Balikpapan – Berau – Bulungan

24 12 2016

Ayah belakangan ini bolak-balik nanya, kapan krucil libur. Ternyata ada rencana tersembunyi untuk mengajak kami berpetualang lagi. Dia masih penasaran mengelilingi pulau Kalimantan by land, terutama daerah yang masih belum diinjaknya yaitu bagian barat pulau. Namun setelah ditimbang jaraknya yang konon 1800km sedang cuti terbatas hanya 4 hari + libur Sabtu-Minggu..akhirnya pilihan yang masuk akal adalah mengajak krucil melihat nemo di Derawan.

Malam sebelum berpetualang, ayah mengajak krucil ke salah satu swalayan untuk mengisi perbekalan dijalan sementara si bunda sedang asik dengan drama korea (eeaa…hehe). Perbekalan penuh tinggal urusan si bunda nih ngurus packing-packing keesokan harinya lalu menitahkan krucil untuk memasukkan semua kebutuhan dalam mobil…siap berangkat. Eits tapi gak bisa berangkat dulu sebelum ambil raport krucil.

# Menuju Berau, 16 Desember 2016 #

==> Day 1

Jumat sore, sepulang ayah kerja dan setelah pembagian raport, kami langsung ngacir. Tujuan adalah Samarinda, pitt stop sekaligus memberitahu orang tua saya bahwa kami hendak ke Derawan. Lama perjalanan 2-3 jam dengan jarak 126 km. Tapi begitu sampai kami berkeliling mall dulu, berburu snorkeling dan kacamata renang. Alat snorkeling kami tidak ketemu, sebenarnya di Derawan ada penyewaan snorkeling sih cuma membayangkan ganti-gantian alat snorkeling rasanya gimana gitu…mending beli baru deh. Setelah dapat alat snorkeling, istirahat dulu sebelum petualangan dimulai…hmZZzzzZz

==> Day 2

20161224-014635.jpg

Keesokannya, setelah sholat subuh dan mandi…jalan lagi. Kali ini perjalanan cukup jauh dan tanpa bayangan apakah jalannya masih rusak seperti dulu atau sudah baik. Kami berangkat sekitar jam 5 subuh, belum sempat sarapan…untung stok cemilan cukup banyak.

Samarinda-Bontang sekitar 180 km ditempuh dengan waktu 3 jam. Bahan bakar sedang susah di Samarinda dan Bontang…hampir semua SPBU tutup atau antrian mengular panjangnya. Dengan pertimbangan mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kami memutuskan tidak ikutan mengantri dengan harapan di Sangatta kondisinya lebih baik. Di Bontang kami mampir sebentar untuk sarapan sebelum melanjutkan menuju Sangatta.

Bontang-Sangatta kurang lebih ditempuh 1 jam lebih, banyak jalan berlubang. Sepanjang perjalanan hujan gerimis, suhu cukup dingin dan bikin cepat lapar lagi. Di Sangatta ternyata kondisinya sama dengan kota-kota lainnya, terpaksalah mengisi BBM di eceran pinggir jalan 200rb. Di sini kami mengisi perbekalan makanan di mobil, beli wing bucket dan perkedel KFC, jaga-jaga kalau tidak nemu tempat makan selama perjalanan, tapi belum apa-apa sudah habis duluan..haha..

Sangatta-Muara Wahau ditempuh kurang lebih 4 jam. Keluar Sangatta jalan banyak rusak, namun setelah simpang Bengalon jalan mulus. Kami tiba siang di Muara Wahau, mampir makan siang dulu karena sudah pada kelaparan sekalian ayah meluruskan badan dulu. Setelah sholat, perjalanan berlanjut menuju Tanjung Redeb.

Muara Wahau-Tanjung Redeb kurang lebih 5 jam. Kami banyak berhenti untuk istirahat dan bermain di semacam air terjun tempat truk-truk berhenti beristirahat. Jalan lumayan mulus, sayangnya sepanjang perjalanan yang kami jumpai lebih banyak kebun sawitnya daripada hutan. Hutan beralih fungsi jadi kebun sawit…hiks sedih jadi gak bisa nunjukin ke krucil hutan Kalimantan yang indah itu deh.

Berdasarkan pengamatan saya, kondisi jalan sudah 80% mulus namun sayangnya kondisi hutan berbanding terbalik dengan kondisi jalan. Baru memasuki daerah Kelay hutan masih keliatan asri. Di daerah Kelay inipula kami melihat desa wisata Merasa (Merasa Village) …mau tahu tempat ini googling sendiri ya karena kami belum masuk juga.

Akhirnya sekitar jam 19.30 sampai juga di tanjung Redeb. Untungnya SPBU Tanjung Redeb tidak mengantri…langsung isi penuh sekitar 200rb. Kami menginap di Hotel Sederhana yang letaknya dekat tepian sungai Segah, rate yang standard room Rp 363.000. Cari makan di sepanjang sungai banyak penjual makanan, lalu balik hotel dan grookkk…waktunya mimpi indah.

==> Day 3

Setelah tidur nyenyak, badan kembali segar. Jam 5 subuh sudah packing-packing lagi, mandi, jalan-jalan di tepian sungai dulu…lalu sarapan di hotel. Check out sekitar jam 07.00, lanjutkan perjalan menuju Tanjung Batu. Di perempatan ayah dan krucil maksa belok kiri, katanya ada jalan tembus…padahal saat nanya orang hotel dikasih tahu kembali ke tempat kami datang dulu, baru disitu liat petunjuk arah. Akibatnya bisa ditebak, kami nyasar dengan sukses, muter-muter selama satu jam di Berau…haha daebak. Tapi gpp deh, jadi bisa ambil uang dulu persiapan di pulau nanti. Note untuk wisatawan, ATM di pulau Derawan saya lihat cuma ATM bersama BRI…berhubung saya pelit kalau pakai ATM bersama ada potongan ini itu, jadi saya pilih narik ATM punya bank tabungan saya aja biar gak kena potongan…haha…

Pelabuhan menuju Derawan ada di Tanjung Batu ini, jalannya 1/3nya rusak. Lama perjalanan sekitar 2 jam lebih dengan jarak 132km. Dulu hutan di Tanjung Batu ini super duper keren, sekarang rusak parah…jadi gagal deh nunjukin hutan disini ke krucil. Dalam 10 tahun banyak yang berubah, apalagi 10 tahun kedepan, jaman krucil siap berkelana sendiri…mungkin hutan sudah tinggal kenangan.

Kami tiba di pelabuhan Tanjung Batu ini sekitar jam 10-an. Parkir, waktu parkir kebetulan ada bapak-bapak lewat, nanyalah sama dia…disini ya tempat parkirnya pak? Sekarang pelabuhan Tanjung Batu ada dermaganya, dulu sih letaknya dibelakang pasar. Ternyata bapak itu supir speedboat, dia ngasih tahu disitu parkirnya atau kalau mau masuk dermaga disitu bisa juga cuma nanti kena charge 15rb/orang. Ya sudah parkir situ deh, lalu bapak (pak Tion) itu nawarin speedboat, dia minta 600rb pp. Bukan emak-emak dong kalau gak nawar…tawar 500rb pp. Dia setuju…deal..siapkan barang-barang yang mau dibawa, snorkel, koper baju, stok cemilan yang masih banyak, dan air mineral galon kecil.

Ngomong-ngomong tentang air mineral, sebulan lalu saya mengajak ayah berbelanja di salah satu pusat grosir, kebetulan waktu itu ayah melihat air mineral galon ukuran kecil…lucu juga nih saya pikir. Dibelilah air galon tersebut…harapan saya ya kalau saya harus mengganti galon sendiri di rumah saat ayah sedang di lokasi…kan ribet amat ngangkat galon besar, kalau galon kecil sih masih sangguplah. Sementara si ayah berpikir lain rupanya, galon kecil itu stok untuk dimobil kalau mendadak pengen berpetualang dan kami butuh minuman atau air untuk cuci muka. Ini salah satu bukti men from mars, women from venus …beda pemikiran …hahaha

Untung bawa air galon kecil ini, lumayan menghemat karena ayah dan krucil minumnya banyak tiap habis berenang sedang air mineral lumayan juga harganya di Derawan. Kembali ke cerita perjalanan, entah karena naik speedboat siang atau memang ombaknya lumayan besar saat menuju Derawan, speedboatnya terhentak-hentak yang membuat saya tegang sementara krucil happy banget melihat burung-burung bertengger di kayu yang terombang-ambing dilautan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu ke Derawan 20-25 menit.

Begitu sampai jam menunjukkan pukul 11.00, supir speedboat menunjukkan salah satu cottage. Si ayah pengen di resort, sedang saya milih di cottage aja, wong seharian bakal banyak dilautnya daripada di kamar, lumayan hemat lagi…nah ini entah bukti men from mars, women from venus atau si bundanya aja yang pelit ..hahaha. Akhirnya kami pilih Sunrise Cottage Rp 300.000 / malam.

Setelah masukin barang ke kamar…krucil langsung ngajak nyemplung. Sebelum berenang harus ngisi tenaga dulu dong, karena pengen buru-buru sampai Derawan kami tidak makan dulu di Tanjung Batu, nyari makannya di Derawan aja. Selesai makan, ayah dan krucil langsung berenang. Kerjaan selama Derawan ya berenang seharian, snorkeling, ngasih makan ikan…berenang lagi, snorkeling lagi, ngasih makan ikan lagi. Malam pertama hanya ada kami di cottage tersebut, jadi seru banget…nongrong depan kamar memandang lautan dan bintang yang tampak lebih banyak dan bersinar terang disertai suara deburan ombak. Kami 3 hari 2 malam di Derawan, cerita tentang Derawan bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bulungan, 20 Desember 2016 #

==> Day 5

20161224-015757.jpg

Selasa pagi telp pak Tion minta jemput jam 8 pagi. Sembari nunggu kami jalan-jalan dulu cari souvenir…nyari magnet kulkas gak ada sebagai gantinya krucil beli gantungan kunci dan ayah beli baju. Setelah itu nongkrong depan kamar, menunggu speedboat datang sembari memberi makan ikan. Saat menunggu itu saya melihat awan hitam bergelayut di langit…wah gawat nih kalau hujan saat kami ditengah lautan. Akhirnya telp lagi pak Tion, dipercepat dong datangnya…setengah jam kemudian datanglah yang ditunggu ternyata pas datang jam 8-an juga…hehe.

Laut tenang banget saat kami pulang…kalau begini bisa menikmati perjalanan deh, bisa berfoto-foto juga (teuteup ya narsis…hehe). Saya pernah cerita bahwa dulu ketika ayah bunda ke Derawan 10 tahun lalu, sering ngeliat ikan terbang saat naik speedboat dan beruntungnya dalam perjalanan pulang naik speedboat ini krucil melihat juga ikan yang terbang-terbang membuat mereka antusias. Kata bungsu saya, I Love Derawan…haha…sudah diajak kemana-mana, baru kali ini bilang love artinya suka banget tuh si bungsu sama Derawan. Setelah perjalanan selama 20 menit, sampai di Tanjung Batu. Saat masukin barang dalam bagasi…ditagih uang parkir 100rb, rupanya tarif parkir di dermaga 50rb/malam.

Di parkiran sinilah kami berdiskusi dengan krucil, lanjut ke Tanjung Selor (Bulungan, Kaltara) atau ke Tanjung Redeb (Berau)? hasilnya kami memutuskan ke Tanjung Selor mumpung sudah di Utara Kalimantan. Lama perjalanan dari Tanjung Batu kurang lebih 4 jam. Kondisi jalan ke Bulungan bagus dan yang paling menyenangkan hutannya keren. Kata ayah, ini baru namanya hutan Kalimantan (si ayah kecewa selama merantau ke Kalimantan jarang ngeliat hutan yang masih benar-benar hutan).

Kami sampai sekitar jam 13.00 siang, kelaparan berat. Di Tanjung Selor makan siang, nyari cemilan di pasar induk, jalan-jalan di tepian Sungai Kayan, main sebentar di Tugu Pedamaian lalu balik arah ke Berau. Awalnya kalau ada waktu pengen sekalian nyeberang ke Tarakan, sayang waktu mepet karena libur ayah cuma sebentar. Kami hanya beberapa jam saja di Tanjung Selor, untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang propinsi termuda di Kalimantan ini. Tentang petualangan kami di Kaltara, bisa dilihat di posting sebelumnya.

# Menuju Berau kembali, 20 Desember 2016 #

20161224-020926.jpg

Kami tidak bisa lama-lama main di Bulungan karena ayah mengejar waktu agar tidak kemalaman di jalan, kondisi jalan kan belum hapal betul dan berkelok-kelok tajam. Jam 16.00 kami melakukan perjalanan kembali. Sekitar jam 18.00 mulai masuk Berau lagi. Di mobil mulai diskusi alot masalah hotel yang akan dipilih. Ayah dan krucil maksa harus cari hotel berbintang, karena capek selama petualangan pengen menikmati tidur di hotel bagus. Bunda ngotot hotel biasa aja, toh hotelnya cukup bagus juga dan cuma tidur semalam doang. Saat vote si bunda kalah, untung bunda cerdik bilang…hayoo siapa yang dukung bunda selisih uang hotel mahal dengan hotel standard bunda kasih ke kalian daripada uangnya di kasih ke orang hotel, mending untuk kalian. Dan hasil akhir, bunda memenangkan vote…haha. Apesnya kamar standardnya penuh, sisa deluxe dengan rate Rp 495.000. Tapi tetap masih lebih murah dari hotel mahal…hahaha *ketawa pelit*. Di Berau ini, ayah isi BBM lagi 130rb. Kemudian cari makan, langsung tidur…ZzzzzZz

# Menuju Samarinda, 21 Desember 2016 #

==> Day 6

Mulih mulih, saatnya pulang. Walau krucil protes protes, petualangannya kurang lama…tenang aja, masih akan ada petualangan-petualangan lain yang menanti. Perjalanan pulang kami agak santai, di hotel krucil tidur sampai jam 06.00, lalu mandi, sarapan. Baru jam 7 lewat check out hotel. Di Berau pun bersantai-santai membuktikan teori bunda bahwa ada jembatan menuju istana Berau yang letaknya dipulau tengah sungai Segah…ternyata salah, sambil ledek-ledekan deh, si bunda urusan baca peta emang suka ngaco haha.

Di daerah Kelay, si ayah penasaran dengan Merasa Village…nyobain treknya sebelum mutar arah lagi, karena jalan tanah sedang mobil yang dipakai bukan mobil offroad. Kami banyak berhenti dan jalannya santai banget, gak ngebut seperti saat pergi. Di air terjun kecil, berhenti lagi…main air dulu sekalian ngilangin ngantuk. Makan siang di Muara Wahau, baru agak ngebut karena ngejar makan malam di Bontang. Di Sangatta berhenti sholat dan isi BBM 200rb. Sampai simpang Bontang ternyata sudah 18.30, wah kalau masuk kota bakal lama lagi nih sehingga kami putuskan makan di Kenari aja (pertengahan Bontang- Samarinda). Baru jam 22.30 kami sampai di Samarinda. Ayah bunda tepar dengan sukses, badan pegel-pegel…eh krucil masih bisa perang bantal sampai jam 24.00. Usia tidak bisa dibohongi…haha..

Saya dan krucil menghabiskan sisa liburan dirumah orang tua saya, sedang ayah melanjutkan perjalanan kembali menuju little house on the prairie keesokan harinya disertai sms, total odometer menunjukkan 1889 km sampai rumah, sambil bilang “tuh sudah bisa sampai Kalbar tuh”…haha teuteup si ayah masih penasaran. Ok yah, lain kali kalau liburnya panjang kita susuri Kalimantan ujung yang belum tersentuh kita…sabar aiiii… hehe…

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: