Balikpapan – Batulicin – Martapura – Tanjung

3 04 2018

==>Day 1 (Jumat, 30 Maret 2018)

Pernah kebayang gak, ada orang yang menempuh jarak ratusan kilometer hanya karena pengen makan sesuatu ditempat yang dituju? Kalau ngidam masih dimaklumin ya, nah ini cuma karena pengen makan aja. Entah beneran pengen makan atau cuma alasan, itulah yang krucil dan si ayah lakukan. Mengajak berkelana bundanya yang sedang gak enak badan dengan alasan pengen makan nasi kuning di Batulicin. Bunda, “emang gak ada tempat yang lebih jauh lagi ya untuk makan nasi kuning?” . “Ada sih…pengennya makan nasi kuning di Rusia tapi kan di Rusia gak ada yang jualan nasi kuning”, jawab mereka…hehe.

Gak mempan dengan rayuan pulau kelapa, mereka mulai melancarkan rayuan lain. “Bunda nih sudah tua ya, sudah gak punya jiwa petualang lagi”. Bunda, “iya, bunda memang sudah tua”. Masih gak mempan, serangan lain pun diluncurkan, “bunda gak tahu ya, berpahala loh menyenangkan orang itu”. Yayaya…ok deh, bunda menyerah tapi syarat dan ketentuan berlaku ya. Kapanpun bunda capek, kita berhenti. Deal, shake hand. Itu sebabnya kami kesiangan untuk memulai petualangan.

Berangkat dari rumah sekitar jam 9-an, eh masih bolak balik ke rumah karena ketinggalan ini itu, belum lagi mampir-mampir sana sininya mengisi perbekalan. Sekitar jam 12.30 mampir lagi di simpang Kuaro untuk sholat Jumat. Lalu lanjut lagi sampai Grogot, sholat dulu sekalian isi perbekalan lagi. Di pegunungan karst berhenti lagi, request krucil yang pengen ngumpulin kerang. Bingung kan ngumpulin kerang kok dipegunungan? Kerang ini menurut krucil hasil telaah mereka di buku Natgeo (National Geographic) adalah ammonite, fosil kerang purba. Tiap ke pegunungan ini mereka ngumpulin, kata mereka mau dikirim ke Natgeo dan BBC Earth supaya diteliti, kalau sudah masuk Natgeo kan terkenal lalu pegunungannya aman dari pemusnahan karena beberapa gunung kami liat sudah hancur dijadikan pondasi rumah.

Akhirnya sekitar jam 20.00 sampai juga di Batulicin yang disambut dengan hujan deras. Cari makan, cari hotel, isi BBM…jam 21.00 tidur nyenyak, siapkan tenaga untuk berburu nasi kuning esok subuh. Nasi kuning inilah alasan krucil dan si ayah suka banget mengajak bundanya ke Batulicin, kata mereka nasi kuning ini adalah nasi kuning terenak sedunia, sejagat raya dan alam semesta walau emaknya ini petualang dan suka juga nasi kuningnya, tapi kalau dalam setahun bisa 3-4 kali bolak balik tujuan sama hanya demi nasi kuning kan bosen juga.

==> Day 2, (Sabtu, 31 Maret 2018)

Subuh-subuh bangun, sholat lanjut cari nasi kuning di pasar. Nasi kuning ini letaknya depan pasar, samping mesjid. Cari aja nasi kuning yang paling rame, biasanya setelah sholat subuh orang-orang sudah mulai antri membeli nasi kuning ini. Si ayah kalap, beli 5 bungkus nasi kuning plus tiap bungkus double bahkan triple lauk. Belum lagi lauk yang dibeli terpisah, sampai penjualnya bilang “sudah pak ai, kebanyakan sudah”….haha, baru kali ini diomelin penjual karena beli banyak.

Di hotel diskusi, pulang atau lanjut? Krucil dan ayah masih pengen lanjut, sementara bunda pengen pulang. Eh ketika buka hp dapat kabar kalau kapal tanker terbakar dipelabuhan ferry dan minyaknya mencemari perairan serta asapnya tercium sampai Balikpapan. Hmm, kayaknya lebih baik kita lanjutkan aja petualangan kita kalau gitu, yuk markimon. Tujuan selanjutnya Martapura, ayah pengen mencari kayu gaharu yang wangi-wangi. Di Pagatan berhenti sebentar krucil main di pantai. Kami sudah pernah melalui jalan ini ketika pulang berpetualang dari Palangkaraya, tapi sulung saya sedang hobi memakai google maps. Berdasarkan GPS google inilah sulung meminta ayahnya keluar dari jalan utama, melalui jalan kecil. Katanya kalau lewat jalan kecil itu lebih hemat 20 menit, eh ternyata jalannya rusak…jadi kendaraan tidak bisa dipacu cepat jadi ya gak hemat waktu juga haha. Tapi karena jalan kecil, tidak semua orang tahu dan melalui pedesaan yang masih bersawah-sawah, jalannya relatif lebih sepi dari jalan utama jadi lebih bisa menikmati pemandangan.

Disini kami berhenti lagi untuk istirahat makan sekalian krucil liat-liat sawah. Sekitar jam 14.00 sampai juga di Martapura dan lagi-lagi disambut oleh hujan. Disini berburu oleh-oleh khas Kalsel, seperti gelang gaharu, kayu gaharu, sasirangan dan bros-bros murah untuk BFFnya di bungsu, maklum anak cewek hobi printilan dan saling berbagi printilan. Di Martapura penuh dengan spanduk-spanduk ucapan selamat datang untuk jamaah haulan kyai guru. Kalsel adalah propinsi yang religius, kota paling religiusnya ya Martapura ini. Setelah puas berburu cenderamata, perjalanan berlanjut menuju Tanjung. Jalur menuju Tanjung ini padat, sehingga susah untuk memacu kendaraan dengan cepat, si ayah sampai stress sendiri menyuruh bunda aja yang nyetir. Selama ini kalau ditawarin gantian nyetir, si ayah gak mau…eh ini malah nyuruh istrinya yang nyetir tanda bahwa ayah sudah stress to the max …hahaha

Kami beberapa kali berhenti dijalan untuk istirahat, sholat, makan serta membeli stok cemilan. Ayah beli satu keranjang langsat, beberapa buah srikaya , dan jambu biji dengan harga bersahabat. Jarak Martapura – Tanjung ini sebenarnya tidak begitu jauh tapi karena padat jadi lama, sampai selepas isya pun masih dijalan. Akhirnya google man pun beraksi, sulung saya mencari jalur lain melalui google maps. Lalu memaksa ayahnya melalui jalan diluar jalur utama, melalui Amuntai. Si bunda pun mengeluarkan pidato kenegaraannya, kalau lewat Amuntai ya lebih lama dong, kenapa gak lewat jalur biasa aja sih. Sulung dan ayah kompak, gak apa-apa jauh sedikit…cincai lah. Memang jalur yang dipilih super sepi sih dibanding jalur utama yang padat, tapi kanan kirinya hutan dan disepanjang jalan harus waspada melihat jalanan karena banyak penduduk lokal yang duduk-duduk di jalanan aspal.

Seakan belum puas memilihkan jalan sepi, eh GPSnya menuruh masuk ke jalan yang lebih sempit lagi dengan embel-embel lebih hemat 13 Km. Baiklah, sudah nanggung jadi diikutin lagi jalur yang dipilihkan GPS, awalnya sih jalannya bagus…tapi lama-lama rusak , makin masuk makin rusak parah. Semakin ke dalam, semakin berhutan…jalannya pas hanya muat untuk satu mobil, kanan kiri hutan dan jalannya berlubang-lubang. Saya yang awalnya ngantuk, langsung melek waspada. Hah? Gak salah pilih jalankah ini? Tapi ayah masih stay cool, dengan santai bilang “tenang bunda, kalau ada warung artinya ada jalan”. Makin lama jalannya semakin gelap, sepi, sempit dan rusak serta masuk hutan. Sulung saya yang memaksa memilih jalur ini langsung bilang, bunda tukaran tempat duduk yuk…abang dibelakang aja. Ayah yang awalnya sok tenang pun akhirnya bilang, kita putar balik aja ya. Cuma di bungsu yang stay cool karena sepanjang perjalanan memang tidur…haha.

Apa? Putar balik? Putar kemana…wong tuh jalan pas-pasan untuk satu mobil. Mata si bunda yang awalnya sudah 5 watt kembali terang benderang dan otak bunda yang hiperaktif ini pun mulai membayangkan berbagai hal, bagaimana kalau ban bocor siapa yang bantuin ganti ban ditengah hutan antah berantah di malam gelap habis hujan pula, bagaimana kalau ada orang jahat, bagaimana kalau ternyata tuh jalan ternyata buntu, kami tidur dimana? Dan bagaimana-bagaimana lainnya. Akhirnya kami sepakat untuk terus saja dan finally bertemu jalan hauling, pantesan jalannya antah berantah rupanya nembus ke jalan tambang. Truknya segede gaban, dipersimpangan nanya sama security. Akhirnya ketemu juga peradaban lagi…walau masih sih di daerah yang tak dikenal. Setelah bertemu peradaban lagi tuh baru kami bisa tertawa, menertawakan kejadian yang kami alami barusan sekalian sedikit ngomel coba kita ikutin jalur utama aja tadi, sekarang kita sudah tidur di hotel kali…tapi sulung saya bersikeras, tapi kita hemat 13km nih. Hemat 13 Km tapi in the middle of nowhere …yang ada waktu terbuang banyak, makanya ikutin shirathal Mustaqim, jalan lurus dan benar, gak usah berbelok-belok…hahaha…

Baru sekitar jam 22.00an kami sampai Tanjung, sambil mencari hotel sepanjang perjalanan menertawakan kejadian barusan sembari membahas pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa barusan. Kata ayah, kalau nyasar tuh harus tenang karena kalau panik gak bisa berpikir jernih malah bukan dapat solusi. Hmmm…baiklah yah, tapi tadi siapa ngajak putar balik…haha. Untunglah bungsu baru bangun setelah bertemu peradaban kembali, tidak tahu apa yang terjadi saat kami ditengah hutan. Kalau tidak bisa-bisa bungsu saya histeris atau nangis. Dan untungnya lagi sebelumnya kami sudah sempat sholat dan makan, walau panik tapi gak kelaparan …haha. Check in hotel, cuzz langsung tidur pulas…tepar, ya karena perjalanan panjang plus adrenalin juga.

==> Day 3 (Minggu, 1 April 2018)

Bangun subuh, siap-siap lagi. Mulih-mulih, bulikan kita…saatnya pulang. Sarapan di hotel, ke pasar Tanjung nyari yang aneh-aneh, maunya sih sate itik tapi ternyata belum buka. Beli roti gembong yang super yummy hanya seharga 5 ribu rupiah, dan langsung menyesal kenapa beli sedikit. Di simpang Mabu’un beli nasi kuning lagi untuk perbekalan dijalan, dan ayah kalap lagi. Kayaknya petualangan kali ini memang didedikasikan khusus mencari nasi kuning banjar yang memang rasanya lebih nendang dibanding di hometown. Kemudian beli sate 20 tusuk, baru jalan 2 km sudah ludes dan menyesal lagi kenapa belinya seadanya. Kalsel is the best lah kalau masalah kuliner ajaib, murah dan enak.

Di Lano sempat diskusi sama ayah tentang berhenti dulu gak di air terjunnya, tapi dengan pertimbangan krucil sedang tidur ya lanjut jalan aja, nunggu mereka bangun aja main air di air terjun Gunung Rambutan nanti aja. Gak berapa lama krucil bangun, saat melintas disebuah jembatan dan melihat ke bawah…wuih air sungainya jernih. Ayah langsung menawarkan pada krucil untuk main air di sungai tersebut yang tentu saja krucil menerima tawaran dengan senang hati. Jadilah berhenti didekat jembatan dan turun ke bawah mencari jalan menuju sungai. Sampai di sungai baru sadar ternyata sungai tersebut menjadi sumber air bagi daerah sekitar karena kami menjumpai beberapa truk air yang sedang mengisi air disitu. Setelah truk-truk tersebut pergi, krucil puas banget main air disitu, airnya jernih banget, penuh bebatuan dan dangkal. Agak kepojok, agak dalam dan berjeram, mirip dengan sungai di Loksado.

Krucil awalnya cuma jalan-jalan aja, kemudian mulai basahin dikit di baju bagian bawah, lama-lama nyelup seluruh badan…namanya juga anak-anak…haha. Krucil betah banget main air disini, ya mencoba menangkap ikan-ikan kecil, berburu batu, sampai berenang. Kata sohib bundanya, nih krucil mirip Tomb Rider dan Indiana Jones versi alamnya, yang dicari sepanjang petualangan kali ini fosil ammonite sampai batu kali lengkap pokoknya seperti Ninja Hatori, mendaki gunung lewati lembah.

Main di sungai ini selama 1,5 jam. Kalau gak dipaksa sudahan, gak selesai-selesai nih main airnya. Balik ke mobil, ganti baju, disuapin makan, kasih minyak…tidur lagi. Enak ya jadi anak kecil…haha. Sampai simpang Kuaro, ishoma sekalian isi perbekalan lagi. Agak was-was juga sih kami tentang kondisi tumpahan minyak, tidak ada info tentang apakah ferry beroperasi normal atau harus lewat darat melalui Petung yang artinya tambahan waktu dan jarak lagi nih. Sekitar jam 16.00 sampai di pelabuhan ferry. Begitu buka jendela untuk bayar tiket, bau solar menguar tajam. Di sekitar pelabuhan banyak posko penanganan bencana dengan polisi dan beberapa orang berpakaian ala astronaut…berpelindung putih-putih dari atas hingga bawah. Untungnya ferry beroperasi normal, walau jalannya seperti hati-hati banget. Minyak terlihat menggenangi permukaan laut, awan hitam pekat dan udara berbau solar diseputar pelabuhan. Akhirnya jam 17.30 touchdown di hometown…home sweet home. Belum apa-apa krucil sudah berisik, nanti kita berenang di sungai di tempat itu lagi ya yah request mereka. Sip, next petualangan kita akan lebih seru lagi…tenang aja

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: