Dufan, Jakarta

25 11 2018

Masih tentang Kemnas (Kemah Nasional), cerita berlanjut…

Setelah 4 hari berkemah dan 4 hari juga tidak mandi…hehe πŸ˜‰ akhirnya regu teratai yang terdiri 10 orang anak dan seorang ustadzah pendamping akhirnya bisa bernafas lega…yeaayy, kemah berakhir….saatnya bersenang-senang. Singkat cerita, keesokan harinya kontingen sekolah jalan-jalan ke Dufan dan karena anak-anak yang harus diurus lumayan banyak dan seperti bisa diperkirakan pengunjung Dufan di tanggalan merah lumayan membludak, untuk memudahkan para pembimbing membedakan anggota kemnas dengan pengunjung umum maka krucil-krucil ini disuruh memakai rompi kemnas. Jadi gak heran kalau style krucil-krucil ini sama , berompi semua πŸ˜‰

Menurut penuturan bungsu saya, setelah masuk mereka mencar mencari wahana yang disukai masing-masing. Bungsu saya dan beberapa temannya bermain 3D simulator, kemudian mencari oleh-oleh di toko souvenir. Setelah itu mereka kemudian bertemu dengan teman-teman regu teratai lainnya beserta orang tua salah seorang murid regu teratai. Dari sinilah kemudian mereka beramai-ramai menjajal beberapa wahana, yaitu rumah miring, rumah jahil, balon air, alap-alap (roller coaster mini) serta makan bakso yang ditraktir oleh orang tua salah seorang teman mereka. Terima kasih mbak kami ucapkan, sudah menjaga anak-anak dan mentraktir mereka makan, jadi enak…eh jadi gak enak nih..hehe. Beberapa wahana tidak jadi mereka mainkan karena terlalu ekstreem dan beberapa lagi harus menunggu lama sehingga mereka hanya berfoto di depan saja.

Intinya mereka semua happy, bungsu saya bersemangat sekali bercerita tentang pengalamannya bermain bersama teman-temannya di Dufan. Beberapa cerita membuat si bunda terpingkal-pingkal mendengarnya, seperti ketika dia bercerita tentang teman-temannya yang ingin menjajal wahana rumah hantu, namun penjaga loket menyarankan agar krucil-krucil ini tidak usah bermain wahana tersebut karena terlalu ekstrem dan sayang hanya membuang-buang uang saja (karena harus membayar 35rb/anak). Mendengar larangan ini membuat teman-temannya kecewa berat sehingga bungsu saya langsung menggambarkan bahwa kalau dilukis diatas kepala teman-temannya tiba-tiba muncul awan gelap, mendung kelabu. Sementara temannya kecewa, bungsu saya dalam hati malah bersorak gembira, yess….(bungsu saya ini memang menghindari hal-hal berbau horor karena suka kebawa mimpi). Jadi katanya, kalau teman-teman adek jalan sambil gontai dan manyun setelah tidak jadi main di rumah hantu, sedangkan adek jalan sambil senyum-senyum …hahaha…πŸ˜‚

Alhamdulillah ya dek, bunda senaaaannnggg banget nget nget kebangetan deh senangnya melihat adek happy, bisa punya pengalaman berharga bersama teman-teman. Inilah yang membuat ayah bunda “tega” menyuruh adek dan abang sering ikutan kegiatan berkemah atau kegiatan sekolah yang jauh-jauh, supaya kalian menjadi anak-anak tangguh, mandiri dan mempunyai banyak pengalaman. Seperti quotes para traveler, “travel when you young and able because experience is far more valuable than money will ever be”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: