Hutan Mangrove BSD, Bontang

4 02 2019

Suatu ketika kai mengajak krucil ke Bontang, tentu saja begitu mendengar kata berpetualang krucils semangat 45 terlebih karena mereka lengket sama kai. Sayangnya tiap wiken krucils ke Samarinda dengan harapan bisa ke Bontang, selalu gagal …kadang kai ada acara, kadang uci gak enak badan, kadang kata uci kesiangan (uci gak mau pergi siang-siang), dsb. Kebetulan minggu ini ada hari kejepit, sebenarnya krucils sudah dibujuk bundanya untuk bolos aja senin, nanggung…Sabtu, Minggu dan Selasa libur masa Senin gak sekalian libur (apah? Dasar mamak-mamak tidak bertanggung jawab …plak, timpuk pake pisang goreng…wkwkwk). Untungnya anaknya gak mau bolos, great job, didikan bunda memang bagus (eh kok malah muji si bunda pada akhirnya)

Tahu kalau krucils kecewa karena batal terus, akhirnya kai uci memberi persetujuan agar kalian pergi aja sama ayah bunda. Yeap, akhirnya jadi juga ke Bontang…yippie. Ke Bontang itu sesyuatu bagi ayah bunda. Ada berjuta kenangan di kota ini, kembali ke kota ini seperti flash back kenangan lama. Awal-awal menempuh hidup berkeluarga ya kami lakukan di Bontang ini sebelum berpindah ke kota lain. Hamil dan masa bayi sulung sampai dia berusia 1 tahun, ya di Bontang ini. Dulu Bontang tidak ada mall, tempat makan juga hanya warung-warung…tidak banyak hiburan, tenang banget untuk kehidupan berkeluarga. Itu sebabnya saya sempat menangis ketika meninggalkan kota ini.

Kembali ke cerita, sebenarnya ayah ada jadwal ngejob makanya awalnya maju mundur, ke Bontang atau gak ya. Baiklah, setelah mikir-mikir akhirnya yuk ah…kita jalan aja dulu, kalau nanti ada panggilan tinggal balik arah. Baru jam 8-an berangkat dari rumah karena kelamaan mikir selain ngantuk juga. Sampai di Samarinda sekitar jam 11-an, istirahat di rumah kai sebentar. Jam 12-an lanjut jalan lagi…sempat ngisi BBM di dekat Badak, eh saat di SPBU baru liat kalau ban belakang robek…akhirnya berhenti dulu sholat sekalian ganti ban. Ternyata tukang tambal ban sedang laris manis, jadi ngantri. Lumayan lama juga nih ganti ban sebelum meluncur kembali. Dan ternyata jalan menuju Bontang tuh rusak sodara-sodara…banyak lubang sana sini belum lagi banyak truk. Singkat cerita kami sampai sekitar jam 17.00 di Bontang, kok lama? Iya karena mampir dulu di tugu katulistiwa sama makan di salah satu tempat makan kenangan di perkebunan karet.

Sebelum nyari hotel, kami mampir dulu ke rumah kami di Bontang, bertemu tetangga-tetangga dan pak RT kemudian jalan kaki ke pujasera tepi laut yang berada dekat banget dengan rumah. Selama jalan saya cerita ke sulung tentang masa kecilnya disini, ini nih bang tiap pagi dan sore kita jalan kaki kesini…diujung sana ada pujasera tepi laut dengan pemandangan pabrik. Eh pas sampai si bunda bingung sendiri, kok jadi banyak pohon gini jadi pemandangan pabrik PKTnya ketutup. Eh tapi diujung pujasera nampak banyak orang keluar masuk, karena kepo saya datangi…eh tulisannya pemancingan. Krucils saya ajak masuk gak mau, yo wes lah…balik arah lagi.

Malamnya ketika ketemuan sama teman-teman ayah, kami dapat info bahwa ternyata di BSD itu ada wisata mangrove, ya masuknya lewat pemancingan itu…cuma jauh masuknya cerita teman ayah. Jiwa mamak-mamak petualang langsung tertantang, wah kudu dijajal nih. Jam berapa bukanya? Sekitar jam 8-an jawab teman-teman ayah. Baiklah, squat jump persiapan otot betis memutari mangrove yang konon treknya jauh banget itu. Esok pagi, krucils santai banget, mereka pikir bisa seharian muter-muter Bontang…hadeuh nak, rumah kita itu 6-7 jam dari Bontang loh, kalian gak ngitung perjalanannya Sekitar jam 9-an baru start dari hotel, akhirnya karena banyak yang dituju…bagi tugas. Si bunda ngajak krucils ke mangrove, ayah ke tempat pak RT lagi sekalian mengunjungi teman-teman kerja ayah dulu yang rumahnya di dekat-dekat situ juga.

