Taj Mahal, Agra

17 07 2019

Sèhari di Delhi, kami melanjutkan perjalanan ke Agra. Tujuannya apalagi kalau bukan salah satu dari 7 wonder, Taj Mahal. Di Agra kami menginap di hotel yang berada di area Taj Mahal, hanya sekitar 600 meter dari Taj Mahal, kalau jalan kaki sih kurang lebih 15 menitan. Dan karena berada di area Taj Mahal, dimana konon kendaraan umum dilarang masuk…jadi enaknya ya emang jalan kaki karena jalanannya dibuat nyaman untuk pejalan kaki. Walau katanya sih tidak boleh ada kendaraan umum masuk, tetap aja tuktuk nongkrong disini.

Kami tiba di Agra sekitar jam 4 sore waktu India. Istirahat sebentar dikamar, lalu memutuskan kayaknya enak nih cuaca sorenya sedang tidak terik, agak mendung kelabu…gimana kalau kita jalan-jalan sore melihat situasi seputaran hotel, sekalian melihat kondisi loket masuk Taj mahal yang konon antara loket tiket sama pintu masuk jauh dan antri panjang. Kalau sudah tahu dimana letaknya kan besok pagi gampang, gak perlu nyari-nyari lagi…begitu pertimbangan kami.

Tujuan awal sih jalan sore aja, sekalian olahraga karena kelamaan duduk di taxi selama perjalanan dan melihat situasi, itu sebabnya gak ganti baju…ini penyesalan saya sih, niatnya mau foto-foto keluarga yang keren di Taj Mahal eh malah pake baju ala kadarnya…si ayah malah pake celana pendek doang Kembali ke cerita, saat keluar hotel… security hotel mewanti-wanti kami agar jangan membawa tripod kalau mau ke Taj Mahal….laa kami kan gak niat ke Taj Mahal dulu sore itu, cuma mau jalan-jalan jadi dicuekin tuh warningnya security hotel. Lalu saat sedang jalan gitu kami bertemu sama 3 orang polisi India yang sedang duduk-duduk, mereka langsung menghentikan langkah kami…kata mereka no tripod allowed. Laah kan memang gak mau masuk Taj Mahal, cuma mau jalan sore sekitaran Taj Mahal aja. Akhirnya mereka bolehin kami jalan lagi asal nanti tripodnya masukin loker…baiklah.

Sulung saya memang sedang hobi fotography, itu sebabnya ribet banget dah dengan urusan kameranya. Dia sedang sibuk foto-foto dan merekam, karena itu jalannya lambat banget…jadi bagi tugas, si ayah nemenin sulung sedang saya dan bungsu saya sudah jalan agak jauh di depan. Beberapa orang nyamperin saya nawarin jasa guide, ya saya cuekin dong wong selama ini kami gak pernah pake guide-guidean…enakan jalan sendiri berasa lebih bebas dan irit juga gak perlu bayar guide

Saya gak tahu kalau jauh dibelakang saya, suami saya malah ngobrol sama salah satu guide yang awalnya nyamperin saya itu. Begitu sudah dekat loket tiket, baru saya sadar ternyata si ayah sedang jalan sama guide…lalu bilang ke saya kata si guide jam segini bagus nih masuk Taj Mahal karena lebih sepi dibanding pagi atau siang, mana gak panas juga. Hmm…akhirnya mikir-mikir ok deh kita masuk aja sore ini, sekarang atau besok kan bakalan masuk ke Taj Mahal juga, kalau memang sepi ya apasalahnya sekarang aja. Nah saat mau beli tiket ini si ayah dilema, antara pake jasa guide atau enggak. Saya sih nehi, malas aja gitu masa ngiterin tempat wisata harus dipandu…mana asik. Kalau sendiri kan mau berlama-lama melototin satu tempat juga tenang aja. Mungkin merasa gak enak sudah terlanjur ngobrol panjang lebar sama tuh guide, akhirnya ayah bilang sesekali kita pake guide ajalah…hitung-hitung sama dengan bayar tiket masuk krucils.

For your information, tiket masuk Taj Mahal itu 1250 rupee / person untuk foreigner. Anak dibawah usia 14 tahun free. Kebetulan krucil saya walau badan bongsor masih di bawah itu usianya, jadi krucils gratis masuknya. Yang bayar hanya saya dan si ayah. Guide ini minta upah 1500 rupee, lebih mahal dari harga tiket. Saya tawarpun dia gak mau karena katanya rate standard pemerintah…kalau gak bawa uang tunai nanti bisa dicharge pake kartu kredit di tempat mereka. Nah konyolnya saya adalah saya langsung menyimpulkan “mereka” yang dimaksud ini adalah pihak pemerintah atau otoritas resmilah, ya kan gak mungkin perorangan punya alat charge kartu kredit. Padahal ternyata bukan…nanti dijelaskan diakhir siapa “mereka” ini.

Si ayah orangnya suka gampang iba, itu sebabnya dia memutuskan yo weslah kita pake jasa guide ini yang memang nempelin kami mulu jadinya sejak diajak ngobrol si ayah. Memang enak sih ternyata pake guide …kami tidak buta cerita tentang tempat tersebut. Dia jelaskan sejarahnya, dia carikan tempat-tempat foto yang bagus plus bantuin foto juga karena kan gak boleh bawa tripod jadi gak bisa foto berempat tanpa tripod. Guide ini juga merangkap pengarah gaya foto lumayanlah dapat banyak foto walau hasil tidak maksimal karena hari sedang mendung, jadi pencahayaan kurang. Daripada bayar tukang foto yang banyak di dalam Taj Mahal, tarifnya 100 rupee / 1x jepret.

Singkat cerita karena sudah sore banget dan kami termasuk turis terakhir yang berada disitu, sampai saat masuk makam Mumtaz gak berapa lama sudah diusir suruh keluar karena sudah mau tutup…ternyata tutupnya tuh jam 6.30an lah, la kami disitu sampai jam 7 malam …gak heran disuruh keluar. Komplek Taj Mahal ini luas banget, kaki saya sampai pegel jadinya. Saat sudah keluar, saya mau cepat balik ke hotel…lelah banget rasanya, selain efek perjalanan panjang Delhi-Agra juga. Eh sama guide kami diajak masuk ke toko cenderamata dekat situ, sementara dia menghilang katanya sih mau ambilin tripod kami yang dititip ke temannya. Begitu masuk toko, disuruh duduk…lalu penjual tersebut ngomong kalau dia juga muslim seperti kami, lalu menjelaskan tentang marmer yang katanya sama persis dengan marmer yang dipake di Taj Mahal, kualitas no 1 dan bla bla…malas banget saya dengarinnya dengan demonstrasi menyorotkan senter ke marmer untuk membuktikan keaslian marmernya dan sebagainya…yang karena lelah saya langsung ngomong kalau kami gak berminat beli apapun di Agra. Perjalanan kami masih panjang, ngapain juga belanja marmer. Dia pikir memangnya kami sejenis Obelix yang kuat gotong-gotong batu kesana kemari eh namanya juga penjual, pinter dong marketingnya…dia jawab kalau kami gak perlu gotong-gotong, biar entar dia paketin langsung ke Indonesia…alamakjang, harus jawab apalagi nih.

Kami keukeuh gak tertarik, akhirnya dia nawarin souvenir-souvenir kecil yang harganya tetap wow. Minimal beli magnet kulkaslah katanya, ketika ditanya harganya 1000 rupee…whats?!!!! Magnet mah biasanya murmer, ini masa 1000 rupe, kalikan 200 aja sudah 200 ribu padahal kurs kan lebih mahal dari 200 nehi la yaw. Kami bilang kami capek, ngantuk, mau balik hotel. Dia maksa, kami lebih maksa lagi. Akhirnya muncul lagi guide kami membawa tripod sulung saya, dia bilang kalau gak ada yang menarik di toko itu dia bisa bawa kami ke toko lain…idih, nehi nehi. Kami tuh travelholic bukan shopaholic. Guide itu juga bilang kalau kami gak bawa uang tunai untuk bayar dia, bisa pake kartu kredit di charge di toko itu…ya ampun ini toh maksudnya tadi. Saya langsung ngeluarin uang tunai yang tinggal segitu-gitunya daripada ribet urusannya diajak ke toko lainnya…mending sudahin secepatnya. Masalah uang tunai mah gampang, entar tinggal cari atm atau money changer.

Sepanjang perjalanan balik ke hotel, kami ditempelin penjual-penjual souvenir yang nawarin magnet kulkas, entah dapat info darimana atau muka saya emang muka kolektor magnet kulkas. Biasanya saya suka tuh beli magnet, tapi sejak kejadian di bawa ke toko souvenir itu saya jadi bete, hilang mood…walau tuh penjaja magnet kulkasnya nawarin 50 rupee / biji, lalu karena dicuekin jadi sale 50 /3 biji, masih dicuekin lalu sale besar-besaran 50/7 biji…tetap gak saya gubris. Keburu kezel… kezel akutu…hahaha. Baru saat dikamar hotel saya menyesal, waduh tuh penjaja magnet jual murah napa saya gak beli yak…wkwkwkw, penyesalan selalu datang terlambat


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: