Overland Sumatera (Palembang-Bengkulu-Padang-Pekanbaru-Medan)

17 07 2018

Berpetualang mengunjungi semua kota di pulau-pulau yang ada di Indonesia adalah impian saya. Sayangnya impian saya kadang tidak sejalan dengan impian si ayah. Walau kami sama-sama suka berpetualang tapi kalau saya ajak keliling Indonesia si ayah rada-rada malas…dia lebih suka keluar negara. Bukan karena banyak gaya namun lebih karena menurutnya keliling Indonesia lebih berat diongkos daripada keliling Asean. Itu sebabnya si ayah ditunjuk sebagai menteri urusan luar negeri oleh krucils, sedang si bunda jadi duta pariwisata Indonesia aja hehe.

Lebaran tahun ini si ayah pengen kami berlebaran di Bandung. Tiket sedang mahal tapi kalau ayah sudah bersabda…yuks mari. Ayah cuma ambil cuti 4 hari plus tanggalan merah 2 hari, total hanya bisa liburan 6 hari. Padahal krucils jatah libur sekolahnya sebulan ! OMG, masa libur sekolah sebulan tapi berlibur cuma seminggu. Gak mau rugi sudah beli tiket mahal, ayah menyuruh kami agar sisa libur sekolah dihabiskan di Bali. Hmmm, boleh juga. Memang salah satu impian si bunda adalah keliling Bali, NTB, NTT dan Komodo. Menjelang hari H, di hometown hujan terus hampir setiap hari yang membuat si bunda mikir-mikir, waduh gak seru banget kalau liburan ke pantai saat hujan. Baiklah cari alternatif lain…

Tiba-tiba teringat kembali salah satu impian lama, keliling Sumatera. Googling-googling…hmmm, kayaknya boleh juga nih. Tanya ke ayah, ayah kalau ke Bali kan musim hujan gini gak seru…boleh gak kami keliling Sumatera? Tiba-tiba hening….si ayah diam. Lalu dia jawab nanti aja Desember sama ayah. Janji loh yah Desember sama ayah keliling Sumatera, jangan berubah pikiran? InshaAllah kalau ayah bisa ambil cuti…tuh kan. Keesokan harinya ayah berubah pikiran, kalian kalau mau berangkat, berangkat aja…nanti ayah antar sampai Palembang soalnya ayah belum tahu bisa gaknya Desember liburan. Yippie…si ayah memang the best ..kecup kecup 😘

Walau masih sebatas wacana karena belum beli tiket sama sekali ke Sumatera, eh si ayah cerita ke orang tua saya. Orang tua saya (terutama ibu saya) tipe yang khawatiran, lebih tepatnya sih khawatir ke cucunya daripada anaknya hehe. Begitu tahu rencana saya, ibu saya langsung menentang keras. “Jangan nekat, belum tahu ya Sumatera tuh paling rawan kejahatan apalagi kalian cuma bertiga. Pokoknya jangan kesana”, kata ibu saya lagi….gak tahu anaknya sudah ubanan dan sudah beranak dua, tetap aja masih dikhawatirin. Tenang aja bu, anakmu ini preman kok…hahaha…

Saya jenis orang yang cuek banget tapi kalau ditakut-takutin suka kepikiran juga akhirnya. Terus terang saya jadi kepikiran sama omongan orang tua saya, mungkin memang gak usah keliling Sumatera apalagi saat googling jarang banget ada blog tentang jalan-jalan keliling Sumatera dengan angkutan umum, kalaupun ada biasanya menggunakan kendaraan pribadi dan umumnya nyenggol tentang mitos rawan kejahatan. Hmmm, jadi nambah kepikiran. Saat saya galau, maju mundur, suami saya menguatkan…hayu bunda jangan mundur kalau sudah punya tujuan, namanya kejahatan dimana aja ada yang penting harus hati-hati dan waspada. Kemudian saya ubek-ubek grup backpaker yang saya ikutin, cling…dapat. Ada satu pasangan suami istri yang sudah berhasil keliling Sumatera dengan cara hitchhiking, itu tuh nebeng-nebeng kendaraan …dan tanpa satu ceritapun nyenggol tentang kejahatan. Untuk menambah referensi, saya chat dengan teman lama saya blogger terkenal yang sudah keliling Indonesia, dia bilang sejauh yang dia dengar belum ada insiden dengan traveller di Sumatera. Baiklah…Bismillahirahmanirohim…lanjutkan niat yang sempat goyah….

Dan inilah cerita saya bersama anak-anak saya bertiga overland mengunjungi 5 kota di Sumatera, semoga bermanfaat untuk teman-teman yang mungkin seperti saya ceritakan diawal masih maju mundur niatnya. Beberapa detail seperti tanggal dan jam ada yang terlupa, namun tidak mengurangi inti cerita.

# Menuju Bandung, 15 Juni 2018 #

Suami, saya dan krucils berangkat sekitar jam 9-an dari rumah kami menggunakan Taxi. Untunglah dapat tiket pesawat siang sehingga bisa sholat Iedul Fitri dulu di hometown. Kenapa pilih berangkat di hari pertama Idul Fitri? Alasannya sederhana, dikala harga tiket meroket jelang lebaran plus libur sekolah, biasanya di hari pertama Idul Fitri harganya masih bisa ditolerirlah dibanding sebelum atau sesudah.

Lalu dari Jakarta, kami naik kereta Argo Parahyangan kelas ekonomi menuju Bandung, sampai Bandung malam sekitar jam 23.00. Di Bandung sama sekali gak main kemana-mana, memang diniatkan hanya berlebaran dirumah mertua dan mendatangi saudara dan kerabat si ayah.

# Menuju Palembang, 18 Juni 2018 #

Hari ketiga, mulai bersiap- siap packing lagi. Kami hanya membawa sebuah koper kecil kabin dan sebuah ransel 75lt. Tapi suami saya rupanya membawakan kami ransel cadangan yang bisa dilipat kecil jika tidak digunakan dan sebuah tas sandang untuk membawa gadget-gadget dan printilan seperti minyak kayu putih, masker, tisu basah, dsb. Pesawat kami sekitar jam 18.00 malam…langit masih terang ketika kami naik pesawat.

Kenapa Palembang dipilih sebagai start awal memulai petualangan keliling Sumatera? Saya gak punya alasan khusus, hanya ketika mencari tiket dari Bandung, pilihannya hanya ada dua yaitu Bandung-Medan dan Bandung-Palembang. Setelah saya pikir-kalau dari Medan sudah pertengahan Sumatera, kalau saya mau ke Aceh saya ke atas dulu lalu ke Medan lagi untuk turun ke bawah, padahal Aceh salah satu kota incaran saya….muter-muter jadinya. Hmmm, kalau begitu start dari Palembang sajalah lalu lanjut naik ke atas sampai Aceh dan terpaksa melewatkan Lampung. Dan karena sejak awal petualangan ini adalah impian saya, suami saya gak mau ikut campur dengan rute pilihan saya…dia menyerahkan sepenuhnya ke saya, yang penting kalian senang, ayah kan cuma mengantar, jawabnya selalu setiap saya tanya pendapatnya.

Sudah lama sekali saya tidak naik pesawat dari Husein Sastranegara (Bandung), biasanya kami selalu lewat Jakarta. Jadi ini pengalaman pertama krucils terbang lewat Husein, dimana calon penumpang berjalan dekat sekali dengan pesawat yang sedang berjalan menuju parkir. Rasanya ngeri-ngeri sedap. Singkat cerita sejam kemudian kami sudah tiba Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang)…yeaaayyy, akhirnya kami menjejakkan kaki di Sumatera. Rasanya senang banget nget…

Kami naik Taxi bandara menuju hotel kami di city center, letaknya dekat banget dengan jembatan Ampera dan mesjid raya, malah dari balkon kamar kami bisa terlihat jembatan Ampera. Diseputaran hotel juga banyak penjual makanan. Kami sampai jam 8-an malam di hotel, istirahat sebentar di kamar, lalu jalan kaki mencari jembatan Ampera. Selama jalan kaki saya senang banget….yeaayy, akhirnya kami sampai juga di Sumatera…saya jadi heboh sendiri, sampai kata krucils “bunda, jangan norak gitu”…haha. Di seputaran jembatan ada banyak tempat makan…saat kami hendak makan karena kelaparan eh terlihatlah rumah makan kecil depan es teler 77. Nama rumah makannya kalau gak salah Ibu Kito, saat liat menunya…wah cocok nih, makanan khas Palembang semua. Pesan semua makanan yang khas, eh saat pesan pindang patin…kata siempunya rumah makan, pindang sudah habis diborong sama keluarga sebelah kami duduk.

Eh beruntungnya keluarga tersebut ternyata mengurangi porsi pindang patin yang dipesan, sehingga kami kebagian pindang juga akhirnya. Ayah yang sedang flu berat (ayah memang selalu flu kalau ke Bandung) langsung semangat memakan pindang patin padahal salah satu ikan yang tidak disukainya adalah ikan patin. Saya langsung terkesima melihat ayah semangat makan pindang patin, jadi penasaran rasanya…pas diicip, wow enak banget! Gak seperti pindang biasanya, pindang di Ibu Kito ini rasanya juara banget, ada rasa pedasnya, asamnya, segar pokoknya gak bikin enek dan gak ada rasa amisnya. Sayang hanya tersisa 1 porsi, kalau gak pasti nambah-nambah tuh pesannya.

Sementara ayah makan pindang patin, kami makan pempek dan tekwan (apalagi coba yang dicari di Palembang selain pempek & tekwan). Perut kenyang, hati senang…yuks kita balik hotel, sudah malam banget rupanya. Kami empat malam di Palembang. Selama di Palembang kami mengunjungi Jembatan Ampera, Mesjid Agung, Benteng Kuto Besak, Museum Baladewa, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (sayang sedang ditutup) dan Museum Sriwijaya. Cerita lebih detailnya bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bengkulu, 21 Juni 2018 #

Tanggal 21 Juni dinihari, sekitar jam 3 subuh, ayah sudah bersiap-siap pulang ke hometown. Pesawat ayah subuh, jarak hotel-bandara sekitar 1 jam, belum lagi proses cek in dsb. Sebenarnya ayah bisa cuti sampai tanggal 24 Juni ( karena weekend) namun karena sebelum kami berangkat ke Bandung tiba-tiba sekali ayah mendaftar untuk melanjutkan kuliah ke strata 2, baru beberapa hari jelang keberangkatan dikasih tahu bahwa tanggal 23 Juni harus ikut test masuk. Mau gak mau semua rencana menyesuaikan, ayah balik hometown tanggal 21 Juni agar sempat beristirahat dan belajar …walau krucils gak yakin ayahnya belajar atau malah tidur hehehe 😂

Sudah lama sekali saya gak berpetualang bertiga bareng krucils saja, biasanya kemana-mana selalu berempat. Terakhir berpetualang bertiga adalah keliling Jawa 2013 lalu. Karena sudah kelamaan di zona nyaman, selalu berempat dan selalu ada ayah yang bisa diandalkan dalam situasi apapun dalam berpetualang, terus terang saya agak gamang ketika ayah pulang ke hometown. Sebelum berangkat ke bandara suami saya berpesan agar jaga anak-anak yang utama, barang gak terlalu penting. Kalau sudah merasa capek atau gak asik lagi, telp ayah biar ayah pesankan tiket pulang. Dan yang terakhir ayah bilang, I know you can do it ! Kembalilah jadi wanita yang strong & independent seperti dulu…karena dulu dia jatuh cinta pada saya karena kemandirian saya (suer ini bukan hoax tapi lebayatun…hehe). Itu juga sebabnya dia mendukung banget niat saya untuk berpetualang, karena dengan berpetualang tanpa dia, dia yakin akan melatih kemampuan mandiri saya lagi….muah muah ayah, ilapyu pul ❤

Untungnya saat ayah pulang, malamnya saya dan krucils juga akan melanjutkan petualangan ke kota selanjutnya, walau gamang tapi pikiran saya masih sibuk persiapan ini itu. Ya packing barang kembali, ya cari tiket kereta ke Lubuk Linggau, cari informasi dari stasiun Lubuk Linggau naik apa ke Bengkulu, dsb. Pakaian kotor yang numpuk selama di Bandung dan Palembang sudah dibawa balik ayah, yang tersisa hanyalah sebuah koper kabin (koper kecil yang boleh dibawa ke kabin pesawat) berisi 7 helai pakaian saya dan krucils. Memangnya cukup? Ya dicukup-cukupinlah…sengaja dipilih pakaian yang gak ribet dan simpel supaya bisa masuk dalam koper kecil. Sisanya, jaket krucils dan mukena dimasukin dalam ransel yang bisa dilipat kecil jika tidak diperlukan.

Ketika teman saya melihat barang bawaan kami, mereka terheran-heran…ya ampun memangnya pakaian kalian gak ganti-ganti ya? Ya gantilah, kan masing-masing bawa 7 lembar pakaian, 1 stel pakaian tidur, beberapa pakaian dalam, beberapa jilbab, dua pasang kaus kaki (kaus kaki bisa beli lagi kalau diperlukan) dan 1 buah celana pengganti. Dan begitu sampai di setiap kota, yang pertama saya cari adalah laundry kiloan yang murah meriah. Carinya gimana? Pakai teknologi dong, hari gini maps tuh gampang banget nunjukin lokasi yang kita cari, cuma masalahnya akurat atau gaknya aja. Kadang akurat, kadang tertulis ada laundry dekat hotel tapi begitu didatangin eh ternyata gak ada. Kalau gak nemu laundry kiloan, ya terpaksa laundry di hotel, gak usah ribet dibawa santai aja. Intinya adalah pakaian kami selalu bersih walau bawa pakaian terbatas. Tapi ya satu aja sih masalahnya, kalau di foto keliatannya pakai baju itu lagi.. itu lagi. Sampai saya kena marah orang tua saya, kenapa sih malas banget bawain anak banyak baju…malu-maluin aja baju gak ganti-ganti 😀 Yah bukannya gak mau bawa pakaian banyak, pertama sih alasan kepraktisan…ingat ini berpetualang hanya bertiga dan naik kendaraan umum, bukan jalan-jalan syantik. Kedua, haduh…dipikir gampang apa mengurus bawaan banyak belum lagi ngurusin anak, kadang bawa diri aja berat…berat diperut hahaha 😆

Kembali ke cerita ya, kami beli tiket kereta Kertapati (Palembang)-Lubuk Linggau (perbatasan Sumsel-Bengkulu) via Traveloka (bukan iklan loh ya, hanya kasih info siapa tahu ada yang butuh info tentang ini). Harganya 200rb/orang, dengan jam keberangkatan 20.00. Kenapa sih ribet ribet naik kereta sampai Lubuk Linggau, kan bisa langsung bis atau travel aja langsung Bengkulu? Alasannya, saya penasaran dengan kereta di Sumatera…hahaha.. pasti seru liat pemandangannya. Sayangnya kereta pagi yang saya incar full booked sampai tanggal 26 Juni (Kereta pagi adalah kereta ekonomi yang harganya jauh lebih murah, 32rb saja). Nah tersisa kereta malam dan karena berangkatnya malam, mau gak mau perpanjang hotel lagi. Dari hotel kami pesan GoBlue (bukan iklan juga). Kenapa Go Blue? Alasannya sederhana, untuk keamanan. Di negeri yang tidak kami kenal, pesan kendaraan aplikasi online dan terpadu dengan taxi yang sudah terkenal akan memudahkan pelacakan jika terjadi sesuatu, karena terdaftar di dua perusahaan sekaligus.

