Upside Down World

11 07 2018

Setelah tour dari satu museum ke museum lainnya, kamipun makan siang. Kalau kenyang, hati senang, langkah pun jadi ringan . Dari awal hari krucils sudah merayu-rayu bundanya agar bisa ke Upside Down, bunda sih sebenarnya malas selain begitu buka maps letaknya lumayan jauh, malasnya semakin menjadi begitu tahu harga tiket masuknya. Kalau sama bunda, kita cari yang berbiaya hemat aja deh nak

Namun setelah makan siang, perut kenyang, tiba-tiba si bunda pun berubah pikiran. Hayulah, kalian mau kemana kita jabanin deh mumpung masih di Medan, bentar lagi kita pulang. Begitu tahu bundanya berubah pikiran, eh krucils nyaris tidak percaya…beneran kita kesana? Iya beneran, pesanlah goblue. Dan singkat cerita, sampailah kami ke Upside Down World ini. Tiket masuknya 50rb/dewasa, 25rb/anak. Begitu masuk, ada mbak yang mengarahkan gaya kami untuk berpose dan mbak ini juga yang foto-fotoin kami dengan kamera milik kami sendiri.

Karena gayanya sudah diarahkan, kami yang gak jago berpose ini jadi enak…tinggal ngikutin arahan si mbak aja. Suruh liat atas, suruh liat kamera, megang ini, kaki kesana, tangan kesini, dsb. Dan hasil fotonya pun jadi memuaskan. Setelah sesi foto bersama si mbak di tiap ruangan selesai (ada beberapa ruangan, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur,dsb), lalu kami dibebaskan berkeliling mengambil foto dengan gaya masing-masing. Tapi hasilnya memang bagusan hasil arahan daripada gaya sendiri…gimana mau jadi model kalau gini caranya

Nah krucils saya betah banget disini, dari banyak pengunjung sampai tersisa hanya kami bertiga. Sampai akhirnya muncul juga petugasnya nungguin kami, karena sudah ditungguin begitu sambil diliatin kan jadi gak enak juga. Hayulah krucils, mari kita balik…

Advertisements




Museum Perkebunan

11 07 2018

Setelah dari museum negeri, lalu lanjut ke museum perkebunan. Panggil gocar, si bapak nanya mau ke museum perkebunan ya bu? Iya pak. Dekat avros itu ya bu? Waduh gak tahu saya pak. Lalu si bapak melanjutkan lagi, jadi sedang tour museum ini bu? Yoi pak…kan kami anak museum seleranya anti mainstream

Skip skip skip, singkat cerita sampailah di museum walau si bapak kelewatan. Terus pake adegan ciiitt, ngerem mendadak…pak kelewat…itu museumnya. Mundur dikit…eh nanggung muterlah si bapak untuk mengantar tepat depan museum. Eh pake gerbang museum ditutup segala lagi. Agak kecewa plus gondok …sudah bela-belain kesana melewatkan jam makan antara pagi dan siang panas, lapar, haus eh pake tutup segala. Sudahlah, nanggung kita sudah disini…kita foto-foto depannya aja, ajak saya ke krucils. Tapi gerbangnya ditutup bunda, sahut mereka. Tenang pasti ada jalan…liat-liat eh tuh gerbang paling ujung buka, kayaknya bisa lewat sana.

Benar saja, gerbang ujung itu gerbang menuju wisma avros tapi karena wisma tersebut masih satu lingkungan dengan museum, jadi ya bisa lewat situ juga. Muterlah lewat sana, masuk ke arah museum…eh ternyata museumnya buka! Pintu museum terbuka lebar namun tidak nampak satupun orang. Teriak-teriaklah kami, halo …halo, somebody…ada orang disini? Gak ada yang jawab. Masuklah kami lewat pintu museum yang terbuka, siapa tahu penjaga museumnya sedang bersih-bersih didalam jadi gak dengar kami teriak-teriak di pintu.

Begitu masuk, adem…ada kipasnya sementara cuaca diluar panasnya kebangetan. Di ruang depan masih kosong, intip ke ruang selanjutnya yang remang-remang, kosong juga. Dari ruang kedua ada pintu keruang ketiga, intip lagi dari arah pintu ruang kedua…ruang ketiga lebih terang sih. Tapi tiba-tiba bungsu saya menjerit, kaget adek liat orang itu serunya…terus terang saya sama sulung saya gak liat orang sama sekali, jadi saya kira bungsu saya melihat orang yang maksudnya adalah penjaga museum. Tapi bungsu dan sulung langsung lari…karena mereka lari, otomatis saya ikutan lari. Pas diluar, saya nanya dimana ada orang dek? Bukan orang, maksud adek patung dipojokan…adek kaget liatnya jawabnya lagi. Oaalaaahhh…bikin kaget bunda dan abang aja.

Saat saya ajak masuk lagi mereka gak mau, gak ah…serem…hahaha, jadi seharian tour museum serem aja ya kita, plus lari-larian di museum. Akhirnya kami liat-liat pesawat dan kereta api yang dipajang di depan museum aja sembari celingak celinguk siapa tahu penjaga loket museum muncul. Tapi sampai setengah jam ditungguin gak ada satu orang pun yang muncul…akhirnya kami pun memutuskan, yuks kita cabut ke tempat lain aja sembari mengisi perut yang sudah keroncongan terlebih dahulu.





Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara

11 07 2018

Sebagai bocah penggemar museum, rasanya gak afdol bagi krucils kalau ke sebuah daerah gak mengunjungi museumnya, walau rasanya semua museum sudah dikunjungi di Medan ini tapi ternyata masih banyak aja museum yang belum dikunjungi, salah satunya Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara ini. Hari ketiga di Medan kami pindah hotel, karena itu kami lebih banyak menghabiskan waktu di hotel biar gak rugi haha . Begitu siang saatnya pindah hotel ke yang lebih strategis, lanjut makan-makan di merdeka walk yang tepat seberang hotel…selesai makan liat jam sudah menunjukkan angka 14.30. Padahal jam buka museum negeri hanya sampai jam 3an sore. Hitung-hitung sama macet dan jarak, kayaknya gak kekejar…yo wes hari ini kita main seputaran hotel aja.

Baru keesokannya kami ke museum, pagi-pagi sekali selesai sarapan, langsung pesan goblue dan siap menuju museum. Sekitar setengah jam kemudian sudah celangak celinguk depan museum, wuih masih sepi tapi sudah buka. Baiklah, markimas…mari kita masuk. Begitu bayar agak terkejut-kejut, hanya 6rb untuk bertiga, dengan rincian 3rb/dewasa,1500/anak. Wooowww, saya suka sih kalau tempat wisata tuh matok harga yang terjangkau tapi kok kayaknya yang satu ini terlalu murah juga saya rasa. Biasanya masuk museum milik pemerintah tuh ya 3rban lah perorang…jangan lupakan biaya perawatan juga pak.

Setelah foto-foto di lobby, mulai melangkah masuk. Celingak ke kanan gak ada orang, celingak ke arah kiri sami mawon…baiklah, kita mulai dari kiri dulu. Begitu masuk masih biasa, semakin ke dalam semakin temaram, semakin sepi dan semakin banyak patung. Tiba-tiba bungsu saya menarik tangan saya, adek gak mau kesana ajaknya balik arah…awalnya masih jalan santai dengan cool, lama-lama jadi lari…jadilah ikutan lari juga abang dan bundanya …hahaha. Hey kenapa kita jadi lari gini…serem sih kata krucils kompak.

Waduh, masa kita belum liat-liat sudah gak berani masuk gini, kan gak lucu. Tiba-tiba muncul bohlam raksasa di kepala si bunda “cling”, oh ya bunda pernah baca kalau disini ada guidenya. Kita pakai guide aja gimana? Setuju, krucils langsung antusias. Iya bunda pakai guide aja biar nemenin dan juga yang nerangin tentang isi museum. Baiklah…lalu keluar lagilah kami menemui mbak penjaga loket yang sedang asik telponan. “Maaf mbak, ada guidenya gak?”tanya saya. Si mbak mengangkat wajah melihat saya dengan agak kaget dengan pandangan tersirat kenapa si emak satu ini muncul lagi padahal baru masuk, “memangnya kenapa bu? Ada apa?”balasnya bertanya. Saya sok cool “gak kenapa-kenapa. Cuma biar jelas aja kalau ada yang nerangin” (trik supaya gak keliatan cemen…haha).

Si mbak buru-buru tutup telp. “Ada bu, bentar saya panggilin” seraya keluar museum memanggil seseorang. Lalu sementara menunggu, saya tanya berapa biaya guidenya? Seiklasnya jawab si mbak. Gak berapa lama muncullah bapak-bapak paruh baya yang bertanya, dimulai dari mana kita bu? Waduh, ini guide kok malah nanya…piye sih. Saya, bapak silahkan mulai darimana saya juga gak tahu. Dan si bapak memulai dengan cerita tentang suku-suku di Medan yang terdiri dari 8, yaitu Madailing, karo, Melayu, dsb. Singkat cerita, sampailah kami ke lantai 2, nah saat berada didekat sebuah patung (awalnya saya pikir patung), guide menunjuk ke patung itu sambil bertanya ibu pernah mendengar tentang boneka si gale-gale? Saya tidak pernah mendengar…lalu si bapak guide menjelaskan, boneka ini dibuat oleh seorang raja yang berduka telah kehilangan anaknya karena sakit. Untuk menghibur si raja, dibuatlah boneka yang menyerupai si anak, lalu diisilah boneka tersebut dengan magic, sehingga kalau boneka tersebut mendengar musik bisa menari. Lalu saya pun bertanya, yang dipajang di museum tersebut boneka aslinya atau replika? Guide pun menjawab replika.

Lalu dengan nada misterius si guide pun melanjutkan ceritanya, dulu waktu museum ini dipugar dan boneka ini masih belum di tutup kaca, tukang-tukang kan asal pegang…tahu-tahu boneka ini bergerak sendiri dan listrik seluruh museum inipun tiba-tiba mati. Lalu kadang-kadang anak sekolah juga suka ribut-ribut, pegang-pegang, boneka ini bergerak juga. Pokoknya boneka ini gak suka kalau diganggu atau kalau ada orang gak baik, sambung si bapak guide lagi. Saya yang awalnya mau motret boneka tersebut jadi jiper dengar cerita si bapak, baiklah pak…mari kita lanjut lagi ke tempat lain. Bungsu saya yang awalnya sudah gak takut lagi sejak dengarin sejarah museum dari si guide, begitu dengar cerita boneka tersebut langsung mengajak buru-buru.

Baru setelah kunjungan di museum berakhir, setiba di hotel baru bungsu saya mau cerita kalau dia takut selama di museum hahaha. Gpp dek, gak usah takut kan kita gak ada niat jelek. Kembali ke guide, setelah kunjungan berakhir…saya jadi bingung mau ngasih berapa. Saya paling susah nentuin nominal kalau seiklasnya itu. Setelah mikir-mikir, saya kasih 30rb si bapak guide. Yuks anak-anak ke museum mana lagi kita hari ini?