Sulung ragu dengan kemampuan bundanya, dia mau ikutan ayah aja …wkwkwk. Sulung ngotot, bunda kita salah arah, bukan disini mangrovenya. Hadeuh, masalah cari tempat petualangan tuh bunda sudah khatam, tenang aja kalian. Dan jeng jeng, dengan gagah berani ala komandan pleton, si bunda jalan di depan menyusuri pemancingan. Saat nemu loket pemancingan nanya biar gak sesat dijalan,”pak, benarkah disini tempat wisata mangrove?”…dan jawabannya melegakan si bunda yang sok kepedean, “benar bu…lurus aja terus sampai nemu penunjuk arah”. Baiklah, si bunda menjawab dengan tenang dan elegan padahal dalam hati joget-joget lega, yess gak nyasar…

Melewati pematang pemancingan yang dari tanah lalu mata kami bersirombok dengan tulisan penunjuk arah menuju mangrove, Yeaaayyy…foto-foto dulu di gerbangnya. Tiket masuknya 7500/orang, cuma karena saya gak punya 500-an dan penjaga loket juga gak punya, jadi dapat diskon 500 rupiah. Alhamdulillah. Saat kami masuk masih sepi, selain kami hanya ada satu keluarga juga. Jadi kami masih bisa foto-foto cantik. Muter-muter sampai ujung eh ada tempat makan di pinggir laut yang menghadap pabrik, kali ini pemandangan tidak terhalang pohon. Pesan cemilan sembari krucils beristirahat, eh tetiba ayah telp, minta jemput. Ayah, kami masih di dalam loh, sudah pesan makanan pula dan sudah dibayar pula tapi makanan belum datang. Akhirnya ayah bilang, yo wes…ayah jalan kaki. Baiklah ferguso…

Eh saat makanan baru datang, ayah telp lagi. Ayah sudah di depan nih, dompet ayah kebawa abang…ayah gak pegang uang sama sekali untuk bayar tiket…wkwkwk, ada-ada aja si ferguso. Sulung bilang nanti abang ke depan, eh kemudian bundanya mikir…waduh ntar nyasar gimana, gak usahlah. Cepat aja makannya, kita pulang aja…krucils protes, gak mau. Mereka maksa supaya masih disitu dulu, cuma jemput ayah aja baru masuk lagi. What? Akhirnya makan ngebut, jalan cepat menuju pintu keluar sampai sendal bungsu putus eh dari kejauhan ngeliat ayah diantara rombongan yang baru masuk. Loh ayah kok bisa masuk? Minjam uang sama orang ya? Atau ada receh-receh di celana? Ayah geleng-geleng. Ternyata ayah masuknya ngutang dulu sama loket….wkwkwkwk, anda luar biasa ferguso.

Kami agak lama disini walau musiknya kencang banget dari berbagai arah. Krucils hepi, mereka manjat rumah pohon, hunting foto, dsb. Tujuan ke Bontang memang untuk menyenangkan mereka. Sayangnya beberapa tempat yang sudah direncanakan akan dikunjungi batal didatangi karena waktu yang mepet. Sebelum pulang sempatkan mampir di rumah uni saya, kemudian langsung pulang. Intinya, mangrove BSD di Bontang ini bagus, mirip dengan Kum-Kum di Palangkaraya, hutan yang diubah menjadi tempat wisata keluarga dan tempat makan. Sayangnya musiknya terlalu keras menurut saya, yang justru menghilangkan esensi menikmati alam.

NB : Jika ada yang masih penasaran bagaimana nasib hutang tiket masuknya si ayah, tenang saja…begitu kami keluar, sudah kami bayar dengan uang 10rb dan karena penjaga loket masih tetap tidak punya uang 500an, jadi kami ikhlaskan 500nya…yang kalau dihitung-hitung pada akhirnya saya gak jadi dapat diskon 500 perak

Advertisements

Actions

Information

2 responses

23 04 2019
olle

baru landing di blog ini.
seru dan menarik petualanganya
salam kenal dari saya olle relawan spartan.
apasih relawan spartan itu ?
spartan kepanjangan dari squad pariwisata kalimantan.
saya tertarik dg blog ini,yg mengupas pesona alam indonesia.

bila berkenan, saya ingin mengajak diskusi soal pariwisata kalimantan..
terimakasih min

Liked by 1 person

29 04 2019
advanture

hai, salam kenal…terima kasih sudah berkunjung di blog kami dan saya senang ternyata ada komunitas penggiat wisata di kalimantan.

Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: