Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura

15 01 2019

Yeaaayyy, Lok Baintan…*joget-joget dulu*

Kami sering banget bulak balik ke Kalsel, tapi gak pernah kesampaian untuk mengunjungi Lok Baintan ini. Selain karena waktu yang mepet (karena biasanya kami ke Kalsel saat libur kejepit yang hanya beberapa hari), sering kebangun siang, ditambah susah nyari lokasi. Sekarang berkat maps semua jadi gampang…efek positif perkembangan teknologi.

Petualangan kali ini diniatkan ke Lok Baintan (kalau bisa). Info teman katanya naik perahu seharga 300rb-350rb, info dari sumber lain katanya 400rb. Siplah, gak terlalu mahal kalau dihitung berapa orang yang bakal naik. Namun tampaknya papa alias kainya krucils keberatan kalau harus naik perahu (kelotok) karena kami tidak bisa berenang. Kai khawatir sama cucu-cucunya. Ada yang gak harus naik perahu, kita cukup di pinggir sungai aja kata kai, letaknya depan patung bekantan. Hmm, walau gak seru…tapi oke lah. Malamnya saat gugel-gugel, eh konon yang depan patung bekantan khusus di hari Minggu saja, sedang dihari-hari lain tetap yang naik kelotok itu.

Malamnya berembuk sama kai, kai keukeuh tidak mau naik kelotok….kita cari jalur darat aja, bisa kok kita lihat dari atas jembatan aja di Martapura itu. Baiklah, akhirnya gugelmen beraksi menunjukkan direction menuju Lok Baintan jalur darat. Subuh-subuh sekitar jam 4, kami kasak kusuk bangunin krucils dan mulai jalan sekitar jam 4.30 subuh. Duh dibawa ke daerah luar kota yang sepi dan gelap…lalu nemu petunjuk kecil dekat sebuah jembatan bertuliskan objek wisata, pasar terapung Lok Baintan, Sungai Tabuk ke arah jalan kecil masuk perkampungan tepi sungai. Eh disitu jalur terbelah, kanan dan kiri…maps menunjukkan ke kanan. Hmmm, baiklah, ikutin ….tapi kok mencurigakan ya, kok jalannya sepi? Logikanya kalau objek wisata akan banyak kendaraan lewat situ…eh kebetulan saat adzan subuh lalu berhenti dulu untuk sholat subuh di sebuar langgar (mushola). Disitu bertanya sama salah seorang jemaah sholat subuh, benarkah ini arah pasar terapung? Dan jawabannya salah arah, harusnya tadi ke kiri, jaraknya kurang lebih 3km.

Baiklah, muter dulu…dan setelah menempuh jalan sempit menyusuri sungai lumayan lama, mulai ragu…jangan-jangan salah lagi. Ketemu penduduk setempat nanya lagi, oh terus aja pak…gak jauh kok. Akhirnya kami lihat beberapa mobil parkir depan sebuah mesjid, dan di depan mesjid itu ada semacam dermaga kecil yang ketika melalui tempat itu beberapa orang langsung menyetop mobil, menanyakan apa mau ke pasar terapung? Iya, kami mau ke pasar terapung. Kalau gitu parkir disini pak, tunjuk mereka ke arah beberapa kendaraan (mobil dan motor) yang parkir. Kata mereka sih bisa aja melihat dari jembatan tapi jalannya yang menuju jembatan itu sedang diperbaiki, kalau mau jalan sih bisa aja…tapi ini kan pasar terapung dimana kelotok (perahu) pedagang akan hanyut mengikuti arah arus, jadi tidak melulu dibawah jembatan itu. Dan kai akhirnya terpaksa menyerah, baiklah kita naik perahu kalau dekat…

Harga kelotoknya 100rb, yang besar (menurut taksiran saya sih bisa muat 8-10 orang), saat ngobrol sama salah seorang pemilik kelotok dia menunjukkan perahu yang lebih kecil (muat 3-4 orang) seharga 50rb. Dari dermaga tersebut menuju pasar terapung sekitar 5 menitan saja menyusuri sungai. Berdasarkan hasil ngobrol dengan pemilik perahu itu pula saya dapat info bahwa pasar terapung ini sampai jam 9-an, tapi gak tentu juga karena pedagang biasanya berjualan sampai barangnya habis. Namun saran saya sih subuh adalah saat terbaik karena banyak penjual yang berkumpul, kalau agak siang sudah berkurang karena ada yang sudah pulang.

Ketika kami sampai di pasar terapung, beberapa perahu pedagang langsung merapat ke perahu kami. Mereka menawarkan berbagai dagangan dari berbagai penjuru sehingga kami jadi bingung sendiri. Dari arah kiri dua perahu pedagang merapat, satu penjual buah yang memaksa saya menyicip jeruk dagangan yang katanya manis dan memang beneran manis, satu lagi pedagang nasi kuning. Dari arah kanan juga merapat dua perahu, satu jual buah, satu lagi jual sate. Bu, beli bu untuk penglaris…seru mereka serempak yang membuat bingung yang mana duluan nih yang harus dibeli. Akhirnya saya memutuskan meladeni penjual sebelah kiri, dan si ayah membeli dagangan penjual sebelah kanan, sementara kai membeli entah apaan juga dari penjual di depan, serasa selebritis aja kami jadinya, dikerubungi penjual ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Akhirnya saya manjat atap perahu untuk mendapat foto maksimal…eh masih juga ada yang meminta saya membeli dagangannya. Seru sih melihat berbagai dagangan yang ditawarkan…dan seperti yang diceritakan pemilik perahu bahwa pasar ini akan hanyut mengikuti arus, lama-lama kami hanyut juga dan melihat antar pedagang yang saling jual beli antar mereka, mendengar percakapan mereka saat transaksi, inilah sebenarnya pasar terapung yaitu pasar tempat transaksi antar penduduk kampung sekitar sungai tabuk. Krucils senang banget akhirnya kesampaian hunting foto, emak babenya senang kesampaian melihat Lok Baintan, kai senang karena bisa berpetualang bareng cucunya. Karena semua sudah hepi, yuk kita balik ke hotel saatnya meneruskan ngorok…ZzzzZz


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: