid seperti ala turis, namun pria tersebut terus mengikuti sambil mengeluarkan suara-suara keras dan posisi tangan tetap meminta. Karena lama-lama merasa terganggu, akhirnya ayah mengeluarkan uang kecil untuk diberikan pada pria tersebut…bukannya senyum itu pria malah terkesan marah.

Setelah puas melihat-lihat mesjid, krucils saya mengajak balik hotel…mungkin capek setelah seharian jalan ke berbagai tempat wisata. Saat hendak keluar, kami mengambil sepatu yang awalnya dititipkan sama penjual tiket. Eh beberapa orang di dekat situ menagih uang 200 rupee, katanya itu biaya penitipan sepatu. Whats?!!! Gak mau kalah kami bilang kalau kami tadi sudah bayar tiket masuk, eh mereka juga gak mau kalah katanya itu beda lagi…yang ini biaya penitipan sepatu. Lah kenapa saat saya nanya dimana naruh sepatu, dia bilang ke dia aja no problem….kata ayah bunda gak lengkap nanyanya, harusnya nanya sekalian bayar enggak kalau nitip sepatu ke dia ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Saran saya jika hendak ke mesjid ini bawalah kantung plastik untuk membawa sepatu, jangan nanya-nanya dimana naruh sepatu kalau gak mau kena scam.