Museum Adityawarman

29 06 2018

Padang…here we come. Krucils yang berdarah campuran cem gado-gado namun cenderung berat ke kai nya yang Banjar, baik selera dan bahasa. Tapi sebagai turunan Padang dan tanjakan Batu Sangkar …beberapa makanan nyantol juga di selera mereka seperti sate padang dan gulai otak. Jadi walau kecewa tidak dapat bis ke Jambi, tapi mereka tetap senang bisa menginjakkan kakinya ke Padang. Begitu sampai di Padang yang pertama-tama dicari adalah gulai otak…OMG

Nah karena makanan di Sumatera cenderung pedas dan berbumbu, sulung saya jadi diare. Itu sebabnya hari pertama di Padang kami ngendon di kamar hotel saja. Baru hari kedua pagi buru-buru sempatkan mampir di museum yang letaknya persis di seberang hotel. Seperti halnya museum-museum lainnya, tiket masuknya juga murah…dan sekali lagi saya lupa harganya hahaha.

Museumnya berbentuk rumah gadang, itu tuh rumah yang bentuknya bertanduk-tanduk khas minangkabau. Isi museumnya sih macam-macam, ada tentang pers, ada tentang mentawai, dsb. Disini juga ada penyewaan baju adat loh, siapa tahu ada turis yang mau pakai baju adat minangkabau untuk berfoto-foto. Kami tidak konsen karena sulung saya yang masih sakit perut sehingga terburu-buru banget menyelesaikan tour de museumnya. Begitu keluar museum hendak kembali ke hotel, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa tiap tanggal 26 juni, jam 10 akan diadakan latihan evakuasi tsunami. Krucils langsung penasaran menunggu apa yang terjadi, ternyata tepat jam 10 terdengar sirine nyaring, namun tidak ada tanda-tanda orang berlarian. Dan tour ke museum pun diakhiri dengan krucils bercerita seru kepada ayahnya.

Advertisements




Rumah Pengasingan Bung Karno

28 06 2018

Setelah puas mengelilingi benteng dibawah terik mentari yang bikin emaknya krucils yang hitam ini tambah legam, kami pun jalan seputaran benteng. Ada daerah pecinan, ada pantai (walau kami tidak ke pantainya), ada juga View Tower yang terlantar dan saat mendekati kantor gubernur yang banyak rusanya, tiba-tiba kami dikagetkan ada orang marah-marah gak jelas. Hiiii…ngeriiii, kabuuurrr. Langsung balik badan, balik ke hotel…haha.

Setelah makan siang dan istirahat di kamar, lalu lanjut jalan kaki ke jalan Soekarno. Jalan Soekarno ini bersebelahan dengan jalan Fatmawati, jika di jl.Fatwamati ada rumah ibu Fatmawati, di jl.Soekarno ada rumah pengasingan Soekarno. Kedua jalan ini sangat dekat dengan hotel kami yang berada di Simpang Lima Ratu Samban. Tiket masuk rumah pengasingan ini cukup murah, detailnya saya lupa lagi, kalau tidak salah sekitar 3rb/orang.

Ketika kami datang sedang penuh dengan turis lokal. Saya senang melihat antusiasme turis lokal, cuma saya miris melihat tingkah kebanyakan dari mereka. Sudah jelas-jelas dibeberapa area ditulis larangan menduduki..eh malah tulisannya disingkirkan, lalu mereka duduk dan berfoto-foto. Belum lagi yang membawa minuman dingin yang ditaruh disembarang tempat seperti dimeja atau tempat tidur, sehingga menyisakan bekas-bekas air ditempat tersebut, atau sumur dibelakang yang jadi tempat mencuci muka dengan harapan jadi awet muda. Well…whateverlah, terserahlah…suka-suka kalian deh mau selfie dimana tapi jangan juga ngerusak properti bersejarah dong ah. Gemes eike liatnya.

Nah back to stroy , krucils saya terutama yang sulung antusiasnya langsung melejit lejit dah kalau urusan dengan Soekarno, Habibie atau tokoh-tokoh besar lainnya. Dia bolak balik nanya, ini apa, itu apa, ayo kesini, ayo kesana, pengen liat ini, pengen liat itu. Dan dia kagum liat koleksi buku bung Karno yang lumayan banyak, tebal dan berbahasa asing. Rupanya Soekarno suka baca juga ya bunda, tuh bukunya sampai rusak-rusak gitu tunjuknya. Yaiyalah bang, kalau mau pintar ya harus banyak baca. “Abang juga banyak baca”,sahutnya lagi (bukunya memang bejibun juga sih seperti Soekarno). Iya, tapi ya jangan cuma komik dong hehehe

Ketika akhirnya rumah pengasingan sepi hingga menyisakan kami bertiga, kami berasa dirumah sendiri…haha. tiba-tiba muncul serombongan besar turis dan seorang guide. Karena masih penasaran tentang rumah ini dan Soekarno, akhirnya krucils nyempil diantara rombongan turis tersebut untuk ikut mendengarkan pernjelasan guide tentang Soekarno. Senang banget mereka mendengarkan guide bercerita, tiap dapat info baru langsung datangin emaknya yang sedang kelelahan sambil ngasih info “bunda, ternyata Soekarno itu bikin rumah juga, atau info-info lainnya.

Begitu sampai hotel, sulung saya langsung buka google…cari informasi tentang Soekarno yang lebih lengkap. Bahkan sampai menjelang tidur malam dia masih asik baca tentang Supersemar. Gak rugi si bunda ngajak krucils jauh-jauh jalan ya. Semoga kalian bisa membawa Indonesia jadi lebih baik ya





Fort Marlborough

28 06 2018

Agak sedikit ribet ngucapinnya, mungkin itu sebabnya di Bengkulu di sebut jadi Malebero. Gak susah sih ke benteng ini, kalau dari hotel kami di jl. Suprapto cukup naik angkot sekali. Biayanya saya kasìh 12 ribu untuk bertiga, eh supir angkotnya terima aja tanpa protes, berarti gak salah ngasih hehe. Di Bengkulu gak ada taxi seperti blue bird, saya belum pernah liat, tapi kata resepsionis hotel sih ada taxi tapi namanya kito atau semacam itulah kalau gak salah dengar. Juga gak ada Gojek tapi ada Grab, itupun tahunya hari terakhir di Bengkulu …jadi transportasi yang kami gunakan selama di Bengkulu ya angkot atau jalan kaki.

Kalau bingung, tanya aja warga lokal naik angkot apa tujuan benteng ini. Sebut aja nama bentengnya atau arah pecinan karena benteng ini memang dekat pecinan juga dekat sekali dengan Pantai Panjang. Biaya masuknya dewasa 5rb, anak-anak 3 ribu, eh pas saya nyodorin uang 11 ribu malah ditagih lagi, katanya kurang 2 ribu. Hmmm…ini saya yang salah ngitung atau anak saya sudah dianggap orang dewasa ya baiklah, demi memajukan wisata di Indonesia, kasih lagi 2 ribu tambahan.

Nah di benteng ini panasnya poll , ya pas sedang terik-teriknya ya dekat pantai juga. Alhasil keringat krucils bercucuran deras walau tidak menyurutkan langkah mereka yang antusias mengelilingi benteng. Favorite krucils banget nih mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Baiklah krucils, mari kita mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya di Bengkulu.





Rumah Ibu Fatmawati

28 06 2018

Yeaaayy….akhirnya sampai juga di Bengkulu setelah perjalanan yang terasa seperti setengah abad lamanya karena bis yang kebanyakan berhenti dan penuh sesak. Begitu sampai, tanya supir bis…naik angkot apa kalau ke jl. Supropto (letak hotel kami). Setelah miskom, akhirnya sampai juga di hotel sekitar jam 3-an waktu setempat. Krucils guling-gulingan di kamar, mengisitirahatkan badan yang super pegal karena ketekuk-tekuk di bis, lalu mulai deh perang bantal.

Baiklah kalau begini caranya, daripada mengganggu tetangga kanan kiri, setelah mandi dan sholat, kami pun jalan-jalan seputaran hotel mencari laundry kiloan yang murah daripada ngelaundry di hotel (tetap jiwa emak2 hematnya keluar). Waktu sedang jalan nyari-nyari laundry eh melihat ada rumah Ibu Fatmawati. Sayangnya sudah tutup karena hari sudah sore menjelang maghrib. Baiklah foto-foto sebentar lalu melanjutkan pencarian laundry sekalian mengisi perbekalan di kamar.

Baru keesokan sorenya kami kembali kerumah ibu Fatmawati ini yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Oiya, rumah ibu Fatmawati ini buka jam 8 pagi hingga 5 sore. Masuknya gratis, tidak dipungut biaya apapun, cukup mengisi buku tamu saja. Isi rumahnya ya rumah pada umumnya, ada ruang tamu, ada ruang tidur minus dapur aja…karena kami tidak melihat ada dapur. Nah diruang tamu dipajang lukisan besar Soekarno dan ibu Fatmawati, serta replika mesin jahit dan bendera merah putih yang dipasang di mesin jahit. Sedangkan didalam kamar ada juga mesin jahit lagi dengan bendera merah putih yang terlihat lebih berumur.





Museum Sriwijaya

28 06 2018

Atas rekomendasi penjaga Museum Baladewa, hari ketiga di Palembang kami pun berkunjung ke museum Sriwijaya ini. Letaknya menurut saya lumayan jauh dari pusat kota. Termasuk dalam Museum Sriwijaya ini ada Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Salah satu alasan krucil mengajak kami kesini adalah karena mereka penasaran mendengar kata purbakala, mereka berpikir mungkin nanti ada sisa-sisa kerajaan di wilayah ini.

Tiket masuk kedalam museum plus Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya ini cukup murah, detailnya saya lupa lagi. Tamannya terbagi dua bagian, di wilayah sekitar museum dan diseberang jalan. Kalau sudah mendapat tiket masuk taman boleh memasuki areal taman diseberang jalan, cukup tunjukin tiket. Tapi selama kami memasuki taman, tidak ada yang memeriksa tiket.

Memasuki museum yang sepi bikin krucils awalnya jiper…nempel emak babenya mulu. Namun begitu mulai melihat-lihat dan penasaran, malah betah disini. Sayangnya koleksi museum banyak yang mirip dengan isi museum Baladewa berupa prasasti, guci-guci, dsb. Kami tidak berlama-lama di museum, lalu melanjutkan mengelilingi taman purbakala. Setelah dilihat-lihat, taman purbakala ini tidak beda jauh dengan taman pada umumnya. Banyak pepohonan rimbun, beberapa pendopo, bahkan ada bagian yang penampakannya lebih modern. Krucils lumayan kecewa karena tidak sesuai dengan ekspeksatasi mereka yang berharap bisa melihat taman yang ada sisa-sisa kerajaan.





Benteng Kuto Besak

20 06 2018

Benteng Kuto Besak ini konon dulunya adalah keraton baru kesultanan Palembang yang pembangunannya di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badarudin I. Letaknya mengahadap sungai musi, dekat dengan Jembatan Ampera, patung ikan belida, Kantor Walikota dann Mesjid Raya…semua bisa dikelilingin dengan berjalan kaki. Sekarang benteng ini menjadi markas kodam Sriwijaya selain menjadi objek wisata kota Palembang.

Di sekitar benteng ini banyak tempat-tempat makan dan restaurant terapung. Banyak warga juga yang menghabiskan waktu duduk-duduk menikmati sore ditepian sungai Musi. Kalau anda sedang ke Jembatan Ampera, sempatkan berkunjung pula ke benteng ini.





Museum Balaputra Dewa

20 06 2018

Hari kedua di Palembang kami isi dengan mengunjungi Museum Balaputra Dewa. Dari hotel, kami jalan kaki ke arah jembatan Ampera, dilanjutkan dengan naik bis Trans Musi ke arah Alang-alang, berhenti di halte Askes (kalau bingung buka google map aja). Tiket bis Trans Musi ini hanya 5 ribu rupiah/orang, murah meriah tapi kalau banyakan mending pake gocar sih jatuhnya sama juga hehe . Dari halte tersebut jalan kaki lagi kurang lebih 300 meter masuk gang kecil. Awalnya kami gak yakin sih, masa iya museum masuk gang…apa gak salah nih? eh ternyata benar museumnya ada dalam jalan kecil tersebut.

Museumnya lumayan luas, tiket masuknya juga murah meriah 2ribu/orang eh dapat gratis koran daerah lagi seharga 2ribuan. Krucils yang awalnya lesu kepanasan diajak emak babenya jalan kaki panas-panasan begitu masuk langsung semangat, lama banget liat ini itu, nanya ini itu, ngajak kesono kesini, gak rugi deh. Dan yang paling menarik, ada rumah tradisional yang persis seperti di gambar uang 10.000,-an lama. Persis banget, sepertinya disinilah gambar uang tersebut diambil. Krucils tambah semangat deh, foto sana sini…cekrek cekrek. Puas menelusuri seluruh museum kamipun lemas, kalau begini caranya kita pake gocar aja…panasnya poll, mau jalan kaki lagi keburu malas….haha. Dan petualangan pun diakhiri dengan makan empek-empek.