Menurut perkiraan kami akan sampai di Lubuk Linggau sekitar jam 3 subuh di hari berikutnya (22Juni 2018). Hmmm, disini saya mulai gamang lagi…serius, saya jadi membutuhkan keberadaan suami saya dalam situasi seperti ini. Selama di kereta saya berdoa agar selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT. Dan senangnya lagi, di kursi samping saya adalah salah seorang anggota ABRI yang sedang mudik menjenguk orang tuanya. Saya banyak bertanya pada bapak tersebut tentang keamanan perjalanan, dia meyakinkan saya inshaAllah aman apalagi saat arus mudik seperti ini akan ada banyak pos pengamanan.

Benar saja, sesuai perkiraan kereta api yang kami naiki tiba tepat waktu, sampai ditujuan akhir Lubuk Linggau jam 3 dinihari waktu setempat. Begitu sampai, saya ajak krucils mencari tempat duduk dekat dengan kantor kepala stasiun. Kami duduk disitu menunggu sampai matahari terbit, minimal sampai subuh. Ketika kereta tiba di stasiun saya sempat melihat situasi sekitar stasiun, diluar banyak calo-calo yang menawarkan kendaraan sedang di pintu stasiun dijaga oleh polisi-polisi bersenjata lengkap dan satpam-satpam stasiun. Saya rasa akan lebih aman jika kami menunggu aktifitas diluar stasiun kembali normal baru kami keluar untuk mencari kendaraan menuju Bengkulu.

Sebelum pulang, si ayah berpesan kepada krucils agar patuh sama bunda. Walau mereka bosen disuruh menunggu di stasiun namun tetap nurut. Kami sempat sholat subuh di mushola stasiun sebelum akhirnya melangkah keluar ketika hari terlihat agak terang. Ketika duduk menunggu hari terang, saya sempat bertanya kepada seorang petugas stasiun tentang bis ke Bengkulu. Petugas stasiun memberi info yang cukup akurat, katanya kalau keluar stasiun ke arah kiri terus aja melewati pasar nanti belok kiri lagi dan tepat diseberang jalan ada terminal bis. Berdasarkan info tersebutlah saya mengajak krucils berjalan dan persis seperti gambaran si bapak tersebut, di seberang jalan kami melihat beberapa bis dan mobil berjejer. Selama berjalan kaki keluar stasiun akan ada beberapa orang yang menawarkan ojek atau travel, tapi tetaplah fokus sama tujuan.

Terminal disini jangan bayangkan seperti terminal pada umumnya ya, karena disini ternyata hanyalah tempat kumpulan beberapa travel dan PO bis. Saya memilih bis karena saya pikir lebih nyaman dibanding travel yang berupa mobil Avanza. Apalagi saat dilihat penampakan luar bisnya lumayan baguslah. Datangin pangkalannya, eh belum buka…baru terbuka sedikit pintunya, untungnya ada anak muda yang sedang berdiri di pintu tersebut (maklum masih jam 6 pagi). Saya pun mendatanginya, “mas ini bis ke Bengkulu ya?” seraya menunjuk bis yang parkir di depan. “Iya bu, bis ke Bengkulu”, jawab si mas. “Jam berapa berangkatnya?”, tanya saya. “Jam 9 bu”. OMG, itu masih jam 6 pagi…haha, terpaksa nunggu deh. Singkat cerita karena kami orang pertama yang muncul disitu, saya bisa memesan seat tepat samping pak supir di depan. Tiket bis ke Bengkulu ini 70rb/orang.

Menunggu adalah hal yang paling membosankan, menunggu jarum jam bergerak ke angka 9 itu rasanya seabad. Belum makan (akhirnya beli mie instant cup), kurang tidur, toilet di pangakalan yang ampun deh…rasanya pengen punya pintu ajaibnya Doraemon aja biar bisa langsung sampai hotel di Bengkulu. Menurut mbah google, Lubuk Linggau-Bengkulu 3-4jam…cincailah. Eh begitu jalan, dikit-dikit berhenti narik penumpang…tuh bis yang dipangkalan sudah penuh, masih bisa nambah penumpang, mau ditaruh dimana? eh rupanya dilorong ditaruh kursi kayu panjang untuk penumpang tambahan…haha. Belum lagi barang-barang dan ternyata nih bis non ac…padahal iklannya full ac. Seakan kurang afdol, eh masih ngangkut anak ayam pula yang ditaruh tepat dibawah tempat duduk kami…yang lebih mantap lagi, kami sudah bertiga sesak-sesakan di depan sampai kaki aja harus ditekuk-tekuk eh ditengah jalan tiba-tiba muncul bapak-bapak lagi yang duduk dilantai depan kami. OMG….

Kata salah seorang ibu penumpang yang duduk dibelakang kami, kalau mau cepat naik mobil terapel mbak. Saya manggut-manggut saja sambil berpikir keras, apa yang dimaksud terapel itu? Baru ketika hampir sampai Bengkulu saya dong…oh mobil travel mungkin, oalah…ini pasti akibat saya kurang makan dan kurang tidur. Sulung saya mulai mengeluh, kok lama banget sih bunda? Sulung saya ini jarang mengeluh, kalau dia mulai mengeluh artinya dia sudah lelah. Sebenarnya saya juga capek banget, badan pegel-pegel, kepanasan, lapar juga tapi didepan krucils saya sok santai. Iya lama karena bisnya kebanyakan berhenti…sabar aja ya, sebentar lagi juga sampai.

Bisnya memang lama, sumpek dan panas tapi pemandangan yang kami lalui indah banget. Dan untungnya naik bis ini adalah karena kecepatannya yang…yaa begitulah, kelokan jadi tidak begitu terasa hingga tidak begitu bikin mual untuk bungsu saya yang biasanya gampang mabuk darat. Entah efek laju kendaraan yang bisa ditolerir atau karena posisi tempat duduk kami yang berada paling depan…entahlah. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya sekitar jam 3-an sore kami memasuki kota Bengkulu. Yippie…

Eh tapi belum bisa bernafas lega karena hasil googling mengatakan kalau di kota ini belum ada ojol (ojek online) dan kami juga tidak melihat ada taxi, jadi kami harus menggunakan angkutan kota (angkot). Masalahnya kami tidak tahu harus naik angkot jurusan apa atau no berapa. Akhirnya ketika bis sampai di pangkalan, saya bertanya pada supir bis kami naik angkot apa ke jl.Mayjen Suprapto (letak hotel kami). Pak supir menjawab angkot warna merah…baiklah. Tapi saya kepedean, saya menyetop angkot merah dari arah kami berhenti, harusnya kami menyeberang jalan dulu. Setelah agak kebingungan, akhirnya ada juga supir angkot yang mau berhenti.

Kami selalu mencari hotel yang letaknya city center agar memudahkan kami dalam berbagai hal seperti mencari makan, mencari angkutan dan biasanya dekat juga dengan tempat wisata. Ternyata letak pangkalan bis dengan city center tuh jauh juga…setengah jam-an naik angkot dan penumpang angkot hanya kami bertiga. Ketika akhirnya sampai hotel dan bisa meluruskan punggung di kamar tuh rasanya sesuatu banget. Tapi belum bisa bernafas lega, saya teringat eits cucian sudah numpuk nih…bahaya kalau gak segera di laundry, stok menipis. Sore-sore setelah makan dan istirahat, kami pun berjalan kaki mencari laundry kiloan yang berdasarkan maps ada di dekat hotel kami. Sore-sore jalan santai tuh asik juga, malah gak sengaja menemukan rumah Ibu Fatmawaty. Saya memilih laundry ekspress 1 hari, dengan perjanjian besok sore pakaian sudah bisa diambil…biayanya juga murah meriah 2 kg sekitar 24 ribu. Sayangnya ketika kami sudah mau berangkat kembali, saya baru mengecek ternyata laundry-an kurang satu yaitu celana panjang bungsu saya tidak ada…mau balik tapi saya sibuk mengurus sulung saya yang diare dan juga sedang bersiap-siap menuju kota selanjutnya, yo weslah ikhlaskan.

Kami hanya 3 hari 2 malam di Bengkulu sebelum melanjutkan petualangan ke kota Padang. Sebenarnya masih ada yang mau di eksplore di Bengkulu tapi berhubung sulung saya diare berat dan kami juga tidak nyaman dengan suasana hotel yang agak berisik, membuat saya memutuskan kami harus segera menuju ke kota selanjutnya. Di Bengkulu kami mengunjungi kediaman Ibu Fatmawaty, Rumah Pengasingan Soekarno, Fort Marlborough, Tugu Thomas Parr, Tugu Pers Bengkulu dan View Tower. Untuk cerita lebih lengkap mengenai tempat-tempat tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Padang, 24 Juni 2018 #

Tujuan awal setelah dari Bengkulu adalah Jambi, namun setelah seharian mencari informasi bis menuju Jambi dengan pertolongan beberapa orang kenalan bahkan orang hotel …tidak juga menemukan informasi tentang bis tujuan Jambi. Akhirnya saya memutuskan, kami ubah arah perjalanan. Dari Bengkulu ke Padang lebih banyak transportasi dibanding menuju Jambi. Walau krucils protes karena Jambi dilewat dulu, ya apa boleh buat…petualang harus bisa flexible. Tak bisa ke Jambi, kita ke Padang…

Beberapa teman memang menginformasikan bahwa Jambi tidak banyak yang bisa dilihat. Mungkin bagi orang yang pernah ke Jambi demikian, namun bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki rasanya penasaran juga ingin melihat seperti apa sih Jambi itu. Tapi petualangan tetap harus berlanjut, yuk kita menengok kampung leluhur kalian anak-anak.

Saat menjelang berangkat, saya dilema berat. Antara memperpanjang hotel, meneruskan perjalanan atau pulang. Satu sisi saya merasa kurang nyaman dengan hotel tempat kami menginap, satu sisi sulung saya sedang diare. Saya sendirian di kota yang baru bagi kami menghadapi anak yang sedang sakit. Mungkin makan makanan yang terlalu banyak berbumbu turut berpengaruh. Ketika saya bimbang, saya tanya sulung saya…bisa gak abang melanjutkan perjalanan? Dia jawab InshaAllah, kan ada toilet di bis? Iya ada, tapi kalau tidak kuat, kita pulang saja karena dirumah lebih enak…ada ayah dan kita juga lebih mengenal seluk beluk hometown.

Mungkin takut kalau petualangan harus berakhir, sulung saya bilang dia sudah sehat. Saat ayahnya telp bertanya keadaannya juga dia bilang dia sudah sembuh, walau kemudian buru-buru ke toilet. Sebelum berangkat saya kasih obat diare dan teh hangat. Alhamdulillah selama perjalanan dia sehat, entah gimana namun dia baik-baik saja sesuai perkataannya pada saya.

Saat check out, saya baru tahu kalau di Bengkulu ada Grab. Untung dirumah ayah sudah downloadkan aplikasi Grab walau biasanya kami sering pakai Gojek. Buru-burulah pesan Grab untuk mengantar kami ke pangkalan bis tujuan Padang. Bis ini sudah ayah pesankan via telp dan karena mepet pesannya jam 11-an sementara bis berangkat jam 12.30, dapatnya ya tempat duduk di belakang dekat toilet. Yo weslah gpp, pas aja untuk sulung saya yang sedang diare. Eh tuh mas Grabnya baik bingit, dia malah mau muter untuk nyari ATM. Di Bengkulu Mandiri memang jarang, sementara tiket bis harganya 280rb/orang eh isi dompet saya hanya tinggal 200rb, ya harus nyari ATM.

Sudah buru-buru demi mengejar bis, eh waktu sampai pangkalan bisnya belum datang. Kami menunggu sampai jam 14.00 di saat angin tengah bertiup kencang. Belum sempat makan siang, sulung sedang gak enak perut, bundanya jadi khawatir. Untungnya depan pangkalan bis ada minimarket…buru-buru saya menyeberang mencari makanan untuk krucils, lumayanlah dapat roti dan sosis. Ketika bis akhirnya datang, bisnya bagus banget dibanding bis ke Bengkulu. Ada rupa ada harga, fisiknya jelas lebih mentereng. Musik yang diputar jika ke Bengkulu dangdut, yang ini disko. Penumpang sesuai jumlah kursi dan selama perjalanan tidak menarik penumpang lagi…akibatnya bis bisa ngebut. Jalur lintas Sumatera yang berkelok-kelok dibawa ngebut ya bikin oleng, kami didalam terpelanting sana sini…saya jadi membayangkan kalau ada yang di toilet gimana rasanya tuh…haha.

Sekitar jam 6 subuh esok harinya (25 Juni 2018) kami sampai di Padang…yippie. Begitu bis berhenti menurunkan sebagian penumpang di pangkalan bis (bis masih melanjutkan perjalanan hingga ke Padang Panjang), kami yang masih dalam kondisi mengantuk…bengong sebentar. Tawaran abang becak dan ojek tidak kami hiraukan, saya mengajak krucils masuk dalam kantor PO bis, duduk-duduk sembari melihat letak hotel di maps, gak begitu jauh. Baiklah, pesan ojol. Begitu sampai hotel, langsung mendatangi resepsionis. Saya lupa pesan ke ayah agar memesankan hotel sehari sebelumnya agar kami bisa langsung masuk pagi hari. Tapi ayah sudah terlanjur memesankan hotel untuk tanggal 25 Juni, yang artinya kami hanya bisa masuk siang nanti. Dan seperti yang bisa diduga, resepsionis menolak memberi kamar dengan alasan jam check in adalah 12 siang. Saya yang lelah, terlebih kasihan sama krucils walau mereka terlihat ceria, langsung minta agar disediakan kamar subuh itu juga walau harus membayar biaya tambahan. Eh resepsionis subuh tersebut bilang bahwa kamar masih penuh, belum ada yang kosong…kalaupun ada akan diusahakan tersedia paling cepat jam 8 pagi. Whats? Nunggu 2 jam…hiks *melipir ngupas bawang dipojokan*. Si mas resepsionis mempersilahkan kami menunggu di mushola hotel sembari beristirahat. Kebetulan juga kami belum sholat, sekalian sholat dululah.

Setelah sholat dan istirahat sebentar, saya mendatangi resepsionis kembali karena ternyata suami saya sudah menyertakan note di bookingannya bahwa kami akan early check in. Eh saat kembali resepsionis, orangnya sudah ganti…mungkin sudah ganti shift. Nah petugas yang baru ngotot hanya bisa masuk siang jam 14.00, loh kok berubah lagi sih? Saya kembali bilang bahwa saya akan bayar tambahan agar bisa segera masuk kamar. Petugas itu kemudian bilang, tapi belum ada bellboy yang bisa membersihkan kamar. Haduh…baiklah, akhirnya saya titip tas aja agar bisa jalan-jalan melihat situasi dan mencari makan.

Sembari jalan saya berpikir tentang mencari hotel lain agar kami bisa segera beristirahat. Kebetulan dekat hotel kami dan tempat makan yang dituju banyak hotel-hotel lain. Akhirnya kami makan dulu di restaurant Padang yang sedang bersiap-siap buka tapi ketika melihat kami datang, mereka membolehkan kami makan disitu…kasian kali…haha. Saat sedang makan, tiba-tiba saya ditelp resepsionis hotel yang memberitahukan kamar kami ready…yippie. Buru-buru habisin makanan untuk balik hotel. Di hotel menyelesaikan administrasi dulu dan karena masuk pagi kena charge 50% dari harga kamar. Saat pertama datang, resepsionis yang shift subuh menjelaskan kalau chargenya adalah 250rb, eh sama resepsionis baru ini dicharge 450rb. Loh mas kok berubah, tadi subuh dibilang kena charge 50% harga kamar yaitu 250rb, kok sekarang jadi 450rb?

Iya bu, soalnya kamar ibu yang ekslusive tapi kalau memang sudah dibilang 250rb, ya sudah deh 250rb aja. Nah kan…berubah lagi…haha. Yang penting bisa masuk cepat, pengen meluruskan punggung yang ketekuk semalaman di bis…maklum sudah emak-emak berumur dan beruban. Kalau krucils sih gak ada capeknya, mereka masih bisa lari-larian di lobby hotel…usia tidak bisa dibohongi 😀 Begitu masuk kamar, sulung saya mulai mules lagi…ya ampun tuh anak selama perjalanan kayaknya sudah sembuh dari diare, ternyata masih…mungkin selama dijalan ditahannya.

Malamnya uni saya menjemput mengajak makan diluar. Untungnya uni (kakak) saya ini perawat dan banyak teman dokter, begitu tahu sulung saya diare langsung telpkan dokter konsultasi via telp. Akhirnya malam itu belilah beberapa obat, untuk mulesnya dan antibiotik namun antibiotik belum diminumkan. Saat malam, diare sulung saya makin menjadi…mungkin efek makan makanan Padang pagi tadi dan malam itu. Keesokannya uni saya menyuruh agar meminumkan antibiotik yang sudah kami beli, alhamdulillah sejak minum antibiotik diarenya mereda.

Di Padang saya terpaksa pakai laundry hotel karena setelah muter-muter mencari laundry kiloan yang tertera di maps gak nemu. Selama di Padang kami lebih banyak bertemu saudara-saudara dibanding jalan ke tempat wisata. Kami diajak ke Pantai Aie Manih tempat legenda Malin Kundang, Jembatan Siti Nurbaya, Mesjid Agung Padang, Universitas Andalas dan ke Museum Adityawarman yang letaknya persis depan hotel kami. Kami hanya 3 hari 3 malam di Padang sebelum melanjutkan perjalan ke Painan, kota lain di Sumatera Barat.

# Menuju Painan, 28 Juni 2018 #

Ibu saya adalah orang Padang, namun saya dan adik saya lahir dan tumbuh besar di Kalimantan. Kami pernah bersekolah selama beberapa bulan di Padang ketika kami kecil namun saya lupa sama sekali tentang Padang. Walau saudara ibu saya banyak, namun menyebar dan yang masih tersisa di Sumbar hanyalah etek (kakak ibu) di Painan dan om (adik ibu) di Batu Sangkar. Walau jaraknya cukup jauh dari Padang, sempatkan mampir walau hanya semalam.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari kenalan saya seorang traveler asal Padang, pagi hari tanggal 28 Juni saya memesan ojol ke Lapangan Imam Bonjol tempat bis menuju Painan berada. Eh sesampai di Lapangan Imam Bonjol tidak tampak ada bis satupun, supir ojol yang baik hatipun menawarkan diri mengantarkan kami ke depan hotel Zurich tempat PO bis/travel menuju Painan. Begitu sampai, langsung pesan tempat duduk sederet di kursi tengah (mobil jenis L300), non ac tapi full musik, tiketnya 20rb/orang.

Painan adalah kota kecil yang menjadi ibukota dari kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Oleh karenanya kami menyusuri jalur pesisir, sebelah kanan pantai (dari arah Padang) sementara sebelah kiri perbukitan kadang lembah…indah banget deh. Krucils senang banget nih walau jalannya berkelok-kelok, mereka buru-buru mengabadikan jalannya dikamera. Seperti yang saya ceritakan diatas, minibis ini full musik…musiknya kencang banget memekakkan gendang telinga. Ketika saya minta supir mengecilkan volume musik, memang kecil sih namun hanya bertahan 5 menit sebelum volumenya dibesarkan kembali. OMG…itulah seni traveling, harus bisa beradaptasi…yo weslah, nikmati aja …

Nah serunya lagi, saya sama sekali gak tahu letak rumah uni & etek saya ini. Jadi sms-smsan deh, mau wa gak ada sinyal, mau telp musiknya ajib banget…hahaha. Salah satu keuntungan pakai travel adalah diantar sampai tujuan, di rumah etek saya walau saya sempat salah berhenti tapi gak jalan kaki jauh kok. Saya lupa lagi sampai di Painan ini jam berapa, tapi yang pertama terasa adalah Painan lebih panas dibanding kota Padang. Kami langsung keringatan…

Walau Painan ini sedang ngehits karena sedang digalakkan menjadi kota wisata bahari karena letaknya yang di sepanjang pesisir dan pantai, sayangnya transportasi sangat minim. Hanya ada dokar (itupun hanya di pasar) dan ojek biasa (bukan ojol). Agak ribet kalau tidak memiliki kendaraan, naik ojek hanya bisa maksimal 2 orang. Otomatis kami hanya di rumah saja, walau rumah etek sebenarnya dekat dengan Pantai Carocok. Krucils protes karena tidak kemana-mana, tapi memang tujuan ke Painan ini tidak untuk berwisata namun mengunjungi keluarga ya akhirnya krucils bisa nerima juga karena kemudian asik bermain dengan sepupunya yang seumuran.

# Menuju Batu Sangkar, 29 Juni 2018 #

Berbekal informasi dari etek saya, keesokan harinya kami kembali memesan travel kembali ke Padang. Travel Mia, travel yang sama yang mengantar kami ke Painan. Dijemput kerumah dan diantar sampai tujuan. Suami saya nanya mau dipesankan hotel gak di Padang? Setelah saya pikir-pikir, kalau saya istirahat di Padang dulu sebelum ke Batu Sangkar nanti capeknya double…sudahlah langsung lanjut aja ke Batu Sangkar biar sekalian capeknya.

Kami dijemput dirumah sekitar jam 9-an (kalau gak salah, lupa lagi) dan sampai di Padang jam 12-an siang tepat saat adzan sholat Jumat. Kami berhenti di tujuan akhir travel yaitu pasar ( lupa lagi nama pasarnya) dan dekat pasar itu ada mall. Di mall itulah kami makan siang dulu sembari menelpon travel tujuan Batu Sangkar. Travel tujuan Batu Sangkar ini rekomendasi dari etek saya, jadi ya percaya aja. Saya pikir travelnya sejenis ke Painan yang mobilnya agak lumayan gede, ternyata mobilnya Avanza. Dan posisi saya terjepit di kursi paling belakang ditengah-tengah bapak ibu yang agak gede, bener-bener terjepit…sesak banget. Untungnya krucils saya bisa dapat tempat duduk di kursi tengah…yang penting anak-anak posisinya enak, emaknya biarlah sesak…hehe.

Travel ini masih jemput sana sini lagi, akhirnya baru benar-benar jalan tuh sekitar jam 4-an sore, ya ampun muternya sudah lebih dari sejam. Yang nambah bikin dongkol, begitu sudah jalan arah keluar kota, Ac nya dimatiin kaca jendela dibuka lebar dan supir merokok, ampun deh saya jadi ngedumel-dumel. Untung sebagai emak sigap.. tas sandang dipenuhi perlengkapan perang ala Doraemon, ada masker…keluarkan julurkan ke krucils. Singkat cerita, kami orang terakhir yang diantar ke tujuan karena rumah om saya paling jauh (Pasir Laweh, kurang lebih 10km dari Batu Sangkar) dari penumpang lainnya. Kami tiba sekitar jam 9-an malam (kalau gak salah, lupa lagi) disambut oleh hujan dan suhu dingin pegunungan (rumah om saya persis dikaki gunung Merapi). Saat bayar, ditagih 120rb untuk bertiga, berarti 40rb/orang.

Karena sudah malam, ngantuk ditambah hujan, kami tidak memperhatikan sekeliling. Baru keesokan harinya begitu keluar rumah om saya…wuiiih serasa diatas awan, keren. Selama di Pasir Laweh kami diajak ke Danau Singkarak, Istana Pagaruyung dan ke Rumah Gadang…rumah kakek nenek saya (walau keduanya sudah tidak ada). Kami tidak berlama-lama di Pasir Laweh karena petualangan masih panjang selain saya juga mabuk akibat kelokan-kelokan di Sumbar…haha. Kami hanya 1 hari 2 malam di Pasir Laweh sebelum melanjutkan petualangan ke kota selanjutnya.

# Menuju Pekanbaru, 1 Juli 2018 #

Pagi hari di awal Juli, saya mulai packing-packing lagi. Untunglah punya om dan etek di Pasir Laweh jadi bisa numpang nyuci pakaian kotor di rumah om dan hebatnya walau cuaca sepanjang hari mendung kelabu, eh jemuran kering juga. Gak bawa pakaian kotor tuh lumayan menghemat tempat. Heran juga kalau bawa pakaian kotor tiba-tiba berat bawaan berasa nambah, mungkin nambah karena daki yang melekat dipakaian kotor…hahaha.

Tante saya memesankan travel langganannya ke Pekanbaru. Travel-travel ke Pekanbaru sedang full, mungkin bersamaan dengan arus balik. Satu-satunya yang tersisa hanyalah seat paling belakang. Mobilnya Luxio, yang atapnya dihias rumai-rumbai. Pihak travel berjanji akan menjemput kami jam 7 pagi, namun sampai jam 8 belum muncul juga, onde mande…

Baru jam 8 lewat kedengaran mobil klakson-klakson. Dan ternyata setelah menjemput kami, harus menunggu supir aslinya dulu di suatu tempat dan menjemput penumpang lain lagi yang duduk ditengah. Biaya travel Pasir Laweh – Pekanbaru ini 110rb/orang dan diperkirakan perjalanan hanya menempuh waktu 4-5 jam paling lama namun kenyataannya molor hingga 8-9 jam, yang membuat khawatir orang sekampung haha (si ayah, orang tua saya, om & etek bahkan adik sepupu saya). Kalau ditanya kenapa sih kalian kok lama gitu? Lah kami juga gak tahu kenapa, soalnya tuh supir travel ngebut…hambatannya hanya ada satu jalur yang harus gantian lewat karena katanya sih sedang pembuatan jembatan. Itu tok, itupun hanya sekitar setengah jam saja terhambat…sisanya lancar. Kecuali saat memasuki Pekanbaru agak macet dan harus mengantar penumpang lain dulu.

Jalan dari Pasir Laweh ke Pekanbaru ini keren bingit, kami melalui bukit-bukit dan kelok 9 yang terkenal itu. belum lagi hutan-hutannya yang terjaga, seketika saya langsung teringat sama si ayah. Ayah paling suka nih jenis jalan beginian, berhutan…kerena banget deh, sayang ayah gak bisa ambil cuti lama. Alhamdulillah krucils saya gak mabuk, walau anak-anak pasangan suami istri yang duduk di bangku tengah depan kami bolak balik muntah yang membuat saya khawatir takut krucils mual mencium bau muntah.

Di jalan kami sering melihat pemburu-pemburu babi membawa anjingnya, bahkan om saya saja ketika kami berangkat sedang bersiap-siap berburu babi. Rupanya sedang ada festival berburu babi di situ. Walau mayoritas penduduk Sumbar adalah muslim namun berburu babi adalah tradisi adat, terutama di daerah Batu Sangkar dan Pasir Laweh, karena babi adalah hama bagi tanaman penduduk. Hampir setiap rumah memilki anjing pemburu, biasanya mereka berburu dalam kelompok-kelompok.

Sekitar jam 16.30 akhirnya kami diantarkan juga ke hotel. Y..i…ppp…ie (dengan suara lemah karena capek hehe). Supirnya heran kenapa kami minta diantar ke hotel haha. Begitu konfirmasi ke resepsionis eh tuh resepsionis merasa tidak pernah menerima email bookingan si ayah. What? Tapi mas, email konfirmasi sudah saya terima…ini buktinya, sambil menunjukkan email konfirmasi yang dikirim ayah ke saya. Waduh bu, kalau dari pihak sana belum kirim email ke kita, kita gak bisa masukin ibu, sahut si mas resepsionis hotel. Buru-buru telp ayah, ayah telp pihak perbookingan hotel…pihak perbookingan hotel segera mengirim email ke pihak hotel. Lalu manajer hotel turun tangan, tadaaa…setengah jam kemudian kami sudah istirahat dikamar hotel.

Diantara kota-kota lain yang sudah kami singgahi di Sumatera, hotel di Pekanbaru ini juaranya. Bukan masalah bagus tidaknya, kamarnya sih standard hotel bintang 3, cuma harganya murah banget… 220rb-an saja, walau tanpa breakfast (saya juga gak pernah ambil breakfast hotel karena rugi, yang makan hanya boleh 2 orang sisanya bayar full yang biasanya biayanya malah bisa untuk makan bertiga). Di Pekanbaru hotel-hotelnya murah, bahkan untuksekelas hotel bintang 4 dan 5 saja harganya masih terjangkau (kalau pesan online ya, entah kalau pesan langsung mungkin ya mahal juga).

Setelah istirahat, sholat, kami langsung cabut mencari laundry kiloan terdekat dan mencari makan. Hotel ini juga letaknya strategis, dekat dengan mall dan banyak tempat makan seputaran hotel. Selama di Pekanbaru kami lebih banyak ngumpul dengan sohib-sohib kuliah saya yang sudah lama banget gak ketemu. Mereka bilang salah tujuan kamu kalau mau wisata di Pekanbaru, Pekanbaru tuh banyakan mall daripada tempat wisata 😀 Di Pekanbaru kami hanya ke Taman Budaya Riau, Mesjid An Nur, dan Perpustakaan Soeman HS yang bangunannya berbentuk alas Al-Quran dan sekilas mirip buku yang dalam posisi terbuka.

# Menuju Medan, 4 Juli 2018 #

Leher saya sakit, salah urat karena kelamaan di travel saat menuju Pekanbaru. Selain itu saya sudah gak mood lagi meneruskan petualangan saat di Pekanbaru. Namun krucils saya memaksa agar kami meneruskan hingga Aceh. Aceh memang kota incaran saya dan memang diniatkan sebagai penutup petualangan keliling Sumatera. Namun karena sakit leher, mood juga sudah berkurang drastis karena mulai kelelahan, saya mulai bimbang antara melanjutkan petualangan atau pulang apalagi orang tua saya setiap telp hanya satu kata, menyuruh kami pulang.

Satu yang hal yang menguatkan saya untuk melanjutkan petualangan adalah saya ingin adil terhadap anak-anak saya. Sulung saya pernah menginjakkan kakinya di Medan walau masih bayi dan dia sendiri bahkan lupa. Karena sulung saya sudah pernah, saya ingin bungsu saya juga merasakan yang hal yang sama sehingga mereka selalu merasa bersama, tidak dibeda-bedakan. Menambah semangat saya adalah melihat tekat bungsu saya yang setiap telp ayahnya selalu cerita bahwa adek mau ke Istana Maimun di Medan sebelum pulang. Bungsu saya ini memang suka fairy tale…mungkin dikiranya Istana Maimun ini seperti istana princess dalam cerita kartun.

Baiklah, akhirnya saya putuskan…ok kita lanjutkan petualangan kita ke kota selanjutnya dengan tiba-tiba sekali, yaitu subuh hari tanggal 4 Juli 2018. Sampai sohib saya buru-buru juga menjadwalkan untuk mengantar kami. Suami saya tahu saya sedang ragu namun dia tidak mau ikut campur terhadap keputusan saya, itu sebabnya ketika saya bilang kami lanjut ke Medan hari itu dia kaget dan buru-buru mencarikan informasi bis menuju Medan. Ada beberapa bis yang sudah ditelp suami saya, namun saya masih ragu antara lanjut hari itu atau esoknya, itu sebabnya tidak ada satupun bis yang sudah ditelp suami saya yang saya ambil…haha. Untungnya bis gak bisa online jadi bookingnya hanya bisa untuk pesan tempat.

Akhirnya bersama sohib-sohib saya kami mencari pangkalan bis. Pangkalan bis nih berada di satu jalan namun mencar-mencar, jadi bagi tugas ada yang melihat sebelah kiri, ada yang bertugas melihat kesebelah kanan jalan. Karena sebelumnya kami makan-makan dulu dan terjebak macet, baru menjelang maghrib nemu bis yang dirasa pas. Buru-burulah beli tiket seharga 230rb/orang, sambil membahas ambil jam 19.30 atau jam 20.00. Namun dengan pertimbangan banyak jalan yang macet di Pekanbaru belum lagi letak hotel yang jauh ditengah kota sedang bis berada di ring road, saya putuskan ambil bis paling malam yaitu bis jam 20.00. Sebelumnya wanti-wanti ke petugas bis agar menunggu sampai kami datang baru bis boleh jalan…hahaha.

Saat buru-buru balik hotel, mobil ngebut melintasi jalan tikus agar bisa sampai cepat dihotel karena barang belum di packing. Buru-buru packing, check out, pesan ojol dan langsung berangkat ke terminal bis. Untungnya setelah maghrib macet berkurang sehingga kami bisa tiba di terminal sebelum keberangkatan bis. Tapi karena serba buru-buru setelah makan-makan ditambah adrenalin karena takut ketinggalan bis padahal sudah bayar lumayan juga, begitu masuk bis saya mual. Mungkin juga salah makan karena sebelumnya saya makan sambal juga, ditambah faktor kelelahan dan sakit leher yang makin menjadi, saya merasa mual selama perjalanan. Untungnya krucils saya kuat, walau pusing tapi mereka tidak ada yang mabuk perjalanan.

Bis menuju Medan ini dari segi fisik sih bagus, sayangnya kursi belakang ada ruang untuk merokok yang walau ditutup kaca namun kalau ada yang merokok diruangan tersebut, tercium juga asapnya sampai keluar ruangan. Saya dan krucils yang tidak tahan bau rokok jadi pening menciumnya. Karena saat packing barang di hotel buru-buru, masker yang biasanya selalu di tas sandang malah kelupaan ditaruh di koper yang sudah disimpan manis dalam bagasi bis.

Kami tiba di Medan sekitar jam 9 pagi keesokan harinya (5 Juli 2018). Saat masih berada di Pekanbaru saya sempat screenshot hotel yang saya inginkan di Medan yang saya liat harganya murah dan letaknya strategis. Mungkin karena bukan hotel jenis yang biasa kami pesan, si ayah bersikeras mencarikan yang lebih bagus namun saya bersikeras minta hotel itu saja. Pertimbangannya letaknya dekat Istana Maimun menurut maps (bisa berjalan kaki), juga harganya murah hanya 190rb-an. Jadi begitu buka wa (selama perjalanan biasanya wa saya non aktifkan, hanya dibuka ketika sudah tiba di kota tujuan), sudah masuk email konfirmasi hotel yang dikirim si ayah. Begitu buka, memang hotel yang saya maksud tapi ternyata dibelikan kamar yang termahal oleh si ayah. Kalau ayah beli dengan harga sekian ya mending hotel yang lebih bagusan aja dong ahhhh…TT. Si ayah ambil jalan tengah, dia tahu istrinya maksa nginap di hotel itu walau dia gak suka, akhirnya dia belikan kamar termahal…hahaha..

Posisi hotelnya sih kalau niat jalan sih ya emang dekat kemana-mana, masalahnya kami jadi malas jalan karena melihat macet dimana-mana yang menyebabkan asap knalpot bikin pening pejalan kaki, ditambah cuaca yang lumayan menyengat. Begitu masuk kamar hotel, saya diare. Entah ketularan sulung saya atau akibat salah makan, sehari sebelumnya di Pekanbaru saya memang makan sambal. Akhirnya seharian kami di kamar hotel saja tidak berani keluar, takut mules di jalan. Selama di kamar, tiap selesai buang air saya bombardir pakai norit dan diatabs. Alhamdulillah keesokannya berkurang frekuensi mulesnya. Pesan makan akhirnya pakai aplikasi ojol..malamnya sempat minta belikan obat tambahan juga melalui ojol untuk berjaga-jaga kalau persediaan obat-obatan yang saya bawa habis.

Berpetualang membawa anak memang harus lengkap membawa perbekalan termasuk membawa obat-obatan pertolongan pertama, seperti norit, obat demam anak, vitamin dan hansaplast. Biasanya yang perhatian terhadap hal beginian si ayah, saya sih cuek. Untungnya ayah mengantar kami sampai Palembang, dia yang mengupdate isi tas obat-obatan ini. Saat sulung saya diare di Bengkulu, isi tas saya tambahin lagi dengan vitamin dan madu. Jadi sebenarnya stok sih lumayan komplit, cuma takut kehabisan aja makanya nambah stok lagi melalui ojol.

Untuk mensiasati kalau tengah malam krucils kelaparan atau kala hujan yang menyebabkan kami tidak bisa keluar cari makanan, saya juga biasanya menyetok makanan yang dibeli di minimarket saat keluar hotel. Biasanya berupa mie instant cup, roti-roti, kue kering, ayam goreng dan minuman yang bisa diseduh (karena di kamar hotel umumnya disediakan teko listrik). Bawa anak berpetualang memang gampang gampang susah tapi lebih banyak hepinya sih menurut saya. Mereka menghibur banget dengan kelakuan-kelakuan ajaib khas anak-anak mereka seperti tidak malu (lebih tepatnya tidak tahu malu) mengeksplore hal-hal yang membuat mereka penasaran seperti seluruh isi hotel, kadang kesannya malah kayak gak pernah ke hotel aja…tapi itulah anak-anak dengan dunianya.

Kembali ke cerita, diantara petualangan kami dari satu kota ke kota lain di Sumatera, di Medan inilah kami stay paling lama. Saya berusaha merecovery kondisi saya, menata jiwa petualang saya lagi agar bisa bersemangat lagi meneruskan petualangan yang hanya tersisa satu kota di ujung pulau Sumatera. Namun kemudian saya mulai merasa malas, malas untuk packing lagi, malas untuk searching bis ke Aceh, malas searching ini itunya…intinya saya sudah pengen pulang. Lalu saya ingat pesan suami saya, kalau bunda sudah merasa gak asik lagi, sudah merasa capek, pulang aja.

Pilihan itulah yang akhirnya saya pilih, pulang. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang ini saya agak menyesal juga tidak meneruskan petualangan kami, tinggal selangkah lagi menuju kota incaran saya. Ketika saya beritahukan ke si ayah bahwa kami tidak melanjutkan petualangan, si ayah tidak komentar apapun. Dia adalah orang pertama yang mendukung kami untuk sampai Aceh, tapi ketika tahu saya lebih memilih pulang…dia diam saja. Baru ketika kami sampai rumah dia menyayangkan kenapa saya menyerah…padahal tinggal selangkah lagi. Ya saya menyerah, karena sebaik-baiknya tempat adalah tempat yang disebut “rumah”.

Selama di Medan kami paling banyak mengunjungi museum, rasanya semua museum di Medan kami datangi haha. Kami mengunjungi Mesjid Agung Al Mashun, Istana Maimun, Tjong A Fie Mansion, Museum Negeri Sumatera Utara, Museum Uang Sumatera, Museum Perkebunan, Upside Down World, Rahmat Wildlife Museum, Magic 3D Eye Museum dan kulineran di Merdeka Walk. Mengapa saya tidak mengeksplore diluar Medan seperti Danau Toba atau Air Terjun Siapi api? Seperti saya sebut sebelumnya, saya sudah malas dan lelah. Malas memulai proses petualangan seperti packing, check out, searching transpostasi, menempuh jarak jauh dan lama di jalan, dan tetek bengek lainnya. I hope someday, we will comeback soon dengan formasi yang lengkap dengan ayah.

# Menuju Hometown, 10 Juli 2018 #

Kalau ada yang nanya kenapa pilih hari Selasa (10 Juli 2018) untuk pulang? Alasannya sederhana, pada tanggal itulah harga tiket yang terjangkau oleh kami…haha. Arah dan jadwal petualangan yang tidak ditentukan di awal, serba dadakan membuat saya memang tidak bisa membeli tiket jauh-jauh hari. Perjalanan kami hanya menyesuaikan dengan kondisi krucils dan mood, kalau krucils sehat kami hanya mampir sebentar disebuah kota, sebaliknya kalau kondisi sedang drop ya agak lamaan menunggu fit kembali. Sama seperti ketika saya putuskan kami pulang dari Medan, ya keputusan diambil secara dadakan karena saya merasa kondisi saya tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan petualangan.

Akibatnya dicarilah tiket termurah yang paling mendekati hari saya mengambil keputusan pulang. Saya minta pulang tanggal 8, dicari tiket tgl 9 dan 10, tanggal 10 lah yang terjangkau itupun setelah si ayah begadang semalaman memantau harga tiket…haha. Dan diantara semua penerbangan yang ada, dipilih pernerbangan yang waktu transit di Jakarta paling sebentar. Akhirnya terpilihlah penerbangan pertama jam 05.50 dari Medan, transit 2 jam di Jakarta sebelum lanjut terbang ke hometown.

Hari terakhir di Medan, saya minta pindah hotel untuk ketiga kalinya. Saya lebih merasa tenang kalau dekat dengan airport, kalaupun terlambat bangun ya masih bisalah mengejar pesawat hehe, selain itu pihak hotel menyediakan free shuttle ke bandara. Alasan lainnya adalah saya agak takut naik taxi saat dinihari hanya bertiga dengan krucils. Sebenarnya ada pilihan lain yang diinformasikan oleh teman saya, yaitu naik kereta bandara yang letaknya tidak jauh dari lokasi hotel kedua kami. Setelah melakukan pengamatan, letak stasiun ini sebenarnya dekat namun harus berjalan kaki sedikit dari hotel melalui wilayah-wilayah agak agak gelap kalau malam…saya gak berani juga ambil resiko kalau kami harus berjalan kaki dinihari menuju stasiun. Jadi pilihan saya adalah pindah hotel mendekat ke area bandara.

Begitu check in hotel, saya langsung pesan ke resepsionis hotel untuk shuttle jam 4 subuh dan morning call jam 3 dinihari. Jam 03.00 dinihari mulai packing-packing kembali, bangunin krucils, check out. Jam 04.00 sudah diantar shuttle ke bandara, sekitar 10-15 menit kemudian sudah sampai bandara. Singkat cerita …jam 05.00 kami sudah duduk manis diruang tunggu bandara dan sempat sholat di mushola bandara. Jam 05.50 boarding, sekitar jam 08.00 tiba di Soekarno-Hatta Jakarta, buru-buru proses transit langsung masuk gate karena antrian panjang. Baru sadar…kami kelaparan, belum sempat makan. Untung di ruang tunggu sekarang ada minimarket, terpaksa makan mie instant dan roti saja untuk mengganjal perut.

Jam 10.30 Wib mulai boarding, jam 14.00 Wita landing di hometown. Karena kami tidak pernah masukin barang ke bagasi, koper yang dibawa adalah koper kabin jadi bisa masuk kabin aja, makanya saat orang antri bagasi kami sudah bisa ngacir keluar. Ayah sedang job keluar kota pagi itu, namun demi krucils buru-buru menyelesaikan kerjaan agar bisa menjemput kami, tapi saya tidak memberitahukan hal ini ke krucils. Saya hanya memberitahu ayah job hari ini, jadi krucils tidak mengira kalau ayahnya akan menjemput. Begitu keluar, melihat ayahnya sedang menunggu di pintu… mereka langsung lari meninggalkan bawaan masing-masing (selama di Pekanbaru mereka ke bazar buku murah dan membeli banyak buku, akibatnya bawaan jadi nambah. Buku-buku belanjaan mereka saya serahkan ke mereka agar bertanggung jawab sama belanjaan masing-masing)…lari-lari menghampiri dan memeluk ayahnya.

Begitu bertemu ayahnya mereka langsung mengajak makan, eh makannya minta di rumah makan Padang…hahaha. Selama di Padang kami memang menahan diri tidak makan makanan Padang karena ketika itu sulung saya sedang terkena diare. Makan makanan Padang malah di hometown…memang enakan di “rumah” sih, bebas mau ngapain dan makan apa juga…hahaha.

PS :
1) Terima kasih tak terhingga untuk keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan teman-teman yang mendukung dan telah membantu kami selama perjalanan, mulai dari kasih saran, kasih informasi, ngajak jalan sampai traktir. Kalian the best…kecup kecup
2) foto diambil dari Atlas Lengkap Indonesia & Dunia punya krucils yang saya simpan, sebagai acuan arah perjalanan selama melakukan petualangan

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: