Bermain Peran di Kidzania

16 01 2018

30 Desember 2017


Kayaknya anak SMP yang masih suka bermain di Kidzania bisa dihitung dengan jari dan diantara yang sedikit itu sulung saya salah satunya tapi selalu ada pembelaan darinya, “gak kok, tadi aja ada anak umur 16 tahun masih main”, kata sulung saya yang walau badannya sudah hampir menyamai emaknya tapi kelakuan masih bocah .

Baiklah bang, gak apa-apa kok kalau masih suka main di taman bermain. Ke kidzania ini terpaksa dilakukan karena ayah bundanya sudah terlanjur salah ngomong, berhubung krucil sudah di wanti-wanti dari rumah bahwa liburan kali ini bukan untuk bermain tapi untuk ibadah, kalau mau main hanya boleh saat di Jakarta or Bandung, eh ternyata di Bandung cuma sehari jadilah krucil nagih mainnya di Jakarta. Awalnya ayah mau ngajak ke Dufan or TMII, apadaya musim libur sekolah tempat seperti itu penuh banget, terpaksa deh pilihannya ke kidzania lagi yang menurut asumsi kami harusnya lebih sepi karena harga tiketnya yang lumayan…eh ternyata bejubel juga.

Dari hotel di daerah Tamrin, kami jalan sedikit menuju halte TransJakarta, naik TransJakarta arah SCBD, turun di Polda, lalu jalan kaki lagi sedikit ke Pacific Place. Antrian masuknya ngeri…bejubel, maklum libur sekolah. Krucil antusias disini, dari nukar cek dengan uang di bank kidzania, lanjut main ini itu sampai menjelang maghrib, lalu bungsu saya menghampiri saya mengajak pulang karena pusing. Tapi abangnya masih antusias bermain, jadilah berbagi tugas dengan ayah. Saya nemenin bungsu makan sambil baring-baring di kursi sementara ayah menemanin sulung meneruskan bermain perannya. Sesekali sulung menghampiri adeknya menunjukkan dia sudah dapat kartu ini itu yang membuat adeknya jadi gak kalah juga. Akhirnya adeknya bermain sebentar untuk dapat kartu Sim A dan Sim C yang mirip aslinya. Sebenarnya 2 tahun lalu mereka sudah pernah bermain disini juga dan sudah memiliki kartu begitu juga, namun hilang. Itulah salah satu alasan mereka menagih bermain di kidzania lagi, untuk mengganti kartu-kartu koleksi mereka yang hilang.

Untuk mendapatkan sim A dan sim C ini lucu juga loh caranya, mirip aslinya. Pertama si anak antri di pusat kesehatan dulu untuk medical check up. Setelah pura-pura diperiksa oleh dokter lalu dikasih surat keterangan sehat untuk mengajukannya di tempat pembuatan sim. Kalau sim A di tempat mobil, kalau sim C ada proses uji naik motor juga. Setelah proses tersebut baru sim dikasih ke si anak. Krucil jadi belajar tentang proses pembuatan sim dengan cara yang menyenangkan.

Sekitar jam 19.00 waktu setempat, kami pun pulang walau sulung masih gak rela tapi terpaksa pulang karena adeknya yang sakit. Akibat pulang dengan terpaksa, sesampainya di hotel sulung saya malah mengajak ayahnya muter-muter Jakarta naik Transjakarta….haha, bocah besar bunda. Hasilnya bisa ditebak, bunda dan adek tidur…ayah dan abang muter-muter naik Transjakarta. Sudah senang dan puas kan bang?

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: