Ghats Tour, Varanasi

18 07 2019

Ayah sempat jatuh sakit di Agra, demam, menggigil walau semua ac dimatikan, badannya gemetaran dan mencret. Alhamdulillah keesokan harinya sudah membaik setelah istirahat seharian. Saat istirahat itu ayah bilang kayaknya kita salah pilih tempat nih dan salah beli tiket pulang juga. Kami beli tiket pp ke India untuk 2 minggu full. “Kalau bisa dimajukan, majukan ajalah tiket pulangnya”, kata ayah…efek pasca demam si ayah langsung homesick, pengen pulang Kali ini kami beli tiket ke India pakai penerbangan full service, bukan penerbangan hemat seperti biasa kalau bertualang, kalau mau di majukan kayaknya susah, mau dihanguskan sayang banget karena harganya lumayan juga.

Sètelah coba majuin tiket tapi gak bisa, yo weslah….jalanin aja dulu, kita buat happy aja. Ke India ini adalah keinginan ayah, saya dan bungsu pengennya ke Jepang…malahan kami sudah merencanakan dari beberapa tahun lalu kalau 2019 jatahnya si bunda ke Jepang. Tapi ayah keukeuh ke 7 wonders, Taj Mahal…malahan tiap saat pulang kerja selalu nanya, gimana bun sudah beli tiket belum? Saya sih masih mikir-mikir, selain karena harga tiket sedang melambung juga pengennya ke Jepang tahun ini …itu sebabnya tiap disuruh beli tiket masih entar besok, tar sok aja terus. Tapi kalau tiap hari ditanya mulu, akhirnya ya beli juga….biarlah tahun ini mewujudkan cita-cita ayah, tahun depan jatah gue dong… hahaha.

Kembali ke cerita, ketika ayah menitahkan mencari tiket pulang…saya kasih pertimbangan, ayah yang pengen ke India loh masa gitu aja menyerah sih. Hayoo kita berkelana aja menjelajahi India, jangan stuck di satu kota. Masa sudah jauh-jauh ke India hanya ke Taj Mahal tok, kalau gak cocok sama cuaca panasnya atau makanannya ya dibawa hepi aja. Akhirnya ayah nanya ke saya, bunda pengen kemana kalau gitu? Saya bilang, satu kota yang pengen saya datangi banget itu Jaipur…sisanya terserah asal jangan ke kashmir (ayah pengen ke kashmir) karena perjalanannya jauh dan baca-baca katanya oksigen juga tipis (karena sudah dekat himalaya), takut krucils gak tahan. Kalau mau ayo sekalian kita liat sungai gangga di Varanasi, ya memang gak ada apa-apa sih di Varanasi selain sungai gangga…tapi mumpung sudah disini sekalian aja kita liat bagaimana sih sungai gangga itu. Note, kami jarang hidupin tv kalaupun hidup seringnya untuk nonton channel natgeo dan discovery atau movie. Nah di natgeo kan sering ada tentang kebudayaan-kebudayaan gitu salah satunya tentang gangga. Daripada tahunya hanya lewat tv, mending liat langsung di tempatnya.

Baiklah, rencana langsung dibuat, dari Agra ke Varanasi, dari Varanasi kalau sempat ke Mumbai (request sulung), lalu ke Jaipur kemudian Delhi lalu pulang. Kami baru dapat tiket kereta setelah menunggu 3 hari di Agra, umumnya waktu banyak terbuang sia-sia karena susah dapat tiket kereta. Kami salah strategi juga, harusnya begitu sampai India langsung beli tiket kereta ke kota-kota tujuan selanjutnya sekaligus, bukan dadakan. Di Agra kami banyak menghabiskan waktu di hotel saja, malas kemana-mana, kan misi ayah ke Taj Mahal sudah terlaksana

Begitu sampai Varanasi, hujan. Berbeda dengan kota lainnya di India yang panasnya super, di Varanasi seringnya hujan…malahan tiap hari hujan walau udaranya panas juga bikin keringatan tapi karena hujan ya tidak sepanas kota lainnya. Menginap di hostel backpacker yang menyediakan berbagai tour, kami memilih mengikuti Ghats Tour seharga 350 rupee / orang. Serunya tour ini adalah kami bersama rombongan diajak jalan kaki, ditunjukkan dan diceritakan sejarah temple yang dilalui, dikasih tahu nama-nama tempat, lalu diajak ke tepian sungai gangga. Dari situ lanjut naik perahu menyusuri gangga, lalu berhenti di gusung (sejenis pulau pasir ditengah sungai gangga). Di situ menunggu acara seremoni dimulai, lalu lanjut naik perahu lagi ke Dashawarmath ghat untuk melihat kremasi (pembakaran mayat) di tepi sungai gangga. Di tempat ini kami dilarang mengambil foto atau merekam prosesi oleh tour guide. Banyak sekali mayat yang dibakar, umumnya pake kain berwarna cerah karena katanya bisa masuk surga jika menggunakan kain berwarna cerah. Wanita juga jarang ada, karena katanya kalau wanita menangisi mayat tersebut…mayat itu akan tertahan tidak sampai ke surga (ini semua penjelasan tour guide kami). Nah di dekat kremasi berlangsung tersebut banyak sapi yang sedang memamah biak juga beberapa anjing yang sibuk menggonggong.

Kami juga melihat mayat utuh yang tidak dibakar tapi ditenggelamkan begitu saja ditengah sungai, konon kata tour guide kami itu holly body biasanya berupaya mayat wanita hamil. Ayah bertanya kenapa gak ngapung tuh mayat, kata tour guide karena dalamnya sudah dikasih batu atau pemberat. Lalu ditutup dengan melihat nyanyian dan tarian di kuil pinggir gangga yang katanya ditujukan untuk sungai gangga, acara ini selalu ada setiap malam setiap hari sebagai persembahan untuk sungai gangga. Setelah itu balik hotel, lelah banget rasanya. Secara keseluruhan seru juga melihat kebudayaan yang berbeda secara langsung, ayah bahkan lupa sama homesicknya

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: