Petualangan Pertama Sulung

23 01 2017

20170123-085922.jpg

Sejak awal kami sering mengajak krucil keluyuran adalah dengan tujuan agar krucil kami bisa melihat dunia itu terdiri dari berbagai warna (bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, ras, dan masih banyak lagi). Dengan krucil melihat sendiri, saya tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada krucil bahwa perbedaan itu ada tapi tidak untuk membedakan. Lihatlah dunia ini justru terasa indah dengan berbagai warna tersebut. Ini juga sebagai bekal untuk menghadapi dunia mereka sendiri kelak, harapan kami sih agar mereka lebih mudah beradaptasi, tidak gampang menyerah dan toleran.

Itu sebabnya ketika ada pengumuman dari sekolah bahwa akan diadakan supercamp (di kota lain yang berjarak sekitar 7 jam dari hometown) dengan semangat 45 saya menyuruh sulung saya mendaftar, gak peduli dia nangis-nangis gak mau ikutan…pokoknya harus ikut demi masa depanmu sendiri kelak nak…halah lebay mode on. Mungkin akan terasa berat, tapi kelak suatu hari nanti sulung saya akan mengingatnya sebagai kenangan indah bahwa inilah petualangan pertamanya sendiri tanpa ada keluarga yang mendampingi. Dan itupula sebabnya saya harus merekam memori ini dalam blog sebagai kenang-kenangan untuk sulung saya kelak.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan masih santai, ayah bunda dan anaknya sama-sama santai. Seminggu menjelang hari kebarangkatan, sulung mulai sibuk latihan ini itu di sekolah dan pulang mulai menjelang maghrib…tapi masih santai. Tiga hari menjelang hari keberangkatan, ada pertemuan wali murid dan guru untuk membahas supercamp dan peralatan yang harus disiapkan. Pulang pertemuan, ayah yang dengan semangat membara langsung mengajak nyari ransel pendaki gunung …hadeuh tepok jidat, memangnya yang mau camping ayahnya atau anaknya sih? Eh mahal pula lagi ransel pendaki gunung itu, baru tahu eike…*manggut-manggut*

Tidak hanya ransel, ayah pun mulai kasak kusuk dengan tenda, sleeping bag, dan printilan-printilannya. Ayahnya sibuk dengan printilan camping, bundanya sibuk nyiapin baju dan peralatan mandi, sementara anaknya masih anteng, santai kayak di pantai. Dua hari menjelang, peralatan harus dikumpulkan di sekolah…giliran sulung yang sibuk ngecek-ngecek ala kadarnya. Dan di hari keberangkatan semua sibuk….selamat bersenang-senang sayang.

Sulung berangkat bersama rombongan sekolahnya naik bis. Malamnya masih belum merasa apa-apa, tapi begitu foto anak-anak supercamp di share di grup WA…hiks hiks bundanya mulai merasa sedih. Tiap hari, selama lima hari, kerjaan ayah bundanya mantengin grup, berharap-harap foto kegiatan anak-anak selama di sana di share ..haha. Gini ya rasanya melepas anak sendirian jauh dari rumah…sedih, kepikiran gimana makannya, gimana tidurnya, apakah kehujanan, kesehatannya, dsb dst dll.

Walau pada awalnya menolak ikutan supercamp tapi begitu dijemput setelah pulang supercamp, meskipun waktu sudah menjelang tengah malam, banyak hal yang diceritakan sulung kepada ayah bundanya…tentang bagaimana regunya memenangkan perlombaan, bagaimana capeknya saat rotasi, bagaimana pengapnya tenda, serunya naik bis yang terasa seperti roller coaster, tentang bikin kulkas ala McGyver bersama teman-teman demi mempunyai minuman dingin, dsb. Dari cerita sulung terlihat betapa dia menikmati semua petualangannya. Ayah bunda memang berharap abang bersenang-senang bersama teman-teman dan menyimpannya sebagai kenangan indah masa kecil abang. Suatu hari kelak, mungkin abang bersama teman-teman abang bisa menertawakan kejadian-kejadian lucu selama camping ini di grup WA atau media social lainnya sambil mengenang dan mengatakan bahwa inilah petualangan pertama abang sendiri…we love you…muah muah..

Advertisements