Surabaya – Malang – Jogjakarta – Bandung – Jakarta

30 07 2016

Suami saya (si ayah) bukan tipe yang romantis. Dia kalau diminta kasih kejutan malah bingung sendiri, kalaupun terpaksa kasih kejutan sudah bisa ketebak duluan…haha. Ulang tahun anak dan istrinya aja dia kadang lupa, apalagi yang remeh temeh seperti tanggal pernikahan. Pokoknya jangan berharap ada kado, apalagi kejutan atau surprise dari dia. Menurut dia, kalau mau kado ya beli sendiri…jadi lebih bermanfaat daripada dikasih kado tapi gak suka akhirnya kebuang..hmm…

Petualangan kali ini saya pikir si ayah lagi pengen aja mewujudkan impiannya mengajak krucil ke Bromo, saat dijalan ayah baru ngomong bahwa ini hadiah ulang tahun untuk saya dan bungsu yang ulang tahunnya berdekatan. Yippie, akhirnya dapat kejutan juga…haha. Ayah tahu bahwa istri dan anaknya lebih suka diajak jalan daripada dikasih yang lainnya. Romantisme in different way

# Menuju Surabaya, 14 Juli 2016 #

20160730-061015.jpg

Begitu tahu kami akan berkelana lagi, krucil saya langsung kasak kusuk menyusun rencana berdua. Mereka cerita ke kakek neneknya mau main di Kidzania, TMII, Dufan, dsb. Beuh, siapa bilang mau ke Jakarta dan gak ada tuh main, kalaupun ada main itu bonus aja.

Kali ini kami mulai mengajari krucil membawa backpack sendiri, walau isinya dipilihkan barang keperluan mereka sendiri yang ringan-ringan. Biasanya barang mereka dibawakan oleh ayah bundanya, mereka hanya bawa kamera, boneka dan tas kecil tapi karena mereka sudah mulai besar…saatnya mulai bertanggung jawab terhadap barang mereka sendiri. Untuk keperluan itu sengaja kami belikan backpack yang mereka pilih sendiri dan khusus dibawa untuk berpetualang.

Malam sebelum petualangan dimulai, mereka sibuk menyiapkan apa yang hendak dibawa dan dimasukkan ransel. Mereka tahu masing-masing kebutuhan mereka di jalan, sulung karena suka photographi bawa kamera dan karena suka pakai jaket bawa jaket. Bungsu karena cewek, bawaannya sedikit ribet..bungsu saya suka dandan jadi bawa bedak, kaca, selendang, handsanitizer, dsb. Selain itu dia juga suka mabuk perjalanan, jadi bawa permen dan bawa coklat (dua benda ini obat mujarabnya kalau sedang mabuk). Belum lagi boneka bebek kesayangannya sejak bayi, jaket, kamera, lebih banyak printilan daripada bawaan abangnya…haha. Bungsu saya malah ketika dibandara dengan mata berseri-seri berkata, “kalau besar nanti, adek mau berpetualang keliling dunia sendiri sama teman-teman adek, bunda sesekali adek ajak”, aamiin bunda doain semoga terwujud ya dek. Saya senang melihat antusias mereka, berhasil juga ayah bundanya menularkan virus petualangan.

Keesokan harinya, kami bangun subuh. Krucil gak sabar dengan petualangan yang menanti mereka. Kami berangkat dari rumah jam 06.30 menggunakan taxi. Pesawat kami jam 09.20 namun sempat tertunda hingga jam 10.00 baru terbang. Tiba di Surabaya sekitar jam 10.20 waktu setempat. Istirahat dulu di bandara, makan siang sebentar.

# Menuju Malang, 14 Juli 2016 #

20160730-061133.jpg

Setelah makan siang di bandara Juanda, ayah mencari informasi kendaraan menuju Malang. Beberapa orang menawarkan sewa mobil dan travel, ada juga info bis Damri ke terminal Bungurasih. Setelah ditimbang-timbang, lebih gampang sewa mobil…gak harus turun naik bis selain itu belum tentu dapat tiket bis ke Malang karena masih suasana libur dan arus balik. Kalau travel, jatuhnya sama juga dengan sewa mobil, jadi ya mending sewa mobil…langsung diantar ke hotel.

Sewa mobil dari bandara Juanda ke Malang sekitar 350-400rb, tergantung kemampuan nawar..hehe. Berangkat dari Juanda sekitar jam 12.00, macet dijalan sehingga baru kurang lebih jam 16.00 sampai di hotel kami di Malang. Kami menginap di hotel Alimar, daerah Pasar Besar yang letaknya dekat pasar dan alun-alun serta mesjid raya, sehingga mudah mencari makan. Kami hanya 3 hari di Malang sebelum meneruskan perjalanan kembali. Di Malang kami jalan-jalun ke Bromo, Alun-Alun Malang, Museum Brawijaya, Museum Angkut, Alun-Alun Kota Batu, dan Museum Malang Tempo Doeloe termasuk kedalamnya adalah Museum Inggil. Cerita selengkapnya tentang tempat-tempat tersebut bisa dilihat dari postingan sebelumnya.

# Menuju Jogjakarta, 17 Juli 2016 #

20160730-061327.jpg

Entah kenapa saya lebih suka menyebut Jogja dibanding Yogya, mungkin karena kaos-kaos yang dijual di sepanjang jalan Malioboro lebih sering dijumpai bertuliskan Jogja dibanding Yogya. Konon katanya penyebutan Jogja dipelopori oleh anak-anak muda di kota tersebut, yaaa karena saya masih muda (eits.. dilarang protes) jadi ikutan nyebut Jogja juga deh…hehe🙂

Ke Jogja ini atas keinginan ayah. Kampung halaman kakek neneknya sebenarnya ya di Jogja ini. Cuma karena lahir dan besar di Bandung ya ayah lebih gape bahasa Sunda dibanding bahasa Jawa. Nah, katanya sih dia pengen mengajak kami nyekar ke makam kakek neneknya di kampung (Kulonprogo). Itu sebabnya walau hampir semua wisata di Jogja sudah kami jelajahi, kali ini kami kesini lagi dengan tujuan yang sedikit berbeda.

Pagi hari ke empat di Malang kami sudah mulai sibuk packing barang kembali. Pagi hanya jalan ke alun-alun, selebihnya istirahat mempersiapkan stamina. Tiket kereta yang dibeli adalah Malioboro Ekspress seharga 140rb/orang, kereta ekonomi dengan waktu keberangkatan jam 20.15 dari Malang. Sedangkan tahu sendiri, waktu check out hotel jam 12.00 dan sayang banget memperpanjang hotel kalau malamnya harus berangkat. Jadi bisa ditebak, antara jam 12.00 sampai 20.15, kami luntang-lantung geret-geret tas (stasiun Malang tidak ada loker penitipan tas…hiks).

Setelah check out, sambil ngisi waktu kami jalan kaki ke counter Garuda di hotel yang letaknya tidak jauh dari hotel kami. Kami mau beli tiket pulang melalui Jakarta. Tiket pulang tidak sekalian dibeli di awal karena arah petualangan yang belum pasti. Lumayan, di counter tersebut ada cemilan gratis dan numpang ngadem…haha. Setelah urusan beres, ternyata masih banyak waktu…jadilah kelayapan ke Museum Malang Tempo Doeloe dan Inggil Museum Resto. Setelah itu numpang istirahat di taman Balaikota, eh gak berapa lama hujan turun. Jadilah nyari angkot ke arah Museum Brawijaya, di dekat museum ini ada restoran Jepang. Di angkot ayah sudah wanti-wanti, nanti makannya pelan-pelan aja kalau perlu sampai maghrib…hahaha…kasihan banget kan.

Makan di restoran Jepang, sudah pesan banyak dan dipelan-pelanin…eh tetap aja ketika selesai jam masih menunjukkan angka 17.00an, padahal sebelumnya krucil sudah makan satu ekor ayam (hitungan beneran satu ekor ayam, karena lebih murah pesan satu ekor ayam daripada satu potong) di Inggil Museum Resto. Nafsu makan mereka memang agak besar belakangan ini, maklum masa pertumbuhan. Gak mungkin nongkrong lama-lama kalau makanan sudah habis selain sudah diliatin juga, jadilah dari situ kami ngacir lagi ke tempat makan lagi di depan stasiun…hahaha. Terlunta-lunta di jalan jadilah makan mulu, kata krucil…tuh ayah bunda sih pelit, coba perpanjang hotel aja paling cuma habis 300rb-an, ini makan terus habisnya lebih besar…benar juga…hahaha.

Pujasera depan stasiun ini tampaknya memang diperuntukan untuk calon penumpang yang transit, jadi lama-lama disini gak masalah. Kami sering bertemu para pendaki gunung yang sedang tidur-tiduran. Kami di pujasera depan stasiun ini sampai maghrib. Begitu maghrib, masuk stasiun dan sholat dulu di mushola. Nunggu sebentar, gak berapa lama naik kereta.

Kereta ekonomi sekarang lebih baik, tidak ada penumpang berdesakan dan ber-ac walau tetap sih tempat duduknya tidak senyaman eksekutif. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 9 jam, tiba di Jogja tanggal 18 Juli sekitar jam 05.00 subuh. Untungnya saya sudah booking hotel untuk tanggal 17 Juli, jadi masuk subuh gak masalah. Kami menginap di hotel Whiz , daerah Malioboro. Di Jogja kami hanya tiga hari, selama di Jogja kami jalan seputaran Malioboro, Kulonprogo (kampung ayah), Borobudur dan Taman Pintar. Cerita selengkapnya tentang hal tersebut bisa dilihat dipostingan sebelumnya.

# Menuju Bandung, 20 Juli 2016 #

20160730-062857.jpg

Tiket kereta ke Bandung ini selalu penuh…awalnya mau naik kereta ekonomi namun karena penuh terpaksa pakai yang ada aja. Setelah berburu dua hari bolak-balik stasiun akhirnya dapat juga tiket Argo Willis seharga 370rb/orang yang bikin kantong menjerit…mahal euy. Yah, apa boleh buat…

Kereta kami kali ini berangkat siang, jam 11.20 dan dijadwalkan tiba jam kurang lebih 19.10….hufft untunglah, jadi tidak terlunta-lunta di jalan lagi seperti pengalaman di Malang sebelumnya. Kami check out hotel sekitar jam 10.30, jalan kaki ke Stasiun Tugu. Serunya, karena bersemangat mau naik kereta…krucil bergaya ala kereta, mereka saling memegang ransel. Sulung memegang ransel ayah yang berada di deretan paling depan, bungsu memegang ransel abangnya…sepanjang jalan mereka bersuara…tut…tut…jes…jes tanpa malu dilihat orang…haha.

Lucunya ternyata krucil gak ngeh kalau kereta yang mereka naiki siang itu adalah kereta eksekutif, mereka pikir kereta ekonomi karena ayahnya selalu bilang waktu hendak memulai petualang kali ini…”petualangan nanti, ayah ajak kalian naik yang ekonomi-ekonomi”. Mereka tidak tahu kalau kereta ekonomi sudah penuh hanya tersisa eksekutif. Mereka baru tahu kereta tersebut eksekutif ketika tiba di stasiun Bandung…pantesan agak bagusan, kata mereka…haha.

Naik kereta siang lebih asik menurut saya, karena bisa melihat pemandangan …saya paling suka liat sawah yang menghampar atau pepohonan. Sayangnya gerbong yang kami naiki ac nya bermasalah sehingga tidak begitu dingin, malah cenderung panas. Dan sedihnya lagi…restoran kereta tidak mempersiapkan makanan yang cukup, sehingga ketika sore banyak yang kelaparan sedang makanan sudah habis. Bagaimanapun kondisinya krucil senang-senang aja, terbukti ketika kereta akhirnya memasuki stasiun Bandung, krucil spontan berucap “yah, kok sebentar banget…kurang lama. Naik lagi yuk kita”…haha.

Di Bandung kami tidak banyak jalan, lebih banyak bersilaturahmi ke keluarga dan teman. Walau ayah rental mobil lepas kunci selama di Bandung, tapi karena kondisi jalanan yang macet dimana-mana hingga akhirnya banyak waktu terbuang dijalan saja. Selama di Bandung kami ke De’Ranch, Farmhouse, Pangalengan dan Saung Angklung Udjo. Cerita selengkapnya mengenai tempat-tempat tersebut bisa dibaca dipostingan sebelumnya.

# Menuju Jakarta, 24 Juli 2016 #

Kami memutuskan pulang melalui Jakarta bukan karena harapan krucil hendak main dulu tapi pertimbangan pesawat yang digunakan. Tanggal 24 Juli jam 24.00 ayah dan saya mulai mempersiapkan barang-barang dan telp taxi. Kemudian mulai mengganti celana krucil, baju sih gak usah. Sambil tidur, krucil diganti celananya. Setelah semua siap baru bangunin krucil, yuk siap-siap sebentar lagi taxi datang.

Taxi mengantar kami ke tempat bis Primajasa, bis langsung tujuan bandara Soekarno-Hatta. Jadwal bis kami jam 02.00 subuh dan diperkirakan tiba di bandara jam 05.00 namun ternyata tiba lebih cepat yaitu jam 04.00 subuh sudah di bandara. Harga tiket bis 115rb/orang. Sepanjang jalan kami tertidur, maklum bangun terlalu awal.

# Menuju Little House on the Prairie, 24 Juli 2016 #

Tiba di bandara Soetta, beli makanan dulu untuk krucil lalu sholat subuh. Selama menunggu, krucil baca buku Conan ..hehe. Tidak lama menunggu sudah ada panggilan boarding. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 06.40 WIB dan tiba 09.55 Wita.

Begitu di dalam pesawat, baru liat ternyata ada tetangga yang naik pesawat yang sama…padahal selama menunggu tidak liat…hehe. Seperti halnya dalam bis, lagi-lagi sepanjang perjalanan kami tertidur…ngantuk euy. Bangun-bangun sudah landing…keluar pesawat, terasa perbedaan suhu Bandung dengan hometown, panas euy…tapi bagaimanapun juga disinilah krucil lahir dan tumbuh. Kota ternyaman bagi kami saat ini, bebas macet, bebas stress…hehe. Home sweet home banget deh…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: