Bromo, Jawa Timur

7 01 2019

Sudah 2 bulan berniat nulis tentang petualangan sulung ke Bromo bersama teman-temannya, tapi apadaya si bunda kehabisan ide menulis dan juga kehilangan mood menulis. Namun tetap harus dituliskan sebagai kenang-kenangan untuknya kelak. Baiklah…mari kita mulai…

Once upon a time…setelah pulang dari kampung inggris, sulung dan teman-temannya mampir ke Malang untuk rekreasi sebelum pulang. Mereka mengunjungi Jatim Park (Batu Secret Zoo) dan Selecta selama sehari, kemudian dilanjutkan ke Bromo keesokan harinya. Mungkin karena pertimbangan agar memudahkan ke bandara Juanda (Surabaya) , mungkin juga karena rombongan menggunakan dua bis besar, mereka memakai jalur probolinggo untuk naik ke Bromo. Bagus aja menurut saya walau jaraknya lebih jauh dan memakan waktu, namun bisa menambah pengalaman untuk sulung dengan menempuh jalur yang berbeda dengan jalur yang kami gunakan saat ke Bromo sebelumnya yaitu melalui tumpang.

Berdasarkan cerita sulung saya, mereka menginap di sebuah penginapan sederhana dan dibangunkan dinihari untuk menuju ke panajakan. Untung perlengkapannya sudah saya siapkan dari rumah sisa-sisa petualangan musim dingin di Turki, yaitu long john (ini membantu banget untuk menjaga suhu tubuh supaya tidak kedinginan), jaket, sarung tangan dan kupluk sehingga sulung tidak perlu membeli lagi di sana. Beberapa temannya membeli disana, kata sulung saya harganya makin siang makin murah…banting harga kalau siang …hahaha.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena tidak berada di sana, namun yang jelas sulung saya dan teman-temannya bersenang-senang. Mereka bahkan bikin gerakan senam selama di Bromo. Dan lagi-lagi dia tidak naik ke kawah, katanya malas…capek…hadeuh. Juga tidak naik kuda, alasannya mahal, sayang uangnya. Tidak seperti teman-temannya yang dibekalin orang tuanya sangu besar, sulung saya bekali secukupnya saja. Saya hendak melatihnya agar dia bisa survive dengan kondisi apapun, dan nyatanya walau hanya dibekali secukupnya dia masih bisa membelikan oleh-oleh untuk adeknya dan bundanya. Di kampung inggris dia membelikan adeknya gantungan kunci (krucils memang koleksi gantungan kunci) dan magnet kulkas untuk bundanya (emaknya memang koleksi magnet). Di Malang, dia membelikan bundanya beberapa bungkus keripik buah dan magnet lagi. Dan sesampainya di bandara Surabaya, dia saya suruh membelikan saus rujak dan petis botolan yang terkenal, tapi gak nemu katanya sehingga dia hanya membelikan almond crispy saja yang sesampainya di rumah malah dimakannya sendiri…hahaha…bocah.

Bagi ayah dan bunda, yang penting abang sudah belajar mandiri, sudah bisa berpetualang sendiri (walau masih rombongan), dan sudah bisa mengambil keputusan-keputusan krusial sendiri seperti bisa memilah yang mana yang lebih penting dan yang mana yang worthed untuk dibeli. Fill your life with adventures not things, have strories to tell not stuff to show

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: